
Villa Utara
Perjumpaan kembali kekasih lama bibi Fang bisa menimbulkan masalah baru. Kalau bukan karena dia orang yang telah merawatku dengan tulus mungkin akan kubiarkan semuanya berjalan seperti apa adanya. Mungkin kasih sayang yang selama ini kudapatkan lebih banyak dari bibi Fang daripada dari Mama kandungku sendiri.
Aku merasa lebih nyaman, baik baik saja dan terbuka terhadapnya daripada mamaku yang memiliki sifat lebih mementingkan dirinya sendiri dan kesenangan pribadinya. Kalau bukan karena Papa yang mencintai Mama Nay sampai berakar ribuan tahun sampai mendarah daging, sudah lama kubuat bibi Fang menjadi satu-satunya Mamaku.
TAKKKKKKKK......
"Keluar!!!!! Kau ingin cara kasar atau halus" teriakku melemparkan batu kerikil kearah orang yang tak diundang.
"Papa, jangan sentuh bibi. Menyingkirlah dari sana!!! Kak tolong panggil kak Long biar dia yang menggendong bibi masuk. Aku masih ada urusan dengan orang ini" kataku segera mendekat ke kolam air mancur di taman depan.
"Sherin, kau jangan berbuat macam-macam" kata papa memperingati.
"Pa, diamlah. Kalau aku tidak macam-macam dengan orang ini maka kau akan tamat ditangan Mama" ancamku balik dengan tatapan tajam.
Drapppp.... drappp.... woahhhh.... BRAKKKKK...
"Kau mau lari kemana?" kataku kesal berhasil menangkapnya.
"Ampun nona.... saya hanya melaksanakan tugas saja" katanya ketakutan.
Segera kuikat orang suruhan Mama ini dan menyeretnya masuk kedalam. Sementara bibi Long masih pingsan kesenangan sampai sekarang belum sadar-sadar.
"Jangan sakiti saya nona, tuan. Maafkan saya... saya hanya orang kecil yang mencari sesuap nasi untuk keluarga kecil saya. Tolong jangan bunuh saya. Saya akan memberikan apapun yang saya punya. Tolong kasihanilah saya nona" ucap orang ini dengan ketakutan yang luar biasa.
"Mong,, apa yang mau kau lakukan dengannya???" tanya kak Rey cemas memikirkan apakah orang ini bisa selamat dari genggamanku.
"Mungkin bisa dijadikan sarapan untuk kroki kroko" jawabku tersenyum jahat.
"Siapa kroki kroko???" tanya kak Rey bingung.
"Itu peliharaan nona yang satunya. Kalau tidak salah sejenis binatang reptil pemakan daging" sahut Vanya sedikit cerdas kali ini.
"Ampun nona.... huaaaa.... jangan nona saya tidak mau jadi santapan mereka.... huaaaaa haaaa.... Nona...." teriak orang ini benar-benar sangat lucu.
"Lili, kau benar-benar sudah diluar batas. Kau gila. Apa kau tak bosan mengerjai orang tiap hari" tanya kak Richie sudah kembali normal dan sedikit emosional seperti semula lagi.
"Ha ha ha.... kalau tak mengerjai orang hidupku akan hampa dan tak ada bedanya dengan hidupmu kak. Kesepian, bosan dan haus belaian ha ha ha. Apa kak Ichie mau aku mengerjaimu setiap hari???" Tanyaku sengaja menggodanya lagi. Mungkin emosinya kali ini masih labil. Kalau tidak salah dengar dia menjadi jomblo sejati karena kak Long lebih memilih kak Kitty.
"Cihhhh.... Lihat saja aku pasti mendapatkan pangeranmu kali ini. Lihat baik baik" Kak Ichie mendecih dan berjalan kearah dapur.
"Kau, keterlaluan Mong, apa kau tak tau dia sedang patah hati. Tak ada laki-laki yang mau dengannya" sahut kak Rey tanpa dosa.
"Reynan, aku bisa mendengarnya" teriak kak Ichie marah.
"Sudah jangan ganggu dia lagi. Untukmu kali ini akan kuampuni. Katakan pada mamaku bahwa papa sudah bertemu dengan anak dan menantunya. Kak Rey kemarilah!!! Cekrekkk.... Ini foto yang bisa kau berikan kepada mamaku. Foto yang lain sudah kuhapus. Jika kau masih berusaha mengambil lagi tanpa sepengetahuanku maka detik itupun kau akan tamat. Game over..... Kau mengerti!!!" jelasku.
"Baik nona, terima kasih. Terima kasih banyak" katanya menangis haru.
"Ini ada sedikit uang untukmu. Bawalah istrimu kerumah sakit. Datanglah ketempat ini. Kau akan dapat pekerjaan yang lebih baik. Jangan jadi penguntit lagi. Kalau sudah pergilah!!!" kataku memberi selembar cek untuk biaya rumah sakit istrinya.
Pria itupun bergegas meninggalkan villa bibi dengan berlari. Kuharap ini terakhir kalinya dia bersikap licik dan tamak. Aku masih memberimu kesempatan. Jika kau sudah bosan maka aku tak segan-segan melakukan apapun demi mereka.
Sebenarnya cinta dan kasih sayang papa sepenuhnya sudah diberikan untuk mama. Tapi Mama selalu berusaha ingin menyakiti bibi Fang. Entah ini sudah keberapa kalinya. Semakin cantik wanita maka semakin berbahaya. Lagi lagi karena kecemburuan wanita tak berdasar. Tunggulah waktunya.
Bibi Fang hanyalah seorang wanita yang sangat polos. Mau diapakan juga dia akan diam dan tak membalas. Tapi jika dia sekali saja bertindak maka hancurlah segalanya. Bibi tak pernah berpura-pura meskipun itu akan menyakiti orang. Sikap jujur dan apa adanya itulah yang Kusuka darinya.
"Kak... Aku ke kamar bibi dulu ya. Jangan dekat dekat kak Ichie. Hati-hati, Dia akan mencari pria kesepian" kataku berbisik.
"Hyaaa.... aku tak serendah itu. Sialan kau" umpat kak Ichie kesal sambil makan camilan diruang TV.
Tok tok tok.....
"Bibi, aku masuk!!!" kataku segera membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Disana ada Papa dan kak Long saling tatap. Hawa dingin, kejam dan dendam antara dua orang ini sangat jelas terlihat.
"Bibi belum sadar???" tanyaku lembut tapi tak ada satupun dari mereka yang bergeming.
"Bibi, kalau kau tak bangun anakmu dan mantan pacarmu akan saling membunuh lohhhh..." kataku bermaksud merangsang alam bawah sadarnya supaya cepat kembali.
"Sherinnnnnnnnnnnn.... Lili......" teriak mereka bersamaan.
"Fang Yue.... cepatlah bangun...." kata Ayah lembut dibalas tatapan dingin kak Long.
"Jangan memanggil mamaku seperti kau akrab dengannya. Lebih baik kau segera kembali" kata kak Long kasar.
"Ha ha ha..... Bibi Fang..... Lihatlah kak Long mengusir pacarmu apa kau akan diam saja???" Tawaku berusaha mencairkan suasana yang begitu dingin dan mencekam ini.
"Bibi apa kau menunggu dicium pangeranmu supaya lekas sadar" kataku berbisik pelan di telinganya.
"Sherinnnnnnnnnnnn...... Tutup mul......" teriaknya tanpa sadar terduduk sendiri.
"Sayang, anak pintar.... kenapa kau tak main dengan teman-temanmu saja, he he he" kata bibi Fang tersenyum penuh arti.
"Bibi, aku tak suka main. Aku akan menjagamu sepenuh hatiku. Kau taukan kau adalah mamaku yang sejati" kataku manja memeluknya erat penuh makna yang tersirat.
"Apa yang kau rencanakan anak nakal???" bisik bibi Fang lalu tersenyum dipaksakan.
"Ahhhh... Bibi. Lihatlah aku anak baik dan imut, mana mungkin aku menjahatimu ya kan Pah???" kataku menunjukkan ekspresi imut dan lucu mengedipkan mata berkali-kali.
PLAKKK..... Bibi sengaja memelukku lagi dan menepuk punggungku sedikit keras.
"Bibi percaya sekali.... Kau memang anak yang manis.... Plakkkkkkkk..." jawab bibi menepuk punggungku sekali lagi dengan keras.
"Fang Yue, maukah kau datang ke Jakarta bersamaku???" tanya ayah sedikit gugup.
"Huks huks huks..." Bibi tersedak.
"Ha ha ha.... Pah Kau bisa membuat bibi mati tersedak.... Kau sungguh keterlaluan ha ha ha...." ejekku langsung ditatap tajam Papa dan kak Long.
"Lili....."
"Maaf tuan Angga, mamaku tak bisa memenuhi permintaanmu. Lebih baik kau kembali sekarang" kata kak Long ketus.
"Long Yi Yan...." teriak bibi keras.
"Fang Yue, aku tau ini sulit diterima, tapi bukankah kau sudah menganggap Sherin sebagai anakmu. Dia akan menikah. Aku khusus datang kemari ingin memintamu menghadiri pernikahan Putri kesayanganmu yang sudah kau rawat sekian lama. Kumohon kau bisa menghadirinya" kata papa memohon dengan tulus.
"Baiklah akan kupikirkan. Kau sebenarnya tak perlu repot-repot datang kemari. Kau bisa langsung meneleponku. Ini sungguh merepotkan, padahal Kau sangat sibuk" kata bibi masih saja mengalah didepan Ayahku.
"Mama...." teriak kak Long tak terima.
"Long.... Tinggalkan kami. Kau bisa keluar" kata bibi mengusir kak Long. Kak Long terlihat begitu marah.
"Fang Yue, maafkan aku. Aku tau kau wanita yang begitu baik dan penyayang. Tapi untuk urusan hati kau tau bahwa hatiku sepenuhnya milik Nayla. Sejak dia kembali dari maut kala itu, yang aku inginkan hanya agar dia bahagia sehingga aku bisa menebus kesalahanku padanya" kata papa tak kusangka begitu besar rasa sayangnya pada mamaku. Tapi kali ini Papa hanya dimanfaatkan saja.
"Kau tak perlu menjelaskannya lagi. Angga aku sepenuhnya mengerti. Aku butuh waktu sendiri. Aku mau istirahat" kata bibi begitu lesu.
"Baiklah. Istirahatlah. Aku keluar sekarang. Sherin kau ikut Papa" perintah Papa agak kesal.
Sebenarnya dihati Papa sudah sejak lama dia juga mencintai bibi tapi papa selalu saja menghindar dan tak mengerti perasaannya sendiri. Kali ini aku memang harus turut campur tangan.
__ADS_1
"Pa, aku mau menemani bibi. Papa keluarlah!!!" kataku kesal.
"Sherinnn...." kata bibi seperti menahan tangis.
"Bibi tenanglah. Aku disini merawatmu. Akan kupastikan kau tersenyum lagi" ucapku berharap bibi tak mengusirku.
"Baiklah. Kalau begitu jaga bibimu dengan baik" kata papa segera meninggalkan kami berdua. Segera kukunci pintu kamar.
"Bibi,,,, bangunlah!!!!" teriakku kasar.
"Aku sedang tak mau bermain denganmu anak nakal" kata bibi dari balik selimut.
"Bibi, apa kau akan membiarkan seseorang melukai Ayahku begitu dalam. Bisakah kau menerimanya??? Bukankah ayah kak Long juga sudah tiada, bukankah sekarang saatnya kau membuka hatimu untuk laki-laki lagi" kataku tegas.
"Sherin kau tau sendiri. Di hatiku hanya ada dua laki-laki, yang pertama ayahnya Long dan yang kedua adalah Ayahmu. Usiaku juga tidak muda lagi. Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia. Kenapa kau masih terus mendorongku ke jurang???" kata bibi terlihat putus asa.
"Bibi.... bisakah kau menjadi mamaku kali ini??? Hanya hadiah ini yang pantas kuberikan untukmu sebelum aku menikah. Bibi ikutlah denganku!!!" kataku terisak tangis mrncoba meyakinkannya sekali lagi.
"Anak bodoh. Yang lalu biarlah berlalu. Kenapa kau harus melakukannya sampai sejauh ini. Kau hanya akan menyakiti Mama dan Papamu. Lagipula sudah tidak ada tempat diriku dihati Papamu. Aku tau kau sungguh menyayangiku. Tapi bukan seperti ini sayang. Kau hanya akan membuat luka bagi banyak orang. Urusan cinta dan hati tak bisa dipecahkan seperti rumus matematika. Cinta memiliki tempatnya sendiri. Bahkan akal sehat dan logika tak bisa mengalahkan namanya cinta. Kau mengerti???" jelas bibi masih memelukku lembut.
"Meskipun aku tak tau apa itu cinta, tapi yang kutahu selama orang tidak buta akan cinta, selama itu pula logika dan akal sehat akan terus menang melawannya. Bibi.... Kalau kubilang mamaku sebenarnya palsu, apa kau akan percaya???" tanyaku membuka rahasia yang kupendam selama ini.
"Anak nakal. Kau bilang kalau Mamamu palsu. Bagaimana bisa seseorang mengaku sebagai orang lain. Apa tujuannya??? Sherinnn.... Papamu pasti tau jika dia palsu tapi kau lihat sendiri, bagaimana perlakuannya kepada Mamamu" jelas bibi mencoba tegar.
"Bibi, aku perlu memperlihatkan sesuatu padamu. Ikutlah, kita pergi ke villa Selatan" pintaku menarik tangannya.
"Hyaaa.... sejak kapan kau mengetahui jalan rahasia yang ada dikamarku???" teriak bibi sudah kembali normal.
"Dasar wanita tua, apa kau tak tau, apapun itu jika aku mau pasti bisa kucari. Jangankan jalan rahasia ini, ruang pribadi presiden bahkan pemimpin dunia pun kalau aku berniat menjebol situs rahasianya maka tamatlah mereka" jelasku sedikit merasa bangga.
"Jangan-jangan kau juga tau kode verifikasi data pengamannya???" tanya bibi semakin terkejut.
"He he he.... aku tau dari dulu ha ha ha" tawaku jahat.
"Anak ini, tak membiarkanku hidup tenang. Sungguh berbahaya.... hahhhh.... sudah tamat.... tamatlah semuanya" keluh bibi lesu.
Sesampainya di villa Selatan, aku langsung masuk ke kamar khusus milikku. Tak ada yang pernah masuk ke kamar ini kecuali aku. Segera ku keluarkan hasil investigasiku selama hampir kurang setahun ini.
"Lihatlah bi, ini visum yang kulakukan dibantu dokter forensik kepercayaanku kepada jenazah yang ada di kuburan Mama. Dari segala segi, dia memiliki kecocokan dengan DNA, tulang gigi, tulang rahang, rambut, kuku bahkan semua menunjukkan 99% yang terkubur disana adalah mamaku" jelasku.
"Jika, Mamamu yang asli sudah tiada lalu siapa yang tinggal bersama Papamu??? Tidak mungkin dia memakai topeng kulit seperti yang kau lakukan saat jadi mata-mata. Jika dia menggunakan itu, kemungkinan terbongkar bukankah lebih cepat" kata bibi serius berpikir.
"Apa aku dengan mudah percaya dengan orang yang tiba-tiba mengaku mamaku setelah hampir 17 tahun menghilang. Meskipun aku tampak bodoh tapi aku menjalankan semua rencanaku tanpa dia ketahui. Lihatlah ini. Namanya Nayala Wiryoatmadja, dia saudara kembar mamaku. Sejak dari kecil, dia dikirim keluar negeri oleh Kakek. Karena dia memiliki kelainan mental berat. Tapi sejak kematian mamaku, dia menghilang bagai ditelan bumi. Bahkan aku menemukan persengkokolannya dengan Tante deasyna dan mantan kakak tiriku Adira dan juga pamannya Wibi Laksono. Apa bibi pikir ini konspirasi sederhana. Tidakkah kau bisa melihat dua rekaman video yang berbeda. Dua orang dengan wajah yang sama di jam yang sama tapi ditempat berbeda. Aku mendapatkan file CCTV ini berkat bantuan kak Long. Dengan dasar kematian mamaku itu takkan bisa menjerat mereka semua. Hanya ada satu cara yaitu memancing mereka berbuat jahat lagi dan aku mendapatkan buktinya. Proses hukum di negara manapun memiliki limit batasan waktu. Sebenarnya aku sudah lama ingin membongkarnya, tapi bukti yang kumiliki akan bisa dipatahkan dengan mudah di pengadilan. Makanya aku perlu kerjasama bibi. Bisakan???" tanyaku penuh harap.
"Apa yang kau mau bibimu ini lakukan??" tanya bibi tegas.
"Pergilah ke Jakarta bersama papaku dan godalah papaku. Aku yakin wanita itu akan menggila dan menculik bibi. Mungkin lebih parahnya membunuhmu bi he he he" jawabku menggoda tapi kemungkinan memang akan terjadi seperti itu.
"Sialan.... Maksudmu kau ingin bibi menjadi umpannya??? Kau benar-benar gila, kau tak segan-segan membahayakan orang yang kau sayangi. Kau sungguh kejam hiks hiks hiks" kata bibi menangis tak percaya.
"Bibi.... bukankah kau tidak rugi. Jika kau kembali hidup hidup bukankah kau akan menjadi permaisuri papaku dan kau bisa menarik simpatinya. Bukankah sekali menepuk tiga burung akan jatuh ha ha ha" kataku mencoba meyakinkan.
"Iya kalau hidup, kalau mati???" katanya masih mengelak.
"Tenang saja, aku akan memperlakukan jenazahmu layaknya permaisuri kerajaan ha ha ha" jawabku asal.
"Takkkkk..... Otakmu memang sudah miring. Huuuuhhhh...." kata bibi menjitak kepalaku dengan nafas beratnya.
"Sakit bi..... ini dikepalanya terdapat otak tak ternilai. Bagaimana kau bisa memukulku terus" kataku mengeluh.
"Sudah diam. Terima saja. Aku akan mengikuti rencanamu. Tapi kau harus melindungi ku kalau tidak bagaimana nasib laboratoriumku???" kata bibi masih mengajukan permintaan.
"Bukankah kau akan pensiun jika menjadi mamaku. Kau melanggar janjimu sendiri. Huhhhh aku tak percaya ini" kataku kesal.
"Oke oke... Baiklah kita lakukan sesuai rencana. Malam ini kita kembali ke Jakarta" kata bibi Fang bersemangat.
"Bibi, aku beritahu kau. Godalah papaku dengan wajah tuamu itu dengan baik. Kalau perlu kau kesalon dulu" ejekku padahal sebenarnya meskipun usia bibi sudah 50 tahun lebih tua dari mamaku 4 tahun tapi wajahnya tak kalah cantik dan awet muda.
"Takkkkk..... Dasar bocah tak sopan" kata bibi sekali lagi memukul kepalaku.
"Bibi....." teriakku mengelus kepala berkali-kali.
"Kita sudah pergi lama, kita kembali dulu nanti kita pikirkan lagi oke" ajak bibi menarik tanganku.
"Bibi.... Kau perlu tau satu hal lagi, anak yang ada dalam kandungan Kayala bukan anak papaku melainkan anaknya Wibi Laksono. Mereka sudah menjalin hubungan selama 25 tahun. Dan ini rahasia, oke" jelasku segera naik elevator berjalan ke kamar bibi di villa Utara.
Sampailah kami kembali ke kamar. Dan ternyata, mereka hampir mendobrak pintu karena tak mendengar sahutan dari dalam.
"Sherinnnnnnnnnnnn buka pintunya!!!!" teriak kak Long.
"Mong kau tak apa sayank....." teriak kak Rey menambah kebingungan ku.
"Fang Yue...... Jangan berbuat yang tidak-tidak" teriak Papa khawatir.
"Lili..... Nona.... sherinnnnnnnnnnnn.... buka!!!" teriak mereka bersamaan.
"Kita dobrak saja pintunya!!!!" teriak Papa menjadi gila.
"Astaga bibi bagaimana ini???" kataku segera menarik selimut dan berbaring ditempat tidur.
"Lili, yang sakit aku atau kau???" kata bibi berlari berbaring diatasku sambil berpelukan seperti suami istri.
"Bibi..... kau menindihku. Kau sudah gila" teriakku tak percaya dilecehkan wanita seumuran mamaku.
"Cepat pura-puralah tidur. Kalau tidak celaka kita" kata bibi berusaha tidur disampingku dan memejamkan mata dengan memeluk tubuhku erat.
DAGGGGGG...... BRAKKKKK........
"Sherinnnnnnnnnnnn....." jerit kak Rey kesal.
"Mama......" teriak kak Long sama kesalnya.
"Syukurlah, mereka tak apa" kata papa lega.
"Hoammmmm.... Astaga bibi, lihatlah pintunya rusak" teriakku pura-pura terkejut.
"Bibi bangunnnnnnn" teriakku mengguncang-guncangkan tubuhnya berkali-kali.
"Sherinnnnnnnnnnnn.... kau mengganggu tidurku" kata bibi terlalu lebay beraktingnya.
"Bibi lihatlah pintumu!!!" kataku menunjuk pintu yang hancur di lantai.
"Sherinnnnnnnnnnnn. Kau apakan pintu kamarku" teriak bibi menggelegar.
"Bibi bukan aku..... Mereka yang melakukannya"
"Siapa yang bertanggung Jawab untuk ini!!!" teriak bibi marah. Semua orang berjalan mundur tinggalah Papa yang di kambing hitamkan.
"Om Angga Ma, yang mendobrak pintu" kata kak Long tersenyum puas.
"Benar Tante papahnya Sherin" sahut kak Richie dan kak kitty.
__ADS_1
"Hajar bibi.... Kau sudah ditolak masih dihancurkan kamarmu. Tenang saja Aku ada di belakangmu bi..." kataku tersenyum jahat.
"Sherinnnnnnnnnnnn kau sebenarnya anaknya siapa???" kata papa menatap tajam.
"Fang Yue, tenanglah aku bisa jelaskan. Tenanglah!!!" bujuk Papa membuatku tertawa.
"Cepat bereskan kekacauan ini. Dalam satu jam semua harus kembali seperti semula. Sherinnn ikut bibi!!!" kata bibi dingin.
"Baik bi. Selamat bekerja Pah, fighting!!!! Ha ha ha" tawa jahatku menggelegar meninggalkan mereka semua yang masih terkejut.
"Bi, tunggu dulu kita lihat pertunjukan menarik sekali lagi" ajakku menggenggam tangan bibi bersembunyi dibalik lemari tepat menghadap kamar bibi.
"Richie, Kitty, Reynan, kalian semua bantu saya!!!" perintah Papa seperti bos besar.
"Maaf Om, saya masih ada kerjaan" jawab Richie segera pergi.
"Kitty kau tak perlu membantunya. Ikutlah denganku" sahut kak Long menarik tangan kak Kitty.
"Maaf Om.... Rendy sama Vanya masih ada urusan. Kami pergi dulu. Maaf" kata Rendy menghilang secepatnya. Tinggalah kak Rey tersenyum kecut.
"Apa kau juga akan pergi Rey???" ancam Papa halus. 100% aku yakin kak Rey juga akan pergi karena dia masih punya dendam dengan Papa.
"Maaf Om Angga, bukan maksud lari tapi saya harus mencari Sherin karena hanya dia yang terpenting sekarang. Maaf lohh ommmm" kak Rey mencari alasan dan kabur begitu saja.
"Ha ha ha... Lihatkan bi, kau beneran bodoh mencintai laki-laki tak bisa apa apa seperti itu" ejekku melihat papa bingung harus apa.
"Takkkkk.... laki-laki bodoh itu juga Papamu" kata bibi memukul kepalaku sekali lagi.
"Kalian lagi lihat apa???" tanya kak Rey pelan tanpa aku sadar menjawabnya.
"Lihat Om idiot" jawabku asal.
"Dalam sepuluh menit kirimkan ahli pintu terbaik cepat!!!" teriak Papa marah.
"Ha ha ha akhirnya dia membetulkan pintumu dengan uang bi ha ha ha" ejekku.
"Dasar anak nakal. Berani benar kau mengejek Papamu" kata bibi kesal.
"Benar. Kau memang anak nakal" kata kak Rey membuat kami menoleh bersama.
"Arrrgggghhhhhhhh....."
"Kakak, kau memang sengaja membuatku dan bibi kaget ya" teriakku dengan badan gemetar.
"Sherin, aku tak ikut ikut lebih baik kau urus sendiri tunanganmu. Dahhhhhhh....." kata bibi meninggalkan kami.
"Sayank kau perlu menjelaskan sesuatu padaku" pinta kak Rey menari tanganku keteras depan.
"He he he..... Kakak..... bisa kita lupakan masalah tadi???" kataku manja.
"Duduklah!!!!"
"Kak Rey......"
"Jangan menggodaku"
"Kak.... bukan aku yang memeluk bibi. Itu tak disengaja. Bibi terlalu bersedih dan memelukku erat. Bagaimana kau bisa marah untuk hal ini???" kataku mengelak.
"Apa kau suka dengan bibimu dan menikah denganku hanya untuk menutupinya???" kata kak Rey membuatku bingung.
"Mana ada. Aku tulus mencintai dirimu. Tak ada aku mencintai sesama jenis. Apa kau sengaja menyudutkanku agar aku disiksa malaikat" teriakku kesal.
"Lihat ini!!! Kau mencium bibir bibimu sewaktu kau tidur tadi" teriaknya menunjukkan foto disaat tadi. Ini sungguh diluar nalar. Bagaimana aku tidak merasakannya dan bagaimana aku bisa menjelaskannya.
"Sialan kau bibi..... Bagaimana ini tamatlah aku hiks hiks hiks" batinku menangis.
"Kakak itu kesalahan. Kejadiannya bukan seperti itu. Aku 100% wanita asli hanya mencintai laki-laki. Kakak....." jelasku berlutut didepannya.
"Hajar Rey.... jangan kasih ampun tuh Sherin ha ha ha senjata makan tuan" ejek Richie kali ini berhasil.
"Lepaskan kakiku..... Kau tidak pantas menyentuhnya..." teriak kak Rey marah. Kak Richie, kak Kitty, dan semuanya menatapku heran.
"Nona jangan seperti itu..... celana tunanganmu bisa lepas dan burungnya......" ejek Vanya membuatku mengalihkan pandangan dan menatapnya tajam.
"Vanya kau sudah bosan hidup melihat burung terbang...." sahut Rendy marah.
"Kak Rey...... jangan seperti ini. Ayolahhhh percaya padaku...." kataku memohon memegang kaki satunya kencang.
"Lepaskan aku..... Sherinnnnnnnnnnnn...." teriak kak Rey semakin marah.
"Reynan... kasihan Lili.... mending kau kasih laba laba dia akan cepat pingsan" kata kak Kitty tak kusangka malah menaruh bensin dalam kobaran api.
"Tidak mau.... tidak mau.... sebelum kau memaafkanku tidak akan kulepas kakimu" elakku semakin mengeratkan tanganku bahkan menarik celananya.
"Sherinnnnnnnnnnnn.... Jika kau seperti ini celanaku akan lepas" kata kak Rey menunduk berusaha melepaskan tanganku dari kakinya.
"Tidak mau.... hiks hiks tidak mau..... Aku tidak bersalah.... aku difitnahhhhh...." teriakku membuat celana kolornya merosot kebawah.
"Lihatlah sebentar lagi roketnya lepas landas ha ha ha" teriak kak Long senang.
"Monggggg.... lepaskannnnn..... inilah harga diri terakhirku..... Jika ini terlepas mau ditaruh dimana mukaku...." kata kak Rey berusaha membetulkan celana kolornya.
"Kakakkkkkk... tidak akan kulepas.... Kau harus memaafkanku dulu.... jika tidak aku takkan melepasnya...." kataku masih menarik celananya.
"Mong.... baiklah aku memaafkanmu"
"Kakak tidak tulus hiks hiks....."
"Sayank, aku sudah memafkanmu. tolong lepaskan ini ya" katanya lembut.
CRAKKKKKK....... CRAKKKKK..... tanpa sengaja tanganku malah menyobek celananya hingga nampak CDnya saja.
"Kak Rey, maaf tak sengaja.... Akan aku lepaskan sekarang" kataku segera berlari menjauh sebelum dia murka.
"Sherinnnnnnnnnnnn......." teriak kak Rey mengejarku tanpa henti.
"Kakak...... jangan kejar aku...... tolong siapapun......" teriakku kehabisan nafas.
"Sini kau..... Sudah berapa kali kau mempermalukanku..... Gadis nakalllllll....." teriak kak Rey masih saja mengejar.
"Kakak hati hati burungmu bisa masuk angin ha ha ha......" teriakku hampir berlari sejauh 0,5 km. Masih saja dia semangat mengejar.
"Gadis kurang ajarrrrrr........."
"Kakak ulilmu kecillll ha ha ha"
"Sini kau....."
"Mimi Momo keluarlah......"
"Jangan bercanda Mong......"
__ADS_1
"Ha ha ha.... ada Om Om ulillllllll"
"Sherinnnnnnnnnnnn........."