Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Kesialan dan Kerinduan Part 1


__ADS_3

Sepekan sudah aku tak bertemu dengan kak Rey. Dia sedang ada tugas rahasia entah kemana. Namanya juga rahasia ya nggak bakalan dikasih tau. Kak Rendy juga kak Arka sama saja, menutup rapat mulutnya. Ternyata tanpa sadar aku begitu sangat merindukan kak Panpanku. Sampai mimpi pun ada dia. Sangat romantis dan lucu.


"Imutnya!!! Ha ha ha Kakak gendong!!!" teriakku manja senyam senyum dari alam bawah sadar.


"Sherin, bangun!!! bangun!!" teriakan Mama menggoyang-goyangkankan badanku.


"Mama, apaan sih?? baru juga jam tiga. Ahhhh... Hancur sudah mimpi indahku bersamanya hiks hiks hiks" kataku protes.


"Dasar kamu. Udah cepetan mandi!!" pinta Mama diluar nalar. Jam tiga dini hari disuruh mandi.


Daripada berdebat kuturuti kemauan Mama dengan malas.


"Mama..." teriakku kaget.


"Apaan?? Masih malem teriak teriak??" sahut Mama dengan santainya.


"Lihat ndiri!!! Mama suruh aku mandi pakai ini??? Anakmu ini masih waras Mah" teriakku tak percaya pagi pagi buta disuruh mandi kembang udah kayak ratu peri aja.


"Gak usah banyak complain. Masalah dengan kembangnya?? Mama cuma mau kamu itu wangi, tau nggak!!! Apa mau Mama mandiin??" ucapan dari seorang ibu kuno mandi kembang biar wangi. Ini pasti Mama abis dengerin lagunya Om Caca Handika hiks hiks hiks. Aku hanya tersenyum kecut. Kalau nggak diturutin bisa panjang urusannya.


"No... aku bisa mandi sendiri. Mama cukup tidur lagi aja sama Papa. Buat adek buat Sherin ha ha ha!!!" ejekku langsung menutup pintu kamar mandi.


Dengan adanya kembang di bathtub membuat kamar mandi ini jadi horor.


"Ampun dah kelakuan Mama" gerutuku kesal lalu bergegas mandi bebek dengan shower. Hanya lima menit selesai.


Kreekkk... pintu kamar mandi kubuka pelan.


"Astaga,, Mama kenapa masih disini??" tanyaku terkejut. Hampir saja jantungku copot.


"Mandi lagi!!!" pinta Mama memaksa.


"Mama.... Udah wangi nih, nih!!!" protesku sekali lagi.


"Mama nggak mau tau. Pokoknya mandi lagi dan pakai air kembang itu!!!" paksa Mama mendorongku masuk ke dalam kamar mandi dan menyiramkan air kembang ketubuhku yang masih berbalut handuk.


"Begini baru benar. Kata temen Mama kalau anak gadis mau nikah ya harus mandi kembang tiap pagi jam tiga" jelas Mama terus menyiramkan air kembang itu di tubuhku.


"Mama... Mama..." teriakku terus menolak.


"Lihat saja tu temennya Mama kalau sampai ketemu habis kukerjai. Bisa bisanya nyokap gue dikerjain. Endingnya gue ndiri kan yang apes hiks hiks hiks" batinku kesal juga mengancam.


Ritual mandi kembang pun selesai. Saatnya bersiap-siap sholat subuh lalu pergi study tour. Lumayan buat obat pengusir rindu.


Sesampainya disekolah.


"Send, Rame rame ada apaan sih??" tanyaku penasaran.


"Lu nggak tau Sher. Ckckkkk... Jangan kesana ntar lu bakalan nangis" larang Sendy.


"Apaan sih lu. Emangnya apa hubungannya sama gue??" kataku mengelak.


"Ya ada lah. Lu kan suka sama pak Rian la sekarang pak Rian aja mau nikah sama Sohib lu ndiri. Udah ditikung lu sama Nia. Yang sabar ya Sher... tenang aja mamas Raka masih menunggu lu kok" jelas Sendy membuatku ingin menangis juga tertawa.


"Heh.. heh... Udah pada kehabisan gosip apa??? Kenapa gue jadi di kait kaitin sama pak Rian???" elakku.


"Kasian ya Sherin, gak nyangka ternyata Nia jauh lebih menarik??"


"Lihat tu Sherin, mukanya kucel amat gara gara pak Rian cintanya ama Nia"


"Peletnya si Sherin udah gak mempan buat pak Rian ha ha ha" ejek para gadis labil. Inikah yang dinamakan the power of gosip ngalahin gosipnya emak emak.

__ADS_1


Tak peduli dengan aral dan rintangan didepan mataku, kudekati mereka dengan percaya diri. Untung aja cincin dari kak Rey gak kulepas.


"Hay Hay... Kak Rian Nia" sapaku dengan nada menggoda.


Semua mata memandangku tak percaya. Nia dan kak Rian mengangkat alisnya bersamaan. Bingung dengan perubahan sikap ku. Mungkin juga efek mandi kembang pagi tadi apa gara-gara ditinggal kak Rey terlalu lama jadi nggak bisa jailin orang ba ha ha...


"Sherin..." pekik Nia menarik tanganku ke kursi taman sekolah.


"Lu gak gagar otak kan?? Apa tadi pagi lu salah makan??" tanyanya heran.


"Ha ha... Gue sehat Ni" jawabku singkat. Nia terus saja memandangku dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Keliatannya normal normal aja ni anak. Udah Ahhh... cepetan naik bis ntar gak dapet kursi baru tau rasa lu!!" kata Nia menyadarkanku buat segera cari kursi.


"Bukannya lu udah nyariin kursi buat gue Nia, gue duduk samping lu kan??" tanyaku segera menyusulnya ke bis. Tapi dia hanya menjawab dengan senyuman dan raut muka yang sulit diartikan.


Segera aku duduk disamping Nia. Senyum mengembang dari balik kursi baris pertama. Sampai datanglah seseorang mengusirku dengan paksa.


"Permisi nona Sherin,, bisakah Anda pindah ke kursi sebelah!!!"


DYARRRRR.... pertanyaan kak Rian lembut tapi menusuk. Beginikah rasanya dikhianati seorang teman yang lebih mentingin cowoknya.


"Huaaaaahaaaaa Mama ini semua salahmu, gara gara mandi kembang anakmu jadi Sial huaaaaaaaaa...Mama..." batinku mengalirkan hujan air mata.


"Tapi kak maksud saya pak Rian, bukankah gak baik duduk dengan murid ya??" tanyaku masih tak mau kalah. Nia menatapku tajam. Aku tau dia juga mau mengusirku.


"Ohhh adik ini he he he... Begini adik ipar,, khusus hari ini ada pengecualian untuk saya. Jadi saya meminta hak saya dikembalikan" jelas kak Rian Pelan.


Diapun menunjuk kursi samping dan matanya bilang kalau ini kursi gue Sherin, jadi lu harus out... cepetan out... Rasanya ingin menangis berember ember. Mau tak mau aku segera pindah ke kursi kosong disebelah. Karena memang kursi lainnya sudah terisi penuh.


"Gila, si Sherin berani bener duduk disitu??"


"Mau gimana lagi, adanya cuma kursi itu doang"


"Heh... yang ditikam siapa ditusuk juga nggak apalagi gue dimutilasi,, sapa coba yang berani???" elakku sendiri.


Datanglah kepala sekolah kami, pak Brojo untuk mengecek sekali lagi sebelum berangkat ke kota tujuan kami. Tujuan utama study tour ini adalah ke Jogja selama lima hari.


"Sudah lengkap semua anak-anak???" tanya pak Brojo dengan suara beratnya.


"Sudah pak" jawab kami semua. Tapi aku kebingungan bagaimana bisa lengkap kursi sampingku aja masih kosong.


"Pak sopir, ayo jalan!!!" kata pak Brojo menyadarkanku.


"Jadi... Jadi... yang duduk disampingku pak Brojo ahhhhh Mama Mama gara gara Mama..." batinku menangis sekali lagi. Inikah yang dimaksud dengan ditikam, ditusuk dan dimutilasi hiks hiks hiks.


Kak Rian dan Nia mengacungkan jari jempolnya kearahku dan memberi semangat dengan gerakan tangannya. Mereka tersenyum bahagia diatas penderitaanku.


"Adik ipar semangat!!! Bersenang senanglah" ejek kak Rian berbisik.


Hancur sudah... Hancur....


"Sherin,,, bisa geser sedikit lagi nggak.?? Bapak mau tidur, ini sempit sekali" tanya pak Brojo dengan badan besarnya sudah memakan kursiku lebih dari separuh dan masih disuruh geser lagi. Trus aku duduk dimana pak????


Dengan kaki menghadap kesamping bukan ke depan dan bersandar loh ya, ini kesamping tanpa sandaran, duduk cuma diujung kursi mindip mindip perjalanan jauh juga sudah lengkaplah penderitaanku.


Author : "Ada yang mau request lagi nggak??? biar lengkap penderitaan si Sherin"


Sherin : "Thor, sadis amat sih. Nggak gini gini juga kali buat jailin gue. Ganti!!!! Ganti pokoknya. Biasanya aja gue yang jailin orang masak sekarang gue yang dijadiin korban. Authorsss.... 😭😭😭😭😭😭😭


Kuedarkan pandanganku ke mana mana. Berharap ada kursi kosong lainnya. Tapi semua ludes tak bersisa. Perjalanan yang hampir 10 jam. Langit di dalam kepalaku mendung dan petir menyambar nyambar.

__ADS_1


Aku ingat jika membawa kasur lipat mini. Segera kuambil dan kupompa.


"Sherin apa yang lu lakuin???" tanya Nia pelan.


"Camping di bis" jawabku ketus.


"ha ha ha salut bener sama calon istrinya Rey. plok... plok... plok... Lanjutkan Sherin aku mendukungmu!!" ejek kak Rian senang.


Segera ku taruh kasur mini dilantai bis lengkap dengan bantal mininya juga.


"Ahhhh nyamannya!!!" kataku sambil merebahkan diri dengan nikmatnya.


"Sher, udah mapan aja ni anak" celotehan ai Varo emang ngeselin.


"Ajib bener kelakuan Sherin"


"Udah biarin, suka suka dia mau tidur dimana"


Cekrekkk... blitz kamera membangunkanku.


"Kak Rian, apa yang lu lakuin??? Bawa sini!!!" teriakku kesal main foto orang sembarangan.


"Mau gue kirim ke adek gue ha ha ha" jawab kak Rian membuatku emosi.


Tring... ada chat masuk... Tumben amat ni hp ada yang ngubungin.


"*Sayang, nggak baik tidur di lantai loh. Bisa masuk angin" wa dari kak Rey.


"Beb, aku ditindas loh 😭😭😭 kursiku diambil kakak ipar huaaaaa" Sherin


"Sabar ya Beb,,,, kalau gak kamu gantian tindas si rian aja, aku mendukungmu Beb!!! semangat!!!" Kak Rey.


"Kapan kamu balik Beb??? Diriku merindukanmu, rasanya terlalu hambar tanpa dirimu Beb. Bagaikan anak tiri yang ditindas ibunya, sakit Beb... Nia mengkhianatiku Beb hiks hiks hiks" Sherin udah agak gila.


"Kuatkanlah dirimu cintaku. Kakanda akan segera menjemputmu. Kakandamu ini sedang berjuang agar bisa memelukmu dan menciummu lagi" Rey terlalu lebay.


"Mau dihukum lagi Beb??? Belum puas yang kemarin???" Sherin mulai galak.


"Ba ha ha ha belum puas sayang. Lanjut ntar lagi ya sayang, lagi mau ada inspeksi" pamit Rey.*


"Beginilah nasib anak tertindas. Tau gini gak ikut study tour dah. Oh kasurku hiks hiks hiks" batinku meronta.


Flashback


"Kak Rian, sisain dua kursi belakang buat gue ikut study tour!!!" kataku yang baru aja pulang dari bertugas.


"Bukannya lu baru balik. Emang nggak capek apa??" tanya Rian agak cemas.


"Nggak pa pa. Gue khawatir aja sama Mong. Lu tau ndiri kan sifatnya kayak apa. Gak tenang gue ngeliat dia pergi ndiri. Lu kan jagain Nia, la trus Sherin siapa dong yang jaga??? Gue nggak mau ya Sherin lu jadiin obat nyamuk" kataku kesal.


"Oke gue telpon panitianya" kata Rian tenang.


"Udah lu tinggal berangkat doang. Kursi paling belakang sendiri sebelah kanan. Inget jangan ketuker!!" kata Rian membuatku senang.


Segera aku mandi dan bersiap berangkat ke sekolahan. Kucari bis yang dimaksud.


"Loh pak Riannya kok ada dua???" tanya salah satu murid.


"Saya bukan pak Rian tapi saya adik kembarnya dan calon suami Sherin. Bisa minta tolong jangan kasih tau keberadaan saya!!" pintaku sopan dan merekapun mengerti. Aku ingin memberi kejutan untuknya.


Selang beberapa menit yang dirindukan datang. Dan benar saja mereka bertiga nggak bakalan akur. Yang jadi korban pasti calon istriku.

__ADS_1


Dari belakang kulihat semua gerak gerik dan tingkahnya si Mong. Lucu, imut dan gila. Gimana nggak dengan pedenya berani tiduran ditengah jalan disela sela bis.


"Anak ini.... ha ha ha... Tunggulah sayang!!! Belum waktunya pangeran menyelamatkanmu. Berjuanglah!!!" kataku mengguratkan senyum lebar melihat kearahnya.


__ADS_2