Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Jadian???


__ADS_3

Siapa dia??? Pertanyaan itu menggelitik di pikiranku. Sesosok pemuda tinggi, tegap, berjas sangat formal mendekat ke arahku. Antara ketakutan dan rasa penasaran berkecamuk hebat didalam diriku.


"Jangan mendekat!!!" teriakku ketakutan.


"Berhenti disitu!!!" teriakku mencegahnya sekali lagi.


Dia sama sekali tak menghiraukan kata kataku. Langkah itu semakin dekat. Sosok yang sama sekali aku tidak tau karena tempat ini sangat gelap.


Kuarahkan pandanganku mencari Nia sahabatku. Berharap dia segera datang dan mengantarku pulang.


"Tidak mungkin kalau itu dia. Dia??? Oh tidak sherin kau salah tapi..." tanyaku bingung.


"Sherinnn" panggilnya lembut.


"Bukan dia Sherin. Buka matamu lebar lebar. Tapi dia kak Rian" jeritku dalam hati tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.


"Kak Rian??" tanyaku seolah ingin tak percaya kalau yang didepanku bukan dia.


"Bukan dia Sherin, bukan dia" kataku meyakinkan diri sendiri.


"Tapi mengapa harus dia?? Oh tidak?? Aku harus bagaimana" pikiranku benar-benar kalut. Antara yakin dan tidak dengan siapa yang berdiri tepat dihadapanku.


"Sherin, ini aku Rian" jawabnya lembut menjawab kebimbanganku.


Perasaanku kacau sekali. Bagaimana bisa kak Rian melakukan ini padaku setelah apa yang terjadi di perkebunan waktu itu. Marah, benci tapi apa ini??? Kenapa dia harus berbuat sampai sejauh ini.


Segera setelah tau dia kak Rian, aku berniat membuang bunga Peony ini.


"Jangan Sherin!!!" cegahnya seolah dia bisa membaca pikiranku.


"Apa maksud kakak berbuat seperti ini??" teriakku marah.


"Bunga itu bukan dariku" jelasnya membuatku bingung.


"Lalu dari siapa??? Cepat katakan!!" kataku berteriak.

__ADS_1


"Kau akan tau nanti. Kumohon untuk saat ini percayalah padaku. Aku bukan Rian yang dulu. Aku tulus ingin meminta maaf padamu. Jadi kumohon percayalah!!"


"Minta maaf???" tanyaku masih tak percaya.


"Iya aku benar-benar minta maaf. Kau boleh berbuat sesukamu. Balaslah aku!!! Laporkan atau kau boleh memukulku dengan apa saja aku tak akan melawan tapi kumohon maafkanlah aku" kata katanya terlihat tulus.


"Aku sudah memaafkanmu kak. Tapi rasa takut dalam diriku belum sepenuhnya hilang jadi kumohon menjauhlah sampai aku benar-benar bisa percaya padamu lagi" Jelasku dan diapun mengerti.


"Baiklah aku janji. Sherin, ada seseorang yang ingin menemuimu. Ikutlah denganku!!" ajaknya membuatku berpikir dan sedikit waspada.


"Haruskah aku pergi dengannya?? Tapi..." hati dan pikiranku tak sejalan. Kebimbangan terus menyelimuti pikiranku.


Perang batinpun masih terus saja terjadi. Sekejap, Keluarlah seseorang yang sudah sejak tadi kutunggu kedatangannya. Dia langsung menggandeng mesra kak Rian seperti seorang kekasih.


"Omo Omo Omo... Apa ini??? Ohh... sulit kupercaya" kataku terkejut juga sangat heran.


"Bagaimana Sher, serasi tidak???" tanya Nia mengagetkanku.


"Astaga, apa ini??? Nia, kau dan kak Rian??? Tak mungkin kan??? Bukannya kau membencinya??? Bukannya..." tanyaku tanpa jeda.


Niapun berlari ke arahku dan segera membungkam mulutku sampai aku kesulitan bernafas.


"Ehmm... Jadi kau sengaja kesini ingin merayakan hari jadimu dengan kak Rian. Kenapa kau harus menyembunyikannya dariku??" tanyaku lebih lembut sekarang.


"Tentu saja. Jika kuberitahu, yang ada kau tak mau menemaniku" jelas Nia dengan senyum merekah di bibirnya.


"Benar Sherin. Aku dan Nia akan segera menikah" kata kak Rian mengejutkanku.


"Astaga. Secepat itukah??? Kabar baik atau kabar buruk ini??" godaku masih tak percaya.


Spontan tangan Nia memukul kepalaku.


"Dasar, bilang saja kau iri denganku. Lihat saja, kau terlalu jual mahal jadi lama kali tak laku laku" ejek Nia sok kepedean.


"Puffttttt... Emang barang main jual aja. Aku bukan jual mahal tapi emang mahal beneran. Asli limited edition" Jelasku membuat mereka tertawa.

__ADS_1


"Baguslah. Selamat buat kalian. Semoga langgeng dan yang jelas cepetan nikah. Ehmmm... Jadi loe ngilang gara-gara tadi loe marah ama gue ni??" tanyaku tanpa basa basi.


"Maksud loe??"


"Iya, gara-gara gue ngatain orang kaya kurang kerjaan nyalain kembang api segitu banyaknya. Astaga ternyata perayaan temen gue sendiri. Sorry sorry lain kali gue kunci dah ni mulut ha ha ha" Jelasku membuka kartu si Nia didepan calonnya.


"Sial loe Sher... Belum tau aja sih loe. Pokoknya sekarang ikut kita" ajak Nia mengambil sesuatu dari kantung jas kak Rian.


"Tunggu Sher. Enak aja main jalan aja. Diam disitu!!!" pinta Nia memaksa.


"Apaan sih Ni?? Loe mau ngapain??? Kenapa mata gue loe tutup??? Gue gak bisa jalan Ni!! Nia!!!" cegahku tapi tetap aja Nia menutup mataku dengan kain.


"Udah bawel amat sih loe udah kayak emak emak aja. Diem!!!" bentak Nia.


Mereka membawaku ke suatu tempat dengan menggandeng kedua tanganku. Sebenarnya ada apa ini?? Bukannya yang harus ditutup matanya itu si Nia ya?? Kok malah terbalik sih??? Perasaanku kenapa tiba-tiba jadi gak enak. Bagaimana ini??


"Sudah sampai Sher. Tunggu jangan loe lepas. Gue gak mau pesta gue jadi kacau gara-gara loe ngabisin Makanan di pesta gue. Udah diem. Jangan bergerak" kata Nia sedikit over.


"Siapa juga yang mau ngabisin Makanan loe. Yang ada gue bawa pulang masukin ke kantong kresek hitam dah" godaku tapi tak ada suara sama sekali.


Ada aura yang berbeda. Entah darimana datangnya. Sangat terasa sekali.


"Nia... Ni.... Nia.... Loe jangan bercanda lagi dah. Gue beneran udah capek. Nia" panggilku berteriak.


Tiba-tiba ada tangan kekar memegang pundakku seolah berusaha menenangkanku.


"Si... siapa??? Siapa Kamu???" tanyaku berusaha membuka kain penutup mata ini tapi dihalaunya.


"Siapa kamu!!!" teriakku marah.


Diapun dengan lembut membuka penutup mataku tanpa mengeluarkan suara. Setelah terbuka aku berusaha menjauh tanpa menoleh kebelakang dan tangan kekar itu menarikku sehingga membuat tubuhku berbalik hampir saja menabrak wajahnya tapi segera ku rem.


Mata kami saling menatap lama sekali.


"Hik... hikk..." tiba-tiba saja aku cegukan. Diapun hanya tertawa kecil.

__ADS_1


"Kamu... Hik hik hik" kataku terpotong cegukan. Dengan lembut dia mengelus kepalaku dan tersenyum manis.


"Hik.. hik..."


__ADS_2