
Malioboro
"Apa kalian sudah menemukannya???" teriak Raka duduk disebuah coffe shop.
"Maaf Tuan muda kami belum menemukan gadis itu" jawab pengawal pribadinya.
"Sial. Kalian sebenarnya bisa kerja apa tidak???" Raka melempar cangkir kopi tepat ke arah kepala pengawal pribadinya hingga berdarah.
"Maafkan kami Tuan muda penghentian ini atas perintah Ketua. Ada yang lebih penting yang harus saya sampaikan kepada tuan muda" kata pengawal pribadi itu dengan menahan sakit.
"Katakan!!!" Raka terus memandang penuh dengan amarah yang begitu besar.
"Ketua ingin Anda kembali ke Jakarta sekarang juga. Kami sudah menyiapkan heli untuk Anda kembali. Ketua ingin berbicara dengan Anda secara pribadi. Ini menyangkut perusahaan dan juga nona Sherin" jelas pengawal itu.
"Huh... Dasar lelaki tua itu. Dia benar-benar menyebalkan. Baiklah kita pergi sekarang!!!" ucap Raka begitu saja dengan tatapan kejam.
Satu jam sebelumnya di Royal Company
"Berita apa yang kau bawa kali ini??? Jika itu tidak memuaskanku kau tau sendiri akibatnya. Tangan dan kakimu akan hilang untuk selamanya" ancam Presdir Jo dengan sikap dingin dan kejam dari aura yang terpancar.
"Maafkan saya Presdir telah mengganggu pekerjaan Anda tapi ini sangat penting. Anda bisa melihat beberapa foto ini dan juga rekaman ini" kata fotografer sewaan yang sudah beberapa hari ditugaskan membuntuti Liliana dan Sherin.
Dengan dingin, Roy membuka amplop dan melihat beberapa foto yang sontak membuatnya naik pitam. Kemudian dia beralih melihat video yang sengaja dia taruh di kamar penginapan tempat Sherin tinggal sementara. Ternyata dia sudah merencanakannya dengan matang.
--------+++++---------+++++--------
Isi Rekaman
"Bagaimana keadaanmu sayang??? Apa ada yang terluka??" terlihat disitu Raka begitu khawatir dan malam itu dia menjaga Sherin palsu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan berbeda dari kepribadiannya yang menakutkan. Dia terus menggenggam erat tangan Sherin palsu. Itu membuat Roy menatap marah *** kertas ditangannya dengan kuat.
"Sherin, Bagaimana kalau kita menikah saja, aku akan melindungimu. Aku takkan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Tetaplah disampingku. Aku akan membuat Presdir Jo tak berani mengusik perusahaan Papa dan nenekmu lagi. Aku pasti akan membuat perhitungan dengannya" Rakapun mendekatkan wajahnya lalu mencium mesra Sherin palsu sontak Roy yang begitu marah langsung melempar laptop dan mengacak kasar meja kerjanya.
------------+++++-------------+++++-----------
"Arghhhhhh..... sialan kau Raka. Kau berani menyentuh wanitaku maka tunggulah kehancuranmu!!!" teriak Roy yang sudah gelap mata.
"Kau, bukankah seharusnya ada rekaman sebelumnya. Bagaimana kau memberiku video murahan seperti ini" teriak Roy sekali lagi.
"Maaf Presdir Jo, kami sudah berusaha memulihkan data dan video rekaman yang sebelumnya, tapi semua sia sia karena sudah dimasuki virus baru yang sama sekali tidak ada yang tau virus seperti apa itu" jelas fotografer itu dengan wajah tertunduk dan ketakutan.
"Dasar tidak berguna. Lebih baik kau pergi ke neraka. Dorrrr...." tanpa mengenal ampun Roy menembak fotografer sewaannya.
"Sekretaris chen, keruanganku sekarang!!!"
"Bereskan dia. Dan siapkan berkas untuk menarik saham kita yang ada di perusahaan Bumi Prakasa. Sekarang!!!" teriak Roy lepas kendali.
Titik Nol Kilometer Jogja
"Mau, emmm lezat loh nyam nyam nyam" godaku memameri es krim berkali-kali didepan mulutnya membuat kak Rey semakin gemas.
"Dasar anak kecil. Liat es krim aja udah senengnya minta ampun" ucap kak Rey sok jaim padahal dianya juga mau.
"Kita kemana lagi kak??? masih ada waktu dua jam sebelum aku kembali ke asalku ha ha ha" tanyaku mencoba mencari suasana yang berbeda.
"Bukankah asalmu dari tulang rusuk ku Mong Mong??" ucapnya membuatku tersipu malu.
"Ha ha kalau aku dari tulang rusukmu berarti sekarang tulangmu hilang satu kak" candaku membuatnya menyentil dahiku.
Drrrtttt drrrtttt...
"Bentar aku angkat telpon dulu" kataku berusaha bangkit tapi ditariknya sehingga aku jatuh terduduk disampingnya sekali lagi.
"Angkat disini. Aku bisa membantumu jika itu penting" katanya meyakinkan.
"Vanya ada apa??? Baiklah aku mengerti. Kau tetap tak boleh pergi. Jaga Professor. Aku bisa mengatasi ini. Aku kirim lokasinya sekarang!!" kataku menutup panggilan.
"Dari Vanya??"
"Iya. Ha ha tak ada yang serius kok" kataku tak ingin membuatnya khawatir.
"Jangan berusaha menipuku. Katakan!!!" pintanya sedikit memaksa.
"Baiklah kalau gitu kak Rey bisa ikut denganku" kataku langsung mengambil handphone segera melacak keberadaan Sereti.
"Gadis ini mencoba bermain-main denganku. Lihat saja apa yang bisa kulakukan padanya" batinku senang langsung bisa mendapatkan lokasinya dengan mudah.
"Nona, mobilnya disebelah sana. Apa yang Anda perlukan sudah ada didalam. Dan ada beberapa informasi penting yang harus Anda tahu sudah saya kirim ke email pribadi Anda" jelas seseorang yang diutus Vanya.
"Baiklah. Terima kasih. Kau boleh pergi"
"Ayo kak, kau jadi ikut tidak??" tanyaku membuyarkan lamunannya. Entah kata kataku mana yang bisa membuatnya hilang fokus.
__ADS_1
"Masuklah!!!" pintaku terburu-buru.
"Serius kau yang nyetir???" tanyanya tak percaya.
"Masuk atau kutinggalkan??" kataku memaksa.
Akupun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Melihat kak Rey yang begitu tegang ingin sekali menggodanya tapi karena aku harus segera menangkap tupai kecil ini jadi kuurungkan niat jailku.
"Turunlah. Begitu aku melumpuhkannya gendong dia masuk kedalam mobil karena jalanan ini begitu ramai jadi jangan memancing keributan. Kak mengerti tidak??" Jelasku entah apa yang kak Rey tatap dari wajahku. Tapi aku yakin kak Rey adalah orang yang cerdas dan partnerku yang lebih dari kata sempurna.
Dengan mata elang, aku berusaha mencarinya diantara banyak orang yang berlalu lalang.
"Akhirnya aku menemukanmu" kataku dengan senyum tersungging.
BRUKKK... Sengaja aku menabraknya hingga terjatuh. Dengan cepat kusengatkan lipstik listrik ke punggung tangannya. Seketika dia pingsan seketika.
"Kenapa dia nona???" tanya seorang pria paruh baya dan begitu banyak yang datang mengerumuni kami.
"Aku tak sengaja menabraknya. Dan kemudian dia pingsan. Mungkin dia kelelahan. Biar aku membawanya kerumah sakit" kataku beracting cemas dan merasa bersalah.
"Tuan bisa Anda membopongnya ke mobilku!!! Anda juga bisa ikut saya kerumah sakit sebagai saksi saya. Saya akan bertanggung jawab penuh" kataku masih dengan muka polos.
"Iya, cepat kasihan nona ini. Dia kelihatan begitu menderita" jawab seorang ibu muda.
Kak Rey dengan perlahan mengangkat tubuh Sereti dan memasukkannya ke dalam mobil. Akhirnya kami bisa lepas dari kerumunan orang-orang disana tadi.
"Tak kusangka gadisku sangat pintar beracting??? Aku harus berhati-hati denganmu jika aku ingin selamat ha ha" celoteh kak Rey berusaha menggodaku.
"Tentu saja kau harus berhati-hati. Apa kakak tak tau aku punya dua kepribadian. Apa kau takut sekarang??" godaku balik membuatnya menyentil pipiku dan itu terasa sakit.
"Konsentrasilah menyetir. Jangan menggodaku. Dasar Mong Mong, apa dengan kau menyakitiku aku akan meninggalkanmu??? Enak saja, siapa, apa dan bagaimapun dirimu aku adalah laki-laki yang sempurna dan sanggup berada di sisimu. Jadi jangan pernah berpikir meninggalkanku, oke!!!" kata kak Rey berusaha meyakinkan keberadaanku dihatinya.
"Oke kakak tamvan. Aku takkan berpaling darimu. Sepenuhnya aku milikmu jadi jangan khawatir. Tapi kalau aku bosan paling juga melirik laki laki lain ha ha ha" ejekku membuatnya melirik tajam dan mematikan.
"Dasar rubah nakal. Sebelum itu terjadi kau sudah kuikat ditiang rumahku" katanya kejam.
10 menit kemudian kami sampai di villa bibi bagian selatan. Villa ini terdiri dari dua bagian untuk sebelah Utara adalah rumah utama. Sedang bagian selatan adalah penjara bawah tanah dan juga laboratorium penelitian milik bibi.
"Kita kemana??" tanya kak Rey melihat ke sekitar hanya ada hutan belantara.
"Tempat yang sangat menakutkan. Apa kakak takut??? Kalau takut aku bisa menurunkanmu disini" kataku masih berusaha mengerjainya.
"Hyaa... Kakak apa kau mau melakukannya disini mumpung sepi???" pembicaraan kami semakin panas. Tapi sebenarnya hanya untuk mengusir kebosanan saja. Mana berani aku melakukan hal bodoh seperti itu. Takut dicincang malaikat.
"Mong siapa yang mengajarimu berbicara seperti wanita penggoda seperti itu?? Kau sudah bosan menjadi gadis???" timpalnya. Kalau pembicaraan ini diteruskan bisa bisa gak habis habis.
"Kita sudah sampai" kataku segera memasukkan sandi dan sidik jari melalui ponselku membuka gerbang utama.
"Apa yang kau lakukan. Disini tak nampak rumahpun???" kata kak Rey menatap didepannya hanya ada lapangan yang dipenuhi rerumputan.
"Lihat saja. Selesai" kataku menunjukkan jalan rahasia menuju ruang bawah tanah.
"Sebenarnya apa pekerjaan bibimu?? Kenapa ada tempat seperti ini disini??" tanyanya heran melihat ruang bawah tanah yang sangat mewah dan canggih.
"Malaikat pencabut nyawa ha ha... sudah diam saja kalau tidak bibiku bisa murka. Tolong gendong Sereti kedalam kak dan tetaplah di belakangku kalau kau tak ingin terluka" Jelasku sedikit cemas kalau kalau kak Rey bertindak ceroboh. Hampir di setiap sudut ruang bawah tanah ini dipasang jebakan dengan teknologi tercanggih dan belum pernah ada. Itu semua buatan bibiku dengan kegilaannya dalam bidang teknologi.
"Apa maksudmu Mong, kau meremehkanku lagi" ucap kak Rey masih tak percaya.
"Lihatlah ini??" aku menunjukkan jebakan diawal dengan melemparkan serbuk putih ke area yang terpasang sensor merah yang dialiri listrik statis. Benang merah terhubung sangat jelas antara satu titik ke titik lain dengan keakuratan hampir 99%.
"Astaga Mong, kau benar-benar sudah gila kenapa kau bermain-main ditempat ini" teriak kak Rey tak percaya.
"Pelankan suaramu Kak. Jangan ngomong sembarangan disini. Bibi Fang bisa marah. Aku dengar dengar dari orang kalau bibi Fang marah dia bisa menelanjangimu hidup hidup untuk dijadikan bahan percobaannya. Kau mau aku menjadi janda???" godaku masih saja jail mengerjainya.
"Bibi bisakah kau matikan semua alat jebakanmu atau kau mau aku menghancurkannya satu satu" teriakku melalui sensor suara disudut dinding berlapis marmer itu.
"Sialan kau bocah nakal. Sudah berapa alatku yang kau rusakkan. Tunggu disana atau kau mau laki laki itu menjadi mangsa baruku ha ha ha" suara wanita yang begitu menggelegar menggema di seluruh ruangan ini.
"Apa bibimu sakit jiwa ya Mong??" tanya kak Rey berbisik ketakutan.
"Jangan bergosip. Kakak aku tak menjamin kau bisa keluar dari sini jika kau tidak mengunci mulutmu rapat-rapat" Jelasku menahan tawa berhasil mengerjainya sekali lagi.
"Keponakanku yang cantik. Siapa dia dan wanita yang digendongnya??" tanya bibi melepas pelukannya dan menatap tajam ke arah kak Rey dan Sereti.
"Bibi.... aku merindukanmu" memeluk bibi sekali lagi.
"Hey gadis bar bar siapa dia, jangan mengalihkan pembicaraan" kata bibi sedikit berteriak. Kak Rey tak berani berkata setelah apa yang kuucapkan padanya. Sungguh menggemaskan dan ingin sekali rasanya tertawa lepas melihat wajahnya yang ketakutan seperti melihat hantu.
"Ohh kenalkan ini tunanganku, Reynan Gunanto bi. Gadis itu anaknya professor Dominique yang perlu sedikit diberi pelajaran. Apa ada tahanan kosong disini???" tanyaku dengan nada khas Liliana.
"Dasar gadis bodoh, kenapa aku harus menjaganya. Aku tak mau bawa dia ke villa Utara saja!!!" jawab bibi menolak.
__ADS_1
"Ayolah... ya ya bibi Fang baik dah. Bagaimana kalau aku membantumu membuat formula itu??? Bukankah kau belum menyelesaikannya???" ucapku mencoba merayunya.
"Gadis pintar. Kalau gitu masukkan dia ke kamar 13 ikuti aku!!!" jawab bibi setuju. Kamipun mengikutinya dari belakang.
"Mong benarkah dia bibimu, wajahnya seperti gangster bahkan seperti pembunuh bayaran" ucap kak Rey berbisik.
"Ehm ehm... Aku bisa mendengarnya Tuan Rey" timpal bibi dengan suara khasnya.
"Sudah kubilang tutup rapat mulutmu kakak" jawabku berbisik pelan.
"Masukkan dia kesana!!" pinta bibi langsung kak Rey buru-buru membaringkan Sereti ke tempat tidur. BRAKKKKK....
"Bibi apa yang kau lakukan???" teriakku tak percaya Bibi tega mengurung kak Rey dan Sereti sekamar. Meskipun ruangan ini tak seperti penjara tapi jika pintu sudah tertutup maka semut kecil pun takkan dengan mudah bisa keluar.
"Bibi Fang apa yang kau lakukan padaku??? keluarkan aku sekarang!!!" teriak kak Rey sama kesalnya denganku.
"Jika kau memang tunangannya Sherin maka ini ujianmu untuk mendapatkan restuku. Keluarlah dengan usahamu sendiri. Dan kau Sherin kau harus menepati janjimu menyelesaikan formula itu denganku kalau tidak tunanganmu selamanya jadi tawananku. Ha ha ha.... oh ya aku juga ingin melihat bagaimana kekuatan cinta yang kata orang bisa mengatasi masalah seberat apapun. Tuan Rey kau bisa membuktikannya sekarang!!!" ancam bibi tanpa basa basi.
"Bibi... lepaskan dia sekarang!!!" pintaku memaksa.
"Mong tenanglah. Akan ku buktikan kalau aku layak berada di sisimu. Jangan cemaskan aku. Konsentrasilah membuat formula itu. Tapi jika formula itu merugikan orang banyak kau tak boleh membuatnya. Kau mengerti!!!" jelas kak Rey menerima tantangan bibi Fang.
"Jaga diri baik baik kak. Aku pergi dulu. Jangan merindukanku hiks hiks hiks" kataku berpamitan ala ala pasangan LDR.
"Jangan lebay. Ikut aku cepat!!!" teriak bibi menarik tanganku menjauh dari kamar 13 itu. Sesekali aku menoleh melihat kak Rey menatapku sendu.
Didalam Laboratorium dan Ruang Kendali
"Dasar anak nakal. Kau menyuruh bibimu menjadi garang dan mengerjai tunanganmu sendiri. Sampai kapan kau akan dewasa???" keluh bibi.
"Aku suka melihat wajahnya saat aku dalam bahaya atau terpojok. Mau taruhan bi??? Dalam satu jam dia pasti bisa keluar dari kamar itu" kataku dengan senyum lebar.
"Baiklah. Bagaimana kalau kau kalah kau menjadi menantuku?? Long Yi Yan masih menunggumu sampai saat ini" kata bibi tak menyangka dia bakal menyangkut-pautkan diriku dengan kakak Long lagi.
"Hahhhhh... Bibi kau belum menyerah menjodohkan kami??? Aku akan menikah dua Minggu lagi. Hematlah tenagamu menjodohkanku dengan kakak. Kakak Long dan aku hanya bisa menganggapnya sebagai kakak adik saja" Jelasku tegas menolak.
"Gadis ini, kalau sudah bicara tajam sekali mulutnya. Tanpa disaring sama sekali. Hufffttt" keluh bibi menghela nafas.
"Kau sudah melihat berita sore ini belum??? Lihatlah" kata bibi menunjukkan layar laptopnya dengan berita bisnis terpanas.
-------+++++--------+++++---------
Kedua perusahaan besar Royal Company dan juga Bumi Prakasa melakukan perang dagang besar besaran. Kedua perusahaan ini bersaing ketat yang menyebabkan kemerosotan indeks saham mereka hingga berada di zona merah masing masing -0,57% dan -0,45%. Jika terus terjadi persaingan yang tidak sehat seperti ini maka ahli ekonomi bisa memastikan kalau kedua perusahan besar tersebut tidak bisa bertahan. Sementara untuk saham Atmadjaya dan Yudha Karya diprediksi akan terus menguat berada di zona hijau 6,32%. Direktur Anugerah Persada, Hans Bernard mengatakan sepanjang pekan ini, pergerakan pasar masih akan diwarnai oleh berita perang dagang.
--------+++++-------++++++--------
"Kenapa kau tersenyum bocah kecil???" tanya bibi heran.
"Tentu saja senang bibi. Bukankah rencanaku berhasil. Tinggal satu mengurus Professor Benedict. Apa bibi tau dimana dia sekarang???" tanyaku mencoba peruntungan.
"Kalau tidak salah bukankah dia buronan interpol. Kenapa kau ingin mencarinya??"
"Dia memanfaatkan wajah pamanku dan membunuh bibiku. Dia juga melakukan kloning terhadap manusia genius yang masih hidup" Jelasku membuat bibi terkejut.
"Dia memang terkenal tak kenal takut. Dulu dia sangat ramah bahkan tak pernah buat masalah tapi semenjak bibimu menolaknya dia menjadi monster yang tak terkendali. Ternyata pengaruh wanita sangat besar di semua lini kehidupan. Bukankah begitu sayang??" kata bibi mencoba menafsirkan pemikirannya.
"Kurasa begitu. Wanita racun bagi laki-laki yang buta akan cinta. Sekali wanita berubah licik maka apapun yang dia mau pasti ada dalam genggamannya termasuk menghancurkan pria sampai ke titik terendah. Tapi wanita juga madu bagi pria bisa menjadi penawar dan obat serta menaikkan kedudukan pria. Hanya pria bodoh yang melakukan segala cara demi mendapatkan wanita ha ha ha apakah aku sekarang sudah dewasa bi???" kataku hanya mencoba berpikir dari sudut pandangan sendiri.
"Kau mencintai laki-laki itu???" tanya bibi mencari tau.
"Tak perlu kau jawab. Aku bisa merasakan kalian memang saling mencintai. Lihatlah bagaimana dia berjuang untuk keluar dari kamar itu. Ternyata dia cerdas juga bisa menemukan tombol kecil yang kusamarkan dengan dinding. Pergilah. Kapan kapan kita bicara lagi. Aku akan merawat gadis itu, tenang saja" kata bibi meyakinkanku.
"Baiklah jaga dirimu bi. Aku sayang padamu. Dah" pamitku memeluknya dan kembali beracting senang karena kak Rey berhasil keluar dari kamar 13 itu.
"Kak Rey.... Kau tak apa???" tanyaku memeluknya seraya terharu.
"Mong kau tak apa??? Apa bibimu menyakitimu???" Kak Rey balik bertanya.
"Aku tak apa. Aku baik baik saja" sekali lagi kak Rey memelukku.
"Heyyy kalian jangan mengumbar kemesraan didepan publik... Cepatlah keluar kalau tidak kukurung lagi kau berdua disini. Aku hitung sampai 10 jika tidak semua alat sensor keamanan akan berfungsi seperti semula 10, 9, 8,....." teriak bibi mengagetkan kami. Hitungan mundur kali ini tak main main ini sungguhan aku dikerjai bibi Fang gantian. Kami berdua bergandengan tangan berlari keluar dari ruang bawah tanah utama.
"Hah hah hah hah kau tak apa Mong???" tanya kak Rey sambil menarik nafas.
"Tak... apa kak hah hah hah" jawabku sama capeknya dengan kak Rey.
"Bibimu sungguh terlalu. Apa dia perawan tua jadi galaknya minta ampun???" teriak kak Rey tak tau bibi masih bisa mendengar dari ruang kendali.
"Hyaaa jaga ucapanmu. Cepat pergi dari sini kalau tidak aku akan menikahimu sekarang juga ha ha ha" teriak bibi melalui speaker kendalinya.
"Kak Rey..... Kau menyulut amarah bibiku.... akan ada petir tanpa hujan kali ini. Sebaiknya kita cepat kembali!!!" tanganku menarik paksa kak Rey kedalam mobil dan melajukan mobil dengan kencang.
__ADS_1