Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Akhirnya Menjadi Sahabat


__ADS_3

Perlahan kubuka mata. Tempat yang sangat asing bahkan ini bukan rumah sakit. Ruangan kamar yang luas dan bernuansa hijau putih, sungguh sangat nyaman dan menyejukkan.


"Ahh.. kepalaku", kataku berusaha bangun dari tempat tidur.


"Aku harus pulang. Apapun yang terjadi takkan ku biarkan mereka mengambil apapun milik Mama dan nenekku" pikirku geram.


"Ya Allah, beri hambaMu ini kekuatan", doaku dalam hati.


Akupun berjalan keluar kamar setelah kubereskan barang-barangku. Kreekkk.. Tak ku lihat siapapun di rumah ini. "Siapa yang sudah menolongku?", tanyaku penasaran. Ku turuni tangga perlahan sambil ku cari si empunya rumah. "Permisi, apa ada orang??, Nyonya... Tuan..." panggil ku.


Kudengar derap langkah kaki mendekat.


"Kau sudah bangun??" tanyanya lembut. Astaga, suara ini sungguh tidak asing bagiku. Ku balikkan badan dan betapa kagetnya diriku. Dia lagi. "Omm Tentara..." batinku.


"Kau sudah baikan??" tanyanya lagi.


"Sudah mendingan Om, maksudku Kak" jawabku terbata-bata.


"Sudah kubuatkan makanan. Makanlah dulu!!" pintanya.


"Ndak usah kak, saya langsung pulang saja" kataku menolak. Kruukkk..


"Jangan menolak. Pasti kamu lapar. Cacing di perutmu aja sudah mulai berontak. ha ha ha" katanya tertawa


"Ah sial kenapa juga perutku bunyi" batinku.


"Ha ha ha mereka cuma lagi konser kok kak. Kalau begitu terima kasih saya pamit dulu" kataku malu dan rasanya ingin segera pergi dari sini.


"Sherin... Aku tak bisa membiarkanmu pergi dengan perut kosong. jadi makanlah dulu!!" pintanya kali ini tak bisa kutolak.


"Mmm.. baiklah kak. Maaf merepotkan kakak sekali lagi" kataku tak enak.


"Tidak merepotkan kok tapi suatu saat aku akan memintanya kembali" katanya mengangetkanku.

__ADS_1


"Ha..." kataku tak mengerti.


"Bercanda. Sudah makanlah!!" pintanya.


Ku lihat begitu banyak makanan di meja makan. Aku masih menunggu keluarganya yang akan ikut makan bersama. Karena tak mungkin jika lauk segini banyaknya hanya untukku.


"Kok masih bengong. Ayo makan!!" pintanya.


"Bukankah kita harus menunggu keluargamu dulu kak?" tanyaku.


"Ohhh. Makanlah dulu. Ayah ibuku sedang keluar kota. Lagi honeymoon ha ha ha" katanya menggoda.


"Gila ya ni orang. Gue aja masih dibawah umur pakek acara ngomong honeymoon segala" jeritku dalam hati dan membuatku canggung.


"Kak Rey gak ikut makan?" tanyaku memecah kesunyian.


"Aku sudah kenyang kok. Dihabiskan aja lauknya. Kata dokter kamu kekurangan gizi. Bukankah kamu masih dalam masa pertumbuhan, jadi makanlah yang banyak. Anggap saja rumah sendiri. Jangan malu-malu" katanya cerewet.


"Memangnya aku gentong apa. Makanan sebanyak ini disuruh habisin" gerutuku kesal tapi perut tak bisa bohong hampir semua yang tersaji habisku makan ha ha ha.


"Nggak pa pa kak. Aku gak akan malu-malu mumpung bisa makan enak pasti kuhabiskan" kataku sambil menyendok nasi kedalam mulutku tapi sebelum makan aku berdoa dulu.


"O ya. Kenapa kemarin kamu pingsan di jalan? Untung aja gak kenapa-kenapa" tanyanya.


Aku hanya mengernyitkan dahi tak percaya dia mengikutiku.


"Apa kamu baru diputusin pacar kamu trus kayak orang frustasi jalan gak jelas gitu??".


"sejak kapan dia memata mataiku" batinku.


"huk huk" aku tersedak.


"Minum dulu" dia memberiku segelas air sambil menepuk punggungku. "Kamu gak pa pa?". Aku mengangguk dan secepatnya menyelesaikan makanku.

__ADS_1


Setelah lama kami saling berdebat. Akhirnya aku dibolehkan membersihkan dan mencuci piring kotor tapi dengan syarat dia juga membantu. Saat mencuci piring tanpa sengaja tangan kami saling bersentuhan. Degg... "perasaan apa ini, kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Aku tak pernah merasa seperti ini. Apa aku masih belum sehat" pikirku. Kami pun saling menjauhkan diri.


"Kenapa pipimu merah? Apa kamu masih belum sehat?" tanyanya khawatir.


"Nggak. Alhamdulillah sudah sehat kok kak Rey. Aku sudah selesai. Aku pulang dulu ya kak. Terima kasih atas segala bantuannya. Assalamu'alaikum".


Aku segera berlari tanpa melihat ke arahnya. Dan dari tadi hanya berputar-putar di rumah ini. "Sial. Dimana pintu keluarnya?" kataku kesal.


"Kamu mencari pintu keluar ya?". tanyanya mengejek.


"Rumahku ini desainnya unik jadi pintu keluar tidak seperti rumah lainnya" katanya sekali lagi.


"Kak Rey bisa tunjukkan dimana pintunya?" pintaku.


"Kenapa buru-buru?, istirahat dulu saja disini!!" ajaknya.


"Orang ini, apakah dia mesum???" batinku menerka.


"Aku harus pulang kak, nanti dicari papa mamaku?" rengekku. Padahal mau pulang atau menghilang pun gak akan ada yang mencari. Nasib oh nasib.


"Biar aku antarkan!! lewat sini." katanya sambil menekan tombol kecil di sudut rak buku. "Benar-benar tidak kuduga rumah ini memakai pintu rahasia ck ck ck" pikirku tak percaya.


"Terima kasih kak Rey. Lain waktu akan kubalas kebaikan kakak. Sekali lagi terima kasih" kataku sopan. "Assalamu'alaikum". "Wa'alaikumsalam" Jawabnya.


Tanpa sengaja aku menabrak seseorang di luar rumahnya lagi dan lagi BRUKKK...


SHERIN :


OHHH.. AUTHOR YANG MANIS, KENAPA DIRIMU SELALU MEMBUATKU TERJATUH ATAU MENABRAK SESEORANG 😂😂😂


JUMINTEN LELAH...


AUTHOR :

__ADS_1


TAPI ENAK KAN ??? NIKMATI AJA!!! 😄😄


Kutipan : "Setelah lapar ada kenyang, setelah dahaga datang kesegaran, setelah sakit ada kesembuhan, setelah miskin datang kekayaan. Kesedihan selalu dibarengi dengan kebahagiaan. Ini semua adalah sunnatullah".


__ADS_2