Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Perang Keluarga


__ADS_3

Malam yang sangat indah, bisa melihat kedua orang yang kusayangi mendorong mobil bersama. Tingkah mereka sangat lucu dan menggemaskan. Jangan panggil namaku Sherin jika aku tak bisa membuat mereka bersatu dan menjebloskan orang yang berkonspirasi dalam kematian mamaku.


Sangat tak pantas baginya menyandang marga nenekku. Bahkan untuk menyebutnya sebagai kakak dari mamaku itupun tak pantas.


"Nayala, waktu bersenang-senangmu sudah habis. Lihatlah hukuman apa yang pantas untukmu" ancamku penuh kemarahan.


"Sherinnnnnnnnnnnn.... Aku tak sanggup. Lelahnya..... Hyaaa.... turun kau!!!! Hahhhh.... aku hampir mati kelelahan" keluh bibi terkadang bersuara lemah lembut terkadang bisa berteriak keras.


"Fang Yue, kau baik baik saja??? Mana yang sakit??? Kita istirahat dulu disini. Sherin... apa kau tak mau turun??" kata Papa dengan suara lembut tapi sangat dingin dan penuh aura mengancam.


BLAMMMM.... Pintu mobil kututup dengan keras. Kenapa mengingat kembaran mamaku membuat perasaanku cepat berubah. Kesal dan diliputi amarah yang meledak-ledak seakan membakar seluruh tubuh dan pikiranku.


"Jaga bibimu sebentar, Mamamu telpon" pinta Papa segera berjalan ketempat lebih sepi tak jauh dari pandangan kami.


"Sherin.... Atur emosimu.... Huhhhh.... Hahhhhh.... Tenang.... Tenang.... rilexxx...." perlahan jiwaku sudah terkontrol lagi dengan baik.


"Bibi, ini minumlah!!! Bi.... Selamat karena sudah melakukan kencan pertamamu dengan baik. Tunggulah sampai kujalankan rencanaku. Kau bisa seharian berduaan dengan Papa" bisikku sangat pelan.


"Ha ha ha.... Kau sebut ini kencan. Apa kau sudah gila ha.... seluruh tulangku hampir kau buat remuk bahkan kakiku yang indah terasa bengkak hiks hiks hiks.... Sherin tak bisakah kau memikirkan sesuatu yang normal saja???" umpat bibi seperti biasa. Belum sempat kujawab, Papa sudah kembali dengan kata yang begitu mengejutkan.


"Sherin... Mamamu sangat marah sekali. Bahkan emosinya sangat tidak stabil. Papa harus naik pesawat. Bisakah kau menyetir mobilmu sendiri???" kata Papa tanpa basa basi. Hanya mendengarnya saja membuat seluruh tubuhku mendidih.


"Pah.... Jika ada satu diantara kami yang hidup, Papa akan memilihku atau Mama???" tanyaku membuat rona wajah Papa seketika berubah.


"Apa maksud ucapanmu. Kenapa kau bisa berpikir seperti itu??? Sherinnn.... Apa selama ini Papa terlalu memanjakanmu. Sebaiknya kau urus mobilmu ini dan kembalilah dengan segera" kata Papa diliputi amarah juga.


"Segera kirim helikopter, jemput aku!!!" perintah Papa melalui sambungan telepon.


"Jika Papa pergi maka kuanggap Papa lebih memilih dia. Jangan menyesal akan keputusan yang telah kau pilih" ancamku menahan tangis dan rasa sesak dalam dada yang begitu menyakitkan.


PLAKKK.... Tamparan begitu keras pertama kali kurasakan dari tangan hangat Ayah kandungku.


"Angga...." teriak bibi spontan langsung memelukku hangat seperti seorang ibu.


"Ommmm....." teriak kak Rey dengan wajah marah mendekat kearah kami.


"Sherin..... Maafkan Papa. Papa tak bermaksud menamparmu. Tapi kali ini kau sudah keterlaluan" jelas Papa yang telah dibutakan wanita jahat itu.


"Sherinnn.... nak sudahlah. Jangan bertengkar lagi dengan Papamu" cegah bibi.


"Sayank... hmmm...." cegah kak Rey menggelengkan kepala memberi isyarat untuk tak melawan lagi.


Perlahan dengan kaki gemetar dan berusaha tegar aku berjalan mendekat ke arah Papa.


"Pah... Apa Sherin pernah merepotkan Papa??? Bukankah selama kita bertemu, Hanya wanita itu yang selalu Papa perhatikan. Apa Papa pernah menghabiskan waktu dengan Sherin. Hanya berdua tanpa wanita itu. Apakah sebanding dengan kau menukar pertalian darah dengan dirinya" kataku dengan suara bergetar.


"Cukup.... Papa tak mau lagi mendengar kau merendahkan Mamamu" jelas Papa masih saja membela wanita itu.


"Baiklah.... Fine.... Jika Sherin katakan kalau dia bukan mamaku akankah Papa percaya???" jeritku penuh amarah sudah tak bisa dikontrol lagi.


"Sherin jaga ucapanmu!!!" ancam Papa hampir saja menamparku kembali tapi langsung dihadang kak Rey.


"Angga... Omm...." teriak bibi dan kak Rey bersamaan.


Malam yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan tanpa adanya dia, berubah seketika menjadi prahara yang tak pernah disangka-sangka. Manusia hanya bisa berencana tapi semua pada akhirnya mengikuti garis dari yang kuasa.


"Angga... Kau sudah gila.... Dia ini Putri Kandungmu. Pernahkah kau memahaminya??? Tak perlu kujelaskan, jika kau memang ayahnya maka kau akan tau siapa yang harus dipercaya dan siapa yang hanya memanfaatkanmu sampai tak bersisa. Sherin naik mobil!!!" kata bibi menarik tanganku masuk ke dalam mobil Aston biruku.


"Bibi, aku harus menyelesaikan ini. Kumohon.... Dia sudah mulai melakukan trik kotornya. Kemungkinan tak ada lagi kesempatan untuk menjelaskan semua disana. Bibi...." pintaku sedih segera mengambil berkas bukti kejahatan wanita itu.


"Selesaikan apa yang harus kau selesaikan. Jangan takut, aku selalu ada di belakangmu sayang" sekali lagi hanya bibi Fang yang mengerti diriku dengan baik. Dia memelukku sangat lembut dan penuh kasih sayang seperti dulu.


Flashback


"Tante, kita mau kemana???" tanyaku pada teman bibiku yang tinggal di Jerman. Kebetulan nenek mengajakku ke Jerman saat ada waktu senggang.


Tak disangka itulah terakhir kalinya nenek mengajakku jalan-jalan sebelum beliau meninggal. Nenek sengaja mengenalkanku pada bibi agar jika suatu saat terjadi hal yang tak diinginkan bibi bisa menjagaku sampai dewasa.


"Ke rumah teman Tante. Sebentar ya, Tante masih ada perlu dengannya. Urusan pekerjaan" kata Tante yang bertugas menjagaku hari itu karena bibi sedang membicarakan bisnis dengan nenek. Tapi ternyata semua hanya kebohongan yang dibuat nenek untuk menutupi sakit yang beliau derita.


"Hallo Fang Yue, maaf terlambat, Mrs. Sunjaya menitipkan gadis kecil ini padaku. Bisa kita bicara berdua???" kata Tante yang masih menganggapku seperti anak kecil biasa.


"Anak ini sangat manis... ayo masuk!!!" pinta bibi yang bernama Fang Yue.


"Kenapa hatiku merasa sangat dekat dengan bibi itu. Apakah kami punya hubungan darah??? Anak laki-laki disampingnya sangat imut. Lihatlah aku akan menggodanya" kataku berpikiran nakal.


"Long, ajak dia mainan. Kau tak boleh nakal padanya oke. Mama ada perlu dengan Tante Yosh" pinta bibi itu lembut. Jika mamaku masih hidup pasti Mama lebih cantik dan baik dari bibi ini.


"Ayo main" ajak anak bernama Long itu.


"Hn" jawabku tersenyum ceria karena banyak hal yang bisa kulakukan untuk mengerjainya.


"Hyaaa.... namamu Long kan??? Apa kau jago berkelahi??? Bagaimana kalau kita bertarung 1 lawan 1" tantangku membuat anak laki-laki itu ciut. Kutaksir umurnya sekitar 10 tahun sedangkan aku baru berusia 4 tahun.


"Kata Mama tak boleh berkelahi. Apalagi kau anak perempuan tak baik" katanya mencoba menasehati.


Tlakkk... kulemparkan batu kerikil tepat mengenai kepalanya.


"Hyaaa... kenapa kau melempariku dengan batu" teriak Long marah.


"Sudah kubilang berkelahi ya berkelahi. Apa kau takut denganku???" tantangku kembali.


"Kau...." teriak Long marah.


"Tidak kena.... Lihatlah hanya badanmu yang besar saja tapi kau sama sekali tak kuat sepertiku. Kata nenek kalau mau hidup kau harus kuat. Tangkap aku kalau bisa" kataku berlari menuju semak semak.


"Heyyy jangan kesana, kata Mama disana ada singa liar yang lepas. Kembalilah!!!" teriak Long tapi tak kuhiraukan.


"Horrrghhh.... horghhhhh... kucing kecil, kemarilah!!! Mami disini, sini mami peluk... horgggghhhh...." kataku menangkap dua kucing kecil berjenggot itu.


"Anak pintar!!! Ahhhhh geli geli... Haumm horghhhh... Hyaaa kenapa kalian menggonggong seharusnya mengeong.... meowww... meowwww... Lihatlah kalian pasti lapar... Momo Mimi sini, makanan kalian sudah siap. Aku mengambil apel yang paling merah pasti rasanya sangat manis. Makanlah!!! horghhhhh...." kataku bermain dan berguling-guling dengan dua kucing kecil berjenggot itu.


"Dimana Mama kalian???" tanyaku lalu salah satu dari mereka berlari ke semak belukar yang terletak tak jauh dari sana. Kuikuti mereka.


"Woahhhh besarnya Mama kalian. Tapi.... Mama kalian sudah mati hiks hiks hiks.... Kalian sama sepertiku. Sudah tak ada Mama dan Papa. Jangan sedih... anggap saja aku Mama kalian...." kataku menangis sedih memeluk Mimi dan Momo.


"Sayang kau dimana??? Sherinnn... Long kau tinggalkan dimana adikmu???" kata bibi berteriak marah kepada anak laki-lakinya.


"Bibi.... aku disini. Lihatlah aku menemukan dua kucing kecil berjenggot. Lucu kan???" kataku senang berlari kearah Mama anak laki-laki itu.


"Astaga.... Anak kecil ini memang anak yang istimewa. Pantas saja Sunjaya menitipkan dia padaku. Sayang itu bukan kucing tapi itu singa. Kembalikan sayang, jangan main main mereka berbahaya" pinta bibi itu lembut.


"Tidak mau. Bibi, mamanya sudah mati hiks hiks mereka sendirian di dunia ini sama sepertiku tidak ada Mama dan Papa. Bibi biarkan aku merawatnya ya, aku akan jadi Mama yang baik untuk mereka" kataku memohon.


"Mah anak ini sudah gila, kenapa dia merawat anak singa??" teriak Long.


"Long, kau tak boleh seperti itu. Mulai sekarang dia adikmu. Kau harus menjaganya oke. Janji pada Mama!!!" kata bibi itu membuatku tersenyum.


"Baiklah Long janji"


"Sayang kau ingin merawatnya??? Baiklah kita bawa pulang sekarang. Jangan bersedih lagi. Mulai sekarang kau boleh menganggap bibi sebagai Mama yang akan melindungi dan menjagamu. Oh ya... kau juga boleh menganggap bibi temanmu. Dan mulai sekarang anak bibi ini kakakmu. Sini bibi peluk. Anak pintar.... Kau sungguh manis dan imut. Kau akan mendapatkan kasih sayang yang seharusnya memang kau dapatkan. Anak baik...." kata bibi Fang tersenyum memberikan pelukan hangat seorang Mama untuk pertama kalinya dalam hidupku.


"Kata nenek aku imut seperti Mama... kalau manis berarti seperti bibi..."


"Anak pintar.... Manis sekali mulutmu sayang...."


"Bibi apa kak Long marah padaku???"


"Tidak.... Kak Long dia pasti jadi kakak yang baik buatmu... "


"Aku tak mau jadi kakaknya. Bagaimana kalau sudah besar kau menjadi istriku saja"


"Long...."


"Aku tak mau jadi istrimu. Kau jelek dan bau"

__ADS_1


"Kalau aku mandi kau akan tau ketampanan ku gadis kecil"


"Tidak tertarik..."


"Dasar kau gadis bodoh"


"Aku bodoh itu jika aku mau menikah denganmu"


"Mama...."


"Sudah sudah jangan bertengkar lagi... Sherin selama lima hari ini kamu tinggal dengan bibi dan kak Long oke"


"Hnn... Cupp... aku sayang bibi"


"Heyy gadis bodoh kenapa kau mencium mamaku bukannya aku"


"No.... Sudah kubilang kau bukan tipeku ha ha ha.... Bibi kak Long menggangguku...."


"Long...."


"Mama....."


"Bibi....."


"Ha ha ha....."


FLASHBACK OFF


"Pa, sebelum kau kembali lihatlah ini!!!" kataku memberi beberapa bukti kejahatan wanita itu.


Papa tak menampakkan rasa keterkejutannya. Tapi dari raut wajahnya terlihat jelas kebimbangan yang menyelimuti pikirannya.


"Darimana kau dapatkan ini semua???" teriak Papa marah.


"Kenapa??? Papa ingin marah padaku lagi karena aku menyelidikinya secara diam diam. Apa Papa akan bersikeras membelanya??" kataku ketus.


"Sayank jangan katakan itu" kata kak Rey berusaha meredam amarah kami.


"Sampai sejauh mana kau menyelidikinya??? Sherin jawab Papa" teriak Papa kesal.


"Sejauh yang aku bisa. Jika Papa masih mencintai Mama maka Papa akan berpikir lebih rasional lagi. Bukan hanya dibutakan karena cinta yang salah" ejekku.


"Sherin... Apa kau tau, Papa sudah tau kalau dia Nayala sejak dulu. Papa ingin kau mendapatkan kasih sayang seorang Mama seperti anak lainnya. Punya kedua orang tua. Haruskah kau sampai sejauh ini, haruskah kau membalaskan dendam Nayla" jelas Papa membuat kami terkejut. Tak kusangka demi membahagiakan diriku Papa melakukan hal yang begitu bodoh. Dengan sengaja Papa menipuku mentah mentah.


"Hahhhhh..... Sulit dipercaya. Ternyata papaku sendiri bersekongkol dengan pembunuh mamaku. Arghhhhhh...... Meskipun Papa melindunginya tapi setiap kejahatan pasti akan ada balasannya. Aku anak dari Nayla Wiryoatmadja dengan lantang akan menegakkan keadilan untuk almarhumah mama dan nenekku" teriakku frustasi.


"Sayank tenangkan dirimu. Jangan seperti ini, kumohon. Apapun keputusanmu aku akan selalu berada dipihakmu. Sherin..." peluk kak Rey menenangkan diriku.


"Sherin... Sekarang dia adalah Mamamu, Papa sudah menikah secara resmi dengannya, dan anak yang ada dalam kandungannya adalah adikmu. Bisakah kali ini kau melepaskannya??" kata Papa memohon membuatku semakin ingin menghajarnya.


"Lupakanlah. Jangan pernah menganggapku anakmu lagi. Terima kasih karena sudah mengisi kekosongan Ayahku selama hampir setahun ini. Maaf... aku tak bisa memenuhi harapanmu. Ini kartu gold milikmu. Aku tak pernah mengambil apapun darimu, anggap saja kita tak pernah bertemu. Jangan ikut campur dalam hidupku lagi dan jangan pernah datang ke pernikahanku. Ayahku sudah mati. Kak ayo!!!" kataku segera meninggalkan Angga Prayuda dengan sikap dingin dan kakunya.


"Sayank kau tak apa???" tanya kak Rey cemas.


"Ha ha ha... lihatlah kak. Bukankah aku baik baik saja. Jangan khawatir, selama hidup, tak pernah aku tidak baik baik saja. Ayo kita kembali ke rumahmu. Bibi bisakah kau tetap pergi ke Jakarta mendampingi di pernikahan sebagai mamaku??" tanyaku tersenyum tapi hatiku sangat sakit hampir air mataku keluar tanpa dikomando.


"Sayang, jika kau mau menangis menangis lah.... Jangan selalu mencoba kuat padahal hatimu rapuh. Bukankah jika kau tersenyum seperti itu malah akan membuat kami semakin cemas???" pinta bibi sangat khawatir.


"Bibi.... Apa kau meremehkanku. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Sekitar 200 meter lagi ada pom bensin. Aku punya ide" kataku segera kembali menjadi Sherin ceria.


Kak Rey dan bibi saling tatap. Mungkin mereka masih tak percaya melihatku yang kembali normal.


"Bibi... Hyaaa bibi kenapa kau melamun???" teriakku menyadarkannya.


"Anak ini.... Bibimu belum tuli. Bicara lebih lembut, kau ini perempuan apa mau jadi perawan tua" ejek bibi mencairkan suasana.


"Jika aku jadi perawan tua maka kak Rey jadi perjaka tua. Kau sengaja menyumpahi kami berdua" ejekku tersenyum sinis.


"Apa kalian memang ditakdirkan seperti kucing dan anjing" peribahasa yang kak Rey gunakan membuat kami menatap tajam ke arahnya.


"Meong meong...." godaku.


"Ha ha ha...." tawa kami bersama.


"Sudah cepetan mobilnya bawa kesini!!!" kataku segera berlari kearah Ferrari merah yang terparkir dipinggir jalan dengan membawa selang.


BRUMMMMM... wushhhhh.... Blammm...


"Kau mau apa Mong???" tanya kak Rey penasaran.


"Tebaklah???" kataku mengujinya.


"Jangankan dirimu, aku saja yang merawatnya dari kecil sampai sekarang tidak tau jalan pemikirannya. Lebih baik kau tak ikut campur daripada berantakan semua" jelas bibi sengaja menggodaku lagi.


"Lihatlah. Tarararam..... Jreng jreng jreng.... Aku akan mentransfer hawa murni kehidupan melalui selang kecil ini. Sroootttttt..... Suurrrrrrr.... Aku hebat kan???" kataku memasukkan selang ujung selang yang terhubung ke dua mobil kedalam tangki bensin.


"Hah.... anak ini. Tak ada rotan akar pun jadi" kata bibi tersenyum senang.


"Tunggu, kau sudah punya ide ini dari tadi kan??? Sherinnnnnnnnnnnn.... Kau anak nakal. Kau sengaja menyuruhku mendorong mobil begitu jauh.... sini kau!!!" teriak bibi marah mencoba memukulku lagi.


"Bibi ampunnn... Ayolah kau juga menikmatinya kan???" ejekku segera masuk ke dalam mobil Ferrari dan melakukannya.


"Kak kau bisa berduaan dengan bibi Fang, aku akan menyetir sendiri" kataku melalui panggilan seluler.


"Hehhhh.... Tak ada yang tua yang mudapun jadi. Baiklah, kemarilah laki-laki tampan. Apa kau tak mau menggodaku... ehhh... Ahhh...." goda bibi Fang mulai bereksperimen dengan imajinasinya.


"Jangan macam macam, bibi..... aku tak bisa konsentrasi.... Bibi jangan pegang pegang...." teriak kak Rey kesal. Entah seperti apa raut wajahnya sekarang.


"Mong Mong tolong aku......." teriak kak Rey keras sekali.


"Sayang... Bibi akan menyenangkanmu.... mmmuuumuuumuuu....." goda bibi lagi.


"Bibi Fangngggggg......." teriak kak Rey sangat kesal.


Di dalam Helikopter


"Om kau memang bodoh. Membuang berlian demi kotoran. Kuharap ini terakhir kalinya kau menyakiti dia. Jika kau mau tau yang sebenarnya lakukan tes DNA dengan anak yang ada di rahim wanita kotor itu" kata-kata yang diucapkan Reynan terus saja terngiang di pikiranku.


"Nayla, maafkan aku yang telah menyakiti anak kita. Nay, jika aku tak menghentikannya maka jiwanya akan dikuasai oleh pikiran balas dendam dan balas dendam. Bukan ini yang kita harapkan. Mana ada seorang ayah yang ingin putrinya sengsara. Nayla, jika kau masih disini, jika kau masih bersama kita, dan jika saja waktu itu aku lebih berani. Maafkan aku Nayla. Maafkan Papamu, anakku....." kataku menangis mengingat yang baru saja terjadi.


"Bos kita sudah sampai" kata pengawal yang sedari tadi memperhatikanku.


"Lakukan tes DNA terhadap anak yang dikandung istriku. Hubungi dokter Claudia, lakukan secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan istriku. Hasilnya harus ada di mejaku dalam 24 jam. Kau mengerti!!!" perintahku secara rahasia.


"Mari kita buktikan, apa perasaan ini benar atau salah" batinku mencoba menerka-nerka.


Jalan Tol


"Yeyyyyyy.... mari tambah kecepatan" teriakku senang melajukan Ferrari merah milik bibi.


"Mong Mong kau sudah gila, kurangi kecepatanmu...." teriak kak Rey yang selalu terhubung denganku melalui telepon mobil.


"Kak... ini sangat seru.... coba saja kejar aku yippiiiiiii...... yo yoooooo...." teriakku semakin menambah kecepatan. Ada sensasi tersendiri melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Seakan beban yang ada didadaku hilang bersama angin malam yang begitu dingin.


"Percuma, diamkan saja dia. Semakin kau melarangnya, dia akan semakin nekat. Silahkan kau pikirkan bagaimana perasaannya saat ini. Jika aku yang ada di posisinya saat itu, mungkin sudah kuhajar sampai mati ayah tak berguna seperti dia" jelas bibi masih terdengar ditelingaku.


"Kakak aku akan mengajakmu ke tempat favoritku. Jadi sebaiknya kau mengejarku....Apa kau akan terus berjalan seperti kura kura" teriakku tak sabar.


Hampir 8 jam kami mengemudi memecah keheningan malam. Akhirnya sampai juga ditempat ini.


"Sayank... ini" katanya terharu.


"Bibi, kakak ayo ikut!!!" kataku segera menarik mereka masuk kedalam area pemakaman.


"Assalamu'alaikum, nenek Mama. Sherin datang. Lihatlah siapa kali ini yang kubawa" kataku semangat penuh senyum ceria.

__ADS_1


"Perkenalkan ini bibi Fang. Dia yang sudah menjagaku selama ini. Ma.... Bibi cantik kan??? lihatlah meskipun hidupnya habis di laboratorium tapi dia benar-benar seperti Dewi yang baik dan cantik sepertimu. Mama kau mau aku membawakan kue, bunga atau doa. Pilihlah???" kataku masih dengan senyum mengembang.


"Sayank, jika Mamamu bangun apa kau tak takut??? Jangan ngomong sembarangan disini. Lihatlah sekarang masih jam 3 malam. Aku takut teriakanmu membangunkan penghuni lainnya" bisik kak Rey sengaja menggoda atau benar-benar ketakutan.


"Diamlah kak, kuberi tau disamping makam mamaku ini adalah makam perawan yang haus lelaki perjaka. Dia mati karena keseleo kak" kataku berbisik bisik pelan.


"Keseleo, kok bisa???" tanyanya benar-benar penasaran.


"Hnn. Gara gara keseleo waktu nyebrang jalan akhirnya ditabrak truk. Puppfftttt...." kataku usil.


"Diamlah... Nggak lucu tau" sanggahnya.


"Sherinnn kau bisa tutup mulutmu tidak. Ini malam Jumat sayang. Kau benar-benar membuat bibimu jantungan" kata bibi sangat pelan tak berani berteriak.


"Oke oke... kita sapa Mama sama nenek saja kalau gitu. Ma,, Nek,, lihatlah laki laki ini tampan kan??? Dia calon menantu Mama loh dan cucu menantu nenek. Jangan lupa untuk menyapanya ya sebelum ijab qobul. Datang aja ke mimpinya oke" kataku asal.


"Sayank,,, kau sengaja membuatku mati ketakutan???" kata kak Rey melirik ke samping kanan kiri.


"Tenang saja. Mamaku cantik kok apalagi nenek. Sapalah mereka kak!!" pintaku lembut.


"Hallo, Mama nenek.... saya Reynan, kapten dikesatuanku. Anak kedua bukan anak pertama dari satu ayah dan satu ibu. Hobiku berdoa, terutama mendoakan putrimu agar kembali normal. Mama nenek tolong jangan datangi aku, kumohon. Cukup putrimu saja yang menghantuiku he he... salam dariku cucu menantu dan menantumu. Hormat grak....!!!" kata kak Rey sengaja meminta restu atau memperkenalkan dirinya dengan bangga.


"Ckckck.... sekarang dia sudah ketularan kegilaanmu Sher.... Kau harus segera membuat obatnya" sahut bibi.


"Bi, kau mau menyapa tidak???" tanyaku merasa seseorang sedang mengamati kami. Bulu kudukku merinding apalagi hawa di area pemakaman ini terlihat sangat horor. Akankah ada yang bangun dan mengagetkan kami???


"Nayla, nenek Wiryo aku Fang Yue datang menyapa kalian. Lihatlah, anakmu sudah dewasa. Dua hari ke depan dia sudah bukan tanggung jawabku lagi. Kalian bisa menghantui laki-laki ini jika Sherin menangis. Nenek aku sudah memenuhi janjiku terhadapmu. Sekian laporanku" jelas bibi tak kalah aneh.


KREIKKKKK.... SRAKKK... SRAKKK...


"Ssutttt.... Kak, bibi, Kalian dengarkan???" kataku pelan.


"Diamlah akan aku periksa" kata kak Rey yakin dengan berani.


"Kak, hati hati. Di sebelah sana baru aja ada yang meninggal loh.... Jangan mengganggunya... Apa kau mendengarnya kak???" kataku sangat pelan.


Srekkkk.... SRAKKK.... Wushhhhh.....


"Tenanglah... Biasanya istriku lebih menakutkan daripada hantu" ejekknya.


"Hisshhhhhh.... Dasar kak Rey" kataku kesal.


"Sherin kau mau apa, jangan aneh aneh. Ini pekuburan" cegah bibi.


"Mama nenek kami pulang dulu" pamitku dan berbalik kearah bunyi suara itu.


"Sherinnnnnnnnnnnn..." panggil kak Rey pelan.


"Hyaaa.... kalau kau mau menakuti kami maka kalian salah karena kami bosnya hantu. Keluarlah.... Lihat apa yang akan kulakukan jika kau menakuti kami lagi" teriakku marah.


KIAAKK... KIAKKK...


"Apa aku mendapat sambutan???"


"Apa tadi itu bi???"


"Ha ha ha... kalian jangan mengerjai orang tua"


KIAKK.... KIAKKK.... KIAKKK....


"Matilah kau, lihatlah yang punya sudah marah"


"Bibi...."


"Anak ini.... Ayo cepat keluar!!!" kata bibi segera menarik tanganku.


"Bibi kau harus menungguku juga..." teriak kak Rey berjalan dibelakang mengikuti kami sesekali menoleh kebelakang.


"Hah hah hah.... Apa kau sudah gila menantang mereka???" bibi begitu marah padahal menurutku tadi orang yang sengaja tidur di kuburan.


"Baiklah sekarang kita pulang dan istirahat dirumahku" kata kak Rey membuka pintu mobil.


"Sayank, kau mencari apa???" tanya kak Rey cemas.


Kurogoh sakuku berkali-kali bahkan semua sudah kucari tapi tak ada. Bagaimana ini???


"Sherinnn apa kau melupakan sesuatu lagi???" tanya bibi lebih khawatir.


"Kakak kunci mobilnya.... tidak ada" kataku tertunduk lesu.


"Apa maksudmu kau meninggalkannya disana???" tanyanya dengan raut ketakutan.


"Kau benar-benar ceroboh. Reynan cepat ambil!!!" perintah bibi Fang tegas.


"Aku???" tanyanya menunjuk dirinya sendiri dengan perasaan was was.


"Iya... Siapa lagi kalau bukan kau. Masak aku" elak bibi.


"Sayank..."


"Apa lagi, sudah sana. Sherin disini denganku. Jangan bilang kau takut" kata bibi kesal.


"Baiklah.... Mong Mong doakan suamimu kembali dengan selamat ya!!!" kata kak Rey sekali lagi masuk kedalam pekuburan. Sesekali dia menoleh kearahku dan berbalik lagi.


"Sudah sana.... semangat!!! Ingat jangan ganggu yang disamping makam Mama..." kataku mengarahkan tanganku berusaha menyemangatinya.


"Kau menyemangati atau mau menakutiku??" jawab kak Rey ternyata dia lucu saat ketakutan.


"Hati hati kak... lihat bawah juga takutnya kau bakal menginjak sesuatu" kataku sekali lagi asal mengerjainya saja.


"Diamlah... lebih baik tutup mulut manismu itu" katanya segera masuk kali ini.


"Oke oke"


"Kalian mau syuting adegan perpisahan di kuburan atau mengambil kunci mobil???" kata bibi ketus.


"Bi apa kau tak merasa dibelakangmu ada sesuatu???" godaku.


"Apa... jangan menakutiku anak nakal" kata bibi mendekat kearahku.


"Kak Reyyyyyyyy......." teriakku keras.


"Ada apa anak nakal.... Kenapa kau berteriak..." kata bibi sekarang benar-benar ketakutan.


"Kak Reyyyyyyyy...." teriakku sekali lagi.


"Tutup mulutmu.... Jangan berteriak lagi...."


"Bibiiii....."


"Apa???"


"Bibi...."


"Sherinnn kenapa"


"Kakak..."


"Jangan menakuti kami"


"Kakak.... itu...." kataku menunjuk kesamping. Mereka memandang kearah yang sama dengan yang kutunjukkan.


"Apa... Apa... jangan buat kami ketakutan"


"Itu kuncinya... hiks hiks... ternyata kunci mobilnya ada di pintu samping mobil"

__ADS_1


"Sherinnnnnnnnnnnn..... Astaga jantungku....." Bibi mengelus dadanya berkali-kali.


"Mong Mong.... Kali ini kau harus kuapakan??"


__ADS_2