
Setelah kepergian kak Rey, aku segera mencari ruang rawat inap Papa.
"Sherin, kapan balik??" tanya kak Yuna tak sengaja bertemu di meja informasi rumah sakit.
"Kemarin pagi kak tapi kemarin masih harus membereskan masalah yang tersisa. Gimana keadaan Papa???" tanyaku sebenarnya penasaran juga dengan yang terjadi.
"Ikut kakak!!!" pinta kak Yuna menarik tanganku ke ruangannya. Sebelum mengunci pintu kak Yuna menengok ke kanan kiri melihat situasi.
"Papamu tak ada masalah. Yang masalah itu pengawal-pengawalnya. Kamu tau mereka selalu membuat keributan di rumah sakit. Sebenarnya Papamu itu preman apa gangster sih???" tanya kak Yuna langsung ke intinya.
"Mana kutahu kak. Kalau dari dulu sih bodyguard Papa emang gak pernah jauh-jauh sih. Itu udah mending tinggal sedikit. Sebelum aku studytour hampir setengahnya udah kualihkan ke dalam perusahaan. Dan anehnya kakak tau gak, tu pengawal sepertinya bukan pengawal biasa. Aku sendiri juga penasaran. Ini aja aku baru nyelidiki. Jangan jangan Papaku itu Papa palsu ha ha ha" jelasku heboh sendiri.
"Dasar anak nakal. Papanya sendiri dibilang palsu. Udah sana ke kamar Papamu dulu kebetulan Tante lagi istirahat dirumah Tante Mey" pinta kak Yuna mengusir secara halus.
"Bilang aja nyuruh aku pergi. Huh. Kak Yuna mau berduaan sama kak Aldo kan???" godaku.
"Dasar bocah sableng. Mana ada pacaran di jam kerja emang kamu sama si kentang" umpatnya gantian.
"Kentang goreng apa kentang crispy nih ha ha ha... Dah ahhh... aku ke kamar Papa dulu dah kak...." pamitku melambaikan tangan kemudian bergegas ke kamar Papa.
Tok tok tok....
"Apa lihat lihat!!!" kataku melotot ke arah bodyguard Papa yang berjaga didepan pintu.
"Tuan Angga sampai kapan mau pura-pura sakit hah..." teriakku menarik selimut Papa berniat menggodanya mumpung nggak ada Mama.
"Hyaaa... Pah.... kalau gak bangun juga Mama mau aku jodohin sama Om Satria loh... Beneran nih gak mau bangun???" ancamku.
TAKK.... kepalaku dijitak Papa.
"Dasar anak bandel. Berani beraninya ngancem Papa ya???" kata papa langsung duduk bersila disampingku.
"Lagian Papa udah tau beres urusannya masih aja pura-pura didepan Mama. Niat banget ngerjain Mama" kataku tak mau kalah.
"Niat gak niat. Baru kali ini ngerasa Mamamu sayang teramat sangat sama Papa. Gimana udah kelar urusannya??" tanya Papa.
"Rebes. Semua udah normal. Jangan lupa imbalannya buat Sherin. Gak banyak kok, cuma siapin aja uang 500 M. Maksudnya 500 ember ha ha ha" godaku langsung membuat Papa melotot.
"Sherin, jantung Papa Ahhh awww sakit... Sherin..." teriak Papa pura-pura sakit memegang dadanya. Emang mama apa mudah diboongin.
"Nggak usah acting Pah, gak mempan. Acting Papa terlalu buruk. Cepetan bangun apa mau disuntik mati nih???" kataku ceplas ceplos.
"Dasar anak bandel. Tajem banget tuh mulut mau bunuh Papa sendiri terang-terangan. Oh ya Papa hari ini harus keluar dari rumah sakit ada hal penting yang harus dilakuin ntar malem" jelas Papa membuatku mengernyitkan dahi.
"Malem malem mau ngapain Pah. Mau clubing apa cari Mama baru???" kataku asal.
TAKKK.... Sekali lagi ni kepala jadi korban.
"Awww sakit Pah...." teriakku meringis kesakitan.
"Sontoloyo. Sherin cantik kamu salah makan ya??? Perasaan kemarin kamu pergi nggak error error banget tapi kenapa pulang jadi ajaib kayak gini??? Kamu sehat kan nak???" tanya Papa heran sendiri.
"Ha ha ha Papa ada ada aja. Dari mana coba sifat usilnya Sherin kalau bukan hasil persilangan turunan dari Papa sama Mama" jelasku tak mau kalah.
"Emang beneran dah kamu. Sippp pake banget ck ck ck. Dulu Mamamu ngidam apaan sih?? Udah sekarang pikirin caranya Papa bisa keluar tanpa Mama tahu" kata papa membuatku bertanya-tanya. Inilah contoh suami takut istri yang dikorbankan anaknya ha ha ha.
"Boleh aja. Mana uang tutup mulutnya plus sekalian tutup mata" kataku menengadahkan tangan sambil mengedipkan mata berkali-kali.
"Kan udah Papa kasih black card tinggal gesek" malah berdebat dah ni sama bokap.
"Sherin maunya tunai. Cepetan mana!!! Oh ya black card disita Mama buat belanja Mama loh Pah... Jatah Mama kurang katanya" jelasku mengingat kejadian waktu belanja bareng sama Mama.
"Sherin..... Kenapa kamu kasih ke Mama??? Tamatlah tabungan Papa" teriak Papa histeris.
"Ha ha.. mana Sherin tau. Salah sendiri Papa nggak ngomongin dulu. Tenang aja Sherin bantuin Papa kok, sebentar!!!" kataku segera mengambil handphone. Langsung kupencet-pencet nomor Mama.
"Assalamualaikum, Mama Sherin yang cantik. Gini mah, Sherin ntar mau bawa Papa ke tempat Om Bambang biar badan Papa cepat pulih jadi Mama nggak usah kerumah sakit ya. Tunggu aja dirumah Tante Mey. Baik baik disana. Atau kalau bosen kata Papa boleh kok belanja shoping shoping ngabisin tabungan Papa yang banyak gak pa pa kata Papa pokoknya yang penting Mama Happy he he he... Nggak nggak ada apa apa. Papa baik baik aja kok. Apa perlu Sherin buktiin??? Sherin tendang Papa ya, Papa pasti lari wkwkwkw.... Bercanda Mah... Mana berani Sherin ngelawan Mama bisa bisa suruh mandi kembang lagi tujuh hari tujuh malam dah. Udah yah Ma dah... Wa'alaikumsalam" kataku memutus panggilan.
__ADS_1
"Rebes. Kalau gitu Sherin balik dulu yah Pah. Ntar malem juga ada sesuatu yang penting. Papa jangan kepo. Sama tu bodyguard mending dipecat aja dah, nakutin orang lewat" kataku segera meninggalkan Papa yang masih geleng-geleng kepala sambil bersiap-siap pergi.
"Hati hati nak. Jangan keluyuran gak jelas!!" teriak Papa memberi nasehat. Aku hanya membalas dengan lambaian tangan.
Baru juga lima menit keluar udah aja dapet panggilan dari markas pusat.
"Kumpul jam 08.00 malam di hotel Muse ada misi baru" begitulah yang tertulis dari pesan yang masuk ke ponselku.
"Ahhh... gagal dah buat ngikutin Papa pergi. Liat aja Pa, Sherin akan tau siapa Papa sebenarnya cepat atau lambat" ancamku mengepalkan tangan.
Mau tak mau, aku segera balik ke rumah. Mungkin kak Richie dan kak Kitty sudah balik. Kalau belum bisa gawat ntar disiksa tanpa ampun gara-gara kemarin malam.
20 menit kemudian
Kucari keberadaan mereka bertiga, berjalan mengendap-endap masuk kerumah sendiri seperti seorang pencuri. Udah jatuh masih ketimpa tangga peribahasa yang tepat menggambarkan situasiku saat ini.
"Bungsu..... Sudah puas melarikan dirinya??? Kak Richie lihatlah kita kedatangan tamu Agung" teriak kak Kitty tanpa ampun.
"Hai... Kakak. Kalian baik-baik saja kan???? he he he.... huaaaaa kakak maafkan aku kemarin, beneran bukan sengaja tapi kalian sendiri yang minta daging huaaaaa.... Jangan salahkan adik bungsumu ini yang lugu dan imut.... Kakak aku akan membelikanmu tas Chanel keluaran terbaru.... Kak Kitty kalau mau aku belikan produk make up dari Chanel mau kan??? Maafin aku ya huaaaaa" tangisku pura-pura memegang lutut kak Kitty sebagai pertahanan terakhir.
"Baiklah. Kami memaafkanmu bungsu. Bangunlah. Kita harus bersiap-siap buat nanti malam. Ketua mengajak kita makan malam juga akan memberi misi baru untuk kita" jelas kak Kitty dengan mudahnya diiming imingi he he he.
Jam 08.00 di hotel Muse.
"Permisi nona nona, silahkan lewat sini!!!" kata petugas hotel memberi arahan.
Sampailah kami di private room yang dipesan si ketua misterius yang selalu memberi tugas tanpa kita tahu wujudnya. Tapi malam ini tak disangka Ketua mau menampakkan identitasnya kepada tim kami.
"Perasaan apa ini??? kayaknya aku pernah bertemu tu bodyguardnya ketua, tapi dimana???" otakku berpikir keras tak mendengar apa yang kak Richie bilang.
"Hey,,, adik bungsu. Kemana sebenarnya pikiranmu sekarang??? Duduklah yang benar kalau kau masih mau hidup!!!" kata kak Richie sedikit menggertak.
Ketua pusat dari rumor yang beredar adalah orang yang tak kenal ampun jika ada yang membuat kesalahan. Jika sampai terjadi maka dia tak segan-segan menghilangkan tangan, kaki atau bahkan bagian tubuh kami yang lain. Suatu kehormatan dan juga sebuah kesialan jika diundang makan malam olehnya.
"Ketua datang, berdirilah dan beri salam" kata pengawal yang mendahuluinya.
"Duduklah!!!" kata ketua tapi suaranya begitu familiar banget ditelingaku.
"Terima kasih ketua" jawab kami kompak.
"Bawa kesini!!!" perintah Ketua meminta bodyguard mendekat.
"Lihatlah!!! ini misi kalian yang baru. Tangkap orang ini hidup hidup. Sekarang tentara aliansi dari berbagai negara sedang memburunya juga. Dia Richard Morgan, seorang ketua gengster dan juga buronan internasional. Dia terkenal licik dan sulit ditangkap. Anak buahnya Morin, wanita cantik berambut pirang blasteran Jerman Belanda. Dia seorang wanita yang kejam tak kenal ampun dan terkenal dengan bunga kematian. Jangan pernah meremehkannya. Mc. Sanders tangan kanan Richard. Berwajah kalem, penuh pesona tapi brutal. Terkenal dengan julukan Tiger big monster. Hati-hatilah dengan mereka. Mereka adalah buronan interpol dengan berbagai kasus pembunuhan, senjata ilegal dan obat-obatan terlarang. Mereka juga mencuri berbagai data penting kemiliteran berbagai negara. Lihatlah baik-baik. Besok berangkatlah ke hutan pedalaman di Kalimantan. Menurut informasi mereka sedang menyiapkan transaksi besar besaran dengan pemberontak" jelas ketua serius dari balik topengnya.
"Baik ketua. Kami siap bertugas dan segera menangkap mereka" jawab kak Richie tegas selaku ketua tim.
"Nikmatilah makan malam kalian!!!" kata ketua sopan.
"Terima kasih atas kebaikan ketua" jawab kami serempak.
20 menit kemudian.
"Silahkan kalian boleh keluar. Liliana kau tinggal temani aku dulu!!" perintah Ketua membuatku membelalakkan mata tak percaya.
"Aishhhh kenapa juga ni pak tua nyuruh diriku tinggal disini. Apa jangan jangan mau berbuat aneh aneh. Kalau sampai dia berbuat yang nggak nggak liat aja, biarpun ketua sekalipun aku gak segan segan mukul ni orang" batinku waspada.
"Baik ketua. Kami undur diri dulu" kata mereka semua meninggalkanku berdua dengan lelaki tua ini.
Ada perasaan takut campur aduk dengan rasa heran dan penasaran.
"Liliana, agen yang terkenal dengan julukan Cruel princess agents. Salah satu kebanggaan tim Adler. Menguasai berbagai macam teknologi canggih, peretas terbaik di dunia, menguasai berbagai ilmu bela diri, menguasai berbagai certificate bersenjata, gadis dengan IQ diatas 200 yang merupakan manusia paling dicari di dunia. Bukankah begitu Liliana??" jelas ketua misterius ini mengungkap jati diriku. Sebenarnya apa motif dari semua itu. Dengan tegas dan berani aku mulai menatapnya.
"Ketua terlalu berlebihan. Saya hanya seorang gadis biasa, tak ada yang istimewa. Jika ketua memberi tugas pada kami bukankah sudah sewajarnya tim Adler menyelesaikannya bukan?? Kami bekerja secara tim bukan sendiri sendiri" jelasku gamblang.
Dia mulai berani memegang tanganku.
"Bukankah ini tidak sopan???" Segera kutarik tanganku menjauh. Tapi dia malah berani memegang pundakku. Perkelahian antara aku dan ketua gila ini tak bisa dihindari.
__ADS_1
Kubalikkan meja, kutangkis tangan nakalnya, kulayangkan pukulan tepat mengenai wajahnya tapi berhasil dihindarinya.
BLAMMMM wushhhh TRASHHH....
"Heh... ternyata suatu kehormatan bisa menjajal ilmu bela diri Anda Tuan. Kataku sekali lagi berusaha memukul, meninju, menendang dan tujuanku yang paling penting adalah membuka kedok dibalik topengnya.
Plashhh...takkk... dashhh... Crattttt....
"Papa....." teriakku tak percaya dengan yang kulihat.
"Jadi ketua mesum itu Papa...." teriakku sekali lagi tak percaya sama sekali.
"Anak nakal, beraninya kau memukul Papamu sendiri dan bilang Papamu mesum" jawab Papa menolak semua tuduhanku.
"Hahh tak kusangka ternyata sisi lain Papa menjadi badan intelijen pusat. Ini gila??? Apa Mama tahu??" tanyaku tak menyangka sama sekali.
"Jangan bercanda, duduklah anak nakal. Berani benar kau masuk dalam badan intelijen Jerman tanpa memberi tahu Papa. Cari mati kau??? Mana pakai identitas Liliana segala. Ini misimu terakhir. Habis ini menikahlah dan nikmati hidupmu sebagai wanita biasa. Papa tak mau kehilanganmu. Kau itu anak satu-satunya. Menempuh jalur bahaya dan beresiko tinggi. Apa kau sudah bosan hidup???" omel Papa udah kayak Mak Mak rempong.
"Papa sendiri gimana??? bukankah Papa juga sama dulunya??? Hey.... jangan membatasi anak muda. Papa tau kan jiwa petualangku, ini juga pasti turunan dari Papa hufffttt..." kataku menolak kemauan Papa.
"Tunggu... Jika Papa seorang ketua dan pimpinan dua perusahaan besar, kenapa Papa tak turun tangan sendiri mengatasi masalah kemarin. Arghhhh Papa memanfaatkan ku ya???" teriakku frustasi.
"Hey anak nakal... bukankah Papa kau suruh diam. Kau sendiri yang mau mengatasinya, ya kan??? kenapa sekarang mengeluh??? Hahaha setidaknya Papa menghemat tenaga dan pikiran. Kau benar-benar hebat anakku. Kau sudah dewasa. Bagaimana jika kau pensiun dari intelijen terus kau mengelola perusahaan Papa???" bisik Papa membuatku kesal.
"Aku menolak tegas. Mengelola perusahaan??? bukan passionku di jalur itu. Sama sekali tak menguji adrenalin. Kalau tak ada lagi Sherin mau pulang. Oopsss tunggu dulu. Berikan credit card Papa, aku perlu membelikan hadiah timku. Bukankah Papa seharusnya membelikan kami hadiah bukan???" kataku tersenyum penuh kemenangan. Ha ha ha memanfaatkan kesempatan untuk membelikan kak Richie dan kak Kitty juga Vanya apa yang mereka mau tanpa harus merogoh kocek sendiri he he he.
"Bukankah ini namanya pemerasan???" kata papa merasa keberatan.
"Aku telpon Mama nih sekarang??? Lihat saja siapa yang ntar bakalan diperas ha ha ha" tawa penuh kemenangan.
"Nih ambil. Dasar anak nakal. Passwordnya ulang tahun Mamamu. Ingat tutup mulut!!!" kata Papa terlihat kesal.
"Nakal nakal juga hasil dari perkembangan biakan Papa. Tak kusangka ternyata otak dan kepribadianku datang dari Papa. Pantesan kalau aku aneh wong Papa lebih aneh ha ha ha... Terima kasih tuan Angga yang terhormat. Sekarang waktunya menggesek sret sret.... yeyyyyyy" teriakku senang keluar meninggalkan Papa.
"Ingat, pulangnya jangan malam malam!!!" teriak Papa mengingatkan.
"Tenang aja Pa, nggak bakalan pulang malam kok tapi pagi pagi ha ha ha... pergi dulu Pa. muachhh...." kataku berlari kearah teman-teman timku.
"Apa lu lihat lihat!!!" kataku melotot kearah pengawal Papa yang ternyata bukan preman biasa.
"Dasar anak bandel.... Hahhhhhhhh.... anak perempuan kelakuan kayak preman wkwkwkwkwk... Hasil eksperimenku dengan hon hon ha ha ha" celotehan Papa masih terdengar dari pintu keluar.
"Heyyy kak, kita belanja sampai puas. Lihatlah ketua memberiku kartu ini. Lihat lihat!!!" kataku menggoda mereka.
"Gila, bagaimana kamu dapetinnya Li??? Kamu main pelet yah???" tanya kak Richie tak percaya.
"Aku hanya memukul kepala ketua saja. Membuatnya pikun ha ha ha" jawabku senang.
"Udah syaraf ni anak" umpat kak Kitty.
"Nona belikan aku gaun pesta dan sepatu ya" pinta Vanya.
"Oke... hari ini mari kita gesek... gesek... dan gesekkk...." teriakku senang.
"Hyaa adik bungsu ingat besok kita sudah kerja lagi"
"Kitty, bisa tidak nggak bicarain kerjaan malam ini. Mari kita berpesta!!"
"Oke aku yang traktir.... kita belanja sampai puas.... yeyyyyyyyyyy"
"Nona aku menyayangimu...."
"Bungsu.... Kami padamu ha ha ha"
Kami tak melewatkan kesempatan yang baik malam ini untuk bersenang-senang karena besok kami sudah harus berangkat menjalankan misi yang terbilang bukan misi biasa dengan segala resiko dan penuh dengan hal tak terduga. Bisa saja kami kembali hidup hidup atau pulang tinggal nama. Semua tergantung pada takdir. Kami hanya bisa berusaha dan bekerja keras serta tak lupa berdoa.
Di bumi manapun jika ada kejahatan maka kami tim Adler akan datang dan menghabisi mereka. Bersiaplah!!!!.
__ADS_1