Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Kegalauan


__ADS_3

Reynan Gunanto


Sekujur tubuh lemas mendengar jawaban dari Mong Mong. Segalanya berjalan tak sesuai rencanaku. Ingin rasanya berteriak sekeras mungkin melepas beban yang terasa sesak di dadaku. Apa yang kulakukan terasa sia-sia. Sungguh ironis.


Ku injak pedal rem karena lampu sudah merah. Sejenak terlintas kenangan indahku bersamanya. Tapi kemudian aku ingat bagaimana jawaban lamaranku kepadanya didepan kedua orang tuanya membuatku semakin frustasi.


"Arghhhhhh. BRAKKKKK" kupukul setir mobilku keras.


"Rey, cari wanita lain saja. Kamu itu tampan, baik dan kaya. Pasti banyak wanita yang dengan suka rela menyerahkan dirinya padamu. Untuk apa kamu menunggu gadis kecil, bodoh seperti itu. Jangan buang waktumu!!" pikiran jahatku muncul seketika.


"Rey jangan!! Kamu sudah menunggunya lama masak kamu mau menyerah begitu saja. Buktikan padanya kalau kamu benar-benar mencintainya. Darimana lagi coba kamu temukan wanita dengan kepribadian yang hampir Sempurna seperti itu. Bukankah hanya dia yang berhasil membuatmu gila seperti ini?? Bukankah dia juga yang mengisi warna warni hidupmu sejak dulu?? Jika dia seperti itu bukankah wajar?? dia kan masih anak-anak dengan keluguan dan pola pikirnya yang masih kekanakan. Kamu seharusnya bisa menuntunnya dan meyakinkannya!!!" pikiran baikku yang tiba-tiba muncul.


"Rey, dasar kamu bodoh!!! Anak-anak ya tetap anak-anak. Mau nunggu sampai kapan kamu??? Sudah cukup kamu menunggunya. Emang kamu mau jadi perjaka tua hanya demi bocah ingusan itu??" timpal pikiran jahat ku sekali lagi.


"Rey, kamu percaya takdir Tuhan. Jika kamu percaya, kamu pasti tau jawaban apa yang baik untukmu. Jangan tipu dirimu. Jangan khianati hatimu. Tanya hati kecilmu dan temukan jawabannya" kata pikiran baik di dalam otakku yang semakin membuatku bingung.


Tin tin tin.... Tin tin tin.... Suara keras klakson kendaraan di belakang membuyarkan lamunanku. Segera kutancap pedal gas mobilku.


"Mong Mong... kenapa kamu membuatku seperti ini!!!" teriakku sekeras-kerasnya didalam mobil.

__ADS_1


Ku pacu kendaraanku ke pusat keramaian kota Jakarta. Malam akhir pekan yang seharusnya indah bagi muda mudi berakhir tragis untukku.


"Arghhh sial kenapa juga macet begini. Bisa-bisanya semua jadi kacau begini!!" gumamku kesal memukul stir mobil sekali lagi karena frustasi.


Adzan isya sudah berkumandang. Segera ku cari masjid terdekat untuk melaksanakan perintah Tuhanku. Selepas sholat kutinggalkan mobilku di parkiran masjid.


Dengan perasaan galau dan bimbang kulangkahkan kaki menikmati udara malam di kota Jakarta yang padat ini.


"Ahhhhh" aku menghela nafas panjang berharap mendapat oksigen yang banyak sehingga bisa menjernihkan otakku. Tapi udara di Jakarta pun tak bersahabat hanya debu dan asap polusi yang kuhirup.


Ingin sekali rasanya pergi ke diskotik, menenggak bir atau Vodka ditemani wanita-wanita cantik dan seksi sebagai pelarianku. Tapi aku sadar. Aku harus memupus itu semua. Aku tak mau terjerumus kedalam bisikan syaitan karena aku tau sekali jika aku sekali saja masuk kedalamnya maka takkan bisa dengan mudahnya terlepas dan keluar dari itu semua.


Kulangkahkan kaki ke sebuah taman yang lumayan besar. Terlihat ada sebuah keluarga yang sangat bahagia. Seorang laki-laki yang kutaksir usianya jauh dibawahku menggandeng tangan seorang anak laki-laki yang baru berusia 2 tahun dan disebelahnya seorang perempuan yang masih sangat muda seumuran Mong Mong tertawa lepas bahagia bermain bersama. Pemandangan yang sungguh membuatku iri.


"Bagaimana bisa mereka menjalaninya. Apakah begitu mudahnya bagi mereka menikah di usia muda. Apa susah bagi Mong Mong menikah denganku? Kenapa... kenapa semua begitu sulit. Jika hanya Rian yang menghalangi kami, bahkan Roy ataupun Raka, aku tak peduli. Tapi Sherin kenapa??? Kenapa???" tanyaku tak percaya.


"Apakah waktu yang kita lalui bersama sungguh tak berharga di matamu? sebegitu sulitkah kamu menerimaku??" tak terasa setetes air mata keluar dari pelupuk mataku.


Ku teruskan perjalananku ke dalam kompleks perumahan elite. Dengan wajah kusut, kaki lelah, dan pikiran kacau, kutekan bel berkali-kali. Seperti sebuah mainan.

__ADS_1


Ting tong Ting tong...


Ting tong Ting tong...


Ting tong Ting tong...


Ting tong Ting tong...


"Berisik bener. Siapa orang gila kurang kerjaan malam malam gini? Gue hajar juga dah ni orang" teriak kesal penghuni rumah itu yang jelas terdengar ditelingaku.


Ting tong Ting tong...


"Bentar. Udah gila ya Ka..." orang itupun membuka pintunya dengan mulut ternganga dan matanya membelalak terkejut melihat kedatanganku.


"Boleh gue masuk???" tanyaku kepadanya yang masih menatap heran kepadaku.


Terima kasih kepada semua readers setia yang membaca novel authorsss. Jangan lupa like dan komentarnya serta terus dukung authorsss 😍😍🙏🙏


"Jangan sekali kali kalian menuruti amarah kalian. Amarah itu adalah sumber bencana dan jalan masuk yang paling mudah bagi syaiton mengganggu manusia".

__ADS_1


"Janganlah kamu marah maka bagimu surga".


__ADS_2