
Tak ku sangka wanita yang tak pernah kuharap kedatangannya, menampakkan dirinya di waktu yang tidak tepat.
"Do..ni..ta..", ucapku terkejut.
"Oppa, siapa wanita ini?" teriaknya mengagetkanku.
"Kak Rey, turunkan aku!!" pinta Sherin dengan nada berbisik seperti ketakutan.
"Diamlah!!! Apa yang kamu lihat bukan seperti yang kamu bayangkan!!!" aku mencoba menjelaskan.
"Oppa jawab!! Kenapa kamu menggendong wanita ini dihadapanku?? cepat turunkan Dia!!!" katanya membentak.
Tanpa menjawab apapun, Aku bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Donita
yang masih berteriak-teriak tidak jelas. Segera ku dudukkan Sherin diruang keluarga. Ku ambil minyak dan kupijat dengan lembut serta hati-hati kakinya yang terkilir.
"Ya Allah Rey, Sherin kamu apakan??" tanya Ibu khawatir.
"Bukan salah Kak Rey kok Tante. Sherin yang gak hati-hati" katanya menjelaskan pada Ibu. Dalam hati aku tersenyum senang mendengar ucapannya. Tak selang berapa lama si Perusuh datang juga.
"Kak Rey,,," bentak Donita semakin gila.
"Lepaskan tanganmu dari kakinya!!! sekarang!!" Donita benar-benar seperti orang kesurupan teriak-teriak gak jelas. Ingin rasanya itu mulut kulakban.
"Donita. Apa-apaan sih kamu. Datang-datang bukan salam, ini malah nyelonong teriak-teriak gak sopan" kata Ibu yang kesal.
"Tante tapi kan Kak Rey calon suamiku. Mana ada yang tahan melihat calon suaminya digoda gadis bau kencur, kampungan kayak gitu. Dia gak level denganku Tante. Tante... kok diam aja sih!!! Tante..." katanya merengek.
Akupun masih memijat kaki Sherin yang keseleo sambil mendengarkan ocehan burung beo yang berisiknya minta ampun. Kulihat Sherin merasa tak enak dengan situasi ini. Ibu pun menyadarinya. "Oh hancurlah akhir pekan yang bahagia dan indah ini" pekikku dalam hati.
"Calon suami apaan. Lagian juga ya, tak ada tuh perjanjian Tante mau nikahin kamu sama Rey. Malahan Tante mau jodohin Sherin sama Rey" kata Ibu menjelaskan.
"Tante!!! Gak bisa gitu dong. Aku kan yang kenal Kak Rey duluan, aku juga sudah cinta mati sama Kak Rey. Tante gak bisa egois dong" katanya marah-marah.
__ADS_1
"Rey, Ibu tanya sama kamu. Memang kamu suka Donita??" kata Ibu tegas.
"Mana ada Bu. Rey gak suka sama Donita. Rey lebih suka pilihan Ibu" jawabku tegas.
"Oh astaga. Ibu memang yang terbaik. I love love banyak sama Ibu" kataku dalam hati.
"Aduh" jeritku. Ternyata Sherin marah dan menginjak kakiku.
"Apaan sih kak Rey?? Mending Sherin pergi aja. Gak baik tau, calon istrinya dibuat nangis" katanya sambil berusaha berdiri. Aku pun mendudukkannya kembali.
"Diam atau kupatahkan kakimu!! Dia bukan calonku!! Ingat itu!!!" Dengan lesu dia pun menuruti kata-kataku.
"Ayo makan dulu!! Makanannya sudah siap" pinta Ibu.
Kugendong Sherin ala bridal style menuju meja makan.
"Daebakk. Oppa!!! Turunkan Dia!!!" teriak Donita.
"Kak Rey, apa-apaan ini cepat turunkan aku!! Tak perlu seperti ini, kamu bisa memapahku saja, Kak Rey.. please..." pinta Sherin. Aku pun tak menghiraukannya.
Kukira dia akan segera pergi tapi dugaanku salah ternyata dia lebih tangguh daripada yang kukira.
Kuambilkan Sherin makanan. Kusajikan tepat didepannya. Ibu tersenyum senang dengan apa yang kulakukan. Berbeda dengan si Beo.
"Oppa ambilkan juga untukku!!" rengeknya dengan suara manja.
"Kamu punya tangankan!! Ambil aja sendiri!!" kataku ketus.
"Awww" jeritku. Ternyata Sherin punya kebiasaan nginjak kaki orang, ini sudah yang kedua kalinya kakiku diinjak.
"Sakit tau" Diapun hanya tersenyum.
"MasyaAllah, senyum itu. Kuatkanlah imanku ya Allah!!!".
__ADS_1
"Oppa kamu tak benar-benar suka dengan gadis kampung itu kan?" kata Donita sambil makan.
"Huk.. Huk.." tiba-tiba Sherin tersedak.
"Kamu tidak apa-apa kan? Minum dulu" kataku sambil memberikan air minum dan menepuk punggungnya pelan.
"Apa-apaan sih kamu Don. Ya jelaslah, aku suka sama Sherin. Aku juga cinta sama dia" jawabku tegas. Ibu melihatku dan tersenyum bahagia.
"Huk..huk.., aku gak pa pa" katanya malah membuatku tersenyum.
"Baiklah kalau gitu. Akupun akan semakin cinta sama kamu. Aku pasti akan mendapatkan hatimu oppa. Aku akan benar-benar membuatmu bertekuk lutut di hadapanku dan mengemis cintaku. Camkan itu!!" ancamnya dan pergi begitu saja. Kebetulan pintu rumah tidak kututup.
Aku membereskan meja makan sendiri. Kebetulan bibi kalau hari Minggu libur. Dri dapur bisa kulihat kalau Ibu dan Sherin benar-benar akrab. Tak perlu susah payah untuk mendekatkan calon menantu dengan Ibu mertua. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Belum pernah Aku melihat Ibu sebahagia itu. Kupercepat tugasku agar bisa bergabung dengan mereka.
"Tante ke kamar dulu ya Sher. Mau telepon Om. Takut ngambek" kata Ibu meninggalkannya sendiri di ruang keluarga.
"Kesempatan bagus ni!" kataku dalam hati.
Akupun menghampirinya. Ternyata dia sedang membalas pesan di hpnya. Aku sungguh penasaran dengan siapa Dia berbalas pesan sehingga membuatnya tersenyum. "Apa aku cemburu?" tanyaku sendiri. Saat Dia lengah kuambil hpnya,. Dia tak mungkin bisa mengejarku karena kakinya masih sakit.
"Astaga. Kak Rey... Kembalikan Hpku!!" rengeknya.
"Kak Rey... please balikin hpku... Aargghhh. Hisssss..." teriaknya frustasi. Kulihat pesannya dan akupun tau dengan siapa Dia berbalas pesan.
"Kak Rey kembalikan!!!" teriaknya mencoba mengejarku dengan kaki diseret kemudian dia terjatuh. Dengan sigap aku memeluknya. Kamipun jatuh bersama. Aku sebagai alasnya. Sakit tapi woahhh sungguh adegan yang tak bisa dilupakan. Deg.. Deg.. jantung kami sama-sama berdegup kencang. Dengan perasaan yang nano-nano, Akupun memapahnya untuk duduk kembali dan ku kembalikan hpnya.
"Sudah. Jangan dipikirkan lagi. Anggap saja kamu sedang liburan disini. Nikmati saja!!. Ibu dan aku benar-benar tulus sayang padamu, Sher,, Izinkan Aku menjadi sandaranmu.. Jangan memendam sendiri lagi,, kamu tidak sendiri. Kamu punya Aku" kataku memecah keheningan diantara kami dan mencoba mendukungnya berbagi luka dan dukanya bersama. Diapun hanya mengangguk seperti menahan tangisnya.
Chat di hp Sherin :
Nia : "loe gila ya Sher, bokap loe Dateng kerumah gue. Dia nanyain loe yang gak balik kerumah. Emang loe nginep dimana???"
Nia : "Sherin... bales chat gue !!!!! 😫😫😫 loe masih hidup kan Sher !!!"
__ADS_1
Sherin : "Soir Ni baru gue bales. Alhamdulillah gue baik. Gue dirumah temen almarhumah nyokap gue. Besok di sekolahan gue ceritain. Gue lagi pengen nenangin diri dulu. Di sini gue merasa di hargain, di sayang dan di manjain Ni. Gue gak pernah merasa seberuntung ini jika tinggal dirumah itu semenjak nyokap dan nenek gue pergi. loe gak usah khawatir, gue baik-baik aja 😁😁😁. Makasih dah perhatian sama gue 😍😍😍. Big hug so much Ni.