Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Kembali Normal


__ADS_3

Jangan lupa like dan commentarnya ya !!!


Dukungan kalian sangat berarti buat author 😉😄😄😍😍😍


Selamat Membaca 📖 📖 📖!!!


Kediaman Angga Prayuda


Nayla Wiryoatmadja


"Nyonya kita sudah sampai" kata sopir pribadi Angga.


"Ya pak. Terima kasih sudah mengantar saya" kataku berterima kasih.


"Ini sudah tugas saya Nyonya. Anda tidak perlu sungkan. Mari ikuti saya, Tuan besar sudah menunggu kedatangan Anda" jawabnya.


Kulihat setiap sudut rumah Angga hampir semua di jaga bodyguard berbadan kekar yang membuatku bergidik ngeri. Baru kali ini aku ke rumahnya yang di Bogor. Saat Dia merawatku kami tinggal di rumahnya yang di Jakarta. Setelah memulihkan identitasku, kamipun menikah secara resmi. Akhirnya tujuanku selama ini berjalan mulus. Satu persatu apa yang seharusnya menjadi milikku akan kembali padaku. Meskipun kami masih tinggal terpisah tetap saja, Ada banyak peluang untukku dan dia bersama. Kalau bukan karena anak kandungnya, kalau bukan demi mencari Sherin maka semua ini sudah jadi milikku.


"Hon hon, aku merindukanmu..." kata Angga yang terlihat senang dengan kedatanganku. Dia pun memelukku erat, tak mau melepaskannya.


"Boo boo Aku tidak bisa bernafas" kataku pelan.


"Hon hon maaf. Sudah sangat lama. Aku benar-benar merindukanmu" katanya lembut sambil merangkulku mesra menuju sofa di sudut ruangan kerjanya.


"Hon hon bagaimana keadaan Sherin? Maaf aku membuatnya menderita. Aku ingin menjenguk anak kita tapi pemuda itu mengancamku jika aku berani kesana maka Sherin akan menghilang bersamanya. Hon, apa Sherin juga menolakmu?" Katanya yang terlihat lesu.


"Boo, apa kau takut dengan pemuda itu?" ejekku tak percaya.


"Hon, bagaimana aku tidak takut, lihat ini!!! Dia memukulku dengan satu pukulan saja masih berbekas sampai sekarang. Apa kau tidak sayang padaku lagi? Jika aku bertemu dengannya bisa saja aku pulang tinggal nama" curhatnya seperti anak kecil. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.


"Lelaki yang sangat kaya, kuat tapi hanya takluk dan bersifat kekanakan hanya didepan Nayla. Sebenarnya cara apa yang kau pakai seolah semua keberuntungan memihak padamu Nayla. Huhh... tapi setidaknya kau sudah mati. Maka biarkan aku menggantikan posisinya. Menikmati semua yang kau miliki" kataku dalam hati merasa puas dan sangat senang.


"Mana ada seorang Tuan besar yang biasanya ditakuti apalagi punya bodyguard banyak, takut oleh seorang pemuda" ejekku padanya.


"Boo, Sherin sudah menerimaku sebagai Mamanya dan dia juga sudah memaafkanku. Dia sudah diperbolehkan pulang sore ini. Untuk sementara biarkan Sherin tinggal dengan keluarga Gunanto. Jika dia tinggal disini takutnya dia akan menolak. Kita harus bersabar biarkan semua berjalan perlahan oke. Aku percaya pada pemuda itu, jadi kita tidak perlu khawatir. Lagipula istri dari Gunanto adalah teman baikku. Aku sudah menelponnya tadi waktu dirumah sakit menggunakan ponsel anaknya. Jadi kau tenang saja, boo" kataku senang.


"Bagaimana denganku? Hon hon... sejak kapan kau mempercayai pemuda itu?" tanyanya cemburu.


"Laki-laki itu baik. Dia sayang sekali dengan Sherin. Aku lihat mereka sangat dekat bahkan mereka punya panggilan sayang sendiri-sendiri" jelasku.


"Aku tidak setuju. Lelaki itu kasar. Apalagi Sherin baru mau lulus SMA. Dia tidak boleh pacaran dulu!!" katanya sedikit kesal.


"Kau cemburu karena anakmu lebih dekat dengannya bukan?" ejekku.


"Hon hon... kenapa kau membela pemuda itu. Aku suamimu seharusnya kamu membelaku" rengeknya.


"Terus bagaimana, apa kau tidak meminta Sherin untuk memaafkanku? Aku juga ingin dipanggil Papa..." rengeknya lagi.


"Boo, kau kan laki-laki jadi temui anakmu sendiri dan minta maaflah. Masak kau takut sama anakmu juga?" ejekku.

__ADS_1


"Hon hon... Aku takut ditolak jadi Papanya. Bagaimana kalau kita kasih hadiah Sherin sesuatu yang spesial. Aku yakin dia akan menerimaku jadi Papanya" katanya membuatku heran.


"Hadiah spesial?? maksudnya?" tanyaku masih tak mengerti.


"Hon hon tapi kau janji dulu kalau kau akan setuju. Janji!!!" katanya berbelit-belit.


"Baiklah aku janji. Aku setuju apapun itu asal Sherin memaafkanmu" jari kelingking kami saling menautkan tanda sepakat.


"Baiklah karena Honku sudah berjanji maka akan aku sebutkan hadiah spesialnya. MARI KITA BUAT ADIK UNTUK SHERIN !!!" katanya berbisik pelan di telingaku membuatku terkaget-kaget.


"Boo kau bercanda!!! Boo turunkan aku!! Aku tak muda lagi!! Boo.. boo!!" teriakku meronta-ronta tapi dia tetep kekeh menggendongku masuk ke kamar. BRAKKKKK...


"Boo, Kau benar-benar gila..." jeritku dan diapun hanya tertawa.


**Kediaman keluarga Gunanto


Reynan Gunanto**


"Assalamu'alaikum, Ibu kami pulang" salamku sambil menuntun Sherin masuk seperti anak kecil yang ketakutan.


"Wa'alaikumsalam. Calon menantu Ibu, sudah sehat?? Pokoknya kamu gak boleh sakit lagi ya, nanti biar Tante yang jaga kamu. Mamamu tadi sudah telpon Tante buat jagain kamu. Tante seneng banget, ternyata Nayla masih hidup. Benar-benar kuasa Allah" kata Ibuku tak mau berhenti.


Ku lihat Sherin hanya bisa pasrah digandeng paksa Ibuku ke ruang keluarga.


"Rey, selama Sherin tinggal disini kamu tidur di kamar tamu. Biar Sherin tidur di kamarmu!!!" pinta Ibu yang membuatku kaget.


"Gak bisa gitu dong Bu. Rey kan anak kandung Ibu. Masak Rey harus tidur di kamar tamu sih??" Ibu... jangan ya!!" rengekku.


"Tetep gak bisa. Keputusan Ibu sudah bulat. Ndak bisa ditawar-tawar lagi. Kamu kan laki-laki masak iya gak ngalah sama perempuan?" kata Ibu memaksa.


"Tante... Ibu..." sahut kami barengan.


"Ndak bisa. Titik. Sherin ayo biar Tante bawakan kopermu" ucap Ibu yang sudah menarik tangan dan kopernya.


"Ahhh... Ibu...." teriakku frustasi.


"Mana kamar tamu belum dibersihkan lagi!! Sebenarnya aku yang mau mengerjai Si Mijah, ini malah dia yang mengerjaiku huh.." gerutuku kesal.


Kubersihkan kamar tamu secepat kilat. Benar-benar lelah.


"Mandi dulu ah.. biar seger" kataku pada diri sendiri.


Aku segera berlari ke kamarku. Aku lupa sesaat kalau ada Mijah di kamarku itu.


Ceklekk...


"Ahhhhh.... Om Tejo keluar!!!! Dasar mesummmm...." teriak Mijah yang hanya berbalut handuk panjang saja.


"Maaf... maaf... sengaja masuk!!!" kataku antara kebingungan dan keberuntungan jadi satu.

__ADS_1


"Mata oh mata ternyata kau butuh vitamin juga" kataku terkekeh melihatnya.


"Dasar mesum... Keluar!!!!" teriaknya lagi sambil melempar bantal, guling dan barang-barang dikamarku.


Ku tutup pintu kamar perlahan-lahan. Sungguh kejadian yang sangat langka. Dari luar aku masih mendengar kegilaannya, berteriak sambil memaki tak habis-habisnya.


"Dasar Om Om cabul. Arghhhhhh..." kudengar teriakan frustasi yang menggema ke seantero rumah.


Terrtawa geli mengingat kelakuanku sendiri. Kuputuskan untuk mandi di kamar mandi bawah.


Selesai mandi dengan santai kududuk di sofa ruang keluarga. Si Mijah dari tadi belum turun dari kamarku. Entah malu atau apapun itu, aku menyukainya.


"Rey panggil Sherin sana!! Makanannya sudah siap" Pinta Ibuku.


"Waduh. Rey gak berani ahh.. Ibu aja yang panggil!! Mijah lagi marah sama Rey" jelasku menolak.


"Mijah???" kata Ibuku heran.


"Iya Mijah. Nama baru Sherin" jelasku singkat.


"Gila ya kamu. Ganti-ganti nama anak orang, emang kamu bapaknya apa? Udah ah sana cepet panggilin Sherin!!" suruh Ibu memaksa.


Dengan malas akupun berjalan menuju kamar. Ku ketuk pintu.


Tok tok tok...


"Mijah, dipanggil Ibu tu!! cepetan turun!!" teriakku tapi tak ada sahutan.


"Mijah... Hey Mijah... Aku masuk ya!!" kataku sekali lagi tapi masih tak ada sahutan.


Pintu kamar kubuka pelan-pelan. Kucari si Mijah takut terjadi apa-apa. Ternyata dia terlelap tidur di kasur. Kudekati dirinya dan kutatap wajah cantiknya. Sungguh menggemaskan seperti bayi. Antara kaget dan tak percaya, dia membelalakkan matanya seperti nenek Lampir membuatku shock. Sungguh sangat menakutkan tiba-tiba saja dia menendang perutku hingga tersungkur di lantai.


"Om Tejo... Kamu lagi!!! Om kenapa disini?? Jangan macam-macam!!! Mau aku tendang lagi!!" teriaknya marah.


"Gimana mau macam-macam sama macan betina. Belum juga pegang, baru deketin aja udah diterkam. Hiii.... Lagian juga Ini kamarku. terserah aku mau ngapain. Kalau aku mau tidur di sini siapa yang berani ngelarang??" ejekku sambil menahan sakit karena tendangannya tadi.


"Om Tejo please. Bisa tidak membiarkanku hidup tenang sehari saja. Baiklah aku mengaku salah. Maafkan atas kejadian dirumah sakit. Dimaafkan ya!!! please.... Jangan garang garang oke.... Nggak baik loh menindas anak dibawah umur... Kakak...." kata Sherin sambil berlutut menggosok-gosokkan tangannya meminta ampun. Terlihat sangat imut.


"Kuchi... kuchi... kuchi... Anak pintar... Anak manis... mau kak Rey maafin??" kuelus kepalanya yang sudah berhijab lagi yang sedang mengangguk penuh harap agar dimaafkan.


"Gak gampang sih maafin kamu. Semua ada syaratnya. Nanti aku pikirkan dulu. Sehabis makan akan kuberi tahu. Sekarang turun dulu dari tadi Ibu panggilin kamu, udah cepetan!!!" kataku memaksa.


"Bawel. Om Om kok bawel" gerutunya meninggalkanku sendiri di kamar.


"Mijah.. kamu bilang apa?? coba ngomong lagi!!!" sahutku seraya mengejarnya.


"Nggak. Nggak bilang apa-apa. Situ kali yang salah denger" katanya mencoba mengalihkan.


"Tante... Sherin takut. Kak Rey gangguin Sherin terus" katanya sambil menjulurkan lidahnya mengejekku tanpa Ibu tahu.

__ADS_1


"Rey.. apa-apaan sih kamu. Awas ya!! Kalau sampe bikin Sherin nangis. Kamu gak boleh tidur dirumah. Noh sono tidur diluar!!" kata Ibuku membelanya.


"Awas kamu Mijah!!! Lihat saja pembalasanku!!" ancamku dalam hati.


__ADS_2