
Sherin Wiryoatmadja
Antara kebencian, dendam dan kasihan mana yang harus aku pilih. Memaafkan mereka bisakah??? Jika pun mereka merampas semua milikku bagiku tak apa. Semua itu hanya titipan dari Sang Maha Pemberi.
Tapi jika mereka yang begitu kejam dan tak berperasaan dengan sengaja membunuh satu-satunya orang yang kusayang di dunia ini, apa masih ada belas kasihan untuk mereka.
"Hmm... hmmmm hmmm"
Kudekati dirinya yang terikat dikursi dengan mulut dilakban, sungguh begitu muak dan ingin sekali membuatnya menderita seperti yang mereka lakukan sembilan tahun lalu.
"Bagaimana rasanya diikat, dikurung bahkan kelaparan sepanjang malam. Bukankah itu menyenangkan??" kataku berbisik mengejek di telinganya.
"Hmmm.. mmm.. hmmm" drak drak drak...
"Bukankah seperti kau mengalami de javu, hanya bedanya disini sekarang kaulah korbannya. Hehhh... Jangan kau kira aku seorang gadis kecil, dungu, bodoh tak akan mampu membalas perlakuanmu. Bukankah itu yang kau pikirkan???"
"Dengar baik-baik Kakak tiriku tersayang. Oh bukan... Sekarang aku lupa kalau kau sudah jadi mantan kakak tiriku. Kau kira aku diam karena takut padamu?? ha ha ha Adira Adira, ternyata kau begitu bodoh. Selama ini aku mengumpulkan semua bukti kejahatanmu bersama mereka. Walaupun aku masih belum dewasa secara usia tapi apa kau tidak berpikir bahwa otakku bahkan bisa lebih dewasa dari dirimu" kataku yang sudah tersulut amarah yang begitu dalam padanya dan mereka.
"Kau lapar??? Atau kau ingin uang, jabatan, rumah, perusahaan nenekku??? oh satu lagi rumah sakit yang kau impikan jadi milikmu. Bagaimana?? Sudahkah kau mendapatkannya?? Sherin Sherin kau bodoh atau apa??? Bukankah saat kau mengurungku kemarin di bekas kamar mayat itu Kau sudah mendapatkan sidik jariku. Sekarang saatnya kau wujudkan mimpimu Adira!!! larilah dan buka brankas itu dengan sidik jariku" kukeluarkan kartu sidik jari khusus dan hp yang merekam sidik jariku. Kusimpan itu semua sebagai barang bukti.
"Hmm... mmmm... hmmm" drak drak drak
"Kau ingin bicara??? Belum saatnya sayang kau bicara padaku. Kau cukup menjadi pendengar setiaku. Lihatlah, bagaimana ibumu terkapar seperti mayat hidup karena perbuatanmu. Bukankah kau menyukainya??? Adira... Adira kau memang cerdas malah terlampau cerdas sampai racun yang seharusnya kau suntikkan kepadaku tanpa kau sadari malah kau berikan kepada ibumu tercinta. Bukankah itu suatu yang harus dirayakan karena aku masih hidup. Sungguh hebat kau Adira. plok plok plok..." teriakku senang didepannya.
"Karena aku anak yang baik hati, aku akan beritahu kau rahasiaku. Lihatlah!!" kukeluarkan semua surat berharga, tumpukan surat saham, sertifikat rumah, swalayan, akta kepemilikan dan masih banyak lagi lainnya yang jelas semua aset kepemilikan keluarga Wiryoatmadja.
"Lihatlah Adira!!! Ini bahkan berharga triliunan. Apa kau tertarik??? Ambillah, cepat ambil!!! teriakku meninggikan suaraku.
PLAKKKKK PLAKKKKK PLAKKKKK
__ADS_1
"Awww sakitnya!!! Bagaimana rasanya ditampar??? Kau menyukainya???" ejekku.
"Hmmm... mmmmm..." drak drak drak...
"Akan kuberi tahu kau. Tamparan itu tidak ada apa apanya dengan apa yang sudah kau lakukan kepada nenekku. Kau meracuninya!!!" teriakku sudah tak bisa menahan amarahku lagi.
BRAKKKKK KKKKKKK....
Kutendang kursi yang mengikat adira sehingga dia terjatuh bersama kursi itu. Kuinjakkan kakiku tepat diatas pinggangnya yang masih terikat kursi.
"Hmmm hmmm..." dia menggelengkan kepalanya berusaha menolak perlakuanku.
"Kau takut??? teriaklah!!! Tolong... tolong... ada yang mau membunuhku!!!" teriakku mengejeknya.
"Apa kau pikir aku akan sama sepertimu. Iblis berwujud manusia. Cuihhh... Ingat Adira kau akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu. Kau akan membusuk dipenjara" teriakku tak terkontrol lagi.
"Hmmm...hmmm..."
"hmmm... hmmmm..." kuinjak injak tubuh Adira berkali-kali. Entah apa yang sudah merasuki ku sehingga aku mampu berbuat sejauh itu.
"Sherin... sudah sudah Sherin. Hentikan!!!" cegah kak Yuna supaya aku tak berbuat lebih jauh lagi.
"Kak Yuna huks hiks hiks... Sherin benci mereka. Sherin benar-benar membenci mereka" teriakku menangis di pelukan kak Yuna.
"Sudah Sherin... Kakak tahu perasaanmu. Kau sudah memberi mereka pelajaran. Cukup sudah kau menanggung kesedihan ini. Sebentar lagi polisi datang. Kau tak perlu khawatir lagi adikku. Hiduplah dengan bahagia. Mereka pantas menerimanya. Sudah sudah jangan menangis!!! Tak pantas kau menangis lagi, air matamu terlalu berharga" kata kak Yuna menenangkanku.
"Kak Aldo tolong urus, Adira, ibunya juga pamannya. Serahkan mereka kepada yang berwajib. Aku akan mengantarkan Sherin kekamarnya. Kondisinya tak cukup baik" kata kak Yuna berusaha memapahku kembali ke kamar. Sepintas kulihat kak Aldo meyakinkanku lewat matanya bahwa semua akan baik-baik saja.
Aku berhutang banyak pada kak Yuna dan kak Aldo. Sebenarnya sudah sangat lama kira-kira sudah lebih dari lima tahun aku mengenal kak Aldo. Saat pertama kali kak Yuna mengenalkan kekasihnya itu padaku. Mulai saat itulah kak Aldo dan kak Yuna bergantian menjagaku.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, kulihat kak Rey mondar-mandir seperti orang bingung.
"Sayang, darimana saja kamu??? kenapa keadaanmu seperti ini??? Yuna kau lagi!!! Kau apakan Sherin???" bentak kak Rey marah sekaligus khawatir.
"Apaan sih loe. Bisa diem nggak. Gue jahit juga tu mulut!!! cepet bantuin gue bawa Sherin ke ranjang!!! emosi aja sih loe, gak liat dia sekarat" bentak kak Yuna lebih galak dari kak Rey.
Entah kenapa ada perasaan bersalah dan menyesal yang begitu dalam atas perbuatanku kepada adira. Tak seharusnya aku berlaku kejam padanya. Toh nenekku tidak bakal hidup lagi.
"Astagfirullah,,, ampuni aku ya Allah" tak terasa aku menitikkan air mata membuat pertengkaran kak Yuna dan kak Rey terhenti.
"Sayang kenapa menangis??? Loe sih berisik aja dari tadi. Gara-gara loe Sherin nangis, dasar nenek Lampir" ejek kak Rey.
"Kok gue yang disalahin. Loe tu yang buat Sherin nangis. Gara-gara loe Sherin sedih. Gue gampar juga ni orang huhh..." Kak Yuna mengepalkan tinjunya.
Begitulah mereka terus berkelahi tak ada yang mau mengalah. Sementara aku masih menangis memikirkan perlakuanku ke mereka yang berlebihan yang berlawanan dari hati nurani ku sendiri.
"Loe..."
"Loe..."
"Loe tu Rey dasar cowok labil"
"Loe tu Yun dasar cewek garang"
"Hishhh gue gampar juga ni cowok"
"Berani loe sama gue!!"
Hi readers, authorsss udah up lagi nich,,, jangan lupa dukungannya, like dan commentnya ya!!! Don't forget!!! thanks to all 😊😊😊👍👍👍
__ADS_1
Oh iyaaaa... authorsss minta maaf yang seluas-luasnya seluas lautan because nggak bisa bales commentnya satu satu tapi semua udah authorsss baca dan like kok. Sekali lagi maafkan ya!!! and thanks very much much much 🤗🤗🤗