Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Pengganggu


__ADS_3

Di Rumah Sakit


Aku memberanikan diri memasuki rumah sakit ini. Bukan karena phobia rumah sakit, tetapi lebih takut bertemu kakakku, Adira. Ya, kakakku bekerja dirumah sakit ini dan mengancam untuk tidak mendekati bahkan bermimpi memilikinya.


Rumah Sakit ini adalah salah satu peninggalan almarhumah nenekku. Tapi tak sekalipun aku diizinkan untuk sekedar bertandang ke rumah sakit ini. Saat menunggu antrian pengganggu itu muncul didepanku. Deggg...


"Hai, Sherin, tumben ke rumah sakit?? kangen ya sama kak Roy??" katanya tak tau malu.


Aku tak menjawab hanya berpindah tempat duduk agar jarak diantara kami semakin lebar.


"Sherin, hey, ayolah!! aku takkan menerkammu", katanya mengejek.


"Bisa tidak kak Roy, jangan dekat-dekat denganku!!, Aku gak suka dan cukup jangan menggodaku, karena aku masih dibawah umur dan kak Roy bukan tipeku" kataku pedas.


"Hey, ayolah..!!" rengeknya dan menarik tanganku yang terluka.


"Lepaskan,, aku bilang lepas!! (sambil meringis kesakitan kuhempaskan tangan kotornya tapi genggamannya sangat kuat) kalau tidak kau lepas aku teriak" ancamku.


Akhirnya aku pun selamat dari pengganggu itu karena namaku di panggil untuk memasuki ruang perawatan.


"Nona Sherin, silahkan masuk!!" kata perawat itu. Kuhempaskan tangan kak Roy dengan kasar sekali lagi. Ku tahan rasa sakit yang teramat karena lukaku. Segera aku masuk ke dalam.


Dari kejauhan terlihat samar ada sepasang mata yang memandang Sherin yang sedang berbicara dengan Roy. Dia nampak seperti singa yang mendapatkan buruannya. Dia terlihat sedang menahan amarah yang harus segera dikeluarkannya. Ingin rasanya, dia meledakkan emosinya saat itu juga. Akan tetapi Sherin dan Roy tidak tau keberadaannya.


Kak Roy adalah kekasih kak Dira. Dia juga seorang dokter bedah. Akupun tidak tau kenapa dia selalu menggangguku. Jika kak Dira tahu aku bertemu bahkan berbicara dengan kak Roy, maka tamatlah riwayatku.


Didalam ruang perawatan


"Sherin,,,??" panggil kak Yuna tak percaya.

__ADS_1


"Kak Yuna..." jawabku kaget bisa bertemu kakak angkatku disini.


Kak Yuna juga seorang dokter dan dia juga teman kak Dira satu jurusan. Kak Yuna sudah seperti kakakku sendiri. Dia selalu membantu disaat aku tak mampu lagi bangkit. Dia selalu ada untukku. Akupun menyayanginya dengan tulus. Entah perasaan balas Budi atas kebaikan nenekku dulu padanya atau memang dia benar-benar tulus padaku, tapi yang kurasakan setidaknya ada seseorang yang tidak mengharapkanku terpuruk. Segera kulepaskan jaket yang menutupi lukaku dan...


"Astaga Sherinnn..!!???" teriaknya tak percaya.


"Tangan kamu kenapa seperti ini??" tanyanya sambil melihat lukaku.


"Jatuh kak. Sherin nggak sengaja jatuh tadi pagi di dekat halte bus" jelasku singkat.


"Ck..ck..ck.. Ini mah bukan jatuh Sherin, jawab jujur!!, kakak tau kamu tidak pernah naik motor atau mobil, ini luka seperti kamu berguling-guling dijalan aspal, iya kan??" tanyanya kembali.


"Iya kak, maaf (akupun tertunduk). Nggak sengaja tadi pagi nolong anak kecil yang mau ditabrak mobil kak, Sherin reflek memeluk anak itu dan berguling dijalan" kataku menjelaskan dengan nada menyesal karena tidak hati-hati.


"Sherin, (kak Yuna mengelus kepalaku) sudah berapa kali kakak bilang, kamu boleh nolong orang, berbuat baiklah. Tapi inget juga diri kamu!! nenek Sonya akan sedih melihatmu seperti ini. Bagaimana kak Yuna bertanggung jawab di depan nenekmu kelak??" kata kak Yuna menasehati sambil menjahit dan membalut lukaku dengan perban.


"Maaf kak, Lain kali Sherin akan lebih hati-hati" jawabku penuh penyesalan.


"Sherin, ini uang sakumu" ucap sambil menyodorkan amplop berisi uang.


"Simpan baik-baik. Jangan sampai diambil Dira lagi!!" pintanya.


Aku hanya diam menunduk. Tak enak rasanya mengambil amplop itu. Kak Yuna yang bukan saudara kandungku malah begitu baik dan perhatian padaku. Air mata ini pun tak tertahankan mengalir begitu saja.


"Sherin jangan menangis!!" aku pun memeluknya untuk ucapan terima kasih dan juga untuk melepaskan rinduku kepada nenek dan mama yang sudah kembali kepangkuan Illahi Robbi.


Sejak aku ditinggal nenek saat Usiaku baru delapan tahun, semenjak itulah aku sama sekali tidak pernah merasakan pelukan hangat dari siapapun termasuk Ayah kandungku juga. Kalian pasti bertanya kapan mamaku meninggal, iya kan??


Flashback

__ADS_1


"Nek, m..m..mama kemana Nek?" tanyaku pada nenek. Saat itu Usiaku baru 5 tahun.


Selama ini nenek selalu merahasiakan semua yang berhubungan dengan Mama. Nenek berjalan untuk mengambil kotak kayu yang tidak terlalu besar dan kotak itu berukiran motif bunga yang terlihat sangat cantik dan ada inisial huruf N.W.


"Sherin, ini semua kenanganmu bersama mama. Bukalah!!" pinta nenek lembut.


Akupun membukanya perlahan. Ku ambil sebuah foto wanita yang sangat cantik sambil tersenyum memeluk seorang bayi perempuan yang berusia sekitar 5 bulan, itulah foto terakhirku dengan mamaku.


Air mata ini pun mengalir tanpa bisa berhenti. Aku memeluk foto itu. Iya seorang balita yang belum genap berusia 5 tahun harus menelan pahitnya tidak memiliki Ibu.


"Mama.. Mama.. Sherin kangen Mama, hiks hiks hiks", tangisku dalam pelukan nenekku.


"Sherin, dengarkan nenek!" pinta nenek disertai anggukanku.


"Mama sudah bahagia disana, lihatlah difoto Mama tersenyum kan?, Mama selalu ada disini (sambil menunjuk dadaku). Mama pergi karena Allah menyayanginya. Mamamu wanita yang sangat cantik, baik dan sabar. Sherin juga harus seperti Mama. Sherin janji sama nenek!!" pinta nenek.


"Iya Nek. Sherin janji jadi anak baik".


"Ingatlah nama Mamamu, Nayla Wiryoatmadja!!" kata nenek sama sedihnya denganku.


"Jangan menangis dan cerialah selalu nak, jika Sherin mau lihat Mama bahagia" kata nenek.


"Iya Nek. Sherin gak mau Mama sedih. Sherin janji jadi anak yang kuat dan selalu tersenyum untuk Mama dan nenek" kataku yakin.


Maafkan nenek, Sherin. Nenek harus menyembunyikan kenangan pahit mama darimu karena tak layak bagimu mengetahui pahitnya hidup seorang Nayla di keluarga ini.


Nenek tidak mau kau hancur seperti mamamu. Kalau bukan karena ayahmu, mungkin nenek masih bisa memeluk mamamu saat ini. Dasar lelaki B******n. Batin nenek yang tak terasa air matanya sudah membasahi pipinya yang tampak berkeriput.


Flashback off

__ADS_1


Akupun keluar dari ruang perawatan. Kaki ini lemas tak bisa berjalan. Dengan gontai aku duduk di kursi kosong di ujung lorong. Belum sempat aku bernafas, tiba-tiba ada tangan yang menarik ku kasar menuju sebuah ruangan yang tidak asing bagiku. BLAKKK.. suara dentuman pintu yang ditutup dengan keras..


"Ahhh.." desahku pasrah.


__ADS_2