Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Disekap


__ADS_3

Sherin Wiryoatmadja


"Kak??" kupanggil kakak itu karena infusnya tertinggal di meja.


"Aneh, masih muda kok sudah pikun. Kasihan sekali" gumamku dalam hati takut menyinggung perasaannya.


Kakak itu hanya mematung. Kutepuk pundaknya.


"Maaf kak, infusnya ketinggalan" jelasku lembut.


"Terima kasih dek. Kalau begitu kakak pergi dulu" dengan tergesa-gesa kakak itu pergi begitu saja.


"Aneh, bukannya dia laki-laki ya??? Kok tadi suaranya dibuat kayak cewek??? Apa iya punya kelainan mental??? Husss Sherin gak baik" pekikku heran.


"Kak Al, duluan!!" pamitku seraya berjalan menuju ke kamar perawatan the genkz.


Sesekali kusapa orang yang kulewati dan memberikan senyum ramahku pada mereka. Sesampainya di ujung lorong, ada perawat yang memanggilku.


"Nona Sherin??" kata perawat itu terengah-engah.


"Iya ada apa sus?" tanyaku mengernyitkan dahi.


"Nona Anda ditunggu di ruangan dokter Aldo sekarang!!" jelas perawat itu.

__ADS_1


"Saya Sus??? Barusan aja saya bertemu dokter Aldo" tanyaku heran.


"Iya nona, Anda sekarang diminta ke ruangan dokter Aldo. Ruangannya persis di ujung lorong ini sebelah kanan. Anda tinggal masuk aja ke dalam" kata perawat itu menunjuk sebuah ruangan yang amat sepi sekali dan terlihat sedikit seram.


"Kenapa hatiku merasa tak enak sepertinya ada yang janggal. Apa mungkin kak Aldo lupa sesuatu??? Ahhh pikir ntar aja gimananya???" batinku.


"Terima kasih sus. Saya akan segera kesana" aku bergegas ke ruangan kak Aldo.


Sesampai di ujung lorong, ada perasaan sedikit ragu untuk memasuki ruangan ini.


"Masak iya sih, kak Aldo ruangannya menyeramkan seperti ini?" tanyaku dalam hati.


Dengan sedikit keberanian kubuka pintu ruangan itu dan mencoba memanggil nama kak Aldo.


"Permisi. Kak... Kak Aldo" panggilku pelan tapi tak ada sahutan.


BRAKKKKK... pintu ruangan seperti ada yang menutup dengan sengaja.


Segera aku berlari ke depan pintu yang tiba-tiba tertutup sendiri. Aku mencoba berteriak sekeras-kerasnya agar ada orang yang membantuku keluar dari ruangan ini.


"Buka... buka pintunya Dok Dok Dok siapa saja tolong buka pintunya!!! Buka cepet buka jangan main main!!! Buka pintunya sekarang!!! teriakku marah sambil menggedor pintu keras keras.


Kualihkan pandanganku ke arah lemari pendingin jenazah. Seperti ada yang bergerak.

__ADS_1


"Kak Rey tolong, Sherin takut!!! Jangan main main lagi!!! Kakak... Kak Rey... Om Tejo udahan dong bercandanya!!! Sherin takut!!! Tolong bukain!!! Kakak hiks hiks hiks" teriakku meminta ampun karena mencoba mengerjai kak Rey.


Sepintas ada sekelebat bayangan berlari ke tempat tidur kosong dipojok ruangan ini.


"Apa itu??? Kakak please udahan bercandanya. Kak Rey bukain. Sherin mengaku kalah, Sherin mengaku salah, please bukain pintunya hiks hiks hiks" teriakku ketakutan sambil menggedor gedor pintu berkali-kali tapi tetap tak ada sahutan. Bukan apapun yang tak terlihat yang kutakutkan tapi ruangan ini lama tak terpakai.


"Bagaimana kalau ada laba-laba???? Ahhhhh.... Aku takkan sanggup mengatasinya" kataku mencoba keluar sekali lagi. Kalau mau dobrak pintu besi ini rasanya sangat mustahil tanpa peralatanku.


Dok Dok Dok......


"Kak Rey kalau gak buka pintunya sekarang, Sherin beneran marah sama kakak!!!" ancamku kesal.


Klontangggg...


"Mama papa Sherin takut!!!" Dengan posisi terduduk karena lemas kugedor gedor pintu sekali lagi.


Meongggg...


"Apa itu??" perasaan takutku semakin menjadi. Masak iya ada kucing disini.


"Kak Rey!!!" Panggilku semakin keras.


Klontangggg.... Pranggggg...

__ADS_1


Kuberanikan diri mencari asal suara yang membuatku takut. Dengan perlahan kudekati tirai putih lusuh itu. Dengan perlahan kubuka sedikit demi sedikit dan....


"Mama akankah kita segera bertemu??? Papa Sherin sayang kalian dan Brukkkkk...." seketika itu aku pingsan melihat sesuatu yang benar-benar membuat jantungku kolaps.


__ADS_2