Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Masakan Ala Chef Rey


__ADS_3

Hampir setengah jam untuk sampai dirumah dan hampir setengah jam pula diriku harus bisa menahan yang namanya kelaparan. Bukan tak bisa mampir ke salah satu restoran atau warung makan pinggir jalan tapi semua karena dia. Benar karena calon suamiku yang dengan tak berperasaan kekeh mau memasakan makanan khusus untukku. Ritual sebelum pernikahan memasak makanan yang dibuat dari tangannya sendiri.


"Srrrupppp.... makanan... makanan.... Kak bisakah kau menghentikan mobilnya di resto itu???" kataku menatap restoran cepat saji dari balik jendela dengan air liur tak tertahankan.


"Kak... kenapa kau berjalan terus. Hyaa.... ayamku.... kembalilah... kembalilah ayam...." rengekku. Kak rey hanya menatap dan tersenyum penuh kemenangan.


"Kakak... ada warung bakso didepan bisakah menepi??? Astaga betapa lezatnya itu.... Kak... Kakak kenapa kau tak berhenti juga. Kau mau aku mati kelaparan??? Astaga tenagaku habis...." kataku kesal tak mungkin bisa teriak dan marah-marah lagi kali ini.


"Mong Mong... anak pintar. Cup cup jangan marah lagi ya nanti kau semakin lapar. Tenang dan tunggulah. Anggap saja kau sedang berlatih pengendalian diri" jawabnya tenang sekali. Inikah rencananya untuk balas dendam. Ohhh.. Latihan pengendalian diri, sungguhkah??? waktunya terlalu tepat sekali. Bahkan disaat aku tak bisa berontak bahkan untuk menatapnya pun tak ada kekuatan sama sekali.


"Haha haaa.... berapa lama lagi aku harus kelaperan kak??? grukk... kukukkkk.... " tanyaku masih dengan cacing berdrumband ria didalam perutku.


"Sabar sayank, aku janji penderitaanmu kali ini akan terbayarkan dengan makanan lezat Made by chef Rey, oke. Tunggulah, aku pasti takkan mengecewakanmu" jawabnya tersenyum penuh percaya diri.


"Sudah kemudikan Mobilnya dengan benar, perempatan belok kiri rumah paling ujung" kataku lesu.


"Iya aku sudah tau"


"Bagaimana kakak bisa tahu??? Bukankah aku tak pernah memberitahukan alamat rumah nenekku dan juga kau belum pernah kesana sekalipun" kataku heran.


"Apa kau yakin aku tak pernah kesana??? Dasar bodoh. Kau memang pelupa" jawabnya tersenyum seakan pernah ada kenangan yang terjadi antara aku dan dia dirumah nenek dulu.


"Heeehhh..." eluhku heran.


"Jangan bunyikan klakson tak ada orang dirumah. Mbok Darmi dan bibi sedang keluar.... pakai sensor suara saja. Pip... buka pagar!!!" cegahku menekan alat pengaman yang terhubung dengan sensor yang tertanam di mobilku.


"Tunggu, tetaplah di mobil" pintanya membuatku terkaget-kaget kali ini apa yang mau kak Rey lakukan.


BLAMMM... Pintu mobil tertutup dan kak Rey segera berlari membuka pintu mobilku bahkan tak segan menggendongku masuk ke dalam.


"Kak... kau sudah gila. Aku hanya kelaperan bukan tak bisa jalan. Turunkan aku!!!" teriakku sungguh kali ini benar-benar heran.


"Tuan putri diam dan patuhlah" jawabnya tak disangka kak Rey bisa melakukan hal ini.


"Kak, apa kau yakin kalau dirimu yang sekarang adalah si Reynan Gunanto???" tanyaku beberapa kali menaikkan alis sungguh tak percaya dengan perubahan sikapnya.


"Kenapa??? Apa kau menyukainya??" tanyanya sangat tenang mendudukkanku dikursi meja makan dengan lembut. Lama sekali aku menatapnya. Menyelidik kalau kalau dia seseorang mata mata yang menyamar.


"Ayolah Sherinn... apa karena lapar kau jadi berhalusinasi... ohhh Astaga.... lihatlah... bulatkan matamu... dia memang kak Rey..." batinku meyakinkan.


"Duduklah disini. Dan lihatlah akan kutunjukkan kemampuanku berperang di dapur" katanya sangat yakin.


"Awas kalau tak sesuai ekspektasiku. Maka bersiaplah aku akan menghajarmu" ancamku garang.


"Oke hajarlah diriku diatas ranjang" bisik Kak Rey lembut mengusap pucuk kepalaku.


"Kakak kau keranjangan, dasar" umpatku kesal.


TAKK...... Lagi lagi kak Rey menyentil dahiku.


"Ahhh... awww... kenapa???" protesku.


"Bicaralah lebih lembut pada suamimu. Apa hobimu mengumpat???" pintanya lembut.


"Hnn..."


"Hnn apa sayank??" tanyanya berbisik membuat bulu kudukku merinding.


"Iya, akan kucoba jika sudah sah" jawabku gantian berbisik.


"Apa kau sedang tawar menawar dengan suamimu???" bisiknya lagi.


"Tentu saja"


"Tak bisa. Tawaranmu ditolak. Mulai hari ini bertuturkatalah yang lembut, sopan dan tak boleh ada umpatan lagi" jawab kak Rey mengagetkanku. Sangat tegas dan garang. Inikah sifat asli tentara.


"Aaahhhh.... matilah aku. Sherin kau ditipu mentah mentah.... Dulu dia berpura-pura lembut dan baik untuk menaklukanmu tapi sekarang kau dalam genggamannya hemm he he he rasakan... tamatlah kau.... Sherin Sherin betapa malangnya nasibmu...." batinku kali ini benar-benar menangis.


"Aaahhhhhh....." keluhku dibalas tatapan mematikan. Sekejap kusandarkan kepalaku di meja makan.


"Kak sudah belum, laper... tak sanggup lagi" kataku lesu.


"Tunggulah 30 menit" jawabnya santai.


"Apa...." teriakku keras dibalas tatapan membunuhnya.


"Aaahhhhh... Baiklah aku akan diam" kataku mulai lembut. Pelajaran malam ini darinya pengendalian diri termasuk perut dan mulut.


"Sherin kau kalah... Kau sudah game over... makanlah kerupuk didepanmu. Lampiaskanlah kekesalanmu padanya" kataku kesal langsung mengambil toples berisi kerupuk.


KRAUKK... KRAUKKK... KRAUUKKK... Sesekali kutatap tajam dirinya seakan aku bisa mencabik-cabiknya dengan mulutku.


KRAUKK... KREZZZ... KREZZZ... Mataku seakan sejalan memelototinya penuh amarah.


"Apa kau marah padaku??? Caramu melampiaskannya sangat unik. Mulai besok akan kusiapkan lebih banyak kerupuk dirumah. Bagaimana???" tanyanya kembali berbisik lembut ditelingaku. Kutatap tajam dirinya gantian.


KRAZZZ KRAZZZ KRAZZZ... KRAUKK KRAZZ....


"Ha ha ha kau benar-benar imut dan lucu" ejeknya.


Dalam lubuk hati terdalam, apa yang dia katakan memang benar, tak salah. Tapi semua terlalu tiba-tiba. Karakter pribadiku terbentuk selama belasan tahun. Akankah bisa berubah dalam hitungan hari. Sangat mustahil dan terlalu naif.


KRAUKKK KRAZZZ KRAZZZ... KRAUKK KRAZZ... KRAUKK KRAZZ... KRAUKK KRAZZ.... KRAZZZ KRAZZZ KRAZZZ.... Dengan sengaja memakan kerupuk membuatnya berirama agar tak bosan.


KRAZZZ KRAUKK... KRAUKK KRAZZ....


"Sherin sabar... sabarlah... Ahhh.... kenapa juga dia mau memasak. Melihatnya masak??? perut bisakah kau bersabar.... Astaga baru kali ini aku melihat kesungguhan hatinya. Akankah aku mati keracunan??? Masa bodoh dengan semua itu Tapi kenapa harus disaat perutku meronta-ronta. Dari pagi aku belum makan apapun sampai sekarang. Habislah lambungku tercabik-cabik...." gumamku sesekali melihat kearahnya dengan rasa tak percaya dan menatapnya lesu, lemah dan tak yakin.


"Sayank....."


"Hnnn..."


"Kau mau apa???"


"Kak apa kau benar-benar akan berperang didapurku??? Awas jika kau sampai memporak-porandakan seisi dapur" ancamku dari meja makan. Kali ini dia tersenyum bukan menatapku tajam.


"Sudah kubilang. Duduklah dengan tenang. Kalau kerupukmu habis aku bisa menyiapkannya lagi he he he.... Tunggulah Kali ini aku akan melayanimu dengan baik Tuan putri" jawabnya dengan senyuman mengembang.


KRAZZZ KRAZZZ KRAZZZ....


Tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa menatapnya. Antara kesal dan terkesima pada kak Rey yang begitu gagah seperti seorang prajurit berjalan ke arah kulkas. Tapi sesaat kemudian semua berubah lucu dan menggemaskan ketika kak Rey memakai celemek bergambar hello Kitty milik mbok Darmi.


"Kenapa kau tertawa???" tanya kak Rey masih mengaitkan tali apron hello Kitty nya.


"Nggak ha ha ha... Kau sangat lucu kak ha ha ha..." jawabku tertawa lepas.


"Benarkah??? Apa aku terlihat tampan" tanyanya dengan mata berbinar.


"Sangat... sangat tampan ha ha ha" jawabku yakin.


"Lihatlah sayank... Aku akan memotong kentang dan wortel ini dengan sekali tebas" katanya mempraktekkan keahlian memegang pisaunya. Aku tersenyum tak yakin menyaksikannya.


Dengan gaya chef profesional dia mulai memotong dan meracik setiap bahan.


Tak tak tak... Sratt srattt srattt... prakkk prakk prakkkk... tek tek tekkkk.... Sling Sling Slingg...


"Sayank, apa kau punya helm??" tanyanya membuatku membelalakkan mata.

__ADS_1


"Helm??? Buat apa???" tanyaku heran.


"Ambilkan saja sekalian jas hujan dari kulit" pintanya sungguh aneh.


Segera aku ke gudang mengambil helm dan jas hujan milik Adira yang lama tak terpakai. Setelah cukup kubersihkan segera kuberikan pada chef jadi-jadian itu.


"Ini... Apa kakak yakin bisa memasak" tanyaku ragu.


"Sudah tenanglah. Sssuttt.... sana sana.... Lebih baik kau menikmati coklat panas yang sudah kubuatkan. Minumlah!!!" pintanya ternyata kak Rey benar-benar sangat perhatian.


"Terima kasih. Sruppp... ini sangat nikmat. Kakak mau??" tanyaku.


"Mau jika kau yang menyuapinya dengan cup cup..." jawabnya benar-benar tak sopan mengarah ke bibirku.


"Sherin kau menggali kuburanmu sendiri lagi" umpatku kesal.


"Lupakanlah.... jangan menggodaku. Cepat masaknya" teriakku kesal sendiri.


"Baiklah Tuan putriku" jawabnya malah mengenakan helm dikepalanya.


"Apa dia mau balapan didapur???" tak sampai otakku berpikir jernih.


"Tunggu... Kakak kenapa kau memakai helm dan jas hujan didapurku??? Apa kau sudah gila???" tanyaku berteriak heran.


"Herghhhhh.... Kau mengumpat lagi" katanya garang.


"Oopss... maaf..." jawabku segera menutup mulut.


"Helm dan jas hujan ini untuk melindungiku dari cipratan minyak panas. Kau tau kan kalau masak ikan dan ayam minyaknya berlomba-lomba terbang kemana-mana. Dan satu lagi, aku tak mau wajah tampanku ternoda dengan yang namanya minyak panas. Sudah mengerti sayank??" jelasnya semakin membuatku tak yakin menyerahkan dapurku padanya.


"He he he... Kakak aku bisa masak untukmu. Lebih baik kau saja yang duduk oke..." kataku berjalan mendekat kearahnya.


"Duduk ini perintah. Kalau kau tak patuh aku akan menghukummu. Kembali ke tempatmu!!!" kata yang terucap semakin garang. Mau tak mau aku kembali ke meja makan. Menatapnya sambil memakan kerupuk lagi untuk meredakan emosi ku.


KRAUKK KRAZZ KRAZZZ.....


KETOMPRANGGG... PRANGGG.... PYARRRRRRR....


"Habislah.... Mbok Darmi maafkan aku...." kataku menutup mataku tak mau menyaksikan adegan perang yang sangat menggelikan.


"Mong dimana garamnya??" tanya kak Rey semakin tak yakin dengan yang dimasaknya.


"Dikanan pojok toples biru kecil" jawabku tergagap.


BRAKKKKK... WUSHHH.... PRANGGG.... SRONGG....


"Dimana micinnya???" tanyanya sibuk membolak balik bahan makanan entah apa itu diatas penggorengan dengan kostum ala ala power rangers zaman now.


"Aa.. aku tak pakai micin kak tapi kaldu disamping kirimu toples hijau. He he he... Kak apa kau yakin dengan ini??? Bagaimana kalau aku saja yang memasak" kataku sedikit takut dia akan meledakkan dapurku.


"Diamlah. Kau mau melawan perintahku" katanya menatap kejam. Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil terus mengamatinya.


WOSHHHHHHH SWOSSSHHHH.... api menjalar kedalam wajan seperti kilatan. Kukira kak Rey sengaja meniru chef profesional tapi gagal.


"Sherin ambil pemadam" teriaknya mengagetkanku. Segera aku berlari mengambil APAR.


"Matikan dulu kompornya kak!!!" teriakku kesal. Segera kusemprot api dengan APAR.


"Hahhh.... jantungku...." kataku terduduk dilantai sambil mengelus dadaku dengan kaki gemetar.


"Mong kau tak apa???" tanyanya entah bagaimana ekspresinya dari balik helm setelah dapurku hampir meledak.


"Sudah kubilang biarkan aku saja yang memasak" teriakku marah.


"Sayank... tadi itu baru pemanasan. Tenanglah.... Kali ini aku akan serius oke... Kau duduklah di sana dan makan kerupukmu lagi. Mari kubantu berdiri" katanya tanpa dosa membantuku berdiri masih dengan kostum anehnya.


"Percayalah pada pangeranmu oke. Lihatlah dapurmu baik baik saja kan???" katanya masih bisa beralasan. Kulirik tajam dengan mata mematikan.


Kak Rey mulai membereskan kekacauan tadi. Dari meja makan aku bisa menyaksikan kesungguhan hatinya tapi kalau urusan memasak aku yakin 99% dia tak punya kesempatan.


"Makanlah kerupuk itu sayank... Tak lama 10 menit selesai... tunggulah Tuan putriku" katanya masih bisa tersenyum dan menggodaku.


PRANGGGG RANGG RANGGGG.....


"Oppps hanya kesalahan teknis ha ha ha..." elaknya tapi sudah hampir membuat jantungku kolaps.


TLABBBB... SRENGGGG..... TAKK TAKK TIKK TAKKK TOKK TOKK TOKK SRANGGG....


"Apa dia sengaja bermain musik dengan penggorengan, Astaga ini melebihi kegilaanku. Mbok Darmi cepatlah pulang, kalau tidak dapur kita takkan selamat hiks hiks hiks..." gumamku menangis tertawa.


WOSSHHHH SRASHHHH CESSSSS..... PRANGGG SRENGGG....


"Sayank ambilkan air cepat bumbunya gosong" teriak kak Rey seperti dugaanku. Dari tadi dia hanya bermain musik.


"Kecilkan apinya, sebentar kuambilkan" kataku lesu.


"Ini..." kusodorkan segelas besar air mineral dan mencoba melihat apa yang kak Rey masak.


"Astaga bawang yang tadinya putih bisa secara ajaib berubah hitam. Cabe bawang merah bawang Bombay semua berubah hitam legam. Oh tidak akankah aku keracunan ketika memakannya???" tangisku dalam hati.


SRANGGGGG SUSHHHHH...


"Ambilkan ayamnya, kecap juga, kaldu dan garam" pintanya masih sibuk memasak sambil memberi arahan yang bisa dibilang sangat aneh dan gila.


"Ini, ini, ini, apalagi yang kau butuhkan kak??" tanyaku masih melihat caranya memasak.


"Tunggu biasanya garam berapa sendok yang dimasukkan??" tanyanya.


"Kalau airnya segitu cukup satu sendok teh" jawabku.


"Ohhh begitu ya. Tapi karena aku baik dan murah hati maka akan kuberi kalian ayam ayam kecapku sebanyak Tiga sendok garam oke" katanya membuatku membulatkan mata lebar-lebar.


"Astaga akankah ini harus kumakan. Darah tinggi.... keracunan.... layakkah diriku dikorbankan???" tangisku dalam hati.


"Kak, kau memasukkan kecapnya terlalu banyak" cegahku hampir setengah botol besar kecap terjun bebas dalam penggorengan.


"Menurut resep semakin banyak kecapnya semakin manis. Benarkan???" katanya begitu yakin dan bodoh.


"Hahhhhh hahhhh hiks hiks hiks... hancurlah tak ada yang tersisa... Masakan ini adalah masakan paling woooowww kegilaannya. Aku benar-benar tak mau memakannya.... Siapa saja tolong aku......" pekikku dalam hati menggila.


"Sayank lihatlah ayam kecapnya sudah matang. Kelihatannya enak" katanya tak sesuai kenyataan. Rasa lapar dalam perutku lenyap begitu saja. Bahkan cacing yang tadinya berdrumband ria pada sembunyi entah kemana.


"Ha ha ha... sangat lezat bahkan bisa membuat orang pingsan seketika ha ha ha" gumamku entah terdengar atau tidak.


"Apa sayank... kemarilah, kau harus mencobanya" kata kak Rey segera menarik tanganku mendekat.


Tarararammm... Kak Rey sengaja mengambil beberapa potongan daging dengan sumpit dan mencoba menyuapiku.


"Kak aku bisa ambil sendiri..." elakku. Sungguh aku tak mau memakannya. Perutku terasa mual.


"Hem Hem... ayo buka mulutmu. Masakan ini khusus untukmu Tuan putriku. Haaaaa..... ayo haaaaaa..... emmmm. Bagaimana enakkan???" katanya sangat yakin.


"He he he... sangat enak. Benar benar lezat. Lebih baik aku jadi Putri tidur daripada melanjutkan makan ini. Mbokk kapan kalian pulang" gumamku sangat pelan meracau sendiri tersenyum palsu.


"Kalau gitu, kau harus menghabiskannya sayank...." katanya benar-benar membuatku shock.


"Kakak.. aku tak sanggup menghabiskannya. Ini terlalu banyak. Lambungku sangat kecil. Satu potong saja sudah kenyang Lagian dari tadi aku sudah makan kerupuk he he he" elakku mencari berbagai alasan.

__ADS_1


"Tak bisa. Kau sungguh tak menghargai hasil kerja kerasku. Pokoknya kau harus menghabiskannya. Biar kuambilkan nasi. Duduklah disini" kata kak Rey segera ke dapur mengambil semangkuk nasi dan beberapa tumis sayur yang dibuatnya tadi. Lebih hancur bahkan tak bisa disebut sayur.


"Ini, tumis sayur ala chef Rey, cobalah" katanya menyodorkan piring sayuran kearahku masih lengkap dengan kostumnya.


"He he... Kak apa kau tak mau melepas kostummu" kataku mengalihkan perhatian.


"Oh ya aku sampai lupa. Tunggulah disini. Jangan lupa makanlah yang banyak, awas kalau kau macam-macam!!!" katanya seakan tau jalan pikiranku.


"He he he.... tenanglah aku makan... sudah sana lepas kostummu" kataku melambaikan tangan.


"Dimakan, awas kalau tidak!!!" katanya sekali lagi berbalik menatapku lama.


"Heeehhh iya lihatlah ini, aku memakannya" kataku memasukkan beberapa potong sayuran kedalam mulut.


"Ohhh wahhhh wohhhh... air air air..... oh Tuhan ini racun paling mematikan yang pernah kumakan..... glek glek glek..." kataku kesal sendiri.


Tak lama kudengar sayup sayup ada orang yang datang. Tanpa pikir panjang aku segera meninggalkan meja makan keramat ini.


"Sherin, kau sudah pulang???? Kenapa parkir mobil sembarangan sih??" suara bibi Fang seperti malaikat penyelamat ku.


"Bibi... akhirnya kau datang. Aku merindukanmu" teriakku memeluknya seakan terselamatkan dari tindakan bunuh diri.


"Anak ini... Apakah ada yang salah dengan otakmu???" tanya bibi segera kugeleng-gelengkan kepalaku.


"Non, mbok belikan martabak telur kesukaan non. Ini..." kata mbok Darmi segera kuambil bungkusan martabak tadi.


"Mbok, bi kalau kak Rey tanya bilang aja kau menyuruhku beli minuman disupermarket oke" kataku berlari bersembunyi ditaman belakang tak menyangka bisa terselamatkan dari racun mematikan itu.


"Reynan???" kata bibi Fang heran.


"Sherinn... tunggu... Papamu mau bicara???" teriak bibi Fang terdengar samar.


"Papa??? Ahhh sudahlah yang penting perutku terisi dulu" kataku segera duduk memojok di taman belakang dengan lampu sedikit temaram.


"Hahhh.... ini baru yang namanya makanan. Lezatnya seakan nafas kehidupanku terisi penuh. Ahhhhh... nyam nyam nyam....." baru juga mau menikmati satu gigitan dengan nyaman tiba-tiba dari jauh terdengar suara itu. Suara orang yang tidak kuharapkan kali ini.


"Sherinnn kau dimana???? Mong Mong....." teriaknya sekali lagi.


"Huks huks huks... dug dug dug.... bisakah aku menikmati makan dengan tenang hiks hiks" kataku hampir saja tersedak martabak.


"Ternyata kau disini??? Ayo ikut habiskan makananmu" pinta kak Rey memaksa menyeretku masuk kedalam.


"Kak... pelan pelan..." kataku mencoba mengulur waktu mencari oksigen sebanyak-banyaknya dan menyiapkan mental.


"Ayo, Om dan bibi juga mbok Darmi juga sudah menunggu" katanya menarikku paksa sekali lagi.


"Apa???? Mereka.... benarkah" kataku tak percaya mereka terjebak dalam situasi ini juga.


"Duduklah!!!" kata kak Rey sedikit memaksa.


"He he he.... iya kak" jawabku tersenyum kecut.


"Sherin, apa kau melarikan diri karena ini???" tanya bibi Fang berbisik seakan memiliki firasat buruk.


"Iya bi. Jangan menolaknya. Hari ini kak Rey agak sensitif bisa bisa dia meledakkan kita diruangan ini" jawabku berbisik.


"Om, bibi mbok silahkan dimakan. Ini aku yang masak. Sherin sangat menyukainya semoga kalian juga suka. Silahkan silahkan" kata kak Rey sopan. Terjadi saling tatap diantara kami.


"Ha ha ha... Baiklah Rey, karena kamu sudah berusaha keras maka kami akan memakannya. Terima kasih ha ha ha..." kata bibi Fang terlalu dibuat-buat.


"Sejak kapan bibi sudah baikan dengan Papa. Dan kenapa Papa bisa kemari bersama mereka???" pikiranku kembali tertuju pada malam itu di Jogja.


Masih terjadi perang dingin antara aku dan Papa. Tapi untuk menghargainya mungkin aku bisa bersikap lebih sopan padanya. Aku sendiri belum bisa memaafkannya.


"Baiklah mari kita makan masakan buatan menantuku" kata papa percaya diri.


"Mong makanlah...."


"Bibi mbok cepat dimakan" kataku sengaja membuat mereka makan makanan yang sangat bergizi.


"Ahhhh hahha haaa Sherin tentu kami akan makan" kata bibi Fang ragu menyuapkan makanan kemulutnya.


"Bagaimana bi, enakkan???" ejekku.


"Huks huks... enak enak..." kata bibi dengan pucat pasi.


"Minum dulu bi. Nggak ada yang ngambil kok. Makanlah yang banyak sayurnya ini juga ayamnya jangan lupa dimakan" kataku memasukkan banyak sayuran dan beberapa potong ayam kecap kedalam piringnya. Raut wajah bibi seketika berubah.


"Sialan kau Sherin....." umpatnya berbisik.


"Sayank.... bukan hanya bibi yang harus makan banyak tapi kamu juga harus makan yang banyak" kata kak Rey mengambil sayur dan beberapa potong daging ayam lebih banyak dipiringku. Senjata makan tuan.


"Sherin tamatlah kau ha ha ha" bisik bibi Fang senang.


"Ha ha ha.... iya kak pasti kuhabiskan"


"Om.. tambah lagi" kata Kaka rey menyodorkan piring sayur dan ayam kecap.


"Ehhh... Tenang saja. Masakanmu sangat enak. Om suka kapan kapan kamu masak seperti ini lagi ya!!!" kata papa lebih gila dari yang kukira.


"Bibi...." keluhku hampir menangis.


"Tenanglah... sabar sabar...." jawab bibi Fang mengejek.


Segera kulahap habis semua yang ada dipiringku. Masalah rasa dan lainnya hanya bisa membayangkan memakan makanan enak lainnya. Bahkan mulut dan perut tak bisa menerima makanan ini.


"Non Sherin sakit???" tanya mbok Darmi melihat wajahku yang hijau.


"Sayank kamu kenapa... apa terlalu kenyang... Aku akan mengantarmu ke kamar" kata kak Rey cukup perhatian.


"Rey biar bibi saja yang mengantar Sherin, Om Angga mau bicara sama kamu" kata bibi berusaha mengeluarkanku dari situasi ini dengan mengedipkan matanya kearah Papa. akhirnya bisa lepas juga dari kak Rey.


"Entahlah pikiranku kosong. Lagi tidak connect dan tak mau on. Terserah Papa mau ngomong apa juga sama kak Rey yang penting malam ini aku aman" gumamku bibi hanya tersenyum seperti mengerti penderitaanku.


"Bibi kunci pintunya!!!" kataku segera berlari ke kamar mandi.


"Hoek hoek Hoek... ahhhh... Hoek hoek.... kak Rey aku kutuk kau.... Hoek...."


"Sherin kau hamil???" pertanyaan bibi membuatku kaget setengah mati.


"Bibi bisakah kau tak bercanda. Lihatlah aku keracunan... keracunan... Hoek hoek Hoek...." jelasku semakin mual.


"Ohhh... ha ha ha... Kau belum menikah saja sudah diracuni bagaimana kalau kau sudah menikah dengannya kau bisa ditembak ditempat ha ha ha" kata bibi sangat tajam.


"Hoek... Hoek... diamlah kau bi... aku belum membuat perhitungan denganmu Hoek...." teriakku kesal.


"Kurasa malam ini kau harus tidur dikamar mandi... Sudah berapa bulan sayang.... boleh bibi lihat perutmu ha ha ha..." ejek bibi tak tau sikon.


"Bibi.... Hoek hoek.... SYURRRRR..."


"Kemari sayang, cucu bibi cup cup cup...." ejek bibi sekali lagi.


"Bibi Fang...."


"Apa sayang, wanita hamil tak boleh marah marah loh ha ha ha...."


"Bibi......"

__ADS_1


__ADS_2