
Glakkkk..... Lampu penerangan pun kembali menyala.
"Mama, Papa katanya mau honeymoon kok bisa sampai disini???" tanyanya keheranan bagaimana mereka bisa kumpul disini semua.
"Ha ha ha.... Ternyata anak kita mudah ditipu ha ha ha" ejek Papanya tertawa terbahak-bahak.
"Udah Ahhh... Gak usah diributin. Sekarang hari bahagia anak anak kita. Mari berpesta!!!" teriak senang Tante Nay menarik tangan suaminya untuk berdansa.
"Arka tolong musiknya!!!" teriak Tante Nay sekali lagi.
"Untung aja anaknya gak kaya mamanya, Pufftttttt" batinku lega.
Ayah, ibu, Tante Nay dan Om Angga mulai berdansa dan menari gak jelas. Udah gak jelas, musik sama tariannya udah macam anak TK. Wis pokoe JOGED. Padahal umur mereka udah kepala lima tapi ehmmm jangan heran karena jiwa mereka jiwa anak muda. Al hasil bisa marah kalau dibilang tua.
"Gak ikutan dansa kak??" tanyaku sopan pada Rian karena kami sudah berbaikan.
"Gak ah loe aja sana tu ama Sherin. Gak liat dari tadi calon bini loe asyik main sama Arka dan Rendy" seketika kulihat mereka hanya terpaut beberapa meter saja dari tempat duduk ku dan Rian.
Cemburu, pasti. Gimana nggak baru aja tadi dia ku lamar eh sepersekian menit ketawa bareng Rendy sama Arka. Segera kuhampiri mereka.
"Aku kesana dulu Kak, Ni" pamitku sekilas.
Kudekati mereka yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
"Kwikikwikkkkiii kiiiii. Udah ah ceritanya Kak perutku sampai sakit" kata Mong yang tak menyadari kehadiranku karena saking asyiknya ngerumpi.
"Mong, ada lagi yang lebih lucu" kata Arka sangat bersemangat.
"Apa??" jawabnya penasaran.
"Si Rey, kalau sedih kamu tau gak dia ngapain???" kata Arka mencoba membuka kartuku.
"Oh ternyata dari tadi mereka ketawa gara-gara ngomongin aku toh... Oke. Ku ikuti permainan kalian" gumamku sembari mendengarkan celotehan mereka.
"Sini... sini... Dengarkan baik-baik. Reynan si kapten kita yang sok cool, sok galak itu, kalau lagi sedih, dia...." Segera aku mendekat kearah mereka dan ikut mendengarkan secara seksama.
"Dia kenapa???" tanyaku berbisik kepada mereka tapi mereka tak sadar kehadiranku.
"Dia..." kata Arka terpotong menoleh ke arahku begitu juga dengan Mong dan Rendy.
"Katakan sekali lagi, Dia kenapa??" tanyaku mengejek Arka. Mereka hanya saling pandang.
"Ohhh Astaga aku lupa kak Rendy, kak arka duluan ya. Mama... Mama memanggilku. Dah..." kata Mong melarikan diri.
"Sial si Mong. Gampang kali dia kabur" umpat Rendy terdengar ditelingaku.
"Tuan Arka, kenapa tidak jadi diteruskan???" kataku sekali lagi mengejeknya.
__ADS_1
"Maaf kapten. Kami salah" kata Arka menyesal.
"Loe aja kali Ka. Gue gak ikutan!!!" sahut Rendy mencoba kabur.
"Duduk!!!" teriakku tegas. Mereka bergegas duduk tanpa bicara.
"Karena hari ini hari Bahagiaku jadi kalian akan ku maafkan" kataku sedikit melunak.
"Hahhhh leganya. Syukurlah" jawab Arka dan Rendy sama.
"Tapi..." kataku membuat mereka menelan ludah.
"Tapi apa kapten???" tanya mereka bersamaan.
"Tapi... tunggu besok akan ada hadiah yang menarik untuk kalian karena mengacaukan lamaranku" ancamku kesal bukan soal ejekan tadi tapi soal kembang api.
"Hahhhhhhhh" teriak mereka keras.
Segera kutinggalkan Rendy dan Arka dengan segala kegelisahan dan kegundahannya.
Lalu kuhampiri Mong yang sedang duduk bersama Nia dan Rian.
"Sayang!!!" panggilku mesra dengan senyum penuh arti. Ada raut ketakutan diwajahnya.
"Hnnn... Ada apa kak???" tanyanya pelan.
"Awas Sher hati hati. Makanya jadi anak baik ya kan yank??" kata Nia menasehati sekaligus mengejek lalu berdiri menarik tangan Rian pergi menjauh.
Sekarang tinggal kami berdua saja. Kudekati si Mong dengan senyum penuh kemenangan.
Aku menggeserkan dudukku lebih dekat dengannya. Dia berusaha menjauh. Kugeser lagi dan begitulah seterusnya.
"Kak..." katanya frustasi.
"Apa sayang???" jawabku lembut.
"Apa salah Sherin lagi???" tanyanya lesu.
"Kamu gak salah sayang" kataku sembari mengelus pucuk kepalanya yang berbalut hijab.
"Hahhhh... syukurlah!!!" katanya lega.
Segera kudekatkan wajahku hanya beberapa sentimeter saja dengan wajahnya.
"Tapi kamu sudah membuat hatiku sakit Mong. Jadi kau harus menerima hukumanmu!!" bisikku pelan di telinganya.
Kudekatkan bibirku ke bibir tipisnya. Tinggal beberapa Senti lagi tiba-tiba....
GLAKKKKKK.... lampu penerangan sekali lagi mati.
__ADS_1
Secepat kilat dia berhasil melarikan diri di kegelapan.
"Sial... aku lupa kalau dia pandai melarikan diri" umpatku kesal.
Segera kuambil senter kecil disakuku. Kucari dimana keberadaannya.
"Aishhhh.... hilang kemana benda itu???" gumamku kesal.
PRAKKKKK.... Ada benda lunak, manis dan lengket mendarat tepat di wajahku.
"Siapa yang berani melakukannya???" teriakku kesal.
"Apa ini???" tiba-tiba lampu penerangan pun hidup kembali.
GLAKKK....
selamat hari lahir... selamat hari lahir selamat hari lahir Sherin kecilku selamat hari lahir....
"Astaga Reynan" teriak ibuku tak percaya dengan yang terjadi.
"Oopppsss maaf Rey, kirain Sherin" kata Yuna menyesal.
"Ha ha ha Reynan, kau sangat tampan pufftttt" ejek si Aldo menahan tawanya.
"Ka...Li....an...." kataku kesal.
"Ayo bubar bubar...." kata ayah dengan santainya menyuruh semuanya bubar.
"Arghhhhhh hahhhhhhhh hhhhhh" teriakku keras sekeras-kerasnya.
"Sherinnnnnnnnnnnn" teriakku lantang memanggil namanya.
Mereka semua berlari masuk meninggalkanku yang sedang marah.
"Kemanapun kau bersembunyi, aku pasti menemukanmu, Mijah!!!" kataku mengancam.
**FLASHBACK
"Sher, karena aku baik padamu, jadi kuberi tahu kau kelemahan si Rey. Dengarkan baik-baik!!!" Rendy
"Reynan itu paling takut sama apa coba??" Rendy
"Apa kak??" Sherin
"Reynan paling takut sama kepompong lebih kerennya enthung" Rendy
"Kok bisa sih kak?" Sherin
"Iya. Ini rahasia kita saja. Waktu SD aku sengaja ngasih itu kepompong didalam baju olah raganya. Kepompong kan agak halus halus gimana gitu. Tetiba Rey teriak-teriak sampe baju celananya dilepas semua lari keliling kelas udah kayak Tarzan cuma pakai CD doang ha ha ha... Anak cewek yang liat itu pada lari ketakutan. Udah deh pokoknya itu memalukan sekali sampai dia gak mau sekolah sebulan ha ha ha" Rendy
__ADS_1
"Huaaaaa hhhaaaaa... Kwikikwikkkkiii kiiiii" Sherin**