Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Pil Kejujuran


__ADS_3

Villa Utara


Tak disangka bibi Fang adalah orang yang begitu kejam. Dia bahkan bisa membuat Mong mongku dalam kesulitan demi anak tersayangnya. Dengan tajam kutatap mereka serasa ingin membalaskan penderitaan Mongku karena pistol statis itu.


"Apa yang kau lihat??? Lebih baik gunakan matamu untuk makan dan menyuapi tunangan nakalmu" kata bibi blak blakan. Kalau tak sadar aku masih didalam rumahnya pasti sudah kubom tempat ini saking marahnya diriku.


"Awwww.... ahhhh.... Bibi kau benar-benar sudah tak menganggapku anakmu. Bagaimana kau bisa memberiku pelajaran dengan senjatamu itu. Kali ini kau keterlaluan menindasku" teriak Mong kesal menahan sakit akibat listrik statis yang mengenai kakinya.


"Kau duluan anak nakal. Kau masih menyalahkan bibimu. Kau ini memang keterlaluan, bagaimana bisa kau menyuruh Mimi Momo mengejar Long Yi Yan" kata bibi tak mau kalah. Perdebatan yang tak seharusnya ada di meja makan.


"Ma.... Jangan menyalahkan beruangku. Dia hanya bercanda ya kan??? Lili mengalahlah jangan buat ibuku semakin marah" bela si Long membuatku kesal.


"Bibi.... Secara sistematis itu bukan kesalahanku seutuhnya. Kau juga ikut andil. Kau bilang agar aku melerai mereka tapi kau tak mengatakan cara apa yang harus ku gunakan. Jadi jika aku memilih dengan caraku sendiri kan tak masalah. Lagipula sebelum aku mengeluarkan Mimi Momo aku sudah memperhitungkannya dengan baik. Mimi Momo bukan seperti singa pada umumnya karena mereka adalah teman yang kupelihara. Satu hal lagi mereka tidak kejam dan duo little itu bukan karnivora tapi mereka herbivora bahkan bisa dibilang mereka sangat imut. Satu poin yang terpenting bahwa aku mengeluarkan mereka dengan persetujuan pihak yang berkaitan. Bukankah begitu kak Long kak Rey???" jelasnya mengagetkan kami.


"Benar, kami menyetujuinya secara sukarela" jawab si Long dengan tegas tanpa ragu ragu.


"Lihatkan... anakmu saja sudah mengakuinya. Apa bibi berhutang permintaan maaf padaku??? Bi, biasanya aku akan kejam pada orang yang telah menyakitiku tapi untuk kali ini aku akan menganggap bibi tak pernah menindasku asalkan bibi meminta maaf padaku dengan tulus. Ni cuo, you ren Bao rong ni, zhe jiu shi xing fu, saat kamu berbuat salah, ada orang yang memaafkanmu, itulah kebahagiaan. Dengan tulus aku meminta maaf kepada kak Long dan kak Rey. Sekarang Kita impas he he he" katanya tak dapat ku percaya membalikkan keadaan dan membuat bibinya terpojok.


"Baiklah keponakanku yang nakal. Kau memang garis keturunannya. Sial sekali aku dulu tergila-gila pada orang itu. Lihat saja anaknya sungguh bisa membuatku menderita" gumam bibi dengan kesal.


"Ma.... minta maaflah jangan memperpanjang masalahnya. Sherin juga sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Bukankah Mama mengajarkanku kalau siapa yang salah harus meminta maaf dan bertanggung jawab" kata si Long mencoba membujuk ibunya.


"Dengan tulus, bibi meminta maaf kepada keponakan bibi yang sangat ajaib Sherin Aqila Sakha Prayuda. Apa sekarang kamu bisa memaafkan bibimu ini???" ucap bibi membuat kami semua membelalakkan mata. Bibi Fang sengaja menyebutkan nama asli Sherin secara gamblang, bahkan sampai sekarangpun kami masih diam mematung.


Nama asli seorang gadis yang sudah lama aku cintai, baru kali ini terdengar lantang ditelingaku.


"Sherin Aqila Sakha Prayuda, benarkah itu nama aslimu???" tanyaku balik menatap ke arah Mong Mong yang juga masih shock dengan ucapan bibinya.


"Nama aslimu begitu gagah Liliana, tak kusangka ternyata sifatmu berasal dari arti namamu. Aku jadi terharu" ucap si Richie mengeluarkan air mata.


"Sherin Aqila Sakha Prayuda, gadis manis yang cerdas dan bijaksana, murah hati berpikiran terbuka tanpa batasan dalam mencapai penghidupan yang bahagia dan sempurna. Pantas saja selama ini kami selalu tak sepadan denganmu ternyata mau tak mau harus percaya pada kekuatan doa dari orangtuamu dibalik nama yang mereka berikan" jelas Kitty membuatku berpikir sekaligus bersyukur atas penjelasannya.


"Ha ha ha.... Kalian bisa saja.... Sudah ayo makan keburu dingin. Bibi aku sudah memaafkanmu. Jadi tolong jangan ungkit ungkit ini lagi oke...." katanya tersenyum penuh makna tapi dari sorot matanya mong Mong pasti masih menyimpan amarah kepada bibinya.


"Sudah sudah semua sudah beres sekarang ayo makan ha ha ha..." kata si Long menutupi sesuatu.


"Kak Long, bisa minta tolong ambilkan obat sakit kepala??? Lihatlah gara-gara terkejut kepalaku sampai sakit" bisiknya pelan tapi masih terdengar jelas.


"Kenapa dia tidak minta tolong kepadaku??? Apa dia tak mau aku membuat masalah karena ini rumah bibinya" batinku sedikit cemburu.


"Tunggu disini, sebentar!!!" kata Long segera mencari obat yang dimaksud.


"Obatnya ada di atas meja samping tempat tidur kamar Mama. Sherin hanya bisa mengkonsumsi obat-obatan jenis CCBs (Calcium Channel Blockers) dari kecil. Jadi jangan ambil obat sembarangan" teriak bibi Fang ternyata masih peduli dengan Mong Mong.


Lima menit kemudian.


"Ini, minumlah" kata Long begitu lembut dan perhatian.


"Makasih Kak Long, bibi Fang" kata Mong begitu tersentuh.


"Bagaimana sekarang apa kamu masih pusing" tanyaku berharap Mong Mong segera sembuh dan kita dapat kembali ke Jakarta segera.


BRAKKKKK.... Seketika Mong tak sadarkan diri dan kepalanya membentur meja makan.


"Mong.... Bangun!!! Long Yi Yan dasar kamu brengsek. Apa yang kau berikan kepadanya???" teriakku marah mencengkeram lehernya kuat.


"Lepaskan Reynan!!!! Jangan kasar dengan anakku!!!" teriak bibi Fang masih membelanya.


"Rey, lepaskan kau bisa membunuhnya" teriak Rendy menarik paksa tanganku.


"Nona, bangunlah. Kalau tidak mereka akan berkelahi lagi. Nona...." teriak Vanya khawatir.


"Lili... Bangun!!!! Hyaaa hentikan..... jangan berkelahi disini!!!!" teriak Richie membantu menengahi kami.


BRAKKKKK...... Meja makan dipukul keras.


"Diamlah!!!! Kalian semua berisik!!!!" teriak Sherin mengagetkan kami semua.


Segera kulepaskan cengkeramanku dan beralih memeluk Mong Mong.


"Huks huks.... sialan si Rey benar-benar mau membunuhku" gerutu Long tak kuhiraukan.


"Kamu tak apa Mong???" tanyaku cemas.


"Siapa kamu, berani menyentuhku sudah bosan hidup kalian!!!" teriaknya tak terkendali mengangkat satu kakinya keatas meja seperti preman.


"Aku.... Buggggg...." belum selesai bicara satu pukulan tepat mengenai wajahku.


"Ha ha ha.... Diam kalian semua. Kalau berani bicara akan kupukul kalian satu persatu. Berlututlah Se...Ka... Rang!!!!" teriaknya dengan gaya bos gangster.


"Heyyy kau bibi tua, berlutut!!!" teriak Mong tak sopan dan diluar kendali.


"Siapa yang menyuruhmu melihat keatas, tundukan Pandanganmu!!!!" teriaknya tak bisa dipercaya. Dalam hitungan menit dia berubah menjadi liar.


"Kau, laki laki tampan ambilkan aku minum!!!" perintahnya menunjuk kearahku.


"Baiklah Mong... PLAKKK...." kataku terhenti oleh tamparannya.


"Lancang..... Dengarkan baik-baik. Siapapun kalian mulai hari ini panggil aku boss besar. Sekarang ini semua milikku, daerah kekuasaanku. Siapapun yang berani macam-macam dan tak sopan kepadaku akan kupukul sampai tak berbentuk. Mengerti!!!" katanya lepas kendali. Apa Mong Mong kesurupan???


"Baik boss besar" jawab kami semua saling menatap bingung satu sama lain.


"Ini minumnya boss besar" kataku menyodorkan minuman dengan berlutut ala ala Keraton.


"Kalau suami takut istri itu masih sedikit normal, tapi ini tunangan menjadi anak buah istri masih ditindas pula, masih adakah harga diriku yang tersisa" batinku menangis.


"Aku mau istirahat. Jangan berencana kabur dan melakukan pemberontakan. Kalau tidak kuhabisi kalian semua" katanya tegas meninggalkan kami yang masih berlutut di samping meja makan.


"Hufffttt.... hahhhhh.... cobaan apa lagi ini???" kata Richie dengan wajah lesu.


"Long katakan, obat apa yang kau berikan kepada Sherin???" tanya bibi Fang berpikir.


"Seperti kata Mama, obat di meja samping tempat tidur. Kalau tidak salah ada dua botol. Aku mengambil salah satunya" jelas Long membuat kami harap harap cemas.


"Mana botolnya???" kata bibi masih dengan wajah serius.


"Ini.... Ma... kenapa dengan ekspresimu???" tanya Long cemas.


"Tamatlah kita semua. Long Yi Yan kau memang sudah gila" teriak bibi Fang langsung dibekap mulutnya oleh Kitty.


"Tante, kau jangan berteriak atau tamatlah kita semua. Jelaskan dan kita pikirkan solusinya" kata Kitty langsung ke inti permasalahannya.


"Dengarkan, obat yang Sherin makan adalah sejenis obat yang belum pernah diujikan, untuk efek samping dan cara kerjanyapun belum pernah diuji. Ini kesalahanku seutuhnya. Jadi aku akan bertanggung jawab penuh" kata bibi dengan nafas berat.


"Apa...." teriakku langsung dibekap oleh Rendy.


"Diamlah atau kita akan habis" cegah Rendy.


"Ma.... Jangan jangan ini obat kejujuran itu??? Tapi kenapa Sherin sampai lepas kendali dan bertingkah seolah dia seorang boss gangster" tanya Long semakin membuat kami bingung. Kenapa kalau berhubungan dengan para peneliti semua menjadi diluar dugaan.


"Tampan.... Ambilkan camilan!!!" teriak Mong benar-benar keterlaluan.


"Baik boss, segera laksanakan" jawabku bergegas mengambil beberapa camilan dan memberikannya segera di ruang TV.


"Bule.... Kau kemari, pijatilah pundakku!!!" teriak Mong sekali lagi memanggil salah satu diantara kami.


"Bule, siapa kali ini yang dia panggil???" tanya Kitty khawatir.


"Vanya pijatilah nonamu, bukankah rambutmu pirang" kataku segera menyuruh Vanya lari kearahnya. Sementara kami masih berembuk tentang apa yang bisa kami lakukan.


"Pil Kejujuran, sebenarnya ditujukan untuk tahanan yang akan kami interogasi. Dia akan mengeluarkan kata kata jujur tanpa kebohongan sedikitpun tapi efeknya belum tau. Setelah Sherin memakannya dia malah berimajinasi menjadi boss gangster. Ini diluar dugaan. Separah-parahnya kalau ini diminum orang biasa hanya akan membuat orang itu pingsan dan lupa ingatan sementara. Efeknya hanya 1 jam selebihnya kembali normal. Tapi kalau ini diminum orang seperti Sherin, aku tak berani jamin berapa lama efeknya akan bekerja. Solusinya hanya ada satu" jelas bibi tapi masih tak meyakinkan.


"Katakan Tante!!! Aku mau lekas istirahat" kata Richie kelelahan.


"Kita hanya bisa menuruti kemauannya. Jangan sampai membuatnya marah karena yang kulihat tenaga gadis itu meningkat 10x lipat dari biasanya" jelas bibi Fang sekali lagi.


"Tamatlah kita. Aku harus membuat surat wasiat hiks hiks hiks" ucap Richie lesu.


"Hahhhhhhhh.... aku tak mau mati sia sia bahkan jadi budaknya.... Tidak boleh....." keluh Kitty sama lemasnya.


"Kalian sedang apa??? Kenapa tak mengajakku???" kata seseorang baru saja datang dan berjongkok disampingku tanpa ada yang menyadari sosoknya karena kami sibuk melamun dengan pikiran kami sendiri.


"Kau mau tau, Kami semua tak mau mati disini. Adik bungsu kami sedang berimajinasi menjadi boss gangster. Hufffttt....." jawab Richie asal.


"Astaga, betapa menyedihkannya kalian. Apa kakak takut dengan adik bungsumu itu???" tanyanya tapi seakan kami sangat familiar dengan suaranya.


"Bagaimana tidak takut. Dia normal saja sudah begitu merepotkan apalagi kekuatannya meningkat 10x lipat bukankah itu sangat berbahaya???" jawab Richie jujur. Ada hawa yang aneh disekitar kami dan Vanya terus saja memberi isyarat untuk kami tutup mulut.


"Jangan-jangan....." batinku menoleh kesamping dan segera berlutut mundur.


"Ha ha ha..... kalian mencoba menyingkirkan ku???" tawa menakutkan dari Mong Mong.

__ADS_1


"Astaga tamatlah kita....." ucap Long kaget.


"Menunduklah jangan bicara lagi" kata Rendy.


"Ampun boss besar. Ampun.... Kami bersalah tak menjaga mulut kami" kata Richie ketakutan.


"Kalau kau menyesal, tampar wajahmu 100x sekarang!!!" teriak Mong Mong menjadi kejam seperti selir jahat. Entah apa yang akan kami lakukan jika dia sudah kembali normal.


"Tapi.... PLAKKK...." sanggah Richie langsung ditampar Mong tanpa basa basi.


"Aku tak suka ditolak. Lakukan atau aku akan mencincangmu sekarang!!!" ancam Mong membuat kami ketakutan.


"Kau Om tua, bersihkan kamar mandi dengan sikat gigi!!!, Kau tampan harus melayaniku dan menurut perintahku, bibi tua bersihkan meja makan dan dapur, kau bule pijati aku lagi dan satu lagi kau harus membersihkan rumah ini" perintah Mong membagi tugas kami.


"Baik boss besar" jawab kami tak bisa menolak. Di satu sisi dia wanitaku disisi lain dia orang yang sangat kejam karena efek obat itu.


"Buat dia tertidur, kalau tidak kita akan mati kelelahan" bisik bibi sebelum pergi ke dapur.


"Kami mengandalkanmu Rey" kata Kitty segera mengambil peralatan bersih-bersih.


"Kali ini, aku menyerah. Kau memang tunangan yang pas untuknya. Aku takkan mengganggu lagi" kata Long penuh makna tersirat.


Richie menatapku tajam dengan tangannya masih terus menampar wajahnya hingga memerah.


"PLAKKK....PLOKKKK.... PLAKKK.... PLOKKKK.... sialan kenapa aku harus menuruti kemauan anak itu hiks hiks sakit sekali" gumam Richie kesal.


"Tampan.... Kemarilah!!! Layani aku!!!" kata Mong dengan suara manja. Memang benar aku mengharapkan lebih tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Dia tak sadar dengan apa yang dilakukannya.


"Baik..." jawabku lesu.


"Bule kau boleh pergi, aku mau bersama cowok tampan ini" katanya membuatku semakin takut.


"Apa dia akan melecehkanku???" pikirku tak karuan.


"Duduklah!!!" pintanya lembut tapi menakutkan.


Mau tak mau aku duduk gemetar disampingnya.


"Bagaimana jika kupukul kepalanya biar dia kembali normal. Ahhhh tidak... tidak boleh bagaimana kalau aku malah menyakiti dan membahayakannya" pikirku mencoba mencari cara.


Mong terus saja membelai lembut wajahku. Memainkan jarinya di wajahku dengan nakal.


"Kau takut???" katanya tak sadar.


"Tidak boss besar... Hanya saja aku lelaki normal. Jika Anda terus saja menyentuhku aku bisa lepas kendali" jawabku berharap dia menghentikan aksinya.


"Bagaimana kalau begini, apa ini bisa membuatmu lepas kendali???" Kata yang keluar dari mulutnya benar benar gila. Dia meraba dadaku dan membuka kancing bajuku. Apa dia benar-benar Sherin yang kukenal. Kenapa dia begitu nakal.


"Tataplah aku.... Kau sekarang jadi milikku. Mengerti!!!" katanya berbisik. Semua orang menatapku berharap mengikuti permainannya dan mencari kelemahannya.


Mungkinkah dengan ciuman paksa dia bisa kembali normal. Tak ada salahnya kucoba. Hal yang paling dibencinya adalah menyentuhnya secara paksa. Ini lebih baik daripada melukainya.


"Kau menginginkannya...." tantangku langsung kucium paksa dirinya.


"Mmppphhhhh...... Awwwwwww.... sakitnya kepalaku...... Sakitttt sekali......" teriaknya keras mendorongku lalu memegang kepalanya dan pingsan.


"Hahhhhhhhh.... Apakah kita sudah berhasil mengendalikannya???" tanyaku sedikit lega tapi masih berharap harap cemas.


"Ohhhhh.... pipiku.... aku membencinya.... dalam kegilaannya pun tak luput dari menyiksaku Huaaaaaaa....." teriak Richie mengelus kedua pipinya yang merah.


"Sabar Ichie, mungkin dikehidupan sebelumnya kau pernah berhutang padanya ha ha ha" jawab Kitty asal.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang???" tanya Rendy masih khawatir efek obatnya belum habis.


"Kita istirahat dulu. Tenaga wanita tua ini sudah habis. Lihat saja aku akan menyuruhnya membersihkan villa Selatan ku dengan sikat gigi kalau dia sudah sadar" ancam bibi Fang kesal.


"Tanganku bengkak sayang,,, nona menyuruhku terus memijatnya tanpa henti hiks hiks" keluh Vanya kepada Rendy.


"Sudahlah, ini juga bukan salahnya. Aku yang ceroboh" bela Long langsung dibalas tatapan tajam kami semua.


"Hyaaaa..... kenapa kak Rey memelukku" teriakannya mengagetkan kami semua.


"Syukurlah kau sudah sadar Mong. Kau sudah ingat siapa kami, syukurlah.... syukurlah..." kataku lega.


"Tentu aku jelas tau siapa kalian. Apa perlu aku jelaskan!!!" katanya lebih lembut tapi masih berbeda dari aslinya. Mungkinkah masih ada efek samping lainnya???


"Kau, si Rey tunanganku tapi kau selalu saja mencuri curi kesempatan menyentuhku. Dasar kau brengsek. Dan kau bibi Fang, kau orang yang terus saja mengejar Ayahku dari sejak SD sampai SMP. Kau terus saja menaruh hati pada ayahku. Karena kegigihanmu akhirnya Ayahku menerimamu di hari itu dan memutuskan pacar pertamanya yaitu kau juga dihari itu" jelas Mong jujur sekali.


Blammm... Suitttt.... dashhhh.... Wuingggg....


"Selesai. Kalian dengarkan saja. Sutttt jangan banyak bicara. Dengan kebaikan hatiku akan ku ceritakan tentang kalian satu satu" kata katanya sungguh tak ada yang bisa mengontrolnya lagi.


"Lili lepaskan kami!!!" teriak Richie kesal.


"Adik bungsu bisa tidak kita bicarakan ini baik-baik???" Kitty berusaha negoisasi.


"Sayank, kau bisa dihukum kalau begini. Ini namanya penindasan" kataku malah semakin membuatnya kesal.


"Sherinnnnnnnnnnnn.... akan kuhajar kau jika bicara lagi tentangku" teriak bibi Fang begitu marah.


"Sabar Ma semua ini karena salahmu juga menaruh obat itu disamping obat sakit kepala" kata Long tersenyum kecut.


"Sudah selesai mengeluhnya. Aku takkan menyakiti kalian hanya saja aku ingin berbagi cerita saja. Jadi dengarkan baik-baik oke" katanya membuat kami tersenyum kecut saling memandang satu sama lain.


"Bibi Fang. Kau sekarang masih mencintai Ayahku bukan????" tanyanya membuatku kaget.


"Diam kau anak nakal" teriak bibi marah.


"Bibi kau tak lelah mengejar Ayahku jadi kau merawatku dan menjagaku tumbuh bersama dengan kak Long. Setidaknya kau bisa mencurahkan cinta tak terbalasmu kepadaku. Tapi kau tidak salah mengambil keputusan. Karena aku juga begitu menyayangimu. Kau baik, lembut kepadaku dan bisa diandalkan. Bagaimana kalau kau menikah saja dengan ayahku sekarang???" katanya membuat kami saling tatap.


"Sherin,,, anak baik. Bisa tidak tutup mulutmu. Siapa yang mau menikah dengan Ayahmu" teriak bibi Fang dengan penuh amarah.


"Tunggu.... aku bisa mengaturnya, kau tinggal datang pada hari pernikahanku saja dan bibi akan jadi istri papaku dan mamaku tetap jadi istri pertama. Di zaman dinasti kerajaan bukankah tak apa jika punya selir banyak" katanya semakin membuat bibi Fang meradang.


"Ma.... kau benar-benar mau menikah dengan Papanya???" tanya Long semakin membuat ibunya kesal.


"Diamlah....... Siapa yang mau jadi selir, Sherin apa otakmu sudah rusak???" teriak keras bibi Fang.


"Bibi, apa kau tidak mau jadi selir, ohhhh kalau begitu kau mau jadi permaisuri???? Aku akan bicara baik-baik dengan mamaku dan memintanya menyerahkan jabatan permaisuri kepadamu. Bagaimana, aku lakukan semua ini untukmu bibi. Aku pasti menuntut keadilan untukmu. Tenang saja!!!" katanya semakin membuat kami geleng-geleng kepala.


"Hahhhhhhhh.... anak ini. Aku tak bisa berkata-kata lagi" gumam bibi menyerah.


"Kalau begitu artinya kau setuju, maka bersiaplah jadi permaisuri papaku. Satu masalah teratasi" katanya tanpa dosa.


"Ma, diamlah atau urusannya semakin panjang" bisik Long menenangkan ibunya.


"Kau kak Long. Aku tau dari kecil kau sudah baik dan berani mengambil resiko untukku. Tapi dengarkan baik-baik. Meskipun aku cantik, baik, jujur, sederhana, dan tipe idealmu tapi kau bukan orang yang kumau. Aku tak suka dengan orang yang terlalu memimpin, melindungi, dan berpikiran kolot" katanya gantian membuat Long marah. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Inikah manfaat pil Kejujuran???


"Siapa yang kolot" teriak Long terprovokasi olehnya.


"Sabar nak. Sudah dengarkan saja. Apa kau mau kita mendengarkan ocehannya seharian. Biarkan dia puas. Sabar Long.... Sabar.... begitulah rasanya dibongkar sifat aslimu didepan umum he he he.... sungguh pil ini sangat berbahaya huffffttttt...." kata bibi Fang menambah garam di luka anaknya.


"Kak Long, kau sama seperti ibumu. Mencintai orang dan gigih memperjuangkannya. Aku berikan aplause untukmu. Plok plok plok.... Tapi kau tak bisa begini terus. Kau harus membuka hatimu untuk wanita lain. Apa kau tak menyadari jika kak Richie sebenarnya menaruh hati padamu" kata Sherin mengagetkan kami semua. Terutama untuk Richie dan Long.


"Liliana..... hergghhhh...." kata Richie geram.


"Kak Richie, kau harus mengakhiri semua ini. Kalau kau tidak jujur maka kau sendiri yang sakit. Aku tau jika kau menjahiliku karena sebenarnya kau cemburu kedekatanku dengan kak Long. Kau harus berani mengungkapkan isi hatimu padanya. Apa kau mau jadi perawan tua???" kata Mong begitu saja tanpa rasa bersalah.


"Liliana.... sudah cukup.... hiks hiks.... Kalau kau sadar aku tak yakin jika aku tidak memukul mulutmu" teriak Richie meradang.


"Oke oke... kau bisa memukulku. Tapi biarkan aku bicara. Kak Long, kak Ichie menyukaimu saat kalian berada di misi yang sama saat di Jerman. Jangan lupa kaulah yang mencuri ciuman pertamanya. Kau harus bertanggung jawab bukan. Wahhhhh..... Kau benar-benar pintar mencampakkan wanita sudah 8 tahun dia menunggumu mengungkapkan rasa tapi kau malah mencintai orang yang salah. Sekarang aku sudah membuat jalan untuk kalian selanjutnya terserah padamu. Ohhh ya lakukan dengan adil karena yang mencintai kak Long bukan cuma kak Ichie saja tapi kak Kitty juga. Benarkan kak???" sekali lagi dia mengagetkan kami semua.


"Sherinnnnnnnnnnnn tutup mulutmu sekarang juga!!!!" teriak Richie semakin marah.


"Tunggu dulu biar kujelaskan.... Kak Kitty memang mencintai kak Long. Bahkan kau tak tau itu kan kak Ichie. Seharusnya kalian saling terbuka. Kenapa kalau soal cinta semua jadi begitu rumit. Apa susahnya tinggal bilang suka atau tidak beres kan urusannya.Kak Kitty apa kau akan menyerah???" semua mata menatap Kitty yang tertunduk entah itu malu atau marah.


"Kitty jangan dengarkan Liliana, dia menjadi gila karena obat itu" kata Ichie mencoba meyakinkan.


"Liliana memang benar. Sebenarnya aku sudah lama mencintai Long Yi Yan hanya saja aku tak berani mengungkapkannya. Long kau sudah dengar pengakuanku, sekarang kau boleh memilih siapa yang kau cintai. Ahhhhh leganya.... terima kasih Sherinnn kalau bukan karena kau aku selamanya tak berani mengungkapkannya" jelas Kitty terlihat senang.


"Benarkan, ahhhhh.... percuma saja kalian menyembunyikan dariku. Lihatlah bagaimana aku membukanya untuk kalian. Kak Ichie, apa kau masih ingin terus berpura-pura???" tanya Mong semakin membuat Ichie kesal.


"Dasar kau....... Sherinnnnnnnnnnnn akan kukubur kau hidup hidup" teriak Richie telah habis kesabarannya.


"Ho ho ho.... sayank aku takut....." katanya manja berjongkok disampingku.


"He he he apa yang harus kulakukan padamu jika kau sudah sadar..... Kali ini bukan masalah sepele" kataku pasrah.


"Dan kalian berdua harus hidup bahagia" teriaknya lantang menunjuk ke arah Vanya dan Rendy.


"Hanya itu saja. Apa mereka tak memiliki rahasia???" tanya bibi Fang heran.

__ADS_1


"Bukan tak punya, tapi aku lelah he he he.... Kalian jangan iri ya" jawabnya santai.


Mong begitu saja tertidur diatas sofa. Hanya sepersekian detik dia tertidur pulas.


"Cepatlah, buka ikatannya. Aku tak yakin dia sudah netral dari obat itu" kata bibi Fang tegas.


"Ma, kumohon mulai sekarang jangan buat obat obat aneh lagi he he he aku kaget setengah mati" kata Long tersenyum kecut.


"Diamlah, pikirkan cara agar kita bisa lepas sekarang" kata bibi Fang mencoba mengamati benda yang bisa membuat kami terlepas.


"Geser sedikit lagi, aku hampir meraihnya. Bagus. Untung ada gunting camilan di atas sini" kata Rendy berusaha mengambil gunting dan memotong tali pengikat ini.


Dengan segala daya upaya, akhirnya kami terbebas juga.


"Ikat dia sekarang, kalau tidak dia bisa membuat masalah lebih besar lagi. Aku butuh istirahat" kata bibi Fang masuk ke kamar.


"Richie kau mau apa???" ketangkap tangan Richie sebelum bisa memukul Mong.


"Tentu saja memukulnya" katanya tegas.


"Pukulah dia kalau dia sadar. Jangan main belakang. Bukankah prinsip beladiri seperti itu" kataku mengingatkan.


"Sudah jangan bertengkar. Kita terlalu lelah hari ini. Tak bisakah kalian istirahat" kata Kitty sangat dewasa.


"Huhhhh...." Ichie pergi dan membuang muka.


Hampir 15 menit Mong tidur. Kalau dilihat sungguh sangat menggemaskan. Tapi kalau sudah bersikap aneh maka tak seorangpun dari kami yang bisa menanganinya.


"Hoammmmmm..... Sakit sekali badanku" katanya tersadar.


"Mana yang sakit???" tanyaku lembut.


"Kak kemana semua orang???" tanyanya membuatku tersenyum.


"Kau sudah sadar. Mereka ada di kamarnya masing-masing. Kau sudah mengganggu mereka seharian" jelasku tersenyum.


"Masa sih, aku tak ingat sama sekali. Terakhir kali kepalaku begitu sakit" katanya seperti anak tak berdosa.


"Baiklah... aku akan ke kamar bibi dulu" katanya begitu saja pergi berlari tanpa bisa kucegah.


"Bibi.... Kau didalam" tanyanya masih terus kuawasi.


"Sherin apa yang kau mau lagi??? Kau sungguh anak nakal" teriak bibi dari dalam.


"Bibi aku minta maaf. Aku hanya mengajakmu minum teh. Biar kau tenang" teriaknya dari depan pintu.


"Bibi...." katanya masih berusaha keras.


"Sherin apa kau baik-baik saja sekarang????" tanya bibi.


"Apa kau masih menyuruhku jadi permaisuri???" tanya bibi tak kusangka akan terlena dengan ucapan bawah sadar Sherin.


"Permaisuri???" tanyanya balik.


"Kau berjanji akan menjadikanku permaisuri Ayahmu dan ibumu menjadi selirnya" tanya bibi tak masuk akal lagi.


"Benarkah???" tanya si Mong masih tak percaya. Bibi mengangguk.


"Aku sudah memikirkan tawaranmu. Dan aku merenungkannya lama. Aku setuju" kata bibi tanpa basa basi.


"Ohhhhh...." jawabnya mungkin sedang mencerna.


"Ayo duduk dan katakan padaku. Apa kau akan mewujudkan impianku???? Aku janji akan pensiun jadi peneliti, dan akan menjagamu, ayah dan ibumu. Bagaimana???" tanya bibi masih kudengarkan dengan seksama.


"Boleh saja" jawab Mong tak merasa bersalah.


"Bibi mau jadi istri pertama Ayahku, dan ibuku jadi istri keduanya gitu???" tanyanya masih belum paham.


"Iya" jawab bibi Fang tegas.


"Oke baiklah tapi bibi harus kupukul dulu jika mau jadi mamaku" katanya membuatku tersedak.


"Apa maksudmu???" teriak bibi keras.


"Bagaimana tidak kupukul permintaan bibi sangat aneh...." teriak Mong marah gantian.


"Kau yang menyuruhku" teriak bibi mulai tak terkendali.


"Mana ada.... berarti otakku sudah rusak kalau aku menyetujuinya" teriak Mong berlari keluar.


"Sherinnnnnnnnnnnn kau mempermainkan bibimu lagi....." teriak bibi Fang kali ini benar-benar sangat marah.


"Bibi kau terlalu percaya diri. Jika wajahmu secantik Song Hye Kyo akan kupertimbangkan. Jangan kejar aku lagi....." teriak Mong terus berlari mengitari kolam air mancur di halaman depan.


"Sini kau... Dasar mulut tak sopan...."


"Bibi kau benar-benar gila.... Jangan mengejarku lagi" teriak Mong masih terus berlari.


"Dasar anak nakal.... aku akan laporkan kau ke Ayahmu...." ancam bibi.


"Terserah.... dasar kau selir jahat" ejek Mong seperti anak kecil mengerjai seorang wanita berusia 50an.


"Apa kau bilang, kau memang pantas dipukul....." teriak bibi Fang marah.


"Bibi...... Ayahku datang lihatlah disana!!!" tipu Mong Mong.


"Dimana...."


"Ha ha ha... Kau tertipu bi"


"Dasar pembohong.... kemarilah!!!"


"Papa, tolong aku. Selirmu ingin memukulku" katanya tak kusangka Om Angga beneran datang kemari.


"Angga..."


"Fang Yue,... kenapa kau berlari dengan pakaian seperti ini???"


"Ha ha ha hanya bermain kejar tangkap dengan anak gadismu. Sungguh dia sangat lihai"


"Sherin, kau membuat masalah???"


"Mana ada???" tatapan Om Angga begitu kejam.


"Hanya sedikit"


"Sudahlah namanya anak-anak kau tak perlu memarahi dia lagi"


"Bibi.... buka topengmu" Kata Mong menatap tajam.


"Anak nakal ini. Masuklah!!!! Dimana Nayla???"


"Pah.... Bibi mau menjadi permaisurimu loh...."


"Diamlah.... jangan bercanda lagi ha ha ha"


"Fang Yue apa ada yang kau sembunyikan???"


"Tak ada..."


"Ada Pah...."


Bibi Fang menarik paksa mong menjauh dari Om Angga


"Sherinnn... aku akan memberikanmu mobil itu oke jadi tutup mulutmu"


"Oke baiklah kita deal.... Janji jari kelingking..."


"Tak ada Pah, bibi sangat baik kepadaku dan juga teman temanku. Papa harus memberinya hadiah asalkan jangan jabatan permaisuri ha ha ha" Kata Mong tertawa meninggalkan Om Angga dan bibi Fang


"Pah.... Jangan lama lama berbicara dengan bibi takutnya bibi akan meledak" teriak Mong membuat bibi Fang dan Om Angga kaget.


"Apa kau memakan sesuatu yang berbahaya???" tanya Om angga sambil memutar badan bibi Fang yang wajahnya sudah memerah seperti yang Sherin katakan.


"Pah sebentar lagi bibi pingsan karena ulahmu lohhhhh...." ejek Sherin sekali lagi sekarang kami mengamati dari teras kelakuan Om Angga dan bibi Fang.


BRUKKK KKK..... Bibi Fang jatuh karena saking senangnya bertemu cinta pertamanya.


"Sudah kubilang kan.... papah tak percaya. Pah Kau harus tanggung jawab.... Hati hati kalau Mama sampai tahu kau menggendongnya ha ha ha" tawa jahat Mong Mong.


"Sherinnnnnnnnnnnn......"

__ADS_1


__ADS_2