Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Bakso dan Es krim


__ADS_3

Di Bilik VVIP


Reynan Gunanto


Aku masuk kedalam ruang inap Sherin dengan sangat hati-hati. Kudekati dia yang masih lelap tertidur. Wajahnya seperti bayi yang terlihat tak punya beban sama sekali. Sangat menggemaskan. Kuelus wajah cantiknya dengan lembut.


"Kalau kau bangun, apa bisa aku bisa mengelus pipimu yang chubby ini. Bisa-bisa kau menamparku lagi hi hi hi.... Dasar bocah nakal" kataku pelan tersenyum senang.


"PLAKKKKK. Dasar mesum, itu tangannya bisa dikondisikan?" katanya yang membuatku kaget. Terasa panas dan sakit punggung tanganku akibat pukulannya.


"Ternyata kau pura-pura tidur, Jah. Apa kau sengaja menggodaku?" tanyaku yang membuat pipinya merah.


"Om Tejo... dasar..." katanya kesal.


Semenjak menjadi dekat, kami punya panggilan sendiri. Aku memanggilnya Mijah (Membuatku ingin jatuh hati). Berkali-kali dia marah jika dipanggil Mijah akhirnya diapun pasrah. Tapi tidak sampai disitu dia mencari nama panggilan buat mengejekku juga. Akhirnya kami saling ejek. Dia memanggilku Om Tejo ngenes, pertama kali aku tak tau maksudnya akhirnya dia memberi tau kalau maksudnya adalah Om tentara jomblo ngenes. Kamipun hanya tertawa.


"Mijah, jalan-jalan keluar yuk!! Bosan dikamar mulu" ajakku.


"Dasar Om Tejo, mending Om pulang sana!! Ntar Tante nyariin lho. Sherin dah sembuh kok. Gak perlu baby sitter lagi" katanya tak sopan. Kujitak kepalanya pelan.


"Ahh dasar Mijah. Masak habis manis sepah dibuang" rengekku.


"Masih mending tebu ada manis-manisnya. La om Tejo darimana manisnya?? Sana lho Om... telepon Tante, jangan gangguin Sherin terus!!" katanya menyangkal.


"Kak Rey dah telpon Ibu kok. Udah gak usah banyak alasan. Mau es krim gak?" godaku.


"Yeyyy. Dikira anak kecil apa?" katanya menolak.


"Anak kecil juga manusia. Kalau kamu anak kecilnya mau dong... Tak gendong kemana-mana, Tak gendong kemana-mana... Enak donk mantep donk...Daripada naik pesawat kedinginan...?" godaku sambil menyanyi lagunya Mbah Surip.


Entah kenapa aku benar-benar senang saat menggodanya. Melihatnya kesal, marah dan ekspresi wajahnya membuatku semakin jatuh hati padanya.


"Hisss Kak Rey bisa diem gak?? Jangan nyesel ya!! Om Tejo yang traktir, tapi jangan ditambahkan ketagihan hutangku, janji!!" sahutnya.


"Oke. Deal" langsung kuiyakan. Kapan lagi bisa berdua duaan.


"Cepet bantuin!! Om jangan bengong aja!!" teriaknya membuatku kaget.


"Iya. Bawel. Ternyata kamu bisa marah juga ya!!" ejekku.

__ADS_1


"Salahnya sendiri bangunin macan betina tidur. Haummm..." raungnya menirukan macan. Aku terkekeh geli melihat kelakuan imutnya.


Kami berjalan-jalan di lingkungan sekitar rumah sakit. Dia merengek memintaku mengajaknya jajan di luar rumah sakit.


"Om.. Om boleh ya!!! please..." rengeknya seperti anak kecil. Aku baru tau ternyata dia manja sekali.


"Mijah... Kamu belum sehat betul. Gak ah.. di kantin rumah sakit aja ya!!" pintaku.


"Gak mau. Makanannya aku gak begitu suka. Ya udah kalau gitu aku balik kamar lagi aja" katanya kesal.


"Mijah... oke oke. Hanya boleh didepan rumah sakit saja, gak boleh jauh-jauh!!" jelasku.


"Deal" katanya setuju lalu menarik tanganku untuk secepatnya pergi.


Sesampai diluar rumah sakit, dia langsung menuju tukang bakso di ujung jalan tanpa menungguku.


"Bang bakso mie putih 1, es teh 1" katanya pada Abang bakso.


"Iya neng. Sebentar bapak buatin" jawab Abang bakso.


"Jah, kak Rey gak kamu pesenin?" tanyaku heran.


"Nggak. Om Tejo bisa pesen sendiri kan? Gak baik lho, nyuruh anak kecil bisa oek oek... hi hi hi..." jawabnya terkekeh.


"Bang baksonya satu kosongan aja, es jeruknya juga satu" kataku pada Abang bakso.


"Bang katanya kosongan tuh, kasih mangkok sama sendok aja, gak usah kasih apa-apa" teriaknya pada Abang bakso yang menatap sekilas lalu menggelengkan kepalanya melihat tingkah si Mijah.


Pesanan kamipun datang.


"Jah, apaan itu. Mau mati kamu??" kataku heran.


"Om Tejo doain Sherin cepet mati??!!" sahutnya.


"Mijah, dengerin kak Rey, kalau kamu mau bunuh diri jangan pake sambel segitu banyaknya, kelamaan!!!" ejekku.


"Huhh bodo amat. Udah ahh. Kapan makannya kalau Om Tejo ngajakin ngomong terus. Selamat makan, terima kasih makanannya" katanya lalu berdoa.


Ku curi-curi kesempatan untuk memandanginya saat makan. Sungguh seperti anak kecil. Bahagia sekali.

__ADS_1


Dari waktu ke waktu hubungan kami semakin dekat. Dia sudah mulai nyaman dengan kehadiranku. Aku akan terus menjaganya. Memberikan apa yang tidak dia dapatkan selama ini.


Kamipun selesai makan. Aku membayar tagihan. Kami berjalan ke dalam rumah sakit lagi. Ternyata Adira sengaja memata-matai Sherin dari tadi. Dikira aku tak tau apa. Tanpa berdosa Dia melangkahkan kakinya mendekat kearah kami. Untungnya gadis bodoh ini belum tau kalau kakaknya menghampirinya.


"Mijah... Kesana yuk!!" ajakku berusaha agar mereka tak bertemu.


"Sherin dah kenyang Om" jawabnya.


"Ahh... pokoknya kak Rey mau kesana, kak Rey mau beli es krim" ajakku tanpa menunggu jawabannya segera ku tarik tangannya mencoba menjauh sejauh-jauhnya dari Adira.


"Ah.. Om Tejo apa-apaan sih sakit tau!!" katanya kesal


"Ya ampun. Maaf maaf karena kak Rey benar-benar terhipnotis dengan es krim ini jadi lupa kalau kamu lagi sakit" jawabku bohong.


"Dah cepetan. Gpl milihnya!!" lanjutnya.


"Yang ini, ini sama ini bang!" kataku ke penjual es krim sekalian kuberikan uangnya.


"Ini mas. Adiknya cantik juga. Sakit aja cantik gini apalagi kalau dah gak sakit" katanya sambil melihat Sherin dengan tatapan mesumnya.


"Ini bukan adik saya, tapi ini calon istri saya" kataku jengkel. Lalu merangkul Sherin dengan mesra meninggalkan si tukang es ganjen.


"Sejak kapan aku jadi calon istrinya Om tejo? Situ waras??" katanya. Belum sempat dia berbicara lagi, segera ku masukkan es krim yang baru saja kubuka ke mulutnya.


"Hisssshhh.... mmmmm.... ngilunya.... Dasar Om Tejo...." teriaknya kesal mengejarku dengan kekuatan yang dikumpulkannya.


Masih saja Adira mengawasi kami dari kejauhan. Disisi lain Aldo melihat kami dengan tatapan aneh. Aku tak bisa menerka apa yang ada dipikirannya. Sementara dari ujung koridor rumah sakit terlihat Rania dengan tatapan tidak sukanya.


"Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan. Kenapa banyak sekali orang yang tidak suka kepadanya? Bantulah aku untuk menjaga dan melindunginya, Bantulah aku. Jangan biarkan siapapun menyakitinya. Aamiin" doaku dalam hati.


Dari tadi Sherin hanya terdiam mematung didepan pintu kamar inapnya dengan memegang handle pintu. Siapa yang dia lihat dan kenapa dia menatap kosong seperti itu. Segera kudekati dan kulihat siapa yang membuatnya merasa tak nyaman.


"Sherin... Ada apa?" kataku lembut.


Bukan jawaban yang kudengar tapi air matanya menetes begitu saja. Kubuka pintu kamar itu. Terlihat sosok wanita sangat cantik yang tidak kukenal. Ada kepentingan apa wanita ini mengunjungi kamar Sherin.


Kudekati wanita itu,


"Maaf Nyonya. Ada yang bisa saya bantu? Apa Nyonya mau menjenguk seseorang dan salah masuk kamar? Saya bisa mengantar Nyonya!!" kataku sopan.

__ADS_1


Tapi tak ada jawaban apapun dari mulutnya. Hanya matanya yang terlihat berkaca-kaca menatap Sherin sangat lama.


"Siapa dia? Apa hubungannya dengan Sherin? Kenapa mereka terlihat mirip??? Jahatkah dia???" tanyaku dalam hati merasa tak nyaman dan sedikit waspada.


__ADS_2