
Sherin Wiryoatmadja
Sama sekali aku bingung dengan apa yang harus kuperbuat kepada mereka semua. Hanya aku yang masih sadar. Bagaimana bisa mereka yang menyelamatkanku terkapar bersimbah darah semua.
Kucari benda kecil yang dulu kuanggap sama sekali tidak berguna tapi disaat genting seperti ini malah aku tidak bisa menemukannya. Aku sungguh menyesal.
"Hp... Hp... dimana....." teriakku kesal mencari disetiap saku celana mereka.
"Aisshhhh..... Sial..... aku lupa kalau mereka takkan membawa apapun jika dalam misi. Harrrgggghhhh...." teriakku semakin kesal.
"Sherin, kau benar-benar tidak berguna. Bagaimana bisa kau menolak membawa ponselmu. Arghhhhhh apa yang harus kulakukan pada mereka. Mereka harus segera ditolong" gumamku kesal pada diriku sendiri.
Sebelum Usiaku genap 17 tahun maka sama sekali aku tak diperbolehkan mengemudi baik secara pribadi maupun didalam timku.
"Tak ada pilihan lain, setidaknya masih ada mobil kak Rey. Kami harus keluar dari hutan ini sebelum malam. Sherin, kau pasti bisa mengemudi dengan baik. Ingatlah Papa pernah mengajarimu sesekali. Nyawa mereka ada ditanganmu" kataku segera mencari cara menghentikan pendarahan sementara. Untungnya aku masih membawa berbagai peralatan medis ku. Setidaknya ini bisa membantu sebelum sampai dirumah sakit terdekat.
"Sherin, kau harus mencobanya. Kau pernah melakukannya. Kau pasti bisa Sherin!!!" kataku menyemangati diri sendiri setelah melakukan pertolongan pertama yang kubisa kepada mereka.
Kuseret mereka berlima kedalam mobil. Tak mudah bagi tubuh mungil ku membawa mereka sampai di mobil.
"Tinggal satu. Si brengsek itu. Haruskah aku membawanya?? Ahhh tidak sherin, jangan dibawa. Tinggalkan saja dia disini biar di makan serigala lapar. Itu hukuman yang pantas buat dia" tanyaku sendiri dan kujawab sendiri.
Akhirnya bagaimanapun dia manusia dan masih hidup pula. Tak tega rasanya meninggalkan dia disini sendiri dengan luka yang dibuat olehku. Setidaknya aku membiarkan dia menerima pengobatan juga. Kuikat tangan dan kakinya ditambah seluruh badannya dengan tambang.
"Sudah Sherin. Kerja bagus!!!" kataku senang sudah mengikatnya kencang dan kutaruh dia di kursi paling belakang.
Ku starter mobil punya kak Rey. Dengan gugup dan tangan gemetar. Aku melihat dan menghafalkan mana rem, gas dan kopling.
"Oh ya Allah. Jika kau menghendaki kami hidup maka kami akan selamat. Tapi jika Engkau berkehendak lain maka biarkan kami berenam saja yang hidup. Kuserahkan dengan ikhlas satu jiwa yang duduk paling belakang saja yang kau ambil. Aku benar-benar ikhlas ya Allah" doaku penuh harap agar tak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Kujalankan mobil ini perlahan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Apa yang salah dengan mobil ini?? Haaaa. Kenapa jalannya terseok-seok. Papa Mama mana remnya. Astaga ada pohon bagaimana ini??" teriakku lepas kendali diturunan hampir saja menabrak pohon.
"Syukurlah..... Masih selamat. Hahh.... Leganya. Maaf maaf aku tidak sengaja Untung kalian tak melihatnya. Bagaimana kalau kalian sadar bisa-bisa kena serangan jantung. Hehhhhh.... sekali lagi maaf.... Fokus Sherin ayolah kamu bisa setidaknya sampai di perkampungan" kataku dengan tangan gemetar hebat masih pegang kemudi.
Kujalankan kembali mobil ini meskipun dengan kura-kura masih cepet jalannya kura-kura tapi tak apalah asal selamat sampai rumah sakit. Kuinjak rem mendadak karena takut melihat tanjakan yang begitu tinggi.
Citttttttt.... Duggg....
Kepala mereka saling terbentur. Malah kak Rian sampai jungkir balik mana kepala mana kaki entahlah..... Rasanya pengen nangis dan juga ketawa barengan.
"Kenapa jalanan ini harus menanjak???? Ehhh.... tinggi sekali.... mobil aku pasrahkan semua padamu oke.... bantulah aku.... Jika kau membantuku akan kubelikan oli mesin terbaik dan mahal oke...." gumamku merasa sangat frustasi.
"Ahhhhhh Papa Mama bagaimana ini hiks hiks, Kalau sampai tengah mundur gimana???" pikiranku sudah yang tidak tidak.
Aku masukkan langsung ke gigi satu.
"Hahhhh..... ayo Sherinnn......"
"Mobil jangan ngambek ya!!! Jalan pelan pelan gak pa pa yang penting kita sampai atas. Aku menyayangimu mobil....." kataku sudah stress sampai bicara sama ni mobil.
Ngek ngek ngek ngek...
"Kenapa??? Tolonglah jangan mundur kebelakang, ayo kamu bisa mobil, ayo kamu bisa!!! kita sama sama berjuang ayo he he hehhhh" kataku tersenyum kecut.
"Bagus. Kerja bagus mobil. Aku sayang padamu muach muach" Kucium stang kemudi tak menyadari jalan turunan kulepas pedal rem.
"Oh astaga Sherin kau bodoh huaaaaaaaa. Injak rem Sherin!!" jeritku sambil mencari pedal rem.
__ADS_1
Kuhela nafas panjang. Kuatur nafasku dan degup jantungku, "Hahhhhh. Kenapa begitu berat ujianku. Kenapa mereka pingsan berjamaah. Kenapa jalan ini naik dan turun tak bisakah hanya lurus saja?? Apakah bisa salah satu dari mereka sadar dan mengemudikan kuda besi ini. Hiks hiks hiks Papa Sherin mau pulang!!" tangisku merasa tak mampu mengemudi lagi.
Tiba-tiba ada sesuatu yang mengelus kepalaku.
"Haaaaaaa. Setannn..... Tangan berdarah......" jeritku tak sadar kalau itu tangan kak Rey.
"Sherin teriakanmu sungguh merdu sampai gendang telingaku mau copot rasanya" goda kak Rey dengan senyum pucatnya.
"Astaga kak Rey. Hahhhh. Syukurlah. Sekarang tolong kemudikan mobilmu!!! Aku menyerah" kataku lemas.
"Kau saja yang mengemudi. Aku sudah merasakannya tadi. Kau benar-benar pengemudi handal sampai pohonpun tunduk padamu ha ha ah ah aww aww" ejeknya tertawa senang tapi langsung meringis kesakitan.
Dengan wajah kesal, kulirik dia tajam.
"Kau benar-benar unik Mong. Sudah lajukan saja kakak akan mengajarimu" katanya membuatku sedikit kesal. Biar bagaimanapun akulah yang masih sehat diantara mereka bertujuh.
"Sudah jalankan. Perlahan tidak usah takut!!!" kulirik kak Rey dengan perasaan nano nano. Dia mah enak tinggal ngomong doang dan juga dia sudah bisa nyetir la aku sekarang baru aja belajar nyetir beneran.
"Resiko ditanggung penumpang loh!!!" kataku menegaskan. Dari tadi kak Rey cuma ketawa ketiwi gak jelas. Sedangkan aku berasa jantung ini mau copot.
"Awas Sher ada bebek!!! injak rem!!!" jerit kak Rey.
"Mana remnya Sherin lupa. Haaaaa...." teriakku disertai bunyi rem berdecit.
"Bebek sialan hiks hiks.... Bagaimana bisa ada karnaval bebek ditengah jalan besar seperti ini. Hyaaaaa.... Bapaknya bebek kemana....." teriakku menggila.
"Sher cukup cukup jangan marah lagi... Mana ada bapaknya bebek disini...... Sekarang Biar kakak yang nyetir. Tolong papah kakak" kata kak Rey sedikit gemetar. Kukira sama terkejutnya denganku dan jantung ini beneran mau copot.
Akupun memapah kak Rey berganti posisi tempat duduk. Tak butuh waktu lama kamipun sampai di rumah sakit terdekat.
__ADS_1
"Syukurlah..... hahahhhhhhhhh.... Aku selamat......" teriakku senang tanpa mempedulikan penghuni yang ada di mobil.