Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Lamaran


__ADS_3

Ku pandangi gadis itu dari pekatnya malam tak berbintang kali ini. Dress merah marun dengan hijab yang senada serta make up yang begitu natural membuat penampilannya begitu berbeda.


"Sangat cantik dan anggun. Benarkah itu dia??" tanyaku masih tak percaya.


Sengaja semua lampu di penginapan ini kami matikan. Kagum, terpesona, terkesima bahkan tak ada kata-kata yang bisa mewakili makhluk ciptaanNya yang satu ini. Dia begitu cantik dan menawan. Kupandangi sosoknya begitu lama.


"Gadis ini benar-benar membuatku tak bisa berpaling ke lain hati Sekalipun rumput tetangga lebih hijau. Dia memanglah gadisku dan juga takdirku" kataku dengan senyum tersungging.


Kudekati sosoknya yang masih berdiri disudut meja dengan mata tertutup.


"Si... Siapa kamu???" teriaknya marah.


Segera kubuka penutup matanya lembut. Diluar dugaan, tanpa menoleh dia berusaha melarikan diri lagi. Segera kutarik tangannya seolah aku tau apa yang ada dipikirannya. Hampir saja wajah kami saling beradu. Dengan cekatan dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya.


"Kamu..." kami masih saling beradu pandang lama sekali. Aku hanya menyunggingkan senyum tipisku.


"Hik... hik..." kuelus kepalanya lembut berusaha membuatnya nyaman.


Tak kusangka ternyata dia benar-benar gugup berada di dekatku. Dia terus saja cegukan.


"Ohhhh tidak.... Bagaimana aku bisa tahan begitu lama" pekikku gemas melihatnya.


Kugandeng tangannya lembut tanpa berkata-kata lagi.


"Kak, kita mau kemana???" tanyanya kebingungan.


"Sussttttttt" jariku hanya memberi isyarat untuk tak banyak bicara.


Aku menuntunnya perlahan mendekat ke arah pantai. Cahaya dari Lilin warna warni yang begitu temaram menghiasi sepanjang jalan kami.


Seolah lilin itu mewakili perasaanku. Aku ingin dia mengerti bahwa jika suatu saat semuanya menjadi gelap dan tak ada lagi cahaya maka tetaplah berjalan bersamaku tetap saling bergandeng tangan dan aku akan menuntunnya ke arah cahaya yang lebih terang.


Disamping kanan kiri terpampang foto kenangan kami berdua sejak pertama kali bertemu sampai dengan saat ini.


"Apa itu kak???" Katanya lembut juga heran melihat pemandangan didepan matanya.


"Kamu tidak ingat???" tanyaku menggoda. Dia hanya menggelengkan kepalanya seolah lupa pada kenangan itu. Kutarik lembut tangannya mendekat.


"Lihatlah!!!"


"Sudah ingat??" tanyaku masih berusaha lembut. Dia menggelengkan kepalanya sekali lagi.


"Astaga Sherin..." pekikku frustasi sangat pelan saking gemasnya. Kuhela nafasku panjang berharap emosiku segera mereda karena aku tak mau merusak semuanya.


"Sayang, tidakkah kau ingat moment ini saat pertama kali kita bertemu dulu" kataku begitu lembut menjelaskannya dengan menunjukkan foto gadis kecil yang hanya tampak punggungnya saja ketika berjongkok menangis disudut taman dibawah guyuran hujan.


"Ini??? Benarkah??? Apa aku sejelek ini saat itu???" tanyanya membuatku tertawa atau haruskah aku menangis??


Kukira moment lamaranku akan begitu romantis tapi dengan karakternya yang seperti itu dalam sekejap beralih scene bergenre komedi.


"Omo Omo Omo kak Rey sini!!!" panggilnya melihat foto yang lain. Segera ku hampiri si pemanggil dengan sedikit kesal berharap dia tak merusak setiap scene yang telah kubuat. Dari tempatku berdiri kulihat mereka tertawa mengejekku.


"Astaga, apa ini?? benarkah ini kak Rey???" Ha haaha... Emmmm... gak cocok sama sekali. Lelaki difoto ini lebih gagah dan tampan" ejeknya menunjuk fotoku ketika memakai seragam militer saat tugas di luar.


"Hahhhhh... kak Rey ini bukannya fotoku saat melompat pagar sekolah dulu. Kenapa ini bisa ada disini??? Jangan lihat!!! Berhenti!!!" cegahnya berusaha mengambil foto itu Dan menyembunyikannya.


"Hancur sudah moment romantisku" kataku pasrah.


"Kak Rey, ini lebih lucu lagi sini deh!!!" Segera kuhampiri si Mong yang asyik dengan dunianya sendiri.


Tak disangka hanya beberapa menit saja aku bisa melihatnya sebagai wanita dewasa yang anggun dan elegan. Tapi beberapa menit setelahnya dia kembali menjadi gadis kecil nakal.

__ADS_1


"Ingat foto itu??? ha ha ha bukankah itu saat aku menindasmu??" ejekku membuatnya melirik tajam dan mendengus kesal.


"Hey... hey... lihat ini!!! bukankah ini fotoku bersama kak arka dan kak Rendy waktu dirumah sakit. Wahhhh imut sekali" ucapnya membuatku terperangah.


"Sial... kenapa foto mereka ada di lamaranku??? Awass kalian!!!" ancamku kesal.


"Wooooowwwwww amazing. Kak, bukankah itu makanan???" tanyanya menunjuk meja berhiaskan makanan yang lezat dan cantik dibawah temaram cahaya lilin. Sungguh sangat romantis, pikirku.


"Iya makanan yang oishiii dan benar-benar lezat" Jelasku sekalian menggodanya.


Tanpa izin dariku si Mong berlari ke meja itu tanpa mengenakan heells yang kubelikan untuknya.


"Dimana Heells itu????" tanyaku sekilas tapi pandanganku segera beralih melihat si Mong mengobrak abrik meja yang tersusun indah tadi. Sepiring spaghetti habis dilahapnya dengan sisa sisa sauce chesse bolognese disudut bibirnya.


"Kamu lapar atau kelaparan Mong??" tanyaku heran.


"Oopppsss... Maaf kak.. Aku kelaparan. Dari tadi siang belum makan. Gara gara nemenin Nia ke salon. Astaga aku lupa. Kemana Nia sama kak Rian tadi??? Oh ya kak, emang bener ya kak Rian mau menikah sama Nia?? Hahhhh syukurlah...." katanya tanpa jeda.


"Astaga kenapa aku harus cinta mati sama bocah kecil ini??? Lihatlah kelakuannya???" tanyaku dalam hati heran sendiri.


"Apa yang membuatku tergila-gila padanya??" kataku tak habis pikir.


"Sherin..."


"Hnnn..."


"Sherin lihat aku!!!"


"Hnnnn..." sekilas dia melihatku tapi sekejap kemudian asyik dengan ice-creamnya sampai mukanya pada cemong persis bocah kecil. Itu yang membuatku gemas.


"Sherin bisakah kamu serius!!! Tatap wajah kak Rey" kataku sedikit menekankan seraya membersihkan sisa ice-cream di bibirnya.


Citttttttt Duarrrrr..... suara kembang api merusak momentku sekali lagi.


"Astaghfirullah.... Kaget aku!!!" pekiknya terkejut sama terkejutnya denganku.


"Sial... apa yang mereka lakukan???? Lihat saja nanti akan kubalas" umpatku kesal.


Akupun berjalan mendekat kearahnya. Ku pegang kedua pipinya lembut dan mata kami saling bertemu. Dengan lembut aku berusaha mengatakan apa yang sejak tadi ingin kukatakan.


"Sher, fokuslah kepadaku!! Hanya menatapku!!!" bisikku lembut dengan mata kami saling bertaut.


Segera ku berlutut didepannya dan kurogoh sakuku mencari benda yang selama ini ingin sekali kusematkan di jari manisnya. Tapi....


"Astaga kak Rey jangan berlutut seperti ini. Bangun kak!!! Kakak kecapean ya??? Kak lebaran masih jauh, belum waktunya sungkem" ucapnya membuatku kesal bukan main.


Ingin sekali kujitak itu kepalanya tapi karena hanya ini waktu yang tepat buat melamarnya aku tak mau marah apalagi emosi.


"Kemana lagi itu cincin??" tanyaku sambil mencari disetiap sudut saku celana ku.


"Akhirnya ketemu juga" kataku lega.


"Kak bangun!!!! Omo... Kenapa kakak menepuk jidat???" tanyanya tanpa rasa bersalah.


"Sher, bisa serius tidak??" kataku sedikit membentak. Diapun terdiam.


Kukeluarkan box hitam kecil berisi cincin kami. Diapun terpana melihatnya. Segera kubuka dan matanya membelalak lebar tak percaya.


"Maukah kamu menikah denganku??? Jadilah bidadariku!!! Mari meraih Jannah Nya bersama-sama" kataku lembut tapi penuh makna.


Dia menatapku kemudian menatap cincin bergantian sampai beberapa detik. Terlihat sekali kalau Mong Mong sangat terharu dengan scene ini.

__ADS_1


"Kak..."


"Hnnnn..."


"Aku tidak bisa" seketika itu lututku lemas. Tanganku sudah tidak bisa menopang box kecil ini lagi. Pandanganku tertunduk ke bawah sangat lesu. Sangat putus asa.


Tiba-tiba dia memelukku untuk pertama kalinya.


"Perpisahankah ini???" tanyaku dalam hati.


"Kak, aku tidak mau jadi bidadarimu karena aku kelak akan tua dan tak lagi pantas menjadi bidadari lagi. Izinkan aku menjadi teman seperjuanganmu. Mari kita berjuang selamanya, bersama seperti ini" bisiknya pelan ditelingaku seketika membuncah senyum di bibirku.


"Jadi..." tanyaku menerka sendiri dengan hati penuh suka cita.


"Jadi... Kamu..." ucapku meyakinkan sekali lagi.


"Hnnnn... iya. Aku tak bisa menolakmu" Kata keramat yang selama ini ingin ku dengar dari bibir mungilnya.


Karena saking gembiranya Akupun memeluknya erat sekali.


"Huks huks... Kakk... lep..as...kan... Atau kau ingin menjadi duda sebelum menikah denganku huks huks..." ucapnya dengan nafas tersengal.


"Maaf... Maafkan aku. Kemarikan jarimu!!!" pintaku memegang tangannya lalu menyematkan cincin emas putih yang tampak simple tapi sangat berharga Ke jari manisnya.


Kemudian Mong menyematkan cincin perak senada dengan miliknya ke jariku. Kamipun saling berpelukan melepas rasa rindu yang tak tertahankan karena sudah sepekan tak saling jumpa.


Citttttttt Duarrrrr.... suara kembang api sekali lagi merusak moment indahku bersamanya.


"Sherinnn...." Mama Nay


"Cie cie yang lamarannya diterima, nangis darah dah tuh..." Nia


"Arghhh sial... gagal sudah aku menjadi pangeranmu Sher hik hiks..." Rendy


"Anak kita sudah dewasa sekarang. Ayah salut denganmu Rey. Untung kau tidak malu maluin keluarga Gunanto ha ha" Ayah


"Akhirnya ibu punya menantu yang baik dan cantik juga" Ibu


"Selamat Rey... Jaga dia jangan kau buat nangis kalau tidak dia akan ku jadikan istriku yang kedua" Rian


Tawa kamipun pecah bersama. Moment yang benar-benar sangat berharga.


**Flashback


"Dasar kapten... Nanganin satu cewek aja gak bisa" Arka


"Emang tu. Gak malu apa sama anak buahnya" Rendy


"Ssttt apaan sih kalian diem, jangan berisik ntar ketauan!!" Nia


"Yank, ini tombol apaan sih???" Rian dengan santainya memencet tombol pemantik kembang api itu.


CITTTTTT DUARRRRRR....


"Jangan!!!!!" teriak mereka berbarengan di persembunyian


"Astaga... Yank... Kamu benar-benar!!!" Nia marah


"Maaf maaf gak sengaja" Rian menyesal


"Sial Ka, habislah kita..." Rendy pasrah**

__ADS_1


__ADS_2