
Kediaman Angga Prayuda
Reynan Gunanto
Gerbang rumah lelaki tua itupun terbuka. Kulihat sekeliling. Benar dugaanku lelaki itu membawa Sherin kerumahnya yang di Bogor.
"Ahhh sial. Kenapa juga waktu itu gak langsung kudobrak saja tu pintu" gerutuku kesal.
"Rey, ayo masuk. Jangan macam-macam kamu disini!! Ayah gak mau kamu buat masalah!!" nasehat Ayahku yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Aku terus mencari sosok gadis kecil itu.
Kami disuruh menunggu di ruang tamu. Seorang perempuan muda yang kukira pelayan dirumah ini memperlihatkan kesexyan tubuhnya kepadaku dengan suara menggoda.
"Cihh.. Dasar wanita tak tau malu" gerutuku kesal.
Diapun pergi mencari empunya rumah. Kuikuti dia dari belakang dengan sengaja.
"Rey kembali. Jangan buat masalah!!" jerit Ayahku.
Teriakan Ayah tak kupedulikan. Kebetulan diruangan ini hanya ada dua bodyguard saja yang berjaga didepan sebuah kamar.
"Pasti Sherin disekap disana" batinku marah.
Kudekati pintu kamar itu semakin. Terdengar jelas Isak tangis suara Sherin.
"Hey bro, ada kepentingan apa kamu kesini? Keluarlah!!!" seorang bodyguard lelaki tua itu mencengkeram bajuku dan mendorongku kuat.
Tanpa banyak bicara kupukul kedua bodyguard itu sampai tersungkur di tanah.
"Jangan ikut campur" kataku marah.
"Rey, Ayah bilang jangan buat masalah" jerit Ayah marah.
Segera kudobrak pintu kamar itu. Tepat dugaanku. Lai laki tua itu berniat buruk padanya. Sherin ada di pelukannya dalam keadaan tak sadarkan diri. Kutonjok lelaki tua itu dengan satu tonjokan saja langsung tersungkur ke lantai.
"Lepaskan tangan kotormu darinya" teriakku benar-benar marah.
"Sherin... Sherin... bangunlah!!! Aku sudah datang!!! Lihatlah aku, bangunlah!!! Jika kamu suka memanggilku Om, panggil saja!! Om Rey... Om Rey terserah sebanyak apapun asal kamu cepat sadar!!!" kataku lembut sambil memeluknya erat. Tak terasa air mataku mengalir terus.
"Rey. Apa yang kamu lakukan sama Om Angga?" kata Ayah marah.
__ADS_1
Ayah berusaha membantu lelaki tua brengsek itu bangun. Ayah begitu mencemaskannya membuatku semakin marah.
"Dia pantas menerimanya. Lelaki tua Brengsek seperti itu tak ada ampun baginya" ucapku semakin marah.
"Rey... Rey.. mau kamu bawa kemana Sherin??" panggil Ayah yang sudah tak kuhiraukan lagi.
"Berhenti!!!" cegah bodyguard.
"Sudah biarkan saja. Jangan halangi dia!!" kata lelaki tua itu dengan suara lemahnya.
"Baik Bos" kata bodyguard nya.
Segera kugendong Sherin ke rumah sakit terdekat. Kebetulan Temanku Dokter dan juga pemilik rumah sakit itu.
Di Rumah Sakit
"Rey, siapa ini? Kenapa kondisinya buruk sekali" kata Aldo sohibku sekaligus teman baikku.
"Pokoknya selametin dia bagaimanapun caranya. Dia satu-satunya yang terpenting dalam hidup gue" kataku singkat.
"Maaf. Yang boleh masuk hanya dokter dan pasien. Silahkan anda tunggu di luar" kata seorang perawat.
"Maaf Mas. Anda diminta menemui dokter Aldo di ruangannya" kata suster itu dengan suara manjanya sambil melirik menggoda.
Kupandangi perawat itu dengan sinis. Segera kutemui Aldo.
Tok tok tok..
"Masuk!!" kata Aldo sopan.
"Gimana bro keadaan Sherin?" tanyaku lesu sambil menarik kursi.
"Rey, untuk sekarang kita cuma bisa berdoa yang terbaik aja. Bukan cuma fisiknya aja yang sakit tapi lebih ke psikisnya. Kurasa baru-baru ini dia mengalami peristiwa yang menyakitkan dan mengejutkan berturut-turut. Lambungnya kosong hampir tiga hari. Tak ada asupan sama sekali dan itu buruk baginya. Sebenarnya kamu sengaja menyiksanya ya, bahkan kamu tak memberi dia makan. Dia juga bisa dibilang sedang mengalami Complex Trauma atau bisa disebut PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Tapi tenang aja Bro, orang yang terkena PTSD ini bisa cepat sembuh asalkan si pasien dan lingkungannya bisa saling bekerja sama" jelasnya yang membuatku semakin bingung.
"Bisa gak tu mulut dijaga. Mana ada gue buat seorang gadis kelaperan sampai berhari-hari. Dan jelasin apa itu PTSD, Gue beneran buta masalah kayak gini. Jelasin gampangnya aja. Apa yang harus gue lakuin?" tanyaku tegas.
"Oke oke. Gini. Loe harus tetap disampingnya. Buat rasa aman dan senyaman mungkin buat dia. Loe bisa berbagi cerita seneng, susah atau saat sedih pun usahakan dia gak menyimpannya sendiri. Ini yang terpenting, bangun kepercayaannya. Dan gue ingetin dalam masa pemulihan jangan biarkan satu orangpun yang membuatnya trauma atau bisa dibilang yang pernah menyakitinya ada disekitarnya ataupun hanya untuk datang berkunjung" jelasnya yang membuatku berpikir lama.
"Kebanyakan orang mengalami trauma psikologis itu karena dulunya pernah dikhianati, diejek terus menerus, mendapat perlakuan tidak adil, seringnya dimarahi dan dikucilkan dari lingkungan. Kalau tidak segera diobati bisa jadi parah bro. Bisa depresi berat kalau udah gitu tiap hari dipikirannya cuma mau bunuh diri" katanya menyakitiku.
__ADS_1
"Hisssshhh. Apaan sih loe Do. Udah gila kali ya loe? Gue benar-benar depresi sekarang tapi bukan pengen bunuh diri tapi ngebunuh loe!!" sahutku lalu meninggalkannya yang masih tertawa karena bisa mengerjaiku disaat pikiranku sedang kacau memikirkan gadis itu.
Di Ruangan VVIP Rumah Sakit
**Sherin
Alam Bawah Sadar**
"Mama..." teriakku memanggil mama.
"Mama jangan pergi!!! Sherin ikut!!" kataku memohon.
Kulihat mama memakai baju Muslim putih bersih kontras dengan jilbabnya. Kami berada di sabana yang hijau dan sangat luas sampai aku tak tau dimana ujungnya. Sungguh nyaman dan sejuk.
Mama terlihat sangat cantik. Setiap memandangku Mama selalu tersenyum. Semakin kukejar, Mama semakin menjauh.
"Mama... Kumohon jangan tinggalkan Sherin lagi. Mama Sherin ingin peluk Mama!!!" tangisku putus asa dan seketika itu mataku terbuka.
Reynan Gunanto
Sekembali dari ruangan Aldo, Terlihat Sherin terus memanggil Mamanya entah apa yang sedang terjadi di mimpinya. Ku seka wajahnya yang mengeluarkan banyak keringat. Aku kaget ketika dia menggenggam tanganku erat. Takku lepaskan genggamannya. Kueratkan lebih dan lebih dan akhirnya dia membuka matanya.
"Sherin" panggilku lembut. Bola matanya yang indah memandang kesana kemari seakan mencari tau sesuatu.
"Sherin... kamu sudah sadar. Kamu mau apa biar kak Rey ambilin?" kataku padanya dengan tangan kami masih saling menggenggam. Dia masih tampak linglung.
"Om Rey... aku dimana? Kenapa Om Rey ada disini?" tanyanya yang sudah mulai sadar dan segera melepas genggaman tangannya padaku. Aku sedikit kesal karena dia masih memanggilku Om tapi karena janjiku padanya asal dia sadar sebanyak apapun dia memanggilku Om aku tak akan marah ataupun protes.
"Ohhh itu. Kak Rey gak sengaja nemuin kamu pingsan jadi kak Rey bawa kamu kerumah sakit ini" kataku sedikit bohong.
"Udah gak usah dipikirin yang penting kamu cepat sehat. Apa kamu mau dirumah sakit ini terus. Mahal tau kamarnya, Kak Rey bisa bangkrut" godaku.
"Kak Rey apa-apaan sih, nanti pasti aku balikin. Tapi kenapa diruangan VVIP sih kak, Kakak mau bunuh aku pelan-pelan apa? Mana ada duit akunya buat ganti? Pindahin kelas 3 aja ya!!" rengeknya dengan suaranya yang masih lemah. ku sentil dahinya pelan.
"Ha ha ha. Kamu sendiri yang udah janji mau balikin ya. Pokoknya jangan menyesal. Yang penting kamu cepat sembuh dulu nanti baru kak Rey pikirin bagaimana kamu harus mengganti biaya rumah sakitmu" kataku masih menggodanya.
"Hisssss kak Rey. Aku belum kuat. Jangan ngajakin becanda terus?" pintanya dengan suara lemahnya.
Kamipun tertawa bersama.
__ADS_1
"Ku harap lukamu akan sembuh dengan kehadiranku di dalam hatimu. Ku pastikan akan membuatmu tertawa. Tak ada tangis lagi, tak ada pilu lagi. Tak ada kesedihan, kesepian dan kesendirian lagi. Kita akan selalu bersama. Melangkah bersama. Menangis bersama. Takkan ku lepaskan tangan yang sudah menggenggamku" kataku meyakinkan diriku sendiri.