
Sudah sepekan lamanya aku sama sekali tak bertemu apalagi menghubunginya. Bukan karena marah, kesal ataupun dendam pada gadis yang aku sayangi tapi lebih fokus kepada menyiapkan sesuatu yang lebih penting.
"Jangan lupa nanti sore kita ketemu ditempat itu. Kamu gak lupakan harus apa??" kataku dari ujung telepon.
Di Sekolah
Dengan tergesa-gesa, Nia berlari ke arahku.
"Sher, ntar ada acara gak?" tanyanya dengan nafas terengah-engah.
"Ntar??? Eh iya... Astagfirullah. Nyokap minta anterin belanja. Walah walah walah... Gue lupa. Ni, gue minta bantuan loe sekali ini aja please tolongin gue ya!!! Bilangin ke nyokap kalau kita ada belajar kelompok, please!!!"
"Loe sebenarnya pintar apa pura pura bodoh sih. Belajar kelompok?? loe kira nyokap loe bakalan percaya??? Secara kita aja udah lulus, mau belajar apaan lagi neng??" sahut Nia bingung.
"Hahhhh... Loe cariin gue alesan kek. Gue trauma ketemu ama mamas lady itu lagi. Gak gak gak... pokoknya gue gak boleh pulang sekarang. Nia please!!!" kataku mengatupkan kedua tanganku dengan wajah penuh harap.
"Siniin hp loe!!" kata Nia sembari mengambil hpku.
Tut Tut Tut Tut...
"Telpon sapa loe Ni??" tanyaku pelan.
"Diem gak usah berisik dah loe. Diem Sutttt... Halo Tante Nay, Ini Nia kok bukan Sherin. Oh iya Tant. Boleh gak kalau Sherin, Nia ajak jalan-jalan??" katanya membuatku penasaran apa jawaban Mama. Kudekatkan telingaku ke hp yang dipegang Nia.
"Apaan sih loe Sher, sana!!!" bisik Nia mendorong kepalaku menjauh.
"Maaf Tante, sinyalnya jelek. Gimana Tante??? Sampai malam Tante, boleh ya!!! Makasih Tante Nay. Nia sayang Tante Nay. Dahhh" kata Nia mengakhiri panggilannya.
"Gimana, nyokap bilang apa??" tanyaku penasaran.
"Gak sabaran banget sih ni anak. Nyokap loe ngebolehin hari ini loe main sama gue. Malahan nyokap loe seneng banget kalau hari ini loe gak pulang" katanya membuatku terkejut.
"Hahhhh... Masak sih nyokap bilang gitu" tanyaku heran.
"Huummm. Seriusan dah. Katanya hari ini bonyok loe mau pergi honeymoon. Gak jadi ngajak loe shoping" kata Nia dengan wajah seriusnya.
"Beneran Ni, mereka mau honeymoon?? Kalau gitu gue lega dah. Thanks ya udah nelponin nyokap. Gue mau balik kerumah mau tidur sepuasnya. Dah ni, gue duluan ya!!" kataku malah membuatnya shock.
"Sherinnn!!!" Panggilnya dengan berteriak.
"Gue lupa bilang kalau nyokap loe berangkatnya ntar malem" jelasnya membuatku terperanjat.
"Udah ah... Loe sekarang temenin gue. Gak boleh complain, lari dan satu lagi gue mau loe nurutin semua perintah gue. Ngerti!!!" kata Nia memaksa.
Niatnya mau kabur dari mama, ini malah masuk ke perangkap macan betina. Hancur sudah mimpiku bisa tidur sepuasnya dirumah. Nia menarik paksa masuk ke mobilnya.
"Loe kira gue supir loe?? Duduk depan!!!" teriaknya marah.
"Loe Nyetir sendiri Ni??? Mang Udin kemana??" tanyaku penasaran.
"Mang Udin libur. Hari ini gue Nyetir sendiri. Udah ah, kelamaan" jelasnya membuatku menelan ludah. Sekejap aku sudah berpindah ke kursi depan.
"Apa iya Nia bisa nyetir??? Jangan jangan cuma bisa-bisaan doang" tanyaku dalam hati khawatir dan sekujur tubuh ini rasanya tegang dan gemetar.
"Udah tenang aja. Gue udah punya SIM kok. Ni liat!!" jelasnya membuatku sedikit tenang.
Kamipun sampai di salah satu mall.
"Turun!!" pinta Nia memaksa.
"Ni, gue gak suka tempat ini. Balik aja yuk!!"
"Gue bilang kan hari ini loe harus nurut sama gue. Kalau gak gue telpon nyokap loe biar jemput loe disini, mau??" tanyanya memaksa.
Kugeleng-gelengkan kepalaku menolak.
Kamipun sampai di salon tempat Mamaku biasanya melakukan perawatan.
"Tempat ini lagi???" teriakku trauma.
"Hey cin... Udah lama gak kesini. Eike sebel deh sama kamu. By the way, mau perawatan apa nih??? Jari jemari Eike sudah gak tahan nih mau menyulap you jadi princess" kata mamas lady dengan suara khasnya yang cukup familiar.
__ADS_1
Sama sekali aku gak berani membalikkan badanku untuk melihatnya.
"Hisshhhhhh, sial si Nia. Gue gak mau nemenin nyokap malah jadi nemenin Nia nyalon" gerutuku kesal mencoba melarikan diri.
Trakkkkk...
"Mau kemana loe Sher???" teriaknya menarik tas punggungku.
"He he he..." tawaku kecut sembari membalikkan badan.
"Kamyuuuuuu????" teriak mamas lady frustasi.
"Hai...." sapaku tersenyum pahit.
"Cin... Loe panggil mbak Mia kesini!!!" pinta Nia.
Sebentar kemudian datanglah sosok wanita tinggi, putih, cantik dengan balutan hijabnya yang senada dengan gaun hijau toska bermotif bunga menambah keanggunan dan kecantikannya.
"Nia sayang gimana kabar kamu??" tanyanya lembut dan mencium pipi Nia.
"Baik kak. Oh iya ini Sherin. Kakak tau kan harus apa" kata Nia membuatku bingung.
"Beres. Ternyata benar ya, kamu sangat cantik dan imut. Ikut kakak!!" katanya lembut kemudian menggandeng tanganku ke sebuah kamar yang tertutup.
Aku menoleh kebelakang mencoba meminta Nia menghentikan ini semua. Nia hanya tersenyum dan memintaku untuk relax.
Sejaman aku harus mengahadapi siksaan demi siksaan. Bagaimana tidak, mata, muka, rambut, tangan, kaki semuanya dipermak udah kayak jahitan.
"Kenapa banyak wanita yang suka nyalon kalau rasanya sakit dan capeknya minta ampun???" gumamku lesu.
Kukira penderitaan ini akan berakhir ternyata tidak. Kak Mia memberiku heels yang tingginya 5cm.
"Kak, bisa tidak aku pakai sandal jepit saja??" tanyaku frustasi melihat heels itu.
"Ha ha ha. Sherin kamu itu benar-benar lucu. Mana ada orang pakai gaun cantik dan elegan bersandal jepit???" tawa kak Mia heran.
"Tapi itu menakutkan kak" keluhku sembari menunjuk heels berwarna merah marun yang terlihat sangat cantik jika orang lain yang memakainya.
"Whattt?? Ini gak terlalu tinggi sayang. Coba dulu!!! Sepatu ini pemberian Teman dekatmu. Jadi jangan kecewakan dia!!" pintanya lembut tapi memaksa.
"Woahhhh. Sungguh cantik. Lihatlah, kamu terlihat sangat cantik dan benar-benar berbeda" katanya mengagumi perubahanku.
Akupun berjalan ke depan cermin. Benar saja. Aku sungguh terlihat berbeda sampai-sampai aku tak mengenali diriku sendiri. Ternyata make up bisa seajaib ini. Riasan wajahku terlihat sangat natural dan glowing.
Dengan balutan dress berwarna merah marun dan dipadukan dengan hijab yang senada serta heels yang selaras membuat mata semua wanita yang aku lewati memandang takjub dan terkesima.
Bak model yang berjalan di catwalk, semua pasang mata tertuju ke arahku dan itu membuatku malu. Segera aku berlari ke arah temanku Nia yang duduk di sofa sudut karena tak mau mereka terus memandangiku berlama-lama.
Tanpa kusadari, aku masih memakai heels tinggi ini.
BRUKKK.....
Astaga betapa malunya aku jatuh karena heels ini.
"Sherinnn.... Kau memalukan" teriakku kesal sendiri. Dengan wajah menahan malu. Aku bangun dibantu kak Mia dan Nia.
"Sher, kamu gak pa pa??" tanya Nia dan kak Mia cemas.
"Gak pa pa cuma sakit sedikit" kataku tak mau membuat mereka khawatir.
Akupun dipapah menuju sofa yang ada dipojok ruangan ini. Dengan telaten kak Mia mengurut kakiku yang terkilir. Kututupi wajahku karena malu. Rasanya ingin segera lari sejauh-jauhnya dari tempat ini.
Drrrtttt... drrrtttt...
"Bentar Sher, gue angkat telpon dulu" kata Nia meninggalkanku tak jauh.
"Agak molor dikit. Cerewet, bawel amat sih. Disini lagi ada masalah" teriak Nia mengumpat seseorang.
Ternyata niapun sudah berbalut dress selutut berwarna pink. Nia terlihat sangat cantik dengan stylenya sendiri.
"Sudah enakan Sher??" tanya kak Mia lembut.
__ADS_1
"Sudah kak. Makasih banyak" kataku sopan.
"Kalau gitu kakak kesana dulu. Kalau pakai heels jangan lari ya!!" goda kak Mia mengerlingkan matanya.
"Ayo Sher. Kita sudah ditunggu" ajak Nia lalu menggandeng tanganku.
"Kemana???" tanyaku penasaran.
"Udah ikut saja!!! Gak usah cerewet" pekik Nia kesal.
Niapun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Malam ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Sepanjang perjalanan yang kami lewati tak henti-hentinya ada kembang api begitu indah menghiasi langit malam tak berbintang ini. Mungkin sedang ada perayaan disuatu tempat.
"Memang indah sih tapi boros banget. Perayaan apaan sih sampai harus membakar kembang api segitu banyaknya. Dasar orang kaya sukanya menghamburkan uang. Mending dah tu uangnya dikasih panti asuhan biar gak mubazir" gerutuku kesal.
Nia yang fokus mengemudi beralih menatapku heran sambil mengernyitkan dahinya.
"Emang loe gak seneng apa Sher liat kembang api itu??"
"Seneng sih tapi cuma sedikit. Gue lebih seneng kalau tu duit disumbangin buat orang gak mampu" jawabku.
"Lihat noh anak kecil ama bapak ibunya ke jalan cuma buat liat kembang api. Loe liat mereka tuh, senengnya bukan main kan. Berarti gak mubazir tu orang kaya nyalain segitu banyaknya kembang api" katanya membela orang yang sudah nyalain kembang api.
Aku hanya merasa heran dengan sikap Nia hari ini. Seperti ada yang dia sembunyikan.
"Apa hanya perasaanku saja ya??" tanyaku sendiri merasa ada yang tak biasa.
Sampailah kami di hotel yang aku tak tau ini dimana. Tempat ini sungguh tenang. Berbeda dari hotel-hotel di kota yang begitu ramai. Terdengar desiran ombak tak jauh dari penginapan ini.
"Ni ada acara apaan sih???" tanyaku semakin heran kenapa Nia mengajakku.
Citttttttt..... Duarrrrrrr....
"Liat Sher. Romantis banget ni orang" kata nia terkagum melihat kembang api bertuliskan I Love You.
"Romantis dari mana coba. Yang ada malu maluin. Norak banget tu orang" kataku ketus gak tertarik sama sekali dengan kembang api itu.
"Dasar loe Sher gak ada anggun anggunnya. Hufffttt.." sahut Nia kesal.
Citttttttt Duarrrrr...
"Will you marry me... Ohhhhh My God???" teriak Nia mengejutkanku.
"Apaan sih ni, kaget gue???"
"Lihat Sher!!! Lihat!!! Baper abis gue kalau punya cowok kayak ni orang. Hmmmm.... Lihat dia nembak bukan ngajak nikah cewek dengan begitu romantisnya mmmm... So sweet" kata Nia terkagum kagum bahkan tak berkedip melihat kembang api itu.
Sejenak Akupun sebenarnya terpesona dan terkesima menyaksikan pemandangan langit malam ini yang bertaburkan warna warni kembang api. Pengakuan orang ini memang norak tapi semua orang punya caranya sendiri sendiri.
"MasyaAllah indahnya" pandangan mataku tertuju pada kembang api menari dengan indah di angkasa.
Karena takjub Akupun tak menyadari kepergian Nia.
"Nia... Nia... Kamu dimana??" panggilku bingung.
Glakkkk.... seketika semua lampu di sekitarku mati bahkan tak ada lagi kembang api di langit. Gelap benar-benar gelap bahkan ini terlalu sunyi untuk sebuah hotel.
"Nia, jangan bercanda deh. Nia!!!" panggilku lantang.
"Nia... Jangan main main dah. Nia" teriakku keras memecah keheningan malam. Tak ada sahutan sama sekali.
Tiba-tiba kulihat sosok anak kecil mendekat ke arahku sambil tersenyum. Tanpa berkata-kata dia memberiku setangkai bunga Peony merah. Kemudian datang lagi seorang anak kecil memberiku bunga Peony putih begitu seterusnya sampai begitu banyaknya bunga di tanganku.
"Apa ini??? Pengakuankah??? Atau aku beralih profesi menjadi penjual bunga??? Mau diapakan bunga ini???" kataku bingung.
Sesekali mataku beralih pandang ke setiap sudut gelap di sekitarku berharap Nia segera kembali.
"Sherinnn" panggil seseorang tepat didepanku hanya berjarak beberapa meter saja. Tapi sama sekali aku tak bisa melihat wajahnya.
"Siapa dia???" mataku tertuju pada sosoknya. Badan tegap, tinggi, berjas sangat formal mendekatiku. Suara itu benar-benar familiar sekali ditelingaku.
Dia semakin dekat dan lebih dekat lagi. Jantungku berdegup begitu kencang. Badan ini mulai gemetar tapi aku hanya berdiri mematung tak bisa bergerak sama sekali.
__ADS_1
Sosoknya semakin dekat, sungguh sangat dekat. Bagaimana bisa dia???
"Kak Rian???" kataku terbata-bata tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.