
Sesampainya di salah satu pusat perbelanjaan kami berdua langsung menuju ke tempat favorit kami. Apalagi kalau bukan Timezone.
"Ayolah kak cepetan. Lama banget sih jalannya kayak kura-kura" gerutu kesal si Mong yang udah gak sabar buat mainan.
"Dasar bocah kecil. Iya bentar bawel. Kura-kura juga hewan tau??" ejekku.
"Ya iyalah hewan masak manusia" ejeknya lagi.
"Hisss dasar. Kamu aja yang gak fokus. Manusia kura-kura ya Kura-kura ninja ha ha" jawabku tertawa keras sambil meniru gerakan kura-kura ninja tapi dicuekin ama tu bocah.
"Dasar Om Om alay. Om beliin koin yang banyak ya!!! Cepetan!!!" pintanya manja sambil mengedipkan matanya berulang kali.
"Ahh ni anak ngasih kode terus apa memang mau membuatku frustasi. Sial, gak kuat aku nahan lama-lama kalau gini. Bisa-bisa lepas kendali" kataku kesal dalam hati.
"Jangan pasang muka seperti itu didepan cowok lain tau!! Kakak gak suka!!" aku pura-pura marah dan pergi membeli koin.
Kulihat dari kejauhan, dia memang manis sekali. Udah persis bocah 5 tahun. Lari kesana kemari, tersenyum, lompat-lompat kegirangan, sampai muka ditekuk. Padahal cuma liatin orang main bukan dia yang main.
Dengan berlari si Mong mendekatiku, "Kak, mana koinku?" tangannya meminta tapi wajahnya bikin gemes banget rasanya pengen nyubit. Gimana nggak mintanya sambil ngeluarin sifat super cute dan manjanya.
"Oh Ya Allah bolehkah aku menikahinya besok, hambaMu sudah tidak kuat dengan godaan ini?" permohonan ku dalam hati.
"Main pukul kodok Om, ayo!!!" kata-kata yang benar-benar membuatku kesal.
"Om???" kataku menekankan.
"Oopsss. Kakak. Jangan marah marah lagi dong!!! Ya ya, senyum dikit, ntar biar semut semut pada dateng... saking manisnya kakak Pandaku" rayuan level anak kecil.
"Kamu gak malu main pukul kodok??" tanyaku di sela-sela dia bermain.
"Nggak ngapain malu. Suka -suka. Muka kodoknya mirip kakak deh jadi gemes pengen mukulin ha ha" kata yang keluar dari mulut ni anak manis tapi pedes.
"Ha ha ha. Om Om tataknya bilang mutanya tayak todok ha ha haaaaa" ditertawain anak kecil seumur-umur baru kali ini biasanya juga pada takut sama aku. Kupelototin anak itu kesal.
"Mama Mama omnya talak, dedek atut" kata bocil itu berlari memeluk mamanya.
Gak pake lama, segera kutarik tangan si Mong.
"Kak apaan sih kak, belum selesai. Nanggung. Arghhhhhh Kakak!" teriaknya frustasi tapi aku puas membalaskan rasa maluku.
"Ngedance yuk kak!!" ajaknya. Si Mong gak mikir kali ya, aku ini bukan anak 17 tahun lagi masak iya suruh ngedance mana banyak orang lagi.
Ditariknya aku ke lantai dance.
"Lihat layarnya!! Pak tentara kok takut. Cemen" beneran mau dijitak ni anak satu. Kamipun ngedance bareng. Dia benar-benar lincah. Banyak yang melihat kami. Itu benar-benar membuat aku gugup.
"Mong malu ah. Udahan yuk!!!" ajakku tapi tetap aja masih nggak mau beranjak dari lantai dance.
"Bentar ah. Belum selesai. Biasanya aja kakak malu-maluin" ejeknya.
__ADS_1
Akhirnya penderitaanku berakhir juga.
"Kak, Main maximum tune ya!!!" rengeknya.
"Oke tapi kalau kamu kalah kamu harus memenuhi satu permintaan kakak. Gimana?" lumayan ada penyemangat.
"Siapa takut. Kunantikan kekalahanmu ha ha" tantangnya.
Kamipun balapan di zone max tune. Gak ku sangka, Si Mong benar-benar lihai di permainan ini. Aku gak mau kalah. Tunggu saja aku pasti menang.
"Mong Mong awas kamu ya!!"
"Aku gak mau kalah dari Om Om!! Tambah kecepatan Yey..."
"Double speed kamu pasti kalah. Yes putaran terakhir. Aku duluan Mong. Congrats to Mr. Rey. Yes yes yes. Mong Mong kalah" teriakku kegirangan.
"Ishhh sebel. Gak asyik" katanya kesal sambil pergi begitu saja. Lucu juga ekspresinya saat kalah.
"Udah capek belum??" kataku sedikit khawatir dari tadi main gak istirahat juga.
"Belum. Kakak please main capit boneka. Mainin ya kak!!" rengeknya manja.
"Ya" malas juga sih tapi mau gimana lagi.
"Hisssshhh kakak bisa main gak sih?? Udah 10 koin masih belum dapet juga. Awas!!! Minggir!!! Aku aja yang main" teriaknya kesal.
"Yey.... berhasil" kamipun tos kegirangan sambil lompat-lompat saling berpegangan.
"Cari kesempatan pegang-pegang, dasar cabul" katanya kesal.
"Mana ada pegang tangan dibilang cabul??" sanggahku membela diri.
"Ada. Di kamusku" jawabnya ketus.
"Kak mau es krim boleh??" katanya seperti anak kecil.
Akupun membelikannya es krim. Sementara si Mong menunggu di kursi yang terletak disudut mall ini.
"Mong, es krimmu" segera kusodorkan es krimnya dan langsung di lahap.
"Itu pada cemong. Dasar Mong Mong" reflek kubersihkan sisa-sisa eskrim di sudut bibirnya tapi kali ini dia diam saja.
"Kak, besok pagi aku pulang sama Ama dan Apa. Kakak gak pa pa kan??" tanyanya membuatku berpikir apa iya aku gak pa pa tapi kalau dia masih dirumah pasti Rian akan berusaha merebutnya.
"Dasar bocah bodoh. Kakak gak apa apa malahan kakak senang kamu sekarang dah punya Ayah dan Ibu yang sayang sama kamu. Tapi tadi kamu masih berhutang sama kakak lho?" terangku padanya membuat dia mengernyitkan dahi.
"Hutang??? Astaga aku lupa kak. Memang berapa tagihan rumah sakitku? Pasti aku bayar kok, asal gak disuruh jadi pembantu kakak aja, capek kebanyakan maunya" keluhnya asal ngomong.
"Dasar Mong Mong. Kalau mau minta ganti sih gak usah minta sama kamu. Lagian sama Mamamu dah dibalikin tapi kakak gak mau. Kakak ikhlas kok. Apa sih yang nggak buat Mong Mong" kataku membuatnya tersipu malu.
__ADS_1
"Lahhh terus hutang apa??" tanyanya berpikir.
"Ya utang tadilah. Kamu kan kalah main games" jelasku singkat.
"Kakak mau apa? Cepetan bilang!!" pintanya memaksa. Aku pun berpikir lama dan suasananya berubah menjadi lebih serius.
"Mong.. Kakak punya satu permintaan tapi kamu harus janji beneran akan menepatinya. Gak boleh dilanggar oke!!!"
"Apaan sih kak, menakutkan tau!!"
"Serius ini Mong!!! Janji dulu" kataku menegaskan.
"Iya aku janji inshaAllah. Cepet katakan buat penasaran aja kakak ini"
"Kamu udah janji lho. Harus ditepati"
"Iya iya dari tadi muter terus"
"Oke. Dengarkan baik-baik. Kamu janji sama kakak kalau kamu hanya akan nikah sama kak Rey, gak boleh sama laki-laki lain!!!" permintaanku membuatnya terkejut tapi cuma ini cara agar aku tak kehilangan dia selamanya. Aku yakin Rian punya seribu cara buat ngambil Sherin dariku.
"Apa??? Nikah??? Kakak kepalamu baik-baik saja kan??? Kita ke dokter sekarang!!" teriaknya yang masih belum percaya keinginanku.
"Iya menikah. Kakak gak akan terburu-buru buat melamar kamu. Kakak mau mulai sekarang hati dan pikiranmu hanya boleh memikirkan kakak Pandamu ini, Janji" kulihat dia masih bingung.
"Kakak sadarkan???" selorohnya.
"Sherin... kakak sadar 100%"
"Apa kakak jangan-jangan mau pergi jauh lagi? Setiap kakak bilang serius pasti sebentar lagi kakak mau ninggalin Sherin lagi" katanya agak lesu.
"Ahhh kamu gak tau isi hatiku Mong. Aku takut kehilanganmu. Aku benar-benar mencintaimu dan sayang kepadamu. Aku takut akan banyak sekali rintangan yang akan kita hadapi kelak. Aku cuma mau menguatkan hatiku dan hatimu bahwa kita sama-sama, saling mengerti, memahami, menjaga, dan bisa melaluinya bersama" harapku dalam hati.
"Kakak baiklah. Aku janji hanya akan menikah dengan kakak. Tapi bukan dalam waktu dekat ini. Aku masih mau kuliah dulu, aku masih ingin menggapai impianku. Kakak mau menunggu??" katanya sungguh melegakan hatiku.
"Tentu saja aku pasti menunggumu jadi tetaplah disampingku" jawabku pasti.
Drttt drrrtttt
"Kak sebentar Mama telpon. Aku cari tempat yang nggak berisik dulu ya!" katanya meminta izin.
Kulihat dia berlari mencari-cari tempat sepi. Tingkahnya sungguh lucu. Aku senyam senyum sendiri melihat kelakuan gadis itu. Sejak pertama bertemu dengannya diusiaku 17 tahun, aku sudah menyimpan rasa pada bocah umur 8 tahun ini. Tak disangka perasaan ini semakin berkembang dan aku benar-benar hanya menginginkannya. Hanya dia yang aku inginkan menjadi bidadari dunia dan akhiratku.
PLOK PLOK PLOKKKK
"Hebat hebat... Sungguh romantis sekali. Apa iya kamu bisa bersamanya??" kata Rian yang tiba-tiba datang entah darimana. Aku yakin dia mendengarkan semuanya.
"Reynan ha ha pecundang sepertimu takkan bisa mendapatkan milikku termasuk Sherin" ancamnya berbisik membuatku geram.
"Dengar ya!! Sherin adalah milikku dan selamanya dia tetap milikku" ancamnya tak membuatku takut.
__ADS_1
"Dengar ya kak!!! Apapun cara jahat yang ada di otak kakak. Aku takkan pernah melepaskan Sherin. Dengar itu" ancamku yang sudah benar-benar marah.
"Lohhh Kak Rian, kok disini??" tanya si Mong. Buru-buru aku mendekatinya memberi jarak agar dia tak dekat dengan si brengsek Rian.