Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Belum Usai


__ADS_3

Setelah pintu utama terbuka, kak Rey dan tim pengaman mengevakuasi semua tamu undangan. Termasuk paman Chris yang sudah tak berdaya.


"Bawa dia sekarang!!!" perintah Kak Long yang baru kutahu kalau dia kepala interpol yang bertanggung jawab atas kasus ini.


"Kak, tunggu sebentar!!!" kataku menahannya membawa Paman Chris.


"Ada apa???" tanya kak Long heran.


"Meskipun syaraf dan badannya sudah dilumpuhkan tapi kami khawatir dengan otaknya. Bisa saja dia melakukan kejahatan dengan otaknya sekali lagi. Bawa sini biar aku saja!!" teriak kak Richie merampas formula obat terbaru yang kubuat kemarin bersama bibi Fang.


"Nikmatilah!!! Semoga kau menjadi idiot" ucap kak Richie memasukkan beberapa butir pil penghilang ingatan.


Aku segera berlari kearahnya dan merebut obat itu dari tangannya.


"Kak, berapa yang kau masukkan ke mulutnya???" teriakku tak percaya.


"Hanya tujuh butir. Memangnya kenapa???" tanyanya membuatku frustasi.


"Arghhhhh... Kak Richie kau sudah gila. Tujuh butir.... Arghhhh..." teriakku semakin stress dengan kelakuannya.


"Memangnya kenapa, apa yang salah???" tanya kak Richie masih tak tau.


"Satu butir formula ini menghapus ingatan selama 10 tahun jika kau memasukkan tujuh butir berarti kau menghilangkan ingatannya selama tujuh puluh tahun. Itu berarti otaknya menjadi bayi lagi. Bagaimana kita melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kak Richieeee...." teriakku tak percaya yang dilakukannya.


"Apa ibuku yang membuat formula penghapus ingatan ini??? Bukankah ibu belum menyelesaikannya selama ini???" tanya kak Long mengernyitkan dahi.


"Aku membantu bibi Fang menyelesaikannya kemarin karena bibi mengancamku dan tunanganku" jawabku lesu.


"Sudahlah. Lebih baik seperti ini kan. Dia tak bisa berbuat jahat lagi. Tenanglah!!! Kau jelek kalau sedang berpikir seperti itu" kata kak Long mengusap kepalaku lembut.


"Bisa lepaskan tanganmu dari kepalanya!!!" kata kak Rey menghempas tangan kak Long kasar dan menarikku kedalam pelukannya. Terjadi saling perang tatap diantara mereka.


"Hyaaa... Jika mau bertengkar teruskan nanti saja selesaikan secara pribadi. Kami tak tertarik dengan percintaan kalian" ucap kak Richie seperti biasa tajam.


"Bawa dia sekarang!!! Lili aku menunggumu besok, jangan lupa, nanti kuhubungi lagi oke!!" ajak Kak Long tersenyum manis kepadaku. Tapi Kak Rey terus saja menatap tajam kearahnya dan mencengkeram tanganku kuat.


"Ahhhh.... Dasar Om Tejo pencemburu" gumamku pelan dibalas tatapan marahnya. Akupun hanya tertunduk. Kami melepas penat setelah kejadian tadi dengan duduk sembarangan di lantai.


Meskipun Paman sudah ditangkap tapi masih ada rasa mengganjal dalam hatiku. Mungkinkah sesimple ini??? Pertanyaan ini menggelitik terus dalam benakku.


"Hey adik bungsu, apa yang kau pikirkan???" tanya kak Richie.


"Tak usah berpikir banyak sayank, kau sudah bekerja keras hari ini. Pulanglah dan istirahatlah. Setelah aku menyelesaikan laporan ke komandan aku akan langsung menemuimu dirumah. Tunggulah aku!!" kata kak Rey mencoba menenangkan kemudian berlalu pergi melaksanakan tugasnya.


"Kak, sepertinya ada yang terlupakan??? kenapa perasaanku tak enak" kataku mencoba mencari jawaban.


"Benar sepertinya kita melupakan sesuatu tapi apa???" kata kak Kitty berpikir tapi belum menemukan jawabannya.


"Tunggu, jika tadi Paman Chris yang menyamar, terus dimana Tuan Flogg yang asli??" tanya Vanya menjawab kegelisahan kami.


"Richie, kau sudah gila. Cepat kita cari Tuan Flogg sekarang!!!" teriak kak Kitty menarik kak Richie masuk kedalam lift.


Kenapa perasaanku masih saja tidak enak. Kulihat ke sepenjuru hall mencoba mencari adakah masalah lain. Semua tamu undangan sudah keluar, hanya tinggal kami, tim pengamanan khusus dan beberapa petugas hotel. Sekali lagi aku mencoba mencari. Mungkin ada sesuatu yang salah disini. Fellingku tak pernah salah. Aku harus memastikannya.


"Vanya coba kau cari apa saja yang mencurigakan di ruangan ini!!! Aku merasa masalahnya tak sesimple ini. Meskipun dia sudah tertangkap dan dilumpuhkan, apa iya dia akan melepas kita dengan mudahnya. Cepat cari, waktu kita tak banyak!!!" Jelasku seraya mencari barang-barang yang mencurigakan.


Kuteliti setiap meja, kursi, bahkan setiap benda yang ada diruangan ini. Tapi perasaanku semakin tak enak.


"Bisakah saya meminjam laptop disini???" tanyaku kepada petugas hotel.


"Tentu nona. Sebentar saya ambilkan" jawab petugas hotel itu.


Lima menit kemudian.


"Apa yang Anda lakukan nona??" tanya Vanya terlihat cemas.


"Aku sedang meretas pusat kendali keamanan di hotel ini. Kutautkan dengan SSBDS (Standoff Suicide Bomber Detection System) dalam bentuk portable yang baru dikembangkan. Alat ini bisa mendeteksi berbagai bahan peledak yang tersembunyi. Alat ini memancarkan berbagai gelombang melalui perangkat multi sensor dan akan menampilkan citra dari hasil pemindaian yaitu hitam putih, orange terang, dan gambar biasa. Jika kita menemukan bahan peledak maka akan ada tanda lubang hitam disalah satu titik dalam citra. Alat ini juga sudah dilengkapi dengan hyperspectral imaging yang meningkatkan jangkauan sensor juga meminimalkan kesalahan pemindaian juga bisa mengidentifikasi jenis bahan peledak yang tersembunyi didalam objek" Jelasku seraya mencari apakah ada yang salah dalam hotel ini.


"Berhasil diinstall. Baiklah kita deteksi sekarang. Vanya.... Astaga apa apaan ini. Panggil tim pengaman cepat!!!!" teriakku tak percaya dengan yang kulihat di monitor.


"Baik nona" Vanya segera berlari. Semenit kemudian mereka menghampiriku.


"Ada apa???" tanya kak Rey dan kak Long sama sama cemas.

__ADS_1


"Lihatlah ini kak!!! Alat ini mendeteksi ada 15 bom aktif yang tertanam di setiap titik vital di hotel ini. Bahan peledak ini menggunakan pentaeritritol tetranitrate atau biasa kita sebut PETN bahan peledak tinggi yang paling kuat dengan faktor efektivitas relatif dari 1,66. Bukan hanya itu saja, dalam bom lainnya mereka menggunakan bahan peledak jenis TNT, RDX dan juga C4. Waktu kita tak banyak. Kurang dari 30 menit. Sialnya dia sudah mengaktifkan bom ini sejak jam delapan tadi. Aktifkan dan sambungkan radio panggil kalian aku akan mencari titik koordinatnya. Siapkan penjinak bom dari timmu. Cepat!!! Cepatlah!!! Kode sandiku 87. Gunakan kartuku untuk membuka setiap kunci yang belum terindikasi. Aku akan mengarahkan dari sini. kak Long evakuasi semua orang dari tempat ini secepatnya. Kosongkan semuanya dengan radius 3 km ke titik aman, lakukan dengan cepat dan tanpa membuat keributan" jelasku dan mereka segera berlari melakukan tugasnya masing-masing.


"Kak richie kak Kitty cepatlah pergi ke pantry dan kamar 501 cari bom dengan karakteristik seperti buku. Jinakkan sekarang!!!" teriakku melalui earpiece yang masih tersambung dengan mereka.


"Apa katamu???" teriak kak Richie masih saja banyak tanya.


"Tak ada waktu, Lakukanlah. Di hotel ini sudah terpasang 15 bom dengan tingkat ledakan berbeda beda. Cepatlah!!!" teriakku mencoba fokus dimana titik lain bom itu terpasang.


"Apa ini, kenapa kami harus meninggalkan hotel??? Kalian sudah gila??? kembalikan uang kami!! Ada apa sebenarnya ini??" suara para pengunjung hotel yang terdengar di telingaku.


"Kak Rey, kak Arka, ada dua titik di tempat parkir sebelah selatan. Cepat carilah!!!" teriakku melalui radio panggil.


"Liliana, aku tak pernah menjinakkan bom jenis ini???" teriak kak Kitty panik.


"Baiklah, aku akan membimbingmu dari sini" kataku mencoba mengidentifikasi jenis bom yang dimaksud.


"Kau gila, panggil penjinak bom sekarang!!!" teriak kak Kitty kesal.


"Baiklah kau kemari. Kau bisa cari koordinat dan temukan bom lain yang tertanam. Aku akan kesana menghentikan bom itu. Cepatlah!!! waktu kita tinggal 20 menit" teriakku tak percaya dengan ucapan kak Kitty yang mengeluh.


Kamipun bertukar posisi. Aku segera berlari ke pantry dan melihat bom yang dimaksud. Jenis bom dengan daya ledak hampir bisa merusak ratusan rumah dalam sekali ledakan.


"Baiklah. Mari lakukan!!!" kataku meyakinkan diri.


Dengan hati-hati aku mencari kabel mana yang harus kupotong. Memang rakitan bom ini tak seperti biasanya. Ini lebih membentuk seperti jaring laba-laba. Jika aku merusak kabel yang satu maka kabel yang lain akan terinduksi dan bisa meledak kapan saja. Aku harus mencari titik pusatnya.


"Apa ini??? Aku menemukanmu" Crushh... Crushhh... Kupotong dua kabel yang terhubung dengan timer peledak dengan hati-hati.


"Hahhh... Syukurlah... akhirnya bomnya jinak. Kenapa kau begitu nakal ingin menggigit kami Fuhhhh...." kataku membawa bom tersebut untuk diamankan.


"Lili, aku tak bisa mengoperasikan alat ini" teriak kak Kitty sekali lagi.


"Kak Kittty...." teriakku frustasi langsung berlari ke dalam Hall itu lagi.


"Mong bom di tempat parkir sudah dijinakkan. Kami harus mencari dimana lagi???" teriak kak Arka mencari bom lainnya.


"Sebentar, aku sedang berlari ke pusat kendali" teriakku seraya melompat melewati beberapa anak tangga darurat menuju hall.


"Cepat!!! aku tak bisa mengoperasikannya" teriak kak Kitty rasanya ingin sekali aku yang meledak tapi ku kesampingkan karena sekarang posisinya benar-benar darurat. Segera ku ambil alih alat sensor itu. Sialnya kak Kitty meng-install ulang. Semua jadi kacau.


"Baiklah, sudah terinstall. Saat ini baru ada tiga bom yang berhasil dijinakkan. Aku sudah menemukannya. Kak cepat kebagian resepsionis disana ada satu bom yang tertanam di mejanya. Hati-hati jangan sampai membuat getaran dan gesekan. Mereka menggunakan TNT sebagai bahan peledaknya. Satu lagi ada di atap sebelah selatan kau bisa berbagi tugas dengan tim penjinak. Satu lagi ada di gudang penyimpanan. Kau harus cepat 15 menit lagi atau semua akan game over" jelasku melalui radio panggil yang juga terhubung dengan earpiece.


"Kak Richie bagaimana di kamar 501???" jeritku tak sabar lagi.


"Berhasil Sherin... hah... aku selamat" jawabnya lesu.


"Cepatlah pindah ke tangga darurat lantai lima. Tak ada waktu mengeluh. Kau harus bisa menjinakkannya sekarang juga!!!" teriakku mulai garang.


"Baiklah baiklah dasar bocah bawel. Bisa bisanya kau tak memberiku waktu bernafas hufffttt" kata kak Richie segera pergi ke lantai lima.


"Kak Kitty ada satu di mobil dengan plat B100UAD, cepatlah!!! aku yakin kau bisa" kataku sedikit melunak memotivasinya.


"Baiklah aku harap tak membuat kesalahan" jawabnya lesu.


"Kak Long kau bisa bersama tim penjinak ke dekat kolam renang. Dia menanam satu disana" kataku sekali lagi memberi arahan. Rasanya ingin menangis karena baru delapan bom yang kutemukan. Masih tersisa tujuh bom lagi.


"Vanya cepatlah ke kamar 333 disana ada satu. Kak Rey bagaimana apa kau sudah selesai??" tanyaku semakin tak sabar melihat timer waktu yang menunjukkan tersisa tujuh menit lagi.


"Selesai. Katakan!!!" katanya tegas.


"Syukurlah kerja bagus. Sekarang kau bisa ke tangga darurat lantai sebelas dan satunya ada di parkiran sebelah Utara. Waktu kita kurang dari tujuh menit" jelasku berteriak sambil mencari letak dua bom yang tersembunyi lainnya.


"Aku menemukanmu. Siapa yang dekat dengan dapur restoran disana ada satu dan satunya ada di lift. Cepatlah waktu kita tinggal Lima menit lagi" teriakku panik.


"Aku bisa ke dapur" jawab kak Long.


"Aku belum selesai dengan bom imut ini hahhh" jawab kak Kitty.


"Aku belum bisa menjinakkan bom ini Liliana huaaaa kalau bisa kucium dan tunduk denganku pasti akan kucium kau huaaa" jawab kak Richie sama frustasinya dengan yang lain.


"Nona, kabel mana yang harus kupotong, apa aku main cap cip cup saja ya??" jawab Vanya gila.


"Kau gila Vanya lihatlah cabangnya cari yang tidak sejalur lalu potonglah!!!" teriakku frustasi.

__ADS_1


"Aku sudah berhasil beruang imutku, kau harus makan malam denganku tak boleh menolak!!!" jawab kak Long langsung disantlap kak Rey.


"Dasar penggoda, tak kan ku biarkan kau membawa tunanganku makan malam" teriak kak Rey marah.


Tiga menit lagi. Aku lupa bom yang di lift. Huaaaaaa.... Segera aku berlari keluar sesuai koordinat yang tadi kulihat.


"Dimana dia menyembunyikannya??? Ini dia" segera kulihat dengan seksama bom ini.


"Sialan tak ada waktu lagi, waktu kita kurang dari satu menit lakukan sebisa kalian!!!" teriakku semakin membuat mereka panik.


"Ayolah Sherin kau bisa lihat dan potonglah!!!" kataku mencoba mencari mana yang harus kupotong. Kulihat timer ditanganku. 10... 9... 8...


"Baiklah akan kupotong" Crushhhh... Crushhh...


"Berhenti... Syukurlah!!!" kataku lega.


"Aku berhasil adik bungsu ha ha ha" kak Kitty.


"Astaga betapa menegangkannya ini" kak Arka.


"Beruang kau milikku" kak Long.


"Jangan panggil dia beruangmu dia itu Mong Mong ku" teriak kak Rey.


"Nona aku berhasil" Vanya begitu senang.


Akhirnya kami berhasil melalui ini semua. Kami semua dengan gontai memasuki hall dan berbaring sembarangan dilantai.


"Hahhh aku ingin tidur dengan tenang malam ini" kata kak Richie berbaring tengkurap dilantai.


"Richie aku menyayangimu" kata kak Kitty memeluk punggungnya.


"Hyaa... kau gila aku bukan kekasihmu" tolak kak Richie melempar kak Kitty dari punggungnya.


"Nona aku menyayangimu hiks hiks" tangis Vanya senang memelukku dan berbaring bersama.


"Beruang imutku kau sangat hebat hari ini" kak Long berbaring persis disebelah ku. Tiba-tiba datanglah kak Rey berbaring ditengah-tengah diantara kami.


"Dia Mong Mong ku bukan beruangmu. Minggir!!!" teriak kak Rey marah terus menatapku lembut.


"Tunggu!!!" kataku terduduk.


"Ada apa bungsu. Kau gila jangan lagi!!! Aku tak sanggup" keluh kak Richie.


"Kita hitung bomnya dulu, perasaanku tidak enak kak" kataku terus terang.


"Baiklah. 1..2...3..4..5..6...14. 14 Mong???" kata kak Rey membuat kami terkaget berjamaah.


"Satu lagi???" Vanya


"Jangan katakan kita kehilangan satu Arghhhh???" Richie


"Cepat cari!!!" teriak kak Kitty.


"Tunggu,,," kataku berpikir keras.


"Apa lagi" teriak mereka bersama.


"Astaga yang satu sudah dibawa tim penjinak tadi ha ha ha aku lupa maaf kak maaf maaf ha ha ha" jelasku tersenyum senang.


"Mong Mong kau gila....." teriak mereka bersama lalu berbaring lagi menikmati malam yang penuh drama dan tragedi.


"Syukurlah semua baik baik saja aman dan terkendali ha ha ha..." batinku lega.


"Kakak aku lupa" kataku membuat mereka menatapku tajam.


"Jangan katakan ada bahaya lagi"


"Kau memang mau dipukul Mong"


"Nona tak bisakah kau tak membuat kami khawatir??"


"Kau lupa apa sayank??"

__ADS_1


"Aku lupa belum makan malam hiks hiks badanku gemetaran" jelasku tersipu malu.


"Mong Mong.... Adik bungsu kau sungguh terlalu.... Nona aku lapar juga.... Makanlah laki-laki disampingmu ha ha ha" celoteh kami bersama tertawa dan berbaring tanpa beban.


__ADS_2