
Dengan marah dan kesal seorang lelaki muda seumuranku membukakan pintu yang dari tadi kupencet-pencet belnya tiada henti. Siapa lagi kalau bukan Rendy teman sekaligus partner berjuangku.
"Boleh gue masuk??" tanyaku tak menunggu jawaban yang punya rumah langsung merebahkan tubuhku di sofa ruang tengah.
Rendy masih tak percaya dengan yang dia lihat. Dia menatapku lama sambil menopang kedua tangannya di dada.
"Bro??? Loe gak salah rumah kan??? Apa kepala loe baik baik aja, Jangan jangan loe Lupa ingatan??" celotehnya dengan penuh rasa heran. Mendengar celotehannya kupejamkan mataku memberi isyarat bahwa aku tidak mau diganggu sementara waktu.
"Dasar Panda embul. Ditanya malah diem?? Berasa ni rumah punya gue tapi disini gue malah kayak tamunya" gumamnya kesal.
"Rey!!!! Kalau mau mati jangan dirumah gue!!!" teriaknya sambil menendang kakiku.
"Rend, ambilin gue minum!!! Haus nih" kataku santai.
"Ambil ndiri!!! Emang gue pembantu loe??" jawabnya kemudian duduk disampingku.
"Gue gak ada tenaga. Loe aja yang ngambilin atau loe mau besok gue beri hadiah?" kataku dengan senyum jahat.
"Dasar atasan gila!!" umpatnya berjalan mengambil minum dengan ngomel-ngomel.
Sesaat kemudian Rendy berjalan membawa beberapa minuman soda ditangannya.
"Ni minumannya bos yang sungguh sungguh sungguh teramat baik hati sama bawahan dan sohibnya!!!" gumamnya memuji sekaligus mengejek sambil meletakkan kaleng minuman dimeja.
"Gak ada angin gak ada hujan gak ada petir, Tumben si bos kesini?? Loe gak lupa ingatan kan???" selorohnya membuatku kesal.
Kubuka sekaleng minuman sambil mendengarkan celotehannya.
"Hahhhh segernya. Nikmat mana lagi yang akan kudustakan??? Rend, gue laper. Loe bikinin gue makan dong??? Kalau udah Mateng loe bangunin gue!!! Gue mau tidur dulu, jangan berani-berani loe ganggu!!" perintahku santai sambil mengambil bantal dan menutupkan ke mukaku seraya menyelonjorkan kaki menendang si Rendy yang tadi duduk disampingku sampai terjatuh.
"Sial. Mimpi apa gue semalam?? Dalam sekejap status gue dari majikan berubah jadi pembokat si bos gila. Mana bi minem udah pulang lagi. Apa coba yang bisa gue masak??? Gue kan cowok bukan pacarnya juga ngapain juga gue patuh amat ama ni anak??? hahh sial sial" gumamnya dari tadi gak berhenti henti tapi tetep juga apa yang aku minta dikerjain.
Dari tadi udah hampir 15 menitan tu anak cuma didepan kompor aja.
__ADS_1
"Udah Mateng belum Rend? Laper gue!!" teriakku membuatnya kesal.
"Udah Mateng dari tadi piring sama sendoknya" jawabnya berteriak.
Jawabannya membuat dahiku mengernyit. Dengan malas aku beranjak mendekati Rendy yang dari tadi berdiri didepan kompor.
"Gila loe bro?? Dari tadi loe ngapain aja??" tanyaku heran melihatnya.
"Loe kira gue ngapain? ya masaklah" jawabnya percaya diri.
"Mana masakan loe??" tanyaku yang masih heran.
"Tu!!" dia menunjuk ke arah piring kosong dan sebuah sendok diatasnya.
"Gue gak salah liat kan?? Bro loe ngerjain gue??" tanyaku kesal.
"Gak beneran. Bentar bentar" jawabnya santai membuatku semakin tak mengerti dengan pemikirannya. Masak iya aku suruh makan piring sama sendok dikira kuda lumping apa.
Ting tong Ting tong...
"Tara.... Makanan sudah datang!!!" katanya membuatku gak habis pikir.
"Dari tadi loe didepan kompor gak ngapa-ngapain cuma memandang tu kompor berdiri disitu aja trus ending endingnya loe DO makanan gitu? udah saraf loe Rend??" gumamku kesal sembari ngeliat tu anak nyiapin makanan ke piring.
"Ha ha siapa juga yang mau Masakin loe? Gue aja belum pernah pegang kompor. Mana gue tau caranya ngidupin kompor apalagi masak ha ha" tawa Rendy lepas.
"Udah makan aja tuh, gak usah cerewet terus kayak cewek lagi PMS" ejeknya.
Kamipun makan bersama. Dia melihatku aneh. Tatapan seperti menyelidik. Aku dan Rendy sudah berteman cukup lama. Dari awal masuk tentara kami selalu berjuang bersama. Bisa dibilang seperti kapten Yoo dan Sersan Seo. (Si authorsss mah kebanyakan nonton drakor). Dimana ada aku pasti ada dia. Kamipun banyak melalui pahit manis kehidupan bersama-sama. Setelah selesai menyantap habis makanan kami Akupun mulai berbicara masalahku padanya.
"Rend, lamaran gue ditolak sama Sherin" kataku membuatnya yang lagi minum tersedak.
"Huks huks... Gimana bisa coba?? Bukannya Loe dah kenal lama sama dia. Apa jangan jangan selama ini dia cuma nganggap loe kakaknya hahahaha Oopppsss keceplosan hihihi" tawanya renyah gak tau sikon.
__ADS_1
Kutatap tajam kedua matanya membuat dia berhenti menertawakanku.
"Sorry sorry bro gak sengaja cuma gak habis pikir aja si bos Rey kapten gue orang paling cool cogan ditolak ama gadis SMA pftttttt kwikikwikkkk" ejeknya sekali lagi.
"Mau gue suruh loe berendem di selokan 10 jam apa?" ancamku.
"Pftttttt.... serius ini beneran sekarang serius dah gue. Bentar... gue beneran gak bisa nahan ni ketawa Ha haahaaaaaa" tawanya lepas sekali lagi membuatku kesal.
"Loe bisa serius gak sih??" tanyaku yang benar-benar sudah marah dan kesal.
"oOke oke. Jangan jutek gitu ah gak pantes. Emang gimana cara loe ngelamarnya?" tanyanya mulai sedikit serius.
"Ya gue kerumahnya lah minta izin orang tuanya. Tapi sebelumnya gue gak ngomong dulu ama Sherin kalau mau melamar dia" jelasku sedikit lesu.
"Men... loe beneran saraf ya!! Dimana mana loe tanya dulu ama ceweknya mau apa gak baru orang tuanya. Loe lugu banget sih. Gitu aja perlu diajarin. Loe denger nie!!! Cewek itu jangan ditarik terus bisa bisa lepas saking kencangnya loe tarik. Loe kadang juga harus jaim juga, jangan maunya ketemu terus sesekali loe gak usah ngasih kabar ke dia biar dia ngerasa kangen sama butuh loe. Singkatnya main tarik ulur kayak layangan dah. Ngerti??" tanyanya padaku semakin membuat pusing.
"Gak usah belibetlah!!! gue gak ngerti. ngomong to the point, singkat dan jelas!!!" pintaku membuatnya berpikir keras.
"Emang dia jawab apa tentang lamaran loe? Loe beneran ditolak?" kata Rendy mencari tau.
"Sebenernya sih ditolak juga gak diterima juga gak?? waktu gue ngelamar gue ngomong ke bonyoknya dan mereka setuju tapi setelah itu nyokapnya tanya ke dia setuju apa nggak dia diem aja trus lari masuk ke kamarnya. Jadi gue bingung sendiri, apa iya gue kecepatan ngelamarnya ya???" jelasku pada Rendy.
"Wuuuaaahhhhaaaaaaaaa. plok plok. Benar-benar loe ya Rey??? Gila dah ya iyalah kecepatan Lagian juga dia aja belum lulus SMA. Wah bener bener ni anak wuahhahahha" tawa yang gak enak didengar.
"Oke oke serius Rey. Mending selama seminggu ini loe gak usah temuin dia dulu biar dia merasa bersalah dan juga biar dia kangen berat dulu sama loe" sarannya membuatku membelalakkan mataku lebar-lebar.
"Mana bisa gitu??? Ntar yang ada gue ngasih kesempatan Rian buat ngambil dia dari gue. Lagian gue gak kuat kalau gak liat dia sehari aja Rend" kataku keberatan.
"Percaya sama gue. Loe kan masih bisa liat dia dari kejauhan tapi gue peringatin jangan loe coba deketin dia dulu!!! Loe akan tau apa dia bener suka ama loe apa nggak. Pokoknya tahan diri dulu oke!!! Udah ah gue mau tidur, malem Minggu bukan diapelin cewek tapi malah diapelin cowok galau. Sial sial" umpatnya meninggalkanku yang masih terduduk di sofa.
Mendengar saran dari Rendy otakku berpikir keras. Kemungkinan ini dan itu muncul bergantian.
"Trus bagaimana kalau Rian deketin Mong Mong?? Bagaimana kalau mereka makin Deket?? Arghhhhh, apa iya saran Rendy baik untukku???" pikiranku sudah membayangkan yang tidak tidak. Sherin bergandengan mesra dengan Rian, Rian merangkul Sherin dan memanggil sayang sayang, trus mereka jalan berdua makan di restoran suap-suapan. Mereka makan ice cream berdua dijalan dan Yang lebih parah mereka berciuman didepanku sambil si Rian mengejek habis-habisan.
__ADS_1
"Arghhhhhh gak boleh gak boleh Mong Mong kamu gak seperti itu kan??? Kamu gak akan bersama Rian kan??? Ahhhhb... Mong Mong kau membuatku menderita...hu hu hu" teriakku berguling di sofa sambil mengacak rambut karena frustasi.
"Mong .... Mong ....." teriakku sekali lagi membayangkan frustasinya diriku.