Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
H-2


__ADS_3

Area Parkir Pekuburan


Bagi pasangan pengantin kebanyakan seminggu sebelumnya pasti disibukkan dengan berbagai hal mulai dari mempercantik diri, menjaga pola makan diet sehat, merawat kulit, berkumpul bersama keluarga besar dan teman terdekat.


Tidak bagiku, dua hari sebelum hari H, malah disibukkan membereskan segala masalah dalam keluarga. Takkan ada orang tua, teman-teman bahkan keluarga besar.


Semua akan berjalan apa adanya. Mungkin berbeda dengan Nia, meskipun orang tuanya seakan tak peduli tapi setidaknya dia pernah merasakan kasih sayang orang tua yang utuh.


"Sherinnnnnnnnnnnn.... Semangat!!!! Tak perlu iri dengan orang lain. Kau gadis kuat. Lihatlah meski tak ada mereka tapi kau tetap mendapat cinta dari yang lainnya kan. Hmmm... Sherinnn go go go...." teriakku dalam hati menyemangati diri sendiri.


"Sayank, apa lagi yang kau pikirkan kali ini??? Jangan bilang kau masih ingin mengerjaiku" tanya kak Rey mulai antisipasi.


"Tidak tidak.... Mana mungkin aku sengaja mengerjai suamiku yang tampan. Kalau tadi cuma khilafff he he he... Oh ya Kak kita berpisah disini. Aku dan bibi akan pulang kerumah nenek. Sudah lama sekali aku berpetualang diluar. Sekarang saat yang tepat untuk kembali. Kakak bisa memakai mobil itu. Tolong berikan kunci itu pada Nia, aku sudah janji meminjamkannya selama satu bulan sebelum hari pernikahan" kataku tersenyum.


"Jadi kau membawanya kemari hanya untuk menyenangkan Nia dan Rian???? Jadi kau masih memikirkan kebahagiaan teman dan kakak iparmu. Sayank.... Kau sungguh sangat baik. Mong tetaplah seperti ini apapun yang terjadi jangan pernah berubah. Selalu ceria, nakal, jail dan apapun yang akan kau lakukan bahagialah. Sayangku Mong Mong..." ucap kak Rey memelukku penuh cinta, sangat dalam dan lama.


"Hyaaaa.... Lihatlah aku.... Woiiiyyyy..... Astaga anak muda ini kalau sudah begini diriku hanya seperti angin lalu. Bahkan tiang listrik pun masih punya harga diri" gerutu bibi kesal sendiri.


Kiakk... kiakkkk.... kiakkkkk.... Suara gagak menemani kesepian bibi di pagi ini.


Kak Rey melepas pelukannya dan membukakan pintu mobil untukku.


"Masuklah, hati hati menyetirnya ya. Rindukan aku" kata kak Rey berbisik manja. Kuberikan senyuman terbaikku dan sesekali mengedipkan mata.


"Ahhh... kau menggodaku lagi Mong. Aku tak rela kau pergi.... Hmmm... bisakah kita bersama lebih lama disini???" kata kak Rey hanya ku jawab dengan senyuman.


"Hyaaa.... Minggir... sampai kapan kau mau bermesraan didepan mataku. Pulang sana!!! Dasar tak sabaran, dua hari lagi terserah kau mau apakan tu Sherin tapi yang jelas sekarang menyingkirlah jauh jauh. BLAMMMM...." Gerutu bibi kesal menutup pintu mobil kencang.


Kuturunkan kaca mobil, dan segera menghidupkan mesin mobil.


"Pulanglah kak, hati hati dijalan salam buat Tante dan Om" kataku segera melajukan mobil. Kak Rey masih saja berdiri ditempat yang sama. Menungguku. Aku yakin Dia memang takdirku. Lelaki yang paling tepat menjadi sandaranku.


"Sherin, apa kau yakin dengan ini??? Kau tak mau kembali ke rumah Papamu??" tanya bibi yang masih saja memikirkan hal itu.


"Mungkin tidak sekarang bi. Saat ini biarkan aku menanggung beban ini sendiri. Jika aku masih dekat dengan Papa maka wanita itu akan semakin menggila. Tugasku hari ini adalah menyelamatkan semua aset berharga dan perusahaan milik nenek dan Papa. Aku tak pernah berharap menjadi serakah, tapi mereka terus mendorongku sampai sejauh ini. Setidaknya aku harus mengamankan apa yang menjadi hakku. Setelah itu mungkin aku bisa membagikan kebahagian kepada orang-orang yang membutuhkan. Bagaimana menurut bibi???" tanyaku seakan bibi paham dengan maksud dan tujuan dari perkataan ku.


"Apapun itu, lakukanlah!!! Ingat, bibi selalu mendukungmu. Dasar anak bandel" kata bibi mengumpat penuh kasih.


Tak lama untukku mengendarai mobil ini untuk sampai ke rumah nenek. Hanya 20 menit dan rasa rindu yang begitu besar akan bisa terlampiaskan. Rumah nenek, kenangan bersama mereka, tawa, tangis dan penyiksaan bertahun-tahun. Semua memori itu terbayang sangat jelas.


Tin tin.... Seseorang membuka gerbang besi dengan semburat senyum dan keterkejutan. Segera kuparkirkan mobil dihalaman rumah dan berlari keluar. Bibi Fang tersenyum menandakan ia turut bahagia melihatku kembali kerumah besar ini.


"Mbok Darmi..... Sherin kangeennn...." teriakku memeluk erat mbok Darmi.


"Non Sherinnn... akhirnya non kembali. Hiks hiks... Bibi senang.... Sekarang non tambah cantik dan lebih tinggi... Non.... hiks hiks hiks" tangis haru mbok Darmi dalam pelukanku.


"Ayo masuk non.... mbok tak percaya akhirnya non bersedia pulang kesini.... Mbok kesepian disini. Ndak ada non Ndak seru...." kata mbok Darmi tertawa lucu karena giginya sudah pada habis.


"Mbok.... ini bibi Fang. Dialah yang merawatku selama ini. Dia sudah seperti ibuku sendiri" Jelasku memperkenalkan mereka.


"Saya Darmi. Pelayan setia keluarga Wiryoatmadja. Maaf tangan saya kotor, Ndak pantas bersalaman dengan Nyonya" kata mbok Darmi merendah seperti biasa.


"Mbok, tak ada yang tak pantas. Saya hanya orang biasa. Kita semua sama. Tak ada Nyonya dan majikan bukan??? panggil saja saya Fang Yue" jelas bibi memeluk mbok Darmi.


"Mana berani saya... Maaf Nyonya Fang" mbok Darmi masih saja merendah.


"Mbok... Kita semua sama. Sherin akan marah jika mbok masih bersikap seperti itu" kataku segera masuk kedalam rumah. Tetap saja mbok Darmi merendah lagi. Memang begitulah, aku juga tak bisa memaksanya.


Semua masih terlihat sama. Tak ada satupun yang berubah. Hanya sekarang yang ada cuma aku, mbok Darmi dan bibi Fang. Tak ada Armanto, Adira maupun Deasyna. Sungguh tenang dan nyaman.


"Non... Tuan Armanto malam itu setelah bertengkar dan menceraikan istrinya segera pergi juga dari rumah ini. Tapi kemarin ada perempuan yang mengaku Nyonya Nayla datang kerumah ini dan meminta mbok membersihkan kamar utama dan semuanya. Mbok yakin dia bukan Mama non, karena dia terlihat kasar, licik dan jahat. Maafkan mbok yang tak bisa mengusirnya. Dia masuk ke kamar milik Nyonya besar hampir seharian" jelas mbok Darmi membuatku terkejut.


Bibi Fang dan aku saling menatap. Mencoba menerka maksud dan tujuan jahat wanita itu.


"Tak usah cemas mbok. Kalau gitu silahkan mbok beristirahat. Tolong antarkan bibi ke kamarnya dulu" kataku segera meraih ponsel dan menelpon seseorang.


"Baik non. Permisi. Mari Nyonya Fang...." kata mbok Darmi segera naik ke lantai dua diikuti bibi.


"Apa yang terjadi??? Baiklah, aku mengerti. Rahasiakan kedatanganku. 30 menit lagi aku sampai disana. Lakukan sesuai rencana. Maaf dan terima kasih" kataku mengakhiri panggilan.


Segera setelahnya aku bersiap pergi ketempat yang seharusnya.


"Mari kita selesaikan sekarang!!!" kataku mengambil berkas dari brankas milik nenek yang hanya aku seorang yang tahu.


"Apapun itu, kau dan aku tak pernah punya ikatan. Aku bukan orang yang berbelas kasih" kataku segera mengambil tas dan kunci mobil.


"Sherin, kau akan pergi???" tanya bibi Fang menghentikan langkahku. Akupun berbalik dan tersenyum.


"Tenang saja bi. Kali ini aku pasti berhasil" kataku yakin dan segera masuk ke mobil.


PT. ATMADJA


Dengan setelan blazer biru Dongker, sepatu hill senada dan dua pengawal pribadi untuk kedua kalinya aku berjalan diatas kantor ini. Bukan untuk dipermalukan tapi untuk mempermalukan.


"Silahkan Nona..." kata pengawal ku memberi jalan masuk ke dalam lift.


Tring....


"Tunggulah, Kita tak perlu masuk sekarang. Biarkan dia menyelesaikan bualannya" kataku mendengar suara yang cukup familiar tapi memuakkan.


"Saya Nayla Wiryoatmadja, adalah wali sah Sherin Wiryoatmadja. Semua aset yang ada dibawahnya adalah tanggung jawab saya sebagai Mama kandungnya" kata wanita tak tau malu itu.


"Mohon maaf Nyonya. Apakah Anda bisa membuktikan kalau Anda Nyonya Nayla??? Sesuai wasiat Nyonya Sonya, bahwa semua miliknya hanya diserahkan ke satu nama yaitu nona Sherin. Tidak ada penanggung jawab ataupun wali. Jadi jika Anda ingin mengambil alih perusahan ini maka kami harus minta perizinan dan kuasa dari nona Sherin" jelas pengacara keluarga Wiryoatmadja. Hal itu membuat riuh ruang rapat kali ini.


"Saya sudah mendapatkan kuasa dari anak saya. Dan bukan hanya itu saja, disini dikatakan bahwa semua yang dimiliki nona Sherin telah dialihkan secara resmi kepada saya selaku ibu kandungnya. Kalau kalian tak percaya kalian boleh memeriksanya" kata perempuan itu sangat yakin.


"Baiklah. Bagaimana ini??? Semua surat kuasa ini asli dan legal" kata pengacara itu ternyata begitu bodoh sehingga mudah ditipu.


"Tunggu, saya masih penanggung jawab penuh perusahaan ini. Hanya dengan surat kuasa seperti itu belum bisa sepenuhnya membuktikan kalau nona Sherin benar-benar menyerahkan perusahaan ini kepada Anda. Saya juga memiliki kuasa penuh dari nona Sherin yang khusus dia berikan sebelum pergi. Kalian juga boleh memeriksanya" kata Om Armanto ternyata dia tak mengkhianatiku.


"Benar. Benar. Ada dua surat kuasa. Sekarang nona Sherin sedang dirawat dirumah sakit dan mengalami koma. Entah berapa lama jabatan CEO ini akan kosong. Kalian harus memutuskan sekarang juga" kata Nayala sama sekali tak mengetahui kalau yang mengalami kecelakaan itu adalah kekasih gelapnya sendiri, Wibi Laksono.


"Kau sangat licik Nayala. Tapi semua usahamu telah gagal" ucapku tersenyum penuh kemenangan.


"Baiklah, setelah dipikirkan secara matang kami memutuskan...... BRAKKKKK...." ucapan mereka terhenti saat pintu ruang meeting dibuka keras oleh pengawal pribadiku.


"Silahkan nona...." kata pengawalku.


Dengan gaya seorang CEO aku masuk kedalam ruang rapat. Angkuh, sombong dan dingin.


"Sherinnn.... Bukankah???" kata Nayala terkaget sampai bola matanya keluar.


"Wah wah.... ternyata kalian mengadakan rapat tanpa sepengetahuanku. Ada yang bisa menjelaskan???" tanyaku. Mereka bahkan membuat kegaduhan didepanku. Tatapan heran, terkejut dan tak senang terlihat jelas dari raut wajah beberapa orang dalam ruangan ini.


"Sayang, kau sudah sembuh???" tanya Nayala beracting manis didepanku.


"Pengawal, lakukan tugas kalian" perintahku tanpa menoleh.


"Baik nona. Ikat dia sekarang" kata kepala pengawalku berusaha mengikat Nayala dengan kasar.


"Bagaimana ini"


"Apa yang sebenarnya terjadi??"


"Karena harta dia berani menyakiti ibunya pantaskah ia memimpin kita. Lihatlah sifat angkuhnya"


"Sherinnn... apa yang kau lakukan kepada Mamamu... Kau anak durhaka... lepaskan aku... lepaskan aku... akan kulaporkan kau pada ayahmu... lihat saja apa yang akan dia lakukan.... jangan sentuh aku.... Lepaskan.... Kau menyakiti Mamamu dan adikmu" teriaknya membuatku muak.


"Tutup mulutnya, berisik sekali" kataku dingin.


"Baik nona..."


"Mmmm.... mammmmmm"


"Baiklah, Direktur Armanto tolong kau jelaskan!!!" kataku dengan nada dingin.


"Bla bla bla bla.... bla bla...blaaaaaaaa....."


"Baiklah aku mengerti. Apa ada pertanyaan terlebih dulu???" tanyaku menatap para direksi yang masih penuh tanda tanya.


"Sejak kapan kau menjadi CEO kami dan bertanggung jawab penuh pada perusahaan ini. Dasar anak kecil sebaiknya kau bermain dirumah saja" kata Tuan Jo yang memiliki saham sebanyak 5%.


"Apa ada lagi yang ingin bertanya???" kataku menatap mereka dengan senyum mengejek.


"Bukankah kau masih belum lulus SMA, kenapa kami harus patuh padamu dan juga kau tak berhak mengambil alih perusahan ini karena semua saham sebenarnya milik nenekmu" tanya Tuan Andre pemilik 3% saham.


"Baiklah aku akan menjawab semua pertanyaan kalian tadi. Sejak usiaku tepat 17 tahun maka segala aset berharga dan kepemilikan atas nama Sonya Wiryoatmadja dengan otomatis beralih tangan kepada cucu satu-satunya yaitu Sherin Wiryoatmadja. Bukankah begitu pengacara Sebastian???" tanyaku menatap pengacara keluargaku.


"Benar. Semua yang nona katakan benar"


"Oh ya, karena kalian meragukan kemampuanku maka dengan terpaksa aku harus menyombongkan diri didepan kalian. Maaf sebelumnya, karena kalian yang memaksaku. Ohh... jadi tak enak hati. Pengawal perlihatkan pada mereka dan jelaskan" kataku menguap berlagak seperti orang bodoh.

__ADS_1


Melalui layar LED, pengawalku mencoba menjelaskan sejarah pendidikan formal ku. Disana Nayala masih berusaha berteriak merusak pemandangan.


"Mmmmm.........mmmmm"


"Silahkan anda sekalian melihat ke layar ini. Nona kami mengambil jurusan matematika dari Dartmouth College lalu mengambil gelar MBA di Harvard university dengan predikat Summa cum laude pada usia 9 tahun. Bukan hanya itu saja nona kami kemudian mendalami bidang teknik sipil dengan gelar Bachelor of Science. Nona juga mengambil jurusan bisnis dan manajemen serta akuntansi dan keuangan pada tahun yang sama di Universitat Mannheim di Jerman. Kalian bisa lihat sendiri. Bukan hanya itu saja nona juga mengambil ilmu ekonomi, teknik komputer, dan ilmu hukum di Universitat Munchen dan Hamburg university. Bahkan dalam waktu kurang dari 6 tahun nona bisa menyelesaikan pendidikannya hampir 10 jurusan berbeda di berbagai universitas ternama dunia dengan gelar Summa cum laude. Dia juga meraih gelar PhD bahkan menjadi Professor termuda di Munchen university. Apa masih ada pertanyaan lagi yang akan ditujukan ke nona saya?? Kalau tidak ada saya mohon undur diri" ucap pengawalku kembali berdiri di samping pintu keluar.


"Bagaimana mungkin, semua ini omong kosong. Dia saja disini masih sekolah di SMA swasta milik keluarga Gunanto. Apa ini mungkin???" ucap Tuan Andre yang suka sekali membuat kasak kusuk.


"Ini asli dan semua ijazah sertifikat bahkan penghargaan yang dia punya sangat asli. Dia tak berbohong. Jika kalian masih berpikiran sempit maka enyahlah dari perusahaan ini. Dimana lagi kita menemukan CEO muda yang luar biasa seperti dia" bela Tuan Adrick entah menjilat atau tidak tapi terserah karena tak ada hubungannya denganku.


BRAKKKKK..... kupukul meja keras keras.


"Hahhhh.... kalian membuatku sakit kepala. Baiklah akan kujelaskan sendiri. Aku hanya mau menjalankan hidup yang normal tentu saja sekolah diusiaku pada umumnya. Apa tidak boleh??? Lihatlah bahkan anak kalian akan tertawa jika melihat ayahnya bertengkar karena meragukan seorang gadis kecil. Jika kalian tidak bisa memutuskan maka dengan senang hati aku yang akan memutuskannya. Menurut data dan saham yang aku miliki di perusahaan ini, ditambah dengan saham milik nenekku yang dialihkan kepadaku maka semua totalnya 72%. Bukankah sudah jelas. Kalau ada pertanyaan silahkan tanyakan kepada direktur pelaksana Tuan Armanto. Rapat selesai" kataku tegas. Ternyata berhubungan dengan mereka cukup melelahkan.


"Pengawal, bawa dia ke kantor polisi" kataku dingin tanpa menatap wajah wanita licik itu.


"Baik nona. Berdiri!!! Cepat ikut!!!" kata pengawal itu memang sedikit kasar.


Sepuluh menit kemudian, Kantor Polisi setempat


"Serahkan dia!!!" kataku lalu duduk.


"Ada yang bisa kami bantu nona???" tanya polisi lumayan ramah juga.


"Anda bisa menjelaskannya pengacara Sebastian" kataku melihat kesana kemari. Menikmati pemandangan langka di kantor polisi pusat.


"Ternyata polisi juga tampan tampan he he he" gumamku pelan.


"Kenapa nona???" ternyata polisi ini tak menolak dan menganggap sepele pengacaraku.


"Dasar mata keranjang" umpatku kesal hanya bisa mendengung seperti lebah.


"Tidak ada. Panggil Kapolda kalian kemari atau aku akan mendatanginya sekarang juga" ancamku kasar.


"Nona Anda bisa dikenakan hukuman jika melakukan tindak kekerasan terhadap aparatur negara" jawabnya sok tau.


"Baiklah, kita lihat siapa yang akan dihukum. Bukankah aku sudah melalui prosedur pengaduan tapi Anda sama sekali tak menghargai waktuku dan pengacaraku. Apakah begini pelayanan seorang aparatur negara yang disumpah melayani dan mengayomi rakyat???" kataku menekankan lumayan bisa menggertaknya.


"Saya sudah menerima laporan Anda. Tunggulah beberapa hari kami akan memprosesnya" jawabnya enteng.


"Ohh Astaga... Kalau kalian masih akan memprosesnya beberapa hari lagi maka kami akan langsung mengeksekusinya sekarang juga. Hahhh.... Kacau sekali" kataku kesal langsung berdiri tanpa menghiraukan teriakan polisi muda itu.


"Bawa dia, ikuti aku!!!" kataku tegas.


"Tunggu... Nona Sherin. Suatu kehormatan Anda datang kemari" sapa Om Prayoga selaku kepala polisi bidang kriminal.


"Om Prayoga, kebetulan sekali. Bukankah Anda masih di mabes polri. Kenapa Anda bisa sampai disini??" tanyaku basa basi padahal sudah tau kalau ada mutasi besar besaran saat itu.


"Biasa asalkan kami mengabdi sepenuh hati mau ditempatkan di manapun bagi kami sama saja. Oh ya... kenapa kau mengikat Mamamu??? Kau bisa dihukum karena ini" kata Om Prayoga membawa kami ke kantornya.


"Aku hanya menangkap penjahat, bukan menindasnya atau melakukan kekerasan padanya. Lihatlah dia baik baik saja kan???" Jelasku membuatnya kaget.


"Ini semua bukti kejahatan yang telah dia lakukan. Bukankah aku telah membantumu Om buat mengurangi orang jahat dimuka bumi ini" kataku bergurau.


"Ha ha ha kau tak berubah. Dasar anak nakal. Astaga jadi dia bukan Mamamu??? Dia pantas mendapat hukuman berat. Bawa dia ke sel tahanan!!!" perintah Om Prayoga ternyata seperti dugaanku. Masih ada polisi baik, jujur dan adil.


"Apa Papamu sudah tau???"


"Kalian boleh keluar. Pengacara Sebastian kau boleh kembali. Terima kasih. Akan ku hubungi lagi" kataku tak mau mereka mendengar hal yang tak boleh mereka dengar.


"Papaku.... entahlah. Meskipun dia tahu dia selalu saja melindunginya. Bahkan tadi pagi saja dia berusaha mencelakaiku. Menyuruh kekasih gelapnya menghabisiku. Untungnya dengan kemampuan yang kumiliki dan beberapa pengawal, rencananya bisa digagalkan. Kalau tidak mungkin kau harus menghadiri pemakamanku Om" kataku to the point.


"Mulutmu masih sama. Sangat tajam. Ha ha ha..." ejek Om Prayoga.


"Masih ada satu tersangka dirumah sakit. Wibi Laksono kuserahkan dia padamu Om. Dan apapun yang dilakukan Papa untuk membebaskannya maka tolak saja. Tidak ada yang bisa menjamin dia keluar. Om, aku percaya padamu" kataku sengaja membatasi geraknya diawal.


"Baiklah. Sesuai katamu"


"Bukan kataku tapi secara hukum yang ada memang seperti itu"


"Dasar anak pintar. Aku mengaku kalah. Kenapa kau repot-repot menangkapnya, padahal dua hari lagi kau menikah. Apa kau sengaja mau lari dari pernikahanmu. Apa kau tak mencintainya, bagaimana kalau menikah dengan putra pertamaku saja. Seorang staf ahli sosial politik Kapolri. Kau kenal dia kan, si Lucky, bukankah dia tampan sebentar lagi dia kemari. Bagaimana kalau makan siang bersama???"


"Om selera humormu sangat bagus. Bagaimana kalau kau saja yang menikah denganku???" kataku berbalik bercanda.


"Ha ha ha dasar anak ini. Sherin Sherin... Kau sangat pintar menggoda Ommu ha ha ha" tawanya seperti tak ada beban. Kalau dipikir-pikir menjadi aparatur negara dengan jabatan tinggi banyak tak enaknya apalagi kalau sudah dikaitkan dengan tanggung jawab dunia akhirat. Wuihhhh... hanya satu kata yang bisa kugambarkan MENGERIKAN.


"Om... terima kasih buat waktunya. Tolong proses sesuai prosedur. Kasusnya bukan hanya percobaan pembunuhan saja tapi juga pemalsuan identitas, penipuan dan dalang dari kecelakaan 17 tahun lalu yang merenggut nyawa mamaku. Juga dalang dibalik meninggalnya nenekku karena diracun. Sekali lagi terima kasih om. Sampai jumpa lagi" pamitku segera keluar dari ruangannya.


Ruangan Kapolda Prayoga


"Apa kau akan tetap menjalankan sesuai prosedur yang berlaku???" kataku berpikir.


"Tentu saja. Bukankah kita tetap harus patuh pada hukum. Angga, sadarlah. Apa kau masih ingin membelanya?? Jika kau seperti ini kau akan kehilangan putrimu selamanya. Kau mendengar sendiri, jika tadi pagi dia mengirim kekasih selingkuhan istrimu untuk membunuh putrimu. Apa kau masih buta???" teriak Prayoga begitu kesal.


"Tentu saja tidak. Mungkin saatnya aku melepaskan dia. Putriku jauh lebih berharga. Lagipula aku tak mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Aku sudah salah pada putriku. Kau benar selama ini karena cintaku pada Nayla, aku terus saja berpikir mendapatkan kembali Nayla hanya dengan melihat wajah mereka yang sama. Tak disangka aku malah mendorong diriku dan putriku ke jurang dan hampir mati. Yoga, terima kasih atas sarannya" kataku sedikit merasa lega. Beban yang ada didadaku sedikit berkurang.


"Kau beruntung memiliki seorang putri yang cerdas, mandiri dan cekatan. Lagipula dia sangat cantik seperti Nayla"


"Iya... Tuhan sangat baik padaku. Meskipun aku telah kehilangan Nayla tapi dia mengirimkan seorang malaikat kecil yang luar biasa untukku. Hahhh... kalau begitu aku pamit dulu"


"Apa kau tak mau melihatnya ditahanan???"


"Tak perlu. Benar kata putriku. Setiap kejahatan pasti ada balasan. Dia bukan dendam tapi hanya menegakkan keadilan"


"Wahhh ternyata putrimu lebih dewasa darimu. Oh ya bagaimana kalau kita berbesanan?? putraku dan putrimu???"


"Lupakan. Kau memang sudah gila. Apa kau mau memberikan predikat pebinor pada anakmu. Lelaki tua ini memang minta dihajar" teriakku kesal.


"Angga... kalau tak mau berbesanan maka kau mau kan jika aku menjadi menantumu. Bukankah aku sudah menduda begitu lama juga, putrimu sangat cantik ha ha ha sangat cocok jadi istriku"


"Sialan kau... Lupakan niatmu. Carilah di jalan banyak perempuan cantik. Jangan ganggu putriku"


"Bagaimana denganmu, apa kau mau menduda lagi???"


"Tentu saja tidak. Aku akan berusaha membuka hatiku untuknya. Kau tau itu. Cinta pertama sehariku" kataku segera masuk ke dalam mobil.


"Angga... semangat... aku yakin kau bisa tapi ceraikan dulu istrimu yang ditahanan" katanya sengaja mengingatkan atau mengejek.


"Ha ha ha... dia buatmu saja. Aku sudah bosan"


Kediaman Gunanto


Ting tong Ting tong.....


"Tunggu sebentar!!!"


Ceklekk....


"Sherin...."


"Tante Mey....."


"Aduh kenapa kamu tambah kurusan. Baju apa ini??? Kau jadi sales keliling??? Masuk.... Eitss..... tunggu.... bukankah kau harusnya dipingit. Kenapa kau kemari???? Ayo cepat pulang, jangan sembarangan masuk ke rumah calonmu sebelum ijab qobul" kata Tante Mey seperti kereta.


"Ha ha ha... cuma mitos Tante... enakan juga makan chitos. Sherin kemari mah gak ada niat ketemu kak Rey tapi mau ketemu Nia. Nianya ada Tante??? Katanya dia nginep disini dan kak Rian yang ngungsi ke apartemen benarkah???" tanyaku sengaja celingak celingukan mencari sohibku.


"Sherinnn... biarpun ada Nia disini Tante nggak ngizinin kamu masuk kerumah ini. Lebih baik pulang sekarang!!!" Tante mengusirku secara paksa.


"Baiklah.... Sherin pulang!!!" kataku Segera berbalik arah bukan pulang tapi menyelinap lewat pintu samping.


"Yang mana kamar kak Rian??? Hahhh.... ternyata ada juga calon mantu diusir calon mertua. Tante memang kejam. Lihat saja jika tak bisa lewat depan lewat samping atau belakang pun jadi. Lumayan ada tali panjang bisa buat manjat. Nia aku datang" kataku pelan melempar tali yang terkait dengan jangkar tepat disela pagar besi lantai dua kamar kak Rian.


"Hah hah... kenapa ini tinggi sekali. Brukk... akhirnya" kataku lega.


"Nia... Nia... Ni.... gue Sherinnn... bukain..." kataku pelan memanggil Nia dari luar jendela kamarnya. Tak lama pintu pun terbuka.


"Nia... Nia...." kataku sangat pelan mengendap-endap mencari sosoknya.


BRAKKKKK.... pintu tertutup.


"Ahhhh...... mmmmmppppp" teriakku tanpa sadar langsung dibekap tangan kak Rey.


"Reyyy.... siapa yang berteriak tadi??? Apa kau mencoba memasukkan perempuan ke kamarmu??? buka pintunya cepat... biar Ibu mengeceknya sendiri.


"Gimana ini???" bisikku pelan.


"Ssutttt... Nggak ada apa apa kok Bu. Cuma TV... Rey baru habis mandi mau ganti baju dulu" teriak kak Rey.


"Mau kemana kamu sayank???" kata kak Rey pelan menarik baju belakangku.


"Melarikan dirilah,, memangnya mau apa lagi??" jawabku sengaja berlari keluar bermaksud turun dari jendela. Eh taunya ditahan sama si Om Om ini.

__ADS_1


"Reynan buka pintunya!!! Kalau nggak ibu dobrak ini pintu" teriak Tante mulai marah.


"Lepaskan!!! Kak... Kalau Tante tau aku bisa dibunuh... Kak..."


"Tak ada buruan yang lepas setelah masuk perangkapku. Termasuk kamu sayank.... ayo... Masuklah... Diam dan jangan bersuara. Kau masih berhutang penjelasan padaku" kata kak Rey memasukkanku ke lemari baju yang sangat sempit. Astaga pelarian calon Temanten berakhir di lemari baju.


"Ibu.... Ada apaan sih ribut mulu dari tadi???" tanya kak rey.


"Mana perempuan itu, biar ibu hajar sampai hancur. Berani-beraninya jadi pelakor. Kalau ketemu akan ibu jambak rambutnya, ibu tampar itu wajahnya sampai bengkak" teriak Tante sangat marah. Ancamannya benar-benar mematikan. Aku hanya bisa menelan ludah.


"Tante ternyata seorang algojo pelakor matilah aku hiks hiks hiks" kataku pasrah.


"Cuma suara TV ibu, lihat tu... Udah sana... Gak ada apa apa disini. Mana ada Rey ngumpetin cewek kalau ada ya cuma satu cewek siapa lagi kalau bukan Sherin. Apa ibu pernah liat Rey punya cewek lain??? Disini nggak ada pelakor. Udah sana katanya ibu masih mau ke salon perawatan tubuh" jelas kak Rey begitu bodoh.


"Benar juga ya. Mana ada anakku punya pelakor. Huffftttt... legalah hati ibu. Ibu pergi dulu. Dirumah baik-baik. Nggak boleh ketemu Sherin.... Ingat!!!" ancam Tante ternyata begitu mudah dibodohi anaknya. Setidaknya kali ini aman.


"Sayank... ibu sudah pergi kau bisa keluar" kata kak Rey tenang. Padahal ni badan sudah kayak digebukin, kakiku mati rasa lagi.


"Aaaaahhhh... awasssss....."


BRUKKK.... Adegan jatuh paling memalukan


"Kepalaku.... awwww.... sakitnya...." kataku meringis kesakitan.


"Ha ha ha.... Sayank kenapa kau memilih jatuh di lantai daripada dipelukanku???" tanyanya tanpa dosa.


"Diamlah. Aku kemari mau ketemu Nia bukan kakak"


"Nia barusan pergi ke salon, apa kamu tak mau ikut??? Ohh tidak jangan jangan kamu mau berduaan denganku ya???" goda kak Rey tak sopan.


"Mana ada. Jangan macam-macam kalau tidak aku teriak" ancamku.


"Mong kau merindukanmu kan???"


"Nggak nggak.... Kakak bisa tidak jangan menggodaku lagi...."


"Jangan boong...."


"beneran nggak boong... Kakak..... aku teriak nih"


"Coba aja kamu teriak. Yang ada bakalan dijambak tu rambut sama digampar tu muka sampai bengkak sama ibu ha ha ha... Mau coba, biar aku bantu panggilin... Ibu....." teriak kak Rey sengaja memanggil Tante.


"Reyyyy kenapa??? Jangan teriak teriak ibu belum tuli" jawab Tante ternyata masih ada diluar.


"Sssuutttt..... Diamlah... kumohon hiks hiks hiks Janji bakalan nurut.... ampun kak...." kataku pelan memohon belas kasih dari pangeran jail berlutut padahal bukan salahku juga hanya ketidaksengajaan salah kamar.


"Nggak ada apa apa. Jangan lupa ntar beliin duren...." jawab kak Rey berasa shock seluruh tubuhku.


"Duren???????????"


"Nggak ada bisa bisa darah tinggi kamu. Pesan lainnya aja, Lagian dua hari lagi kamu mau belah duren. Mending duren buah apa duren itu???" jawab Tante lebih gila dari yang kukira.


"Sialan, Tante sengaja buat aku mati kaku" batinku malu.


"Enak duren itu ya Bu.... Apa rasanya legit.... Kalau gitu terserah ibu aja..." jawab kak Rey menatapku seakan mau memakanku hidup hidup.


"Mama.... kenapa juga aku harus masuk kandang gorilla jantan hiks hiks hiks..."


"Ibu pergi dulu... Jangan lupa bantu ayah" teriak Tante terdengar langkah kakinya menjauh.


"Ya Bu, tapi masih mau duren durenan dulu he he he..... Sayank.... Mong Mong.... pangeranmu datang....."


"Astaga kenapa merinding begini... Dasar kak Rey cabul... Habislah diriku hiks hiks hiks"


"Mau main duren Durenan??" goda kak Rey gila tanpa malu.


"Jangan macam-macam. Menjauh!!!"


"Ssutttt... jangan berpikir mesum. Maksudnya tuh kamu kayak durian, kalau orang terlanjur suka sukanya kebangetannn... lengket manis gimana gitu. Boleh cobain???" ucap kak Rey sangat gila tanpa malu.


"Kak Rey kau memang gila. Cukup aku mau muntah...."


"Mau denger lagi???"


"Nggak... Udah cukup... Suer... perutku mual...."


"Sayank... paling enak belah duren pake tangan soalnya kalau pake golok kurang greget ha ha ha"


"Apanya?????"


"Itunya... ituh tuhhh...."


"Aargghhh....... cukup jangan bahas duren lagi hiks hiks hiks... terserah mau bukanya pake apa nggak ada hubungannya denganku... Kakak kau sungguh menyiksaku... Jangan... jangan.... jangan lagi....."


"Sayank kamu itu ibarat duren, tajam diluar tapi manis dan legit didalam... cie cie..."


"Astagfirullah..... Ampuni aku.... kenapa bisa dapet suami kayak gini, duren oh duren.... kapan kau menghilang dari pendengaranku" kataku segera berjalan keluar jendela kamar.


"Eittsss... nggak boleh keluar... kau masih harus mendengarkanku. Hari ini pokoknya semua tentang duren. Mongdurmut, Mong Mong durian imut"


"Astaga... inikah namanya kekerasan verbal, hukuman paling mematikan huks huks huks" keluhku mau menangis dan tertawa barengan.


"Sayank kamu tau nggak???"


"Nggak tau, aku mau pulang..."


"Sayank kamu itu seperti duren"


"Jangan lagi lagi......"


"Dengarkan dulu.... Semuanya tentang kamu"


"Ampun kak Rey.... ampunnn... biarkan aku pulang tanpa mendengar kata duren hiks hiks"


"Tunggu dulu, aku masih ingin mengungkapkan isi hatiku"


"Sayank kamu tau nggak"


"Nggak tahu"


"Bilang tahu donk"


"Nggak mau... Mama...."


"Kalau begini terus nggak selesai-selesai loh...."


"Hahahhhahaha....."


"Sayank kamu tau nggak???"


"Tahu...."


"Tahu apa???"


"Tahu kayak duren iya kan???"


"jawab yang bener!!!"


"Sayank.... Mongku"


"Apa lagi.... mulut udah kayak durian nih tajem pengen gigit kamu ha ha ha"


"Sayank...."


"Aku lelahhhhhh...."


"Mong Mong kita ibarat"


"duren lagi kan"


"Ternyata kamu pintar sayank"


"Astaga kalau gini siapa yang bodoh"


"Sayank matamu..."


"Bulat seperti duren kan???"


"alismu..."


"Kayak duren kak...."

__ADS_1


"pipimu..."


"Apalagi mirip duren kan??? Lama lama aku nangis juga gara gara duren nih hiks hiks hiks...."


__ADS_2