
Masih ingatkah pelajaran sejarah yang membahas tentang politik Devide Et impera, politik pecah belah atau bisa juga disebut dengan politik adu domba. Devide Et impera adalah kombinasi strategi politik, militer dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan kekuasaan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok kecil yang mudah ditaklukan.
"Ha ha... ternyata mereka memang suka bermain-main. Tak disangka politik warisan VOC bisa kupakai dikehidupan nyata kali ini. Sekali menepuk dua lalat akan mati" kataku melirik ke belakang melihat beberapa anak buah Roy yang mencoba mengikuti.
Depan Hotel Royal
"Ini mobil Anda nona" kata seorang petugas parkir hotel memberikan kunci mobil kepadaku dengan sangat sopan.
"Ambillah dan terima kasih" kataku memberi beberapa lembar lima puluh ribuan sebagai tip kemudian masuk ke dalam mobil keluaran dari Aston Martin Vanquish S. Mobil dengan mesin V12 ditambah transmisi 8 gigi percepatan. Mobil yang biasa kulihat di film James Bond ketika berperan menjadi agen mata-mata. Tak kusangka sekarang aku sendiri memakainya juga sebagai agen mata-mata.
"Tak buruk. Sesuai dengan karakterku. Baiklah kita mulai balapan" kataku bersemangat untuk pertama kalinya mengemudikan mobil setelah mendapatkan SIM pertama.
Jangan dibayangkan dengan diriku yang dulu. Setelah kejadian tragis dan memalukan itu, tentu saja aku belajar sungguh-sungguh dan dalam waktu sepekan aku bisa langsung mendapatkan Empat SIM sekaligus juga lencana dari BND.
"Mari bermain sayang" kuinjak pedal gas menyusuri jalanan dari Solo menuju Jogja.
Semakin mereka berusaha mengejar semakin kutambah kecepatannya.
Kejar kejaran tak terhindarkan antara mereka dan aku. Kebetulan waktu itu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Jadi jalanan tampak lengang. Mereka Layak diberi acungan jempol karena semangat mereka yang tak pernah kendur mengejarku. Setengah jam waktu yang kubutuhkan untuk sampai di hotel Ritz.
"Tangkap!!!" kataku melempar kunci pada petugas parkir hotel.
Setelah itu aku terus berjalan menuju ke kamar yang dipesan Vanya kemarin tanpa menoleh kebelakang. Ternyata bukan hanya pengawal Roy saja yang membuntutiku, tapi dia juga menyewa fotografer handal untuk mendokumentasikan setiap kegiatan yang kulakukan.
"Woahhhh... Ini semakin menarik. Baiklah kita beri mereka pertunjukan yang spektakuler" kataku semakin bersemangat.
Tring.... pintu lift terbuka.
BRAKKKKK.... Kubuka pintu kamar hotel dengan keras. Kebetulan kak Rey masih setia menungguku disini. Tak kusia-siakan kesempatan yang bagus ini.
"Mong.... Cupppp" kudorong tubuh kekarnya menabrak dinding kamar hotel dan menutup mulutnya dengan bibirku secara paksa hampir kurang lebih lima menitan.
"Bagaimana sayang, apa ini manis???" godaku sambil mengedarkan pandangan ke tempat fotografer sewaan si Roy yang sudah susah payah mengabadikan setiap momentku.
"Astaga,,, kenapa kau menjadi liar begini Mong??" tanyanya heran. Yang lebih terkejut adalah aku karena dia sudah menyadari penyamaranku.
"Tutup mulut dan kecilkan suaramu. Nanti kujelaskan!!!" kataku masih mengalungkan tanganku mesra dilehernya.
"Astaga mimpi apa aku semalam jika gadis kecilku bisa berubah jadi rubah imut yang nakal he he he... Bisa kita ulangi adegan tadi dengan lebih lembut???" tanya kak Rey sontak membuat mataku melotot.
"Jangan macam-macam kak. Memangnya adegan film apa, bisa diulang berkali-kali. Berhenti menatapku seperti itu. Kau terlihat seperti serigala lapar lebih parah dari rubah imut yang nakal ini" ucapku masih beracting mesra dengan kak Rey.
"Aku tau, kau juga menyukainya bukan??? Bukankah tadi sore kau yang menggodaku duluan??? Kau sudah membangkitkan hasrat kejantananku" ucapnya berbisik menggodaku.
Dakkkkk.... kuinjak kakinya supaya kakak segera sadar dari pikiran mesumnya.
"Ahhhh awwww.... Sakit Mong. Kebiasaan burukmu tak pernah hilang" teriaknya mengaduh kesakitan sambil melompat-lompat seperti kelinci memegang kakinya.
"Itu hukumanmu karena berpikir ngeres. Ada yang jauh lebih penting sekarang yang harus kita lakukan" ucapku segera menutup pintu kamar hotel. Sengaja tirai kamar hotel tak ku tutup. Aku yakin dia masih berusaha mengambil foto kami lagi.
"Sayang, kau tak apa???" tanyaku lembut kemudian merangkulnya mesra sekali lagi setelah kulihat fotografer bayaran itu belum pergi.
"Baiklah kalau itu yang dia mau. Kuberi kau berita yang lebih hot untuk bosmu" kataku segera mendorong paksa kak Rey dan memeluknya di tempat tidur. berpura-pura melakukan hal itu. Ha ha ha... Kalian jangan ngeres loh... hanya pura-pura taukan??? hanya pura-pura.
"Mong Mong... ternyata ini hal yang jauh lebih penting itu?? Kau sungguh nakal" bisiknya pelan ditelingaku. Segera kumatikan lampu kamar yang ada disamping tempat tidur ini.
"Dasar Om Tejo. Otaknya sudah konslet. Apa kau tak tau jika ada yang membuntutiku??" tanyaku pelan masih dengan posisi memeluknya sambil berbaring. Kalau bukan karena mereka aku tak mau melakukan hal memalukan ini, sungguh seperti keluar dari kandang harimau masuk ke kandang singa.
"Aku tau sayang. Apapun itu aku tidak menerima alasan lain. Yang kutahu kau telah menjamahku. Jadi kau harus bertanggung jawab penuh" katanya semakin membuatku kesal.
"Astaga... laki-laki ini memang perlu dihajar" rutukku kesal sendiri.
__ADS_1
"Ikuti aku Kak!!! Kita harus pergi ke ruang sebelah. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu" ajakku pelan. Dia segera bangkit namun kutarik kembali sehingga sekarang posisi kami terbalik. Aku terhimpit badannya yang kekar.
"Kau sudah gila. Apa kau mau kita ketahuan pindah kamar. Maksudku berguling atau tiarap ke ruang sebelah" jelasku kesal.
Tanpa aba-aba. Kak Rey memelukku dan berguling-guling dengan tubuhku yang terkunci tangannya.
"Maksudmu begini kan???" tanyanya tersenyum puas.
"Ashhhhh... Dasar Om Tejo cari kesempatan saja" teriakku tanpa sadar langsung dibungkam dengan tangannya. Untung pakai tangan bukan bibir. Masih untunglah.
Sesampainya diruang sebelah yang sudah disetting Vanya menjadi kedap suara dan dilengkapi teknologi canggih untuk menghubungi orang lain tanpa perlu takut disadap ataupun diretas.
"Apa kau mau melakukannya disini rubah imut nakalku???" goda kak Rey langsung kubalas tatapan tajam.
"Berhenti bermain main. Lihatlah ini!!!" kataku menunjukkan sesuatu di layar laptop ku.
"Apa maksudnya ini???" tanyanya heran.
"Ini adalah eksperimen kecerdasan buatan yang mereka lakukan kepada manusia. Dan ini penjara bawah tanah tempat penyiksaan dan mengubur mayat-mayat yang sudah mereka uji coba. Dan ini, jaringan penjualan senjata ilegal yang mereka lakukan selama ini. Gudang senjata ilegal yang sangat besar. Apa pendapatmu???" tanyaku serius.
"Ini benar-benar gila. Tunggu!!! Bagaimana kau bisa mendapatkan gambar dan video ini semua???" tanya kak Rey heran.
"Dengan kamera super mini pada kancing blazerku" jawabku santai.
"Mong, bisakah ini dihitung menjadi barang bukti. Bukankah ini ilegal???"
"Tentu saja ini legal karena agen seperti kami bertugas secara resmi untuk pemerintah. Kau akan terkejut jika kukatakan aku bertemu siapa sore ini" kataku gantian menggodanya.
"Hey hey,, senyuman apa itu??? Sepertinya kau begitu menikmati waktu bersamanya" tanya kak Rey mulai cemburu. Inilah yang aku suka darinya kalau dia cemburu akut, sangat lucu dan kekanakan.
"Tentu saja. Aku sungguh sangat menikmatinya. Lihat ini!!! Aku berhasil menandatangani pengalihan saham Grand Royal hampir 50%. Dengan suka rela dia mau menukarnya hanya untuk seorang gadis kecil nakal seperti yang kau bilang" Jelasku tersenyum penuh arti.
"Dasar Om Om. Yang ada di pikiranmu hanya menikah saja. Dengan kepercayaannya. Dia percaya kalau aku kakak angkatnya Sherin yang berusaha mengambil alih seluruh perusahaan nenek dan Papaku. Jadi kami bekerja sama menjatuhkan nilai saham perusahaan nenek dan Papa secara berkala. Dengan kata lain, akulah yang menjatuhkan perusahaan Papa dan nenekku sendiri tapi aku jugalah yang akan menyelamatkan perusahaan Papa dan nenek. Tapi untuk perusahaan Ayahmu itu murni Raka dan Donita yang melakukannya" terangku.
"Lalu apa langkah selanjutnya??? Tunggu diberkas ini tertulis Presdir Royal Company adalah Roy Joviantoro. Tunggu seperti tak asing???" kata kak Rey mencoba mengingat-ingat.
"Tak usah dipikirkan. Dia tak penting lagi" kataku mencegah mengingatnya bisa panjang urusan dengan laki-laki pencemburu ini.
"Tunggu... Dia si Roy brengsek" teriaknya mengagetkanku.
"Mong Mong.... Kau tak ada main dengannya bukan???" katanya berusaha menyudutkanku.
"He he kak Rey sudah tau yah he he he.... Santai bro... men... sir... sumpah aku tak ada hubungan sama sekali dengannya. Hanya relasi bisnis terburuk ha hahahhaaa" aku hanya bisa tersenyum kecut.
"Oke. Aku percaya padamu. Kau tidak diapa-apakan kan??? Apa dia berbuat macam-macam padamu???" tanyanya terlalu over.
"Tak apa. Dia tak suka denganku kok. Santai saja tak perlu khawatir seperti itu. Kak bisa kau telpon kak Rian sekarang. Aku harus bicara pada Sereti gadis yang menyamar sebagai diriku" pintaku lembut.
"Baiklah. Tunggu!! Halo kak, berikan telponnya ke Sherin sekarang penting!!! ini bicaralah" kata kak rey lembut memberikan handphonenya.
Setelah aku yakin dengan suara penerimanya baru aku mulai bicara.
"Sereti, dengarkan aku baik-baik. Aku tak bisa kembali ke posisiku sekarang karena sangat berbahaya. Berpura-puralah menjadi diriku sampai besok pagi. Ayahmu sudah selamat dan sedang dirawat oleh kak Vanya. Kau tak perlu khawatir. Kuharap kau lakukan yang terbaik. Aku percaya padamu" kataku memutus panggilan.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau lakukan??? Sayang ini sangat berbahaya" ucapnya khawatir.
"Tentu saja aku yakin. Oh ya besok aku akan berjalan-jalan dengan Raka bahkan lebih mesra dari sebelumnya. Jika fotografer itu berhasil memotret kemesraanku dengan Raka bukankah akan mudah menghancurkan mereka berdua. Kali ini aku harus memanfaatkan pesonaku terhadap mereka. Dua orang pria berkuasa mencintai gadis yang sama saling bertengkar dan menjatuhkan satu sama lain" kataku sedikit licik dan tersenyum puas.
"Hey Mong... Kau benar-benar kejam. Siapa yang mengajarimu??? Memanfaatkan cinta mereka untuk menjatuhkan dan menghancurkan mereka... Sungguh sungguh di luar prediksi ku... Dasar gadis kecil nakal" ucap kak Rey gemas menoel Noel pipiku.
"Hentikan!!! hentikan sakit tau. Kalau kau keberatan maka aku bisa memilih satu diantara mereka menjadi kekasihku, bagaimana???" tanyaku berusaha menggodanya lagi.
__ADS_1
"Apa katamu??? Kalau kau berani mengkhianatiku, jangan salahkan aku jika kuobrak abrik gantian perusahaan Papamu" teriak kak Rey marah.
"Ha ha ha bercanda sayang. Jangan marah lagi yah... ehhhhehhh.... Kakak baik deh" rayuku manja.
"Akan kutunjukkan sesuatu. Lihatlah!!! Dari kedua foto ini bisakah kakak menemukan perbedaannya??" tanyaku mencoba mencari tahu siapa sebenarnya bos mereka.
"Lihatlah garis kerut dilehernya. Meskipun terlihat samar dan tipis sekali tapi ini bisa dilihat kalau mereka orang yang berbeda"
"Tentu saja. Berarti dia bukan pamanku yang asli. Lalu dimana Paman sekarang berada??? Atau jangan-jangan pria ini telah membunuhnya???" kataku berpikir keras.
" Maksudmu???"
"Dia bekerja sama dengan Roy menculik Professor Dominique. Dan juga dia adalah bos yang melakukan eksperimen itu. Bos yang wajahnya menyerupai pamanku. Tapi aku merasa janggal dengan perubahan sikapnya sewaktu aku meminta dia memulangkanku ke indo. Dia begitu lembut dan baik. Padahal setauku Paman sangat kasar dan tidak menyukaiku waktu itu. Dan bibi sebelum meninggal malam itu memintaku untuk belanja di minimarket dan mengatakan untuk segera pulang dengan suara gemetar tapi suaranya malah lebih terdengar seperti bibi mengatakan jangan pulang bahaya disini" Jelasku.
"Kalau begitu kita selidiki bersama. Dia terlihat sangat berbahaya. Baiklah sekarang waktunya tidur. Kau pasti lelah sekali. Mau kakak temani???" bisiknya menggoda.
"Lupakan saja. Minggir!!! Aku bukan anak kecil tak perlu ditemani. Tidurlah disana!!! Awas jangan mendekat!!! Ingat kak, tak boleh mendekat!!!" ancamku melepas wig yang berat ini.
"Aku mau mandi dulu. Jangan macam-macam!!!" ancamku sekali lagi.
"Tenang saja aku tak berani macam-macam. Takut diterkam rubah nakal ha ha ha" ejeknya.
Kamipun malam itu tidur sangat nyenyak sekali. Sampai sampai aku tak tau kalau kak Rey beralih ke tempat tidurku dan memeluk ku erat.
"Ahhhhhhh..... apa yang kau lakukan Kak!!!" teriakku histeris melihatnya bertelanjang dada sambil memelukku.
"Hanya tidur di sampingmu. Disana dingin, takut masuk angin" jawabnya santai.
"Ini orang, beneran takut masuk angin apa cari kesempatan??? kalau kedinginan kenapa tak pakai baju??? Lepaskan!!! awas kau!!! pergi sana!!!" kutendang kak Rey sampai jatuh berguling ke bawah.
"Ini yang ditakutkan Papa. Makanya aku disuruh nikah cepat-cepat. Kalau berduaan memang setan yang ketiga. Dasar Om mesum. Awas kau Kak Rey!!!" umpatku kesal.
"Mong Mong... jangan marah!!! Mong...." ucap kak Rey mencoba merayu seperti anak kehilangan ibunya. Lucu dan menggemaskan.
"Ahhhh gak boleh gak boleh... aku tak boleh lemah karena melihat tampang imutnya.... ahhhhh... Tapi dia memang imut..." teriakku frustasi menggelengkan kepala berkali-kali.
Di Tempat Lain
"Ini bos seperti yang Anda mau" seorang laki-laki memberikan amplop berisi foto Liliana dan Reynan malam itu.
"Ternyata tak salah aku bekerjasama dengannya. Dia benar-benar seorang kakak yang durhaka. Dengan mudahnya dia mengkhianati adiknya sendiri dan merebut tunangannya. Baiklah. Ini bonusmu. Lihat gadis ini baik-baik. Awasi dia sekarang!!! Pergilah!!"
"Baik Bos. Terima kasih"
"Sherin kau sekarang dalam genggamanku"
Flashback
Setelah kepergian kedua rubah licik itu.
"Tunggu... bukankah cincin yang dipakai gadis berambut panjang itu sama seperti cincin tunanganku dan Mong Mong??? Biar kulihat dimana keberadaan Mong sekarang" kataku berpikir lalu mengecek keberadaan Mong Mong lewat HP. Aku sudah menanam gps dicincin itu jadi dengan mudah aku melacak keberadaan Mong Mong.
"Sial ternyata gadis itu beneran Sherin. Bagaimana dia bisa menjadi wanita penggoda??? Tau gitu takkan kulewatkan kesempatan menerima godaannya. Hahhhhhhhh.... hilang sudah kesempatanku bermesraan dengannya Arghhhhhh.... " teriakku frustasi memikirkan hal tadi.
Di Rumah Sakit di Bandung
"Boo... bangunlah kenapa kau tidur terus. Boo Boo aku akan mencari laki laki lain jika kau tak bangun bangun" teriak hon hon putus asa.
Seperti kata Sherin, aku sebagai Papanya harus beracting seperti ini sampai dia pulang. Tak tega rasanya melihat istriku menangis. Bahkan dia kelelahan mengurusku. Dengan keadaan ini tak ada yang bisa kulakukan melawan mereka. Orang itu begitu licik dan tak kenal ampun.
"Sabarlah hon hon. Tunggulah sebentar lagi. Percayalah pada anak kita yang sedang berjuang demi semuanya" kuelus lembut rambut istriku yang tertidur lelap seperti bayi.
__ADS_1