
"Udah selesai lu mandinya??? masih ada cream tu dirambut lu!!" kata Rian berusaha menipuku. Kugosokkan tanganku ke kepala mencari cream yang dimaksud Rian.
"Ha ha monyet kena tipu!!" teriaknya mengejek lalu berlari ke ruang tv.
"Sial si Rian. Mau juga gue ditipu tu anak. Kenapa juga hari ini sial terus, hahhh" keluhku segera mengambil kaos dan turun ke lantai bawah. Niatnya sih mau nyari si Mong buat balas dendam.
Sementara itu di kamar lain
"Sher, sini!!!" perintah Nia kepada Sherin.
"Oppooannn??" jawab Sherin dengan mulut penuh makanan.
"Cihhh... adek gue emang gentong. Makan mulu kerjaannya. Liat tu mulut sampe gak bisa ngomong" ejek Yuna melihat Sherin gak berhenti makan.
"Laper kak Yun, he he" jawab santai Sherin dengan tawa renyahnya.
"Taruh tu toples keripik!!! ya iya lah laper mulu yang di makan keripik gitu. Udah cepetan sini!!!" perintah Yuna memaksa Sherin untuk berbaring di springbad.
Sherin pun berjalan malas ke arah Yuna dan Nia.
"Kak, mau diapain akunya??" tanya Sherin terkejut ada cairan basah menempel di mukanya.
"Diem!! Jangan banyak omong ntar mukamu jadi peyot" kata Yuna membuat Sherin langsung diam.
"Tenang aja Sher, ini cuma deterjen penghilang muka" bisik Nia membuat Sherin melotot.
"Ha ha... gampang banget sih ni anak ditipu. Makanya jadi cewek tu yang bener. Maskeran aja sampai gak tau" ejek Nia habis-habisan.
"Dah selesai. Buat tidur. Pokoknya jangan bergerak selama sejam. Inget itu!!! Kalau gak mukamu beneran ilang" ejek Yuna gantian.
"Yuk kak. Ke bawah dulu, laper!!!" ajak Nia mengerlingkan matanya seperti ada maksud tersembunyi.
"Kakkk" panggil Sherin dengan pelan takut mukanya ilang beneran.
"Oh ya Sher, kakak lupa. Kamu jangan bicara bisa bahaya. Cairannya bisa buat bibirmu bengkak loh" tipu Yuna sekali lagi.
Sherin mau tidak mau menuruti kata mereka. Sherin hanya diam membeku. Tak berani bergerak apalagi bicara.
1 jam kemudian
GLAKKK.... Lampu penerangan sekali lagi mati
"Arghhhhhh.... Kenapa lampunya mati sih" teriak Sherin keras tak peduli lagi jika mukanya harus ilang. Secepat kilat dia berlari ke depan pintu. Digedor-gedor pintunya keras. Karena memang dikunci sama Yuna dan Nia.
"Kak Yun, Nia bukain!!!! haaahhh... Kak Yun, Nia!!!" teriak Sherin menggila
"Mama Papa!!! Mama Papa bukain pintunya!!!" Sherin menggedor pintu sekali lagi. Tanpa pikir panjang, dia berusaha mencari jalan lain untuk keluar.
"Jendela. Benar jendela" katanya senang menemukan jendela tak terkunci. Dan lebih beruntungnya ada tangga lipat dibawahnya yang masih terpasang. Segera ia turun kebawah dengan tangga darurat itu.
__ADS_1
Sementara didepan kamar Sherin
"Gimana udah belum??" tanyaku dengan senyum merekah karena mungkin kali ini berhasil mengerjai Mong Mong.
"Yun bukain pintunya" pinta Aldo pelan.
"Sudah siap semuanya" tanya Om Angga tak sabar dengan kejutan untuk putrinya.
"Mama sudah siap. Arka Rendy nyanyi yang bagus, awas kalau Ndak bagus, itumu bakalan disunat dua kali mau??" ancam Tante Nay sadis.
"Jangan dong Tante. Sadis kali. Kita kan masih Ting Ting" sahut Rendy memegang barang berharganya.
"Huss diem... ntar Sherin denger" pinta Rian.
"Nia buka!!" pinta ayah.
Kami semua sudah bersiap dengan tugas masing-masing untuk memberi kejutan buat Sherin. Yang bertugas membawa kue adalah mamanya Sherin. Yuna Nia Rian membawa terompet lidah. Arka Rendy Om Angga dan Om Gunanto bernyanyi. Ibunya Rey dan Aldo membawa balon berisi air yang siap diledakkan kapan saja seperti guyuran hujan dan aku sendiri membawa sekotak besar hadiah dari kami semua untuk mong Mong.
Kreikkkkk....
"Kejutan!!!!" teriak kami berbarengan tapi yang diberi kejutan menghilang.
Selamat har.........
"Sherin nya gak ada Tante" ucap Rendy menghentikan nyanyiannya. Mereka semua kebingungan kemana Sherin pergi. Tiba tiba pintu kamar terkunci sendiri.
"Papa apa itu???" teriak Tante Nay melempar kue tart entah kemana.
BRAKKKKK...
Sekali lagi kue itu sukses mendarat di kepalaku.
"Nggak lagi lagi. Arghhhh" teriakku frustasi karena kejatuhan kue lengket itu lagi.
Balon yang dipegang ibu dan Aldo tak sengaja ikut meledak jadilah air hujan membasahi kami semua. Berantakan kacau sekali.
"Tante itu apa???" kata Yuna pelan melihat ke jendela ada sekelebat bayangan putih berambut panjang melintas di jendela.
"Gak mungkin itu Sherin karena dia kan berhijab??" pekikku sedikit takut juga.
Lagi lagi mata kami semua melihat bayangan itu. Tante Nay berlari ke pelukan Ayahku begitu juga Ibu malah berlari ke pelukan Om Angga. Suara teriakan mereka sangat keras sekali. Nia dan Yuna juga keliru berpelukan. Sementara Arka dan Rendy berlari memelukku.
"Naya itu suamiku" teriak ibu tak percaya.
"Maya itu juga suamiku" timpal Tante Nay kemudian beralih pasangan.
"Rian lepaskan kak Yuna!!!" teriak Nia marah.
"Lu juga lepasin si Aldo!!!" kata Yuna kesal.
__ADS_1
"Diem!!!" teriakku menenangkan suasana.
Bayangan itu sekali lagi menampakkan dirinya tapi kali ini dia tak cuma melintas saja tapi beralih menuju tempat kami. Hanya jendela itu sebagai penghalangnya.
"Arka Rendy kenapa kalian ikutan takut sih. Hidupin saklarnya!!!" pintaku memaksa.
"Lewat mana Rey??? pintunya di kunci" kata Rendy gemetar.
Sosok putih berambut panjang itu membuka pintu samping dan masuk dengan rambut tertutup semua ke depan.
"Ahhhhh.... papa!!! Ayahhhhh... setannnn... Aldo... Kak Rian aku takuutttt... Arghhhhhh... jangan mendekat jangan mendekat!!!!" teriak mereka semua memekakkan telinga.
"Mama.... Mama...." setan itu berbicara dengan suara seraknya.
"Arghhhhhh ayah.... Papa..." teriak ibu dan Tante Nay.
"Rey tangkap setan itu kalau kamu nggak mau kita semua mati berdiri. Kamu kan tentara masak takut setan" pinta ayah dan Om Angga. Sebenarnya takut juga ngadepin ini.
Kuberanikan diriku mendekat kearahnya dan dia menyibakkan rambutnya kebelakang. Dia memandangku tajam.
"Astaga..." pekikku kaget berjalan mundur melihat wajahnya yang putih semua dengan lingkaran hitam dikedua matanya menjulurkan lidahnya yang merah.
"Maju Rey!!! tangkap setan itu!!!" teriak ibu mendorong tubuhku hingga hampir menabraknya.
"Ibu apa apan sih, aku juga manusia biasa takut juga!!" kataku mengeluh.
"Reynannnn.... Reynannnn...." kata setan itu memanggilku membuat bulu kudukku berdiri.
Kami benar-benar shock semua. Setan itu melempar rambutnya kearah kami.
"Ha ha ha ha ha... KEJUTANNNNN" Tawa setan itu senang. Suara yang sangat familier di telinga kami.
"SHERINNNNNN....." teriak kesal kami semua dengan ulahnya.
Terjadilah saling kejar dan pukul di kamar itu. Aku sebagai lelakinya harus menjadi tameng kemarahan semua orang.
"Sherinnn kau benar-benar... huffftttttt..." kataku pasrah.
Flashback
"Kenapa semua orang didepan kamarku???"
"Oh ternyata mereka mau mengerjaiku. Lihat saja siapa yang akan lari ketakutan. Persiapkan diri kalian" Sherin.
Akupun merias diri dengan menambahkan pensil warna hitam dengan membuat lingkaran hitam disekitar mataku. Tak lupa aku mengambil wiggg rambut panjang untuk menutupi wajahku.
Segera setelah berias, kukunci mereka semua dikamar dan aku segera berlari ke kamar lewat jalan keluar tadi. Kutakuti mereka semua.
"Hahaaaaaa... ternyata mereka semua takut hantu perawan" tawaku terpingkal-pingkal.
__ADS_1