
Reynan Gunanto
"Anjing, kucing dimengerti. Tetap waspada!! Kijang monyet kearah jam dua lindungi sandera!!" perintahku tegas.
"Tunggulah Mong Mong, bertahanlah!!" gumamku berharap tak terjadi sesuatu yang buruk.
"Panda, tikus memegang belati diarah jam Sembilan!!" kata monyet memberi arah harus bagaimana melangkah.
"Tahan!! Kucing masuk perlahan ke kiri anjing kau sebelah kanan" kataku sekali lagi memberi arah. Aku tak mau salah langkah karena orang yang aku sayang berada dalam bahaya karena ulah kakakku yang sudah benar-benar gila.
Flashback
"Kau mau kemana, Rey?" tanya Rendy khawatir.
"Aku harus melakukan misi ini sendiri karena ini urusan pribadi" Jelasku.
"Rey kita susah senang bersama sejak dulu. Tak berartikah bagimu?? Kita saudara. Satu tersakiti maka kita semua ikut sakit. Anjing, kucing, kijang, kalian ikut??" tanya Rendy pada mereka.
"Siap sersan. Kami ikut laksanakan" jawab mereka serempak.
"Katakan perintahmu, Panda!! siap kami laksanakan!!" kata Rendy tanpa ragu-ragu. Aku benar-benar terharu dengan kesetiakawanan mereka padaku.
"Baiklah terima kasih kawanku semua. Monyet kau kesekolahan tangkap dan cari tau kemana tikus membawa Mong Mong pergi. Anjing kucing cari rute tercepat dan pelajari jalur mana yang paling aman kita lewati. Kijang dan Panda mencari data sebanyak banyaknya komplotan mereka. Setelah monyet selesai dengan misinya kita langsung melakukan perburuan. Mengerti!!" kataku tegas.
"Mengerti kapten. Laksanakan" jawab mereka serempak.
"Misi ini bersifat pribadi. Tak ada penghargaan. Jika kalian ingin mundur maka mundurlah sekarang!!" pintaku berharap mereka mengambil keputusan yang tepat.
"Tidak kapten. Kami siap berburu" jawab mereka kompak.
"Bubar. Laksanakan!!" kataku bergegas mencari data gerombolan mereka.
Ternyata benar dugaanku. Demi memuluskan aksinya Rian bekerja sama dengan Donita dan anak buahnya. Pertukaran yang saling menguntungkan bagi mereka. Tapi tidak denganku. Aku akan berjuang menyelamatkan gadisku dan martabat keluarga Gunanto.
"Misi selesai" kata monyet berhasil mendapatkan yang kita harapkan.
"monyet, kijang, anjing, dan kucing segera bergerak 50 km ke arah matahari terbenam. Tetap waspada. Ada sekitar 30 orang berjaga yang tersebar dititik titik vital" Jelasku singkat.
"Siap. Panda. Laksanakan!!" jawab mereka kompak.
Kamipun memasuki sebuah perkebunan karet milik keluarga Donita. Banyak sekali yang berjaga. Tidak seperti biasanya. Keluarga Donita adalah salah satu orang berpengaruh dalam dunia usaha dan juga dunia hitam. hanya saja aku tak punya kuasa untuk menyelidikinya lebih lanjut. Tak mau mengulur waktu Kulumpuhkan satu persatu penjaga itu. hingga kami bisa masuk lebih dalam lagi.
"Kucing anjing cari posisi sandera dan tikus" kataku memberi perintah.
"Siap panda" jawab mereka. Tak berapa lama dari atas pohon tempat kami bersembunyi, mereka melihat Mong Mong ditarik paksa tikus kedalam gubuk kecil ditengah perkebunan itu.
Flashback off
"Anjing kucing sekarang, kami akan melindungimu. Ingat tikus punya kelainan mental. Jangan sampai sandera terluka!!" kataku memperingati mereka tentang penyakit Rian. Jika sampai dia terprovokasi maka tenaga Rian akan bertambah 3x lebih kuat dari sebelumnya bahkan bisa lebih.
Kreekkk...
Rian bukan orang sembarangan. Dia tak bisa diremehkan. Dia menguasai MCMAP yaitu seni beladiri yang merupakan teknik campuran karate Okinawa, judo, tae Kwon do, kungfu, tinju dan jujutsu.
BRAKKKKK.... slappp..... woshhhh.... KRAKKK.... Dampppp..... Buggggg....
__ADS_1
Dengan sekali pukulan anjing terkapar di tanah. Kucing mencoba menghalangi serangan Rian yang bertubi-tubi.
"Rian hentikan. Aku lawanmu!!" teriakku mengalihkan konsentrasinya.
"Ternyata si pengecut datang juga. Baguslah. Tak perlu waktu lama untuk menghabisimu" katanya mengejek.
"Kemarilah, Jangan cuma jago kandang kamu!" kataku sedikit memprovokasinya.
"Cuihhh. Bersiaplah kau Rey. Tunggulah kematianmu!!!" gertaknya dengan sorot mata tajam seakan dirinya sudah dikuasai setan.
Mungkin inilah yang ditakutkan ibuku jika kami bertemu. Rian akan semakin bringas saat bertemu denganku lagi. Tapi aku bukanlah Rey yang dulu. Aku sekarang lebih kuat dan berani.
Bag big bug. Dashhhh.... Crushhh...
Setiap pukulan Rian selalu bisa kupatahkan. Tapi untuk menyerangnya kembali sungguh tak mudah.
"Sial gerakannya begitu cepat. Aku harus fokus. Rey kau pasti bisa" pikirku disela-sela menghindari setiap pukulan dan tendangannya.
Bag big buggggg Dashhhh...
Kupukul perutnya namun berhasil dihindarinya. Dia mencoba memukul tepat didepan wajahku, segera aku menundukkan kepalaku kebelakang menghindarinya. Kutendang lututnya. Berhasil membuatnya hampir jatuh namun dia bisa bangkit lagi.
"Boleh juga kau brengsek. Aku akan segera mengakhirinya" teriaknya mengeluarkan benda tajam mirip kipas besi tapi kecil. Benda itu berhasil menyayat tanganku. Darah segar keluar dari lukaku.
"Kak Rey, hati hati" teriak Mong Mong membangkitkan semangatku.
"Kak rendy, kak kau tak apa???" kata Mong membantu temanku ketempat aman.
Monyet dan kijang berusaha membantuku. Tapi mereka berhasil dikalahkan oleh Rian yang sudah kerasukan jiwa kotornya.
"Hanya segitu kemampuanmu pecundang!!" katanya berusaha memprovokasiku.
"Dasar kau brengsek Rian" teriakku berusaha bangkit dan menyerangnya kembali.
Pukulan dan tendangan bergantian sangat cepat mengenai dada, perut, dan punggungku.
Baggggg biggggg bugggggg Slasshhhhhh.......
Aku terkapar di tanah berlumuran darah.
"Rey bangkitlah, kau tak boleh kalah" kataku mencoba bangkit tapi luka ini terlalu parah. Kenapa aku bisa selemah ini.
"Tidak... aku tak boleh menyerah"
"Kak Rey. Bertahanlah!!" Mong Mong berlari ke arahku. Berusaha memegangku kepalaku yang berlumuran darah dipangkuannya.
"Kak Rey, Bertahanlah hiks hiks hiks... Kau pasti kuat!!! Aku tak kan memaafkanmu jika kau pergi sekarang!!! Selamanya aku takkan memaafkanmu. Kakak jika kau mau menikah denganku kau hanya harus bertahan!!!" teriaknya frustasi padaku.
Kuelus pipinya dengan tanganku yang berlumuran darah.
"Mong Mong larilah!!! Kau harus pergi sekarang atau kau takkan bisa lepas darinya" teriakku lemah menyuruhnya segera pergi. Kalau bukan karena Rian berbuat licik dan melukaiku dengan senjata rahasianya mungkin kami bisa menang melawannya. bahkan semua kawanku tergeletak di tanah tak berdaya. Semua Rian yang melakukannya sendiri. Sebenarnya dia iblis atau apa??? Kenapa kekuatannya sangat besar.
"Kakak dengarkan!!! Aku takkan meninggalkanmu. Jadi Bertahanlah!!!" teriaknya padaku penuh harap. Aku benar-benar tak sanggup melihatnya menitikkan air mata. Sakit sekali.
"Sudah drama romantisnya. Sherin kau adalah milikku dan selamanya kau tetap milikku!!! kemarilah kucing manis" teriaknya lantang.
__ADS_1
"Aku bukan milik siapa siapa. Dan ingat kau tak pantas untuk hidup jika kau seperti ini. Dasar kau b******n!!!" teriakku marah.
"Kucing manisku berubah liar. Cckkk. Kau mau melawanku. Apa kau tak lihat mereka bahkan tentara khusus saja bisa kalah hanya dengan tanganku. Manis.... Ayolah.... heyyy jangan bermain-main dengan emosiku.... Dengarlah.... Jika aku tak bisa mendapatkanmu maka orang lainpun takkan bisa. Jika itu maumu maka aku akan membunuhmu terlebih dahulu. Mungkin jika kau sudah menjadi mayat maka kau takkan memberontak lagi padaku" teriaknya mengancam.
"Silahkan. Itu lebih baik daripada aku menjadi budakmu. Kita lihat kau atau aku yang akan menjadi mayat disini" jawabku singkat.
Aku mulai menyerangnya. Kupukul bagian dadanya kemudian kutendang wajahnya. Entah darimana keberanian dan kekuatanku datang. Tenaga ini sangat besar lebih besar daripada yang kukira. Hanya dengan melepas ketakutan akan identitasmu terbongkar aku bisa dengan leluasa mengalahkannya. Tak mudah, tenaga dalam kak Rian sudah melebihi master kungfu. Jika aku tak bisa menemukan kelemahannya maka tamatlah kami semua ditangannya.
BUGGGGG... DAGGGG.... BRAKKK.... Dia terkapar di tanah dan mengeluarkan darah segar di pelipisnya setelah tendanganku berhasil mengenai wajahnya.
"Sial. Ternyata kau tidak bisa diremehkan. Aku pasti mengalahkanmu hey kau kucing liar" teriaknya marah.
"Cukup omong kosong. Kau tak lain hanya seekor nyamuk kecil bagiku" teriakku mempropaganda dirinya.
Diapun mulai gantian menyerangku. Aku berhasil menghindar dari pukulan dan tendangannya.
"Sherin fokuslah!!! Dia hanya nyamuk kecil. Dia tidak kuat. Kamu harus bisa mengalahkannya. Anggap saja kamu sedang bertanding. Menangkan medali emas untuknya. Sherin kamu bisa. Hyaaaaaa" teriakku mulai menyerangnya lagi.
BUGGG TRASHHH DARRRR BRAKKK... SLOSHHHH SWOSSHHHHH....
Kuhujamkankan beberapa pukulan dan tendangan yang mengarah ke kaki, tangan, perut dada dan muka bergantian dan sangat cepat. Semua berhasil dia patahkan. Dia semakin bersemangat bertarung denganku.
"Kekuatan apa ini. Kenapa dia begitu cepat dan menjadi berkali lipat kuatnya. Sherin bertahan!!! Jangan lengah. Temukan titik lemahnya" kataku menyemangati diri sendiri.
Hosh hosh hosh...
Aku berusaha mengatur nafasku. Mencoba bangkit dan mengumpulkan tenaga yang terkuras.
"Kucing liar ternyata kau lincah juga. Ha ha ha... Baru kali ini aku bertemu gadis semenarik dan secantik dirimu. Hehh. Aku benar-benar sudah mabuk cinta karenamu. Brla dirimu sungguh sangat terlatih. Apakah kau bagian dari agen mata mata" ucapnya membuatku terkejut. Bagaimana atau hanya kebetulan saja.
"Jaga mulutmu. Kalau tidak mau itu mulut kubungkam dengan pukulanku. Kau pikir orang dengan beladiri sepertiku bisa lolos jadi agen mata-mata???" teriakku kesal.
"Hahaha... ternyata dugaanku benar. Kau terlihat kesal dengan ucapanku. Ayolah sayang!! Percuma saja bertengkar denganku. Mengaku kalahlah. Aku akan memaafkanmu kali ini" katanya mencoba merayu.
"Jangan harap. Tertawalah selagi kau bisa" kataku meremehkannya.
Kulihat ada rumput beracun dibawah kakiku. Aku tau rumput ini berbahaya. Aku pernah menggunakannya juga saat membantu bibi dilaboratorium. Rumput Hogweed. Tak peduli jika harus tanganku terbakar. Asalkan aku bisa mengalahkan dan menyelamatkan mereka semua.
Aku berusaha menunduk dan mencabut serta melumat rumput beracun ini dengan tanganku. Sangat panas, sensasi terbakar menjalar di setiap urat nadiku. Sherin kau hanya perlu mengarahkan kemukanya.
"Awwww panas... Sherin kau bisa. cepatlah!!!" teriakku berusaha menyerang tepat di mata dan wajahnya. Bag prakk Dag...
"Panas panas. Apa yang kau lakukan!!!" teriaknya kesakitan memegang wajahnya yang sudah meradang karena rumput beracun itu. Akupun segera menyerangnya bertubi-tubi hingga dia tergeletak di tanah dan pingsan.
DUGGGGG..... BRAKKK.... TRASSSSHHH....
Segera ku dekati kak Rey, berusaha membangunkannya.
"Kakak bangunlah!!! Kakak... Kau dengar aku!!! Bangunlah kalau tidak aku akan menikah dengan laki-laki lain!!" ancamku padanya.
Dengan sisa tenaganya dia mencoba meraih Tanganku.
"Dasar bocah nakal. Kenapa dengan tanganmu??? Beraninya kau mengancamku menikah dengan laki-laki lain. Hehh hehhh kau adalah milikku Mong. Ternyata kau sangat kuat sayank..." katanya lemah tapi masih bisa bercanda.
"Aku membencimu. Kau tak boleh mati sekarang!!! Dasar bodoh!!!" teriakku makin kesal.
__ADS_1