Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Intai Mengintai


__ADS_3

Pantai Indrayanti


"Diingat ingat kumpul setelah jam 12. Kalian mengerti!!!" teriak pak Brojo mengingatkan kami ketika memberikan pengarahan.


"Mengerti pak" jawab kami semua tapi mata semua orang lebih konsen melihat kearah pantai daripada mendengarkan pak Brojo bicara.


"Kalau gitu kalian boleh bersenang-senang. Jaga keselamatan kalian sendiri-sendiri, sopan, dan jagalah kebersihan" imbuhnya tapi anak-anak sudah pada berhamburan sendiri termasuk si Mong. Aku hanya bisa menahan tawa melihat tingkahnya.


"Yeyyyy pantai pantai.... Pantai aku datang.... Uhhhhh unyuuuuu sekali pemandangan disini. Ahhhhhh..... Air air byurrrr....." teriaknya berlarian kesana kemari tanpa mempedulikan siapapun. Tanpa malu dia langsung menceburkan diri ketika ombak mendekat ke bibir pantai.


"Andaikan aku bersamanya hufffttt.... Kalau aku mendekat kearahnya bisa dicabik-cabik tak bersisa. Biarlah dia menikmatinya sebelum peperangan yang sebenarnya dimulai. Sabar sabar... Sabar Rey... Kamu harus berjuang bersamanya" kataku mengelus dada coba mengingatkan diri sendiri.


"Reynan, kau sudah besar kan???" tanya Rian sontak membuat bingung.


"Emangnya kenapa?? pertanyaanmu aneh kak" jawabku sambil duduk di pasir putih disampingnya dan Nia.


"Kalau begitu, bisakah kau tidak menjadi obat nyamuk diantara kami???"


Gubrakkkk.... pertanyaan sekaligus penghinaan disaat diriku sedang terpaksa harus merasakan masa jomblo yang begitu mengerikan.


"Kak, bisakah kau mengerti posisiku??? Aku hanya duduk disini atau kau sebenarnya memikirkan hal yang mesum berdua" bisikku pelan sontak membuatnya sedikit marah.


"Lakukan maumu. Akupun tak segan-segan membuat jiwa jomblomu tergoda. Jangan salahkan aku karena sudah mengingatkanmu" jawabnya sengit.


"Sial kak Rian ternyata tak malu-malu menunjukkannya didepanku. Huaaaa... Mong Mong...." teriakku hanya bisa meronta-ronta dan menangis dalam hati.


Tanpa kusadari keberadaan si Mong luput dari pandanganku. Kucari sosok gadis kecil itu. Kebiasaan yang sulit dihilangkan dari dirinya yaitu suka menghilang mendadak kemudian muncul secara tiba-tiba dengan penuh kejutan.


Dan benar saja. Dia berjalan bersama Raka melewatiku dengan mesra.


"Permisi numpang lewat..." ucapnya tak berdosa dan dia sempat mengerlingkan matanya menggodaku.


"Rey, mantanmu sangat amazing. Langsung dapat buruan ha ha ha" ejek Rian.


"Terserah. Lagian aku juga bisa dapetin 1000 wanita kalau aku mau" jawabku menjaga sisa sisa harga diri didepan Rian psyco.


"Doamu terkabul kak. Nikmatilah, obat nyamuk mau cari mangsa yang punya darah segar dulu" ejekku gantian.


Dia sudah mulai memercikkan api ke tubuhku. Aku hanya perlu mencari pemadamnya saja. Dengan senyum mengembang aku mendekati mereka berdua didekat karang dan lumayan sepi tempatnya.


"Raka kau dipanggil pak Rian!!!" kataku berbohong.


"Ohhh..."


"Dia hanya bilang ohh... Apa actingku sangat buruk???" pikirku mencoba mencari akal lain agar dia tak dekat dekat dengan calon istriku lagi. Suhu di tubuhku meningkat drastis melihat mereka dekat sekali.


"Heyyy kau Raka,, kau tuli atau kau sengaja tak mengindahkanku" ucapku berusaha menyudutkannya. Mong malah menatapku tajam beberapa kali mengeratkan giginya.


"Sher gue kesana dulu bentar ya!!! Ni hp gue kalau lu mau pakai tapi jangan lupa beri hadiah gue" kata Raka dengan santainya.


"Woyyy dia cewek gue.... Minta hadiah pala lu peyang hahhhhhhhh..." umpatku dalam hati berbanding terbalik dengan senyum yang terkias di bibirku.


"Oke. Makasih ya Ka. Tenang aja. Pasti gue kasih hadiahnya sukarela" jawabnya seperti dia berusaha meledakkan RDX tepat di kepalaku.


"Ayo!!! Lu mau apa disini??? bukannya lu udah dicampakin ya?? Dasar nggak punya malu. Sungguh memprihatinkan ckckck....." ejeknya berbisik ditelingaku sembari menepuk pundakku beberapa kali.


"Mong Mong... aku disini. Lihat dan tataplah aku. Mong Mong!!!" batinku berteriak. Kukira kami bisa melakukan telepati tapi ternyata dia pergi meninggalkanku sendiri.


"Reynan kau seperti burung tak bersayap. Tak bisa terbang. Ditembak lalu digoreng. Huks huks huks" sanubariku terdalam merajuk tanpa asa lemah dan tak berdaya.


"Hyaaa pak tua!!! Kau berusaha membohongiku ya??" teriak Raka berlari kearahku dengan marah.


"Gak, lu aja yang bodoh mau aja gue tipu ha ha ha" ejekku tertawa terbahak-bahak meninggalkannya tapi hatiku terasa kosong dan hampa.


"Sial tu pak tua. Lihat aja Sherin udah ada dalam genggaman gue" ucap Raka masih jelas terdengar ditelingaku.


"Berjuanglah Mong!!! Aku menunggumu. Jangan lama-lama kau membuatku menderita. Aku tak sanggup...." batinku menjerit.


"Kayaknya nggak seru kalau aku berbalik tanpa membalasnya" pikirku sedikit licik.


Kudekati mereka yang sedang bercengkrama diatas karang.


BYURRRR... kusenggol badannya saat dia lengah.


"Maaf sengaja. Basah ya??? Ganti baju sana ntar anak Mama masuk angin" ejekku menatap puas melihat Raka tercebur ke air.


SRATTTTT.... Tatapan tajam Mong memberi isyarat kalau dia sangat marah.

__ADS_1


"Menakutkannya calon istriku kalau lagi marah" batinku langsung menciut.


"Kamu gak pa pa kan Ka. Sini aku bantuin berdiri!!" kata Mong membuat darahku langsung mendidih. Segera kuhempaskan uluran tangannya secepat flash berganti tanganku tapi dengan sengaja kujatuhkan si Raka lagi ke air.


"Sorry sorry tanganku licin. Maaf ya sengaja. Woahhh kasiannya anak mami tercebur sampai dua kali" ejekku tersenyum puas.


"Reynan kau...!!!!" Sherin berlari menjauh dari kami.


"Hey kau pak tua!!! Apa kau benar-benar cemburu denganku???" katanya segera bangkit dan mulai mengeluarkan sifat aslinya.


"Huhh cemburu denganmu. Kau sadar dirimu siapa. Kau tak lebih dari sampah yang harus dikubur dan dibakar habis" kataku sengit.


"Oke baiklah. Kau sudah memancing ikan yang salah. Kau terlalu meremehkanku. Kau pikir aku remaja labil yang buta akan cinta sepertimu. Lihatlah, apa yang seharusnya jadi milikku maka itu akan jadi milikku. Apa kau sudah tau kabar tentang perusahaan Ayahmu yang hampir kolaps???" katanya berusaha mengancam.


"Apa kaitannya dengan perusahaan ayah???"


"Anak kecil kau jangan bermain dengan api kalau kau sendiri tak bisa memadamkannya. Mungkin aku tak tau tapi kupastikan jika kau mengusik keluargaku maka kau akan habis di tanganku!!" kataku menarik kerah bajunya kemudian mendorongnya kasar.


"Assalamu'alaikum yah. Apa yang terjadi???Aku akan pulang segera. Tapi yah??? Yah... Baiklah" mau tidak mau aku harus menuruti ucapan ayah.


***"Sayang, kau dimana???"


"Ping"


"Ping"***


"Aishhhh sial... Sebenarnya dia kemana?? kenapa tak menjawab chatku.


Dengan perasaan kacau, marah dan kesal aku berteriak ke arah Rian.


"Hyaaa... Kau masih sempat berduaan sementara perusahaan ayah sedang kolaps. Apa yang kau pikirkan Rian" kataku dengan nada keras.


"Itu hanya gosip. Siapa yang bilang, mau aja lu dibohongin" jelas Rian malah asyik berpelukan.


"Hyaaa... Hyaaaa... kak malu napa??? ditempat umum malah berpelukan. Hey kak Rian cepetan telpon ayah!!!" teriakku kesal.


"Hey adik ipar, bisa tidak kamu nggak ganggu kita. Cari cewek kek sana, apa main jauh-jauh gi. Dasar... merusak pemandangan" kata Nia mengusir.


"Hey kakak ipar tapi belum jadi, lu nggak liat apa ni baca baca. Bisa-bisanya bokap gue lagi dalam masalah kamu ama Rian tenang tenang aja" teriakku kesal menunjukkan update terbaru berita bisnis.


Karena begitu penasaran, aku segera mencari penginapan yang dimaksud.


"1551. Ini kamarnya. Ternyata nggak dikunci???" Dengan leluasa aku bisa masuk kedalam kamar itu. Segera kucari tempat persembunyian setelah mendengar langkah kaki mendekat.


"Sherin??? Siapa lelaki itu???" tanyaku mencoba mendengarkan dan mengamati mereka.


"Nona kami sudah melakukan sesuai instruksi Anda. Apa ada lagi yang Anda butuhkan?"


"Terimakasih untuk kerja kerasnya. untuk saat ini cukup. Jangan lupa buat janji dengan Presdir PT Royal. Kau boleh pergi" ucapnya.


Berbeda dari kesehariannya yang sangat ceroboh, bodoh dan hanya bisa main main. Tapi kali ini Sherin terlihat sangat berbeda. Serius, cerdas, matang dan dewasa aura yang dia pancarkan.


"Ahhhh nyamannya... Hemmmm enaknya punggungku" teriaknya senang bertingkah seperti anak kecil lagi. Berguling-guling di kasur, menendang-nendang bahkan meliuk liuk diatas kasur.


"Udah main mainnya?" kataku keluar dari sudut jendela mengagetkannya.


"Astaga... Ahhhhh..." teriaknya hampir saja jatuh saat berguling-guling kalau aku tidak segera menangkapnya.


"Kak Rey??? Bbbaagaimana bisa kau ada disini??" lama sekali kami saling tatap.


"Dasar gadis bodoh. Nyalimu besar sekali" ucapku merebahkannya ditempat tidur.


"Hik hik... Ap...a hik.. yang hik..." kusentil dahinya dan duduk disampingnya.


"Ternyata kau gugup saat bersamaku. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku??" Kudekatkan wajahku berbisik di telinganya.


"Ahhhh... Kak Rey apaan sih??? hik hik..." teriaknya berusaha mendorong tubuhku.


"Kenapa kau sengaja membuatku cemburu??? Tak bisakah kau tidak dekat si Raka itu???" tanyaku sedikit kesal.


"Hey hey ayolah. Kita kan sudah sepakat. Kakak kau ini memang cemburuan" jawabnya santai padahal tadi aku sudah hampir putus asa.


"Kau bilang aku cemburuan???" kataku menekankan dan mendekatkan wajahku kearahnya dengan tatapan marah.


"Bahahhha hahah... Sayang... Jangan menatapku seperti itu!!! Aku tak tahan... pufftttttt..." bukannya takut dia malah tertawa.


"Kau menertawaiku???" raut muka hampir seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Nggak nggak. Mana berani aku menertawai calon suamiku yang paling tampan dan gagah (tapi boong) ha ha ha..." katanya mencoba pelan saat mengejekku tapi telingaku masih bisa mendengar jelas celotehannya.


"Mong...."


"Ampun... ampunnn... nggak lagi lagi deh" katanya mengatupkan tangannya. Kutarik dia kedalam pelukanku.


"Jangan lagi menguji kesabaranku. Berjanjilah!!! Kau boleh menyiksaku dengan permainanmu yang aneh dan unik tapi jangan buat aku cemburu. Aku benar-benar tak sanggup" Kupeluk dia lama sekali melepas rasa kesal dan juga cemburu yang bertubi-tubi menyiksaku tadi.


"Mong kau tau perusahaan ayah hampir kolaps??? Raka yang memberitahuku" kataku membuatnya termenung.


"Kak, jangan khawatir. Kau harus percaya pada ayahmu sendiri. Karena kekuatan seorang ayah adalah kepercayaan keluarganya. Aku sudah tau ini akan terjadi. Semua bermula dariku dan aku juga yang harus mengakhirinya" katanya mencoba menenangkanku.


"Apa maksudmu??" tanyaku belum mengerti.


"Baiklah mungkin saatnya kau harus tahu. Raka adalah anak dari pengusaha yang sangat licik. Ayahnya Raditya Bumi Prakasa. Raka sendiri selama ini menutupi identitas aslinya. Kaviandra Raka Prakasa, dia teman masa kecilku saat diluar negeri. James, panggilannya saat di Jerman. Akupun baru tau tadi setelah meminjam hpnya" jelasnya membuatku semakin bingung.


"Kapan kau ke luar negeri???" tanyaku heran.


"Seminggu setelah kau pamit padaku. Bibi Tania yang tinggal di Jerman kembali setelah mengetahui nenek tiada. Bibi menyaksikan perlakuan buruk mereka kepadaku. Tanpa bertanya apapun bibi membawaku ke tempat tinggalnya di Jerman. Aku menyelesaikan studyku dalam kurun waktu 6 tahun dengan gelar MBA, MSc, Master of Science, PHd, profesor diusia muda dan juga predikat Summa Cum Laude. Semua berkat bibi yang mengetahui kelebihanku. Meskipun aku menjadi murid termuda yang bisa mencapai gelar itu tak boleh ada pemberitaan sama sekali mengenaiku. Semua data tentangku dirahasiakan".


Tanpa sengaja aku bertemu dengan James saat Usiaku 11 tahun.


"What are you doing here?" dia hanya menatapku tanpa jawaban. Apa mungkin dia tidak bisa bahasa Inggris, pikirku.


"Was machst du hier???" tanyaku dalam bahasa Jerman. Dia sungguh membuatku frustasi.


"Sebenarnya ni anak kenapa sihhh??? Ra Cetho, mudeng ra Kowe aku ngomong opo??? dijak ngomong malah meneng bae (tau nggak kamu aku ngomong apa?? diajak bicara malah diam aja ; bahasa jawa). Anjeun bisu atanapi bodo??(dia bisu atau memang bodoh ; bahasa sunda). Je deviens fou (Aku bisa gila ; bahasa Perancis)" umpatku sendiri dalam bahasa campur aduk.


"Malhago sipji anhdamyeon tteonalgeoya (Kalau tak mau bicara aku pergi ; bahasa Korea)" tanpa menoleh aku segera pergi tapi dia kemudian mulai bicara.


"Geh Nicht!! (Jangan pergi!!!)" dia menghentikan langkahku.


Dari situlah kami selalu berjanji bertemu setiap akhir pekan. Tak kusangka dia memiliki kelainan bipolar. Semenjak itu bibi tak mengizinkan aku bertemu dengannya. Malam itu, tak kusangka James membunuh bibiku dengan sadis. Dia menjerat kepala bibi dengan tali dan mendorongnya keras menabrak tembok hingga berulang kali. Aku hanya bisa bersembunyi dibalik dinding, tak berani berteriak bahkan untuk bernafaspun takut. Gemetar, ketakutan dan sangat mencekam. Paman sedang keluar kota saat itu. Hanya hitungan hari saja pengadilan memutuskan kalau bibiku meninggal karena bunuh diri.


Aku yakin kalau James bukan orang sembarangan. Dia bisa lolos dari hukum. Aku tak tinggal diam. Kuselidiki sendiri. Sepekan setelah bibi dikebumikan. Aku meminta Paman mengirimku kembali ke Indonesia. Dengan identitas asliku dan kembali menjadi gadis kecil polos dan bodoh. Bukan tanpa sebab, semua kulakukan demi keselamatan diriku dan orang disekelilingku. Tak kusangka James yang terobsesi padaku berhasil menemukanku dan merubah keseluruhan dirinya dan mendaftar disekolah yang sama denganku. Raka Praditya, itu nama yang dia gunakan saat masuk SMA ini.


Bukan hanya itu saja yang lebih membuatku terkejut sehari sebelum studytour ayah dengan putus asa bilang kalau mulai saat ini kita akan dalam masalah besar karena sudah membuat murka seseorang. Ayah mengatakan kalau aku sebenarnya sudah dijodohkan oleh Kaviandra Raka Prakasa sejak masih dalam kandungan. Itu yang tertulis dalam surat wasiat Kakek dari Papa.


"Sayang,,, kau tidak sendiri. Aku, kamu, kak Rian, Nia, Papa Mama Ayah Ibu semua ada untukmu. Jangan khawatir" kupeluk dan kuelus punggungnya dengan lembut.


"Kumohon kak, bisakah kau bersabar untuk sekarang. Hanya sepuluh hari. Iya hanya sepuluh hari cukup bagiku menjatuhkan semuanya. Berjanjilah kau tidak akan memancing emosinya lagi" kata Mong memelukku erat.


Mong Mong berusaha melindungi ku dan kami semua. Apa gunanya Rey??? Kau bodoh. Kau tak sebanding dengannya. Dia begitu cerdas dan hati-hati. Dibalik keceriaannya tersimpan banyak luka yang sangat dalam.


"Aku berjanji. Lakukanlah sesuai caramu" kataku tersenyum menguatkannya.


"Ada satu lagi kak. Kau juga telah menyinggung Raditya Bumi Prakasa"


"Maksudmu??? Aku bahkan tak mengenalnya??" tanyaku heran.


"Raka dan Donitabersaudara. Donita yang mencintaimu dan kau tolak berkali-kali adalah putri sulungnya, Donita Arsiera Prakasa. Apa kau tak tau itu??? Dan waktu itu kak Rian menjebloskannya ke penjara gara-gara otak dibalik penculikanku adalah dia" Jelas Mong membuatku terperanjat tak percaya.


"Jadi dia membalas semua ini pada keluargaku. Kenapa dunia begitu sempit. Semua seperti benang yang saling terhubung" kataku lelah.


"Mari kita berjuang bersama kak!!!" katanya menggenggam tanganku memberi semangat.


"Ahhhh... Aku lelah habis berkata serius??? aku butuh refreshing kak woammmm..." kata katanya sudah kembali normal menjadi gadis bodoh dan usil.


"Apa dia juga punya kelainan mental he he he" pikiranku kembali relax hanya dengan melihat nya tersenyum ceria.


"Karena kau sudah berjanji untuk berjuang bersama. Maka ikuti aku!!! Kakak tidak boleh tertawa, aku akan mempraktekkannya. Lihat baik-baik!!!" katanya memasang kuda-kuda tapi aku tak tau maksudnya.


"Kami, sejoli pasangan bertopeng,,, Mong Mong Pan Pan berjuang menumpas kejahatan dan membela kebenaran. Saatnya berubah pipipipiuuuuu piuuuu piuuu" jargon yang membuat tertawa terpingkal-pingkal melihat Mong mempraktekkan seperti Sinchan ha ha ha.


Tiga Bulan Yang Lalu


"Duduklah!!!" Armanto


"Baiklah langsung ke intinya Om. Bukankah Om sangat ingin membalas kebaikan keluarga Wiryoatmadja. Maka inilah saatnya. Aku belum bisa memaafkan Om tapi jika Om tak mengkhianati kepercayaan yang kuberikan maka akan aku pertimbangkan.


Semua saham dan peninggalan nenek sudah aku tanda tangani tapi aku minta Om Armanto menjadi penanggung jawab semuanya. Dengarkan, Om Armanto dengan kuasa penuh dariku akuisisi semua anak perusahaan Bumi Prakasa yang memiliki margin bersih sekitar 60% masuk ke perusahaan dan marger semua perusahaan yang berhubungan buruk dengan Bumi Prakasa. Aku hanya bisa memberi waktu Om tak lebih dari dua bulan. Apa Om menerima tantangan ku??"


"Baiklah. Aku menerimanya. Tak kusangka anak yang dulu kusepelekan berubah menjadi gadis genius tak kenal takut"


"Ini semua data yang kau butuhkan. Oh ya aku akan memberi hadiah spesial padamu Om jika kau berhasil. Jangan kecewakan keluarga Wiryoatmadja yang sudah banyak membantumu dan mereka. Adira dan mantan istrimu baik baik saja. Kau tak perlu cemas"


"Gadis ini...."

__ADS_1


__ADS_2