
Sampai di pelabuhan Trisakti, tim Adler dan tim Black shadow berpisah untuk laporan ke pemimpin mereka masing-masing.
Pangkalan Militer
"Hormat" kataku memberi hormat kepada komandan khusus.
"Lapor komandan. Operasi kali ini berhasil. Korban jiwa nihil. Tim aliansi akan kembali 1x24 jam dari sekarang. Tim Combo bertugas menggantikan tim Black shadow terhitung dari pukul 05.00 sore tadi. Pangkalan militer rahasia Chen Shiao dijaga 30 personel. Laporan selesai" kataku tegas.
"Laporan diterima. Tulis laporan resmi. Kalian boleh pergi" jawab komandan singkat sebelum itu kami memberi hormat dan undur diri.
"Arka kuserahkan laporan resmi kepadamu. Kerjakan dengan teliti. Untuk kata-katanya karanglah. Setidaknya buatlah semua tampak real dan heroik. Aku dan Rendy ada perlu. Kami keluar dulu" kataku menarik tangan Rendy menuju mobil lalu bergegas mencari keberadaan tim Adler.
BLAMMMM.....
"Rey, apa yang kau pikirkan??" tanya Rendy bisa menebak kegelisahanku.
"Sebelum berpisah dengan mereka aku melihat ada sesuatu yang salah dengan keadaan disana. Sepertinya mereka dalam bahaya. Cari keberadaan Mong Mong sekarang!!!" kataku melalui sensor suara mencari keberadaan Mong Mong melalui GPS yang tertanam dicincin yang kuberikan melalui sistem GPS di mobil.
Private Room di Pelabuhan
"Silahkan nona-nona tunggu disini" kata pengawal meninggalkan kami disebuah ruangan yang tampak mewah tapi terkesan mencekam.
"Sepertinya aku punya firasat buruk tentang ini" kataku sepintas menatap ke segala penjuru ruangan.
Takkk..... Kak Richie memukul kepalaku lagi. Kurasa dia begitu dendam kepadaku atas kecerobohannya sendiri.
"Awwww... Kak Richie sakit!!!" keluhku kesal.
"Rasakan. Kau masih bisa berani mengeluh sakit bagaimana dengan diriku. Wajah cantikku huks huks huks..." ucapnya memegang wajahnya yang terlihat menua. Kalau dari kerutan diwajahnya seperti tampak berumur 60 tahunan.
"Ichie sabar... Jangan buat masalah. Kita tidak tau dengan siapa kita berhadapan kali ini" cegah kak Kitty merasakan firasat yang sama.
"Nona, apa kita akan mati disini" tanya Vanya seketika kami menatapnya tajam untuk tak banyak bicara.
"Beri salam pada ketua" kata pengawal tadi diikuti seorang laki laki memakai topeng seperti saat pertemuanku dengan Papa dulu tapi ketua yang sekarang berperawakan sangat jauh berbeda dengan ketua sebelumnya.
Sesuai dengan pengamatanku, laki-laki ini masih muda, tinggi 180cm, rambut pirang dan sangat kejam.
"Hormat kami ketua" kata kami bersama membungkukkan badan.
"Silahkan duduk!!!" katanya dengan nada dingin.
"Siapkan hidangan pembuka!!!" katanya menjentikkan jari.
"Baik ketua" pengawal itu mempersilahkan para pelayan menghidangkan beberapa makanan diatas meja.
"Tunggu, bau apa ini??? Kenapa dalam minuman ini sedikit berbeda. Dia menaruh Trivam. Dasar brengsek!!! Dia sengaja menaruh obat bius cair dengan kandungan propofol hendak menipu kami.Meskipun jenis ini aman, tidak berbau, berwarna dan tidak berasa tapi ini bisa membuat pingsan lebih kurang tiga jam. Aku harus mencari cara keluar dari masalah ini" batinku berpikir keras.
"Silahkan kalian cicipi!!!" katanya dengan nada dingin.
"Tunggu ketua, kami akan mencicipinya setelah kami selesai melaporkan semuanya. Maaf ketua bukan maksud saya tidak menghargai niat baik ketua tapi kami ingin menyelesaikan tugas kami terlebih dahulu baru bersenang-senang kemudian. Bukankah begitu teman-teman" kataku tersenyum licik mencoba membuat mereka sadar dengan niat terselubung orang ini.
"Ohhh tentu saja nona Liliana. Baiklah silahkan laporannya" jawabnya masih dengan tatapan kesal.
"Ini chip, sample obat, dan diluar semua barang bukti sudah kami serahkan secara resmi. Mengenai markas militer rahasia milik Chen Shiao kami sudah tangani dan para tentara juga sudah berjaga dan menyelidikinya lebih lanjut. Jadi berdasarkan semua ini maka misi kami selesai. Kalau begitu kami mohon undur diri untuk beristirahat, ketua" kataku langsung pada inti. Kak Richie, kak Kitty dan Vanya mencium adanya kejanggalan dari sikapku.
"Nona Liliana, bukankah sangat tidak sopan jika Anda pergi tanpa mencicipi ini semua?? Saya juga harus mengecek sendiri tentang chip alat bukti ini apa kalian terburu-buru??" katanya mencoba menahan kami.
"Tidak ketua. Kami dengan senang hati menunggu Anda selesai mengeceknya Ha ha ha ketua Anda tak perlu tak enak hati. Tapi kami semua tak pantas mendapatkan ini. Silahkan anda lihat dulu, kami bisa menunggu" kataku mulai waspada.
"Siapkan diri kalian!!!" kataku menggunakan isyarat dengan memainkan rambut palsuku kepada mereka.
"Nona, Anda berani menipu ketua Anda sendiri. Bukankah nyali anda besar sekali" katanya mulai menampakkan rasa marahnya.
"Ketua, saya tidak berani bermain-main dengan Anda. Karena chip itu sangat berbahaya tentu saja saya merusaknya" kataku masih waspada.
Dari tatapannya dia mulai melakukan pergerakan untuk menawan kami. Baiklah tak ada cara lain. Meskipun dia ketua organisasi luar negeri tapi ini melibatkan negaraku jadi aku harus melindunginya dengan cara apapun.
BRAKKKKK..... Pranggggg.... wusshhhh.... Dia membalikkan meja karena begitu marah.
"Tangkap mereka semua!!!" teriaknya yang sudah tersulut emosi.
"Kalian bersiaplah!!!" teriakku memasang kuda-kuda.
Buggggg.... Sretttttt.... Plakkkkk... PYARRRRRRR.....
Buakkk.... Swossshhhhh....Trakkkk....
"Kak hati-hati pisaunya beracun" teriakku memperingati kak Kitty yang dikepung dua pengawalnya.
Dashhh.... trakkkk.... Buggggg....
"Sialan kau Liliana, beraninya kau memukul wajah tampanku. Rasakan ini Doshhhhh...." teriaknya melepaskan peluru kearahku.
"Awas Lili, BRAKKKKK..." teriak kak Richie mencoba menahan peluru yang menyasar kearahku.
Plushhhhhh... Tembakan peluru syarafku berhasil mengenai tangannya.
Buggggg...... Tubuh Kak richie menindihku seketika.
"Kak Richie.... Kak bangunlah!!! Jangan mati!!!! Aku masih berhutang penawar padamu. Kau tak mau mati dalam keadaan jelek kan" teriakku keras.
"Dasar bocah sialan, kau menginginkan kematianku ya???" umpat kak Richie membuatku lega.
"Kenapa kau harus menghadang peluru demi aku???" kataku terharu.
"Bocah ini, kau tak liat aku tersandung. Untuk apa aku mengorbankan diri buatmu. Konyol sekali" jawabnya membuatku kesal dan melempar tubuhnya sedikit kasar.
"Bangunlah!!! Kau menindihku" kataku sedikit canggung.
"Huhhh..." Kak Richie bangkit lalu membuang muka terjadi perang dingin antara kami disaat yang tak tepat karena sifat kekanakannya. Mungkin juga bisa dari pengaruh pil luka yang mempengaruhi emosinya.
Tak mau berlarut-larut, aku bergegas bangkit dan melawan ketua luar negeri kami yang menurut info dialah yang membunuh ketua sebelumnya untuk merebut paksa jabatan ini.
"Sialan kau Justin" teriakku marah.
"Hehhhhh.... Liliana ternyata kau belum mati. Baiklah meskipun satu tanganku kau lumpuhkan, tapi kau takkan kubiarkan menikmati hari pernikahanmu dengan mudah" ancamnya.
Srangggg.... Woaahhhhhh.... Slashhhh.... dia mencoba beberapa kali memukul, menendang, bahkan mencoba mengunci titik meridianku.
"Aku kehabisan tenaga. Dia benar-benar ingin aku mati. Sialan. Heh heh heh...." kataku dengan nafas tersengal.
"Nona hati-hati, dia sangat licik. Dialah yang membunuh ketua Lan" teriak Vanya memperingati.
BRAKKKKK....Tanggggg.... Wushhhh... Buggggg.... PYARRRRRRR....
"Ini untuk ketua Lan.... Blaaammmmm Bugggg...." teriakku menyerang balik secara membabi buta dengan menendangnya keras hingga dia terlempar menatap dinding dengan luka di kepala yang cukup berat.
Buuuukkkkkk..... tiba-tiba badanku jatuh.
"Kau ingin menipu kami??? Lihatlah apa yang akan kulakukan padamu...... Plushhhhhh" kataku menembakkan peluru pelumpuh syaraf dosis tinggi padanya dengan tatapan tanpa belas kasihan sama sekali dalam keadaan tengkurap.
"Huks huks... Liliana... Kau satu-satunya wanita yang berani kepadaku dan sialnya huks huks kaulah wanita yang kucintai..." kata-kata terakhir dari mulutnya sebelum tak sadarkan diri membuatku semakin muak.
"Huaaaaa.... sakitnya. Bagaimana ini???" teriakku menangis masih dalam posisi tengkurap seolah mati rasa.
BRAKKKKK.... Suara pintu didobrak.
"Mong Mong....." teriak kak Rey segera menghampiriku.
"Sayank jangan tinggalkan aku seperti ini. Maafkan aku datang terlambat karena pengawal ketuamu terlalu banyak yang menghadang kami di pintu depan. Mong Mong bangunlah!!! Jika kau bangun aku bersedia menyerahkan semua padamu termasuk apartemenku. Bukankah kau menyukainya??? Mong Mong huks huks...." tangis kak Rey tak bisa dipercaya dia akan selembek ini ketika berhadapan denganku.
__ADS_1
"Kau menangisi apa??? Mau saja dibodohi Liliana ha ha ha" ejek kak Richie.
"Mong Mong kau tak terluka. Kau baik baik saja??" tanya kak Rey memeluk setengah badanku erat.
"Sial kak Richie sengaja membuka kedokku. Padahal aku masih ingin sedikit mengerjainya" batinku kesal.
"He he he... Kak Rey kau datang" kataku membuka mata dan tertawa canggung.
"Kau sengaja mengerjaiku Mong? Apa kau senang mempermainkan perasaanku??? Kau jahat Mong. Kenapa kau bermain-main dengan nyawamu" teriaknya marah.
Bukkkk..... Kak Rey menjatuhkanku ke lantai tanpa belas kasihan.
"Awwww sakittttt Kak.... Kenapa dia harus marah????" Ucapku bingung lalu mengaduh kesakitan disekujur tubuhku terutama di kakiku.
"Ha ha ha rasakan kau Lili. Sekarang suamimu marah. Reynan bagaimana kalau kau menghabiskan malam ini denganku saja???" ajak Kak Richie tak tau malu.
"Meskipun aku marah padanya dan bahkan hanya kau wanita yang tersisa, aku juga tak mau dengan nenek nenek sepertimu" kata kak Rey tajam langsung menancap ke ulu hati.
"Dasar kau......" teriak kak Richie marah.
"Ha ha ha ha ha......" tawaku begitu senang melihat raut wajah kak Richie yang ditolak.
"Vanya sayang kau tak apa???" tanya Rendy begitu perhatian.
"Hanya luka gores. Lihatlah tapi ini sakit" jawab Vanya manja.
"Aku akan mengobatinya sayank... Fuhhh..... fuhhhh... Kalau begini bagaimana apa masih sakit??" tanya Rendy meniup luka Vanya membuat kami seperti orang-orangan sawah melihat kemesraan mereka.
"Heyyy kau, apa dunia ini cuma milik kalian??? Kalau mau mesra di kamar sana. Jangan disini" pinta kak Kitty emosi.
"Mong bangunlah!!! Apa kau betah tiduran dilantai" kata kak Rey yang masih marah menyuruhku bangun dengan menyenggolkan kakinya ke tubuhku.
Tentu saja, bukan Sherinnn kalau tak bisa membuat Reynan bertekuk lutut.
"Silahkan selesaikan sendiri drama percintaan kalian. Kami pulang dulu!!!" kata kak Richie menarik tangan kak Kitty berjalan keluar.
"Mong... jangan bercanda lagi!!!" kata kak Rey dengan posisi berjongkok didepanku.
"Mong...." katanya tapi masih kuacuhkan.
"Sayank kau marah??? Bukankah seharusnya aku yang marah karena kau permainkan???" katanya masih kesal tapi kuacuhkan. Sampai dimana tingkat kesabaranmu menghadapiku.
"Sayang kita pergi sekarang. Takut ada perang dunia ketiga disini" kata Rendy merangkul Vanya keluar.
"Kau marah Mong??? Sayank kenapa kau diam???" tanyanya sekali lagi.
"Lupakanlah... Dengan kemampuanmu kau pasti bisa pulang sendiri" katanya dingin berjalan keluar.
Hanya menatap kepergiaannya kenapa hatiku begitu sakit. Apa aku benar-benar sudah keterlaluan??? Apa ini bisa dibilang ujian sebelum pernikahan. Menurut mitos, semakin dekat dengan hari H maka semakin banyak masalah yang muncul entah karena sifat kekanakan, emosi yang tiba-tiba berubah atau karena merasa kami bukanlah pasangan yang cocok. Baru kali ini aku merasa kehilangan setelah dia pergi. Tak sengaja air mataku mengalir.
"Ternyata hanya sebatas ini dia mencintaiku. Baiklah, selesai sekarang lebih baik daripada terlambat setelahnya" kataku ambigu mencoba bangkit dengan sisa tenagaku.
Entah kenapa rasanya ingin mati saja. Badanku begitu lemah tak berdaya. Rasanya tulangku remuk redam bahkan untuk bangkit pun susah mana kakiku terkilir lagi.
"Ahhhhh.... awww... Sakitnya. Kau pikir aku tak bisa pulang sendiri???" kataku kesal berjalan tertatih-tatih dengan kaki terluka ke arah pintu.
Hampir saja tubuhku jatuh lagi kelantai kalau tak ada orang yang menangkapku.
"Kenapa dia masih disini???" batinku tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Apa dia masih menungguku??? Apa dia sengaja bersembunyi di balik dinding mengamatiku??" tanyaku dalam hati mencoba menerka.
Tanpa bicara dia menggendongku.
"Turunkan aku!!! Aku bisa pulang sendiri" kataku kesal. Inikah yang dinamakan pertengkaran pasangan. Kak Rey hanya menatap tajam tanpa berbicara.
"Kubilang turunkan aku!!!" teriakku kesal merajuk seperti anak kecil.
Entah sudah berapa lama dia berbicara tanpa henti. Dia begitu mengkhawatirkanku. Dia begitu menyayangiku bahkan aku sama sekali tak tau sedalam apa rasa sayangnya kepadaku. Meskipun IQ ku diatas rata-rata tapi untuk memahami perasaan dan apa yang dinamakan jatuh cinta sungguh berada dititik paling rendah.
Aku menatapnya begitu dalam dan lama. Seperti ada magnet yang saling tarik menarik diantara dua kutub. Jantungku berdebar begitu kencang. Bahkan nafaskupun mulai sesak.
Gadis 17 tahun tetaplah gadis yang baru menginjak dewasa, belajar mencintai dan dicintai. Belajar memberi dan menerima. Meskipun semua iri melihat kelebihanku tapi sebenarnya akulah yang iri pada mereka.
Sementara aku masih harus berjalan sesuai koridor yang ada. Identitaskupun disimpan secara rahasia kalaupun menjalani hidup normal itu takkan berlangsung lama. Kalau tidak menangkap maka aku yang tertangkap.
Kueratkan pelukanku dan membenamkan kepalaku kedalam dadanya.
"Nyamannya??? Inikah yang dinamakan bersandar dan mengandalkan seseorang" kataku merasakan sesuatu yang berbeda. Rasa yang belum pernah aku terima dan mau kuterima.
Selama ini tanpa kusadari, aku menemukan begitu banyak hal baru selama bersamanya. Tangan yang sudah kugenggam tak mungkin kulepaskan. Tangan yang saling berjuang akan terus berjuang sampai dititik akhir. Jiwa yang saling tertaut maka akan tertaut sampai maut memisahkan. Tak terasa aku baru menyadari arti penting dari hidupku dan dirinya. Tangisanku membuncah dalam hangat pelukannya.
"Kenapa kau menangis, sayank??? Apa aku terlalu kasar padamu??? Maafkan aku, aku janji akan lebih memahamimu" kata kak Rey begitu mengena di hatiku. Hanya terdiam dan semakin menangis haru.
"Mong, jangan bersedih lagi. Aku mengaku salah. Tak seharusnya aku memarahimu dan kesal padamu" kata katanya sekali lagi tak dapat membendung air mataku. Aku hanya menggelengkan kepala, bermaksud memberitahunya kalau bukan seperti itu.
"Kau jelek kalau menangis. Aku sayank padamu Mong... Maafkan aku yang begitu mencintaimu hingga membuat kau tak nyaman. Hanya saja aku tak mau kau terluka. Sudah jangan nangis lagi. Aku tak sanggup melihat air matamu" katanya begitu dalam mengecup lembut pucuk kepalaku meskipun rambut palsu ini belum kucuci.
"Kita pulang!!!" katanya menggendongku masuk ke mobilnya.
Tak terasa selama perjalanan pulang ke penginapan aku tertidur pulas. Entah apa yang kak Rey pikirkan. Tapi satu yang jelas dan telah kutemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Memang dialah satu-satunya yang pantas untukku. Satu-satunya yang pantas mendampingi ku. Satu-satunya laki-laki yang ada di hatiku. Bukan sebagai kakak pelindungku tapi sebagai laki-laki yang aku cintai. Hanya dia. Aku yakin hanya dia yang bisa membahagiakanku. Aku yakin sekarang kalau aku hanya mau menikah dengannya. Tak ada keraguan lagi.
"Kita sudah sampai. Aku akan mengantarmu ke kamar dan meminta Vanya membantumu membersihkan diri" Kata kak Rey lembut. Aku hanya mengangguk. Tak ada Sherin yang bar bar bahkan aku tak yakin ini diriku. Kenapa aku seperti anak kucing yang manis. Kenapa aku seperti putri yang patuh pada pangerannya.
"Apa karena aku belum mandi??? Kenapa aku bisa menjadi seorang yang puitis dan melankolis ha ha ha.... tak mungkin tak mungkin.... tenanglah Sherinnn... Kau terlalu terbawa suasana. Kenapa kau cengeng sekali??? Sadarlah eoyyyy bangun sherinnnnnnnnnnnn" teriakku dalam hati kesal sendiri.
"Kenapa wajahmu tersipu malu Mong?? Apa tadi pria itu memberimu obat, kenapa kau begitu penurut" tanya kak Rey membuatku tersenyum kecut.
(Heyyyy, authorsss keluarlah!!!! Kenapa dari tadi aku hanya bicara dengan diriku sendiri. Teganya kau mengunci mulutku dan menjadikanku anak penurut. Huaaaaa.... Aku marah.... marahhhhhh... 😣😣😣).
Tokkk.... tokkkk....
"Sebentar!!!" teriak seorang laki-laki dari dalam.
"Apa aku salah rumah???" kata kak Rey tak percaya.
Ceklekk...
"Siapa malam malam berani gang...." kata Rendy belum selesai kak Rey sudah menerobos masuk.
"Rey.... jangan salah paham. Kumohon dengarkan aku" kata Rendy.
"Diamlah, dimana Vanya???" tanya kak Rey sedikit kesal.
"Siapa sayang....????" tanya Vanya kaget.
"Nona, kenapa Anda digendong??? Jadi tadi Anda tidak beracting. Anda sungguhan sakit??? huaaaa... Maafkan saya nona, saya benar-benar khilafff.... Rendy minta maaflah cepat berlutut!!!" teriak Vanya menarik Rendy berlutut didepanku.
"Maafkan kami Sherinnn... Maafkan ini bukan salah Vanya tapi salahku yang mengajaknya segera pulang" kata Rendy berulangkali berlutut sambil membungkukkan badan membuatku dan kak Rey saling tatap.
"Ini seperti adegan pangeran dan selirnya ketika menghadap kaisar dan permaisuri ha ha ha lucunya mereka" batinku tak menyangka sebegitu berwibawanya diriku.
"Vanya, bantulah Sherin mandi. Kakinya terkilir. Dan kau Rendy buatkan kami makanan sebagai permintaan maafmu kalau tidak...." ancamku dengan tatapan tajam sengaja mengerjai mereka. Ternyata jiwaku sudah terkontaminasi kelakuan Mong Mong.
"Baik, akan segera siap. Kapten mandilah dulu!!" katanya segera berlari ke dapur.
"Tak kusangka Rendy begitu ketakutan. Apa dia melakukan kesalahan" gumamku sambil menggendong Mong ke kamar mandi.
"Vanya kuserahkan istriku padamu. Awas kalau dia terluka lagi" ancam kak Rey membuat Vanya tersenyum kecut.
Kak Rey pun pergi ke kamarnya. Sebenarnya kami menyewa sebuah rumah lantai dua, untuk kepentingan tim Adler saja. Tapi entah kenapa jadi bertambah dua orang ini. Mau diusir juga tak bisa. Asalkan kedua kakakku menerimanya kupikir tak masalah.
__ADS_1
"Nona, anda benar terluka apa hanya pura-pura???" tanya Vanya membuatku kesal.
Takkk.... kupukul kepalanya dengan sikat gigi.
"Nona... sakitttt" teriaknya mengaduh manja.
"Kau tak bisa lihat kakiku bengkak. Cepat bantu aku melepas baju" pintaku dengan nada memaksa.
"Nona kenapa kau tak menyuruh tunanganmu memandikanmu.... bukankah itu romantis" entah apa yang dibayangkan Vanya, yang jelas itu sangat tidak baik.
"Lupakan!!! Jangan berpikir mesum. Jangan-jangan kau melakukannya dengan Rendy ya???" teriakku tak percaya.
"Tentu saja tidak. Mana aku berani. Aku hanya suka menggoda saja kok... Sedikit sedikit he he he..." elak Vanya.
"Terima kasih kau boleh keluar. Nanti ku panggil lagi!!!" kataku memintanya keluar.
15 menit waktu yang kubutuhkan untuk membersihkan diri.
Ceklekk....
"Astaga... kau mengagetkanku kak Rey" teriakku hampir saja jatuh karena kaget melihatnya.
"Sudah kubilang panggil aku jika kau butuh sesuatu. Dasar bocah bandel" kata kak Rey segera menggendongku ke sofa.
"Duduklah disini aku akan mengobati kakimu" katanya lalu berjalan mengambil kotak obat dan minyak urut.
"Tak lagi-lagi... Aku tak mau diurut kakiku dengan cara militernya hiks hiks... itu sangat menyakitkan" batinku segera menaikkan kakiku keatas sofa dan menutupinya dengan selimut.
"Mong, turunkan kakimu!!!" pintanya lembut. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah takut.
"Mong, ayolah. Ini tak sakit. Ayo turunkan kakimu.... percaya padaku sayank, kakimu akan segera sembuh" kata kak Rey sangat lembut tapi ekspresinya begitu menakutkan. Kugeleng-gelengkan kepalaku sekali lagi sambil menggigit ujung selimut.
"Anak pintar... Gadis imut ayolah... Mong Mong...." panggilnya semakin membuatku takut. Sekali lagi kugeleng-gelengkan kepalaku dan kukunci kakiku agar dia tak bisa menariknya keluar.
"Rendy, Vanya kemari!!!" teriak kak Rey kesal.
Ekspresi diwajahku sudah menunjukkan rasa takut tingkat tinggi. Akan ada penindasan dan pembantaian terhadap diriku.
"Kak... jangan.... Aku tak apa.... Sudah sembuh... beneran" jelasku dengan muka was was.
"Rendy Vanya!!!" teriaknya kembali.
"Rey ada apa???"
"Nona kau kenapa??? Kenapa ekspresimu seperti itu... Kak nona kau apakan dia seperti kucing kecil imut yang ketakutan" ucap Vanya dengan muka polosnya.
"Kalian berdua pegangi kuat-kuat nonamu supaya tidak memberontak. Jangan sampai bergerak. Jangan banyak tanya" perintah kak Rey sengaja memaksaku.
"Tidak.... lepaskan aku. Hyaaaa...." teriakku marah.
"Kak, jangan...... Kau menyakitiku" teriakku sekali lagi karena kak Rey berhasil menarik kakiku.
"Hyaaa.... lepaskan aku kalau tidak akan kubunuh kalian!!!! Hyaaaa...." teriakku tak percaya badanku di pegangi kuat kuat oleh mereka.
Kak Rey mulai membuka minyak urutnya. Sungguh membuatku ciut. Ngilu sekali rasanya.
"Kita mulai sayank.... Tahanlah sebentar... rasanya hanya seperti digigit semut...Kau siap???" tanyanya membuatku frustasi.
"Kak... jangan.... jangan... kumohon hiks hiks...." pintaku tak berdaya.
"Tahan sayank.... Kau bisa menjerit bahkan memukul mereka berdua setelahnya oke. Tahan ya!!!" kata kak Rey mulai menuangkan minyak ke tangannya membuatku tegang sudah seperti menjinakkan bom saja.
"Jangan kakak.... Jangan..." pintaku lesu.
"Baiklah.... Kita lakukan sekarang" katanya mulai memegang kakiku dengan lembut tapi kemudian.
KRAKKK... KRAKKKK....
"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........ Dasar kau brengsek.... kakiku patah..... haaaaaaaaaaaaa.......... Kakak.......... aku akan menghajarmu................. Sakittttttttttttttttt......" teriakku menggelegar.
"Sayank, bagaimana??? Sudah lebih baik??? Rasanya hanya seperti digigit semut kan??" tanyanya tersenyum puas padahal aku sudah berkeringat menahan sakitnya.
"Arggghhhhhhh.... Kau gila kak.... Kau menyakitiku hiks hiks hiks.... Ini bukan digigit semut tapi embahnya semut sakitnyaaaa hiks hiks hiks" teriakku menangis sampai mengeluarkan air mata. Diapun memelukku mencoba menenangkan dengan mengelus punggungku lembut.
"Baiklah, Vanya Rendy pegangi dia lagi!!!" pinta kak Rey membuatku tak tau harus apa.
"Lagi..... tidak...... tidak mau.... aku kehabisan air mata...." kataku mengelak.
"Pegangi dia kuat kuat. Sayank sekali lagi oke. Rasanya takkan sakit hanya seperti digigit bayi semut" katanya malah membuatku semakin was was.
"Tidak... Kakak.... ampun...." kataku menyerah. Dia hanya tersenyum sambil menuangkan minyak urut ditelapak tangannya dan mengusapkan sekali lagi di kakiku.
"Baiklah.... Tarik nafas.... tahan.... lepaskan.... Kau harus rilex Mong Mong sayank. Sekali lagi oke!!" katanya membuatku menggigit selimut keras keras.
"Tidak.... oh.... jangan lagi.... tidak mau...."
KRAKKKK.... TRAKKKK....
"Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh....... Dasar kalian sialan..... Akan ku kuliti kaliannnnnnn..... Kak Rey............ Mamaaaaaaaaa..... Sakittttttttttttttttt..... Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa hahahaaaaaaaaaaa habislah kakiku.... habislah.... habislahhhhh....." teriakku menangis, sakit, mengumpat campur aduk semua jadi satu.
"Hiks hiks hiks...." tangisku.
"Sudah... sudah... ini sudah berlalu jangan kau tangisi lagi" kata kak Rey memelukku segera kudorong menjauh.
"Bagaimana aku tidak menangis. Rasanya seperti diinjak monster gila...." teriakku marah.
"Ha ha ha... gadis nakalku ternyata tau apa itu rasanya sakit" tawa senang kak Rey.
"Diamlah.... Aku marah padamu" kataku merajuk.
"Marahlah sayank, kau tambah imut kalau lagi marah"
"Kakak...."
"Pukullah aku sayank tapi dengan cintamu..."
"Arghhhhhh... awas kau Kak Rey...."
"Awas kau jatuh dalam cintaku Mong...."
"Reynan....."
"Apa sayank, kau sudah bisa marah, berarti kau sudah sembuh ha ha ha"
"Ommmmmm gilaaaaaaa...."
"Gila gila akulah satu-satunya cintamu Mounggggng...."
"Hahhhhhhhh.... Panpan stressss"
"Mong Mong imut"
"Panpan brengsek"
"Mong Mong nakal..."
"Hisshhhhhhhhh......."
"Vanya kita harus menjauh.... lihatlah cinta kita tak bisa mengalahkan cinta mereka" kata Rendy lesu
"Benar sayank mereka bahkan mengalahkan Romeo dan Juliet. Kita kedapur sekarang!!!" ajak Vanya menarik tangan Rendy.
__ADS_1