Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Ujian Sekolah dan Ujian Hidup


__ADS_3

Sherin Wiryoatmadja


"Sher loe berantakan banget sih???" tanya Nia dengan rasa penasarannya. Aku hanya terdiam malas menjawab celotehannya.


"Jangan bilang dari semalem loe gak tidur lagi. Loe begadang buat belajar apa nangis sher??? Tu mata loe bengkak. Pokoknya hari ini gue nyontek loe!!! Yuk ah sebentar lagi bel" ajak Nia menarik tanganku dengan terburu-buru masuk ke ruang ujian.


Untung aja dalam beberapa hari ini kak Rian menjadi pengawas di sekolah lain. Kalau gak bisa stress level 100. Ujian pun dimulai. Pengawas mulai membagikan soal dan lembar jawaban. Kebetulan hari ini cuma ada satu pelajaran yang diujikan yaitu matematika.


Kulihat dan ku baca soal matematika didepanku. Ternyata tak sesulit dugaanku. Bahkan kalau dibilang lebih rumit hidupku.


"Kalau saja hubunganku dengan kak Panpan bisa semudah pelajaran matematika. Tinggal ngapalin rumusnya pasti ketemu jawabannya" gumamku sendiri.


"Ayo Sherin kamu pasti bisa. Semangat!!!Kesampingkan pikiranmu tentang Kak Panpanmu. Kamu harus lulus dan gapai mimpimu!!! Semangat!!!" kataku memberi semangat diriku sendiri.


Tettttt tettttt...


"Kumpulkan ke depan!!!" kata pengawas itu.


Ada yang aneh dari pengawas itu. Aku sepertinya pernah bertemu dengannya tapi entah dimana.


"Sherin!!! Bisa bicara sebentar!!" pintanya.


"Bisa Bu" jawabku sopan.


"Kamu masih ingat saya??" tanyanya membuatku mengingat ingat tentangnya tapi tak ketemu sama sekali.


"Maaf Bu. Apa kita pernah bertemu??" tanyaku pelan.


"Coba kamu ingat ingat lagi!!! Kita pernah bertemu dalam sebuah insiden kecil dirumah calon suamiku. Nanti kamu tunggu saya diparkiran. Kamu ikut saya!!" pintanya tapi tak bisa kutolak. Aku hanya mengangguk setuju.

__ADS_1


Diapun kembali ke ruangan pengawas. Dalam perjalanan turun menuju tempat parkir, dengan cepatnya ada yang menarik tanganku secara paksa.


"Awww sakit. Lepaskan!!!" teriakku keras. Seorang laki-laki membuka masker wajahnya.


"Kak Rey!!!" teriakku tak percaya dengan yang kulihat.


"Kenapa dengan penampilan kakak?? Memangnya kakak udah gak marah lagi sama aku?" tanyaku hati hati.


"Ikut kakak!!!" Kak Reypun menarik paksa tanganku masuk ke mobilnya.


"Tapi kak???" tolakku tapi kak Rey menatapku tajam seolah menyuruhku diam mengikutinya tanpa banyak bertanya.


"Bukan, sepertinya bukan kak Rey. Meskipun wajah mereka sama dan dia pura-pura memakai mobilnya tapi dari auranya sangat berbeda. Kak Rian kah??? Untuk apa dia mengajakku secara paksa. Apa kelainan mentalnya sedang kambuh??? Sherin jangan melawan jika tidak misimu gagal. Cobalah bertahan" batinku sesekali menatap kak Rian menyelidik.


Wanita Misterius


"Ternyata ni anak cerdas juga. Bisa menjawab soal dengan benar. Pantas kalau Rey suka sama dia. Tenang aja Rey!!! Wanitamu ada dalam genggaman ku sekarang!!!" ancamku senang.


"Pftttttt lepaskan. Lepaskan!!! Siapa kalian!!! Akan kulaporkan kalian ke polisi" teriakku berontak.


"Big boss. Misi berhasil" kata seorang laki-laki berpakaian serba hitam, mukanya juga ditutup masker hitam.


Sherin Wiryoatmadja


Kak Rian membawaku entah kemana. Dari tadi aku cuma melihat sawah disamping kiri kananku. Aku hanya tertunduk diam didalam mobilnya. Jantungku berdetak kencang sekali. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dengan sedikit gugup aku mulai memberanikan diriku berbicara padanya.


"Kak kita mau kemana??" tanyaku pelan. Tapi tak ada jawaban dari kak Rian hanya wajah datarnya yang kulihat. Mau tak mau aku harus berpura-pura salah mengenalinya sebagai kak Rey.


"Apa motifnya menculikku??? Benarkah hanya dia atau ada orang lain dibalik ini semua yang cuma memanfaatkannya saja??? Aku harus cari tahu sendiri" ucapku mencoba menelisik.

__ADS_1


"Kakak masih marah?? Sher minta maaf" kataku penuh penyesalan dengan menundukkan kepalaku. Tapi tetap saja Dia tak bergeming.


"Situ yang ngajak sini yang dicuekin. Syukurin loe Sher!!" gerutuku pelan dibalas tatapan tajam dari kak Rian masih dengan kepura-puraanku.


Sampailah kami disebuah rumah kecil dengan udara pegunungan yang masih segar.


"Turun!!!" katanya galak.


"Ini kak Rey apa kak Rian sih???" kataku berteriak dengan sengaja.


"Udah cepetan turun!!!" bentaknya sekali lagi.


Dengan terpaksa aku turun dari mobilnya.


"Ikuti aku!!! dan jangan banyak tanya!!" perintahnya galak.


"auaragavshshhahahahsb" ejekku kesal komat kamit gak jelas. Diapun membalikkan badannya seperti tau aku mengejeknya. Daripada ketauan aku menyunggingkan senyum manisku padanya tapi tetap saja dia masih berwajah garang.


"Jangan coba-coba membuatku marah!!" ancamnya sekali lagi.


Dengan pelan-pelan dan sangat hati-hati aku berjalan mundur ingin melarikan diri saja daripada nasibku nanti tidak jelas. Happppp...


Sebuah tangan besar menarik tasku keras sekali sampai aku tersandar didadanya yang kekar. Strategi melarikan diri terburuk yang pernah kulakukan.


"Jangan coba-coba melarikan diri!!! Jangan membuatku marah!!!" bentaknya dengan suara meninggi.


Dengan pasrah dan kaki yang sudah lemas terpaksa Aku menuruti kemauannya.


"Apa tujuannya??? Mengapa dia mudah diprovokasi. Apakah kak Rian dalam waktu singkat bisa berubah sekasar ini dan kenapa juga dia harus menyamar menjadi kak Rey bahkan potongan rambut pun sama. Ahhhh aku harus bagaimana?? Sherin bertahanlah!!! Ada kemungkinan kaulah target utamanya. Mungkinkah dia bersekongkol dengan Kaviandra??? Bukankah perkebunan ini milik keluarga Kaviandra. Ini gila??? Aku tak membawa alat bantu apapun. Hanya bisa mengandalkan fisikku saja. Sherin kau pasti bisa" banyak sekali pertanyaan yang memenuhi otakku. Kankah aku masuk ke dalam perangkap musuhku kali ini???

__ADS_1


__ADS_2