Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Gara-gara Dokter Tampan


__ADS_3

Sherin Wiryoatmadja


Di Rumah Sakit


"Kak, tunggu sini. Aku panggil dokter dulu" pintaku.


Aku segera berlari mencari dokter yang berjaga.


BRUKKK... (Thor, gemes aku sama kamu 😫😫 bisa-bisanya buat adegan ini lagi. Nungging dah tu senyumnya authorr seneng banget ngeliat aku menderita 😒😒)


"Kamu gak pa pa dek? Loh bukannya kamu Sherin ya?? Ada apa???" tanya lelaki tampan berjas putih dengan berbisik. Kukedipkan mataku beberapa kali mencoba mengembalikan kesadaranku dan mencoba mengingat-ingat.


"Ehhh.. gak pa pa kok kak. Kakak tau darimana namaku? Oh ya sampai lupa, dimana ruang dokter jaganya ya kak? Ada 6 pasien rusak eh maksud saya pasien gawat????" kataku sambil menepuk jidat seperti orang bodoh.


"Kenapa hati, otak dan mulutku gak connect terus sih?? Baru juga liat cowok tampan udah keluar bodohnya ha ha Sherin Sherin. Husshh Sherin ingat kak Rey!!! Insaf insaf Sherin!!" gumamku dalam hati gak sadar dari tadi senyam senyum diliatin cogan itu.


"Kamu sakit??? Dari tadi senyam senyum aja. Bukannya kamu lagi cari dokter jaga" katanya membuyarkan kekagumanku padanya.


"Iya kak. Dimana saya harus mencarinya??" tanyaku tersipu malu ketauan cuci mata ngeliatin dia terus. Sesekali gak pa pa kan kasih vitamin mata.


Apa mau dikata baru pertama ini ngeliat cowok ganteng, tinggi, Perfect dah, apalagi senyumnya bagaikan salju gunung everest. Beda sama kak Rey ganteng sih iya, baik, pengertian, oke sih tapi ada yang kurang dan aku gak suka hehhh model rambutnya itu lohhhh gak nguatin PAPAK. Mau gimana lagi tentara ya gitu dah modelnya. Masak iya tentara gondrong. Ha ha.. Pikiranku melayang entah kemana malahan Asyik sendiri dengan imajinasi yang sedikit gila.


"Herrrrr....." gumamku menggelengkan kepala.


"Dimana pasiennya??"


Dengan tersipu malu tak berani menatapnya hanya bisa melamun membayangkannya sampai gak denger dia ngomong apa.


"Dek, dimana pasiennya??" tanyanya mengagetkanku.

__ADS_1


"Oh itu. Kakak dokter???" tanyaku gelagapan.


"Iya, saya dokter" jawabnya lembut.


"Ikut saya kak!! maksud saya Dok!!" kataku menunjukkan ke sudut parkiran samping UGD. Kak Rey sengaja gak langsung berhenti dipintu takut pada heboh soalnya mereka terluka berjamaah. Atau mungkin ini tempat favoritnya setelah berkelahi.


"Hahhhh...." Kuhela nafas dengan begitu berat.


Kami sampai di samping mobil kak Rey. Kak Rey menatapku tajam dari balik kaca mobil yang masih tertutup rapat seolah tak suka aku dekat dengan dokter muda dan tampan ini.


"Aishhhh.... Tatapan apa itu??? Huhhh sebel" gerutuku kesal sambil sedikit menjaga jarak dari dokter itu. (Maaf ya, si authorsss lagi ngeluarin sifat labilku di bab ini. Tapi sebenernya aku setia kok. 1 aja cukup)


"Dok Dok Dok (Kuketuk kaca mobil dengan sedikit kasar). Buka kak Rey!!" kataku kesal. Diapun membuka pintu mobil dengan keras.


"Kumat... mulai marah lagi. Astaga sifat kekanakannya keluar ckckck..." gumamku tak berani menatapnya.


"Astaga. Rey??? Kamu berkelahi??" tanya dokter itu sepertinya mereka saling mengenal.


"Sherin... Syukurin... makanya tu mata dijaga!! Liat tu singa jantan mengaum" gumamku menyesal dalam hati.


"Tapi Sepertinya aku juga mengenal mamas dokter ini. Tapi siapa, Dimana, kapan???? Mungkinkah????" batinku terus mencoba mengingatnya tapi entah kenapa otakku tak bekerja dengan baik disaat ini.


"Tenang aja. Serahin sama gue!!" kata dokter itu yakin disela kebingunganku. Aku terus saja mengamati setiap inchi dari tubuhnya.


"Jaga itu mata" seloroh kak Rey sangat marah.


"Iya tau" jawabku ketus.


Tak berapa lama dokter itupun memanggil perawat untuk segera membawa pasien-pasien yang terluka ke ruang perawatan khusus karena jalan yang mereka gunakan juga jalur khusus tidak seperti kebanyakan pasien umumnya.

__ADS_1


"Mereka mau dibawa kemana??? Bukankah IGDnya disana???" gumamku penasaran.


Untungnya teman-teman kak Rey sudah pada siuman. Jadi kalau ada apa-apa mereka bisa melawan.


"Buat apa aku khawatir. Lagian mereka juga berteman. Tak mungkin dokter itu mau mencelakainya.... Hufffttttt......, Kalau kak Rian yang pingsan mah biarin aja, malahan aku berharap gak usah bangun-bangun lagi. Ihh... Sherin kamu jahat" gerutuku seenaknya.


Kini tinggal aku dan kak Rey saja di samping mobil.


"Kak aku akan menjaga mereka disana juga ya!!" kataku sedikit takut mencoba melarikan diri.


Belum sempat menyelesaikan kata-kataku, dengan perlahan dan pasti kak Rey berjalan mendekat membuatku mundur perlahan dan semakin terhimpit.


Dengan pandangan masih tertunduk aku pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan keadaannya yang masih lemah, kedua tangannya dilekatkan di body mobil berusaha mengurungkan.


"Kak.. Kakak mau apa?? Kak, sadar kak. Ini rumah sakit" kataku semakin takut melihat wajahnya. Tiba-tiba saja Kak Rey jatuh ke pelukanku tak sadarkan diri.


"Kak bangun kak!!! Kak Rey jangan nakutin dah. Kakak!!!" teriakku mencoba membangunkannya.


"Dok... Happp" Baru saja ni mulut mau memanggil dokter, dengan cepat tangan besar kak Rey membungkam mulutku rapat. Ternyata dia pingsan boongan. Hufffttt sebelnya minta ampun dah dikibulin.


"Ini hukumanmu karena sudah berani melihat laki-laki lain. Tunggu hukumanmu yang lain!!!" katanya berbisik membuatku kesal Lalu meninggalkanku yang masih mematung disamping mobilnya.


"Tunggu hukumanmu yang lain!!! Cihh... apa-apaan itu??? Dasar anak kecil.... Arghhhh.... kenapa juga ni mata harus ngeliat yang seger seger sih??? Dokter itu mukanya mirip sama Joong Suk oppa. Ahhhhhh kak Rey napa mesti marah sih??? Memang aku tak boleh seneng dikit apa??? ahhhhh tamatlah riwayatmu Sherin, tunggulah pembalasannya. Nikmatilah penderitaanmu!!!" pikiranku sudah membayangkan bakal seperti apa hukumannya nanti.


"Waktu itu aja aku disuruh push up 100x sekarang apa lagi!!!! Hahhhhh. Apa aku melarikan diri saja???" gumamku sendiri.


"Sherinnn cepat kemari!!!" teriaknya memanggilku yang sudah bersiap melarikan diri sekali lagi.


"Iya bentar" jawabku kesal. Berjalan berbalik dengan malas kearahnya.

__ADS_1


"Feelingku beneran gak enak nih. Bau bau penindasan tercium di hidungku. Arghhhhhh apa aku minta maaf saja ya??? Apa iya hukumanku akan dihapusnya jika aku meminta maaf apa malah ditambah??? Sherinnnnnnnnn...." jeritku frustasi dalam hati.


__ADS_2