Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Rencana Tak Terduga


__ADS_3

Setelah kepergian Tante dan Nia ke salon, tetap saja aku masih tertahan dikamar ini. Mana ada kucing yang melepas ikannya. Sudah satu jam hanya duren yang kak Rey bahas. Ujung-ujungnya kemana lagi kalau bukan ke hal mesum.


"Sayank, apa kau tak akan melepaskanku???" tanyaku tersenyum licik. Jangan dikira kau menahanku disini tapi aku akan pasrah tak berbuat apa-apa.


"Kau mau aku lepaskan??? Kalau begitu, jangan memikirkan terus cara melarikan diri tapi pikirkanlah cara merayuku agar aku bermurah hati melepasmu" jawabnya sungguh sangat pasaran.


"Baiklah, kalau kau tak melepasku maka malam ini aku akan tidur Disini. Ahhh.... nyamannya???" godaku sambil merebahkan tubuhku ditempat tidur.


"Mau bobo bareng??? Kemarilah!!!" kataku tersenyum manja dengan sengaja menyerang psikisnya.


"Apa kau yakin???" tanyanya ternyata kak Rey tak sedikitpun merasa terbebani.


"Tentu saja... Bagaimana kalau.... ahhh... aku malu...." godaku sambil menutup wajahku dengan manja.


"Sayank... Kau sangat nakal tapi aku suka" jawabnya berjalan mendekat dan berbaring memeluk pinggangku.


"Astaga Sherin..... Matilah kau termakan jebakanmu sendiri" umpatku kesal.


"Sayank.... Bolehkah aku menciummu sekali saja" tanyanya membuatku shock. Inikah yang namanya serangan psikis terbalik.


"Emm.... Ha ha ha...." tawaku sengaja. Dia menatapku lama, berkali-kali menaikkan alis tebalnya.


"Kenapa kau tertawa???" tanyanya kesal.


"Ehh... emmmmm.... ha ha ha... Maaaf... Maaf Kak kau sangat lucu jika dilihat dari dekat. Sama sekali tak terlihat tampan. Mungkin juga karena kau tak punya rambut ha ha ha....." ejekku tapi memang kenyataannya seperti itu.


"Diamlah. Kau sengaja membuatku kesal kan, supaya aku bisa melepasmu. Jangan harap" katanya tegas tapi mau gimana lagi aku tetap tak bisa menahan tawa melihat bentuk bundar wajahnya. 11 12 mirip Upin Ipin ha ha ha....


"Kak... kau mau apa???" kataku reflek menahan dadanya terkejut tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya.


"Menciummu...." bisiknya membuatku sekali lagi shock.


"Tunggu.... Kak aku perlu ke kamar mandi. Ahhh.... awwwww... perutku sakit... Duttt.... duttt dutttt....." elakku sengaja buang angin didepannya.


"Sherinnnnnnnnnnnn..... Kau sengaja kan??? Kentutmu sangat bau.... hoek....." teriaknya kesal menjauh dariku sambil menutup hidung.


"Oopppsss... Ma..af... sudah kubilang perutku sakit. Ahhh... awww.... Dutttt...." ucapku beracting seperti orang kebelet BAB. Lihatlah apa kali ini strategi melarikan diriku akan berhasil.


"Jangan lagi.... Sana cepat ke kamar mandi" teriaknya masih menutup hidung.


Segera saja aku berlari ke kamar mandi.


"Kakak airnya tak mau keluar" teriakku menjalankan rencana lanjutan.


"Masa sih??? tunggu diluar, biar kuperiksa" katanya tegas tanpa curiga.


BRAKKKKK..... Segera kukunci pintu kamar mandi.


"Mong Mong apa yang kau lakukan???? Buka pintunya!!!! Jika tidak aku akan menangkapmu dengan tanganku sendiri dan lihatlah apa kau akan menyesal nanti. Sherinnn...... Buka sekarang..... Sherinnnnnnnnnnnn....." teriak marah kak Rey yang terkurung dikamar mandi menggedor pintu sampai bergetar.


"Omo Omo Omo.... Kakak...... Atuttttt...., baik baik disana. Karena kak Rey suka kebersihan maka berendamlah dulu sampai bantuan datang oke.... Jangan mainan sabun nanti bisa habis ha ha ha.... Sherinn pergi dulu.... Bye darling ha ha ha...." ejekku tertawa segera berlari ke arah jendela jalan masukku tadi.


"Sherinnnnnnnnnnnn..... awas kau!!!" teriak kak Rey mengancam.


"Dudududu.... Salah sendiri bilang kalau kau suka gadis yang nakal, jail dan ceria tambah satu lagi licik ha ha ha" kataku senang berhasil mengerjai orang lagi.


Dengan mengendap-endap, aku berusaha keluar dari rumah Om Gunanto. Hampir saja ketahuan Tante Mey yang baru pulang dari berbelanja. Tak sengaja Nia menatap ke persembunyianku. Dengan isyarat aku menyuruh Nia keluar sebentar.


"Nia,, apa yang kamu lihat??? Apa Rian balik ke rumah???" tanya Tante curiga.


"Bukan kok Bu. Oh ya... sepertinya ada yang kelupaan coba Nia cek dulu di mobil. Ibu bisa masuk duluan" kata Nia mengerti isyaratku.


"Ya udah sana. Perasaan ibu juga tadi ada yang kelupaan. Kalau sudah masuk jangan lama lama. Calon Temanten nggak boleh berkeliaran lama lama diluar rumah, pamali" jelas Tante Mey.


"Sherinn.... sudah aman cepetan" kata Nia pelan memberi aba-aba. Segera saja kami keluar ketempat mobilku terparkir.


"Gila lu Sher, mau ancur tuh muka kalau ketahuan Ibu" teriak Nia kesal.


"Nia gue kangen sama lu???" kataku memeluk Nia lama.


"Gue juga kangen sama lu Sher hiks hiks" jawabnya gantian memelukku terharu.


"Jangan ngomong disini. Masuk ke mobil aja, oke. Pip... Pip..." kataku segera membuka mobil.


"Gila lu Sher, mobil baru lagi nih??? kemarin Aston sekarang Ferrari, abis ngerampok dimana lu???" kata Nia semangat.


"Abis ngerampok punya bibi gue ha ha ha... Lagian juga mobil biru punya gue kan lu pinjem sebulan. Udah dikasih kunci sama surat suratnya kan??" tanyaku memastikan.


"Iya udah tapi semua pada heboh. Gimana lu udah siap beneran nikah sama si Rey itu??? Apa mau dibatalin nih?? kalau dilihat-lihat lu gak ada persiapan sama sekali" tanya Nia heran.


"Ha ha ha... maksudnya harus ribet gitu. Gue mau tanya sama lu. Orang nikah tu yang dibutuhkan apa???" tanyaku balik.


"Banyak lah, uang, akomodasi, tempat tinggal, gedung, catering, salon, gaun, masih banyak lagi lah. Yang jelas dipingit nggak boleh kemana-mana. Gue aja sampai bosen. Lu enak kelayapan mulu" jawab nia membuatku tersenyum.


"Kalau gue nikah tu yang penting ada cowoknya, penghulu, ijab qobul, dan mahar seadanya. Udah cukup. Masalah gaun tinggal aja pake gaun yang punya, gedung siapa juga yang mau gue undang, catering karena nggak ada yang diundang abis ijab langsung aja otewe ke restoran pesen makan dan bayar sendiri ha ha ha... Yang penting tu resepsi lu sama kak Rian aja. Gue gak suka yang terlalu wah...." jelasku.


"Ni anak emang sarap yak. Jadi lu nggak ngapa-ngapain??? Nggak ada acara apa gitu dirumah??? Bukannya nyokap lu udah nyiapin semuanya??" tanya Nia heran.


"Yah mau gimana lagi... anak yatim piatu nggak ada yang ngurus... Udah.... Tenang aja... Gue kasih tau nih ya, dengerin jangan tanya lagi oke. Nyokap gue udah meninggal lama, dia bukan nyokap gue" jawabku malas.


"Jadi.... Sherinnn... yang sabar ya!!! Gue temenin lu ya, sekarang lu tinggal dimana???" tanya nia khawatir.


"Udah.... kenapa jadi melow gini sih. Jangan khawatir, gue baik baik aja. Lu balik gi sana, ntar Tante nyariin" kataku memaksa Nia segera balik.


"Kok Tante sih??? Lu kan bisa panggil ibu juga" kata Nia sedikit tak enak.


"Belum waktunya he he he... udah sana. Good luck Nia... love love youuuu... Dahh....." kataku menatap lama kepergian Nia.


Daggg.... tangan besar dan kekar memaksaku naik ke mobil dan mengunci pintunya dari luar. Lelaki entah siapa itu, memakai masker hitam.


"Penculikan???" tanyaku sendiri.


"Pakai sabuk pengamannya dan diamlah!!!" ucapnya serasa sangat familiar.


"Sayank... sudah kubilang kan kau tak bisa lepas dariku" kata orang itu dan ternyata tak jauh jauh kak Rey bisa menangkapku lagi.


"Aaa ahhhhhhhh.... Kak Rey" jawabku lesu.


"Kenapa ekspresimu seperti itu??? Kau memang harus dihukum karena berani mengurungku. Lihatlah apa hukuman yang pantas buat pembangkang sepertimu" katanya segera melajukan mobil entah kemana.


"Kak... kita mau kemana??"


"Kemana lagi kalau bukan ke tempat yang seharusnya" katanya membuatku bingung.


"Seharusnya ya aku pulang ke rumah dan seharusnya lagi kau tak boleh bersamaku sampai hari H ya kan???" jawabku santai.


"Dasar bodoh, kapan kau akan sedikit pintar sih. Duduk dan diamlah. Satu lagi karena kau lagi dihukum maka tutup mulutmu. Kau hanya perlu mematuhi kata kataku. Mengerti???" pintanya sangat memaksa.


"Hnnn..."


"Jawab!!!"


"Iya ngerti. Astaga bawel banget sih ni cowok kalau udah nikah apa iya aku bakalan tunduk patuh sendiko dawuh sama kak Rey???" gumamku kesal. Dia hanya tersenyum sesekali melihat kearahku.


Tak lama akhirnya sampai ditujuan. Bukan rumahku tapi griya boutique muslimah.


"Kenapa kesini???" kataku bingung.


"Mau makan sayank..." jawabnya bercanda.


"Kak seriusan...."


"Astaga gadis polos ini... ikut aja!!!" katanya penuh senyuman tipu daya menarik tanganku paksa.


"Selamat datang. Ohh... Suatu kehormatan. Tuan Reynan, pesanan anda sudah kami siapkan. Apa gaun ini untuk gadis dibelakang Anda??" kata pemilik boutique dengan senyum ramahnya menatap ke arahku.


"Kak Rubby tau aja. Kelihatan ya???" jawab kak Rey begitu akrab.


"Kalau dilihat kakak ini sangat cantik, lembut dan dewasa. Apalagi cara menatapnya seperti tatapan wanita yang menyukai seorang pria. Meskipun usianya kutaksir sekitar 40an tapi terlihat banget dia rajin ke salon jadi nggak keliatan tua banget. Ayolah Sherin, apa kau cemburu dengan Tante ini tapi kenapa juga kak Rey memanggilnya Kakak???" batinku kesal sendiri.


"Dia sangat imut dan manis. Ternyata adik tersayangmu seperti ini" kata Rubby pemilik boutique ini membuatku panas.


"Sudah kuduga ada udang dibalik bakwan. Padahal dia sudah tau kalau laki-laki ini calon suamiku. Masih aja digoda. Astaga... ada apa dengan senyuman diwajah kak Rey, apa dia juga menyukainya???" gerutuku kesal sendiri.


"Kak Rubby memang perhatian sampai gadiskupun tak luput dari pengamatanmu. Boleh liat gaunnya sekarang??" tanya kak Rey tersenyum ramah kepadanya. Aku sama sekali tidak menyukainya.


"Cihh... Dasar buaya. Udah dapet mangsa masih cari mangsa. Niat banget" gerutuku sekali lagi mengejeknya dari belakang. Kak Rey menoleh kearahku dengan tatapan tajamnya.


"Aku tunggu disini saja. Sana... nikmati waktu kalian berdua" bisikku sengaja memberinya kesempatan.


"Apa kau serius??? Nggak nyesel???" kata kak Rey terlihat agak kesal dan mengisyaratkan kalau aku tak ikut kedalam maka dia akan membunuhku.


"Hmmmm... Baiklah baiklah. Akan ku temani" jawabku merasa seperti masuk kedalam jebakannya.


Kamipun masuk ke dalam ruangan yang lumayan besar dan terlihat sekali desain tata ruangan ini sangat klasik. Banyak ornamen ornamen ukiran khas Jepara di tiang tiang penyangga juga disekat sekat tiap ruangan. Unsur jawanya sangat kental sekali.


"Kakak ini sepertinya dari Jawa dan pecinta seni. Makanya Tutur bahasanya sangat halus. Apa iya kak Rey tak tertarik dengannya???" kataku berpikir keras.

__ADS_1


"Sherin.... Sherinn...."


"Apa nona ini tidak menyukai gaunnya ya??" tanyanya menyadarkanku dari lamunan.


"Ohhh... maaf... Apa kakak berbicara dengan saya???" tanyaku entah apa yang dia ucapkan tadi.


Takkk.... Kak Rey sengaja menyentil dahiku.


"Ahhh awww.... sakit tau" teriakku kesal.


"Makanya kalau orang ngomong tu didengerin" jawabnya malah marah marah.


"Iya iya. Apa kak, maaf lagi gak konsen" jawabku masih memegang dahi.


"Lihatlah gaunnya, apa ada yang tidak sesuai seleramu dik??" tanyanya sok akrab. Sejak kapan aku jadi adiknya.


"Gaunnya sangat cantik. Perfect" jawabku tersenyum.


"Ogah deh kalau disuruh pakai gaun ini. Gerah kali, apalagi terlalu feminim, bukan gayaku" batinku meracau sendiri.


"Cobalah!!!" kata kak Rey membuatku kaget.


"Aku???" tanyaku tak percaya.


"Iya dik, cobalah. Reynan khusus memesannya untuk adiknya tersayang. Cobalah" kata si Rubby dengan pedenya.


"Adik???? Tersayang??? Astaga imut banget diriku sampai dikira adiknya ckckck...." gumamku berjalan keruang ganti.


"Sialan tu kak Rey, berani bilang kalau aku adiknya. Sengaja banget. Ahhh.... Mana gaunnya girly banget sih... Ini buatku??? mimpi apa sampai dikasih gaun beginian. Jangan jangan ini gaun pengantin tapi desainnya lebih ke casual daripada formal. Apa kak Rey, sengaja memesannya disesuaikan dengan karakterku??? Haruskah aku berterima kasih??? Tapi ini masih terlihat feminim. Aku malu...." gumamku entah sudah berapa lama didalam ruang ganti ini.


"Sherinnn... kau ganti baju apa tidur disana???" teriak kak Rey tak sabaran. Namanya juga cewek dandan juga butuh waktu lama kali.


"Kau sungguh sangat tidak sabaran. Apa kau beneran segitu sukanya sama dia???" tanya si Rubby sengaja mengeraskan suaranya.


"Buka tirainya!!!" perintah si Rubby ke pegawainya.


"Menghilang????" kata kak Rey spontan.


"Kau sangat cantik dik. Kenapa kau bersembunyi disana??" tanya Rubby sengaja memperlakukanku.


"Mong Mong, apa kau tak ingin memperlihatkannya padaku?? Apa aku perlu kesana???" kata kak Rey lembut tapi penuh ancaman.


"Tak perlu... tak perlu aku akan keluar.... he he he" kataku ingin menangis. Beginilah rasa malu didepan laki-laki. Kenapa jantungku berdegup kencang sekali rasanya mau pingsan. Dengan kepala tertunduk aku berdiri tepat didepannya seperti model yang siap diamati, dikritisi dan dipuji.


"Lihatlah keatas!!" pintanya. Kudongakkan kepalaku menatap langit-langit.


Kak Rey berjalan mendekat kearahku. Jantungku semakin lama semakin kencang. Kenapa bisa seperti ini??? Dia orang yang sama, kenapa hari ini otakku tak bisa secerdas biasanya. Kenapa harus begitu bodoh.


"Sayank, maksudku lihatlah aku, bukan keatas langit-langit. Apa kau sengaja menggodaku??" bisiknya sangat lembut membuat sekujur tubuhku merinding.


"Kakak, ini bukan caramu. Bisakah kau seperti biasa??? Sedikit normal" bisikku balik. Tak ada sepatah katapun yang keluar setelahnya hanya senyuman. Entah niat licik apa lagi yang dia pikirkan.


"Bukankah seharusnya ada lima gaun yang harus dicobanya, kak Rubby??" kata kak Rey sontak membuatku membulatkan mata lebar-lebar.


"Lima????"


"Iya dik, lima. Kau sungguh beruntung memiliki kakak yang begitu baik dan perhatian. Aku iri padamu. Segera ambilkan gaun yang lainnya" perintah kak Rubby tersenyum kecut.


"Kak Rey, tak perlu dicoba ya??? Bukankah hasilnya akan sama. Bukankah kau sibuk??" kataku berharap dia akan luluh.


"Waktuku sangat banyak sayank. Untukmu kapanpun itu. Jadi baik baiklah padaku. Pergilah kesana dan ganti dengan gaun yang lain" kata kak Rey mendorong lembut.


"Kak...." kataku memelas.


"Ssutttt.... sana sana!!!"


"Ehhhhh...." kuhela nafas kasar. Dia sengaja melakukan ini padaku. Aku bukan wanita yang normal. Mencoba gaun, berbelanja, berias seperti ini sungguh bukan gayaku.


"Cantik... terlihat lebih natural"


"Ganti..."


"Yang ini terlihat lebih cerah dan sangat dewasa. Aku menyukainya. Ganti gaun yang satunya lagi"


"Dari ketiga gaun tadi, ini lebih terlihat imut. Ternyata kau sangat mengerti keinginanku kak Rubby. Next...."


"Woowwww.... surprise bisa melihat gadisku memakai gaun dipadukan kegagahan loreng pada gaunnya. Sentuhan yang sangat halus dan tidak bertabrakan pola juga alurnya. Kau memang yang terbaik Rubby. Next...."


"Lihat saja, apa aku akan memakainya atau tidak semua terserah padaku. Ahhhhh... kenapa dengan hariku??? Kenapa juga dengan gaun dan sepatu ini???" umpatku kesal menatap dingin kak Rey yang tertawa bahagia bersama Rubby centil.


"Kau mau kemana???" tanya kak Rey menarik tanganku.


"Keluar cari nafas kehidupan" kataku ketus.


"Jangan berniat melarikan diri kalau tidak..."


"Iya iya aku tau. Selesaikan urusanmu dengannya cepat" kataku segera keluar tanpa menoleh kearahnya.


"Laper.... krukk.. krukkk... Astaga kenapa perut ikutan demo sih???" gerutuku kesal sendiri.


"Sherinnn.... Benarkah kau Sherinnn???" tanya seorang pria tampan dan sangat lembut. Bukan seperti pria kebanyakan. Aku mengernyitkan dahi mengingat-ingatnya.


"Alfandi Prasetya, Kakaknya Ira. Masak udah lupa sih???" katanya membuatku mengingat.


"Oh... kak Al. Iya aku ingat. Gimana kabar Ira??? Kok Kak Al bisa disini??" tanyaku sebenarnya malas juga sih kalau bukan hanya basa basi. Ternyata si playboy itu. Sampul buku dan isinya sangat berbeda. Matamu benar-benar rabun kali ini Sherin... Sherin...


"Ira baik. Dia masuk ke fakultas kedokteran di UI. Kamu sendiri???" tanyanya.


"Ohhh... aku. Ha ha ha... Aku masuk jurusan rumah tangga di fakultas KUA" jawabku enteng.


"Fakultas apa itu, kok aku baru dengar??" jawabnya ternyata mudah dibodohi.


"Ada, Fakultas dan jurusan yang sangat khusus, kuliahnya seumur hidup. Kakak mungkin kau belum cukup umur, jadi percuma juga kujelaskan. Udah dulu ya kak, salam buat Ira" kataku segera masuk kedalam supaya tak semakin panjang ceritanya.


"Ohhh oke... hati hati" jawabnya.


"Lama bener sih kak Rey. Demen banget buat orang tersiksa" umpatku cemberut.


"Terima kasih ya kak Rubby sayang. Jangan lupa pesananku yang satu itu. Oke" kata kak Rey ternyata sudah tanpa malu mengungkapkan rasa sayangnya didepanku.


"Tenang saja. Apapun untukmu Reynan sayang" jawabnya lebih tak tau malu lagi.


"Berikan kuncinya??" kataku ketus.


"Masuklah, aku akan mengantarmu pulang" pintaku segera membukakan pintu mobil. Rasanya seakan dadaku mau meledak.


"Segampang itukah dia memanggil setiap wanita dengan sebutan sayang??? katanya cuma aku wanitanya, gadisnya, tapi semua hanya omdo saja. Sebel sebel sebel" jeritku meracau dalam hati tapi tetap biasa didepannya.


Sekarang mobilku penuh dengan kotak berisi gaun dan sepatu serta aksesoris dari boutique pacarnya. Ini gila, sangat gila. Apa harus sampai seperti ini???


"Kau duduk di kursi penumpang!!!" kata kak Rey agak kasar.


"Tidak mau. Aku yang menyetir. Tenang saja aku akan mengantarmu dengan selamat sampai dirumah" sahutku langsung saja kak Rey menggendongku pindah ke kursi penumpang.


"Kak... apa apaan ini. Turunkan aku"


"Diamlah, sudah kubilang kau harus patuh" katanya membetulkan sabuk pengaman. Wajah kami hampir saling bersentuhan. Dadaku semakin sesak. Nafasku mulai tidak stabil.


"Aku bisa sendiri" kataku mendorongnya menjauh hingga menatap langit-langit mobil.


"Apa kau gugup??? Apa jantungmu berdetak kencang dan dadamu terasa sesak???" bisiknya membuatku mati kutu.


"Ahhh.... Ha ha ha... mana ada. Hanya saja, ini terlalu dekat dan tak nyaman" jawabku tergagap gagap. Kak Rey tersenyum penuh arti. Entah apa yang dia pikirkan. Sulit sekali menebaknya.


"Kita pulang sekarang, oke" pintaku kelelahan.


"Setuju" dia menyetujuinya secepat itu??? perasaanku benar-benar tak enak. Apa lagi yang kak Rey rencanakan. Tak mungkin kan dia mau menginap di rumahku??? ini gila????


"Siapa cowok tadi???" tanyanya mulai menyelidik.


"Kakaknya Ira temenku" jawabku singkat.


"Ohhh..." jawabnya hanya bilang ohh. Mulai tak beres nih.


"Apa dia menyukaimu???" tanyanya membuatku kaget.


"Hahhh... kenapa juga setiap cowok harus menyukaiku. Nggak ada kerjaan apa. Ohh ya, jangan lupa gaunnya ntar bawa pulang lagi" kataku tak kalah menyindir.


"Gaun itu punyamu. Kau harus memakainya waktu acara pernikahan" kata kak Rey memaksa.


"Punyaku??? Memakainya??? Astaga jika kakak memaksanyapun aku tak mau memakainya" jawabku tegas.


"Bukankah tadi kau sudah mencobanya sayank" ejek kak Rey.


"Tadi aku hanya mencobanya saja bukan memakainya oke. Itupun kau yang memaksa" kataku mencari alasan.


"Pokoknya kau harus memakainya. Kalau tidak kuanggap kau sedang cemburu pada Rubby. Tebakanku benar kan??" ucapnya tak tahu malu.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau cemburu. Emang nggak boleh. Negara aja nggak ngelarang kok" jawabku bersemangat.


"Aku suka jawabanmu. Teruslah cemburu padaku" katanya semakin membuatku terperosok kedalam jebakannya.


"Kutarik kata kataku. Aku tidak cemburu hanya saja tak suka" jawabku mencari alasan lainnya.


"Aku juga suka jawabanmu yang ini. Jika kau tak suka padanya berarti kau sangat mencintaiku kan sayank" jawab kak Rey semakin menggila.


"Arghhhhhh.... bukan itu" elakku.


"Sudahlah. Kalau cemburu bilang cemburu. Kalau tak suka bilang tak suka. Kalau marah ya marah saja. Kau sangat imut kalau lagi kesal ha ha ha" godanya.


"Astaga, lebih mudah bicara dengan manusia purba daripada dengan cowok buta hati, mata dan telinga" gerutuku pelan.


"Siapa yang buta???"


"Hahhhh... Kau yang buta. Sudah tau aku tak suka, marah dan cemburu tapi masih saja Kakak lengket, lembut dan mesra dengannya. Apa sudah puas" teriakku kesal. Dia hanya tertawa. Oh Tuhan sebenarnya hatinya terbuat dari apa sih??.


"Ini kartu namanya, jangan kesal lagi ya sayank" kata kak Rey mulai lembut.


"Rubby Wirasti Gunanto" kataku berpikir.


"Jangan jangan.... Kenapa ada gunantonya???" kataku seakan masih mencari.


"Dasar gadis bodoh. Dia adik bungsu Papa. Usianya masih 35 tahun. Meskipun begitu dia paling benci dipanggil Tante makanya aku panggil dia kakak. Sudah tak kesal lagi???" jelasnya malah membuatku semakin malu.


"Apa lihat lihat??? Kemudikan mobilnya dengan benar. Jangan menatapku seperti itu!!!" teriakku menyembunyikan rasa malu yang teramat.


"Kenapa sayank, kau terlihat malu" ejeknya.


"Diamlah.... Bagaimana aku masih punya muka jika bertemu dengannya lagi" gumamku lesu.


"Kak Rubby bilang kau manis dan imut tapi..."


"Tapi apa???"


"Tapi kau galak ha ha ha"


"Ahhhh... tamat sudah... lupakanlah. Aku tak mau menikah denganmu..."


"Sayank, kau tak serius kan???"


"Tentu saja aku serius... tunggulah sampai kukumpulkan mukaku lagi yang berserakan" jawabku lesu.


"Mukamu masih utuh kok. Ayolah kak Rubby hanya bercanda. Jangan dimasukkan ke hati" kata kak Rey sengaja mempermainkanku.


"Bercanda bahkan kalau bercanda dia masih akan tertawa. Apa kakak tak melihatnya tadi dia malah membuatku jealous, marah bukankah itu sudah membuatku jelek dimatanya. Kalau ibumu sampai tahu bukankah aku hanya akan menjadi bahan tertawaan keluargamu" Jelasku lesu. Kak Rey menepikan mobil.


"Sayank... dimana rasa percaya dirimu. Biarpun kau jelek dimata mereka tapi dimataku kau begitu sempurna. Ayolah... jangan merajuk lagi.... Lihatlah apa kau akan membiarkan pangeranmu menikah tanpa seorang mempelai wanita??? Sayank.... Mong Mong.... jangan marah lagi.... Senyum" kata kata yang begitu murahan buat merayu wanita.


"Oke baiklah. Tapi kakak harus memberiku kompensasi. Setuju???" tanyaku.


"Oke" jawabnya tanpa menanyakan tujuanku.


Kruk krukk....


"Kak laper, bisakah kau tak banyak bicara dan cepat pulang kerumah" teriakku marah.


"Ha ha ha ternyata kau bisa sangat marah kalau kau lapar ya. Oke oke kita pulang sekarang" jawabnya segera melajukan mobilnya lagi.


"Mong..."


"Apa???"


"Cuma manggil doang"


"Kak bisa diem tidak. Kau membuatku semakin lapar Krukk... krukkk..."


"Suara perutmu membuatku tak konsen ha ha ha"


"Diamlah... menyetirlah dengan benar...."


"Mong...."


"Aufregend, dasar bawel; bahasa Jerman"


"Kau mengumpatku ya"


"Tidak... hanya asal bicara"


"Anata wa orokana orokamono ha ha ha, Dasar bodoh mau aja dibohongi; bahasa Jepang"


"Kau sengaja mengumpat ya kan, awas kau"


"Kak lihat jalan awas ada motor didepan"


"Sudah tau"


"Awas kak ada mobil" teriakku sengaja menggodanya.


"Kalau bukan mobil apa ya kereta yang lewat jalan raya"


"Cewek cantik kak, beneran putih mulus dan smokelay..."


"Kau pikir aku buta, sapi perah begitu kau bilang cantik. Bagaimana kalau aku memerahmu saja"


"Lupakan.. nggak lucu tau"


"Mong Mong..."


"Kubilang diamlah kalau tidak akan kurendang"


"Tendang kali ha ha ha"


"Maksa banget sih..."


"Kalau nggak mau dipaksa mending mapan"


"Astaga pria ini, kakak...."


"Sayank kamu tau nggak asal mula panggilan ay dan Beb??"


"Nggak tau, fokus saja nyetirnya jangan buat ketawa lagi hiks hiks hiks"


"Beneran ini aku tanya"


"Nggak tau"


"Dengarkan ya, ayam disingkat ay kalau bebek disingkat Beb. Jadi kalau bebek ketemu ayam panggilnya gimana???"


"Hallo Beb, hallo ay.... ha ha ha...."


"Kak Reyyyyyyyy...."


"Sumpah kalau gue ketawa sekali lagi bisa tossa..."


"Dosa kak Rey dosa.... Hahhhhh"


"Sayank..."


"Apa lagi, perutku sudah laper masih disuruh ketawa lagi hiks hiks hiks..."


"Suara bebek gimana???"


"Kwekk kwekk"


"Suara ayam potong"


"Kok kok"


"Kamu salah"


"Suara ayam dipotong itu bilangnya pekok pekok pekok, kalau bebek ketemu ayam potong apa gak rame tuh... pekok pekok pekok.... kwekk kwekk kwekk... ha ha ha..."


"Astaga suamiku lebih gila dari yang kukira huaahhahhahaah.... Kak Rey sudah ampun aku laper banget jangan bercanda lagi hiks hiks...."


"Oke oke... masih ada satu lagi loh yank. Bagaimana kalau paha ketemu sayap..."


"Nggak tau... nggak mau tahu... Laperrrr... laperrrr...."


"Hallo pahhhh.... iya sayyy. Pah lu digoreng apa direbus... Gue direbus sayyyy baru digoreng. Kalau lu sayy, gue dicrispy sayyy.... Ha ha ha.... Kalau kamu diapakan yank???"


"Mau makan kamu...."


"Ha ha ha...... Baik baik disana ya Pah ayyy tunggulah bentar lagi kalian jadi santapan istriku huahaaaaahahahah"


"Kak Reyyyyyyyy......"

__ADS_1


__ADS_2