
Reynan Gunanto
Aku terduduk lemas di lantai dengan perasaan yang sudah tidak karuan. Sesekali kulihat Rania dengan pandangan penuh dendam dan ingin sekali kucekik lehernya biar dia merasakan apa yang Sherin rasakan.
"Bagaimana bisa mereka melakukan semua ini pada gadisku??" pekikku tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka.
Gledegggg gledegggg gledegggg... Brankar pasien didorong keluar.
Aku segera berlari kesamping brankar dorong yang diatasnya ada tubuh mungil gadisku yang tak berdosa.
"Sher,,, Mong,,, lihat kakak!!!" kataku lembut dengan bibir gemetar tapi mata indahnya tak mau terbuka.
Tiba-tiba tanganku ditarik paksa dengan kasar dokter perempuan yang sama sekali takku kenal.
"Bawa pasien itu ke ruang VVIP. Saya yang bertanggung jawab" katanya tegas.
"Siapa dia?? Kenapa harus dia yang bertanggung jawab???" tanyaku heran.
Diapun meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Dokter, tunggu!!" panggilku menarik tangannya keras.
"Apa maksud dokter dengan Anda yang bertanggung jawab?? dan kenapa juga Anda tak menjelaskan apapun kepada saya!!" teriakku kesal.
"Siapa Anda?? dan kenapa saya harus menjelaskan yang tidak ada hubungannya dengan Anda. Dengar ya, Sherin itu tanggung jawab saya dan kamu... jangan pernah dekati dia lagi!!!!" ancamnya tanpa kutahu sebab pastinya.
"Kenapa Anda begitu membenci saya??? bukankah kita tidak saling mengenal?? Apa hak Anda melarang saya menjaga calon istri saya??" kataku tak mau kalah.
PLAKKKKK... wanita itu menamparku keras sekali ingin sekali langsung kubalas kalau gak inget dia perempuan.
__ADS_1
"Tutup mulutmu!!! Tak puas kamu buat dia sekarat??? Karena ulahmu adik yang selama ini kujaga hampir saja pergi untuk selamanya. Tak habis pikir diriku, bagaimana bisa kau menjadi calon suaminya" teriaknya padaku semakin membuatku bingung.
"Dok, bagaimana Anda bisa berpikir jika saya yang mencelakai gadis yang sangat saya cintai bahkan melebihi diri saya sendiri. Bisakah Anda berpikir rasional???" kataku menyudutkan argumennya.
Rania dan Aldo yang dari tadi melihatku bertengkar dengan dokter muda ini langsung berlari menghampiri kami.
"Kak Yuna... Bukan kak Rey yang jahat sama Sherin tapi aku dan Adira" jelas Rania tertunduk bersalah.
Ekspresi dokter muda ini terlihat sangat bingung. Berkali-kali menatap kami dengan wajah marah dan kesalnya.
"Apa maksudmu Rania?? Jelaskan!!!!" katanya menahan amarah.
"Aku yang menguncinya dikamar jenazah yang tidak dipakai lagi. Dan Adira menyuruh orang memenuhi ruangan itu dengan banyak laba-laba, juga kucing disana" jelasnya membuatku gila.
Baru aja tangan dokter muda itu mau menampar Rania, tiba-tiba ditepis Aldo.
"Hehhhh.... Aldo, apa kau pikir perbuatan Rania bisa dimaafkan. Kau punya Rania adikmu dan Sherin juga adikku. Apa kau gila..... Hahhhhhhhh..... Kau menyuruhku memilih???? Astaga....... Huffftttttttt...... Rania kau benar-benar gila. Kau... kau gila Rania hiks hiks... Kau tau Sherin phobia sama laba-laba kenapa tidak sekalian saja kau bunuh dia daripada menyiksanya seperti ini hiks hiks hiks" teriak Yuna marah dan begitu frustasi. Dengan gontai dia mencoba duduk di kursi.
Baru kutahu kalau rasa sayang Yuna begitu besar ke Sherin. Ternyata gadisku punya sisi lemah yang sama sekali tak ku ketahui. Dengan menangis Yuna menjelaskan semua hal tentang Sherin kepada kami.
"Meskipun aku bukan kakak kandungnya, tapi Sherin sangat berarti buatku. Sejak ditinggal nenek Wiryo, Sherin selalu saja tersakiti dengan ulah Adira dan mamanya. Mereka benar-benar iblis. Tak pernah puas padahal semua yang dimiliki Sherin dirampasnya.
Aku selalu berusaha menjaganya dari kejauhan. Setiap malam gadis itu selalu menahan lapar, menangis, bahkan tak jarang Adira memukul dan menguncinya di ruang bawah tanah sampai tak sadarkan diri.
Aku berpura-pura menjadi teman Adira hanya untuk menjaga adikku sesuai pesan almarhumah nenek Wiryo. Dalam sepekan aku bisa beberapa kali menginap disana. Setiap malam aku mengendap-endap masuk keruangan dimana Sherin dikurung. Kupeluk dia, kuberikan roti dan makanan untuknya. Jika dia melihat laba-laba, dia akan menangis dan memelukku kencang bahkan sampai sulit bernafas. Tak jarang dia langsung pingsan. Aku hanya bisa memberi dia obat penenang agar dia bisa tertidur dengan nyaman ketika aku tak disampingnya. Sudah berbagai cara untuk menyembuhkan phobianya tapi semua belum ada hasil. Setiap melihatnya seperti itu dadaku selalu sesak. Perlakuan mereka kepada Sherin sudah diluar batas. Bukan hanya tak memberi makan, uang sakunya pun dirampas, bahkan tubuh mungil itu kerap dipukul didepan mataku.
Pernah aku melapor ke polisi beberapa kali tapi belum sampai menindak lanjuti polisi itu langsung berbalik dan tak pernah kembali lagi menyelidiki laporanku. Entah apa yang mereka berikan kepadanya.
Rania apa sekarang kamu puas!!! Apa kamu sudah puas menyakiti orang tak bersalah????" teriak Yuna menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
__ADS_1
"Kak Yuna, Rania minta maaf. Maaf.... hiks hiks hiks..... Rania benar-benar tidak tahu kalau Sherin phobia dengan laba-laba. Selama ini aku tak tahu kalau Sherin yang menderita. Selama ini Rania dibohongi Adira. Kak... maafkan Rania!!!" kata Rania bersimpuh di kaki Yuna meratapi kesalahannya.
"Tak seharusnya kau meminta maaf kepadaku karena bukan aku yang kau sakiti. Minta maaflah kepada Sherin, dia yang ketakutan, dia yang terluka, aku benci... aku benci kau dan adira.... huks hiks hiks" teriak Yuna marah tak terkendali.
Kutinggalkan mereka yang saling menyalahkan tak jauh dari ruang emergency. Segera ku cari ruang VVIP dimana gadisku ditempatkan. Pikiranku hanya fokus kepada Sherin. Gadisku yang ternyata sangat menderita lebih dari yang selama ini kutahu.
Kreekkk........ kubuka pintu perlahan.
Gadisku masih tergolek lemas tak sadarkan diri. Perlahan dan sangat hati-hati, aku duduk dikursi tepat disampingnya yang masih terbaring tak berdaya. Aku sangat merindukan tawanya, kejailannya bahkan umpatannya.
Kugenggam tangan mungil itu. Kuelus kepalanya sangat lembut. Segera kumajukan wajahku mendekat ke wajahnya.
"Sekali ini saja Mong, kuharap kau segera sadar. Cup" kataku sembari mengecup pipi dan keningnya.
Terkejut, iya... bagaimana tidak, kecupan kecilku membuatnya sadar. Dia membelalakkan mata bulatnya yang indah seakan mengancam apa yang sudah aku lakukan barusan kepadanya.
Dengan tangan yang masih lemah, dia berusaha mendorongku.
"Maaf. Abisnya kamu tidur gak mau bangun-bangun. Kukira kamu menjelma menjadi Putri tidur yang hanya bisa dibangunkan dengan ciuman dari sang pangeran" kataku beralasan sambil tersenyum senang.
"Dasar!!! Kak Rey cabul" teriaknya membuatku memeluknya karena rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Apaan sih kak Rey, minggir!!!" teriaknya marah dengan suara lemahnya sambil memukul punggung karena aku belum mau melepas pelukanku padanya.
"Teriaklah, teriaklah yang keras Mong!!! Kakak senang, kakak bahagia akhirnya kamu kembali" kataku kembali duduk disampingnya masih menggenggam tangan mungilnya.
"Kak Rey, jahat sama Sherin. Sherin benci kak Rey!!! Pergi dari sini!!!" teriaknya marah mencoba melepas tanganku kasar.
"Apa ini??? Kenapa aku diusir??? Apa salahku???"
__ADS_1