Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Menghindar


__ADS_3

Entah kenapa aku sama sekali tak suka kak Rian jadi wali kelasku. Iya, mata itu seakan mengisyaratkan sesuatu yang sama sekali takku mengerti.


"Tenang... tenang semua" teriak pak Brojo sambil memukul meja dengan penggaris kayu.


"Jangan berisik kalian. Pak Rian, silahkan!! kelas ini jadi tanggung jawab bapak mulai sekarang" kata pak Brojo lalu meninggalkan kelas kami.


"Mari kita mulai pelajaran. Saya akan mengajar pelajaran matematika mulai dari sekarang. Ada yang keberatan??" tanya kak Rian dengan mengumbar senyum kepada siswa dikelas ini yang membuat kelas jadi gaduh karena tepuk sorak sorai para gadis-gadis abg.


"Arghhhhhhhhh......" kataku lesu membaringkan kepalaku ke meja.


"Tentu saja kami tak keberatan, oppa So Hyun ahhh" teriak Ira senang.


"Pak Rian mau tidak mengajariku berhitung?" tanya Naya dengan suara lantang.


"Maksudnya, berhitung apa?" tanya Kak Rian balik.


"Tolong pak hitungkan berapa banyak hatiku yang harus kuberikan padamu" jawab Naya menggoda.


"Cie cie ... Suit suit... Ada yang klepek-klepek ni sama pak Rian. Yang penting bidadariku tak terpesona dengan pak Rian, ya kan Sher??" sahut Raka melirik ke arahku, Akupun gelagapan gak tau mau ngapain.


"Cie cie... si Raka mulai dah ngerayunya padahal ditolak mulu tu ama Sherin" sahut Rangga sedikit mengejek. Bisa nggak sehari aja mereka membiarkanku tenang.


"Dasar kidz zaman now...." umpatku dengan suara pelan.


"Sherinnnnnnnnnnnn.... lihat pak Rian, apa lu nggak ngerasain aura menakutkan sangat kejam dan dingin???" bisik Nia ternyata bukan aku saja yang merasa seperti itu.


Terlihat tatapan kak Rian mulai berubah menakutkan dan seketika suasana kelas yang tadinya gaduh langsung tenang bahkan jangkrikpun tak berani bersuara.


"Nama kamu Raka bukan?" tanya Kak Rian dengan senyum jahatnya.


"Ya pak. Saya Raka" jawab Raka tegas keliatan sekali menutupi rasa takutnya.


"Bisa minta tolong ambilkan buku paket matematika diruang guru!" pintanya dengan nada sopan.


"Bisa pak" jawabnya dan bergegas pergi.


"Buka buku paket kalian halaman 57. Kerjakan soal-soal itu!! Bapak pergi sebentar!!" kata Kak Rian meninggalkan kami.


Otakku terus saja berpikir ada yang aneh dengan kak Rian. Meskipun begitu apa hubungannya dengan Raka. Apa dia juga punya dendam dengannya. Kenapa kak Rian menyuruhnya mengambil buku paket. Bukankah dia sudah membawa buku paketnya. Ada yang tidak beres sepertinya.


"Ni, gue pergi ke wc bentar ya!!" segera aku berlari mengikuti kak Rian dengan mengendap-endap dibelakangnya.


Ternyata dugaanku benar. Di lorong dekat ruang guru yang sangat sepi Kak Rian mencengkeram baju Raka dan mengancamnya. Aku mencuri dengar pembicaraan mereka. Dengan badan gemetar dan jantung yang reflek berdenyut kencang kutahan nafasku supaya tidak ketahuan.


"Pak apa ini?? Lepaskan, saya tidak bisa bernafas!!" kata Raka dengan nafas tersengal-sengal.


"Jangan pernah dekati Sherin kalau kamu masih mau hidup!!! Dia milikku. Tak boleh ada laki-laki lain yang dekat dengannya termasuk kamu. Dengar dan camkan baik-baik!!" kata kata yang keluar dari mulut kak Rian langsung membuat kakiku gemetar. Mata itu mata tajam dan membunuh membuatku bergidik ngeri.


"Kakak benar. Aku harus menjauhinya. Apa kak Rian seorang Psycopath???" tanyaku dalam hati lalu meninggalkan mereka. Aku sudah tak mau mendengar lagi pembicaraan mereka. Setiap kata kata Kak Rian membuatku bergidik ngeri. Segera saja aku berlari ke kelas supaya tidak ketahuan.


"Lama banget loe ke WC-nya Sher??" tanya Nia penasaran.


"Sher, loe sakit?? Kenapa tu muka pucat banget. Sembelit loe???" tanya Nia khawatir.


"Sialan loe. Intinya dugaan gue tentang pak Rian benar. Mending loe bantuin gue buat jauh-jauh dari pak Rian oke" jawabku berbisik. Jelas sekali ancamannya tak bisa dianggap main-main.


"Ah loe ada ada aja. Masak guru baik dan ganteng gitu loe takutin. Ada kali pak Brojo yang serem. Bukannya dia pak tentara kenalan loe ya, tapi kok rambutnya beda?" kata Nia tertawa tak percaya.


"Dia kakak kembarnya beberapa hari ini baru balik dari Kanada. Intinya gue belum kenal dekat dengan dia dan nggak mau Deket juga. Loe harus tolongin gue" jelasku dengan berbisik takut didenger orang lain.


"Minta tolong apaan?" tanyanya balik dengan berbisik.

__ADS_1


"Bantuin gue ngindari pak Rian!! Please gue mohon!!! Setiap dia deketin gue loe pokoknya cari cari alasan apa aja kek,, yang penting dia gak ngedeketin gue, mau ya please!!!" rengekku mencoba mempertahankan identitasku sebagai sherin lugu, baik dan lemah. Jangan sampai semua misiku berakhir dengan kegagalan.


"Gila loe Sher, alasan apa coba?? Bukannya dia anak temen nyokap loe? Gak mungkin kan dia berbuat jahat sama loe" jelas Nia yang gak tau kekhawatiranku.


"Gue gak bisa jelasin sekarang. Pokoknya loe harus bantuin gue" kataku berbisik yang tidak menyadari kak Rian sudah ada disamping mejaku. Deggg..


"Ada yang bisa saya bantu Sherin?? Soal mana yang belum kamu mengerti?" tanyanya lembut.


"Ahhh.... ha ha ha.... gak ada kok pak. Saya sudah mengerti. Sudah diajarin Nia. Benar kan Ni" jawabku tersenyum tapi sebenarnya takutnya bukan main, Nia gelagapan nggak sanggup bicara cuma tersenyum sambil mengangguk.


"Oh ya sudah... Sebentar lagi kan ujian nasional, Kalau kamu butuh bantuan bisa bilang sama bapak, jangan sungkan-sungkan" katanya membuat seisi kelas melirikku tajam.


Berbeda dengan Raka. Tatapan penuh dendam, amarah bahkan aku sendiri tak bisa menafsirkan sorot matanya kali ini. Tak ada ketakutan sama sekali atas ancaman dan gertakan kak Rian tadi. Aku menoleh ke arah Raka. Tanpa dia sadari sebatang bolpoin dengan mudahnya ia patahkan. Tangannya terluka dan berdarah.


"Raka, apakah kau orang itu??? Kenapa kau menatapku dengan pandangan itu??? Semakin kesini aku harus lebih berhati-hati lagi. Tak boleh membuat kesalahan. Bibi... aku akan membalaskan dendamnya. Takku biarkan orang yang membunuhmu hidup dengan nyaman" kataku penuh keyakinan.


"Sher loe gila hampir aja ketauan. Astaga tangan Raka berdarah Sher...." gerutu Nia berbisik kembali menyadarkanku.


"Ssutttt.... Diem. Jangan ikut campur" cegahku berbisik pelan.


Tettttt tettttt...


"Sherin taruh tugas temen-teman kamu ke meja saya di kantor guru!!" perintah kak Rian.


"Baik pak" jawabku lesu. Kak Rian pun meninggalkan kelas.


BRAKKKKK... Naya menggebrak mejaku.


"Sherin oh Sherin... Jangan sok kecantikan deh loe!!! Pak Rian cuma buat gue, Hey kalian semua para gadis-gadis, Dengerin gue!! Tidak ada yang boleh deketin pak Rian, Mengerti???" teriak Naya mengancam kepada kami semua dan merebut tugas yang mau aku bawa ke meja kak Rian.


"Dasar cewek cabe terong alay. Siapa juga yang mau deketin pak Rian emang gak ada laki-laki lain apa? Loe aja kali yang kurang cantik takut kesaingan jadi over lebay deh..." sahut Nia marah sambil mengibaskan rambutnya ke arah Naya.


"Ayo Sher, ke kantin!!" ajak Nia lalu menarik tanganku.


"Ni loe ke kantin sendiri ya!!! Gue mau ke perpus aja. Jangan kasih tau siapa-siapa kalau gue di perpus oke!!" kataku langsung masuk perpus setelah dirasa tak ada yang mengawasi. Kali ini aku hanya harus menghindar.


Rian Gunanto


"Pak Rian ini tugasnya anak-anak tadi. Bapak bisa kok kapanpun menyuruh saya apa aja" kata Naya berusaha menggoda. Akupun mengernyitkan keningku dan tersenyum sinis.


"Ya udah taruh aja disana. Kalau sudah keluar sana!!" kataku ketus.


"Sial napa juga tu cewek sok-sokan nganter tugas yang aku suruh ke Sherin" gerutuku kesal.


Segera kucari Sherin di kelas, kantin, halaman sekolah sampai kamar mandi cewek aku datangi. Tapi dianya menghilang bagai ditelan bumi.


"Arghhh. Dimana Sherin???" pekikku kesal.


"Nia kemari!!" Panggilku pada temen dekatnya Sherin.


"Bapak manggil saya?" tanyanya tak mengerti.


"Iya. Kamu tau Sherin dimana?" tanyaku sedikit sopan. Dia sedikit terkejut. Dari mimik wajahnya pasti ada yang dia sembunyikan.


"Tadi sih katanya mau ke kantin pak. Aku tidak bersamanya dari tadi" katanya gugup.


"Beri bapak nomor HP-nya!!" pintaku sedikit memaksa.


"Maaf pak aku gak punya nomernya. Keliatannya hpnya juga rusak deh, belum sempat beli lagi kukira. Kalau gak ada yang lain aku pergi dulu ya pak. Permisi" pamitnya meninggalkanku dalam keadaan marah.


"Kau sengaja bermain denganku Sherin... Aku akan menangkapmu cepat atau lambat" kataku sedikit marah.

__ADS_1


Tettttt tettttt...


"Sher, loe kemana aja?" bisik Nia sedikit takut.


"Kan tadi gue udah bilang di perpus. Mangnya kenapa?" tanyaku pelan.


"Loe bener Sher. Pak Rian rada aneh. Tadi gue ketemu dia yang lagi nyari loe. Ngeri pokoknya horor dah. Tatapannya itu loh, hii serem mending gue ngeliat setan deh daripada diajakin ngomong sama pak Rian" kata Nia membuatku berpikir keras gimana caranya menjauh dari kak Rian.


Mataku terbelalak melihat guru yang masuk ke kelasku.


"Ni, apa udah ganti jadwal lagi?" bisikku sangat pelan sambil memegang tangan Nia erat.


"Stttss. Gue gak tau. Udah diem aja" bisik Nia yang lebih ketakutan daripadaku.


"Dok Dok dok... Diam semua. Karena Bu Mey sedang ada urusan jadi kelas bapak yang pegang. Bu Mey memberi tugas kalian untuk mengerjakan soal hal 45. Kalau sudah selesai kumpulkan ke depan!!" kata kak Rian dengan senyum jahatnya.


"Karena hampir mendekati ujian nasional, kalian bisa menuliskan no hp kalian masing-masing agar bapak bisa dengan mudah memberikan konsultasi dan bimbingan belajar pada kalian. Varo kau ketua kelas disini kan??? Bagikan form ini pada mereka semua. Jangan ada yang berusaha menipu bapak dengan memberikan nomer orang lain kalau tak mau dapat sanksi yang berat" kata Kak Rian membuatku kaget setengah mati.


"Pelayanan bimbel extra disekolah ini kah????" tanyaku berkali-kali mengernyitkan dahi dan berpikir keras.


"Sher, loe punya no hp gak?" tanya Nia sedikit khawatir.


"Gak. Tulisin nomor bokap gue aja Ni. Ini nomornya" kataku sambil memberikan kartu nama Papa.


"Gila loe Sher... Kalau ketauan abis kita!!" jawabnya menolak.


"Gue beneran gak punya hp Nia. Hp gue rusak, belum beli lagi. Udah tulis itu aja jangan banyak ngomong ntar tu pak Rian curiga. Lagian gue kan nggak berbohong juga" jawabku dengan pura-pura mengerjakan soal biar gak ketauan.


Akhirnya bel pulang sekolah pun terdengar. Akupun bisa bernafas lega. Gimana gak, suasana sekolah berubah horor semenjak kak Rian jadi guru disini. Sehari aja rasanya udah kayak setahun. Gimana besok. Apa iya aku minta pindah sekolah sama Papa. Padahal dua minggu lagi udah Ujian Nasional.


"Selamat siang anak-anak" ucapnya mengakhiri pelajaran kali ini.


"Siang pak. Terima kasih Pak" jawab kami bersama. Kak Rian pun meninggalkan ruang kelas kami.


"Ni please tolongin gue sekali lagi!! Diluar kan ujan tuh boleh gak gue nebeng pulang sama loe?" pintaku sedikit merengek.


"Bukannya Loe punya bokap tajir, Lagian juga Bodyguard bokap loe kan banyak emang loe gak dijemput apa?" jawab Nia heran.


"Tadi pagi gue naik bus Ni. Gue beneran ogah dianter bodyguard Papa gue. Arghhhh... please Nia bareng ya!!!" rengekku Sekali lagi.


"Oke dah tapi loe ikut gue ke cafe bentar ya. Baru abis darisana gue anterin loe pulang. Yuk ah!!" Nia menarik tanganku tapi matanya melihat kesana kemari kayaknya takut ketemu kak Rian lagi. Kami berdua udah kayak penjahat, celingukan dan berlari kocar kacir sampai di halaman parkir sekolah.


"Selamet selamet. Untung gak ketemu sama..." belum sempet senang dari kejauhan aku dengar suara yang familier banget. Aku dan Nia kaget berjamaah.


"Sherin... Sherin" dengan terpaksa aku menengok ke belakang.


"Oh pak Rian. Ada apa pak kok manggil saya?" tanyaku dengan senyum terpaksa.


"Panggil kak Rian saja. Ini kan udah pulang sekolah" pintanya sedikit memaksa.


"Gak enak pak. Inikan masih dilingkungan sekolah" tolakku halus.


"Nia kamu boleh pulang biar Sherin pulang bersamaku!!" pinta kak Rian memaksa. Aku mengedipkan mataku berkali-kali agar Nia tak meninggalkanku bersamanya.


"Ya udah pak kalau gitu saya pamit dulu. Dah Sher..." aahhhh seketika itu kakiku lemas. Nia benar-benar pergi meninggalkanku bersamanya.


"Ayo Sher, cepetan hujannya tambah deras" dengan terpaksa Akupun berjalan disampingnya. Dia menarik bahuku membuatku jatuh kedalam dekapannya.


Ciitttttttt........ blammm. Suara pintu mobil ditutup keras tepat disampingku.


"Lepaskan tanganmu darinya!!!" perintah kak Rey memaksa. Kak Rey menarikku ke sampingnya.

__ADS_1


"Jangan pernah bermimpi mendapatkannya. Camkan itu!!!" ancam kak Rey kemudian memayungiku sampai masuk kedalam mobilnya.


BRUMMMMM.....


__ADS_2