Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Bersamanya


__ADS_3

Dirumahku


Betapa herannya diriku, melihat dia berdiri tepat di hadapanku bersama Ibu.


Aku tersenyum senang. "Sejak kapan mereka saling kenal, tapi ah sudahlah yang penting dia, seorang yang kurindukan sosoknya sudah ada dihadapanku. Terima kasih ya Allah telah menuntunnya kembali" batinku senang. Sungguh Ibu menjadi penyelamat hatiku yang sedang galau karena kepergiannya tadi.


Dirinya, benar-benar sangat cantik dan anggun ketika memakai baju pemberian ibu. Tidak biasanya juga Ibu begitu akrab dengan wanita apalagi sama seorang gadis terlebih lagi masih dibawah umur.


Kalau dalam urusan siapa saja yang mendekatiku, jangan ditanya Ibu sangat protect apalagi wanita hemmm.. full over. Biar dikata laki-laki berpangkat jenderal sekalipun kalau dihadapan Ibu sudah bisa dipastikan Beliaulah jenderalnya.


"Ndak usah diliatin terus, Rey. Awas bola matamu keluar" kata ibu menggoda.


"Apaan sih Ibu. Nggak ada kerjaan apa liatin dia terus. Mangnya dia cantik apa?" kataku bohong. Rey, Astaga mulutmu benar-benar gak miss sama hatimu.


"Tante ada yang Sherin bisa bantu. Sherin bisa masak kok" katanya sambil pegang sayuran di dekat Ibu.


"Ayolah Bu. Biar Sherin aja yang masak. Aku kan mau mencoba masakan makmumku kelak" jeritku dalam hati.


"Telepon Papamu dulu sana!" pinta Ibu.


"Ah iya tant. Nanti Sherin coba telpon Papah" katanya mengiyakan. Tapi kulihat dari raut wajahnya seperti dia tak akan menghubungi Papanya. Aku tau perasaannya. Bagaimana sulitnya hidup di keluarga yang tak bisa menerima kehadirannya.


"Rey, tolong belikan garam di warung Tante Mirna. Ibu lupa. Cepet gak pake lama" kata ibu memaksa.


"Astaga. Ini ibuku, benar-benar dah gak liat sikon. Turunlah imageku. Apa kata dunia anak laki-laki ganteng suruh beli garam di warung Tante ganjen. Ahh.." gumamku.

__ADS_1


Belum selesai rasa kesal yang menyelimuti kudengar kata yang indah keluar dari mulut Ibu, sungguhkah...


"Sherin", "iya tant". "Kamu pergi berdua sama Rey ya. Tante takutnya kalau Rey gak balik-balik gara-gara digangguin Tante Mirna. Sekalian biar mereka tau kalau Rey, anak tante sudah ada yang punya" kata Ibuku. "Haa. Tapi Tante.." katanya menolak.


"Gak ada tapi-tapi. Udah sana ntar masakannya gak matang-matang".


"Ibuku memang yang terbaik. I love you Mom" teriakku senang dalam hati.


Saat perjalanan pulang, aku benar-benar kesal banget dibuatnya. Gimana gak kesal, wong dia berjalan dibelakangku terus seperti ada jarak diantara kami. Tapi perlahan-lahan akan kuhilangkan jarak itu karena hatiku benar-benar sudah tak bisa berpaling darinya.


Sengaja kuberhentikan langkah kaki dan membalik badanku. Dia yang berjalan sambil melamun tak menyadarinya hingga tepat menubruk dadaku. BRUKKK. Degg degg. Aku bisa mendengar degup jantungnya, cepat dan berirama.


"Kak Rey. Kalau jalan yang bener dong. Jangan berhenti seenaknya, bisa kecelakaan tau. Aww sakitnya..." katanya kesal sambil memegang dahinya.


"Situ yang ngelamun sini yang disalahin. Makanya kalau lagi jalan jangan bengong. Lagian juga kita itu jalan berdua ya, bukannya jalan di samping ini malah kayak bebek digiring" kataku marah tapi sebenarnya hatiku senangnya bukan main.


"Kalau dilihat, kamu kalau lagi marah tambah manis" kataku memujinya.


"Salah makan ya Kak?, mau Sherin tampar pakai sandal tu mulut gombalnya?" katanya kesal.


"Mau.. mau banget. Asalkan hatiku bisa Sandalan di hatimu" kataku gombal.


"Aargghhh kak Rey" jeritnya frustasi dan berjalan mendahuluiku.


Ya Allah kalau saja bisa membuatnya lebih dekat lagi denganku, sungguh aku rela disuruh Ibu beli garam seumur hidup asalkan bersamanya. Belum selesai aku berdoa Allah sudah mengabulkannya. Musibah membawa bahagia.

__ADS_1


"Aww sakitnya..." keluhnya.


"Sher, kamu gak pa pa kan? Mana yang sakit?" kataku khawatir tapi tertawa dalam hati. Doaku langsung diijabah.


Dia langsung menunjuk kakinya. Kulihat kakinya seperti terkilir. Benar-benar kesempatan yang baik. Sekali beli garam pulang bisa gendong anak perawan. Hahahhh.. pikiran rusuhku muncul.


"Ini keseleo Sher. Kamu mau jalan ngesot apa mau naik ke punggung kak Rey, biar kak Rey gendong?" tanyaku memberikan pilihan.


"Tapi..." katanya sambil berpikir.


"Tapi kita bukan muhrim??" kulihat dia masih berpikir.


"Kalau gitu apa kita nikah disini dulu, baru dah tu, pulangnya kamu tak gendong. Nanti pasti ada hot news ibu ibu komplek. Gara-gara disuruh beli garam oleh Ibunya, seorang gadis yang kakinya keseleo karena tidak sengaja tertabrak sepeda yang dikemudikan anak kecil meminta pertanggungjawaban kepada lelaki yang bersamanya untuk menikahinya agar bisa menggendongnya sampai dirumah" ejekku sambil tertawa.


"Kak Rey. Ini beneran sakit. Apaaan sih malah ngomong kayak gitu. Gak lucu tau. Cepetan bantuin berdiri!!" katanya kesal.


Kamipun pulang kerumah. Pertama kalinya yang di punggungku bukan tas ransel tapi benar-benar seorang gadis. Iya, gadis yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Gadis yang Kusuka. Ya Allah jangan biarkan kebahagiaan ini berlalu dengan cepat.


"Reynan" panggilnya terkejut.


"Siapa wanita yang kamu gendong ini???" teriaknya.


"Do..ni..ta..." jawabku terbata-bata.


**Kutipan :

__ADS_1


"Orang yang menyadari bahwa pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik bagi hambaNya, akan merasakan musibah dan kesulitan yang menimpa dirinya akan terasa ringan dan mudah. Dan dia akan senantiasa menantikan kebaikan Allah yang serupa. Dia tidak akan pernah bersedih. Semua itu disebabkan karena keyakinannya terhadap kebaikan, kemurahan dan pilihan Allah adalah yang terbaik baginya. Pada saat itulah kesedihan, kesulitan dan kesempitan akan sirna dan dia menyerahkan kepada Rabb Yang Maha Tinggi. Tidak ada istilah muram durja, murung dan menentang. Sebaliknya ia akan bersyukur dan bersabar sampai akhir. Mendung pasti berlalu".**


__ADS_2