Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Perang Dingin


__ADS_3

Di Penginapan


"Hu hu hu kau menyakitiku kak. Aku benar-benar membencimu" tangisku masih merasa sakit yang teramat.


"Dasar gadis bodoh. Menangislah sampai kau puas. Kau seperti bayi tak berdaya kali ini, Mong... Sudah.. cup... cup... anak baik" kata kak Rey mencoba menenangkan dengan memeluk dan mengelus punggungku lembut.


"Rey, makanan sudah siap" teriak Rendy dari dapur.


"Sayank, kita makan dulu ya" ajak Kak Rey.


"Aku mogok makan. Kalau kau mau makan, makan saja sana" jawabku ketus merajuk seperti anak manja.


BRAKKKKK..... Suara pintu di buka keras.


"Lili, kau dimana???" teriak kak Richie marah.


"Richie, tak perlu sampai kau marah seperti itu. Bicarakan baik-baik" cegah kak Kitty.


"Oh... ternyata kau malah asyik asyikan berdua dengan tunanganmu ya. Dengan santainya kau berdiam diri dirumah memadu kasih. Kau tak lihat wajahku semakin tak berbentuk karena pil yang kau berikan. Bagaimana kau mengatasi ini sekarang???" teriak kak Richie sudah sangat marah.


"Kau bisa tenang tidak. Apa kau tak lihat kalau Sherin juga sedang sakit. Kenapa kau harus menyalahkannya atas perbuatan cerobohmu sendiri. Kau ingin melempar tanggung jawab kepadanya" teriak kak Rey sama marahnya.


"Tutup mulutmu. Aku tak ada urusan denganmu" ancam kak Richie kasar.


"Kak Ichie tenanglah. Nona pasti mengembalikan wajahmu ke bentuk semula. Jangan marah marah lagi" kata Vanya membela tapi semakin menambah kemarahan kak Richie.


"Kenapa kalian selalu membelanya. Apa karena dia adik bungsu yang memiliki begitu banyak kelebihan dibandingkan dengan kita. Kenapa kalian begitu egois. Apa salah jika aku marah, apa salah jika aku melampiaskan kekesalanku padanya?" tangis kak Richie memecah kesunyian malam.


PLAKKK.... Kak Kitty menamparnya keras.


"Kak, apa yang kau lakukan??" teriakku tak percaya.


"Ichie, sudah cukup. Apa kau pikir semua hal bisa sesuai keinginanmu. Kau harusnya berterima kasih kepada adik bungsu bukan malah menyalahkannya. Jika bukan karena pil yang dibuatnya bukankah kita sudah mati kehabisan darah di hutan waktu itu. Apa kau tak ingat jika kau terluka parah. Kumohon jangan membuat keadaan semakin rumit. Kita kembali dari misi dengan selamat itu sudah suatu keberkahan" teriak kak Kitty menengahi masalah dengan tegas.


"Sudah cukup. Jangan bertengkar lagi. Aku akan bertanggung jawab" kataku lesu mengambil ponsel di meja sampingku.


"Sayank, Apa yang mau kau lakukan??" tanya kak Rey lembut.


"Assalamu'alaikum, Pa kirimkan jet pribadi Papa sekarang. Ada keperluan mendesak. Papa tak perlu khawatir, Sherin gak apa apa. Oh ya mintakan izin lintas dari Kalimantan ke Jogja malam ini. Sherin tunggu. Terima kasih Pa. Nanti kita bicarakan lagi oke. Salam buat Mama. Assalamu'alaikum" kataku memutus panggilan.


"Apa kau gila, ini jam berapa??? Apa kau benar-benar serius???" tanya kak Rey khawatir.


"Jangan cemas kak. Kak Richie kita berangkat ke Jogja malam ini. Aku akan membuat obatnya untukmu segera setelah mendarat. Maaf karena sudah menyusahkanmu" kataku menyesal.


"Baiklah jika kau sudah sadar. Kutunggu janjimu" kata kak Richie meninggalkan kami.


"Richie, apa ini memang sifat aslimu. Richie..... Buka pintunya!!! Kenapa kau menjadi begitu jahat" teriak kak Kitty didepan pintu sambil menggedor gedor.


"Kau tak apa Mong???" tanya kak Rey merasa tak tega melihatku tertunduk lesu.


"Vanya kita bersiap" kataku mencoba bangkit tapi terjatuh karena kakiku masih sangat sakit.


"Duduklah. Aku akan menyiapkan semua keperluanmu. Jangan membantah. Kau hanya perlu menuruti kata-kataku. Jika kau menurut kakimu akan pulih besok. Jangan dimasukkan ke hati, mungkin emosinya lagi labil" ucap kak Rey mendudukkanku kembali.


Semua menatapku kasihan. Mungkin bukan sepenuhnya salahku tapi tak bisa dipungkiri karena pil itu memiliki efek samping yang begitu besar.


Malam ini kami semua bertolak dari Kalimantan ke Jogja. Hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di villa bibi Fang.


Kak Rey dengan setia menggendongku. Tak menyangka aku akan kembali ke villa ini lagi dan meminta bantuan bibi Fang.


"Masuklah, Vanya tolong siapkan kamar untuk mereka. Ini kartuku, kau bisa menggunakan untuk membuka setiap pintu. Kau sudah tau kode verifikasinya. Maaf aku tak bisa menemani. Kak Rey antarkan aku ke laboratorium milik bibi" pintaku kemudian kak Rey menggendongku kembali naik ke mobil.


"Lili, jangan memaksakan diri" pesan kak Kitty dengan lembut. Aku mengangguk setuju.


"Baik kak. Tolong jaga kak Richie untukku" pintaku sopan.


"Nona...." Vanya malah menangis.


"Gadis bodoh, apa aku akan mati, kenapa kau harus menangis seperti itu. Kak Rendy kau satu-satunya laki-laki disini aku titip mereka" kataku melambaikan tangan menatap kearah mereka dengan sendu.


"Sudah semua akan baik-baik saja. Aku yakin kau bisa membuat formulanya" kata kak Rey memberi semangat sambil melajukan mobil.


Dini hari, tak menyangka akan melewati hutan ini lagi berdua dengan kak Rey. Mungkin jika bukan dia laki-laki yang mendampingiku, sudah jauh hari mereka akan lari bahkan menjauh dariku karena sifatku yang aneh.


"Kau, memikirkan apa??? Lihatlah gadisku sekarang, taunya merajuk dan cemberut. Mau kucium biar tu muka nggak ditekuk terus??" godanya membuatku langsung menoleh kaget.


"Ha ha ha Mong.... Lihatlah ada ingus dihidungmu" ejeknya berusaha menipuku.


"Kak.... Kau memang suka mengejekku. Mana ada ingus... Kau mau menipuku" kataku sedikit tersenyum.


"Lihatlah sekarang gadis ini berani menggodaku" katanya semakin berusaha menggodaku.


"Siapa yang menggoda, kakak...." teriakku masih tak percaya kak Rey berusaha menggodaku.


"Apa kau tak takut malam-malam berdua dengan laki-laki..." katanya pelan dengan suara manja.


"Ha ha ha kak Rey, harusnya pertanyaannya apa kau tak takut bersama seorang wanita sepertiku malam malam begini. Bisa saja aku....." godaku gantian.


"Gadis ini, masih saja tak mau kalah. Aku menyerah" katanya dengan senyum mengembang.


Sekali lagi, dia berhasil mengusir kesedihan dalam hatiku. Inilah kehidupan, kalanya ada orang yang membuat sedih tapi disaat lain ada orang yang membawa kebahagiaan tak terhingga untuk kita. Kalanya ada orang yang membuat marah tapi seketika ada orang yang meredam amarah kita. Kalanya ada tangis tak berselang lama ada yang menghapus air mata kita. Jadi apa gunanya bersedih, menangis, bahkan putus asa kalau masih ada orang yang peduli dengan kita.


"Kita sudah sampai. Cepat bukalah pintunya" Pinta kak Rey tepat di Padang rumput dulu. Ternyata ingatannya cukup tajam. Hanya sekali saja dia bisa mengingat tempat ini. Aku segera menekan angka melalui ponsel pintarku. Kami masuk kedalam area parkir bawah tanah. Lagi-lagi kak Rey menggendongku.


"Bibi Fang, aku datang. Keponakan cantikmu ini merindukanmu. Bibi Fang" teriakku melalui sensor suara mungkin mengagetkan tidurnya karena sekarang menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


"Kenapa tak ada sahutan Mong, cobalah sekali lagi" pinta kak Rey.


"Jangan, kau tau betapa garangnya bibiku. Apa kau bisa menanggung resikonya jika kau membangunkannya tengah malam" jelasku.


Meski tak ada sahutan tapi semua perangkap elektrik yang dipasang sudah dimatikan.


"Beruangku...... Kenapa dengan kakimu???" tanya kak Long mengagetkanku. Ternyata dia sedang ada dirumah menemani bibi. Ada perasaan canggung diantara kami. Yang lebih parah kak Rey begitu tajam menatapnya.


"Gawat.... apakah mereka bisa akur" batinku mengeluh.


"Kak Long..... Ini hanya kecelakaan kecil. Aku gak apa apa kok" jawabku tersenyum.


"Kenapa kau bisa disini. Apa kau sengaja" tanya kak Rey sengaja memojokkannya.


"Yang seharusnya tanya itu aku. Kenapa kau disini dan kenapa kau bisa tau laboratorium ibuku??" teriaknya sama sama saling tatap membunuh.


"Ibumu??? Jadi bibi Fang itu ibumu??? Kau bohong, kenapa margamu tidak Fang tapi Long??? Kau sengaja mendekati Mong mongku kan???" kata kak Rey kesal. Semakin lama semakin panas perdebatan diantara mereka.


"Kau ini bodoh atau gimana, ya jelas marga kami beda karena aku menggunakan marga Ayahku. Beruang kenapa kau masih betah bersamanya??? Laki-laki ini tak pantas denganmu karena dia tak menjagamu dengan baik" ejeknya dengan nada kasar.


"Kenapa malam-malam harus ada adegan ini sih. Kalau saja kakiku tak sakit sudah kutendang kedua orang ini saking kesalnya" batinku sebal sendiri.


"Hyaaaaa.... Long Yi Yan kenapa kau berteriak di malam hari" teriak bibi melalui sensor suara mengagetkan kami semua.


"Bibi.... Aku datang...." sahutku semoga bibi bisa datang menengahi mereka.


"Anak nakal, Apa kau kesini hanya saat membutuhkanku saja" teriakan bibi keras sekali sampai bisa membunuh hewan dalam waktu singkat.

__ADS_1


"Bibi.... tolonglah aku" kataku memohon.


"Kenapa dengan kakimu???? Apa aku perlu menghajarmu. Tunggu disitu" teriak bibi mengomel sekali lagi.


Kami bertigapun menunggu bibi dengan canggung. Ada hawa dingin dan mencekam diantara kedua laki-laki ini.


"Dasar bocah nakal. Siapa yang mengizinkanku terluka" kata bibi dengan wajah garang diluar tapi lembut didalam.


"Hanya kecelakaan kecil. Kalau bukan karena si brengsek Justin mungkin kakiku baik-baik saja" jawabku singkat.


"Kau melawan Justin si licik itu??? Kau sudah tau dia bukan tandinganmu. Kau ini memang dari kecil suka buat orang khawatir" kata kak Long kesal.


"Maaf kak" jawabku menunduk.


"Hyaaa... apa hakmu memarahi tunanganku" timpal balik kak Rey.


"Hey anak muda, apa hakmu memarahi anakku" sahut bibi.


"Kenapa jadi mereka bertiga saling bertengkar. Walah walah walah tambah runyam urusannya" batinku berpikir bagaimana melerai mereka.


"Bibi aku harus membuat penawar buat kakakku. Dia menjadi korban pil buatan yang kukembangkan" kataku lesu.


"Bagaimana bisa kau tidak berhati-hati. Seharusnya kau melakukan uji klinis berkali-kali. Baiklah mari kita cari solusinya. Kalian berdua keluar dari sini. Se....ka...rang" teriakan bibi mengaum seperti singa.


"Tapi bibi Sherin belum bisa berjalan, biarkan aku mengantarnya ke dalam" kata kak Rey bersiap masuk ke ruang Laboratorium.


Sebagai bahan pengetahuan, setiap peneliti takkan pernah mengizinkan orang asing masuk ke dalam laboratorium miliknya. Begitu juga bibi, laboratorium merupakan tempat yang paling sakral bahkan kak Long anaknya sendiripun belum pernah menginjakkan kaki ke depan pintu laboratorium milik ibunya.


"Apa kau bilang??? Jika kau berjalan selangkah lagi, bukan hanya kakimu yang patah tapi seluruh tubuhmu kujadikan makanan pembuka untuk duo litttle. Apa kau yakin untuk itu" teriak bibi Sedetik kemudian mengancamnya dengan aura hitam. Kak Rey hanya bisa menelan ludah. Membiarkan aku berjalan tertatih dibelakang bibi.


"Jangan manja. Jalanlah yang benar" kata bibi menyeret tanganku supaya lebih cepat.


"Ahhhhh.... Awwww.... pelan pelan bibi sakittttt....." teriakku kencang.


"Ibu..... Kau menyakitiku beruangku...." teriak kak Long dibalas tatapan bibi yang menakutkan.


"Ha ha ha bercanda Ma. Mama kau memang yang terbaik" katanya sekali lagi mencoba membuat bibi tenang.


Di Luar Villa Selatan


"Baiklah. Mari kita selesaikan dengan cara laki-laki" kata Long yang sudah berambisi mendapatkan Mong.


"Baiklah. Jika kau kalah maka jangan pernah muncul didepannya lagi. Majulah!!!" kataku membuat pilihan.


"Cihhhh.... Lihatlah tinjuku yang akan berbicara padamu" kata Long begitu yakin.


Buggggg.... bagggggg.... Dakkkkkk....


"Bagaimana, kau boleh mundur sekarang" kata Long sok hebat.


"Jangan harap!!!" Kataku tak mau kalah.


Bagggggg.... bagggggg.... wushhhhh.... DRAKKKKK.... Swosshhhhhhh....


Perkelahian antara dua orang pria hanya untuk mempertahankan harga diri untuk wanita yang dicintainya. Dua jam lebih, tak ada yang kalah ataupun menang. Semua sama sama kena pukulan dan tendangan.


Dalam Laboratorium


"Bibi terakhir kita hanya perlu mencampur kolagen, dan menambahkan thermal plankton yang didapat di sumber air panas ditengah pegunungan Perancis ini kan???" kataku menakar berapa mg yang harus dibuat untuk sekali masa penyembuhan.


"Benar. Aku sudah menelitinya sejak kau membuat pil penyembuh luka itu. Tak sia sia aku memaksa Long mendapatkan thermal plankton ini. Setelah melalui serangkaian penelitian thermal plankton murni memiliki kandungan yang dibutuhkan kulit seperti fosfor, tembaga, mangan, zinc, potasium, dan vitamin lengkap untuk kulit. Bahan ini juga memfasilitasi kelahiran sel baru, dua tipe yang penting untuk kesehatan dan kecantikan; keraticytes dan fibroblast" jelas bibi membuatku lebih ringan dalam membuat formula penawarnya.


"Apakah kita perlu menyuntikkan HA ke lapisan dermalnya???" tanyaku masih sibuk mencoba berbagai uji klinis untuk mendapatkan hitungan yang paling akurat untuk setiap bahan.


"Tak perlu itu akan malah menambah kelebihan vitamin dan zat lainnya. Kita belum menguji dampaknya" kata bibi tegas.


"Bibi, aku sudah tegas bilang ke kak Long, tapi anakmu itu memang seperti ibunya, terlalu obsesif, kompulsif dan berambisi. Mau bagaimana lagi" jawabku santai.


Takkkkkk.... Bibi memukulku dengan tabung reaksi.


"Awww.... bibi bisakah kau tak menganggap kepalaku bahan percobaan seberapa keras tabung reaksimu" teriakku menahan sakit.


"Bocah ini. Suka sekali mengejekku. Selesaikan cepat!!! Kau sudah mengganggu waktu tidurku. Masalah Sereti dan Professor Dominique sudah beres. Long mengirim mereka kembali ke negara asalnya" kata bibi.


"Terima kasih bi. Kau memang yang terbaik. Aku mencintaimu" kataku memeluknya erat melebihi mamaku sendiri.


Keesokan Paginya,


"Semua beres. Selesai. Akhirnya aku bisa istirahat" kataku senang berhasil membuat formula kecantikan ini.


"Bereskan laboratoriumnya, ingat harus bersih. Kalau sudah hentikan mereka berdua. Aku mau tidur" kata bibi sedikit membuatku kesal. Bagaimana bisa menyuruhku membereskannya sendiri.


Dengan telpon laboratorium aku segera menghubungi Vanya untuk segera membawa kak Richie dan kak Kitty ke villa Selatan.


"Vanya, kau bisa membawa kakak kemari" kataku singkat.


"Baik nona" jawabnya.


"Masalah kak Richie beres tinggal masalah dua laki laki itu. Tunggu sebentar lagi saja. Biarkan mereka menyadari kesalahan mereka sendiri. Aku mau tiduran dulu. Capeknya...." pikirku mencari cara kemudian berbaring di meja lab.


"Kau pakai ini, kakimu akan sembuh dalam waktu lima menit" kata bibi terngiang dalam bayanganku.


Setelah mengoles dan menunggu lima menit.


"Wowwww... salep yang bibi buat sungguh amazing. Baiklah saatnya pertunjukan he he he" tawaku licik.


Di luar Villa Selatan


Bammmmm.....


"Ahhhh......" teriak mereka berdua kesakitan karena pukulanku tepat didadanya.


"Mong, apa yang kau lakukan. Ini pertarungan laki-laki. Apa kau lupa kalau kakimu sakit" teriak kak Rey cerewet.


"Beruang kenapa kau memakai tenaga dalam. Kau sangat tidak gentle" teriak kak Long sama sama mengeluh.


"Kakak, aku hanya berusaha melerai kalian. Apa kalian belum merasa capek dari tadi pagi berkelahi terus???" tanyaku lembut.


"Belum. Kami harus menyelesaikan ini" teriak mereka bersama saling perang tatap.


"Baiklah, aku akan menjadi jurinya. Sekarang istirahatlah kalian. Tunggulah tantangan yang akan kuberikan kepada kalian. Apa kalian masih berani bilang belum lelah" kataku meninggalkan mereka terbaring di rerumputan.


Segera kuhampiri Vanya dan lainnya.


"Nona.... disini" teriak Vanya melambaikan tangannya.


"Terima kasih Vanya atas kerja kerasmu. Sekarang carilah tempat yang tinggi dan bersembunyilah. Akan ada pertunjukan menarik" kataku memberitahunya.


"Kak Richie sesuai janjiku. Minumlah ini, dan oleskan ini diwajahmu. Tunggulah lima menit obatnya akan bereaksi. Kalau sudah tolong cari tempat yang tinggi atau bersembunyi. Aku ingin memberi pertunjukan yang menyenangkan sebagai hadiah" jelasku.


"Baiklah. Terima kasih dan maaf karena sudah memarahimu" ucap kak Richie menyesal.


"Kau sudah bekerja keras adik bungsu. Kami akan naik ke atas pohon" kata kak Kitty langsung mengerti.

__ADS_1


"Kitty apa maksudnya kita naik pohon???" tanya kak Richie bingung.


"Sebaiknya kita turuti saja kemauan adik bungsu kita. Kau akan menyesal jika tidak mengikuti perintahnya. Kau tau bagaimana anehnya adik bungsu kita. Ayo!!" jelas kak Kitty segera melompat keatas pohon.


Tinggalah aku, kak Rey dan kak Long yang ada di rerumputan.


"Bagaimana, masih mau lanjut berkelahinya???" tanyaku tersenyum licik.


"Tentu saja" jawab kak Rey.


"Lanjut. Siapa takut" sahut kak Long.


"Baiklah. Kalian berdua tak boleh berkelahi lagi. Tapi sebagai gantinya tolong jinakkan hewan peliharaan imutku. Bagaimana???" tanyaku tersenyum penuh arti.


"Tak masalah. Hanya hewan peliharaan kan???" tantang kak Rey begitu yakin.


"Aku pasti bisa menjinakkan hewanmu beruang. Huhhh hanya monyet, gajah, jerapah bahkan gorillapun aku siap" kata kak Long percaya diri.


"Oke. Akan kukeluarkan. Siap siaplah lari yang cepat" bisikku pada mereka sengaja menggoda.


"Little Mo.... Little Mi.... Ada yang mau main sama kalian. Mami akan keluarkan kalian oke...." teriakku membuka pintu rahasia tempat binatang peliharaanku istirahat.


"Paling kucing kecil. Momo Mimi papi datang...." kata kak Rey tersenyum tak tau apa yang ada didepannya.


"Jangan harap, Momo Mimi papimu yang asli ada disini" teriak kak Long tak mau kalah.


Setelah kupencet-pencet dan memasukkan password, keluarlah kandang besi besar dari dalam tanah yang masih tertutup tirai.


"Sherin, sebenarnya apa itu???" teriak kak Rendy dari atas pohon.


"Aku tidak asing dengan nama peliharaan nona. Tapi apa ya...." kata Vanya sedikit lupa.


"Hey adik bungsu jangan menyiksa mereka" teriak kak Richie yang wajahnya mulai berangsur normal.


"Sudah diam dan nikmati saja" sahut kak Kitty.


"Kakak semua sudah siap. Tolong menjauhlah jangan dekat kandang ini minimal 100m. Bisakan???" kataku mencoba sedikit perhatian kepada mereka.


"Kau sendiri???" kata kak Rey bingung.


"Jangan cemaskan aku. Cepatlah menjauh!!!" teriakku kesal.


"Momo Mimi Mami ada disini" kataku memanggil mereka dari balik kandang besi yang tertutup.


"HHHHAAAAAUUUUMMMMMM" Suara menggelegar dari balik kandang.


"Astaga, perasaanku tak enak. Suaranya seperti...." kata kak Rey mencoba menerka.


"Beruang, jangan bercanda. Kau jangan main main dengan kakakmu yang tampan ini. Kau pikir aku akan tertipu. Kau menggunakan pengeras suara untuk menakuti kami kan" kata kak Long mulai curiga.


"Baiklah kita buka saja dan lihat" kataku tersenyum yakin.


Aku segera melompat keatas pohon. Sedetik kemudian kandang terbuka.


"HHHAUUUUMMMMMM........"


"Singa.... Long itu singa beneran lari...." teriak kak Rey mencoba berlari naik ke pohon.


"Sherin kau gila, kenapa kau bermain dengan singa Ahhhhh......" teriak kak Long berlari entah kemana dikejar Mimi dan Momo.


"HAUMMMM... HAUMMMM.... WORGHHHHH"


"Jangan mendekat..... Arghhhhhhhhh..... Arghhhhhhhhh..... Aku bukan makananmu" teriak kak Long belum menemukan pohon yang bisa ia panjat.


"Mong Mong, ini bukan gayamu, tak mungkin kau memelihara singa sebesar itu" kata kak Rey tak yakin.


"Ha ha ha lihatlah kak Long berlari cepat. Mimi kejar dia, dia pengantinmu ha ha ha" teriakku senang.


"HAUMMMM...HORGHHHHH...."


"Kau turunlah kak Rey, katanya kau mau menjinakkan mereka???" kataku berusaha mendorongnya dari atas pohon.


"Jangan Mong, kau jangan bercanda soal nyawa. Aku mengaku kalah" kata kak Rey ketakutan.


"Ha ha ha.... lihatlah si Long sudah kayak kucing ketemu ikan habislah ia ha ha ha..." ejek kak Rendy.


"Lili kau gila, masukkan mereka ke kandangnya lagi" teriak kak Richie marah.


"Anak ini benar-benar" kata kak Kitty tak tau harus ngomong apa.


"HAUMMMMMM......"


"Sherin, sudah aku menyerah.... Hyaaa aku bukan mangsamu.... HAUMMMMMMMMM" teriak kak Long masih terus berlari hampir saja Mimi mendapatkannya.


"Baiklah. Kak beneran sudah capek belum" teriakku sekali lagi.


"HAUMMMMM.... HERRRGGGGGGG.... sherinnnnnnnnnnnn......." teriak kak Long kepayahan.


Aku segera turun dari pohon.


"Mong apa yang kau lakukan, naik ke atas pohon" teriak kak Rey tak percaya tunangannya mau jadi santapan singa.


"Kalau begitu, kak Rey saja yang menangkap mereka lagi, bagaimana?? he he he" kataku berbalik.


"Tak. Biar si Long saja" jawabnya santai.


"Diamlah diatas dan tutup mulutmu kalau begitu" kataku kesal.


"Mimi...... Momo kemari..... Anak baik" teriakku memanggil duo little.


"HAUMMMMMMMMM.... EHHHHHHH.... kalian nakal. Jangan kejar kakak itu lagi. HAUMMMMM......" Duo little berguling-guling di pelukanku.


"Mong Mong kau..... Benarkah kau orang yang kusayang???" tanyanya heran.


"Sherinnnnnnnnnnnn......." teriak bibi menggema membuatku kaget setengah mati.


"Momo Mimi masuklah!!!! HAUUUUMMMMM.... Ibu singa sudah keluar.... cepat masuk!!!!" kataku segera mendorong duo little masuk ke kandangnya lagi dan mengembalikannya ke tempat semula.


"Fuhhhhhh..... Selamat selamat....." Kak Richie dan kak Kitty menghela nafas bersamaan.


"Astaga badanku gemetaran kak Rendy... hiks hiks" kata Vanya turun dari atas pohon.


"Sherinnnnnnnnnnnn kau benar-benar....." teriak kak Long kesal dengan keringat membasahi bajunya.


"Kemari anak nakal!!!! PLAKKKK.... PLAKKK" teriak bibi marah sambil memukul bokongku.


"Ampun bibi, katanya tadi suruh melerai mereka. Kenapa kau memukulku, awww sakitttt... PLAKKKKK...." Protesku.


"Sherinnnnnnnnnnnn.... Inikah yang kau maksud melerai???? Dasar kau anak bandel.... kemari.... rasakan hukumanmu" teriak bibi berlari mengejarku.


"Bibi.... kalau kau masih mengejar akan kukeluarkan buayaku bagaimana????" teriakku berlari menjauh.


"Liliana...... kemarilah...... berani betul kau mengancam bibimu...." teriak bibi tanpa lelah mengejarku.

__ADS_1


"Bibiiiiiiiii........... Ampunnnnnnnn........." teriakku terus berlari karena bibi begitu licik menembakkan sinar listrik kearahku.


"Bibiiiikkikkkiiiiiiiiiiiiii........"


__ADS_2