
Ruang Tamu Villa Utara
"Ha ha ha.... lihatlah kelakuan tunangannya sherin. Ckck ck mereka benar-benar unik. Yang satunya jail yang satunya dijaili. Gak ada celana bro, zaman gini masih pake daun pisang ha ha ha ulilnya rela banget dibungkus daun pisang ha ha ha" ejek Long tak kenal tempat.
"Puas ketawanya. Minggir" kataku begitu saja berjalan kekamar buat nenangin diri dan mandi.
"Tunggu, dimana Sherin???" tanya Kitty yang sedari tadi duduk di sofa hanya menatap penuh tanda tanya.
"Dihukum. Jangan ada yang berani berani bantu dia" ancamku langsung masuk kamar.
Teras Villa Utara
"Ahhhh....awwww.... Pinggangku...... Kakiku..... ini penyiksaan.... Bibi akan kubalas kau. Kak Rey kenapa kau begitu kejam dengan istri kecilmu ini hiks hiks hiks" teriakku kesal pada mereka. Kenapa ada hukuman seperti ini. Ini terlalu kekanakan.
"Ha ha ha.... ternyata ratu usil bisa dikerjai juga. Cekrekkk.... buat kenang-kenangan di markas" ejek kak Richie seperti biasa menari diatas penderitaan orang.
"Belum pernah dicium kuda ya kak Ichie. Lihat aja kalau udah selesai ni hukuman giliranmu merasakan yang sama" kataku kesal sekali. Kenapa harus dihukum seperti anak SD.
"Ckckck..... Lili kau penurut sekali. Lagian juga gak ada si Rey turunin dah tu kaki sama tangan. Kalau latihan keseimbangan nggak gitu juga kali" kata kak Kitty sebenarnya kasihan tapi kalau bos yang satu itu tau bisa gawat urusannya.
"Ha ha ha.... Kak Kitty kau yang terbaik. Aku selalu mencintaimu" kataku terharu.
"Lagi lagi kau mencintai perempuan, belum cukup tu hukuman dari tadi, masih mau tambah" teriak kak Rey entah darimana langsung saja datang dengan kesal.
"Bukan seperti itu.... Kak kau salah paham lagi. Aku hanya terharu saja. Bukan mencintainya. Kak......" kataku mencoba membela diri.
"Rey.... kasian dia. Tega bener sih nyiksanya. Gak takut sama Om Angga" bela kak Kitty.
"Heemmm Kak.... kasihanilah diriku yang tak berdaya ini. Lihatlah betapa imut dan menurutnya istrimu ini" rayuku mengedipkan mata berkali-kali memasang wajah tersiksa.
"Kalian tak usah ikut campur. Ini antara aku dan dia" jawab kak Rey ketus.
"Rey, kau menindas anakku. Apa kau tau konsekuensinya???? Sudahi sekarang atau aku sebagai ayahnya akan menghajarmu" ancam Papa dengan sifat bossynya.
"Baiklah. Mong kali ini kau beruntung. Tapi jika aku masih mendengar kau menyatakan cintamu pada perempuan lain terlebih laki-laki lain maka kau tak dapat menanggung resikonya" ancam kak Rey dengan tatapan yang begitu tajam.
"He he he.... Kakak kau terlalu berlebihan. Aku mana suka jeruk minum jeruk. Cemburumu tidak berdasar" elakku tapi matanya semakin melotot menatapku seolah aku memang seperti yang dia pikirkan.
"Ohhh.... oke oke aku akan jaga mulutku. Awwww.... pinggangku.... kakiku mati rasa BRAKKKKK....." jeritku kehilangan keseimbangan dan jatuh mencium lantai. Ini kedua kalinya dia membiarkanku mencium lantai. Malu, sakit bahkan tak mau berdiri lagi.
"Apa kau puas menciumi lantai???" kata kak Rey masih berani mengejek.
"Jangan katakan kau cemburu juga dengan lantai ini???" jawabku tersenyum kecut melihat tatapan matanya.
"Cepat bangun. Jika kau suka tiduran dilantai maka jangan harap kau bisa tidur denganku kelak" ancamnya lagi. Kenapa keadaan berbalik begitu cepat. Darimana datangnya sikap dia yang begitu irasional dan kekanakan.
"Oke oke... aku bangun. Dasar..... Ahhh... awww.... BRAKKKKK...." lagi lagi kakiku mati rasa dan mencium lantai.
"Hadehhh... Hey anak kecil.... Kau bisa bangun dengan benar tidak???" ejek kak Rey. Lain di mulut lain dihati, kukira dia mau meninggalkanku tapi nyatanya dia malah menggendongku ke sofa dan memijat kakiku.
"Sampai kapan kau akan ceroboh??? Tak bisakah kau merendahkan egomu??? Maaf kak aku salah, kak bisa tolong aku, Kakak aku butuh ini, kak tolong ambilkan itu, atau kak dia menggangguku tolong hukum dia. Itulah yang selalu ingin kudengar darimu. Apa kau mengerti???" jelasnya membuatku menitikkan air mata dan memeluknya.
Perasaan ini terjadi begitu saja. Apakah aku terlalu egois dan membuatnya sulit. Apakah aku harus benar-benar menjadi gadis manja dimatanya??? Hanya saja semua bertolak belakang dengan kepribadianku yang sudah terlatih dari kecil. Mandiri, mencoba menyelesaikan semua sendiri dan tidak bergantung pada siapapun.
"Gadis bodoh, kenapa kau menangis??? Berapa lama lagi kau akan memelukku. Lihatlah mata Ayahmu sampai mau keluar melihat ini" ucapnya membuatku segera melepas pelukanku.
"Kalian bersiaplah, malam ini kita pulang" pinta Papa yang masih menatap kami.
"Kak, sebelah sini masih sakit" kataku menunjuk pergelangan kakiku.
"Yang ini"
"Bukan... sebelahnya"
"Ini"
"Hishhhh kekiri sedikit, kau bisa benar tidak memijatnya. Kekanan sedikit... lah itu.... Hyaaa.... pelan pelan. Kau mau membuat kakiku patah" teriakku kembali normal.
"Kau sungguh cerewet. Ini bukan???" umpatnya masih mencari bagian yang sakit.
"Hyaaa.... siapa yang menyuruhku manja. Kau sendiri barusan bilang kau menyukai wanita lemah. Beginilah jadinya" tanyaku dengan ekspresi Lola.
"Hehhhhh.... Kenapa dia bisa menafsirkan seperti itu. Bagaimanapun ini juga salahku. Bicara dengan gadis beranjak dewasa yang tak pernah tau sisi lembut wanita. He he he...." gumam kak Rey dengan ekspresi tak percayanya.
"Kak Rey.... aku haus..."
"Baiklah... ini minumlah"
"Kak, laper...."
"Huffftttt.... kenapa seperti de javu. Apa aku menyuruhnya membuatku menjadi pembantunya???? Bukan ini yang kumaksud Mong???" gerutu kak Rey kesal. Aku memasang tampang sedih dan imut bersamaan.
"Baiklah... Baiklah..... Kak Rey ambilin...." Dia segera bergegas ke dapur dan membuatkan mie cup.
"Rey, kau menggali kuburanmu sendiri ha ha ha" ejek kak Ichie berjalan menjauh dari dapur.
"Kakak mienya setengah matang, kuahnya sedikit saja, jangan lupa kuahnya diganti yang baru, tambahin saos sambal dan kecap juga. Oh ya lupa, aku mau jus mangga juga, gulanya lima sendok esnya sedikit jangan pake lama. Udah itu aja" teriakku dari sofa ruang TV.
"Hyaaa.... gadis nakal. Tidakkah ini keterlaluan" jawabnya berteriak dari dapur.
"Hiks hiks hiks bukannya tadi kau bilang aku harus lebih lemah, manja dan membutuhkanmu. Kenapa kau sekarang bilang ini keterlaluan" kataku lesu.
"Sudah... sudah.... Baiklah. Jangan sedih lagi. Akan kubuatkan sekarang. Reynan sabar.... sabar.... lain kali kau berpikir dulu sebelum bicara" jawabnya sekaligus mengelus dada bersamaan.
"Kak, kok lama. Mana mie dan jus mangganya. Aku mau makan pakai sumpit. Nggak mau pake sendok. Sumpitnya dari bahan plastik saja bukan yang kayu" teriakku sekali lagi dengan wajah polos.
"Ohhhh oke oke... Segera datang" jawab kak Rey terlihat begitu sibuk dan berantakan.
"Ternyata begini rasanya dimanja. Menyenangkan juga" gumamku senang.
"Ini, cepat dimakan. Habis itu kita bersiap pulang" kata kak Rey memberikan mie cup dan menaruh segelas jus mangga dimeja.
"Kak, bisa tolong ambilkan kecap dan saos sambal lagi. Kurang pedas dan manis. Oh ya air putih juga. Kalau ada camilan sekalian" kataku dengan tampang polos tak berdosa.
"Sayank...." panggilnya lembut seketika aku memasang wajah sedih.
"Hahhhhh... sudahlah.... Tunggu disini. Aku akan mengambilnya" jawabnya bergegas kembali ke dapur.
"Reynan.... Kau mending jadi bapak rumah tangga. Benar benar pantas sekali. Ckckck..... Sekalian buatkan aku jus jeruk ya!!!" ejek kak Ichie sekali lagi dibalas tatapan tajam kak Rey.
"Buat sendiri, kau punya tangan dan juga kaki kan. Ini sayang camilannya" jawab kak Rey ketus dengan kak Ichie tapi begitu lembut denganku.
"Sayank, kakiku sakit, bisa sambil pijitin???" pintaku mengedipkan mata berkali-kali dengan mie yang masih bergelantung bebas di mulut.
"Hahhhhh.... nasib nasib. Senjata makan tuan. Yang ini ya sayank...." jawabnya dengan nafas berat.
"Sherinnn.... Jaga kelakuanmu. Jangan seperti itu dengan suamimu" teriak bibi dengan mata melotot.
"Huks huks huks... Kak Rey takut bibi itu galak... Katanya kau akan melindungiku..." kataku dengan muka memelas.
"Bibi Fang tidak apa. Tenang saja... Aku masih bisa mengatasinya. Jangan marah padanya he he he" jawab kak Rey tersenyum canggung.
"Anak ini... Apa ada yang salah dengan otaknya???" gumam bibi bingung.
"Bibi, mana kunci mobil dan surat-suratnya???" tanyaku menagih janji.
"Sherinnn..... apa yang kau bicarakan???" teriak Papa agak marah.
"Kakak....." panggilku manja.
"Om jangan berteriak..... Sabar semua bisa dijelaskan baik baik" ucap kak Rey mencoba menengahi. Semua mata tertuju padaku. Mereka semua menatap heran.
"Lihatlah, apa semua bisa tahan dengan sifat manjaku???? Kalian yang meminta aku berubah seperti gadis normal, maka sekaranglah saatnya kalian semua menikmatinya" batinku terlihat kuat berbanding terbalik dengan sifatku kali ini.
"Bibi sudah janji mau memberikanku mobilnya untuk hadiah pernikahanku. Benarkan bi??? janji tetaplah janji. Aku mau mobil Ferrari 488 Pista merah milik bibi" kataku membuat semua tercengang.
"Otaknya benar-benar sudah rusak" umpat kak Ichie.
"Hah hah hah.... gila Ferrari yang diminta, sama aja mencekik bibi Fang pelan pelan" sahut Rendy terkejut.
__ADS_1
"Kak Long, apa bibi baik baik saja. Lihatlah mulutnya sampai tak bisa menutup lagi" tanya kak Kitty.
"Tak apa. Tak usah khawatir. Kelakuan Sherin tak beda jauh dari mamaku. Ha ha ha" jawab kak Long santai.
"Sherinnnnnnnnnnnn...." teriak Papa kesal.
"Angga... tenanglah.... Jangan emosi. Memang aku yang mau memberinya mobil itu. Kumohon jangan marah. Sayank... Anak pintar.... Tenang saja bibi sudah siapkan semuanya ha ha ha... Kau memang yang terbaik" jawab bibi dilihat dari ekspresinya kurasa saat ini dia sedang menangis dan meronta-ronta dihati dan pikirannya.
"Bibi aku meny... aku sungguh terharu.... hiks hiks hiks kau memang yang terbaik bi...." kataku berlari memeluknya. Untung saja tak keceplosan kata itu lagi kalau nggak kak Rey bakalan marah.
"Anak pintar... anak pintar.... Kau memilih mobil yang bagus.... aku salut padamu" kata bibi lembut tapi bermakna ganda.
"Ohhh ya aku juga akan membawa mobil astonku jadi jangan lupa bibi siapkan kedua kunci dan suratnya oke he he he" kataku sekali lagi membuat bibi membuka mulutnya lama karena kaget.
"Ahhhhh ha ha ha.... oke oke.... akan ku siapkan. Kau sengaja merampokku anak nakal" ucap bibi memeluk kemudian berbisik mengancam.
"Ha ha ha... Bibi kaulah yang terbaik. Aku hanya membantu mengurangi barang tak terpakai dirumahmu, bi. He he he" jawabku berbisik juga.
"Bibi Fang maafkan Mong Mong, jangan menyalahkannya karena bersikap kekanakan" bela kak Rey.
"Ahhhh tenang saja.... jangan khawatir... Bagaimana bisa dengan sifat kekanakannya memilih mobil bagus.... Ayo bersiap-siap ha ha ha" kata bibi berjalan limbung ke dalam kamarnya sambil tertawa dipaksakan.
"Ahh haha ha ha hahahhaaa... mobilku.... ha ha ha ha ha...." gumam bibi sendiri mulai linglung.
"Sherin jelaskan pada Papa kenapa kau melakukan ini" tegur Papa kesal.
"Ohhh... simpel alasannya. Membantu bibi memenuhi janjinya. Daripada nanti aku memintanya diakhirat kalau gak salah disana menukarnya harus pakai amal yang dikumpulkan selama di dunia loh Pah..... lebih baikkan aku menagihnya di dunia he he he" jawabku bicara berdasarkan fakta.
"Anak nakal...."
"Emang bener kok Pah.... coba aja cari infonya sendiri. Ohhhh ya aku lupa, mumpung ingat mana kartu kredit emas Papa. Jangan berpikir aku lupa pada janji Papa...." tagihku membuat semua mata sekali lagi membelalak.
"Sherinnnnnnnnnnnn...." teriak Papa kesal.
"Pah.... kau mengajariku untuk selalu menepati janji kan??? Jangan bilang Papa lupa.... Ckckck berurusan dengan orang tua emang susah... sering lupanya huffftttt....." kataku menggelengkan kepala berkali-kali.
"Sayank... jangan memeras Papamu" tegur kak Rey.
"Aku tak memeras tapi menagih. Kakak tenanglah.... Jangan cemas. Mana Pah???" tanyaku sekali lagi menengadahkan kedua tanganku.
"Ha ha ha.... anak nakal..... Kau juga berhasil memeras Papamu hiks hiks hiks... ini kodenya ulang tahun Mamamu hiks hiks.... kartu emasku.... kenapa aku punya anak sepintar dia..... hiks hiks hiks.... Papa ke kamar dulu.... hiks hiks...." kata papa berjalan gontai lebih gontai dari bibi.
"Lili, kau jangan mendekat. Aku tak punya hutang padamu" kata kak Ichie berlari masuk ke kamarnya.
"Nona, hadiahnya akan kukirim dihari pernikahanmu oke... Sekarang aku lagi misqueeennnn" sahut Vanya menarik tangan Rendy berjalan ke luar.
"Adik bungsu... he he he.... akan kupikirkan dulu hadiah pernikahanmu bersama Long. Kau tunggu disini dulu ya... Ha ha ha.... ayo Long....." ucap kak Kitty ketakutan menarik tangan kak Long yang kebingungan.
"Ha ha ha.... semua melarikan diri dariku kak.... Apa kau juga mau kabur????" tanyaku sengaja menakuti kak Rey.
"Buat apa aku kabur??? Kenapa kau melakukan semua ini Mong???" tanya kak Rey bingung. Aku tau dia butuh penjelasan, karena semua ini sudah keluar jauh dari karakter asliku.
"Aku punya rencana besar dibalik ini semua. Kalau kakak mau tau kita pergi ke villa Selatan diam diam" jawabku berbisik pelan di telinganya.
"Baiklah. Kita kesana diam diam. Ikut aku!!!" kataku menarik tangan kak Rey menuju kamar bibi Fang.
"Bibi.... Bibi.... buka pintunya" kataku menggedor pintu kamar.
"Badanku masih lemas anak nakal.... Ada apa lagi???" tanya bibi lesu membuka pintu.
"Masukk...." kataku segera menarik tangan bibi dan kak Rey bersamaan tak lupa mengunci pintu.
"Bibi kita bicara di villa Selatan saja" kataku segera menuliskan kata Do Not disturb pada papan lalu menggantungnya didepan pintu kamar bibi.
"Apa yang kau lakukan???" tanya bibi heran.
"Biar pintumu tak didobrak lagi" jawabku singkat segera mengunci pintu dan membuka jalan rahasia.
"Anak ini, benar-benar tak memberiku privasi.... Sherinnnnnnnnnnnn...." keluh bibi lesu.
"Woahhhh.... jalan rahasia.... Bibi kegemaranmu sama sepertiku. Suka mendesain rumah yang misterius dan berkelas. Woaahhhhhh.... ini jauh lebih keren...." tatapan kagum kak Rey.
"Kakak..... lupakanlah. Kau takkan sanggup jadi muridnya.... Sudah lupakan saja" cegahku.
"Benar yang dikatakan Sherin. Lebih baik kau lupakan... Aku tak menerima murid selain anakku si Long dan Sherin" jawab bibi tegas.
Hampir 7 menit untuk sampai di villa Selatan.
"Masuklah!!!" ajakku membuka pintu kamar khusus.
"Kamar rahasia pribadi??? Woahhhh sayang kau memiliki kamar seperti ini. Haruskah kita membuatnya dirumah baru???" tanya kak Rey terlalu kagum dan bersemangat.
"Sherin lihatlah tunanganmu.... pufftttttt...." ejek bibi.
"Bibi.... Kak Rey kau baca ini!!!" kataku memberi beberapa berkas visum, dan bukti lain yang kuperlihatkan ke bibi sebelumnya.
"Sayank.... ini tak mungkin.... jelaskan padaku!!!" Kak Rey menatap dengan pandangan berbeda.
"Sebenarnya aku juga tak mau percaya, tapi kenyataannya memang seperti itu. Kau bilang aku tak boleh menyembunyikan apapun darimu dan meminta bantuanmu kapanpun itu. Bagaimana apa kak Rey bisa menanggung rahasia besar ini???" tanyaku balik agar dia paham posisiku sebenarnya.
"Tentu saja. Mulai sekarang percaya dan bersandarlah padaku" kata kak Rey menarikku dalam pelukannya.
Krikkkkkkk.... krikkkkkkkk.... krikkkkk....
"Hyaaaa.... kalian sengaja membuatku menjadi jangkrik disini...." teriak bibi kesal.
"Maaf maaf bibi...." kata kak Rey segera melepas pelukannya.
"Heyyy bibi... apa jiwa jomblomu terpanggil. Sudah kubilang, akhiri saja masa lajangnya, apa kau mau menua bersama binatang peliharaanku disini???" ejekku gantian memeluk kak Rey sengaja memancing emosi bibi supaya lebih termotivasi mengejar Papa.
"Sayank... lihatlah badanmu yang kotak kotak.... Kalau ada kavling disitu akan kukontrak semuanya..., lihatlah betapa kekarnya lenganmu, apalagi otot di perutmu.... Ahhhh....." kataku manja meraba keseluruhan bagian dada calon suamiku.
"Lihatlah bi..... Bibi..... betapa kekar tubuh calonku ini. Bisa dibilang beda beda tipis dengan otot ditubuh Papa" godaku membuat mulut bibi ternganga dan berliur.
Gubrakkkk..... Bibi pingsan dengan mata terbuka mulut menganga dan tangan seakan ingin memegang dada bidang laki laki.
"Bibi.... jangan pingsan.... lihatlah masih ada lagi yang lain.... Kau tau kan Ulil Papaku mungkin lebih seperti tiang listrik besar dan panjang ha ha ha... bangunlah bi!!!! Bibi....." kataku masih saja menggodanya.
"Sherinnn kau sengaja membunuhku perlahan.... Kau sengaja memancing jiwa liarku yang sudah lama tidur...." gumam bibi dengan wajah memerah.
"Sayank... kau sengaja menyindirku. Apa kau benar-benar melihat milik Papamu??? Kau...." kata kak Rey kesal.
"Bukan... bukan begitu kak. Kata Mama... mana berani aku melihat milik Papa..." jawabku semakin membuatnya kesal.
"Maksudmu kalau kau punya keberanian akan melihat milik Papamu dan membandingkannya dengan punyaku" ucap kak Rey membuatku tersenyum kecut.
"Bukan... bukan seperti itu. Sherinnnnnnnnnnnn tutuplah mulut jailmu itu. Begini, ulilmu besar dan panjang juga kak tapi mungkin beda tipis dengan milik Papa" jawabku salah lagi.
"Sherinnnnnnnnnnnn...."
"Astaga.... diamlah Sherinnn.... Kakak.... jangan bahas ini lagi.... Aku juga punya rasa malu he he he" pintaku dengan senyum palsu.
"Lihat saja, jika kau masih membandingkannya. Dasar otak mesum....." umpat kak Rey kesal.
"Kenapa jadi dia mengumpat otakku.... Astaga betapa mengerikannya dia gara gara si ulillll" pikirku tak percaya.
"Ha ha ha anakku sekarang sudah dewasa bisa membedakan ulilll dan ullallll ha ha ha" goda bibi membuat kami melotot.
"Kakak, bibi kita kembali ke topik permasalahan oke. Jadi begini ulillll.... oppps..."
"Sherinnnnnnnnnnnn...."
"PLAKKK... PLAKKK.... maaf kak keceplosan semua gara gara bibi..." kataku memukul mulutku pelan.
"Ha ha ha.... anak ini.... Baiklah ulalllll, ulliiilllll dengarkan ulllollll bicara ha ha ha...." goda bibi sekali lagi.
"Bibi...... ayolah serius.... aahhhrrrghhhhh.... aku lupa kan.... Jadi kak kau harus membantu kami, sebelum acara pernikahan kita sudah harus menangkap dan mendapatkan bukti kuat tentang kejahatan Nayala dan Wibi Laksono. Untuk Adira dan mamanya tak usah dipikirkan lagi. Yang jadi masalah adalah si Nayala ini sangat licik sementara Papa buta akan cintanya terhadap mamaku. Makanya aku hanya bisa memancing emosinya dengan kartu gold milik Papa dan mobil Ferrari milik bibi juga mobil astonku. Rencananya sesampai di Jakarta, aku akan menjadi lebih dekat dengan bibi daripada dia. Memamerkan kartu gold dan mobil yang kita pakai. Selama disana aku akan berusaha menjauhkan Nayala dari Papa. Tugas bibi mengajak Papa jalan-jalan entah kemana terserah. Aku yakin orang itu akan kebakaran jenggot dan berusaha melakukan segala cara untuk membunuh bibi. Tenang saja sebelumnya di setiap titik dan dimobil sudah kupasang sensor pelacak dan pengaman tingkat tinggi. Jika dia mau menyabotase seperti yang dia lakukan pada mobil mamaku, semua akan sia-sia karena alat pengaman itu langsung terhubung ke smartwatchku dan bisa dideteksi sedini mungkin. Kak Rey untuk urusan Wibi kuserahkan padamu. Bibi kau bisa kan berusaha genit dan tampil cantik sementara, meskipun sebenarnya kau jelek dan tidak membuat orang nafsu" jelasku membuat bibi meradang.
"Anak ini mulutnya minta disilet...." umpat bibi kesal.
__ADS_1
"Pokoknya intinya begitu. Kita harus kembali, kalau tidak mereka akan curiga" kataku segera menarik mereka keluar dan bergegas ke villa Utara lagi.
Sampailah kami di villa Utara. Dengan mengendap-endap, aku mencoba melihat situasi di luar kamar bibi.
"Kak keluarlah!!!!" kataku segera menendang kak Rey keluar takut dilihat orang lain.
"Mong.... Mong....." teriaknya kesal.
"Fang Yue kau didalam???" panggil Papa.
"Ahhhh Papa bi, bisa pinjam parfum biusmu" kataku tanpa izin langsung mengambil botol parfum tapi berisi obat bius.
"Apa yang mau kau lakukan anak nakal" cegah bibi tapi terlambat.
CEKLEKKK.....
"Papa.... Sroshhhhhh...." kata papa langsung pingsan karena obat bius tadi.
"Bibi.... cepat bantu aku naikkan Papa ketempat tidurmu!!!" kataku menyeret Papa dibantu bibi.
"Tutup pintunya bi!!!"
"Iya... iya...."
"Kau mau apa???" teriak bibi.
"Melepas kemeja Papa..." Kataku mencoba melepas satu persatu kancing kemeja Papa.
"PRUTTTTTT..... Sherin aku tak tahan melihatnya.... Jiwa liarku bergetar....." kata bibi membalikkan badan.
"Hehhh... woahhhhhhh... ternyata Sherin mengatakan yang sebenarnya.... Angga terlihat gagah dan berotot diusianya yang sudah separuh baya.... ha ha ha.... Sherinnn kau benar-benar menguji imanku...." gumam bibi entah apa yang dia bayangkan dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Bibi aku bisa mendengarnya.... Kemarilah!!!" pintaku lembut.
"Apa sayang.... anak baik...." tanyanya senang dengan wajah merah seperti tomat.
"Tak usah malu malu, aku tau kau sebenarnya singa betina yang sangat liar...." ejekku.
"Sialan anak ini.... tapi melihatnya yang tak berdaya seperti itu aku ingin mencengkeramnya dan melumat habis... Oh Tuhan..... Beri aku kekuatan..... hiks hiks hiks" gumam bibi mulai menggila.
"Lepas kancing bajumu yang atas!!!" kataku tanpa malu.
"Sherinnn.... kau anak nakal.... Bagaimana bisa kau menyuruh bibimu melecehkan Papamu sendiri... ahhhh.... cobaan ini sungguh begitu berat.... ahhhh...." kata bibi masih saja asyik dengan pikiran mesumnya sendiri.
"Bibi..... ayolah tak ada waktu. Papa keburu bangun. Lepaskan kancingmu atas, terus tidurlah disampingnya senatural mungkin biar kufoto buat jaga jaga kalau Papa berani melawanku. Cepatlah!!!" kataku mendorongnya jatuh tepat disamping Papa.
"Jangan bergerak.... tahannn... bagus.... pertahankan posisiku bi.... Cekrekkk.... cekrekkk..."
"Sherin bisakah kau cepat??? Naluri liarku mulai berontak.... aku tak yakin bisa menahannya...." keluh bibi senang.
"Sudah.... Cepatlah bangun bi...." kataku segera menarik tangan bibi keluar.
Segera setelahnya, kusuruh semua pengawal Papa dan semua penghuni villa keruang tamu.
"Kalian para pengawal kawal teman-temanku dengan jet pribadi Papa kembali duluan ke Jakarta" perintahku tanpa kompromi lagi.
"Tapi Nona..." sanggah para pengawal itu tapi segera ku tatap tajam mereka.
"Lihat plakat ini, kalian mencoba melawanku" teriakku marah menunjukkan plakat kuasa milik Papa.
"Tidak nona. Maaf kami patuh" jawab mereka bersama.
"Bagus. Lakukan tugas kalian dengan baik. Kak Kitty, kak Ichie, kak Long, Vanya dan Rendy kalian bisa berangkat sekarang. Layani mereka dengan baik. Ingat disini maupun disana Papa dan aku adalah Tuanmu. Selain kami berdua kalian tak perlu patuh. Mengerti!!!" kataku tegas.
"Bagaimana denganmu Lili???" tanya kak Kitty cemas.
"Aku dan kak Rey akan naik mobil astonku, dan Papa sama bibi naik Ferrarinya. Kami akan sampai besok siang. Jadi berhati-hatilah dengan mamaku dia agak manja" kataku memperingati.
"Baiklah beruang. Aku titip mamaku. Kami berangkat dulu" kata kak Long dengan mudahnya mendukung setiap rencanaku. Satu yang pasti, dia mengerti.
"Bibi aku percayakan Papaku. Kak ini kuncinya. Kau keluarkan Ferrarinya aku mengeluarkan Astonku. Cepatlah!!!!" kataku segera masuk ke garasi dan mengemudikan mobil kesayanganku. Begitu juga dengan kak Rey. Dia masih saja terkagum dengan mobil Ferrari itu.
"Kak, mobil itu sengaja kuhadiahkan untukmu. Cobalah!!!" kataku tersenyum kearahnya.
"Sherinnnnnnnnnnnn...... Mana baju Papa" teriak Papa begitu menggelegar memekakkan telinga.
Aku segera turun dan berlari kedalam diikuti kak Rey dan bibi.
"Papa..... Sherinnn tidak tuli tau. Baju papa basah... pakai saja kemeja itu" kataku dengan taktik lain. Memberi tanda bibir dibalik meja Papa. Jika wanita itu melihatnya pasti dia akan membara.
"Ayo pah, cepat masuk mobil!!!" kataku menarik tangan Papa yang masih sibuk mengancingkan baju.
"Sherinnn, kemana semua pengawal Papa??? kita naik pesawat bukan mobil, Mamamu pasti sudah lama menunggu" elak Papa membuatku kesal.
"Pesawatnya sudah lepas landas. Sherinnn suruh mereka duluan. Papah... naik mobil hadiah bibi, Sherin mau mobil ini. Papa yang nyetir ya!!!" kataku bersikap manja.
"Anak ini, dasar.... Baiklah kalau gitu. Sekali ini saja Papa menurutimu oke" ucap Papa mengiyakan tapi dengan mengeluh.
"Papa yang terbaik..... Sherin sayang papa" kataku berlari memeluk Papa.
"Sudah sudah... ayo kita berangkat!!!" ajak Papa.
"Kak Rey, ambil kunci ini. Kau yang menyetir nanti kalau lelah gantian aku oke" kataku segera masuk kedalam mobil disusul kak Rey.
"Fang Yue masuklah!!!" kata papa lembut membukakan pintu untuk bibi.
"Terima kasih Angga" kata bibi dengan sikap sok manisnya.
Malam ini kami berangkat ke Jakarta. Bukan hanya untuk kembali pulang tapi kami harus berjuang sekali lagi melawan orang licik dan penuh dengan tipuan sebelum kebahagiaan yang sesungguhnya datang.
Hampir 10 km kami mengemudi. Mobil ayah berada didepan dan kami mengikuti dibelakangnya. Tak disangka aku melupakan sesuatu.
"Kak Rey, matilah aku...." kataku tak tenang.
"Kenapa sayank???" tanya kak Rey sama sama cemas.
"Bensinnnn....." teriakku.
"Bensin kita masih fulll kok" jawab kak Rey yakin.
"Lihatlah!!!! Tepikan mobilnya!!!!" kataku sedikit takut.
"Jangan jangan mobil yang dikemudikan Papamu belum kau isi bensin ya sayank" jawab kak Rey histeris.
"Sherinnnnnnnnnnnn......." teriak bibi menggelegar membuat mobil yang lewat terbatuk batuk.
"Sayank, ikuti kami dari belakang. Aku akan menolong Papa dan bibi oke!!!" kataku yakin.
"Baik baik sayank.... Jaga dirimu oke" kata kak Rey balik.
"Hnnnn" jawabku segera berlari kearah mereka.
"He he he... maaf Pah, Sherinnn lupa isi bensin. Bisakah Papa dan bibi mendorong mobil sampai pom bensin depan he he he" kataku tersenyum kecut mengambil posisi kemudi.
"Sherinnnnnnnnnnnn....." kata papa lembut tapi begitu dingin.
"Anak ini, berapa kali aku akan dia kerjai lagi. Mana ada orang mendorong mobil Ferrari karena kehabisan bensin..... Angga benarkah dia anakmu???" tanya bibi lesu.
"Maafkan aku Fang Yue, aku tidak mendidiknya dengan baik"
"Papah dorong yang keras, bibi apa segitu doang tenagamu.... Lihatlah.... kapan kita sampai di pom bensin kalau begini" teriakku sengaja mengerjai dan memberi kenangan yang indah untuk mereka berdua.
"Anak ini berani memerintah orang tuanya.... Fang Yue maaf membuatmu menderita karena ulah anakku.... maaf" kata papa melirik kearahku bisa terlihat dari spion depan.
"Angga sudahlah... bukan derita fisik yang mendera tapi rasa malu berlebih. Lihatlah orang orang melihat kearah kita.... sherinnnnnnnnnnnn..... Akankah kita masuk kolom berita pagi atau viral di Facebook dan YouTube hiks hiks....." keluh bibi.
"Ha ha ha..... Papa kenanglah masa indahmu dengan bibi mendorong Ferrari bukan Ducati ha ha ha" ejekku bersemangat.
"Masa indah gundulmu itu....."
__ADS_1
"Sherinnnnnnnnnn......."