Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Di antara Mereka


__ADS_3

Aku mengajak Mong untuk segera pulang karena memang sudah larut malam.


"Kak, emang kalian musuhan ya?" tanyanya penasaran.


"Siapa??" tanyaku pura-pura.


"Kak Rey sama kak Rian agak aneh aja. Masak tiap ketemu berantem mulu" aku ogah-ogahan ngomongin si Rian.


"Pegangan!! Gak usah ngomongin Rian terus!! Udah Kakak bilangin kan jangan mikirin laki-laki lain selain kakak, udah lupa??" jelasku kesal. Sebenernya sih Mong Mong gak salah tapi gara-gara si Rian moodku jadi ancur.


Mong Mong hanya diam saja tapi dia pasti sedang kesal juga. Kamipun sampai dirumah. Ternyata Om Angga dan Tante Nay gak jadi nginep. Sherin pun malam itu harus pulang bersama mereka.


Pagi hari di meja makan


Reynan Gunanto


"Ibu, Ayah, Rian berangkat dulu ya!! Bye bye" kata Rian ndak sopan.


"Mau kemana tu Rian pagi-pagi gini dah cabut, Bu?" tanyaku sinis.


"Rey, panggil kak Rian!! Dia kakakmu" cegah Ibu.


"Iya iya kak Rian" jawabku ketus.


"Katanya Rian mau ngajar di sekolahnya Sherin. Ya Ayah izinin. Lagian dia belum ada kegiatan juga" terang Ayah santai yang membuatku semakin kesal.


"Sekolahnya Sherin Yah? Yang bener aja sih yah, kok Ayah izinin. Kenapa gak di kantornya Ayah aja coba??" kataku kesal.


"Loh emang salah?? Kamu dulu kan gak mau ngurusin yayasan itu, kamu milih jadi tentara. Jadi sekarang ya biar Rian aja yang ngurus. Apa salahnya juga, toh dia juga lulusan S2 Manajemen. Lagian juga sekolahan kita lagi butuh guru" jawab Ayah santai.


"Arghhh Ayah... Kenapa nggak buka lowongan aja. Banyak kok yang mau jadi guru disitu" elakku.


"Astaga reynan, kenapa kamu jadi gini sih. Rey, ayah mau kamu baik sama kakakmu. Ini sudah keputusan Ayah. Ayah harap kamu bisa lebih bijak dan dewasa" kata Ayah dengan tegasnya.


"Reynan sudah... pagi pagi kok udah ribut aja..." cegah ibu yang ternyata sejalan dengan pikiran Ayah.


"Terserah Ayah. Rey pamit. Assalamu'alaikum" kemudian aku bergegas menyusul Rian. Bukan amarah yang mendominasi rasa dan pikiranku tapi lebih kepada kecemasan tentang niat busuk Rian terhadapku melalui Sherin.


Di kediaman Angga Prayuda


Sherin Wiryoatmadja


"Pa, Ma Sherin berangkat dulu. Assalamu'alaikum" pamitku sambil mencium tangan Mama dan Papa.


"Wa'alaikumsalam. Sher tunggu dulu nak!!" cegah Papa.


"Ada apa Pa?" tanyaku singkat.


"Boy, Willy kemari!!!" panggil Papa ke bodyguardnya. Roman-romannya gak enak nih.


"Jaga non Sherin, jangan sampai dia terluka dan jangan biarkan ada yang mengganggunya!!" perintah Papa yang membuat aku kesal.


"Nggak bisa dibiarin nih. Papa lebih gila dari yang kukira" umpatku dalam hati.


"Baik Tuan besar"


"Stoppppp. Berhenti. Jangan bergerak" cegahku. Aku mulai mengatur nafasku.


"Sherin ada apa?" tanya Papa lembut.


"Pa, Ma, Sherin bukan anak kecil lagi. Masak ke sekolah harus ditemenin mereka. Ahhh Papa berlebihan banget sih. Yang ada nih temen Sherin pada kabur semua. Please biarin Sherin naik bus aja ya!! Oh ya yang perlu dikasih bodyguard tu Mama, kan Mama orangnya sangat lembut. Kalau Sherin tenang aja Pa, nggak ada yang bakalan ganggu. Sherin sangat kuat" rayuku pada Mama dan Papa. Hanya dengan satu kata kau tak bisa lari dari pengawasan Angga Prayuda, Mamaku tersayang.


"Tapi Sherin, Mama tak butuh bodyguard. Kamu masih kecil Lagian juga kalau ada mereka pasti gak ada yang berani macem-macem sama kamu. Biar Papa Mama gak terlalu khawatir nak. Mau ya ditemenin mereka!!" paksa Mama dengan tipu muslihat nya.


"Gak Ma, Sherin gak mau. Sherin itu mau sekolah bukan belajar gulat. Mama aja. Pokoknya Sherin mau naik bus. Kalau sampai ada yang ngikutin maka Sherin bakalan pergi dari rumah ini" ancamku menolak. Mama sebenarnya apa yang kau rencanakan???


"Sudah sudah.... kalau Sherin nggak mau ya nggak usah dipaksa. Boy Willy kalian jaga Nyonya saja. Kemanapun Nyonya pergi kalian harus menjaga keselamatannya. Mengerti!!" perintah Papa sudah fix seperti mauku.


"Tapi Boo...." Mama juga berusaha mengelak tapi aku yakin Papa pasti menolak mentah-mentah.


"Ssutttt..... Hon kau tak bisa menolaknya" jawab Papa tegas.


"Ohh... Sherin udah terlambat. Dadah Ma Pa...." pamitku segera mencium tangan dan pipi keduanya.


Segera saja aku berlari meninggalkan rumah Papa yang penuh bodyguard itu.


"Dasar Papa. Masak ke sekolah gitu aja bawa bodyguard, dikira bos gangster apa???? Mamaku tersayang, maaf merepotkan. Kali ini gerak gerikmu tak bisa sebebas dulu he he he" gumamku dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


Di sekolah


Blummmm...


Rian Gunanto


Akupun turun dari mobil sportku.


"Murid-murid disini ternyata cantik dan menarik" senyumku mengembang menyapa mereka.


"Keren banget tu mobilnya. Lihat tuh orangnya ganteng bingitz"


"Wihhh ada guru ganteng banget tuh!!"


"Darimana kau tau dia guru baru kita, mungkin cuma tamu"


"Kayaknya pernah liat deh"


"Ahhh pangeran tampanku"


"Udah punya pacar belum ya, aku mau dong jadi pacar kamu"


"Anak-anak murahan. Cihh... Gadis gadis ini memang perlu dibina karakternya daripada nilai akademiknya" kataku mengejek. Kutelusuri setiap sudut dengan mata elangku. Berharap segera menemukan gadisku.


Flashback


Kebetulan hari itu aku baru balik dari Kanada. Rencananya sih hanya mengunjungi orang tua dan adikku. Tapi saat akan menyeberang jalan aku ditabrak pengendara sepeda motor dan apesnya tu orang melarikan diri.


"Sial. Shit.... brengsek tu orang. Belum apa-apa sudah ketemu orang Gila nggak bisa bawa motor. ****.... Akan kubuat perhitungan kalau ketemu tu orang cihhhh" pekikku marah. Tanpa kusadari ada seorang gadis berjalan mendekat.


"Kakak gak apa-apa? Tangan kakak berdarah. Sebentar aku liat dulu lukanya!!" kata seorang gadis manis berseragam SMA.


Gadis itu secantik bidadari surga. Wajahnya yang lembut, manis, dan menyejukkan bagi siapapun yang memandang. Wajah yang sangat lembut selembut bunga sakura.


"Apa aku mimpi??? ohh Tuhan ternyata dia nyata!! Betapa beruntungnya diriku" batinku.


Dengan hati-hati dia membersihkan lukaku dan mengobatinya. Tak lama tapi aku puas memandang wajahnya. Setelah selesai dia membereskan kotak obat dan memasukkannya kedalam tas punggungnya kembali.


"Sudah selesai kak. Segera ke dokter ya!! Pengobatan ini hanya sementara. Semoga lekas sembuh. Assalamu'alaikum" Diapun tersenyum manis dan meninggalkanku yang masih terpesona dengan kecantikannya.


"Arghhh sial. Siapa tadi namanya???? Dasar bodoh. Aku harus menemukan dia secepatnya. Tunggulah aku periku......" rutukku kesal.


Jika mereka tahu kedatanganku kenegara ini maka seperti biasa mereka akan menyuruhku dihari yang sama untuk pulang ke Kanada. Mereka akan beralasan apa saja. Siapa yang mereka rahasiakan dan lindungi. Adikku kah??? Tapi kenapa??? Semakin mereka melindunginya maka semakin aku ingin menghancurkannya.


Sialnya sampai di depan rumah. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, adikku begitu disayang dan dicintai Ayah dan Ibu.


"B*****t... Ternyata dugaanku selama ini benar. Ternyata begini kelakuan mereka di belakangku. Lihat saja akan kuhancurkan hidup putra kesayanganmu" ancamku mengeratkan tanganku dengan keras dan memukulnya Ke dinding.


Tak jadi kakiku melangkah masuk kerumah itu. Aku memutuskan menginap di hotel. Sampai saat itu tanpa sengaja aku melihat gadis itu, periku, tinggal di rumah terkutuk ini.


"Sialan ternyata dia tak cukup merebut kedua orang tuaku tapi dia juga merebut periku.... Lihatlah bagaimana aku akan merebutnya darimu. Dia hanya milikku. Karena takdirlah kami bertemu. Reynan......... Aku ingin kau menderita......" rutukku penuh dendam dan amarah yang menggebu-gebu.


Tanpa pikir panjang aku segera bersiap masuk kerumah yang paling aku benci.


"Persetan dengan mereka. Dia takkan ku lepaskan. Periku aku datang" Senyumku sinis.


flashback off


"Gadis manis boleh tau ruang guru sebelah mana??" tanyaku dengan tatapan sedikit menggoda.


"Ahhh gantengnya... Ruang guru ada di lantai dua sebelah kanan paling pojok. Mau dong nganterin!!!" jawabnya sedikit menggoda dengan malu-malu.


"Terima kasih manis" godaku membuat mereka semakin histeris. Segera ku cari ruang guru yang dimaksud tadi.


Sherin Wiryoatmadja


"Mong Mong..." sepertinya aku kenal suara itu.


Segera kucari sumber suara yang memanggilku.


"Kakak... Apa ada masalah??? Kok bisa disini??" tanyaku penasaran.


"Kakak perlu bicara 10 menit saja sama kamu. Ikuti kakak!!" ajak Kak Rey menuju ke tempat yang agak sepi.


"Ada apa kak?" tanyaku buru-buru sambil melihat jam tanganku karena takut terlambat.


"Dengerin kakak!!" Akupun mengangguk setuju.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi di sekolahan, kamu gak boleh dekat-dekat dengan Rian, mengerti!!" kata kak Rey tegas.


"Loh kak Rian ngajar disini??? Trus nggak boleh Deket sama dia gitu?" tanyaku semakin penasaran.


"Mong, kakak serius. Kamu harus jauhi Rian. Dia bukan orang yang baik. Pokoknya kakak gak mau sampai terjadi apa-apa sama kamu. Dan inget jangan deket-deket sama laki-laki lain juga!!!" gertak kak Rey yang membuat aku berpikir apa iya kak Rey sepossesive ini.


"Dipingit dong Kak??? Dasar bucin. Kakak ada ada aja sih.... Ho ho ho sangat menakutkan.... Hirghhhhh...." jawabku santai.


Takkk.... Kak Rey menyentil dahiku.


"Ahhh awww... kakak.... sakit tau......" teriakku meringis Memegangi dahiku.


"Jangan bercanda lagi. Dasar bodoh. Sebenarnya otakmu isinya apa sih??? Ingat pesan kakak. Ini perintah. Awas kalau kamu sampai dekat dekat dengan Rian" ancamnya semenakutkan itukah.


"Kakak masak iya kak Rian jahat sih. Dia kan kakakmu. Apa terjadi perang saudara??? Tolong jangan libatkan aku karena aku bukan selir jahat ha ha ha" selorohku sengaja menggodanya.


"Mong jangan bercanda lagi. Kakak serius. Percaya sama Kakak. Kakak gak mungkin ngasih tau alasannya ke kamu karena itu aib keluarga. Please dengerin kakak, jauhi Rian, mengerti!!!" tegasnya sekali lagi. Aku cuma mengangguk bukan mengerti tapi menghentikan pembicaraan ini agar aku tidak telat masuk ke kelas.


"Udah kan? Kalau udah Sherin masuk dulu, udah terlambat nih!!! Dah kak Assalamu'alaikum" pamitku sambil melambaikan tangan.


"wa'alaikumsalam" jawabnya. Kemudian aku segera berlari ke kelasku meninggalkannya. Sekilas kulihat raut wajah kakak yang begitu mengkhawatirkanku.


"Ada apa sebenarnya diantara mereka? Bukankah mereka saudara kembar? Kenapa mereka seolah seperti anjing dan kucing? Ya Tuhan aku tak ingin menyakiti hati kakak Pandaku tapi aku juga tak mungkin berbuat jahat pada kak Rian, Ahhh pusing aku.... Lihat saja bagaimana nanti.... Hemmm.... dududududu...." tanyaku dalam hati sekejap melupakan yang terjadi.


Di dalam kelas


"Sherin..... gue kangen sama loe. Hiks hiks. Jangan tinggalin gue lagi ya Sher!!! Gue seneng nyokap loe masih hidup dan juga loe udah ketemu bokap kandung loe. hiks hiks Sherin... Gue harap sekarang loe bahagia selamanya" kata Nia sohibku memelukku lama sekali dan aku terharu dibuatnya.


"Nia, thanks banyak banyak buat doa loe. Gue janji gak akan ngilang lagi, kalaupun ngilang gue akan bilang loe dulu oke!!! Ni gue kangen loe juga hiks hiks hiks" drama pertemuan dua Sohib lengket membuat seisi kelas bersorak. Intinya rame.


"Udah ah lebay banget" kata Rini sinis.


"So sweet. Mau peluk kamu juga dong" kata Raka mencuri kesempatan.


"Sherin gue seneng loe balik lagi buat belajar. Siap-siap juara kelas buat gue" kata Varo menantang.


Tettttt tettttt...


Kamipun semua duduk dikursi masing-masing. Deg deg... Guru matematika yang terkenal killer dan apesnya dia walikelas kami masuk ke kelas dengan tampang sangarnya.


"Ni, emang ada pelajaran guru killer?" bisikku penasaran apa iya sudah ganti jadwal.


"Gak ada Sher. Gue aja kaget setengah mati" bisik Nia.


Tak tak tak..... bunyi penghapus dipukulkan kepapan tulis.


"Diam semua. Jangan berisik!!" suara guru killer menggelegar.


"Bapak mau ngomong sesuatu sama kalian. Dengarkan baik-baik" kata pak Brojo menggema seisi kelas.


"Ya pak" jawab kami semua.


"Mulai sekarang bapak bukan wali kelas kalian. Bapak Sudah dipromosikan. Kalian senang kan???" kata pak Brojo belum selesai sudah diberi tepukan sorak sorai seisi kelas bahagia.


"Dipromosikan.... Gila jadi apa tu pak Brojo" tanyaku heran. Pergantian posisi secara mendadak. Kelihatannya bukan hal baik. Apakah masih ada KKN di sekolah ini????


"Sher.... Kenapa loe bengong???" tanya Nia kembali menyadarkanku.


"Yes. Hore. Terima kasih ya Tuhan. Yipppiiii"


"Diam!!! Dengarkan mulai sekarang bapak kepala sekolah kalian, mengerti!!!" kata pak Brojo senang.


"Yahhhhh" kata kami semua lesu.


"Sudah diam!!! Bapak kenalin kalian dengan wali kelas yang baru. Silahkan masuk pak!!" Dengan sopan pak Brojo mempersilahkan masuk seorang laki-laki tinggi, putih, tampan ada yang bilang mirip oppa So Hyun.


"Perkenalkan saya wali kelas kalian yang baru. Panggil saja Pak Rian" dia memperkenalkan dirinya dengan sopan disertai dengan celotehan anak-anak perempuan di kelas kami.


"Kak Rian??? Mata gue nggak salahkan???" kataku entah berapa kali mengedipkan mata.


"Oppa... ganteng bingitz" kata Ira terpesona.


"Aku padamu pak Rian!!" Kata Sintia melemparkan ciuman jauhnya kepada kak Rian.


"Oppa Rianku...." teriak Nita keras sekali.


Aku dan Nia hanya saling bertukar pandang. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat.

__ADS_1


"Kak Rian jadi walikelasku?? Bagaimana kalau kak Rey tau?? Perang saudara ternyata bukan hanya ada di drama kolosal saja tapi di hidupku.... Dasar Sherin....." batinku gelisah merutuk diriku sendiri.


__ADS_2