
Siang Hari di Kediaman Wiryoatmadja
"Woammmmmm.... ahhhh.... akhirnya bisa tidur dengan tenang. Gak ada pengganggu atau perusuh lagi. Saatnya beraksi...." ucapku meregangkan badan setelah dari pagi ditindas para kyubi itu ha ha ha...
"Saatnya menyamar...." kataku segera berganti pakaian dengan kostum pengantar makanan.
Sepuluh menit waktu untuk bersiap-siap. Kusiapkan semua peralatan yang dibutuhkan ke dalam tas punggungku. Sudah tak ada waktu lagi, Kali ini aku memang harus pergi ketempat yang seharusnya kudatangi sejak lama.
Kutuliskan sebuah note dan kutinggalkan di meja samping tempat tidurku agar mereka tak cemas apalagi repot-repot mencariku.
"Papa bibi sampai jumpa lagi nanti malam... Biarkan kali ini aku bersenang-senang dulu oke..... he he he" pamitku dengan suara pelan tersenyum lebar melarikan diri dengan melompat melalui jendela kamar.
Meskipun kamarku ada dilantai dua tapi dengan kemampuanku kalau hanya untuk melarikan diri tanpa penjagaan tentu saja sangat mudah.
BRUKKK..... Plash plash plash....
"Akhirnya, bye bye semuanya....." ucapku segera bergegas pergi keluar rumah.
Dengan memakai masker dan topi aku berjalan ke pintu gerbang utama dengan sangat hati-hati. Sesekali melihat keadaaan dirumah ini. Ternyata semua sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahanku. Bukan hanya itu saja, biarpun ini bukan daerah kekuasaan Papa tapi dengan adanya Papa tingkat pengamanannya jadi lebih ketat.
"Huhhh.... dasarnya Papa. Kerumah anaknya aja pake dikawal bodyguard segini banyaknya. Ternyata yang diomongin ada disitu Kwikikwikkkkiii" ejekku.
Papa dengan gagahnya memayungi bibi Fang yang menjual es dawet dengan blangkon sangat kacau dengan bentuk wajahnya yang bulat. Mau tertawa takut dosa. Tapi adegan ini benar-benar sangat lucu. Apalagi melihat tampang Papa yang garang berubah drastis udah kayak pak Raden keringetan.
"Ha ha ha... bokap gue ampun dah kalau nggak ingat mau pergi udah aku kerjain tuh mereka" batinku menahan tawa.
"Dek dek..... kemari!!!" panggil kak Long kepadaku dengan lembut.
"Gawat, apa aku ketahuan????" batinku menerka. Rasa sangat tegang dan ketakutan yang begitu besar menghantui diriku.
"Saya Tuan???" jawabku dengan suara berbeda. Untungnya aku sudah memasang alat pengganti suara sebelumnya.
"Iya kamu. Kemari, jangan takut" jawab kak Long membuat badan gemetar.
Kudekati mereka dengan hati-hati. Raut wajah Papa terlihat sangat ramah menyapaku begitu juga dengan bibi Fang yang terlihat sangat imut mengenakan kebaya berkonde. Maklum saja baru kali ini aku melihat bibi berdandan adat Jawa, karena bibi Fang sebenarnya keturunan Indo China Jerman. Jadi bisa dibayangkan kan, lucunya bagaimana.
"Nak... beli dawetnya dulu sebelum pergi....." ucap bibi membuatku tertawa geli.
"Dawetnya sueeger manis eunakkk lohhh...." sahut Papa begitu fasihnya. Kalau orang Jawa ngomongnya medhok.
"Huaahahaahha....." tawaku dalam hati. Hampir saja lepas kendali.
"Njihhhh (iya), maaf Tuan Nyonya tapi bisakah dibungkus saja, soalnya saya sudah ditunggu bos. Takut dimarahi. Ehhhh.... Kalau bisa dibungkus 5 ya, sekalian buat temen-teman" kataku sangat lembut tersipu malu sembari memberikan uang dari genting yang sudah disiapkan.
Semua mata saling menatap heran. Mereka pada kebingungan dengan permintaanku.
"Nggak bisa ya Tuan Nyonya...." tandasku sekali lagi dengan wajah sedih. Dengan dandanan seperti ini kemungkinan besar orang orang akan bersimpati kepadaku. Beruntung sekali masih bisa menemukan seragam cafe tempat kerjaku dulu yang sudah sangat lusuh.
"Ahhhh.... bisa bisa. Tunggu sebentar!!! Long ambilkan gelas cup cepat!!!" jawab bibi Fang secepat kilat.
"Anak ini....." gumam kak Long menatapku kesal.
"Nak, kelihatannya umurmu masih sangat muda. Apa kamu tidak sekolah kok malah jadi pengantar makanan. Dan kenapa kau memakai masker terus???" tanya Papa menyelidik.
"Dasar Papa suka kepo masalah orang he he he....." batinku memang niat mengerjai mereka.
Bagaimana ekspresi mereka jika tau aku anaknya bisa dihajar habis-habisan. Kak Long datang dengan gelas cup dan masih menatapku kesal.
"Huks... oh maaf tuan bukan karena tak sopan tapi saya agak kurang enak badan. Kebetulan sudah mau lulus Tuan tinggal ambil ijazah dan perpisahan. Jika saya tidak bekerja bagaimana saya, dan keempat saudara saya makan. Apalagi saya juga harus membayar uang ijazah dan lainnya Hiks hiks... ibu saya sudah meninggal dan Papa saya mau menikah lagi hiks hiks hiks.... Papa sebenarnya sangat kaya tapi dengan sadisnya menelantarkan kami. Tuan, saya makan pun hanya sekali dalam sehari itupun kalau ada kalau nggak ada saya minum air kran seperti dulu waktu tinggal dirumah Papa" jawabku pura-pura sedih mengenang saat diculik Papa sampai kelaparan berhari-hari.
"Kurang ajar banget tu Papa kamu. Lihat saja nanti saya suruh orang buat hajar tu Papa kamu yang nggak tau diri" teriak Papa marah termakan kata-kataku.
"Hnn... Papa memang tak tau diri dan tak berperasaan. Terima kasih Tuan. Tuan sungguh baik hati mau bantu menghajar Papa saya. Saya sangat mendukung sekali. Kapan Tuan bisa menghajarnya" ucapku terkekeh dalam hati begitu tak sabar.
"Secepatnya. Om tidak menyangka hidupmu sangat Kasihan sekali. Jangan sedih lagi. Kalau butuh bantuan Om dan Tante selalu ada buat kamu. Jangan sungkan. Kamu mengingatkan Om dengan Putri Om. Dia dulu juga sangat menderita bedanya dia anak yang keras kepala, jail dan tak suka dibilangin tapi dia sangat kuat. Tapi Kamu begitu lemah, sangat lembut, pekerja keras dan anak yang baik. Suatu saat kamu pasti berhasil. Jangan menyerah" ucap Papa malah menjelekkanku tanpa sadar. Aku hanya memasang wajah polos tertindas.
"Helllo.... Pahhh.... aku Sherin Pah.... Jangan ngatain gitu juga kali.... usil usil gini juga darah dagingmu" jeritku dalam hati gantian kesal.
"Terima kasih Tuan Nyonya. Saya akan dengar nasehat Anda" jawabku tertunduk menahan tawa liat ekspresi Papa yang terbilang langka.
"Nak, ini dawetnya ada 5 cup buatmu dan temenmu" kata bibi Fang dengan pandangan tak tega. Segera kuambil es dawet yang sudah terbungkus rapi dan berbalik arah pergi.
"Tunggu nak. Long kemarikan dompetmu!!!" pinta bibi Fang dengan tatapan garangnya.
"Buat apa Ma??" jawab kak Long penuh tanda tanya mengeluarkan dompet dari sakunya.
"Udah kemarikan saja, jangan banyak tanya" kata bibi sangat tegas merebut dompet kak Long. Rasanya mau ketawa diatas penderitaan kakakku itu.
"Ma.... Mama.... itu kan...." protes kak Long semakin menatapku kesal. Bibi Fang mengeluarkan segepok uang lembaran merah dari dalam kantong harta Karun milik Kak Long.
"Sssuuttttt.... Nak, ini buat kamu. Tante nggak mau ditolak. Bawa aja uang ini, gunakan seperlunya" kata bibi tak terduga memberiku uang yang terbilang sangat banyak. Hampir 3 juta. Kebiasaan kak Long selalu ready uang cash di dompet bahkan sangat tebal.
"Woahhhhh.... Nyonya tentu saja saya tak menolak. Syukur syukur.... terima kasih Tuan Nyonya saya tak malu malu lagi. Saya ambil semuanya. Terima kasih. Saya pamit dulu" ucapku begitu senang mendapatkan uang saku dari aksi melarikan diri kali ini. Aku segera bergegas keluar dari rumah besar ini. Untungnya pemilik motor yang kusewa sudah siap di luar.
"Ha ha ha..... Gila bibi Fang ngerampok uang anaknya buat penipu sepertiku ha ha ha.... Lumayan dapet es dawet juga dapet si merah. Sherin Sherin Dasar kau mata duitan...." ucapku begitu senang bergegas keluar menemui pemilik rental motor yang sudah menunggu cukup lama.
"Nona kecil.... he he he" ucapnya dengan raut ketakutan. Roman romannya ada yang tak beres nih.
"Kenapa kau begitu ketakutan melihatku. Katakan atau aku pukul kau" ancamku garang.
"Tarammmm.... he he he nona kecil pesananmu sudah datang. Motor klasik dengan sejuta kenangan" katanya tanpa dosa memberiku motor bebek tahun 70an.
"Hahhh.... ini??? Apa kau bercanda denganku. Kuhajar juga kau...." kataku mengunci tangannya kasar.
"Ampun nona.... Nona.... sakit.... hanya ada motor ini yang tersisa.... Inipun motor kesayanganku. Tweetyku hiks hiks hiks kalau bukan nona kecil yang meminjamnya, aku juga tak mau mengeluarkannya hiks hiks tweety.... Maafkan pacarmu ini..... Tweety....." katanya memberi alasan menangis begitu manja meratapi pacarnya berwujud motor berwarna pink dengan aksesoris begitu norak. Kalau bukan keadaan kepepet ogah juga naik ni motor. Segera kulepaskan cengkeramanku.
"Jangan cengeng.... Mana kuncinya. Tweetymu akan aman bersamaku" kataku meyakinkan. Dengan berat hati Soni akhirnya menyerahkan kuncinya setelah aksi tarik menarik.
"Mana helmnya.... Minggir.... Nyawaku kali ini dipertaruhkan. Es dawet ini buatmu. Dan ingat tutup mulutmu rapat-rapat kalau tak mau kugantung dimonas. Kau mengerti.... Awas...." ancamku segera menghidupkan mesin motor dan bergegas kabur.
Brummmm brummm........... troktok tok tok.....
"Astaga motor ini suaranyapun membuatku geli hahahahhhh...." keluhku.
"Tapi nona....." kutatap tajam pemilik motor tadi sampai ketakutan.
Kediaman Gunanto
"Rey, mau kemana kamu???" tanya ibu agak marah.
"Sialan malah ketauan Ibu. Sherin kau mau kabur lagi. Dasar anak itu. Gak bisa diem dirumah barang sehari. Tunggulah aku akan menangkapmu" batinku kesal.
"Mau keluar sebentar Bu, cari camilan" jawabku mencari alasan.
"Mang kesini!!! Belikan Aden Rey camilan" kata ibu berinisiatif lebih dulu.
"Baik Nyonya"
"Bu, biar Rey aja Lagian mang Asep juga lagi sibuk. Rey nggak lama kok" ucapku sambil menatap tajam mang Asep yang tertunduk takut.
"Nggak bisa. Masuk kamar!!!" kata ibu sangat tegas.
"Ahhh.... Camilannya nggak jadi mang. Udah nggak mood makan" jawabku lesu segera ke kamar.
"Ibu emang. Liat aja aku juga bisa kabur. Coba aja tangkap aku kalau bisa" kataku segera mengambil topi dan masker keluar lewat jendela kamar dan mengendap-endap keluar. Untungnya tak ada yang mengenali.
"Rey mau kemana???" tanya Rian tanpa kusadari malah berdiri didepanku.
"Ehmm... Mau beli camilan kak... Kak pinjem motornya bentar" kataku menatap Rian senang. Waktunya sangat pas. Kuharap dia bisa membantuku kali ini.
"Beliin minuman soda sama camilan lain buat Nia juga ya. Ni helmnya" kata Rian dengan mudahnya dan tanpa curiga.
"Tenang aja. Keburu-buru nggak nih" tanyaku penuh arti.
"Nggak kok santai aja. Tapi jangan lama juga. Ya udah aku masuk duluan" pamit kak Rian.
Aku segera naik motor kak Rian dan bersiap mengejar buruanku.
"Reynannnnnnnn............" teriakan ibu sangat marah seperti amukan singa betina lapar.
"Huks..... Ketauan deh. Cabuttttt....." kataku segera menstarter motor dan pergi.
30 menit kemudian di Lapas Wanita
Kunjunganku ke dua di lapas wanita ini. Entah dia sudah menyadari kesalahannya atau semakin membenciku. Tubuh yang dulunya cantik dan terawat kini berubah kusam dan terlihat tua tak bertenaga dengan bekas bekas luka disudut bibirnya. Ternyata kehidupannya disini sangat menderita.
"Mau apa kau kesini???" tanyanya begitu kasar.
"Hanya untuk menyapa mantan kakakku. Terimalah.... itu dari Om Armanto" Jelasku menyodorkan sepucuk surat juga sedikit makanan dan uang yang sudah kusiapkan.
"Buang saja. Aku tak membutuhkan belas kasihan dari orang yang sudah menelantarkan Mama dan aku" jawab Adira acuh.
"Baiklah jika kau tak mau terima aku tak bisa memaksa. Yahhh... aku sudah berbaik hati mengantarnya untukmu" kataku sangat santai.
"Hyaaa.... kau pikir kau siapa??? Dewi penolong????" teriaknya menggebrak meja hampir lepas kendali.
"Tahanan kau bisa diam tidak jangan buat keributan. Nona waktu berkunjungmu 10 menit lagi" ucap petugas lapas.
"Pergilah.... Kubilang pergi.... Aku tak butuh simpatimu. Jangan datang lagi kemari..." teriak Adira mengusirku dan berbalik arah menuju selnya.
"Apa kau tak mau melihat keadaan Mamamu????" teriakku membuat kakinya tertahan.
"Sherinn.... kau benar-benar brengsek. Katakan apa maumu" ucapnya kembali mendekat kearahku.
"Tak ada. Aku kemari hanya menjengukmu. Meskipun dulu kau sangat kejam, tapi kuharap dengan kau berada disel ini kau bisa menyadari kesalahan dan menebus dosamu. Ini foto Mamamu. Kau bisa menyimpannya. Lihatlah bagaimana dia berusaha keras untuk hidup. Tak kusangka, kau yang masih hidup dan sehat menyerah begitu saja" Jelasku menyodorkan amplop coklat berisi foto Om Armanto yang dengan setianya merawat Tante deasyna yang mulai membaik dan sudah bisa membuka matanya.
"Mama....." ucapan yang keluar begitu berat dan air matanya jatuh begitu saja.
"Adira, kau harus bertahan. Tebuslah dosamu disini dan kembalilah bersama mereka dengan bahagia. Om Armanto sangat mencintai kalian. Meskipun sangat kasar di mulut tapi dalam hatinya hanya ada dirimu dan Mamamu. Kau percaya atau tidak tapi itulah kenyataannya. Makanan inipun Papamu yang membuat dengan tangannya sendiri. Baiklah.... Tugasku sudah selesai. Kau bisa tenang sekarang. Aku takkan mengganggumu lagi. Aku akan menikah besok. Tak ada maksud apapun hanya memberitahumu saja karena bagaimanapun juga kita pernah jadi saudara. Masuklah" kataku segera beranjak pergi.
"Sherin.... Maaf.... Semoga kau bahagia bersamanya.... Terima kasih adikku" ucapannya begitu tulus sampai tak terasa air mataku mengalir. Aku berbalik dan tersenyum kearahnya. Menatap Adira kakakku memasuki sel tahanannya kembali.
"Hahhh... kenapa aku bisa secengengeng ini ketika dia memanggilku adik. Aahhh..... semoga kau bahagia juga kakak...." kataku lirih menyeka air mataku dan berbalik ke lapas wanita khusus pidana berat.
Flashback
"Sherin ini semua laporan tentang perusahaan bulan ini. Dan ini aset yang kusita dari grup Prakasa waktu itu" jelas Om Armanto.
"Baiklah. Aku akan memeriksanya nanti. Kirim saja ke emailku. Oh ya Om... masalah perusahaan sudah teratasi dengan baik. Apa kau tak mau berlibur. Aku bisa menyiapkan semuanya" kataku melihat tatapan lesu Om Armanto.
"Terima kasih nak. Kau memang sangat perhatian. Maaf kalau selama ini kami terlalu jahat padamu" ucap Om Armanto tertunduk penuh penyesalan. Aku hanya diam dan mendengarkan dengan seksama.
"Bagiku hanya satu yang bisa membuatku bahagia, yaitu deasyna segera pulih. Dan Adira selesai menebus dosanya. Aku akan menunggu dengan sabar" lanjutnya menatap rantang berisi makanan.
"Kenapa kau tak mengunjungi anakmu saja. Dia pasti senang" kataku lembut.
"Dia membenciku. Hahhhh.... ini hukuman untukku karena tak bisa menjaganya dengan baik" ucap Om Armanto dengan nafas berat.
"Makanan ini untuknya" tanyaku menerka. Om hanya mengangguk. Aku sudah tau duduk permasalahannya.
"Baiklah. Aku akan memberikan ini padanya. Kau tenang saja. Jika kali ini aku berhasil sering seringlah mengunjunginya. Oh ya Om, untuk masalah yayasan untuk anak yatim, dan orang tua bagaimana sudah beres semua" tanyaku singkat karena waktuku tak banyak.
"Jangan khawatir. Semua beres dan perusahaan kita sudah menyumbangkan keuntungannya ke lebih dari 250 panti asuhan yang tersebar di seluruh Indonesia. Dan juga yayasan yang didirikan untuk manula juga sudah mencapai 80%. Nenekmu pasti bangga padamu. Terima kasih Sherin semoga kau bahagia dan sehat selalu" kata Om Armanto terdengar tulus.
"Kau juga Om... semoga kau bisa membuka lembaran baru dan hidup bahagia bersama mereka..."
Flashback off
Kali ini langkah kakiku tertuju ke tempat yang paling aku benci. Bahkan untuk menemuinyapun butuh kesiapan mental. Wanita yang sangat kejam hanya karena urusan pria saja, dia tak segan membunuh semua saingannya. kegilaannya sama persis dengan adiknya. Licik, tak kenal ampun bahkan sangat gila. Cuma bedanya adiknya masih sedikit waras kalau kakaknya gilanya kebangetan.
"Ha ha ha..... ternyata rubah ini yang ingin bertemu denganku. Kukira siapa???" tawanya mengejek.
"Wahhhh..... tak kusangka aku bisa seberuntung ini melihat wanita yang dulunya sangat cantik sekarang berubah keriput hanya dalam tiga bulan terakhir hehh....." ejekku gantian.
"Sialan kau sherin... tutup mulutmu. Kalau tidak kucabik cabik tubuhmu untuk makanan anjingku.... Dasar kau brengsek...." teriaknya begitu marah.
"Sudahlah.... aku kemari bukan untuk bertengkar denganmu. Hanya saja aku ingin memberitahumu kabar gembira. Donita.... lelaki yang kau puja akan menikah denganku besok he he he.... apa kau tak mau mengucapkan selamat padaku" ucapku tersenyum penuh kemenangan.
"Sherin dasar kau jalang... Sialan kau.... akan kubunuh kau jika kau berani menikah dengannya.... Adikku tak akan tinggal diam. Sherinnn dasar kau ****..... Reynan cuma milikku.... Kau tak pantas. Hanya aku yang akan menjadi nyonya Gunanto..... hyaaaaa.... lepaskan aku" teriak Donita menggila tanpa terkendali.
"Kau bisa tenang tidak. Tahanan sepertimu memang harus dapat hukuman tambahan. Diamlah....." teriak penjaga lapas sampai kewalahan menenangkannya.
"Ha ha ha.... Donita ternyata kau belum berubah. Kau menggila hanya karena Reynan tak menyukaimu. Bahkan memandangku saja tak mau. Adikmu, Raka oh bukan Kaviandra yang kau gadang-gadang menghancurkan keluargaku atau Presdir Joviantoro??? Hemmmm.... Dengarkan aku, adikmu sekarang menjalani perawatan dirumah sakit jiwa. Aku yang mengirimnya. Ayah dan sekutumu si Roy mereka sudah ada dibalik jeruji sama sepertimu" kataku cukup membuatnya menggila sekali lagi.
"Tak mungkin.... Kau pasti bohong.... Dasar kau penipu, jalang murahan.... Adikku tak mungkin gila. Dia anak yang jenius.... Sherinnnnnnnnnnnn.... Dasar brengsek.... kau apakan adikku..... Hyaaaa..... Lepaskan aku!!!! Aku harus bertemu Raka dan ayah.... lepaskan aku...." teriak Donita meracau bahkan meronta-ronta seperti orang gila sampai dipegangi kedua penjaga lapas.
"Panggil petugas lainnya cepat. Nona silahkan anda pergi waktumu sudah habis..." teriak petugas lapas sangat kesal.
"Dah Donita..... Jangan lupa doa dan restumu untukku dan Reynan... Bye...." ejekku puas meninggalkan Donita yang menggila hebat.
"Hyaaa.... Sherinn kau brengsek.... mati saja kau..... Kau tak boleh merebut Reynan dariku....." teriaknya masih saja tak terima.
"Huahahhahhaha.... puasnya melihat nenek Lampir meronta-ronta seperti orang gila. Keluarganya memang berkelainan mental semua kalau sudah berurusan dengan cinta. Ckckck....." gumamku segera melajukan motor ke rumah sakit jiwa.
Tak lama hanya butuh waktu setengah jam.
"Sereti????" panggilku tak percaya.
"Nona Liliana...." panggilnya sama herannya denganku. Kamipun berbicara ditaman.
"Nona.... syukurlah. Maaf aku dan ayah tak sempat pamit waktu itu. Terima kasih karena sudah menyelamatkan dan menjaga kami" katanya sangat sopan berbeda saat dia membangkang waktu itu.
"Sama sama. Semua baik-baik saja kan??? Kenapa kau kemari atau jangan jangan kau sudah bersamanya" kataku menerka sendiri.
"Benar Nona. Memang kami tak bisa menyembunyikan sesuatu darimu" jawabnya sedikit takut.
"Selamat..... Akhirnya kau bisa memenangkan hatinya juga. Selamat Sereti...." kataku senang memeluknya.
"Anda tak marah nona???" tanyanya menatapku serius.
"Marah???? Ha ha ha kau ada ada saja. Kenapa aku harus marah. Pokoknya selamat dan terima kasih sudah menjaganya. Biar Bagaimanapun Raka adalah temanku. Baiklah aku mau menemuinya kau mau ikut" ajakku segera bangkit dari kursi taman.
"Aku akan menyusul nanti... Nona terima kasih.... Selamat atas pernikahanmu juga. Ayah dan aku akan datang besok... " ucapnya berjalan kearah kantin.
"Hehhh... akhirnya mereka yang jahat bisa berubah baik hanya dengan kasih sayang. Ternyata manusia tak ada yang jahat hanya saja mereka tak bisa mengendalikan nafsunya sehingga menjadi jahat dan kejam" selorohku berdasar pengalaman yang kulalui.
"Raka..." panggilku pada seorang laki-laki yang sangat berbeda dari sebelumnya. Wajahnya tampak lesu, pucat dan penuh tatapan kosong.
"Sherinn...." jawabnya dari bangku putih panjang di koridor rumah sakit jiwa ini.
"Ini white chocolate kesukaanmu.... Makanlah. Bukankah coklat ini bisa menenangkanmu" kataku lembut menyodorkan tumpukan coklat putih kesukaannya.
"Sherin.... Kenapa kau begitu baik padaku setelah apa yang kulakukan..." ucapnya dengan wajah sendu.
"Heyyy... kenapa kau bilang begitu. Kau Raka, laki-laki yang baik tapi hanya sedikit sakit He he he..... Mungkin juga caramu yang salah. Tapi aku sangat yakin kau bisa mengatasinya dengan baik. Raka, sebagai temanmu aku sangat berharap kau bahagia. Lupakanlah masa kelam yang begitu kejam. Bangkitlah!!! hemm... Kau dan Sereti pasti bahagia. Aku menunggu saat saat dimana kita bersaing secara adil seperti dulu. Hahhhh.... kuatlah teman!!!" kataku menghela nafas berat seperti menahan tangis.
"Terima kasih teman. Aku menerima tantanganmu. Aku pasti bahagia. Aku pasti kembali menjadi Raka yang lebih baik lagi. Maafkan juga kakakku. Sherin.... Selamat atas pernikahanmu dan semoga kau bahagia dengan tentara imut itu. Jika dia menyakitimu datanglah kepadaku sebagai teman aku akan menghajarnya untukmu. Ciayooo...." teriaknya lantang dengan senyum mengembang. Begitupun sebaliknya, Akupun tersenyum manis kearahnya dan segera pergi. Ada lagi satu tempat yang harus kukunjungi.
"Selamat tinggal cinta pertamaku.... Kau harus bahagia...."
Di Parkiran Rumah Sakit Jiwa
"Hahhhh.... leganya.... Aaaahhhh....." ucapku meregangkan badan dengan menaikkan tanganku keatas kepala. Tiba-tiba ada tangan kekar yang menahannya.
"Sudah selesai mengunjungi kekasihmu???" suara ini, pertanyaan ini membuatku merinding.
"Hahhhhh...." ucapku dengan mulut menganga saking terkejutnya.
"Bagaimana lelaki ini bisa disini, sejak kapan, mengapa, buat apa????" banyak sekali pertanyaan dibenakku.
"Apa kau terkejut sayank??? Kali ini kau tertangkap basah" ejeknya membuatku selangkah mundur.
"Hey hey hey.... Lihatlah istriku berani selingkuh sebelum hari pernikahan. Apakah aku harus menghukummu??? Ohhhh betapa malangnya diriku.... Sampai saat ini istriku belum pernah memberiku hadiah tapi dia malah memberikan bertumpuk-tumpuk coklat putih pada laki-laki itu...." teriaknya menggila. Pantaskah aku memasukkannya ke rumah sakit jiwa ini Kali ini.
"Orang ini sudah gila"
"Pasiennya ada yang kabur tuh"
"Ganteng ganteng kok gila"
"Cinta memang membuat siapapun menjadi gila" celoteh orang-orang menatap kak Rey.
"Ckckck.... Nona sebaiknya kau memeriksakannya mumpung masih belum terlambat" pinta seorang ibu-ibu setengah baya membuatku tersenyum kecut.
"Sayank aku memang gila.... Aku menjadi gila.... Gila karena memikirkanmu.... Rasanya sangat sesak... sungguh.... Sayank.... aku begitu patah hati..... Mong Mong..... Cintaku.... Ahhhh.... kenapa aku harus melalui penderitaan cinta yang tak berujung ini.... Selamatkan aku sayank...." celoteh kak Rey dengan sengaja membuatku malu.
"Ha ha ha... maaf maaf... suami saya memang agak konslet sedikit. Kami kemari hanya menebus obat. Maaf maaf karena telah mengganggu kalian" kataku sangat malu.
"Kakak hentikan.... Ayo kita pulang!!!" kataku langsung menarik tangannya.
"Sayank, bagaimana hukumannya apa masih kurang???" bisiknya semakin membuatku shock.
"Siapapun tolong aku..... Gadis ini sudah menyiksaku dengan cintanya..... mmmmmppppp" kutahan mulut cerewet kak Rey dengan tanganku.
"Astaga apa urat malunya sudah putus. Kenapa harus bertemu dia lagi.... Arghhhhh....." jeritku rasanya ingin menangis dan tertawa bahkan menjadi lebih gila darinya.
Kutarik paksa tangannya supaya segera naik ke motor sport yang dia bawa. Tanpa henti kak Rey masih berceloteh semakin gila. Mau tak mau aku bergegas pergi dari sini dan mengemudikannya dengan menahan rasa malu.
"Mong Mong... aku mencintaimu...." teriaknya lebih parah lagi.
"Thor keluar kau..... Sungguh kejamnya dirimu. Kau sengaja membuatku yang menjadi gila kali ini. Hyaaa Thor..... Mana ada tentara bucinnya tingkat akut melebihi orang gila...... Hyaaa...... Thor Thor keluar......."
"Kak Rey tutuplah mulutmu.... Kita sudah jauh dari RSJ" ejekku kesal.
"Bagaimana actingku. Apa kau menyukainya??" tanyanya seperti anak kecil.
"Sangat... Sangat bagus sampai aku ingin membunuhmu" jawabku kesal. Kuyakin dia sekarang tersenyum penuh kemenangan.
"Hyaaa kakak jangan cari kesempatan juga kali. Lepaskan tanganmu dari pinggangku.... Kak Rey.... Geli... Hyaaa kita bisa jatuh dari motor.... hyaaa kakak....." teriakku sangat geli ketika dia melingkarkan tangannya dipinggangku.
"Kalau begini...." Dengan sengaja kak Rey menyandarkan kepalanya di pundakku. Oh Tuhan bagaimana aku menyetir motor ini dengan benar. Hahhh.... Dimana dulu aku memungut laki-laki seperti ini.
"Sayank.... aku mencintaimu" bisiknya sangat lembut seperti ada angin puyuh yang masuk ke telingaku membuat geli dan juga merinding disko.
"Hyaaa... jangan berbisik ditelingaku geli...."
"Sumpah demi apa mau kulempar juga ni orang biar tau rasa" umpatku dalam hati sangat kesal.
"Kenapa kau berhenti???" tanyanya heran.
"Kau saja yang didepan. Aku masih sayang nyawaku" pintaku hendak turun tapi dicegahnya.
__ADS_1
"Kau yang didepan. Ini perintah" jawabnya seenaknya.
"Kakak...."
"Hnnnn.... ayo lajukan lagi motornya. Aku ingin berkendara denganmu. Hanya berdua" katanya lebih tak tau malu lagi. Segera kulajukan motornya sekali lagi memecah padatnya kota Jakarta disore hari.
"Kak Rey hentikan. Jangan pegangan padaku. Ini sangat geli.... Aku menyerah...."
"Baiklah... bagaimana kalau begini???" katanya memindahkan pegangannya di kedua pundakku.
"Ha ha ha... Astaga..... Kakak ini lebih geli lagi lepaskan.... Pegang bamper belakang saja" pintaku memaksa.
"Tak mau. Aku lebih suka seperti ini" katanya sekali lagi melingkarkan tangannya dipinggangku dan lebih parahnya menyandarkan kepalanya dipunggung kecilku.
"Astaga.... Kakak.... apa kau tak malu. Lihatlah banyak orang melihat kearah kita" kataku menahan malu dan geli berbarengan sekali lagi.
"Peduli apa dengan mereka. Dunia ini bukankah serasa milik kita berdua"
"Hehhh... trus kakak kira lainnya pada ngontrak???"
"Benar.... Kalau tak suka ya jangan lihat"
"Hahhhhh....." kuhela nafas panjang.
Kediaman Wiryoatmadja
Kitty Ludwig Taraka
"Tante......." teriakku tak percaya Sherin menghilang sehari sebelum pernikahannya.
"Kitty kenapa kau berteriak sayank???" tanya Long segera berlari ke kamar Sherin.
"Kak Long, adikmu menghilang.... Lihat ini" jawabku menyodorkan catatan yang ditinggalkan Sherin.
**Hayyyyyy.....
Siapapun kalian yang menemukan note ini berarti kalian sangat beruntung karena aku sudah melarikan diri. Jangan cemaskan aku. Khawatirkan diri kalian saja paling tidak menjauhlah dari amukan bibi Fang dan Papaku.
Kakakku tersayang siapapun kalian, biarkan aku si lemah ini bersenang-senang dulu, tak perlu cari aku. Ssuutttt.... Akan kuberi oleh oleh kalau sudah pulang. Pokoknya kepergianku ini harus dirahasiakan oke.
Sherin sayang kalian semua.**
"Anak ini memang suka cari masalah. Ternyata yang merampokku tadi adikku sendiri... huhhhh.... Aku ditipu mentah-mentah" keluh kak Long sama sekali aku tak mengerti.
"Kitty, jangan bilang Mamaku" kata kak Long tapi tak sengaja ketahuan bibi Fang yang langsung merebut note yang ditinggalkan adik bungsu.
"Apa ini???? Gadis ini benar-benar gila. Sherinnnnnnnnnnnn........." teriak bibi Fang menggelegar tak terkendali.
--------------_____________---------------
HACHIIII.... HACHIIII.....
"Mong kau terkena flu???" tanya kak Rey cemas.
"Sepertinya ada yang merindukanku he he he" kataku tersenyum penuh arti.
"Kita pulang sekarang" kataku segera melajukan motor ke arah rumah nenek.
"Mong bisakah lebih lama lagi kita bermain Berdua" tanyanya benar-benar sudah tak bisa berpikir jernih.
"Lupakan. Kak, bukankah kau nanti malam masih ada acara seserahan ke rumahku??? Apa kau mau terlambat" kataku mengingatkan.
Tak lama kamipun sampai di halte bus tempat pertama kali kami bertemu. Kuparkirkan motornya dan segera turun.
"Apa kau mengingatnya sayank??" tanya kak Rey ternyata sehati denganku. Kami tersenyum bersama.
"Mau mengenangnya lagi???"
"Jangan harap. Aku tak mau terluka lagi. Pergilah.... Sana pulang... Sana.... Jangan lagi berani menemuiku sebelum sah mengerti" pintaku memaksanya.
"Kau mengusirku lagi Mong.... Hancur hatiku..."
"Kakak....."
"Sayank.... andaikan jalan ini tiba-tiba menghilang tapi yakinlah memori tentangmu akan tetap disini. Ingatlah.... disini...." kata kata puitis sudah mulai menampakkan diri lagi. Alamat seharian juga nggak bakalan kelar kelar.
"Iya aku tahu. Sana sudah pulanglah sebelum ibumu marah kak"
"Ibuku marah bukanlah alasan tapi jika kau yang marah itulah tangisan"
"Hnnn.... aku pulang.... Dah...." pamitku segera melambaikan tangan tapi ditariknya hingga jatuh dalam dekapannya.
"Jangan melambai karena aku tak mau kau pergi, berilah aku pelukan agar hatiku terasa damai" kata-katanya oh astaga ampun dah bisa membuat nyamuk celaka. Segera kulepaskan pelukannya.
"Sampai jumpa besok. Jangan rindukan aku karena aku tak sanggup menampungnya" kataku segera berlari.
"Ahhhh... ahhhhhh jantungku.... ohh tidak gadisku mulai pintar merayuku.... Sayank.... love you..... wo ai ni..... Saranghae....." teriak kak Rey masih saja menatap kepergianku.
Waktunya pulang kerumah dan menghadapi amukan para kyubi penjaga rumah nenek. Sangat hati-hati dan mengendap-endap aku berusaha masuk kedalam.
"Bagaimana bisa seperti maling dirumah sendiri" keluhku celingak celinguk melihat keadaan.
"Sherin.... bukankah kau harus memberi penjelasan padaku???" suara kak Long menghentikan langkahku.
"Ah.... hahaha... Kakak Long.... Kau menemukanku. Kau beruntung kak.... coklat ini untukmu... sssutttt.... Jangan beritahu Papa dan bibi" pintaku sedikit menyogoknya.
"Apa kau pikir dengan sekotak coklat ini bisa menutup mulutku?? Bukankah seharusnya aku mendapat ratusan kotak coklat karena tadi kau sudah merampok uangku...." ucap kak Long yang masih saja berdiri bersandar pada dinding dengan tatapan tajam dan sangat dingin. Benar-benar kali ini ingin menindasku.
"Hahhhh.... Kakak.... Jadi kau tau itu... aku tak merampokmu tapi semua itu pemberian... pemberian bibi he he he... Kakak anggap saja itu hadiah pernikahanku bagaimana???" kataku mencoba mencari cara lepas dari penindasan ini.
"Kau sangat pintar. Bahkan kau meminta hadiah pernikahan dimuka. Apa kau tak takut aku murka???" tanyanya membuatku merinding. Langkahnya semakin dekat dan semakin dekat. Astaga jika kak Rey tau ini lagi bisa gawat besok seharian hidupku takkan tenang.
"Kak Long.... Kau mau apa???" tanyaku sedikit gentar.
"Ikut aku!!!" teriak kak Long menyeretku ke ruang keluarga.
"Papa.... Bibi..... Hayyyyyy.... senang berjumpa kalian lagi" kataku berlutut memasang muka manis tapi keadaan sangat berbanding terbalik rasanya seperti terdakwa saja.
"Sudah puas main-mainnya??" tanya bibi dengan sinar mata tajam.
"Bibi.... aku hanya bercanda. Main main ayolah.... Jangan dipermasalahkan lagi" kataku mengelak.
"Siapa tadi yang dengan berani mau menghajar Papanya???" kata Papa menyindir.
"Papa.... cup... Ini caraku menghajar Papa" Segera saja aku memeluk Papa dan mencium pipinya.
"Anak ini... Kau sangat cerdik dan licik. Udah sana Mandi, istirahat masih ada acara nanti malam" kata Papa melepaskanku begitu saja.
"Angga, kau melepasnya semudah itu??? Rumah ini saja hampir hancur diobrak-abrik besanmu tadi gara-gara mencari menantumu yang menghilang juga. Ckckck...." protes bibi tapi masih terdengar sangat jelas.
"Jadi Tante Mey ngamuk??? Dasar kak Rey, memang minta dihajar. Dikira aku sekongkol dengan anaknya kali hehhh..." keluhku kesal.
**Malam Hari di Kediaman Gunanto
Reynan Gunanto**
"Silahkan masuk..." sapa bibi Fang sangat ramah.
"Besan bagaimana kabarmu, lama tak jumpa???" sapa Om Angga memeluk Ayah.
"Tentu saja baik. Tak kusangka kita beneran bisa berbesanan. Beruntungnya anakku mendapatkan putrimu" ucap ayah senang.
"Ha ha ha kita sama sama beruntung" jawab Om Angga merendah.
Ibu masih marah saja denganku gara-gara aku melarikan diri tadi siang. Kuharap Sherin tak kena imbasnya. Ngomong ngomong baru tadi siang bertemu dengannya tapi sekarang rinduku padanya sudah setengah mati. Mau menyusup ke kamarnya juga tak semudah itu.
Prosesi demi prosesi akhirnya selesai juga. Sungguh sangat melelahkan. Benar saja kalau gadisku banyak protesnya. Mumpung masih acara keluarga jadi agak bebas, aku bisa mengendap-endap ke kamarnya.
"Adinda... kakandamu datang...." kataku penuh semangat. Tak lama hanya butuh mengelabui dua penjaga saja.
BRAKKKKK....
"Sayank.... kenapa jam segini tidur sih??? Kakandamu sudah datang loh...." kataku manja tapi tak ada sahutan.
"Mong Mong bolehkah aku tidur sebentar saja disampingmu" pintaku sekali lagi tapi tak ada sahutan hanya saja dia menggeserkan tubuhnya.
"Bolehkah aku memelukmu???" tanyaku sekali lagi mencoba lebih dekat dengannya. Melingkarkan tanganku di pinggangnya. Tak ada suara dia hanya mengangguk.
"Kenapa badannya sangat keras... Apa dia ikut gym sebelum menikah??? Otot ini????" batinku begitu penasaran meraba-raba perutnya.
"Sudah puas menjamahku???" suara laki-laki yang sangat familiar menggenggam tanganku sangat kencang rasanya tulangku hampir remuk karenanya.
"Long Yi Yan......" teriakku tak percaya. Segera saja kulepaskan tanganku dan menendangnya.
"Kau sungguh tak sabaran.... Ckckck.... jika adikku yang disini apa tidak habis kau lecehkan" ucapnya sangat marah.
"Kenapa kau bisa disini??? Dimana Sherin???" tanyaku penasaran.
"Tentu saja ditempat aman dari orang mesum sepertimu. Aku disini untuk menggantikan posisinya. Apa kau mau bercinta denganku???" ucap Long Yi Yan sungguh mengerikan.
"Astaga... Sayank apa kau mau merabaku lagi??? Kau nakal...." sengaja Long Yi Yan menggodaku dengan suara manjanya.
"Singkirkan omong kosongmu. Lebih baik aku kembali. Permisi" kataku segera keluar dari kamar Sherin. Untungnya tak ada yang lihat. Kalau sampai ketahuan entah hukuman apa lagi yang diberikan ibu.
Malam ini aku harus puas tanpa memandang wajahnya. Tapi besok jangan harap dia bisa lari dari genggamanku.
"Kalau begitu kami pulang dulu. Tolong jaga menantu kami dengan baik. Besan sampai jumpa besok" kata ibu pamit. Begitu juga dengan ayah diikuti rombongan keluarga ayah dan ibu.
"Rey, calonmu sangat cantik ya..." kata bibi Lani.
"Darimana bibi tau, orangnya aja nggak ada" tanyaku heran.
"Dari foto diruang keluarga. Kalau kamu nggak jadi nikah sama dia boleh tuh digantiin si Andre" kata bibi Lani seenaknya saja.
"Bibi mending si Andre sama Beti saja lebih cantik" timpalku.
"Siapa tu si Beti??? Bibi baru dengar" tanya bibi penasaran.
"Beti ya kucing kesayanganku. Dia satu-satunya Dewi tercantik" sahut Ayah.
"Reynan sialannnn....." umpat bibi Lani tak kugubris lagi.
Hanya 20 menit berkendara dari rumah keluarga Wiryo kerumahku. Besok adalah acara besarnya. Aku harus menyiapkan jiwa, raga untuk bertempur di Medan pelaminan.
"Ahhhh..... Bulannya sangat indah. Sherin, apa kau juga melihatnya??? Malam ini sungguh sangat panjang. Dimalam ini, Aku berjanji padamu sebagai seorang ksatria disaksikan bulan dan bintang bahwa hanya boleh kau saja yang ada didalam hatiku. Hanya boleh wajahmu saja yang menghiasi pikiranku dan Hanya boleh tanganmu saja yang menggenggam tanganku. Kaulah satu-satunya teman, cinta, kekasih, istri dan bidadariku. Tidurlah yang nyenyak Tuan putriku....." kataku penuh kegembiraan dan penuh keyakinan bahwa aku bisa membahagiakannya.
KEESOKAN PAGINYA.....
"Reynan, Rian, Nia cepetan sudah terlambat!!!" teriak ibu malah mondar mandir seperti orang bingung.
"Rey sudah siap dari tadi Ibu. Jangan gugup.... Tarik nafas...." kataku coba menenangkan ibu.
"Hahhhhh...... Rian....." teriak ibu lagi memanggil Rian yang ketangkep malah lagi berduaan dengan Nia.
"Nia, kau apa-apaan. Bagaimana bisa kalian bergandengan tangan.... Ayah seret Rian keluar!!!!" teriak ibu begitu frustasi.
"Sherin apa dirumahmu lebih kacau???" batinku penuh tanda tanya tersenyum lebar.
**KEDIAMAN WIRYOATMADJA
Sherin Wiryoatmadja**
"Angga, kenapa kau belum siap??? Bukan pakai baju yang itu... yang ini... Arghhhhhh...." teriak bibi Fang menggelegar seantero rumah.
"Ha ha ha Astaga ini mau menikah apa mau perang sih???" gumamku asik memakan makanan di kolong meja makan.
"Long, bukan pakai kemeja yang itu... ganti. Kitty bantu Tante memakai tusuk konde ini. Kemana tukang riasnya. Bisa kerja nggak sih??? Richie ganti riasanmu, kau seperti nenek nenek. Vanya Rendy, apa kalian sudah bosan hidup malah berpacaran disini" teriak bibi Fang malah membuatku pusing.
"Nyonya, non Sherin menghilang lagi" lapor mbok Darmi mengagetkan mereka semua.
"Apa?????" teriak bibi Fang dengan konde masih bergelayutan manja lunglai tanpa daya dikepalanya.
"Sherinnnnnnnnnnnn........" teriakan bibi bagai petir tak terkendali.
"Boy Willy Tara cari non Sherin, temukan dan bawa kesini secara halus maupun paksa" teriak Papa mulai marah.
"Baik Tuan" jawab mereka serempak.
"Sana carilah yang namanya Sherin. Kalau kau bisa menemukannya akan kuberi kau roti yang kumakan ini" kataku santai memakan berbagai macam Snack dibawah kolong meja makan.
"Tuan, non Sherin ditemukan..."
"Hayyyyyy.... Mau ini???" kataku tersenyum menyodorkan roti yang baru saja mau kugigit.
"Seret dia keluar...." teriak bibi kesal.
"Non, kau keluar sendiri atau kami paksa"
"Oke oke aku keluar sekarang" kataku sambil menjilati sisa makanan di jariku.
"Angga... hiks... apa dia benar anakmu??? Astaga berantakan sekali. Perias..... lakukan tugas kalian!!!!" teriak bibi memekakkan telinga.
"Kak Kitty, kak Richie tolong aku.... Aku tak mau memakai itu.... Arghhhhhhhhh..... Jangan paksa aku..... Rambutku sakittt..... jangan ditarikkk.... cukup pakai kerudung saja.... Hyaaaa... jangan sentuh alisku. Kalian mau kutembak....." teriakku merasa tercabik-cabik dengan perlakuan perias ini.
"Ampun nona... jangan tembak kami... Kami masih punya anak.... ampuni nyawa kami....." pinta perias dengan kaki gemetar dan wajah ketakutan.
"Hyaaa adik bungsu, kau menakuti mereka... Apa kau gila.... Turunkan pistolmu" teriak kak Richie.
"Hyaaa... jangan sentuh aku. Cukup aku tak mau memakainya. Aku bukan mau ikut acara fashion show atau miss universe. Aku mau hidup dengan tenang...." teriakku frustasi entah mau diapakan lagi ini rambut dan wajahku.
"Kitty, lakukan cara itu. Sekarang!!!" Bibi Fang entah merencanakan apa. Yang jelas bukan hal baik.
Sluppp..... Astaga mereka membiusku.
"Bibi...... Kak......" teriakku pelan pelan hilang kesadaran.
Fang Yue
"Akhirnya anak ini bisa tenang juga. Waktu kalian tak banyak biusnya hanya bertahan selama satu jam. Lakukan tugas kalian dengan benar" kataku memberi instruksi.
"Fang Yue apa ini tak keterlaluan??" tanya Angga merasa kasihan dengan anak semata wayangnya.
"Apa kau mau dia menghilang lagi. Cuma ini jalan satu-satunya. Kau tau anakmu sangat cerdik dan licik. Pagi pagi saja sudah berapa perias yang dilukainya. Ada yang kehilangan separuh rambutnya, separuh alisnya, bahkan ada yang kehilangan seluruh rambutnya karena putrimu memberontak. Hahhhh... akhirnya aku bisa bernafas lega. Pertempuran kali ini terbilang sangat sengit" kataku segera mengambil segelas air dingin untuk menenangkan pikiranku.
30 menit kemudian
"Fang Yue apa kita tetap membawanya dalam keadaan pingsan???" tanya Angga masih saja protes.
"Apa kau juga mau kubuat pingsan???" ancamku dengan menatap tajam.
"Tidak tidak...." jawab Angga sama sekali tak bergeming.
"Kalau tidak maka diamlah" ancamku sekali lagi menikmati udara pagi yang masih terbilang segar tapi kalau dibandingkan di Jogja tingkat oksigen berbanding sangat jauh sekali. Semua juga karena ulah manusia.
"Long, angkat adikmu bawa masuk ke mobil. Kitty, Richie, Vanya, Rendy, Yuna, Aldo kalian bisa naik mobil dibelakang. Keluarga yang lain bisa naik mobil yang manapun. Kita berangkat sekarang" kataku memberi instruksi agar lebih cepat mengingat obat biusnya tersisa 25 menit lagi.
Pernikahan anak inipun bukan pernikahan biasa. Banyak sekali kekacauan yang terjadi akibat ulahnya. Aku tak yakin jika dia sadar, dia tak lagi membuat ulah.
Jarak rumah dengan gedung resepsi hanya 10 menit dengan kecepatan rata-rata. Begitu juga dengan jarak dari rumah keluarga Gunanto. Entah apa yang akan terjadi nanti, karena pernikahan ini bukan hanya sepasang tapi dua pasang pengantin.
Depan Graha Atmadjaya
"Bawa pengantinnya masuk kedalam sebelum ketahuan yang lain" kataku celingukan takut ada gosip kalau mereka menikah dengan paksaan.
"Sherinn.... Om Sherin kenapa??? Sherin bangun hiks hiks... jangan mati Sherinn....." teriak pengantin perempuan satunya.
"Ssuutttt.... diam jangan berisik" pintaku membungkam mulutnya.
"Kak Rey, Sherin mati....." teriak anak ini lebih sulit dikontrol sampai mengundang perhatian orang.
"Bibi.... kenapa Sherin bisa begini. Kenapa juga kau harus menggendongnya??? Letakkan, biar aku yang gendong" teriak Reynan malah bertengkar dengan Long.
"Awww kepalaku.... Astaga ini benar-benar pernikahan terkacau...." kataku hampir saja jatuh kalau tidak ditangkap Anggaku tersayang.
"Minggir.... dia adik gue" teriak Long tak mau kalah.
"Dia istri gue...." teriak Reynan sama ngototnya.
"Sherinnnnnnnnnnnn jangan mati.... Sherinnn....." pinta perempuan pembuat masalah satunya siapa lagi kalau bukan temennya Sherin si Nia.
"Diammmmmmmmmmmmm" teriakku membuat mereka tenang.
"Angga bawa anakmu kedalam sebelum keributan tambah besar hahhh..." kataku segera masuk kedalam ruangan pribadi di gedung pernikahan milik neneknya Sherin ini.
"Reynan mau ibu jewer telingamu. Berhenti bertengkar" perintah besan untungnya Reynan mau mendengarkan.
"Berapa lama lagi waktu yang tersisa sebelum acara dimulai???" tanyaku pada Kitty.
"Sekitar 30 menit lagi Tante. Tingkat keamanan sudah berada di level tinggi. Untuk yang lainnya sudah oke. Nanti ijab terlebih dahulu untuk Rian dan Nia. Baru dilanjut Reynan dan Sherin. Setelah itu ada prosesi pedang pora bagi pasangan Rey dan Sherin. Baru kemudian resepsi seperti biasa bagi kedua pasang pengantin. Oh ya maksimal acara tak lebih dari lima jam" jelas Kitty.
"Apa kalian tau ketakutanku???" tanyaku pada mereka grup Adler. Untungnya Angga bisa mengusir orang-orang selain kami.
"Apa ada penjahat yang akan datang bibi" tanya Richie berpikir terlalu jauh.
"Kau ini diotakmu hanya penjahat saja. Gunakan untuk mencari laki-laki. Yang perlu kalian waspadai adalah Sherin. Aku yakin setelah dia sadar dia akan mencari cara lari dari berbagai acara yang sudah disiapkan. Apalagi ini acara hampir 5 jam. Setengah jam saja dia tidak betah. Bayangkan bagaimana kalian mengatasinya. Apa dari kalian ada yang kekuatannya melebihi anak nakal ini. Apa kalian mengerti. Perketat penjagaan khusus buatnya. Jangan lupa siapkan obat bius level ringan. Suntikan itu jika dia membuat ulah lagi. Untuk sementara kita aman. Waktu biusnya masih 15 menit lagi jadi kalian bisa mengecek semua persiapan sekali lagi. Lakukan koordinasi dengan pengawal Om Angga. Saya harus menyambut tamu" kataku memberi instruksi sekali lagi dan pergi ke ballroom utama.
"Sherin????"
"Omo.... apa dia akan menghancurkan pernikahannya sendiri???"
"Kemana si Vanya juga Rendy. Kitty kelihatannya kita harus meninggalkannya sendiri disini. Masih ada yang perlu kita urus" Richie.
"Apa tak apa??" Kitty.
"Sudah tenang saja. Biusnya masih 15 menit lagi. Perhitungan bibi Fang sangat akurat" Richie.
**5 menit kemudian
Sherin Wiryoatmadja**
"Awwww... kepalaku pusingnya Astaga.... Semua pasti ulah bibi Fang. Ahhhh.... krukkk... krukkkk.... lapernya... Apa ini??? mereka benar-benar menindasku hisshhhhhh.... sialnya diriku. Krukkk...krukkk.... pikir nanti saja deh sekarang makan dulu" umpatku sangat kesal.
__ADS_1
Dengan gaun seperti ini benar-benar sangat mencolok. Tapi ini gaun dari kak Rey, bagaimana kalau aku modif sesuai gayaku??? Tak ada waktu, perutku tak bisa diajak kompromi. kataku memikirkan cara terbaik. Mana ada dua pengawal Papa didepan lagi. Apa memang pengantin disuruh puasa nggak boleh makan gitu... hehhh.... sampai-sampai diruangan ini pun sama sekali tak ada makanan.
Dengan mengendap-endap akhirnya aku bisa bebas dari mereka. Ternyata acaranya belum dimulai. Ruangannya masih kosong. Ini keberuntunganku. Segera kumasukkan lima nampan makanan berbagai jenis ke kolong meja yang paling besar. Dengan begini aku masih bisa melihat prosesi ijab qobul sahabat dekatku, Nia juga bisa makan enak tanpa ketahuan. Ha ha ha.... Kau sangat cerdik Sherin.....
"Makanan.... makanan.... lezatnya.... ahhhhh.... inilah surganya dunia" kataku melahap dan menikmati setiap gigitan yang begitu enak dan lembut.
"Kenapa meja ini masih kosong, bagaimana kerja kalian. Cepat tamu undangan sudah berdatangan" teriak ketua pelayan yang membuatku terkekeh.
Private Room
"Nona... kami datang" Vanya.
"Vanya... Sherin tak ada...." Rendy.
"Kakak kita kehilangan nona lagi" Vanya.
"Kau bilang apa????" Richie berteriak.
"Darurat darurat... pengantin wanita kedua menghilang. Cari di setiap sudut, jangan membuat kegaduhan karena acara ijab sesi 1 akan segera berlangsung. Temukan dalam waktu 15 menit" Kitty mencalling semua pengawal melalui earpiece.
"Long cari si pembuat masalah itu, temukan bagaimanapun caranya seret dia kalau tidak menurut. Silahkan... Iya... terima kasih" Fang Yue.
"Ada apa Fang Yue??? Kau terlihat cemas" Angga.
"Anakmu menghilang lagi. Iya silahkan masuk.... Terima kasih..." Fang Yue.
"Apa....." Angga berteriak.
"Kau bisa mengecilkan suaramu??? Sebenarnya istrimu dulu ngidam apaan sih sampai anakmu super gilanya seperti ini???" Fang Yue sangat kesal.
"Silahkan para tamu undangan duduk di kursi yang telah disediakan. Kita sambut kedua mempelai Rian Gunanto, dan Karenia Saputri Baskara. Dan selanjutnya kita persilahkan kedua orang tua dari kedua belah pihak mempelai untuk mendampingi mereka. Berikan sambutan hangat...."
Reynan Gunanto
"Reynan, cari Sherin sekarang juga. Dia menghilang" pesan bibi Fang berbisik pelan.
"Ngilang lagi... ni anak emang seneng ngilang dah... huffftttt.... Gadisku kau luar biasa" kataku segera melacak keberadaannya lewat Smartphoneku yang langsung terkoneksi dengan GPS di cincinnya dan liontin kalungnya.
Ternyata nggak jauh jauh dari meja makan. Ternyata istriku bersembunyi disini. Dengan senyum bahagia aku memikirkan sejuta rencana mengerjainya. Bagaimana kalau kami keluar berdua dari bawah kolong meja ini, bisa jadi heboh nih.
"Astaga lama banget cuma ijab gitu aja pakai percobaan segala. Kayak anak TK aja. Padahal udah pake contekan. Apa segitu gugupnya. Wahhh... membosankan..." gumam gadisku dari bawah kolong meja. Ternyata dia mengikuti setiap acaranya.
Dengan sangat pelan aku berjongkok dan merangkak ke sampingnya.
"Saya nikahkan dan kawinkan saudara dengan Karenia Saputri Baskara binti Baskara Pratama dengan mas kawin tersebut diatas tunai.... Saya terima nikah dan kawinnya Karenia Saputri Baskara binti Baskara Pratama dengan mas kawin tersebut tunai. Sah...."
"Sherin......"
"Ahhhhhhhhh......" teriaknya bertepatan dengan momen ijab kak Rian dan berhasil memancing keributan.
"Siapa itu, apa ada yang keberatan???" ucap penghulu melalui speaker. Terjadilah kasak kusuk dan kegaduhan di ballroom ini yang semulanya tenang menjadi riuh. Semua karena istriku berteriak. Kuharap Rian tak marah jika tau itu perbuatan Sherin sehingga membuatnya mengulang ijab qobul nya.
"Ssutttt diam sayank.... kau mengacaukan segalanya..." kataku berbisik pelan.
"Kau sendiri yang mengagetkanku. Untuk apa kau ikutan bersembunyi disini??? Cepat keluar!!!" ucapnya sekali lagi mengusirku dengan suara pelan.
"Aku mau makan bersamamu sayank. Aku juga laper dari tadi pagi belum makan" kataku mencari alasan.
"Kau belum makan. Ya ampun apa orang menikah memang dibuat kelaperan sampai menderita begini....... Ini makanlah aku sudah habis tiga nampan" katanya tanpa jaim.
"Jadi 5 nampan yang hilang tadi itu perbuatanmu??" tanyaku heran tapi ini cukup menggemaskan.
"Benar. Makanlah" katanya tanpa mengelak. Menyodorkan sosis gulung isi ayam senampan penuh. Akupun mengambil sepotong sosis gulung isi ayam dan memakannya.
"Sekarang bukan cuma perbuatanku jika ke 5 nampan itu hilang tapi juga perbuatanmu Kak. Kau baru saja memakannya. Jadi kau harus bertanggungjawab" katanya benar-benar sangat licik.
"Sah.... Apaaaaaaa........." teriakku sangat keras bersamaan pertanyaan penghulu untuk kedua kalinya. Suasana yang begitu hening tiba-tiba menjadi gaduh lagi. Kali ini bukan karena Sherin tapi karenaku.
KEAK KEAK KEAKKKK..... Gagak numpang lewat.... permisi permisi......
"Apa masih ada yang keberatan????" tanya penghulu seperti de javu seperti tadi. Kali ini Rian benar-benar tak akan mengampuni kami.
"Baiklah para hadirin, saya harap kali ini kita bisa khidmat dan jangan ada yang bercanda lagi. Mohon tenang.... Mari nak Rian. Kita ulangi sekali lagi" kata penghulu itu. Bisa kutebak ekspresi muka Rian harus ijab sampai mengulang tiga kali.
"Saya terima nikah dan kawinnya Karenia Saputri Baskara binti Baskara Pratama dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai. Sah sah sah.... Udah sah pak penghulu..... ini sudah tiga kali loh.... Sah pokoknya SAHHHHH....." teriak Rian dengan penuh emosi.
"Bagaimana hadirin sah....." tanya penghulu dengan wajah ketakutan.
"SAHHHHHHH......." Jawab para hadirin berbarengan.
"Alhamdulillah......." jawab kami bersama.
Tanpa terasa semua prosesi ijab sesi pertama sudah selesai meskipun berjalan dengan sedikit hambatan.
"Silahkan mempelai pasangan pertama duduk di pelaminan. Mari kita ke sesi ijab qobul kedua. Silahkan pasangan Reynan Gunanto dan Sherin Aqila Sakha Prayuda memasuki ruangan" pinta pembawa acara.
"Sayank ayo keluar...." tarikku masih saja ni anak makan.
"Dimana mereka???"
"Kok belum datang???"
"Apa ada masalah???"
"Dengar dengar tadi pengantin wanitanya pingsan loh, apa karena nikah paksa???"
"Mungkin belum siap kali. Aku dengar usianya masih 17 tahun"
Hampir seisi ballroom gaduh menanti kedatangan kami.
"Baiklah berhubung aku sudah kenyang, ayo kita berperang sekarang" katanya dengan sangat percaya diri keluar dari kolong meja. Betapa malunya ini....
"Tenang tenang... Saya hadir.... Kakak apa kau masih ingin bersembunyi disana???" tanyanya membuat seisi ballroom heboh. Sudah tak ada lagi muka. Hilang sudah semua. Ternyata mentalnya lebih kuat dariku. Hanya dengan memasang wajah dingin maka semua bisa terselamatkan.
"Mari sayank...." kataku mengulurkan tangan supaya Sherin mau menggandeng tanganku.
"Sherin gandeng tanganku!!!" pintaku memaksa.
"Belum muhrim jalan sendiri sendiri saja. Apa aku yang duluan, atau mau kejar-kejaran???" katanya membuat pilihan seenaknya.
"Gandeng, ini perintah!!!" kataku sangat tegas akhirnya dia menurut.
Semua mata menatap kami. Perasaan campur aduk jadi satu. Keringat dingin keluar bahkan bernafaspun susah. Berbeda dengan Sherin. Dia malah tersenyum manis kearah semua tamu yang hadir bahkan dari mereka banyak yang memuji kecantikannya.
"Baiklah. Anda bernama Reynan Gunanto usia sekarang 28 tahun dan Anda Sherin Aqila Sakha Prayuda usia 17 tahun"
"Benar" jawab kami bersama.
"Baiklah kita mulai ijab qobulnya"
"Boleh latihan dulu kalau Anda gugup. Dan ini diwakilkan atau ayahnya sendiri yang akan menikahkan" kata pak penghulu mencoba menenangkanku. Jika hanya melihat saja rasanya tak setenang berada di posisi pelaku utama. Semua yang sudah dihafalkan bisa tiba-tiba buyar dari pikiran.
"Tak usah latihan pak penghulu. Langsung saja. Jangan lama-lama. Kalau bisa pakai kilat khusus. Tentu saja Papa yang menikahkan masak mau diwakilkan" sahut Sherin langsung membuat semua mata menatapnya heran begitu juga dengan bibi Fang dan Om Angga yang terlihat sangat terkejut.
"Astaga gadisku memang benar-benar istimewa. Daripada semua kacau balau karenanya lebih baik dipercepat saja" batinku.
"Baiklah kalau begitu. silahkan Tuan Angga bisa dimulai" kata pak penghulu ditatap tajam Sherin.
"Awas kalau salah, jangan harap ada ijab qobul yang ke dua" gertaknya membuatku semakin tertekan.
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan kawinkan anak saya Sherin Aqila Sakha Prayuda binti Angga Prayuda kepada saudara dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai.... Saya terima nikah dan kawinnya Sherin Aqila Sakha Prayuda binti Angga Prayuda dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai"
"SAHHH PAHHHH.... ITU SUDAH SAHHH.... SHERIN NGGAK MAU ADA PENGULANGAN" kata yang terucap langsung dari bibir istriku Astaga.... benar-benar mengejutkan kami semua.
"Bagaimana para hadirin Sah...." tanya pak penghulu langsung dibalas tatapan mematikan istri kecilku.
"Sudah dibilang sah ya sah..... Pak penghulu Anda bosan hidup???" entah apa yang merasuki istriku tapi kali ini dia benar-benar menggertak penghulu.
"SAHHH... benar sudah SAHHHHH....." teriak lantang para hadirin menyelamatkan hidup penghulu yang datang hari ini. Dengan tangan gemetar penghulu itu menyeka keringatnya begitu juga Om Angga yang juga gemetaran.
"Silahkan tanda tangan disini... Nak kau bisa menyuruh istri kecilmu tanda tangan juga disini" pinta penghulu itu dengan tangan dan suara gemetar berkali-kali menyeka keringat.
"Sayank.... kau memang sippp.... Ha ha ha ha...." tawa kami semua memecah keheningan ballroom.
"Baiklah... prosesi ijab qobul sesi ke dua sudah terlaksana amat sangat lancar meskipun begitu heboh. Pernikahan paling unik menurut saya. Acara selanjutnya prosesi pedang pora. Kepada yang bertugas kami persilahkan. Dan untuk mempelai bisa mempersiapkan diri" kata MC acara resepsi non formal.
"Gandeng tanganku. Bukankah, sekarang kita muhrim" kataku senang bisa melewati ini semua dan menjadikan gadisku, cinta pertamaku sebagai istri sahku dimata Tuhan dan negara.
15 menit kemudian Sherin sudah berganti dengan gaun bercorak loreng padupadan dengan seragamku. Terlihat sangat elegan dan serasi.
"Sayank, kau hanya perlu patuh dan tak menggertak orang lagi. Kau mengerti!!! Kalau kau patuh aku punya hadiah untukmu" Kataku kali ini sangat tegas. Kalau sampai dia membuat ulah tamatlah diriku.
"Baiklah baiklah hanya perlu berjalan lambat dan tersenyum kan. Kalau masalah ancam mengancam aku sendiri masih dalam tahap pengendalian diri. Bagaimana yakin mau melakukannya bersamaku???" kata Sherin diluar dugaan.
"Ampun beribu ampun.... cara apa lagi yang bisa kugunakan" batinku sangat stress.
"Sekarang!!!!" teriak mereka bersama memegangi Sherin dengan kuat membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukkan pil entah apa itu.
"Hahhh... syukurlah.... Kau bisa tenang Rey...." ucap bibi dengan nafas tersengal begitu lega.
"Bibi aku tak menyangka adik bungsu bisa segila ini hahhhh" ucap Richie sampai susah bernafas.
"Nona tenaga perlawananmu sungguh hebat dan sangat kuat" begitupun dengan Vanya kehilangan banyak tenaganya hanya untuk memegang Sherin.
"Tante apa pil itu bisa berfungsi dengan baik???" tanya Kitty penasaran.
"Ada apa ini???? Pil apa dan Maksud bibi apa???" tanyaku bingung.
"Sherin sudah dalam kendalimu. Kau hanya perlu memerintahnya dan dia akan menurut padamu. Aku sudah memberinya pil pengendali tubuh. Hanya dengan perintah dia akan menurut padamu. Tapi efeknya bertahan hanya selama 30 menit. Kau harus cepat!!! Kami sudah lelah dengan ulahnya kalau bisa selesaikan secepatnya" jelas bibi baru kumengerti.
30 menit kemudian
Akhirnya dengan bantuan bibi Fang dan tim Adler prosesi pedang pora berjalan sangat lancar dan tak ada sama sekali ulah dari istri mungilku.
"Jangan ganggu dia. Biarkan dia istirahat. Aku janji padanya kalau dia hanya akan mengikuti sampai prosesi pedang pora saja. Untuk selanjutnya kuserahkan pada Rian dan Nia" Jelasku pada semua.
Kubaringkan tubuhku disampingnya hanya untuk melepas penat dan lelah.
"Hari ini kau sudah bertarung dengan baik istriku...." kukecup keningnya yang terlelap tidur dengan damai. Sangat sangat cantik dan menggemaskan.
Hampir 15 menit dan Sherin belum bangun dari tidurnya. Mungkin efek dari pil pengendali tubuh begitu besar. Segera kugendong Sherin kedalam mobil. Aku sudah menjanjikan hadiah untuknya.
"Sayank... kita pergi sekarang" kataku segera melajukan mobil ke villa ayah di Anyer. Hampir Tiga jam mengendara tapi Putri tidurku belum juga bangun. Bukankah hanya ada satu cara membangunkannya.
Segera kuparkirkan mobil tepat di villa ayah.
"Sayank jika kau tak bangun-bangun aku hanya bisa menggunakan caraku" ancamku masih saja dia belum bangun.
"Baiklah... akan kulakukan" Kukecup lembut bibirnya sangat dalam dan terasa manis.
PLAKKK....... Tamparan yang sangat keras menyadarkanku kalau gadis ini sudah bangun.
"Sayank.... kau menamparku...." kataku menahan sakit sambil mengelus pipiku yang kemerahan.
"Oopppsss... bukan aku tapi tanganku...." elaknya mendorongku tanpa merasa bersalah dan keluar dari mobil.
"Ahhhhhh.... segarnya....." katanya begitu senang bisa menghirup udara segar.
"Kau menyukainya...." tanyaku tak henti menatap wajahnya yang menggemaskan.
"Hnnn.... daripada terkurung di gedung sana mending main dialam bebas.... hahhhhhhhh..... Aku bebas......." teriaknya begitu senang.
"Ikut aku... Heyy gadis kecil bisakan kau mengejarku.... kita lihat matahari terbenam bersama....." teriakku berlari mendahuluinya.
"Kakak tunggu aku.... bersiaplah aku akan melompat ke punggungmu. Hyaaa..... Apa aku berat???" tanyanya senang.
Akupun juga merasa sangat bahagia bisa menggendongnya di punggungku untuk menikmati matahari terbenam di bibir pantai.
"Gadis kecilku sangat sangat berat. Bahkan Akupun tak sanggup menggendongmu...." ejekku.
"Kakak jahat...."
Kami terus menyusuri pantai hanya aku dan dia dibawah langit sore yang sangat indah dengan Mega yang berwarna jingga dan kelabu.
"Sayank... apa kau ingat saat pertama kali aku menggendongmu di punggungku????" kataku mengingat kejadian waktu disuruh ibu beli garam.
"Tentu saja, waktu itu kau menyelamatkanku berkali-kali. Dan untuk pertama kalinya juga aku menginap dirumahmu. Dan untuk pertama kalinya juga aku digendong seorang laki-laki. Dan apa kakak tau itu juga pertama kalinya jantungku berdegup untukmu" Ternyata begitulah perasaannya sejak dulu.
"Kakak, Keluargamu sangat baik dan penuh perhatian. Aku sangat iri. Tapi seiringnya waktu berjalan aku bisa menemukan kebahagiaan untuk diriku sendiri. Kehidupan memang harus melalui penderitaan untuk menemukan arti dari sebuah kebahagiaan" jelasnya membuatku terharu. Ternyata istri kecilku sudah lebih dewasa.
"Kau tak lelah menggendongku kak??? Bagaimana kalau kita duduk disana" katanya menunjuk ke tengah pasir pantai yang sangat lembut..
"Jika kau mau aku bisa menggendongmu sampai kau bosan. Bagaimana???"
"Lupakanlah... turunkan aku" pintanya memaksa.
Berakhirlah kami duduk beralaskan pasir pantai dengan langit sebagai atapnya dan disertai nyanyian deburan ombak memecah karang. Sangat tenang dan damai. Bahagia yang tak terlukiskan dengan apapun juga. Menikmati matahari terbenam hanya berdua dengannya.
"Ketika kau telah mencintai dan memilih satu bintang diatas jutaan bintang yang ada. Maka kamu akan cukup bahagia meski hanya ada satu bintang yang bersinar terang di malam yang gelap dan sunyi. Sherinnn... kaulah bintang itu. Di hatiku hari ini, 10 tahun lagi, 100 tahun, 1000 tahun bahkan ratusan juta tahun yakinlah bahwa hanya ada satu bintang dalam hatiku yaitu kamu. Mungkin jalan tak semulus jalan tol, meskipun sangat terjal bahkan berbatu aku akan tetap ada di sisimu. Sayank maukah kau berjuang bersama denganku selamanya???" tanyaku menatap wajahnya yang sendu dibawah sinar rembulan. Dia menatapku mengangkat kepalanya dengan sangat lembut yang sedari tadi bersandar di pundakku.
"Tentu saja. Meskipun kita dari dunia berbeda kau hantu dan aku manusia, kau langit dan aku bumi, aku akan selalu berjuang denganmu... Suamiku.... Ahhhhh.... ha ha ha.... lucu ya??? Ckckck lupakanlah... aku mulai lapar mendengar celotehanmu kak" ucapnya segera bangkit dan berlari seperti biasa tak ada romantis romantisnya.
"Makanlah diriku sayank...." kataku mengejarnya berlarian disepanjang pantai.
"Hahhh.... mulai lagi..."
"Tentu saja... kita mulai lagi. Memulai lembaran hidup baru berdua. Hanya kau dan aku...." teriakku bahagia.
"Aku lapar.... Kau..... suamiku carilah makanan...." Dengan garang tapi manja dia memerintahku.
"Kubilang makanlah diriku...."
"Tak mau dagingmu keras..."
"Kau belum mencoba yang lainnya... empuk lohhhh...."
"Dasar Piktor (pikiran kotor)....."
"Aku....."
"Bukan... aku.... ya iyalah kamu...."
"Kakak.... biarpun tak ada bahu untuk bersandar bagiku masih ada telur untuk didadar karena hidup butuh makanan bukan harapan ha ha ha... Kakak aku gemes sama kamu tau nggak aku laper beneran.... Kakak...." teriaknya kembali normal.
"Yank, tau nggak ayam di Jepang pada budeg makanya sampai diteriyaki, tapi kalau ayam di Indonesia pada bandel makanya digepreki ha ha ha......"
"Suamiku suam suam suammmmm amm amm ammm.... ayankmu ini lagi marah beneran.... Kakak...." teriaknya mulai meracau.
"Percaya.... percaya... ayankku ini bikin gemes kalau lagi marah....."
"Kita pulang dan emmm.... itu...." kataku memberi kode.
"Emmmmmakannnnn.... yeyyyyy.... ayo kak...."
"Sayank bukan emmmakannn.... tapi kikukkkkk kikukkkkk ha ha ha"
"Oh suara burung hantu kikukkkkk kikukkkkk kikukk kikukkkkk kikukkkkk..."
"Bukan kikuk sayank tapi suara burung hantu itu kukukkk kukukkk"
"Pokoknya itu....."
"Oke itu kan...."
"Itu Apa???"
"Makannnnnnnnnn......." teriaknya begitu polos.
"Sabar Reynan..... sabar.... dia masih kecil kau harus bisa melatih jurus pengendalian diri tingkat tinggi.... sabar Rey....." kataku menghela nafas begitu sangat berat.
"Kikukkk kukukukk kikukkk kukukukkk kikukkk kikukukkk kikukkkk"
"Astaga dia malah bernyanyi lagu itu. Ini semua salahmu Rey.... huahahhhhahhahha"
***THE END***
___________-----------------_______________
"Thor... tamat Thor???" Sherin
"Yuppz seasons 1 sudah tamat, kamu nggak terima Sher???" authorsss
"Terima terima asalkan diriku masih pemeran utama di season 2. Aku rela Thor. Bisa request pangeran gantengnya ditambah lagi??? Sherin.
"Sherinnnnnnnnnnnn.... kau lupa statusmu??? Kau ini sekarang istriku. Awas kau Thor jika ngasih tambahan pemeran cowok buat sainganku. Mau kurajam kau Thor" Reynan.
"Astaga pasangan ajaib ini. Masih aja suka ngancem. Gimana kalau ditambah pelakor???" authorsss.
"Thorr jangan lupa aku penembak jitu. Kau mau mati ditempat???" Sherin.
"Ha ha ha.... Tenang aja... slow down baby..... Tunggu aja season 2 akan lebih menarik, tegang, kocak dan lebih gila lagi. Bagaimana??? Tapi jangan buru-buru ya. Thorrsnya perlu liburan dulu. Bulan Januari dah season 2 bakalan meluncur oke" authorsss.
"Setuju...." Sherin, Reynan.
"Thanks ya buat yang sudah baca novel ini. Maaf kalau masih banyak kekurangan karena manusia tak ada yang Sempurna begitupun dengan thorrsnya" Authorsss.
"Ngakuin kalau thorrsnya gila gak ketulungan ha ha ha..." Sherin.
"Sherin kau lupa kalau kau tak boleh mengumpat lagi??? Thorrsnya maafkanlah istriku. Tapi kau memang gila thorss" Reynan.
"Astaga mereka memang dendam padaku. Wahh.... pokoknya..... Terserah pada kalian suka atau tidak itu adalah hak kalian sebagai pembaca yang jelas apapun perbedaan itu tetap jaga persatuan dan kesatuan jiwa novelist sedunia. Oke..... Dan love love banyak dari authorsss bagi para readers sekalian yang sudah memberikan dukungan dan supportnya baik berupa like, commentnya, vote dan koinnya. Authorsss ucapkan terima kasih banyak. Novel ini dibuat hanya untuk hiburan semata bahkan lebih banyak genre komedinya jadi jika harus terlalu real dengan kehidupan nyata dan belum sesuai ekpektasi kalian harap di maklum. Karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan authorsss. Reynan maaf ya kau harus menjadi tentara imut dan bucin. Maaf sekali lagi. Dan Sherin maaf kau harus jadi gadis jail, usil dan tomboy pokoknya terimakasih banyak banyak" authorsss.
"Thors... jangan liburan lama lama ya hiks hiks hiks... aku bakalan merindukanmu hiks hiks hiks...." Sherin.
"Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi kalau ada janda di jalan boleh kita ajakin mandi" Reynan.
"Reynannnnnnn....." Sherin.
__ADS_1