
Keesokan Paginya
"Kak Rey, kau masih berhutang maaf padaku. Kali ini aku benar-benar geram. Lihatlah, bagaimana aku akan memarahimu bukan dengan mulut tapi.... he he he" ancamku dalam hati penuh dengan trik.
"Aku kembali ke posisiku. Semoga harimu menyenangkan Om Tejo" pamitku berteriak dari luar kamar mandi.
"Tunggu!!!" BRAKKKKK... pintu kamar mandi terbuka cepat.
"Ahhhhhhh.... Kau sudah gila kak??? Roketmu.... Om Tejo.........." teriakku keras berbalik badan.
"Mong Mong..." panggil kak Rey menggoda.
"Hentikan!!!! Kak Rey kau sudah gila. Jangan mendekat!!" teriakku menutup mata masih membelakanginya.
"Hey... ayolah... Mong Mong lihatlah aku!!!"
"Om Tejo awas kau!!!" ancamku berteriak kemudian berjalan tanpa menoleh.
"Hey... Sayang berbaliklah. Kenapa kau harus malu. Di barak sehabis kami mandi kami memang hanya pakai boxer seperti ini. Apa yang salah???" tanya kak Rey tak tau malu.
"Jelas salah. Dasar laki-laki eksibisionis. Pakai handuk atau langsung pakai bajumu!!! Kau berniat meracuni mataku??? Aku pergi dulu" teriakku kesal segera berlari keluar.
Tiba-tiba tanganku ditarik paksa membuatku jatuh ke dalam dekapannya.
"Begini seharusnya kalau pamit. Jaga dirimu baik-baik. Hati-hati dengannya. Ingat untuk menghubungiku. Pergilah!!!" katanya lembut mengusap kepala dan memelukku lembut seakan tak sadar kalau aku masih marah padanya karena kejadian tadi malam ditambah pagi ini.
"Lepaskan... Kenapa aku harus menghubungi orang yang sudah melecehkan anak dibawah umur???" gumamku masih kesal mendorong tubuhnya menjauh dariku.
"Mong Mong kau bukan lagi anak dibawah umur... Kalau berbicara soal tadi malam bukankah seharusnya kita impas. 1 - 1" ucapnya memegang tanganku lagi.
"Apa maksudmu Kak???" kataku sedikit berteriak.
"Bukankah tadi malam kau juga menjadi rubah nakal dengan ganasnya mencium dan memaksaku berbaring ditempat tidur. Jadi... siapa yang melecehkan siapa kalau begitu he he he" ucapnya berbisik puas.
"Astaga ni cowok emang benar-benar dah" batinku merutuk.
"Oke tak masalah kita impas. Kalau gitu aku pergi sekarang. Bisa tolong lepaskan tanganmu Kak???" kataku lembut tapi penuh arti.
"Baiklah. Jaga diri rubah nakal. Ingat kau hanya boleh nakal padaku saja" tanpa berbalik aku meninggalkannya yang masih ngoceh tak jelas.
15 menit kemudian,
"Wowwww... mobilnya James Bond bro" teriak sendy tanpa malu. Sendy seorang penggila otomotif jadi aku tak heran dengan reaksinya.
"Gila, kapan gue punya mobil kayak gini???" jawab Varo dengan nada khasnya.
"Cewek bro, cantik lagi. Gila mimpi apa gue semalam disamperin cewek tajir melintir kayak gini" ucap Sam kepedean.
"Sadar woy... Tu hidung lu mimisan" teriak Sendy.
Ha ha... Sebenarnya sih mau langsung ke kamarnya Sherin tapi ngeliat tingkah konyol mereka membuat jiwa jailku memanggil.
"Permisi, boleh tunjukan kamar Sherin???" tanyaku dengan suara lembut mengerlingkan mata pada mereka.
"Tentu mari saya antar!!!" jawab Varo sopan. Berbeda dengan temanku yang dua itu. Dari tadi bertengkar mulu kerjaannya. Samsudin si playboy kampung yang satu Sendyra Cinta Hau Hau penggila game online. Mereka termasuk spesies langka.
"Gue, Minggir sana!! he he" Sam sekilas memandangku dengan senyumnya.
"Awas lu ya,, pergi sana!! katanya lu mau menghirup udara segar" timpal Sendy mencoba mengusir paksa.
"Apa apaan ini??? coba aja waktu gue jadi Sherin. Pada lari semua ni anak. Ngelirik aja kagak. Dasar cowok gak tau mana produk berkualitas ha ha ha.... Hemmm kalau dipikir-pikir... memang Liliana punya bakat menggoda ha ha ha" gumamku dalam hati. Sesekali tersenyum kearah mereka.
"Ini kamarnya Kakak cantik" jawab Sam masih berusaha menggoda.
"Terimakasih ya sudah mengantar sampai sini. Maaf merepotkan" kataku basa basi.
"Nggak pa pa kok kak. Tak masalah bener kan teman-teman?? Apa sih yang nggak buat kakak cantik" sahut mereka gantian.
"He he... kalian bisa aja. Panggil saja Kak Lili. Kalau gitu aku masuk dulu ya, dah" kataku mengetuk tiga kali lalu masuk kedalam.
Didalam kamar,
"Sherinnnnnnnnnnnn, apa yang terjadi padamu???" tanyaku berpura-pura khawatir ternyata Raka ikut menjaganya juga. Ini yang membuatku terkejut. Hampir saja jantungku copot.
"Permisi, Anda siapa???" tanya Raka sopan.
"Perkenalkan saya Liliana kakak angkat Sherin" jawabku mengulurkan tangan.
"Ohh maaf. Saya Raka calonnya Sherin"
"Pede banget ngaku calon gue. Gila ni anak" umpatku kesal.
"Hey tante, setau saya Sherin gak punya kakak angkat. Jadi sebenarnya Anda itu siapa???" DYARRRRR...
"Tante??? Nia emang gak tau sikon banget dah. Bahaya kalau sampai Raka curiga" semua mata menatap tajam termasuk kak Rian.
"Nona apa Sherin gak pernah cerita ya??? Ini kartu nama saya. Bisakah kalian meninggalkan kami berdua. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan Sherin" kataku mengusir mereka secara lembut kalau tidak bisa tambah runyam masalahnya.
"Oke baiklah. Kita percaya. Yuk yank, udah ada kakaknya ini. Lagian gue lagi badmood gara gara ni anak gak mau ngomong dari kemarin" kata Nia menarik tangan Rian.
"Hey, Ka. Lu gak denger tu Tante mau ngomong berdua ama Sherin. Ngapain lu masih disini???" kata Nia masih dengan nada kesal. Sebenarnya apa yang terjadi sampai sahabat karib gue sendiri kesalnya minta ampun.
BRAKKKKK... pintu tertutup langsung buru-buru ku kunci.
"Sherin apa ada yang salah??" tanyaku lembut tapi waspada. Aku tak yakin jika Raka disini hanya untuk menjaga Sherin. Pasti dia memasang sesuatu atau bahkan mencari sesuatu. Dan feellingku semakin kuat karena Sereti tak menjawab pertanyaanku.
"Sherin, kamu bisa bangun???" tanyaku Diapun mengangguk.
"Baiklah. Kita pergi ke dokter sekarang!!! Duduklah disini sebentar" kataku mencoba membantunya duduk.
Segera aku keluar mencari keberadaan Nia yang ternyata semenjengkelkannya dia ataupun aku, kami masih terikat pada yang namanya kesetiakawanan dan tali persaudaraan. Kudekati mereka yang berdiri tak jauh dari kamar sherin dengan gaya khas seorang Liliana.
"Nia,, bisakah kau membantu kakak???" tanyaku lembut. Nia menatapku lama. Entah apa yang dia lihat. Senyumnya sungguh penuh tanda tanya bagiku.
"Baiklah. Aku akan membantumu kakakku tersayang" jawabnya membuatku tersenyum kecut. Apa penyamaranku terbongkar. Lalu bagaimana dengan Raka, apa dia tahu.
Nia menggandeng tanganku seperti aku sudah sangat dekat dengannya.
"Awas saja kalau kau tak menjelaskannya padaku kakakku tersayang" ancamnya lagi lagi aku hanya tersenyum kecut.
"Sherin, kita ke dokter sekarang. Nia tolong papah dia disebelah sana ya!!" pintaku sopan.
Kamipun berjalan sampai diparkiran. Dan sialnya fotografer bayaran itu muncul lagi. Aku yakin kali ini sasarannya Sherin.
"Nia, bisakah kau dan Sherin masuk ke mobil duluan" pintaku pelan.
"Yang mana mobilnya. Biru itu ya. Wowww bukannya itu mobil James Bond. Bagaimana bisa???" teriaknya sama persis seperti anak-anak tadi.
"Udah sana cepetan. Kagumnya ntar aja!!!" kataku mendorongnya pelan.
Segera kuhampiri fotografer itu.
"Permisi, apakah Presdir Jo yang menyuruhmu???" tanyaku segera merebut kameranya. Dan menghapus foto yang dia ambil pagi ini.
"Nona, jika Presdir tau, Anda tak akan selamat" gertaknya.
"Iyakah. Kukira kau yang akan kehilangan tangan dan kakimu jika sampai dia tau aku menghapus fotomu. Woahhhh kau salah sasaran sayang. Kuberi tahu satu hal yang akan membuatmu mendapatkan pujian bahkan bonus dari bosmu. Presdir Jo dan aku berada di kapal yang sama. Jadi percuma saja kau menggangguku. Gadis itu sedang sekarat. Aku datang membawanya ke dokter. Oh ya gadis itu sekarang berpacaran dengan tuan muda Kaviandra loh. Bukankah ini berita ekslusif. Kalau tak percaya kau boleh mengikuti Tuan Kaviandra, atau kau ingin mengikutiku. Kalau gitu selamat bekerja sayang" Jelasku mencoba bersiasat.
Ternyata siasatku berhasil. Dia bahkan mulai menyelidiki Raka. Tak mau membuang kesempatan berharga ini, segera kutancap gas ke villa Aliesterr milik bibi fang.
__ADS_1
"Hyaa, sejak kapan kau bisa nyetir mobil bagus ini. Hyaaaa kau dengar aku Sherin, jangan pura-pura lagi!!!" teriak Nia memekakkan telinga kami. Kebetulan dia duduk ditengah belakang tanpa kursi. Terlihat begitu menyiksa tapi mau apa lagi mobil ini desainnya cuma dua car seat saja.
"Sejak kapan lu tau kalau dia bukan gue, Ni?" tanyaku sambil konsentrasi nyetir. Karena lumayan padat banget jalanan pagi ini.
"Ya iyalah gue tau dari pertama natap tu anak. Secara lu orangnya cerewet, gila, meskipun sakit lu nggak bakalan diem anteng dikamar aja kan. Hyaaa Sher, lu bukan jadi simpanannya Om Om kan???" tanya Nia membuatku hampir saja hilang fokus.
"Sial lu Ni. Yang bener aja. Yang jelas sekarang gue mohon sama lu jaga rahasia ini. Kalau semua sudah normal gue janji kasih tau lu yang sebenarnya tapi gak semuanya. Oke. Apa yang lu lihat dan lu tau cukup diem saja" Jelasku memarkirkan mobil di dalam garasi bawah tanah villa bibi Fang.
"Turunlah!!!" kataku sambil membuka pintu.
"Wahhh gila ni rumah. Tingkat keamanannya canggih banget. Rumah bokap lu Sher???" tanya Nia terkagum-kagum.
"Bukan, punya bibi gue. Lu mau jadi tukang parkir apa masuk ke dalem??" tanyaku kesal.
"Ya masuklah!!!" jawab Nia. Tapi Sereti dari tadi cuma diem tanpa berkata-kata. Ada yang aneh. Benar benar aneh.
"Nona maaf..." itulah yang pertama kali terucap dari mulutnya. Seketika menghentikan langkahku.
"Katakanlah!!! Aku takkan marah" jawabku masih berusaha tenang.
"Saya pantas dihukum. Maaf karena saya telah jatuh cinta dengan kekasih nona. Maafkan saya karena saya tak menolak dia mencium saya, dan maaf karena saya mengiyakan mau menikah dengannya" jelasnya membuatku mendidih.
"Oahhh... Astaga. Kau benar-benar memberiku kejutan besar Sereti. Bukankah kau hanya bertemu dia sekali. Aku tak masalah jika kau jatuh cinta dengannya bahkan kau menciumnya atau tidur dengannya tapi kau mengiyakan menikah dengannya, kau sudah gila??? Bagaimana aku mengatasi ini sekarang??" teriakku mengeluh tak percaya dengan yang kudengar.
"Hey gadis imitasi, kau ini benar-benar ya" teriak Nia sama kesalnya denganku.
"Maafkan saya, Raka begitu baik dan sangat lembut juga perhatian kepada saya. Bagaimana saya bisa menolaknya ketika dia menyatakan cinta dan ingin menikah dengan saya" jelasnya hanya tertunduk.
"Hyaaa... kau itu lagi menyamar dengan wajah Sherin. Ya iyalah dia baik, cinta dan mau menikah sama lu karena dia taunya lu itu Sherin. Sekarang temen gue dalam masalah gara-gara lu. Padahal si Raka udah ditolak ratusan kali sama Sherin lu main terima aja. Gemes gue pengen gampar mulut lu hihhhh" umpat Nia melebihiku.
"Sudahlah gak usah dipermasalahin lagi. Ntar gue pikirin cara keluar dari masalah ini. Masuklah, Ayahmu sudah menunggumu" kataku sedikit kesal.
Setelah beberapa kali aku menekan sandi dan sidik jariku. Pintu utama akhirnya terbuka. Lagi lagi Nia melongo terkagum dengan desain rumah ini. Villa bibi Fang memang terlihat biasa dari luar tapi didalamnya semua dilengkapi furniture dan peralatan dengan teknologi tercanggih dan keamanan tingkat tinggi.
"Ayah..."
"Sereti..." mereka saling berpelukan melepas rindu.
"Halo prof... Anda baik-baik saja??"
"Terima kasih Liliana kau sudah banyak membantu kami"
"Tak masalah prof. Ini juga tugas saya. Anda dan putri anda bisa tinggal dirumah ini dulu sampai saya menangkap mereka semua. Kumohon jagalah putrimu, jangan sampai dia membuat masalah lagi. Kali ini mungkin aku bisa mengatasinya tapi lain kali aku tidak tau. Ada satu pertanyaan yang harus saya pastikan kepadamu prof. Apa anda mengenal Professor Benedict Chris Sandor??? Apa dia juga salah satu ahli genetika terpilih selain Paman dan bibiku?" tanyaku mencoba mengaitkan semua yang terjadi.
"Benar. Dia salah satu dari tiga orang yang terpilih. Tapi keberadaannya menghilang bagai ditelan bumi. Ada rumor yang mengatakan bahwa prof Benedict mencintai bibimu tapi bibimu lebih memilih pamanmu. Tapi mereka dulu sangat dekat. Terakhir yang aku tau kalau dia menjadi buronan interpol karena terkait dengan obat ilegal bahkan senjata api ilegal dengan salah satu pengusaha indo. Entah apa ada keterkaitan antara eksperimen kloning itu atau tidak. Kalau ini bisa membantumu, aku bersedia mencari tau lebih. Aku yakin kalau sekali pernah bertemu dengan pamanmu waktu dipenjara besi waktu itu" jelas prof membuatku berpikir ini bukan kebetulan tapi memang terencana. Vanya hanya memberi isyarat dengan matanya. Sereti sudah berada dikamar melepas semua penyamarannya. Sedang Nia berkeliling mengagumi rumah bibi.
"Anda beristirahatlah prof. Nikmatilah waktu yang telah hilang dengan putrimu. Saya bisa mencari informasi sendiri. Saya akan kemari ketika saya membutuhkan bantuan Anda. Vanya kau tak perlu keluar. Cukup kau menjaga Professor dan putrinya. Jo sedang menyelidiki. Maka hati hatilah. Aku harus pergi sekarang" kataku berjalan ke arah kamar Sereti.
"Tapi nona Liliana... Anda akan dalam bahaya" kata Vanya begitu khawatir.
"Tenanglah masih ada teman-teman lain yang menjagaku. Lihatlah dia, dia 1000x lebih baik dari seratus ribu pengawal. Aku harus membereskan sesuatu dulu" pamitku masuk tanpa permisi kedalam kamar Sereti yang masih ganti baju.
"Nona apa yang Anda lakukan???" teriaknya ketakutan.
"Tentu saja melakukan apa yang harus kulakukan. Jangan coba-coba bermain-main denganku jika kau masih ingin melihat orang yang kau cintai tak terluka" gertakku dengan nada menekan.
"Ampun nona... Jangan ganggu Raka. Saya janji akan patuh pada Anda" katanya bersimpuh dikakiku memohon dengan sangat.
"Sebaiknya kau tepati janjimu" kataku mengambil semua benda penyamaran yang kuberikan padanya kemarin sore.
"Vanya aku pergi dulu!!!" pamitku padanya.
"Nia ayo ikut!!!" ajakku menarik tangannya ke kamar rahasiaku di villa ini. Tak ada yang tahu sekalipun itu Vanya.
"Woahhhh kamar apa ini??? Gila rumah ini bahkan kamar ini sangat amazing" nia terus saja bertingkah konyol melebihiku.
"Lihat lihatlah dulu. Aku ganti baju dulu ya" kataku segera masuk ke kamar mandi. Hampir 15 menit aku sudah menjadi Sherin normal. Gadis bodoh, usil, cerewet dan bukan lagi gadis penggoda. Segera kuambil semua peralatan penyamaranku dan kubakar di perapian. Kuharap Sereti tak bertindak bodoh.
"Bibi gue malaikat pencabut nyawa ha ha ha" godaku membuatnya bergidik.
"Gak lucu ah. Sial lu Sher ngerjain gue mulu" umpat nia kesal.
Kami sudah sampai di garasi bawah tanah.
"Lu yang nyetir Ni!!! Jangan sampai ada yang tau gue bisa nyetir oke!!!" kataku mengedipkan mata.
"Oke. Tapi kenapa naik mobil ini?? kenapa gak yang itu" tanya Nia menunjuk mobil tadi.
"Ha ha kapan kapan jangan sekarang. Naik ini aja" kataku langsung masuk kedalam mobil jazz merah marun. Nia masih kesal tampak dari raut mukanya yang masam.
"Tau gitu, Sereti tadi gue suruh duduk dibelakang. Lu emang suka ngerjain gue sih Sher. Impian gue Nyetir mobil James Bond hilang huaaaaaa...." teriak Nia kecewa.
"Udah udah mami sayang kok malah nangis sih. Pas nikahan lu, pasti gue kasih pinjem dah sebulan gimana???" kataku memberi harapan.
"Oke baiklah. Lu emang yang terbaik" jawabnya langsung tersenyum.
Sesampainya di penginapan,
"Sherin kau tak apa???" kata Raka lembut berlari memelukku.
"Sial ni anak main peluk aja. Gila apa ya??? Kalau guru tau jadi masalah nih" batinku kesal semua gara-gara Sereti yang menyetujui menikah dengannya. Jadilah gue harus mesra sama dia.
"Gue gak papa. Lepasin!!!" teriakku mendorongnya kasar. Nia hanya cengengesan melihatku dikerjai.
"Duluan ya Sher!!! Nikmati kencan kalian, dah!!!" teriak Nia menjengkelkan.
"Jangan pegang pegang!!! Kita bukan muhrim. Sebaiknya jaga jarak. Gue bukan Sherin yang sakit lagi" kataku kesal. Dia masih terdiam, bingung dengan perubahan sikap ku.
"Anak-anak cepat kumpul, kali ini kita akan jalan jalan ke Malioboro. Hey Sherin, kemarilah!!!" panggil Bu Maya mengagetkanku.
"Iya Bu. Gimana keadaanmu??? Kamu ikut kan???"
"Iya Bu saya ikut. Jangan khawatir saya sudah pulih 100%" jawabku datar masih terbawa perasaan tak senang dengan perlakuan Sereti dan Raka.
"Sudah cepat naik ke dalam bis!!!" perintah Bu Maya.
Mau tak mau aku naik ke bis disusul kak Rey yang ternyata di belakangku.
"Hey rubah nakal kenapa cemberut, kangen padaku ya??" katanya berbisik berjalan mendahuluiku.
"Jangan macam macam serigala lapar" jawabku gemas.
Ternyata beginilah rasanya cinta. Biarpun ada banyak laki laki yang mendekati dan bersikap mesra kalau hatiku sudah jatuh cinta kepadanya biarpun menyebalkan tapi aku merindukannya. Sampai kapan aku harus bertahan dengan keadaan seperti ini. Rasanya lelah menjadi dua kepribadian yang bertolak belakang.
20 menit kami sampai di Malioboro.
"Nia gue jadi obat nyamuk lu ya!!! Gue gak mau sama dia. Mood gue hancur" kataku mencoba merendahkan diri.
"Gak. Enak aja kemarin Rey sekarang lu kapan gue bisa romantis romantisan sama kak Rian. Bukannya Raka calon suami lu, ha ha ha" ejek Nia.
"Rasanya hari ini beneran males jalanin rencana itu dah. Ahhhh... Dia sudah menungguku dibawah. Mana fotografer si Roy masih ngikutin lagi. Mama aku capek hiks hiks hiks" batinku menangis.
"Sayang, kau mau beli apa dulu??? kita naik becak ini ya???" Tanya Raka begitu antusias tapi aku males banget ngeladeninnya.
"Hn..." jawabku singkat. Kak Rey dari kejauhan memandangku dan memberikan semangat dengan tangannya sambil tersenyum mengejek.
"Kau masih sakit yank??? Dimananya??" tanyanya cerewet sekali.
"Jangan pegang pegang. Bisa diem gak sih!!" kataku sedikit membentak. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi kali ini aku tak bisa menipu diri sendiri. Sekilas kulihat kak Rey malah asyik dengan cewek-cewek labil disana. Rasanya ingin kutembak mereka semua. Inikah yang namanya cemburu??? Kenapa hatiku rasanya begitu sakit. Apakah dia juga pernah merasakannya.
__ADS_1
Kamipun sampai di pusat perbelanjaan di kota Yogyakarta. Ramai pembeli dan penjual. Sepanjang trotoar penuh dengan pedagang. Kebanyakan mereka menjual kaos, batik, aksesoris dan makanan khas.
"Yank ikut aku!!!" Raka menarik tanganku kedalam toko batik. Tapi mata ini terus saja tak mau luput memandang kak Rey.
"Mau apa kita kesini???" tanyaku kasar.
"Kamu boleh pilih apapun yang kamu suka. Aku yang bayar semuanya!!!" katanya tersenyum senang.
"Oh astaga apa ini cara laki laki mendapatkan hati wanita. Terlalu normal. Uang, pakaian, harta mereka hanya bisa menjanjikan itu. Beda dengan kak Rey, hidupku lebih berwarna dan menarik" batinku terus saja membandingkan mereka.
"Bagaimana kalau aku memakai batik ini pas lamaran??" tanya Raka membuatku tersedak padahal tidak minum.
"Ah... hahahaha terserah padamu" mau tak mau terpaksa tersenyum didepannya.
"Kau tidak suka ya sayang???" tanyanya berbalik dan mengambil baju lainnya.
"Astaga ni laki rempong banget sih" tak mau berlama-lama segera kupilihkan satu baju buatnya entah bagus atau tidak yang penting cepat pergi dari sini.
"Ini bagus. Pakai ini saja!!" pintaku malas.
"Mba bungkus yang ini dan yang tadi saya coba juga baju couple yang saya pilih tadi" katanya kepada penjaga toko.
"Mbanya cantik, pantesan masnya betah banget ngeliatin terus dari tadi. Takut hilang ya??" celotehan dari penjaga toko.
"Ha ha mbaknya tau aja, susah loh dapetin dia" jawabnya tak tau diri.
Lagi lagi hanya bisa tersenyum palsu.
"Yuk, cari barang lainnya???" ajak Raka terus saja menarik tanganku.
"Kamu suka ini??"
"Gak"
"Kalau ini??"
"Gak tertarik"
"Ini cantik loh yank"
"Terlalu norak"
"Bagaimana kalau ini, kalung ini sepasang loh, elegan dan terlihat klasik"
"Gak boleh ntar Mamaku marah kalau pakai kalung yang dibeliin orang"
"Laper gak?? Makan dulu yuk!!"
"Udah kenyang"
"Capek gak?? Sini biar ku gendong!!"
"Gak capek. Aku lebih suka jalan" setiap apapun yang dia katakan pasti kutolak tapi anehnya ni orang gak sadar sadar. Astaga seberapa besar tingkat kesabarannya.
Ketika dia memilih aksesoris tanpa ia sadari aku berjalan mengendap-endap menjauh darinya.
"Akhirnya aku bebas..." teriakku senang bisa bebas dari Raka dan juga fotografer sialan itu. Cukup hari ini dia mendapatkan kebaikan dariku. Tanpa pikir panjang aku masuk ke gerai busana muslimah. Dan memilih baju lengkap dengan penutup wajah. Kuharap dia tak menemukanku.
"Ayo Sherin, nikmati waktu belanjamu sendiri. Bebas oh kebebasan" kataku berteriak senang.
Tiba tiba ada tangan berusaha menarikku dan mengajak berlari berlawanan arah tujuanku.
"Hey berhenti!!! kurang ajar kamu, lepasin nggak" teriakku berontak kemudian dia menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Serigala..." kataku terkejut.
"Hayyy rubah imutku" akhirnya dia berhenti dan say hello denganku.
Tanpa pikir panjang dan tak liat sikon aku berlari memeluknya.
"Kakak aku merindukanmu" kataku memeluknya erat. Tak taunya banyak orang yang memandang kami. Untung masih untung aku memanggilnya kakak. Jadi mereka taunya aku adiknya.
"Ayo jalan-jalan!!" langsung kuiyakan ajakannya.
"Mau bakso, es krim, gudeg apa mau aku cium???" tanyanya tanpa ragu.
"Mau gampar kamu ha ha ha" jawabku asal.
"Ini cantik Jah"
"Gak suka. Aku lebih suka ini, lebih natural dan gak norak"
"Baiklah, mas bungkus ini!!"
"Kita kemana lagi??"
"Ikut aku!! Bu Niki kaose pinten (Bu ini kaosnya berapa)???" Tanyaku pada pedagang kaos couple Dagadu.
"Patangatus ewu Nok (400rb dek)" jawabnya matok harga tinggi.
"Kaleh Niki satuswolungpuluh ewu njih nak pareng. Nak mboten nggih mboten nopo-nopo. (Dua ini 180rb ya kalau boleh. kalau Ndak boleh ya Ndak papa)" jawabku menawar karena aku sudah cek dipasaran kalau kaos Dagadu Jogja harga nya 90rb perpotong.
"Dereng angsal Nok (belum boleh dek)"
"Nggeh mpun. Kulo mriko rumiyen. (Ya sudah. Saya kesana dulu)"
"Tiga ratus ribu ya Bu" seketika aku langsung berbalik mendengar suara dari kak Rey.
"Ini cowok... Hahhhahhh" batinku gemas.
"Jah, kamu mau yang ini kan???" tanyanya tak berdosa. Rasanya saat itu aku mau nangis juga ketawa. Kak Rey kau benar-benar bodoh.
"Yuk Jah, cari lainnya??" ajaknya tanpa tau ekspresiku karena aku memakai penutup muka.
"Makan disana yuk!!! Kok kamu diem aja??"
"Kakak tau itu harga kaos standarnya 90rb kalau dua paling mahal 200rb. Kakak beli 300rb. Gimana nggak frustasi akunya??" kataku kalau kembali ke Sherin asli ya begitu otakku isinya berhemat.
"Ha ha gara gara ini kamu marah??? Udah ahhh... gak pa pa kan biar ibu yang jualan senang sekali kali"
"Senang apa kakak coba jaim" kataku masih kesal.
"Kalau kamu marah aku cium kamu sekarang juga loh" bisiknya berani mengatakan hal tak tahu malu itu.
"Makan yuk laper!!!" ajakku mengalihkan pembicaraan.
"Beneran loh, masih marah nggak??"
"Nggak tau"
"Aku cium sekarang"
"Jangan macem macem"
"Ha ha dasar rubah nakal"
"Jangan pegang pegang"
Di tempat lain
__ADS_1
"Yank, kamu kemana???" Raka berusaha mencari keberadaan Sherin.
"Sial. Kebiasaan Sherin ngilang gue lupa. Arghhhh... Cari keberadaan gadisku dia memakai kaos pink rok jeans biru kerudung biru motif pink. Cari sampai ketemu, cepat!!!" teriak Raka marah.