Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Bisakah Aku Marah????


__ADS_3

"Sherin kamu kenapa? Kenapa menangis??" Mama mencegahku berlari sambil menangis.


"Gak ada apa-apa kok Ma. Sherin mau keluar sebentar. Mau cari udara segar" kutinggalkan Mama dan Papaku di rumah Tante Mey dengan kebingungan.


Langkah kakiku terhenti di sebuah taman kecil. Sangat sepi tapi ini yang kubutuhkan untuk melepas kebimbanganku.


"Kenapa kak Rey tak pernah bicara jujur padaku???? Kenapa aku harus tau semua ini sendiri??? Kenapa kakak tega padaku hiks hiks hiks?? Bodohnya aku menunggu kakak selama ini. Hiks hiks hiks Kakak sudah membodohiku selama ini. Haaa.... mungkinkah sejak pertama kali aku bertemu dengannya dia sudah tau kalau itu aku...... Aku benci kakak!!! huhu huaaaaa" tangisku pecah seketika itu juga ketika menyadari kebodohanku selama ini.


Sudah sejam lebih aku ditaman. Hanya duduk dan merenung. Aku tau kalau aku salah. Selama ini aku tak pernah menyadarinya. Kakak Panda yang selama ini aku cari ternyata sungguh sangat dekat denganku bahkan dekat sekali.


"Kau sungguh bodoh Sherin. Kau benar-benar bodoh. Bisa-bisanya kamu tak mengenalinya selama ini. Sherin kau benar-benar bodoh!!!" teriakku sekeras-kerasnya untuk melepas beban didadaku yang sudah terasa sesak dari tadi.


Di Kediaman Gunanto


"Assalamu'alaikum, Rey Ibu pulang" aku segera turun dengan malas.


Tak seperti biasanya. Kakiku benar-benar malas untuk melangkah. Ingin tadi kukejar Mijah dan menjelaskan semuanya. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Dia butuh menenangkan pikirannya.


"Wa'alaikumsalam Bu" jawabku lesu.


"Kok kamu gak bilang dirumah ada Tante Nay dan Om Angga, Ibu lihat mobil mereka didepan. Seharusnya kamu telpon Ibu? Dimana Sherin?? Rey kenapa mukamu? Kamu berkelahi lagi?? Ama siapa Rey, Ya Allah Rey??"


Gak tau mana dulu yang harus dijawab. Semua pertanyaan Ibu membuatku makin kesal. Selama ini Ibu dan Ayah merahasiakan keberadaaan Rian padaku. Aku benci juga marah.


"Rey udah telpon Ibu tapi hp Ibu gak aktif" kataku malas.


"Bukankah Ibu dan Ayah berhutang penjelasan pada Rey?" kataku agak sinis.


"Maksudmu apa Rey? Kalau ngomong yang sopan sama Ibu!!!" teriak Ibu yang gantian marah.


Kebetulan Tante Nay dan Om Angga lagi istirahat dikamar. Mungkin mereka lelah karena perjalanan dari Bogor ke Jakarta bisa dibilang lumayan dan tidak mendengar teriakan ibuku.

__ADS_1


Aku mengajak Ibu berbicara diruang kerja Ayah.


"Cepat sekarang kamu jelaskan sama Ibu. Kenapa kamu jadi Ndak sopan sama Ibumu sendiri?" kata Ibu bingung tapi tetap saja aku marah dan kesal bukan main.


"Siapa Rian Gunanto?"


"Ibu jawab!!"


Seketika itu Ibu kebingungan. Ibu hanya diam tidak seperti biasanya yang banyak bicara. Kulihat Ibu meneteskan air mata. Ini membuatku perih, sakit. Aku anak yang jahat membuat Ibuku menangis tapi aku sendiri juga butuh penjelasan.


"Darimana kamu tau Rian?? Apa Rian kemari??" tanya Ibuku yang kujawab dengan anggukan. Kulihat Ibu langsung lemas dan tertunduk lesu. Apa ada rahasia yang selama ini tak boleh kutahu. Kenapa mereka harus menyembunyikan kebenaran kalau aku punya saudara kembar.


"Maafin Rey Bu, Bukan maksud Rey buat Ibu sedih tapi Rey juga butuh penjelasan. Rey akan menerima apapun penjelasan Ibu" kataku membuat Ibu memelukku erat sekali. Kalau aku seorang wanita mungkin aku sudah mengeluarkan air mata sebanyak yang kubisa.


"Maafin Ibu Rey. Seharusnya dulu ibu tidak berbohong. Rian memang saudara kembarmu. Maafin Ibu Rey, hiks hiks hiks!!! Bukan maksud kami menyembunyikan keberadaan kakak kembarmu tapi semuanya karena keadaan. Ibu dan Ayah tak bisa memberitahumu. Sekarang Ibu menyesal. Maafin Ibu Rey hiks hiks hiks" kata-kata Ibu semakin membuatku bingung. Bagaimana bisa dan keadaan apa yang memaksa mereka menyembunyikannya.


"Bu. Apapun penjelasan Ibu Rey terima. Jangan buat Rey tambah bingung Bu??" kataku memohon.


"Apapun itu, kamu harus janji sama Ibu kamu tidak boleh menyakiti kakakmu. Kamu harus baik padanya. Kamu tidak boleh lepas kendali. Redam amarahmu!!! Kamu benar bisa janji sama Ibu? Mengalahlah demi Ibu!!! Ibu tak mau kehilanganmu lagi!!! hiks hiks hiks" kata Ibuku semakin membuatku penasaran sebenarnya ada apa.


Flashback


Saat kalian berumur 3 tahun, saat itulah dimulainya kehancuran keluarga kita. Setiap hari sampai 6 bulan terakhir rumah ini seperti neraka. Kalian selalu bertengkar tapi apa yang dipertengkarkan ibu sama sekali tidak tau. Kakakmu selalu saja memukulimu bahkan diusianya yang masih balita dia bisa berpikir untuk membunuhmu. Sampai saat itu Ibu tak bisa lagi mempertahankannya hiks hiks...


"Rian hentikan!!! Jangan pukul adikmu!!!"


"Mati kau, mati kau. Akulah yang terbaik. Aku yang paling disayang. Aku yang paling tampan. Rey kau harus mati!!! Aku tak mau kau punya wajahku!! Duk Duk brak plak takkk"


"Rian Ibu mohon hentikan!! Ayah tolong!!! Rian ngamuk lagi hiks hiks hiks"


Ibu berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkanmu. Entah setan apa yang ada di dalam diri Rian. Anak yang berusia 3 tahunan bisa memiliki tenaga sebesar itu bahkan Ibu saja tidak mampu menghentikannya.

__ADS_1


Ayah yang baru saja pulang kerja terkejut dengan apa yang terjadi. Ayah berusaha memegangi Rian sekuat tenaga. Dengan terpaksa kami mengikat tubuh mungil Rian dengan kain dan tali. Disisi lain Ibu tidak tega melihatmu yang tergeletak dilantai dengan berlumuran darah. Sungguh teramat sakit melihat kalian seperti itu.


Kami segera membawa kalian kerumah sakit.


"Maafkan kami pak. Kemungkinan anak bapak akan kehilangan ingatannya karena pukulan yang diterimanya begitu keras. Untuk saat ini kami hanya bisa memantaunya dan berharap agar anak bapak dan ibu dapat segera sadar. Jika besok pagi anak bapak dan ibu belum sadar juga maka anak bapak dapat kami katakan koma. Berdoalah yang terbaik agar anak bapak dan ibu segera sadar" kata dokter yang benar-benar membuat ibu terpukul.


Kamipun kembali menemui dokter yang merawat Rian. Saat menuju kesana ibu melihat Rian meronta-ronta dengan tangan terikat. Matanya membelalak seperti orang yang kesetanan. Dia berteriak-teriak ingin membunuhmu. Ya Allah cobaan yang begitu berat bagi keluarga kami.


"Maaf dengan berat hati harus kami sampaikan kepada Anda" kata dokter yang membuat ibu harus menyiapkan hati dengan kemungkinan terburuk.


"Ada apa dengan Rian anak saya Dok?" tanya Ayahmu penasaran.


"Ananda Rian menderita kelainan mental yang disebut NPD (Narcissistic Personality Disorder). Penyakit kepribadian ini merupakan perilaku abnormal yang dikarakteristikkan dengan perasaan berlebihan terhadap diri sendiri dan ini termasuk penyakit langka. Hanya 1% dari penduduk di dunia yang mengalaminya. Jika melihat apa yang sudah dilakukan kepada adik kembarnya, saya sarankan agar mereka tidak dibesarkan bersama. Karena nyawa adiknya akan selalu dalam bahaya. Saya yakin anda bisa mengatasi ini. Untuk sementara kami hanya bisa memberi obat penenang. Dirumah sakit ini, belum ada fasilitas untuk membantu menyembuhkan anak Anda. Karena kelainan ini bersifat jangka panjang disebabkan faktor genetik jadi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini rekomendasi rumah sakit yang bisa Anda kunjungi untuk melakukan terapi pada putra anda" penjelasan dokter itu bagai menyayat hati seorang ibu di manapun berada. Kalian harus dipisah. Ibu harus memilih salah satu dari kalian. Sungguh bukan keputusan yang mudah.


Ayah dan ibu terus saja bertengkar. Akhirnya Ibulah yang memutuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Ibu merelakan Rian untuk tinggal bersama tantemu di Kanada. Tantemu yang seorang dokter, Ibu yakin bisa merawat keponakannya dengan baik. Sementara kamu ada di sini bersama kami.


Malam itu juga kamu sadar.


"Rey, kamu sudah sadar nak?" tanya Ibu padamu tapi kamu tak menjawab malah mengelak tangan ibu.


"Nyonya anda siapa?? saya siapa?" tanyaku semakin membuat ibu terpukul. Kamu benar-benar hilang ingatan atau kamu benar-benar tak mau mengingat kejadian menyedihkan itu. Semua itu selalu menjadi bumerang bagi ibu. Rasa bersalah yang besar padamu.


Seminggu kemudian kamu diperbolehkan pulang. Semua tentang Rian kami simpan dalam gudang. Kami selalu bilang padamu kalau kamu anak semata wayang. Kamu tak punya saudara. Tetapi setiap kamu memimpikan saudara kembarmu dan bertanya pada Ibu, hati ibu benar-benar sakit nak. Begitulah hari-hari tanpa Rian dirumah ini begitu bahagia. Tapi Ibu tetaplah ibu seburuk apapun anaknya apalagi itu bukan kesalahannya, hanya saja karena penyakit itu membuat ibu terlihat bahagia diluar tapi sangat sedih didalam.


"Ibu... Maafin Rey!!!" aku minta maaf dengan air mata berderai. Sungguh beban yang ditanggung ibuku sungguh berat. Dibalik senyumannya, dibalik kasih sayangnya yang begitu besar, Ibu menyimpan lukaku, luka kakakku. Ingin aku marah tapi siapa yang patut disalahkan!!!!


Ceklekk...


"Mommy!!! What happened Mom, you're cry?" suara itu orang itu membuatku kesal, muak, marah tapi aku sudah berjanji untuk mengalah.


"Rian... Kapan datang?? Kenapa gak telpon Ibu apa Ayah kan bisa jemput kamu di bandara? Gimana Tante Rose? Tante gak ikut?"

__ADS_1


Ku tinggalkan Ibu dan kakakku diruang kerja Ayah. Agar Ibu bisa melepaskan kerinduannya selama ini. Dengan pikiran kosong dan rasa malas aku menuju kamarku tapi ada tangan yang menarik bajuku.


"Kak Rey, kita perlu bicara!!!" kata Sherin yang tak bisa ku percaya dia memanggilku kakak. Haruskah aku senang atau sedih. Semua ini membuatku bimbang dan frustasi. Akupun mengikutinya ke sebuah taman kecil dimana dulu kami bertemu untuk pertama kalinya.


__ADS_2