Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Pembullyan


__ADS_3

Semua pandangan tertuju padaku. Seolah aku tersangka utama dibalik teriakan menggelegar si Mong.


"Apa yang kamu lakuin ke Sherin, Reynan???" teriak ayah dengan raut marah siap menindasku.


"Sudah jelas tu Om, kasiannya si Sherin hiks hiks" pekik Yuna memprovokasi.


"Pah, Rey minta dinikahin sekarang kali. Udah nikahin aja sekarang. Udah kebelet tuh!!!" ucap Rian langsung dibalas dengan tatapan tajam si Mong.


"Ha ha ha kalian apaan sih??? Om Tante semuanya disini gak ada apa-apa kok. Ya kan kak Rey??" tawa Sherin berusaha mencairkan suasana. Aslinya dia belum siap nikah sekarang. Diapun beberapa kali mengedipkan matanya ke arahku.


"Ha ha ha iya Yah, gak ada apa apa kok. Ya kan Yank???" tawaku berusaha mengikuti skenario Mong Mong.


"La terus napa tadi kamu teriak Sher??? Mana kenceng banget lagi??" ucap Yuna mencari perkara.


"Ahhh itu... Aku lagi latihan paduan suara kak buat perpisahan sekolah. Ya kan Ni??" kata Mong memberi penjelasan tapi udah deg degan aja. Rasanya jantungku mau copot kalau mereka tak percaya.


"Emang ada ya Sher, gue baru tau kalau lu ikut paduan suara??" jawab Nia polos.


"Sial. Tumben banget si Nia otaknya belum on. Kan bisa bilang iya. Gitu aja repot" batinku agak kesal.


"Ha ha ha... Beneran kok Om, Sherin gak boong. Mau Sherin praktekin lagi. Ehem ehem... Kak Reyyyyyyyy..... ahhhhhhhh" teriak Sherin sekali lagi membuat gempa seisi rumah.


"Cukup cukup Sherin Om percaya. Sayang suara kamu bagus tapi... begini mending latihannya ntar di luar aja ya. Tunggu sampai kucing Om pada lairan. Takutnya pada kaget kalau denger suara kamu yang merdu. He he... Udah bubar bubar semuanya!!!" jelas ayah aku hanya menahan tawa sampai ini perut sakitnya minta ampun.


Belum beberapa langkah ayah balik lagi.


"Bener ya Sherin sayang. Jangan latihan dulu!!!" pinta ayah sekali lagi membuatku tak bisa menahan tawa lagi.


"Pftttttt..." tawaku langsung dibalas tatapan tajam macan betina.


Semua orang kembali ke kamarnya masing-masing. Tinggalah aku dan Mong saja di kamar ini. Dia segera mengambil jilbab instannya.


Aku berusaha merangkak dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan. Niat hati ingin melarikan diri tapi...


BRAKKKKK... pintu kamar ditutup paksa.


"He he... Mau kemana kamu sayang???" ejeknya sambil tertawa penuh arti.


"Ampun Mong. Kakak beneran khilaf. Suer khilaf sekhilaf khilafnya. Boleh kakak keluar mau pipis nih!!!" kataku mencoba mencari alasan supaya bisa kabur.


"Pipis di baskom tuh!!!"


"sial ni anak tau aja cuma alesan" pikirku.


Melihat tatapan mata Mong yang begitu sulit diartikan sama sekali membuat pikiranku melanglang buana. Menggagapi maksud tersembunyi yang dia pikirkan.


"Ahhh... pasti hari ini aku sengsara. Reynan Reynan... berjuanglah... Semangat!!!" batinku lesu.


Mong berjongkok didepanku. Dia bahkan berani menatapku. Aku hanya tertunduk takut.


"Sayang, enaknya diapain ya??? Ehmmm... Coba Mong pikirin dulu. Ahaaaa..." katanya sambil mengangkat daguku. Dia sungguh berani kali ini. Sisi premannya muncul tiba-tiba.


"Karena kakak berani mengambil ciuman pertamaku maka kalau dikuliti saja kayaknya masih kurang deh. Ada request???" tanyanya mengejek.


"Mong, oh salah sayang. Bisa tidak kita lupain kejadian ini??? Kalau gak kak Rey push up 100x gimana?? Atau kakak kembaliin ciumannya??" kataku memberi opsi lain.


"No No No. Enak aja. Khilaf dua kali dong jadinya. Kalau cuma push up itu terlalu ringan. Kakak.... Sebentar!!!" kata Mong mencoba menghubungi seseorang lewat telepon.


"Bisa datang kesini gak?? Oke Sher tunggu. Sayang kalian deh muachhh" kata Mong ditelepon langsung membuatku cemburu. Tapi mau marah gimana, dia aja lagi marah. Bisa-bisa langsung di DO ama Mong Mong.


Lima menit kemudian.


Tok... tok...


"Masuk!!!" sungguh kaget ternyata Arka sama Rendy yang ditelpon si Mong. Dengan gaya yang sok pede, sok jago dan senyum mengejek mereka masuk dan melihat betapa tragisnya diriku dihadapan gadis kecil ini.


"Kak Rey. Lihatlah!!! Hari ini karena kamu sedang dihukum maka mereka berdua jadi anak buahku. Bolehkan???" tanyanya dengan senyum anehnya.


"Boleh sayang. Apa sih yang nggak buat kamu" jawabku pasrah tapi harap harap cemas apa yang akan mereka lakuin.


Mong mengambil kertas putih ntah itu tulisannya apa kemudian disodorkan ke aku.


"Apa ini sayang?? Kenapa kamu bisa sekejam ini sama mamas Rey??" tanyaku heran.


"Masa sih. Aku kan manis, imut, baik hati. Kak Arka kak Rendy emang aku kejam ya???" tanyanya balik.


"Tentu tidak nona manis" jawab mereka dengan senyum mengembang.


"Udah, mamas Rey yang ganteng. Sekarang tandatangani ini ya. Aku menunggu cap jempolmu he he he" ejeknya menggoda.


Dengan terpaksa aku menandatanganinya.

__ADS_1


🎃 hari ini semua anak buah kak Rey beralih menjadi anak buah Sherin berlaku 24 jam.


🎈 Apapun yang dilakukan Arka dan Rendy atas wewenang Sherin tidak boleh dibalas dan tidak boleh ada dendam.


🎳 Tidak boleh mengumpat, mengeluh apalagi marah marah.


Tertanda


Kapten Sherin


Tersangka Reynan.


"Karena mamas sudah menyetujuinya. Maka hukuman resmi dibuka. Oh ya kak Arka kak Rendy, enaknya dihukum apa dulu ya??? Kalian punya ide atau dendam dendam gitu pengen bales ke Abang Rey???" tanya Sherin bahagia apalagi kedua cowok itu senengnya minta ampun.


"Ohh ya Sher, bener. Aku mau dia sikap tobat selama satu jam gimana??" kata Arka senengnya minta ampun. Yang belum tau sikap tobat ini aku jelasin, caranya posisi sujud lutut dan pantat diangkat dengan tumpuan kepala dan kaki serta kedua tangan seperti istirahat di pinggang.


"Boleh juga tuh kak. Udah cepetan kak Rey. lakuin sekarang!!!" Dengan malas aku melakukan apa yang mereka perintahkan.


Dengan santainya Mong Mong makan keripik barengan Arka dan Rendy. Krezzz... Krezzz... Mereka benar-benar menyulut api dalam tubuhku.


"Mau kak, enak loh, rasa kentang bbq ha ha kak Rey yang benar!!!" teriak mong.


"Sial. Liat aja kalian berdua" ancamku pada mereka.


"Sayang, lupa ya kalau dilarang balas dendam. Kak kalau kak Rey besok balas dendam sama kalian bilang ke aku. Dengan senang hati aku menghukumnya lagi" kata Mong membela mereka didepanku.


"Sial kenapa ni mulut main nyosor aja sih??? kalau tau gini mending puasa dah??" gerutuku kesal.


"Enak beneran apalagi liat kapten kita dihukum kayak gitu tambah euanake polll rekkk. Pemandangan langka hahaha" tawa senang si Rendy.


"Langka gundulmu itu!!!" umpatku keceplosan.


Beneran selama satu jam aku melakukan perintah calon istriku yang rada aneh bin ajaib.


"Sher, istirahat dulu ya!!!" pintaku lemas.


"Oke oke. Kak ambilkan air mineral. Kasihan dia kan juga manusia ntar pingsan lagi" kata Mong seenak jidatnya.


Baru juga lima menit hukumanku dimulai lagi.


"Sekarang kak Rey harus cari hewan yang lagi kawin. pokoknya bawa sini. Kalau gak ketemu nanti hukuman, kapten Mong tambah ha ha ha" pinta Mong membuatku kaget.


"Hewan lagi kawin??? Dia kira aku penghulunya apa???" batinku kesal.


Akupun menuruti perintah calon istriku yang sekarang beralih jadi kaptenku.


Kucari direrumputan berharap ketemu belalang kawin tapi nihil. Kucari lagi ditempat berbeda berharap ketemu satu aja. Kemudian ibu datang.


"Kamu cari apaan Rey??? serius amat. Mau ibu bantuin?" tanya Ibu heran.


"Cari hewan kawin Bu" Jelasku membuat ibu terkekeh.


"Gak salah??? Kenapa gak kamu aja yang kawin??? Ckck... Kamu benar-benar udah kebelet yah... ha ha ha" tawa keras ibu mengejek lalu berlalu begitu saja.


"Rey itu loh disana, tadi aku liat kucingnya ayah lagi kawin" kata Rian membuatku senang.


"Dimana kak??" tanyaku buru-buru.


"Itu loh ada si beti lagi mau kawin sama kamu ha ha ha" jelas Rian menipuku lalu berlari terbirit-birit.


"Sial si Rian dikira gue kucing garong apa??" umpatku kesal.


"Kak tuh ada cicak kawin bawa aja!!" kata Nia tapi aku agak waspada takut ditipu lagi.


"Beneran gak boong. Itu loh disamping sana" kata nia meyakinkan.


Aku segera berlari ke lokasi yang dimaksud. Kucari cari tapi belum ketemu.


"Gak ada ni??" teriakku.


"Masa sih. Berarti cicaknya pinter. Gak mau di pelakorin sama kak Rey. Jadi kabur dah ha ha ha" tipu Nia senang.


"Sial gak kakak gue gak calonnya sama sama tukang tipu. Arghhhh..." teriakku frustasi.


Sudah tiga jam tapi belum ketemu juga yang dicari. Akupun menyerah pasrah mendapat tambahan hukuman dari calon istriku.


Kulihat mereka dengan santainya makan cemilan sambil nonton tv.


"Sayang, susah banget carinya. Aku belum dapet. Dimaafkan ya!!!" kataku memelas duduk bersimpuh.


"Gak bisa. Hukuman tetap hukuman. Kalau gitu hukuman selanjutnya wushsuwushuwussu ayah sebanyak-banyaknya!!!" perintah aneh lainnya membuatku ingin menangis.

__ADS_1


"Ayah siapa sayang??" tanyaku pasrah.


"Terserah Ayahku boleh ayah kak Rey boleh tinggal pilih?" katanya santai.


"Gila lu Sher??? Bisa dijitak Om Angga kalau sampai beneran" teriak Rian tak percaya.


Dengan malas dan berpikir keras aku mendekat ke arah Ayahku yang sedang duduk santai di teras bersama om Angga. Beruntungnya aku karena cuaca agak panas ayah dan Om Angga kompak mengenakan kaos singlet.


"Yah, kulit ayah halus sekali. Boleh gak Rey lihat lengan ayah. Naikin sedikit dong!!!" pintaku berusaha merayu. Tanpa curiga ayah menaikkan lengannya. Pertama-tama ku raba halus tapi sedetik kemudian. Trakkkk...


"Reynannnn.... Kau sudah gila. Awww awwww sakitnya!!!!" teriak ayah marah karena secara paksa kucabut bulu ketek nya. Teriakannya melebihi paduan suaranya Sherin.


Jadilah aksi kejar-kejaran antara aku ayah dan Om Angga mengitari penginapan. Ayah terus saja mengaduh kesakitan sambil berusaha memukulku. Pletok... Sandal ayah berhasil mengenai kepalaku.


"Hah hah hah... Udah yah ampun ampun yah Rey cuma ngelakuin yang disuruh Sherin biar dia mau nikah sama Rey yah... hiks hiks hiks" belaku sendiri.


"Gak bisa. Bulu ketek harus dibales bulu ketek. Angkat lenganmu!!!" teriak ayah memaksa. Mau tak mau kuangkat lenganku.


"Pelan pelan yah!!! Yah!!!" kataku takut.


"Awwwwwww ayahhhhhh sakittttt...." teriakku lebih keras. Mereka yang melihat tertawa terbahak-bahak. Bahkan Si Rian sampai terjungkal jungkal.


Kudekati sherin yang masih tertawa sampai keluar air matanya.


"Sayang udah nih. Nih ambil!!!" kataku menyodorkan bulu ketek ayah kepadanya. Dia malah lari terbirit-birit.


"Buang... buang gak!!! Kak Rey!!!" teriaknya karena aku mengerjainya.


"Hukumanku sudah selesai kan??" tanyaku lemas tanpa tenaga.


"Belum masih ada satu lagi!!" jawabnya membuatku cemas. Hal aneh apa lagi yang dia pikirkan.


"Jangan aneh aneh loh yank!!" pintaku memaksa.


"Gak santai aja. Gampang kok. Hukuman yang terakhir adalah..." semua mata memandang cemas dengan apa yang dikatakan Sherin termasuk Ayah dan ibu yang menatap khawatir.


"Sini dah kak Rey!!!" pinta Sherin mendekatkan mulutnya ke telingaku.


"Hasuaussusushshh. mengerti!!!" katanya berbisik. Mataku terbelalak lebar.


"Gak ahh. Gak mau. Yang lain aja!!" pintaku menolak.


"Gak bisa. Harus mau titik. Udah sana cepetan!!" pintanya galak.


Dengan gontai aku mendekat kearah ayah tapi karena trauma ayah dan Om Angga berlari menjauh. Begitu juga dengan ibu. Tanpa aba-aba berhasil kabur. Tinggalah Tante Nay yang tidak tau apa apa.


"Maaf ya Tante ini permintaan putrimu sendiri. Sekali lagi maafkan Rey Tante" batinku sedikit takut.


Kudekati Tante Nay yang sedang menonton tv.


"Tante Nay..." panggilku licik.


"Ohh nak rey, ada apa??" tanyanya polos.


"Tante pingin kan Sherin cepet nikah sama Rey? Boleh gak kalau Rey mengajukan satu permintaan??" tanyaku sedikit gugup takut takut Tante bakalan marah kayak ayah.


"Boleh. Apaan Rey sebutin aja!!" jawab Tante Nay belum tau maksudku.


"Tante bisa tutup mata. Soalnya ini kejutan" pintaku gemetar juga.


"Baiklah" jawab Tante Nay langsung Om Angga teriak.


"Jangan mau hon hon. Jangan nanti kamu nyesel loh" cegah Om Angga. Tante Naypun membuka mata lagi dan berteriak marah.


"Apaan sih kamu Boo. Gak baik Suudzon"


"Jangan sayang... percaya sama suamimu ini" teriak Om Angga tak terima.


"Udah diem. Jangan bilang kamu cemburu" teriak Tante Nay menutup mata.


"Tante buka mulut Tante sebentar yah!!" pintaku. Segera kuambil cabe setan yang udah dipatahin jumlahnya tiga buah. Langsung bleng masuk ke mulut Tante Nay.


"Ahhhh... Huah huahhh huahhhh.... Reynan sialan!!!" umpat Tante Nay mengejarku sekali lagi. Melempar baju bahkan bh yang lagi dijemur tepat bergelantungan di kepalaku. Tak mau kalah Om Angga dan ayah juga Ibu ikutan mengejarku.


"Ampunnn ampunnn.... yah Bu... Om Tante... Rey cuma ngikutin maunya Sherin kok" kataku membuat pembelaan. Semua mata sekarang tertuju ke Sherin.


"Sherinnnnnnnnnnnn.... Dasar kamu anak nakal!!! sini kamu!!!" teriak Tante Nay marah.


Kami semua berlari menyerbu Sherin untuk membalas semuanya. Gadis itu berhasil kabur.


"Yey Yey Yey Yey gak kena gak kena..." katanya mengerjai kami semua.

__ADS_1


😌😌 harap bijak jangan meniru adegan ini kalau tidak mau kepala kalian ketimpuk sandal apalagi bh 😂😂😂


__ADS_2