
Sherin Wiryoatmadja
"Kak lepaskan aku!!!" kataku sedikit melunak. Kupikir dengan sikap sedikit lebih lembut dia akan melepaskanku.
"Baiklah sayangku. Aku akan melepaskanmu tapi dengan satu syarat. Menikahlah denganku!!" katanya memaksa.
DYARRRRR... syarat yang sungguh teramat kejam bagiku dan tak mungkin aku sanggupi.
"Bagaimana aku bisa menikah dengan laki-laki ini?? Aku tak mungkin mengkhianati kak Panpanku. Dan aku tak mau menikah dengan orang seperti dia. Hanya satu cara aku harus mengulur waktu. Berpikir Sherin!!" gumamku dalam hati.
"Cincin ini!!" mataku membelalak melihat cincin yang dipakainya. Aku mengenalinya dengan jelas siapa pemiliknya.
"Bagaimana dia bisa memakai cincin ini???" tanyaku dalam hati penuh tanda tanya besar.
Akupun terdiam lama menjawab permintaannya dengan tubuhku masih terkunci seperti tahanannya.
"Ya Tuhan ampunilah aku. Izinkanlah aku berbohong sekali ini" kataku meminta izin Rabbku atas dosa yang dengan sengaja kulakukan.
"Aku mau menikah dengan kakak" sejenak mulutku terhenti berkata tapi sebenarnya aku bergumam dalam hati menyebut kak Panpanku.
"Baguslah manis. Kau memang kucingku yang penurut" katanya senang.
"Tapi dengan satu syarat dan kakak harus menjawabnya dengan jujur!!" gertakku sedikit bernada keras.
"Wah ternyata kucing manisku masih keras kepala. Baiklah. Katakan yang ingin kau tanyakan sayang!!" suruhnya dengan tersenyum penuh arti.
"Kenapa kakak menginginkan diriku?? Bukankah kita tak saling mengenal satu sama lain. Kenapa kakak harus terobsesi padaku. Diluar sana banyak gadis yang lebih, lebih dan lebih dariku"
"Pertanyaan bodoh Heeehhh. Tentu saja karena kau itu milikku. Kau juga takdirku. Kau peri penyelamatku. Kau terus membuatku menderita karena di hatiku cuma memikirkanmu. Kau ingat saat takdir mempertemukan kita pertama kali. Kau mengobati lukaku dan merawatnya dengan lembut. Saat itulah untuk pertama kalinya aku jatuh cinta padamu. Dan satu hal lagi, surat perjodohan kakekmu dan kakekku yang aku temukan di dalam lemari kerja kakekku" jelasnya.
"Surat perjodohan??? Maksud kakak???" tanyaku terperanjat dengan munculnya surat perjodohan itu. Bisa bisanya Kakek menghancurkan hidupku juga. Apa tak cukup hanya menjodohkan mamaku saja.
"Ya surat perjodohan. Disana dengan jelas tertulis bahwa cucu dari Suryo Wiryoatmadja dengan cucu dari Baskara Gunanto jika dia laki-laki dan perempuan maka mereka akan menikah. Namun jika mereka laki-laki dan laki-laki/perempuan dan perempuan maka mereka harus menjadi saudara sehidup semati" jelas kakak dengan penuh kemenangan.
"Apakah ini takdir ataukah ini ujian??" gumamku masih tak percaya dengan apa yang kakekku lakukan.
"Tak mungkinkan, jika kau mendapatkan kami berdua. Jadi mulai sekarang, KAU SEPENUHNYA MILIKKU. Camkan baik-baik!!" gertaknya.
__ADS_1
Dengan perasaan kacau balau, aku harus benar-benar memikirkan kemungkinan terburuk sekalipun jika harus terus berada dalam genggamannya. Kuhela nafas panjang berharap oksigen cepat masuk ke otakku sehingga aku dapat berpikir jernih.
"Bisakah kakak melepaskan pelukan kakak kepadaku?? Sungguh aku kesulitan bernafas" kataku dengan suara parau.
"Oke. Janji kau tidak melarikan diri lagi!!! Atau aku akan langsung mencengkerammu. Kau mengerti!!" katanya dengan mengancam.
"Tentu saja. Apapun itu aku takkan melarikan diri. Aku mengaku kalah" kataku sedikit membuatnya senang.
Diapun melepaskan pelukannya.
"Ohhh... akhirnya. Aku bisa bernafas hosh hosh hosh" kataku senang.
"Ikuti aku!!!" perintahnya dengan menggenggam tanganku kencang.
"Ya Tuhan sekali lagi ampuni aku!! Bukan maksudku mau berbuat licik padanya. Aku hanya mencoba bertahan" kataku merasa bersalah.
Dengan sedikit ditarik aku berjalan tertatih dibelakangnya. Karena pertarungan tadi membuat tenagaku habis. Semua tulangku terasa sakit, remuk dan lemah.
Dia membawaku ke sebuah rumah bambu kecil. Entah apa yang ada didalamnya. Mataku berusaha mengamati setiap celah yang bisa kugunakan untuk melarikan diri.
KReEeeekkkk...
"Masuk!!" katanya sedikit kasar.
"Duduk!!!" perintahnya memaksa.
Ketika aku duduk, dia dengan cepat mengambil tali tambang untuk mengikat kaki dan tanganku.
"Kak!!!" teriakku marah.
"Lepaskan!!! Apakah ini caramu memperlakukan wanita???" teriakku dengan nada marah.
Diapun memegang daguku dan mendorongnya dengan sangat kasar.
"Benar. Inilah caraku agar kau tetap disampingku. Aku tau didalam hatimu hanya ada dia. Si brengsek yang selalu mendapatkan semuanya" katanya sinis kemudian melepaskan daguku dengan kasar.
"Kau tau manis, dia telah merebut orang tuaku. Dia juga telah merebut dirimu. Haruskah aku diam?? Dia selalu saja mendapatkan apa yang aku mau dengan mudah. Aku benci bahkan ingin sekali aku membunuhnya" katanya membuatku bergidik ngeri apalagi dia mengeluarkan pisau lipatnya.
__ADS_1
Sungguh aku merasa seperti diujung tanduk, tatkala pisau itu menari-nari di wajahku. Bergerak sedikit saja darah segar akan mengalir dari pipiku.
"Dengar baik-baik sayang, aku bisa saja merusak wajah cantikmu kapanpun aku mau. Diriku terlalu mencintaimu kucing liar. Persetan dengan wajah cantikmu. Yang aku mau KAU. Meskipun kau menjadi buruk rupa sekalipun aku tetap menyayangimu. KAU ITU MILIKKU!!" ancamnya dengan pisau tajam itu berdansa indah di wajahku.
Dengan gemetar dan hati terus berdoa berharap akan ada yang datang menyelamatkanku.
"Bukankah aku sudah sepenuhnya milikmu kak!!" kataku berusaha meredam emosinya.
"Benarkah?? Baiklah mari kita buktikan!!" katanya licik. Dengan perlahan dia mendekatkan bibirnya hendak menciumku.
"Sherin, apa kau akan diam saja. Gunakan kemampuanmu atau kau akan mati sia-sia. Lupakan identitasmu" gumamku dalam hati mencoba melepas ikatan di tanganku. Aku harus melawannya habis-habisan jika mau selamat. Dia bukanlah kak Rian yang kukenal lagi. Dia berubah menjadi monster yang tak peduli dengan apapun. Hanya dengan melumpuhkannya maka aku bisa kembali dan menghukumnya.
"Sedikit lagi sedikit lagi talinya terlepas Sherin kau pasti bisa" teriakku dalam hati.
Dan hampir saja bibir itu bisa mendarat. Tiba-tiba ada suara orang yang berjalan dan mereka sedang bersenda gurau satu sama lain. Dengan samar aku mendengar percakapan mereka.
"Bantuan datang" batinku sedikit lega.
"Itu ada gubuk kecil. Kita beristirahat dulu disana!!" pinta seorang laki-laki bersuara ngebass.
"Baiklah!!" jawab temannya.
Kak Rian mengintip dari balik celah itu dan bersiap sedia menghujamkan pisaunya ke kedua pemuda tadi.
"Ya Tuhan jangan Engkau biarkan ini terjadi. Aku mohon. Kabulkanlah!!!" aku berdoa tiada henti. Tak mau ada pertumpahan darah didepan mataku.
"Kucing manis!!! Hati-hati awas ada anjing galak ha ha ha" gurau pemuda bersuara ngebass.
"Huhhh kode yang mereka pakai terlalu murahan" gumamku pelan.
"Kau ini ada ada saja. Mana ada kucing sama anjing. Ada juga kijang, monyet dan panda. Mereka tak terlihat padahal pemburu sudah datang ha ha ha" gurau si pemuda satunya.
Candaan mereka membuat Kakak semakin waspada dan mata itu,,,, Mata yang dipenuhi nafsu membunuh.
"Ku mohon jangan lakukan itu kak!!! Jangan sampai kau menyesal kak!!! Kumohon!!!" jeritku dalam hati berharap dia mendengarnya. Aku masih berusaha melepas ikatan tali di tanganku dengan hati-hati. Tak boleh membuat kak Rian curiga.
KREEEEEKKKK....
__ADS_1