
Di Sekolah
Kuparkirkan mobil di area parkir sekolah. Kebetulan sekolah dan yayasan ini didirikan oleh Ayah. Sebelum jadi tentara Ayah selalu membujukku untuk mengelola yayasan ini dan perusahaannya. Ayah tidak suka anak semata wayangnya menjadi tentara. Alasannya cuma karena tak mau anaknya mati sia-sia. Padahal menjadi tentara adalah panggilan hati. Tidak semua orang berkesempatan masuk dalam dunia militer.
Terlihat Pak satpam dari kejauhan berlari menghampiriku.
"Aden Rey. Tumben mampir ke sekolah?" tanyanya santai.
"Iya pak. Udah abis tugas tadi. Mumpung longgar jadi bisa maen ke sini" Kataku sambil mencari sosoknya yang seharian ini membuatku tak fokus dan gila.
"Tumben jam segini anak kelas tiga belum pada keluar?" tanyaku mencoba mencari jawaban.
"Ohh, anak kelas tiga mah udah pulang setengah jam yang lalu, den. Memangnya siapa yang Aden cari? biar bapak Carikan" tanyanya.
"Tak usah pak. Terima kasih. Sebenarnya ada seorang anak kelas 3 anaknya temen ibu. Pikirnya sekalian aja jemput soalnya searah" jawabku modus. Padahal maunya ketemu terus.
Seorang gadis menangis berlari kearah kami. Entah apa yang membuat dia begitu putus asa.
"Pak, Bapak liat temenku. Bapak dari tadi disini kan?" tanyanya terengah-engah sambil menangis.
"Maap non Nia. Bapak gak liat temen non. Ini juga Bapak baru balik dari kantor kepala sekolah. Ada apa non?" tanya pak satpam.
"Hiks hiks hiks, Ahhh Bapak bagaimana sih bukannya jaga disini,,, ahhhhh.. hiks hiks hiks..... " teriaknya marah sambil nangis dan belum menyadari keberadaanku.
"Ceritakan pelan-pelan dik, jangan marah marah sambil nangis. Kita gak tau maksudmu" jawabku lembut.
"Om,,, om tentara kan? Bisa bantu saya? Tolong bantu lacak temen saya Om hiks hiks!! temen saya lagi banyak masalah. Tadi dia mau nginap dirumah saya trus saya suruh ke mobil dulu tapi saya tanya sopir katanya temen saya belum dateng. Om bisa bantu kan!! ini hpnya, tadi dibuang di jalan" katanya sambil menunjuk tempat hp dibuang tadi.
Kulihat hpnya. Hp yang tidak asing karena aku pernah melihatnya kubuka layarnya. Seketika badanku lemas, pikiranku kosong. Hingga Nia menyadarkanku dengan mengguncang-guncangkan tubuhku lama.
"Om. Om bagaimana sih kok malah bengong? Om temen saya dalam bahaya sekarang, ommm..." teriak Nia.
"Pak saya ambil file cctv-nya", kataku terburu-buru.
"Nama kamu Nia kan. Sekarang kamu pulang dulu. Nanti kalau Om sudah menemukan Sherin, Om langsung hubungin kamu" kataku meninggalkannya di pos satpam.
Segera kupacu mobilku memecah padatnya kendaraan sore itu. Bingung, kesal, marah, tertekan bahkan tak bertenaga sama sekali. Apa dia menyinggung seseorang??? Apa dia punya musuh??? pikiranku benar-benar kacau.
"Rend, kamu dimana?" tanyaku dari seberang telepon.
"Hey Bro, ni kan sudah bukan jam tugas lagi. Ya jelaslah gue pulang" jawabnya seenaknya.
"Bro gue gak ada waktu bercanda. Gue butuh bantuan loe. Sekarang juga loe ke cafe dekat sekolahan nyokap gue. Gue tunggu 15menit loe udah harus nyampe kalau gak besok loe harus lari 500x, ngerti gak!!" teriakku kesal.
Rendy yang masih bingung apa yang terjadi, segera memacu mobilnya ke cafe yang dimaksud.
__ADS_1
"Aishhhh sial. Mesti gue kalah lagi ma tu anak. Mentang-mentang dia atasan gue, seenak jidatnya nyuruh gue lari 500x kalau gak sampe disana 15 menit. Gila kali tu bocah. Mangnya mobil gue punya sayap apa?" gerutuku kesal.
Di Cafe
"Aargghhh.. lama banget sih Rendy?" kataku kesal.
Padahal saat menghadapi musuh hatiku tak pernah segelisah dan sepanik ini. Sesekali ku minum mango float yang ada di hadapanku. Berharap Rendy segera menampakkan Batang hidungnya. Akhirnya yang ditunggu datang juga. Kulambaikan tanganku supaya dia segera kesini.
"Hahh hahh. Sial loe bro gue lari sampe kehabisan nafas kayak gini" katanya sambil meminum minumanku.
"Loe cari informasi mobil ini semuanya. Gue mau sejam dari sekarang loe udah dapet semua infonya" kataku memaksa.
"Hey Bro,, loe gila apa cari info oke oke aja tapi waktunya bro, loe mau gue kerja rodi apa?" katanya kesal.
"Jelaskan dulu napa gue disuruh cari informasi mobil ini. Gila loe main perintah aja. Gue gak mau ikut-ikutan dah kalau gak jelas duduk masalahnya. Gue ngeri kalau kena sanksi" imbuhnya.
"Gadis yang gue suka diculik mobil itu. Sekarang loe puas" kataku kesal.
"Gila bener. Sebenarnya siapa gadis itu. Napa juga banyak yang berbuat sampe gila, bahkan menculik segala?" ucapnya heran.
"Oke-oke gue usahain gue kasih infonya. Ini juga gue lakuin karena loe Sohib gue. Gak usah terharu gitu juga kali. Dan gak usah terima kasih ke gue" godanya
"Siapa juga yang terharu apalagi mau terima kasih. Loe aja belum kerja udah minta upah" kataku lalu meninggalkannya sendiri di cafe itu.
Dimana lagi harus mencari info tentang Sherin. Kemana, dengan siapa dan siapa saja yang terakhir menghubunginya. Ku cari tau semua teman-teman Sherin tapi hasilnya masih nihil.
Sebenarnya aku ogah menghubungi Papanya tapi semua demi Sherin siapa tau hatinya tergerak buat nyari Sherin juga. Meskipun aku tau kalau Sherin tak pernah dianggap oleh Papa dan keluarganya. Sama seperti saat dia membuat keributan di kantor Papanya. Sengaja waktu itu aku mengikutinya dan melihat semua yang terjadi dari sofa di lobi Kantor. Hpku berdering...
"Wah bro gila bener. Yang nyulik Sherin bukan orang sembarangan. Loe tau pengusaha kaya Angga Prayudha. Pemilik perkebunan kopi, teh, karet dan masih banyak lagi. Sialnya dia suka daun muda. Lelaki tua tu umurnya sekitar 50an bro. Rumahnya banyak. Gue udah selidiki tapi gila pokoknya, rumahnya dijaga bodyguard dari ujung sampe ujung" jelasnya malah membuatku semakin marah.
"Aargghhh sialan loe Rend. Loe coba manas-manasin gue apa mau ngasih info? kalau ngasih info tu yang bener!!" kataku kesal.
"Bro gue gak becanda, info ini valid" jelasnya lagi.
"Kirim alamatnya sekarang!! semuanya!!" kataku tegas
"Loe mau datengin rumahnya satu-satu? Udah saraf loe ya. Tunggu info anak buah bokap gue dulu lokasi pasti Sherin dibawa baru dah gue sama loe kesana" ajaknya.
"Kirim alamatnya ke wa gue sekarang!! Gue juga gak gila-gila amat kali. Gue bakal cari tau diam-diam. Ntar kalau gue butuh bantuan gue hubungin loe. Bye" kataku menutup teleponnya.
Tring tring... Wa masuk dari Rendy.
"Gila bener tu si Angga Prayuda. Ternyata rumahnya yang di Jakarta aja ada 5, belum yang di Bogor, cirebon, Bandung juga. Aku harus berpikir jernih. Kemana Sherin dibawanya" kataku berpikir.
Segera aku mencari info selebihnya tentang Angga Prayuda. Benar kata Rendy, pengusaha ini dari rekam jejaknya sangat bersih tapi kenapa ada gosip dia suka dengan daun muda terlebih lagi kenapa seluruh rumahnya dijaga bodyguard dengan jumlah diatas batas wajar. Sebenarnya siapa pria tua ini???
__ADS_1
Pagi-pagi sekali aku sudah ada di rumahnya yang di Bogor. Kalau dilihat dari rekaman cctv yang kukumpulkan, mobil yang satu mengarah ke Bogor, yang satu mengarah ke Cirebon. "Taktik yang bagus buat mengecoh lawan" kataku sinis. Aku yakin Sherin pasti ada dirumah itu.
"Aku tak boleh gegabah. Jika aku menerobos masuk maka sama saja aku bunuh diri. Pikirkan baik-baik Reynan. Kau harus yakin Sherin baik-baik saja. Tunggulah...." gumamku mencoba berpikir jernih.
Hampir seharian kuamati, sama sekali tak ada aktivitas apapun yang mencurigakan. Dari pagi sampai malam ku mata-matai rumah besar itu tapi nihil. Aku pulang tanpa hasil sama sekali.
"Sherin,, bagaimana keadaanmu sekarang, apa kamu baik-baik saja? Kumohon Bertahanlah!!! Aku pasti menemukanmu" kataku merebahkan diri di kasur menenangkan diri.
Di tempat lain
"Dimana aku?? Kepalaku sakit sekali, Ahhh..." kataku meringis. Ku coba mengingat apa yang terjadi kemarin. Tapi benar-benar tak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi kemarin.
"Bajuku,,, Apa ini? Siapa yang sudah menyentuhku" teriakku marah. Berusaha menggedor gedor pintu yang sengaja dikunci untuk mengurungku.
"Buka. Buka pintunya. Tolong buka pintunya!!!" teriakku memohon.
"Tak bisa. Aku harus bertahan. Jangan sampai identitasku terbongkar. Sherin kau mampu. Bertahanlah beberapa hari. Kau pasti bisa!!!" kataku menyemangati diri sendiri.
"Buka pintunya. Biarkan aku pergi!!" teriakku sekali lagi.
Ceklekk...
"Sherin kau sudah bangun?" tanya lelaki tua itu lembut padaku.
"Jangan.. jangan mendekat.. Jangan ganggu aku. Menjauhlah...... Jangan dekati aku, tolonglah!!!" kataku berteriak dan memohon.
"Gadis manis, jangan takut!! Kemarilah!!!" katanya mencoba meyakinkanku.
"Jangan dekati aku. Pergilah!!!" teriakku.
"Kalau tidak aku akan memotong nadiku, menjauhlah..... Sekali lagi kubilang menjauhlah..... keluar......." teriakku.
Entah setan apa yang membujukku untuk bunuh diri. Kupecahkan vas bunga, Aku pun mengancamnya tapi sebenarnya tak benar-benar berniat memotong nadiku sendiri hanya untuk menggertaknya.
"Baiklah. Baiklah. Kurasa kau belum bisa diajak bicara baik-baik. Istirahatlah. Ku mohon jangan sakiti dirimu!!" pintanya padaku.
Kemudian dia keluar dari kamar yang digunakan untuk mengurungku. Kudengar sayup-sayup suaranya.
"Jaga dia baik-baik. Jangan sampai terluka apalagi kabur" katanya.
"Baik Bos" jawab bodyguard nya.
Dari balik pintu.
"Ya Tuhan apa aku masih pantas hidup. Apakah aku sudah ternoda??? Aku tak sanggup lagi menjalani hidup ini. Bolehkah aku menyusul Mama dan nenekku hiks hiks hiks.. Kenapa penderitaanku belum berakhir? Kapan aku bisa hidup normal seperti gadis seumuranku.... ampunilah aku hiks hiks hiks..." tangisku pilu.
__ADS_1