Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Kemarahanku


__ADS_3

Kulangkahkan kaki menuju perusahaan Papa. Bahkan sejak dari lahir, ini kali pertama aku berani datang ke kantor papa untuk menemuinya. Apapun yang terjadi nanti hanya Allahlah pelindungku. Kukuatkan hati. Langkah demi langkah kutapaki kantor ini.


Di meja resepsionis


"Permisi. Bisa saya bertemu dengan pak Armanto?" tanyaku.


Dengan tatapan menyelidik, penuh curiga dan rasa tak suka diapun menjawab ketus. " Pak Armanto tidak bisa ditemui".


"Bolehkah saya tau ruangannya?" tanyaku sekali lagi berharap mendapat jawaban yang memuaskan.


"Hyaa... (membentak, kulihat semua mata pun memandangi kami). Kamu tidak liat pekerjaanku!! Sudah kubilang Pak Presdir tidak bisa ditemui apalagi dengan gadis kecil, kumuh, lusuh apalah itu sejenisnya,, jadi... tolong... jangan ganggu ketenangan kantor ini. Mengerti!!!" katanya marah. "Kalau tidak aku panggil satpam buat usir kamu, mengerti!!!" lanjutnya.


"Pa, keluarlah" teriakku sengaja membuat keributan. "Pa, cepat keluar lah" teriakku sekali lagi. "Papa mau semua orang tau rahasia keluarga kita, cepat !!! keluarlah!!!" teriakku semakin menjadi.


Ku lihat semua orang di kantor ini menatapku tajam. Mereka memandangku penuh hina.


"Sudah gila gadis itu", "sudah stress kali ya, pak Presdir setauku hanya punya anak yang seorang dokter", "Anak simpanan pak Presdir kali" mereka berbisik mengolok-olok ku. "Satpam!!!!" teriak petugas resepsionis tadi.


Akupun ditarik paksa oleh satpam kantor itu. Semakin dia mengusirku, seemakin aku memberontak. "Papah... keluarlah!!! Armanto...!!!!" teriakku sudah tak ada rasa hormat sedikitpun pada papaku yang memang bagi mereka aku hanya sebagai alat untuk menguasai warisan nenekku saja.


"Hyaa.. Armanto keluarlah jangan jadi pecundang hanya untuk menghadapi anak kecil sepertiku saja" teriakku semakin gila.


Di ruangan Direktur


tok... tok... tok...


"Masuk!!" kataku


"Maaf pak Presdir, ada seorang gadis mengamuk di lobi bawah" kata sekretarisku.


"Suruh aja satpam buat mengusir dia. Masak gitu aja gak becus" gerutuku marah.

__ADS_1


"Maaf pak Presdir, dia mengaku Putri Anda" katanya ragu.


Kusuruh sekretarisku keluar. Segera kulihat cctv dari laptop, "Berani-beraninya membuat keributan di kantor dan mengaku putriku. Sudah bosan hidup dia" batinku.


Betapa terkejutnya aku, "Sherin...??" pekikku kaget tak percaya. "Arghhh.. Sialan. Mau apa dia kesini??" kataku marah.


Lobi Kantor


"Hyaaa... Armanto keluarlah!!!" teriakku histeris. Akhirnya Papa menampakkan dirinya.


"Bubar!!!" bentaknya.


"Ikut Papa!!!" katanya sambil menarik tanganku dengan paksa.


"Pa.. lepaskan!!! (bentakku), sakit... ahh aww.." kataku menahan sakit.


Akupun dibawa ke ruangannya. Sungguh besar dan indah tapi terkesan dingin dan hampa.


"Masuk!!!" teriaknya.


"Pa..." pekikku seakan tak percaya mendapat tamparan dari papaku hingga tersungkur ke lantai untuk pertama kalinya.


Kupegang pipi yang sakit dan mengelusnya lembut berharap akan berkurang rasa sakit yang kurasa. Tak terasa air matapun menetes. Kukuatkan diri dan mentalku untuk bangkit.


"Apa otakmu sudah tidak waras?? Bisa-bisanya, kamu membuat keributan di kantor", teriaknya marah.


"Seharusnya Sherin yang marah Pah. Begitu hinanya Sherin sampai Papa pun tak mengakui Sherin anak papa. Papah sudah puas!!!" kataku sedikit keras.


"Tampar!! Tampar lagi Pah..!!! Sampai Papa puas" kataku dengan gemetar mendekatkan wajah dan menarik tangan Papa ke pipiku.


"Apa maumu" katanya singkat.

__ADS_1


"Begitukah sikap Papa pada anaknya. Oh ya Sherin lupa kalau cuma kak Dira yang Papa anggap anak Papa" jawabku mengejek.


"Apa maumu cepat katakan, Papa gak ada waktu berbicara denganmu?" katanya tanpa memandangku kembali ke meja kerjanya.


"Sherin cuma punya satu pertanyaan. Papa jawab jujur!!" pintaku.


Rasanya sungguh berat sekali seakan suaraku tertahan di tenggorokan tak dapat berbicara.


"Katakan!!" ucapnya enteng.


"Papa tau, bunda Deasyna dan kak Dira yang merusak rem mobil mamaku tepat sebelum kecelakaan itu??" tanyaku pelan.


Kulihat papa menghentikan kegiatan menulisnya. Papa hanya terdiam memandangiku. Wajah yang menyiratkan rasa bersalah dan kecewa serta amarah terlihat jelas di wajah Papa. Kemudian ia menghampiriku.


"Jawab Pa... !!! Papa jangan diam saja!!!" kataku sambil menangis.


"Sherin,, dengarkan Papa!!" katanya mulai lembut memegang kedua bahuku.


"Kamu tau darimana kalau bunda dan kakakmu merusak rem mobil mamamu?" katanya sambil memegang kedua pundakku sekali lagi.


"Bunda dan kakakmu takkan melakukan perbuatan keji itu" katanya menjelaskan.


Kuhempaskan tangan Papa. Ku jauhkan diriku dari Papa. "Inikah jawaban yang mau kau dengar Sherin.." batinku.


"Sudah cukup Pah.. Sherin sudah tau akan seperti ini. Papa akan selalu membela dan menutupi kesalahan mereka. Benar.. Papa sangat menyayangi mereka. Oh bodohnya kau Sherin... Masih saja berharap Papamu akan berkata jujur. Setidaknya berpura-puralah baik kepadaku atas apa yang sudah dilakukan nenek, Mama dan aku. Kau hanya bisa menyiksaku, kau hanya mau harta kami. Akan kuingat kejadian ini. Lihatlah apa yang bisa kuperbuat padamu dan mereka" gerutuku marah, kesal dan mengancam dengan tatapan penuh arti.


"Baiklah. Pah. Kak Dira lah yang mengatakannya. Sudah cukup, kebohongan yang selama ini kalian tutupi. Sherin sudah muak dengan semuanya!!! Papah sudah Puas!!!" teriakku sambil berlari keluar.


Tangisku pun pecah sudah tak bisa disembunyikan lagi. Aku berlari menuju lift menuju lantai dasar. Sudah tak ada lagi yang bisa aku katakan. Yang kutahu mereka semua memandangku penuh hina dan seakan mengolok-olokku. Aarrgghhh... Kepada siapa lagi aku harus mengadu...


Sudah lama aku berjalan. Tapi rasa sakit ini, dada ini terasa sesak. Kepalaku tiba-tiba pusing dan pandanganku semakin lama semakin kabur hingga semua terlihat gelap bagiku.

__ADS_1


Author :


Mohon maaf apabila ada kesan yang kurang berkenan dalam penokohan Sherin dengan papanya di cerita ini. Ini hanya cerita yang mungkin bisa ataupun pernah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tapi alangkah baiknya kalau kita bisa meredam emosi. Hargailah dan hormatilah kedua orang tua kita seburuk apapun keadaan kita.


__ADS_2