
BRAK... BRAKKKKK....
Kebetulan tidak ada yang melihat kami berguling-guling dijalan raya kecuali orang yang mengemudikan mobil tersebut karena memang jalanan disitu masih sangat sepi. "ahh.. aww.. sakitnya", rintihku.
Tanpa ku sadari, pengemudi mobil itu keluar dari mobilnya dan mendekati kami. Eng... Ing... Eng..., bukan malah menanyakan keadaanku dan anak kecil yang kupeluk, malah dia marah-marah. "Sialan.." gerutunya. "Hey kau, anak kecil,,, (sambil menunjuk kepadaku), bukannya pergi ke sekolah, ini malah membiarkan adikmu main di jalanan,,.. Lihat mobilku jadi kotor !!!", "cuihh..", (sambil meludah ke sampingku) ucapnya dengan nada marah dan memaki-maki tanpa menghiraukan tanganku yang berlumuran darah lalu meninggalkan kami dan melajukan mobilnya lagi.
Setelah kepergian pengemudi yang menabrak kami, kulepaskan pelukanku terhadap anak itu. "Adek, nggak pa pa??" tanyaku sambil meringis kesakitan.
Dia malah menangis, "Kakak, tangan kakak berdarah, sakit ya kak??", "hiks hiks hiks", tanyanya sambil memegang pipiku.
"Ndak pa pa dek, cuma sedikit sakitnya (sambil aku mengatupkan ujung ibu jari dan jari telunjukku). Nanti kakak bisa mengobatinya dulu trus kakak bisa memeriksanya nanti di rumah sakit. sudah jangan menangis lagi, cup.. cup", kataku menenangkannya.
"Adek, di mana rumahmu ?? biar kakak antar!!", kataku sambil duduk di halte bus membersihkan dan membalut lukaku dengan obat dan perban yang ada di kotak p3k di dalam tasku.
__ADS_1
(Oh ya, pasti banyak yang penasaran kenapa aku selalu membawa kotak p3k kemana2 didalam tasku. Yang pastinya bukan aku mengharapkan kecelakaan tapi hanya untuk berjaga-jaga bila sewaktu-waktu ada yang membutuhkannya sekedar untuk pertolongan pertama dan juga pengaruh dari cita-citaku yang ingin menjadi seorang dokter he he he).
"Kakak, maaf, (sambil tertunduk lesu). Gara-gara Dika tangan kakak berdarah,," ucapnya menyesal.
Ku elus rambutnya, "Bukan salah Dika kok, ini cuma musibah saja, sudah sudah jangan menangis lagi, nanti tangan kakak tambah berdarah lho.." pintaku seraya menggodanya.
"Ayo kakak antar kerumah mu !!" ajakku setelah menutupi seragam sekolah yang berlumuran darah dengan jaket.
Seraya memikirkan jalan keluar, dan karena aku tidak bisa bolos sekolah, tanpa sengaja juga dan Alhamdulillah, di kejauhan sana diseberang halte bus ini ada seseorang yang bisa ku mintai tolong menjaga anak ini. Tanpa pikir panjang, segera ku ajak Dika menyeberang jalan untuk menghampiri orang tersebut yang tak lain adalah Om tentara. Kalau dilihat dari manapun juga Om tentara itu terlihat tampan dan perfect seperti tipe idealku ha ha tapi hanya khayalan saja.
"Keliatannya pak tentaranya sudah selesai bertugas, mungkin dia bisa membantuku menjaga Dika sebentar sampai mamanya datang", pikirku dalam hati.
"Permisi Om,," sapaku lembut.
__ADS_1
Om tentara itupun masih belum menyadari sapaanku. "Permisi Pak,," sapaku sekali lagi.
"Iya dek, ada yang bisa saya bantu??" tanyanya halus dengan muka yang masih tertegun tak percaya.
"Om, maaf, bisakah minta tolong jagain adik ini??" tanyaku padanya.
"Dika ditinggal mamanya beli roti dan dia diminta untuk menunggu di halte bus itu" kataku sambil menunjuk ke arah halte bus.
Belum sempat dijawab oleh Om tentara tadi, Kulepaskan pegangan tanganku ke Dika dan segera memberikan tangan Dika ke Om tentara tadi.
Dengan terburu-buru segera aku pamit dan meninggalkan mereka, "maaf ya om dan terima kasih sudah merepotkan, assalamu'alaikum".
"Da da Dika..." pamitku pada anak kecil itu dari kejauhan.
__ADS_1