Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Kesialan dan Kerinduan Part 2


__ADS_3

Sherin Wiryoatmadja


"Cih... ada pacar teman dilupakan. Jangan panggil namaku Sherin kalau gak bisa gangguin kalian" gumamku kesal melihat mereka mesra tak kenal tempat.


"Tempat umum woyyy!!! Dia kira dunia milik berdua" teriakku kesal sekali lagi tapi tak bisa diungkapkan. Rasanya ingin marah marah.


"Pengkhianatan hiks hiks.... Sebegitukah menyedihkannya diriku Kak Rey...." nangis berjongkok disudut sepi dengan lirikan tajam kearah mereka tapi semua hanya khayalanku sendiri.


"Kakak ipar!!! Kakak ipar, bagi camilannya" tersenyum licik menarik-narik ujung bajunya.


"Adik ipar emang kamu ndak bawa apa?? Ganggu aja. Nih!!" kata kak Rian setajam silet Sret.... sungguh tersayat hatiku. Dia memberiku sebungkus kacang Mete.


"Kacang itu gurih tapi kenapa dikacangin rasanya perih huks huks huks" petir rasanya menyambar nyambar dikepalaku.


Segera kuhabiskan semua kacang yang diberikan kak Rian.


"Kakak ipar sudah habis. Ada yang lain" kataku dengan senyum merekah.


"Kalau bukan aku lagi sebel liat kalian, pasti hidup kalian bisa setenang dikuburan. Jangan salahkan singa bangun tidur kalau kelaperan ha ha ha" ancamku dalam hati penuh dengan tawa.


"Anak ini. Nih sale pisang. Jangan ganggu lagi" teriak kak Rian agak kesal.


"Pisang aja Saleh kenapa kamu nggak huks huks huks" mataku terus memandang sale pisang di tanganku tapi mulut tetap jalan protes mulu.


"Kak, habis" kataku tersenyum tanpa dosa.


"Nih..."


"Kak Rian habis..." masih tersenyum.


"Nih..." muka marah level 50.


"Kakak ipar..." tersenyum masih belum menyerah.


"Nih ambil!!!" muka marah level 70.


"Mamas Rian..." senyum tanpa dosa.


"Sherinnnnnnnnnnnn..... Nih yang terakhir. Awas kalau gangguin lagi!!!" muka marah level 90.


"Kalau sekali lagi aku gangguin meledak gak ya???" pikirku jail.


"Kakak...." kataku memelas sambil tersenyum menengadahkan tangan sekali lagi.


"Sherinnnnnnnnnnn....."Teriak kak Rey meledak membuat bis terguncang hebat.


"Ada apa pak Rian??? Ohhhh jantungku" tanya pak Brojo terbangun karena kaget sambil mengelus dadanya.


"Mampus lu Sher. Pak Brojo bangun" gumamku ketakutan.


Tak mau disalahkan segera aku mencoba merangkak ke belakang menjauh dari TKP.


"Diam disitu!!!" teriak pak Brojo.


"Aishhhh.... Kenapa juga si gajah bangun sih" pekikku kesal.


Segera kubalikkan badan sambil tersenyum tanpa dosa.


"He he ada apa pak Brojo yang ganteng??" rayuku tapi dalam hati rasanya ingin muntah.


"Ini apa??" teriak pak Brojo menunjuk kasur lipat miniku.


"Ini, pak??? Kue tidur pak. Maksud saya kasur mini pak" jawabku enteng.


"Sherinnnnnnnnnnnn.... Kamu tau bawa barang kayak gini dilarang. Kamu sudah dikasih tempat duduk masih aja duduk dibawah. Kamu kira ini rumahmu. Gak liat apa ini bis. Masih juga aneh aneh bla bla bla..." nyanyian pak Brojo mengumandang indah di bis selama hampir setengah jam. Kalaupun aku jawab urusannya pasti gak bakal kelar kelar.

__ADS_1


Kak Rian, Nia dan teman-teman yang lain terkekeh dan tersenyum puas melihatku kena semprot pak Brojo si gajah killer.


"Adik ipar, kenyangkan sekarang??" katanya berbisik langsung kulirik tajam. Sedangkan pak Brojo nggak berani ngelarang ngomong si Rian wong dia secara tidak langsung yang punya sekolahan.


"Minum pak!!! Pasti Bapak haus kan??" kataku menyodorkan minuman yang diberi kak Rian. Aku tau kalau minuman itu sudah tercemar. Jangankan diminum dibuang pun bisa buat tanah kejang kejang.


Menurut teori, air tidak akan berubah warna kalau tidak ada zat lain yang masuk. Biarpun garam berwarna putih tetap saja kalau dilarutkan warna air akan berubah. Kurasa kak Rian tak pintar dalam pelajaran kimia.


Butssssssss.... air disemburkan seperti air terjun.


"Pufftttttt" menahan tawa.


"Sherin kamu mau ngeracun bapak???" teriak pak Brojo marah.


"Gak ada pak. Gak niat sama sekali buat ngeracun bapak suer. Ini minuman juga Sherin dikasih pak Rian tanya aja sama orangnya. Berarti kak Rian niat ngeracun Sherin dong hiks hiks hiks" Jelasku tak mau kalah.


Pak Brojo melihat ke arahku yang menangis lalu mencoba menenangkan.


"Sudah Sherin jangan nangis lagi. Oke bapak maafkan. Besok jangan diulangi lagi" kata pak Brojo jaim.


"Percuma dong aku nangis kura kura. Kalau kak Rian gak dimarahin. Malangnya nasibmu Sherin..." keluhku tak terima.


"Loh rasanya kaya de javu. Kok jadi aku yang dimaafin???" gumamku tak percaya dengan yang terjadi.


Kutatap kak Rian seperti ingin membunuhnya. Dia tersenyum puas. Teman teman dibelakang terkekeh sekali lagi melihat kejadian ini.


"Mama... Gara gara kembang itu, kenapa hari ini anakmu seperti terlantar di tengah samudra sepi tak bisa berenang dan mau tenggelam. ......................................................... Krik krik............." keluhku melamun.


Kruekkkk... Kruekkkk.... perut mulai berontak.


"Astaga apa lagi ini, kenapa perutku sakit diwaktu yang tidak tepat" pekikku menahan sakit perut.


Dengan senyum meringis aku memegang perutku. Mencengkeram paha kak Rian kencang.


"Ka..Ka..k.. ip...ar... Pe.... Rut...k...u" Jelasku terbata-bata penuh dengan keringat dingin dan meringis.


"Lepaskan dulu!!!" tangan kak Rian mencoba melepas paksa cengkeramanku.


"G..a..k.... Bi...s... sa... A...ku... Bu... ttuhhh.. pe...ga..Ng..annn" kataku dengan tangan yang satu memegang perut yang satu lagi pindah memegang lengannya.


"Sherinnn cie cie mau nikam gantian si Nia ya??"


"Eleh eleh mesranya"


"Sherinnn aku mendukungmu!!! Sebelum janur kuning melengkung rebut dia ha ha ha!!!"


"Wah wah... bentar lagi perang dunia ketiga nih" celotehan mereka tak kenal kondisi.


"Ka...k...R.i....an...."


Mataku tajam melirik mereka semua. Kak Rian bodoh apa emang belum direstart otaknya. Bukan segera bilang ke pak sopir cari pom bensin ini malah bengong kaya si Encep.


Karena rasa manis asam asin dalam perutku tak tertahankan dan mau meledak maka terjadilah kehebohan sekali lagi didalam bis.


"Pak sopir........ Pom bensin!!!!" teriakku keras sekeras-kerasnya dengan menahan gejolak yang begitu dahsyat di perut.


Semua tertawa mengejek.


"Belum apa apa udah mau setor tu anak"


"Sherin Sherin... Gak liat lu sehari aja rasanya seribu tahun gue gak ketawa Ha ha ha"


"Sherin Sherin harus gue bilang kalau liat lu rasanya lebih religius, bawaannya mau nyebut terus ha ha"


"Di...am... a...ta...u gu...e Bu...Nuh... kali...an" suaraku berat lalu mengedarkan pandanganku kearah mereka semua dengan tatapan tersiksa bukan menyiksa.

__ADS_1


"Pom bensin masih jauh pak???" tanya kak Rian sopan. Sementara pak Brojo terlelap lagi dalam mimpinya.


"Kira kira setengah jam mas" jawab pak sopir sesekali melihat ke arahku.


"Setengah jam???? Apa bisa aku tahan??? Sherin kamu bisa!!! pasti bisa!!! setengah jam hiks hiks...." gumamku dalam hati.


"Sherin bertahanlah. Semangat!!!" ejek kak Rian tersenyum penuh arti.


"A..wa...s... Ka...u" ancamku menarik tangan kak Rian tapi kebablasan. Dia terjatuh dipangkuanku.


"Aw...ww.... ber...rat... nya..."


"Apa apaan kau sher??? Jangan gila gila amat napa" bisik kak Rian marah.


"Wowwwwww.... selingkuh didepan mata"


"Sstttt... Jangan jangan mereka selir satu dan selir duanya pak Rian"


"Alamakkkkk Sherin... kau membuat para jomblo ngiler"


Tak kuhiraukan celotehan mereka. Yang ada di pikiranku hanya toilet toilet dan toilet.


"Mas, didepan ada pom ternyata he he" kata si sopir membuatku senang tapi juga kesal karena harus membayangkan setengah jam menahan sakit perut.


Bispun segera terparkir. Kusiapkan kakiku untuk berlari sekencang-kencangnya. Dan terbukalah pintu.


"Lari........." teriakku sendiri tanpa menoleh ke kanan kiri yang penting segera tancap gas.


10 menit aku didalam kamar mandi.


"Gimana udah lega???" tanya seseorang mirip kak Rian tapi kayak bukan. Apa cuma halusinasiku kak Rey disini.


"Ahh... ha.. ha... efek nahan sakit perut. Gak mungkin orangnya disini ha ha ha.... Sherin Sherin..." kataku menyangkalnya sendiri.


"Sayang... Sherin.... Mong.... Mijah...." katanya lembut. Kugeleng-gelengkan kepalaku tak percaya.


"Sherin,,, ingat dia lagi tugas luar dan jauh. Gak mungkinkan??? Jangan dilihat!!! Kamu gak inget tadi pagi mandi kembang. Apa setan ini tertarik bau kembang ya??? Hiii..." kataku pelan. Dia masih tersenyum menatapku.


"Sayang ini aku... Kak Rey mu..." panggil setan itu membentangkan tangannya lebar berusaha memelukku.


Segera aku berlari menjauh. Kubeli air mineral. Kubacakan ayat kursi. Dan Byurrrrrr......


"Pergilah kau setan.... Jangan dekat-dekat.... pergi.... disini bukan rumahmu. Aku juga bukan pengantinmu pergi!!! pergi!!!" teriakku berulang kali menyiramkan air mineral kearahnya hampir habis satu botol.


Setan itu terus saja memojokkanku.


"Kamu pengantinku sayang... Aku takkan pergi... Aku akan mengikutimu ha ha ha" ucap setan itu tak tau malu.


"Arghhhh..." teriakku hampir saja terjatuh. Setan itu menangkapku. Kami saling menatap lama dengan posisi dia menopangku dengan tangannya.


"Woyyyyy... bisnya mau berangkat. Malah main India indianan" teriak kak Rian menyadarkanku.


Aku masih kebingungan. Berkali kali aku menatapnya tapi belum ketemu jawabannya juga.


"Udah bingungnya diterusin nanti. Naik dulu. Ntar ditinggal sama pak sopir malah kita pulang jalan kaki" dia entah siapa menarikku dan membawaku duduk di kursi paling belakang.


"Cie cie yang udah dapet gebetan baru,,,, yang lama dilupain ha ha"


"Mesranya mau donk digituin emmmm....gemez deh"


"Arghhhhhh... sakitnya ditusuk jadi sate hiks hiks"


"Hushhhh kalian ini gak pernah liat orang seneng apa??? Jangan ganggu ada anjing galak!!! Guk guk... herrr.... guk guk..."


"Meong meong... Aummmmmm... Guk... guk...." celotehan mereka membuatku tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2