
Di Rumah Sakit
Adira Armanto
Kususuri lorong rumah sakit tempat temanku Rania. Dia bekerja sebagai dokter bedah syaraf/ahli bedah neurologis. Rania Sarasvati adalah sahabatku semenjak di bangku SMP dan dia adalah adik dari dokter Aldo pemilik rumah sakit ini. Aku kemari untuk mengurus berkas-berkas kepindahanku ke rumah sakit ini.
Sampai di bilik VVIP Rumah Sakit yang terbuka sedikit, tanpa sengaja kudengar suara yang sangat kukenal sosoknya sedang tertawa. Sepertinya dia sedang bahagia. Sengaja kudekati bilik itu, mengintip dari celah-celah pintu yang terbuka. Sungguh tak terduga bisa melihat Sherin, orang yang paling aku benci sedang tertawa bahagia.
"Dasar jalang. Setelah kau menghancurkan hubunganku dengan Roy sekarang kau tertawa bersama lelaki itu. Cihh. Akan kubuat lelaki itu jatuh cinta denganku. Reynan Gunanto pewaris Perusahaan Gunanto, Kau ada dalam genggamanku sekarang" kataku percaya diri.
"Tertawalah sepuasmu. Nikmatilah waktumu. Karena tak lama lagi kau akan menyusul Mama dan nenekmu" ejekku sinis.
Flashback
PLAKKKKK...
"Papa, apa yang Papa lakukan padaku" teriakku marah.
"Katakan dengan jujur, apa yang sudah kau lakukan pada Sherin di rumah sakit?" tanya Papa marah. Aku tak pernah melihat Papa semarah ini dan ini tamparan pertama yang aku rasakan dari tangan hangat Papa.
"Maksud Papa apa? Dira benar-benar nggak ngerti?" tanyaku heran.
"Mas. Mas tenang dulu. Jangan terbawa emosi. Sherin pasti sudah menghasutmu. Dira ini anak Kandungmu. Ku mohon bicaralah baik-baik" bujuk Mamaku.
Dengan tatapan penuh amarah, Papa melempar kertas ke depan kami dengan kasar.
"Lihat itu!! Apa ada yang bisa dibicarakan baik-baik?? Selama ini aku diam saja kalian memperlakukan Sherin seperti itu, karena aku juga tidak menyukainya. Tapi bukan untuk perbuatan keji yang kalian lakukan. Aku benar-benar sangat kecewa pada kalian" kata Papa marah.
"Mas dengar dulu. Aku bisa jelaskan!!" pinta Mama bersimpuh memegang lutut Papa. Aku tak tahan Papa memperlakukan Mama seperti itu hanya demi anak jalang sialan.
"Lepaskan!! Cepat kemasi barang kalian. Aku menceraikanmu" kata Papa lalu meninggalkan kami yang masih heran tak percaya dengan apa yang Papa katakan. Bagai tersambar petir disiang bolong. Satu kata yang menusuk. Menghancurkan hidupku dan Mama.
__ADS_1
"Papa menceraikan Mamaku" kataku lesu sambil menangis. Aku masih terpaku ditempat tadi. Ku lihat Mama berlari mengejar Papa dan berusaha menjelaskan semuanya.
"Mas dengar dulu!! Aku melakukan ini karena aku sayang kepadamu Mas... Aku melakukan ini demi kamu, demi Dira, demi kita. Mas... Kumohon buka pintunya!!! Mas kalau bukan karena wanita jalang itu, kita sudah hidup bahagia. Aku hanya membalasnya. Dia sudah membohongi kamu Mas. Sherin itu bukan anakmu. Dia sudah hamil dengan laki-laki lain. Aku hanya mengambil hakku. Mas buka pintunya!!!" kata Mamaku yang masih menangis pilu.
Ceklekk..
"Sudah cukup. Tutup mulutmu!!! Dia tidak pernah berbohong padaku. Sebelum menikah dengan Nayla, dia sudah menceritakan semuanya kepadaku. Kamipun tidak pernah bersama kau harusnya tau itu. Kaulah orang yang aku cintai. Aku menikah dengannya karena kemauan keluargaku. Ketamakan keluargakulah yang membuat semua hancur. Hidupku, hidupmu, hidupnya dan anak-anak kita. Apa kau tak berpikir!!! Nayla itu wanita baik. Dia tak pernah marah aku memperlakukannya dengan buruk. Tapi apa... Kau orang yang ku bela dan kucintai mati-matian malah membunuhnya. Apa kau sadar itu, Kau wanita jahat dan serakah. Kau bukan lagi orang yang kucintai. Dan ingat mulai sekarang kau bukan istriku lagi!!! Pergi dari sini !!! Kalau mau berbicara lagi kau bisa lewat pengacaraku" kata Papa menutup keras pintu kamarnya.
Terlihat Mama berjalan terhuyung-huyung ke arahku.
"Mama... hiks hiks hiks Mama bagaimana kita sekarang?" kataku lesu.
"Ayo kemasi barang kita. Kita pergi kerumah kita yang di Bogor. Kau juga bisa bekerja disana. Mama akan membalas perlakuan Papamu ke anak jalang sialan itu. Jika Mama ketemu dia akan Mama habisi dia" kata Mamaku Marah.
"Ma, Dira akan bantu Mama buat balas dendam. Dira pasti akan menemukan Sherin. Dira akan buat dia seperti mayat hidup selama-lamanya. Ha ha ha" teriakku bahagia.
Flashback off
"Hai Dira, apa kabar? Lama banget ya nggak ketemu kamu?" tanya Rania sambil cipika cipiki.
"Kira-kira sudah 2 tahunan ya Ra. Gimana pengajuanku bisa di ACC kan?" tanyaku.
"Tentu dong. Kamu bisa mulai bekerja disini lusa. O ya gimana kabar adikmu Sherin? Dia masih jahat sama kamu dan Mamamu?" tanya Rania yang tidak tau sebenarnya terjadi.
"Iya Ra. Dia masih jahat sama aku dan Mama. Aku dan Mama diusir dari rumah sama Papa gara-gara dia. hiks hiks hiks. Mama juga diceraikan Papa" kataku dengan tangis palsu.
"Yang sabar ya Dir, Sudah jangan nangis lagi. Kamu harus kuat demi Mamamu. Kalau aku ketemu Sherin akan kupastikan dia menderita juga" kata Rania marah.
"Hiks hiks. Makasih Ra. Tadi aku sudah ketemu Sherin. Dia mengejekku. Dia benar-benar tertawa melihat keadaanku. Dia sedang bermesraan dengan seorang laki-laki. Kalau tidak salah temen kakakmu yang jadi kapten tentara itu deh. Rania..... hiks hiks hiks" jelasku berbohong sengaja membuat dia marah.
" Maksud kamu kak Reynan??? Dimana kamu ketemu dia. Sialan, berani benar bocah jalang itu menggoda kak Reynan. Sekarang kita kesana!" ajaknya.
__ADS_1
"Ra, aku nggak mau ketemu sherin. Aku tidak mau sakit lagi" ucapku berbohong.
"Aku yang akan menemuinya. Dimana kamu ketemu dia? Apa di rumah sakit ini?" katanya menerka.
"Iya. Diruang VVIP" jelasku.
Rania segera pergi. Aku tau pasti dia akan benar-benar marah setelah mendengar kebohonganku.
"Penderitaanmu Sherin... dimulai sekarang. Gigi harus dibayar gigi, mata harus dibayar mata. Lihatlah kehancuranmu" kataku senang sambil memutar kursi yang kududuki.
Sepintas terlihat sekelebat bayangan yang kurasa dari tadi mengamatiku. Segera kucari sosoknya namun tak ada apa-apa.
"Cuma perasaanku saja huffftttt" kataku lega.
Di Bilik VVIP
Rania Sarasvati
BRAKKKKK....
"Sherin..." teriakku.
Sungguh mengejutkan, sosok laki-laki yang aku cintai sedang bersama Sherin, gadis jalang itu. Tiba-tiba tanganku ditarik paksa keluar olehnya.
"Rania. Apa-apaan kamu ini. Masuk ke kamar pasien teriak-teriak. Sherin itu baru saja tidur" kata kak Rey marah.
"Kak Rey, Bagaimana bisa kakak dengan gadis jalang jahat itu?" kataku marah
"Jaga ucapanmu. Siapa yang gadis jalang? Dengar baik-baik, aku belum punya pacar ataupun istri. Aku masih bebas. Dan Sherin adalah orang yang benar-benar aku sayang dan cintai. Dia bukan gadis jalang yang ada difikiranmu. Kurasa otakmu sudah dicuci oleh Adira. Jika kau temannya kau akan tau siapa ular berkepala dua berwujud manusia. Carilah tau sendiri dan ingat, takkan kubiarkan siapapun membuat Sherin menderita. Dan kau Rania, kau tidak ada hubungannya dengan Sherin jadi jangan ganggu dia" katanya mengancam lalu meninggalkanku menuju kamar VVIP tempat Sherin dirawat.
"Tapi kak Rey dia benar-benar jahat. Gara-gara dia Mama dan kakaknya diusir dari rumah dan Papanya menceraikan Mamanya Dira. Sherin orang jahat dia jahat. Kak Rey jangan percaya padanya!!!" teriakku frustasi.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu jauh darinya. Kau tidak boleh bersamanya. Jika bukan denganku, Kau juga tidak boleh bersamanya. Kak Rey kau adalah milikku. Selamanya kau tetap milikku".