
Pagi hari di villa milik Om Gunanto di Bandung.
Tok tok....
"Assalamu'alaikum, Mama....." sapaku langsung berlari ke arah Mama.
"Wa'alaikumsalam, Putri Mama. Sudah lama sekali. Kamu jauh lebih kurus nak??? Apa kamu makan dengan benar??? Apa kamu sakit???" tanya Mama membolak balik badanku berkali-kali.
"Ayolah, aku pergi bersenang-senang, kenapa Mama harus khawatir. Lihatlah aku membawa siapa???" kataku menunjukkan sesuatu kepada Mama di pintu masuk.
"Hon hon..." panggil Papa beracting tapi buruk sekali.
"Boo... Boo..., kau sudah sehat. Benarkah ini kau??? Sayang aku merindukanmu...." ucap Mama lebay berlari ke arah Papa memeluknya persis drama percintaan di TV.
"Astaga mereka benar-benar tak tau umur, menampakkan kemesraan didepanku" kataku yang merasa seperti orang ketiga saja.
"Hyaaa orang tua... Lihatlah anakmu masih disini???" protesku mereka hanya melirik dan melanjutkan adegan pertemuannya kembali.
"Mama... aku ini anak kesayanganmu" protesku sekali lagi.
"Sudah tahu. Boo kau tak apa??? Masih ada yang sakit??? Oh Boo jangan sakit lagi..." ucap Mama berjalan menggandeng Papa terlebih mengacuhkanku.
"Kau kalah Nak, lihatlah siapa yang lebih disayang sekarang ha ha ha" bisik Papa mengibarkan bendera kemenangan.
"Adegan apa ini, seperti aku selingkuhan mamaku sendiri hufffttt..." kataku berdiri menatap kedua orang tuaku berjalan menjauh.
"Hey hey hey aku ini anak kalian bukan sainganmu Pa..." jeritku dalam hati.
Akupun mengikuti mereka dari belakang. Merasa seorang diri. Beginilah nasib anak yang berdiri ditengah-tengah percintaan kedua orang tuanya.
"Rasa yang sama seperti para pengawalnya. Hanya harus menutup mata dan telinga melihat kemesraan bosnya ha ha ha" celotehku tak berhenti ketika melihat Mama dan Papa seperti anak muda yang lagi jatuh cinta.
"Oh astaga... Mama tatap aku" kataku memegang kedua pipi Mama.
"Lihatlah anakmu cemburu padaku" sahut Papa tersenyum penuh arti.
"Apa iya aku harus bertarung dengan Papa merebut hati Mama. Ini gila" celotehku tersenyum kecut.
"Ma... Aku kesini cuma mau pamit" kataku menyela kemesraan mereka.
"Pamit??? Kau baru saja pulang. Mau kemana lagi coba???" tanya Mama lebih fokus ke diriku sekarang.
"Survey perguruan tinggi yang bagus. Kira kira Sepekan" jawabku santai.
"Kau gila... Sepuluh hari dari sekarang kau akan menikah. Bagaimana bisa kau pergi. Harusnya kau Mama sama Tante Mey pergi ke boutique buat mencoba gaun pernikahanmu. Nia dan Rian sudah mencobanya. Mereka sungguh anak yang patuh. Tapi lihatlah anakku sendiri, kerjaannya keluyuran nggak jelas begitu juga calon suamimu hahhh... Kita juga masih harus melihat gedung, dan masih banyak lagi. Jangan main main dengan pernikahanmu. Kau seharusnya dipingit bukan keluyuran" jelas Mama agak kesal.
"Waduh... bisa panjang nih urusannya" batinku menatap Papa dan berkali-kali mengedipkan mata memberi isyarat bantuan. Sialnya Papa malah meledekku.
"Benar nak. Dengarkan kata Mamamu. Sebaiknya kau dipingit. Ha ha ha" kata Papa tepat menusuk ke jantung.
"Ma... ayolah. Sherin janji bakalan balik sebelum acara pernikahan. Lagian juga kak Rey masih tugas. Gimana coba kalau waktu ijab qobul dia belum balik. Oh kalau tidak Sherin jemput kak Rey aja, bukankah dia juga harus dipingit??" jelasku mencari cara biar dapat izin dari Mama.
"Benar juga. Seharusnya si Rey kan ambil cuti. Tapi dia malah tugas. Gak bener ni anak. Kalau gitu baiklah, jemput dia" jawaban Mama yang kutunggu-tunggu.
"Yes. Akhirnya.... Oke kalau gitu Sherin pergi sekarang. DaDah Ma... Pa... Assalamu'alaikum..." pamitku segera mencium tangan mereka sebelum Mama berubah pikiran.
Papa hanya tertawa tapi aku tahu dari lubuk hatinya Papa sangat berat melepasku. Sangat jelas sekali dari ekspresinya.
"Nak, jaga dirimu. Ingat pulanglah bersamanya dengan selamat. Jangan sampai kelaparan, ingat langsung ke dapur" kode Papa memberi perumpamaan untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu.
"Tenang saja Pa. Kupastikan akan kenyang. Titip salam buat Tante Mey dan Om Gunanto" kataku berjalan lurus ke depan tanpa berbalik hanya melambaikan tangan.
"Lihatlah anakmu Boo... Persis sepertimu" celoteh Mama kesal sendiri.
"Ha ha ha bukan anakku saja tapi juga anakmu hon..."
15 menit kemudian
"Kitty, Kau sudah bersiap?" tanya kak Richie heran melihat kak Kitty bersantai didepan TV.
"Tentu. Kurasa operasi kita kali ini akan sangat menarik" ucapnya penuh tanda tanya.
"Kak, Vanya, kemarilah!!!" panggilku kepada mereka bertiga.
"Lihatlah ini, dan pelajari baik-baik. Aku membuat beberapa sketsa wajah Richard, Sanders, dan Morin. Mereka tak mungkin masuk ke Indonesia dengan wajah aslinya. Ini peta yang menunjukkan beberapa unreachable point atau titik tak terjangkau. Kita akan sangat kesulitan dalam mendapat sinyal bahkan semua alat komunikasi bisa saja terputus dan tidak terkoneksi. Jadi selama itu kita harus mengandalkan diri sendiri. Titik yang ini adalah titik yang kuperkirakan mereka melakukan transaksi pertukaran senjata, obat dan data militer ke pemberontak. Chen Shiao, seorang pengusaha yang menjadikan alibi untuk membangun pusat militer rahasia mengendalikan banyak negara dan berusaha menguasainya. Lihatlah, di wilayah bagian ini hanya terdapat hutan lindung dan hampir 60% wilayah ini adalah aliran sungai. Jika salah satu dari kita tertangkap jangan pernah ada yang datang mendekat bahkan membantu. Aku yakin mereka memasang jebakan untuk menangkap kita bersama. Ini semua data tentang aliansi militer yang bertugas. Hampir 25 negara besar sedang mengincar mereka hidup ataupun mati. Total tak lebih dai 50 orang di pihak Richard sedang di markas militer rahasia milik Chen aku belum bisa menerobos pusat kendalinya. Untuk berjaga-jaga kita gunakan rencana A.Setelah aku mendapat info lebih mari kita pikirkan cara menangkapnya. Ini data para pengawal Richard. Mereka terdiri dari para ahli dalam segala hal. Kita harus memecah konsentrasi lawan. Kita lakukan dengan teknik gerilya. Seperti landak guling. Tampak lembut dalam keadaan aman tapi ketika melihat bahaya keluarkan bulu tajam jika terpojok maka kita berguling Ha ha ha" jelasku.
"Tak ada kata yang lebih baik lagikah??? Misal bebek panggang, kita bisa membakar bebek bebek nakal itu??" sahut kak Richie mulai gila.
"Jangan rusak hutan kak. Kau mau tak bisa bernafas karena asap tebal. Awas jika kalian membakar hutan hanya demi bebek panggang" ancamku.
"Oke baiklah. Di misi kali ini kita sudah mendapat informasi lebih. Yang jelas adalah kita harus mengandalkan diri sendiri. Dan menyebar ketitik titik vital. Membidik kelinci satu persatu" ucap kak Kitty terlihat santai tapi sebenarnya dia berpikiran luas.
"Nona, bagaimana dengan persediaan makanan kita. Tak mungkin kita membawa begitu banyak makanan. Kita tidak tau berapa lama operasi ini sampai berhasil. Jika dilihat dari kontur hutannya mungkin tak banyak makanan aman yang tersedia disana" tanya Vanya sedikit cemas.
"Ini. Didalamnya ada 10 butir formula nutrisi penghilang lapar dan dahaga. Cukup dengan memakan satu butir kita takkan kekurangan energi meskipun tak makan sampai tiga hari. Dan ini formula pencegah dan penyembuh luka. Ada 20 butir disetiap botol. Untuk pencegahan maka makanlah sebelum menghadapi musuh. Setiap butir formula ini bisa bertahan selama dua hari. Aku memberi lebih agar jika ada yang terluka dari pihak sekutu kita maka kalian bisa membantu mereka. Jangan khawatir, formula ini sudah diuji dan hasilnya sangat akurat" jelasku memberi mereka beberapa botol formula.
"Baiklah. Kita mulai operasi. Jangan sampai tertangkap musuh. Jika tak ada jalan maka ledakkan diri kalian bersama mereka. Mengerti!!!" ucap kak Richie semangat.
"Mengerti" jawab kami bersama.
Dengan menggunakan helikopter, kami berempat menuju ke hutan pedalaman di Kalimantan. Dua jam untuk sampai di titik masing masing. Operasi kali ini kami terbagi dua tim. Kak Richie dan Kak Kitty ke arah selatan. Aku dan Vanya ke arah barat. Untuk sekutu dalam bentuk aliansi tentara mereka mungkin tersebar menurut strategi militer seperti biasanya. Target kali ini, menangkap lawan tanpa membunuh, menggagalkan transaksi dan juga mengamankan barang bukti.
"Baiklah kita berpencar disini. Ingat untuk memberi informasi melalui smartwatch modification masing-masing. Hari hampir gelap carilah tempat beristirahat yang aman. Musuh kita bukan cuma mereka tapi juga hewan buas lainnya" jelas kak Richie selaku ketua tim Adler.
Aku dan Vanya berjalan hampir satu jam tapi belum menemukan tanda-tanda keberadaan mereka. Menurut informasi yang kuretas harusnya 10 dari 50 penjaga akan siaga dititik ini.
"Vanya ada yang datang, cepat sembunyi!!!" Segera kami berdua menyamarkan diri dibalik semak belukar.
"Jalan... Lihat apa yang akan dilakukan Tuan Sanders dan nona Morin pada kalian. Aku tak sabar melihat kalian dicincang" kata salah satu bawahan Richard menyeret dua tentara ke dalam bilik di tengah hutan.
"Nona kita harus mendekat" ucap Vanya begitu cemas dengan keadaan dua tentara tersebut.
"Jangan. Kita harus menunggu sampai mereka bertransaksi kalau tidak rencana kita gagal total. Jangan terbawa emosi. Mereka takkan mati semudah itu. Mereka bukan tentara biasa dan mereka sengaja menyerahkan diri untuk melihat kekuatan lawan" jelasku bersiaga hanya 100 meter dari markas sementara mereka.
"Baiklah nona" jawab Vanya.
"Morin... Aku terlalu baik padamu ternyata kau mengkhianatiku" ucapku mengepal tangan.
Morin dan aku dulunya berteman ketika menjadi agent di Jerman. Tapi karena ambisi, dan ketamakannya dia keluar jalur dan memilih menjadi kaki tangan penjahat. Kami pernah bertemu dalam pertempuran di Yugoslavia. Saat itu aku melepaskannya karena dia berjanji akan berubah. Tak disangka dia semakin menjadi tak terkendali. Akulah yang memberi kesempatan maka akulah yang harus membereskannya.
"Nona mereka pergi semua. Apa tentara itu sudah mati??" tanya Vanya semakin cemas. Aku hanya melihat Sanders dan lima bawahannya yang pergi. Kemungkinan besar Morin berjaga disana.
"Transaksi dilakukan mulai malam ini. Aku yakin mereka bergerak ke arah selatan. Kak Richie dan kak Kitty pasti bisa menanganinya. Kau berjaga disini. Aku akan melihat situasi dan keadaan mereka" kataku segera mengendap-endap ke bilik reyot itu.
Dengan penyamaran seperti kelelawar ini lebih mudah mengecoh lawan. Dengan hati-hati aku mendekat dan berhasil bersembunyi tepat dibalik gubuk ini.
DUGGG... BRAKKKKK... PLAKKK...
"Katakan berapa nomor Radio panggilmu!!! cepat katakan!!!" teriak bawahan Richard ternyata ada Morin juga disana.
"Vanya jika aku tak keluar dalam waktu tiga puluh menit lakukan rencana B" memberi info melalui sensor suara.
Crushhh....
"Sial..." kakiku tak sengaja menginjak ranting.
"Kita kedatangan tamu, urus mereka!!!" teriak Morin.
Segera aku bersembunyi dibalik atap dengan merebahkan diri. Untungnya langit malam ini mendukung. Sangat gelap tanpa cahaya bulan.
__ADS_1
Sluppp.... Sluppp.... Tembakan bius syaraf berhasil melumpuhkan dua dari empat penjaga.
"Ahhh... Sial. Mereka mati sia-sia. Jangan anggap remeh tamu kita, dia begitu lihai dan cerdas. Cari dia!!!" kata penjaga berbadan kurus. Mike penembak jitu bisa merasakan peluru meskipun dari jarak jauh. Aku tak bisa menggunakan peluru untuk menghadapinya.
Boommmm..... TRASHHH....
"Apa ini??" mereka berdua pingsan setelah menghirup gas beracun yang kulemparkan.
"Ternyata formula gagal yang bibi buat berguna. Tak sia-sia aku membawanya" kataku senang.
"Baiklah... Saatnya tuan putri menyelamatkan pangeran!!" kataku segera mengendap-endap masuk melalui samping.
DUGGG... BUGGGGG... SRANGGG....
"Katakan cepat!!! Jangan menguji batas kesabaranku!!! Nyawa kalian ada di tanganku sekarang!!! Tampan... Kalau kau mengatakannya aku akan mengampunimu dan kau akan menjadi pemuas nafsuku. Suatu kehormatan bukan??" kata menjijikkan keluar dari mulut Morin.
"Cuihhh... Lakukan apa maumu. Aku bukan anjingmu!!" teriak suara laki-laki yang sangat familiar sekali ditelingaku.
"Sudah kubilang jangan main main dengan betina, dia masih saja tak mendengarkanku hahhhh" batinku sedikit kesal.
PLAKKK... Tamparan keras mengenai pipinya.
"Berani benar kau berkata seperti itu didepanku. Hidup matimu ada di tanganku sekarang. Jika kau memuaskanku akan kupertimbangkan hidupmu dan kau, aku tetap akan membunuhmu karena aku sama sekali tak tertarik denganmu" ucap Morin melepas kasar dagu mereka berdua. Dan menunjuk tentara satunya untuk dibunuh.
Tanpa malu Morin melepas satu persatu baju yang dikenakannya. Pertunjukan yang sangat menarik melihat surga dunia sebelum kematian menjemput.
BRAKKKKK.... kutendang pintu bilik reyot dengan kasar.
"Hayyy... Sayang.... Kau benar-benar nakal!!! bermain dengan betina lapar apa kau ingin membuatku cemburu???" ejekku melihat kearah kak Rey yang penuh dengan luka di sekujur tubuhnya. Dia tersenyum mendecih kearahku.
"Morin, lama tak jumpa??? woahhh tak kusangka sekarang kau menjadi pemerkosa... Wowww sungguh mengejutkan. Perlu bantuan ku??" ejekku memprovokasinya.
"Liliana... tak kusangka kita bertemu lagi. Anak kecil ini, jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup" sahutnya tak mau kalah.
"Ternyata seleramu lumayan juga. Bolehkah aku ikut bersenang-senang??" tanyaku menatap kak Rey dengan tatapan wanita jalang sengaja membuat Morin marah. Semakin dia marah semakin dia kehilangan akal sehat dan konsentrasinya.
"Sialan kau Liliana. Terimalah ini" teriaknya menembak ke arahku.
Dorrrr... BLakkk.... kakiku tepat menendang pistolnya.
Baggg... TRASHHH... woshhhhh...
Dugggg.... PLAKKK... Pranggggg....
"Ternyata ilmu bela dirimu masih sama Morin. Kapan kau akan lebih kuat dariku???" kataku mengunci tangan dan kakinya.
"Sialan kau. Terimalah ini" teriaknya berusaha memukul kepalaku, menendang perut, melakukan tendangan putar, dia menyerang secara membabi buta. Tak kusangka dia sebegitu inginnya mengalahkanku.
"Tante tak bisakah kau memukulku dengan benar??? Sekarang giliranku menyerangmu!!!" kataku disela-sela menangkis serangannya.
Baggg... Biggggg... Buggg.... Dashhh...
"Hashhhh sialan kau Liliana!!!" teriaknya mencoba bangkit tapi segera kutendang lagi.
"Sialan kau Liliana, aku takkan mengampunimu" teriaknya segera kutendang lagi hingga menabrak dinding Brakkk....
"Awww... ahhhh"
"Sudah cukup aku berbaik hati padamu. Kau memang tak bisa berubah Morin. Sia-sia kepercayaan yang kuberikan padamu" kataku menendangnya sekali lagi dan menghimpitnya ditembok dengan kakiku.
"Liliana, maafkan aku, ampuni aku awww Ahhh" teriaknya merintih kesakitan.
"Tutp mulutmu!!! Aku tak punya banyak waktu bermain denganmu sayang. Dah... semoga kau mimpi indah. Bye... bye..." kataku menendangnya hingga pingsan lalu menembakkan bius pelumpuh syaraf.
BRAKKKKK... Crasshhhhh.... Slupppppp...
"Kemarilah dan bersihkan kekacauan ini" aku akan menghadang mereka.
"Makanlah ini!!! Jangan banyak tanya. Tetaplah di sini. Kita bisa bicara setelahnya, dasar Om genit!!!" kataku segera meninggalkannya dan bergegas kearah mobil Jeep yang berjarak 5 km dari gubuk tadi.
"Sial,,, mereka banyak sekali. Berpikir Sherin" batinku segera mengambil pistol dan menembak ke dua ban mobil mereka.
Dorrrr.... Slashhh.... Citttttttt.... BRAKKKKK...
"Turun semua kita diserang!!!" teriak salah satu laki laki memegang senapan Laras panjang.
"Siapa kau??? keluarlah!!! Dasar pengecut!!!" teriaknya lagi.
Slupppppp... Sluppp.... Ahhhhhh....
"Sialan kau, cepat keluar!!! Pengecut hanya berani main belakang.... Hadapi aku dengan gentle!!!" teriaknya meracau.
Slupppppp.... Slupppppp.... Dorrrrr.... dorrrrr... dorrrr....dorrrrr..... dor dor dor dor.....
"Hey kau keluarlah!!!" teriaknya membabi buta menembak ke segala arah secara acak.
BRAKKKKK... Dashh.... BRUKKK....
tendanganku berhasil membuatnya jatuh tersungkur dan mematahkan senapannya dengan betisku.
"Sekarang aku sudah keluar, apa yang mau kita mainkan???" tanyaku menggodanya.
"Kau.... Kau... Apa kau si cruel princess yang melegenda itu??" katanya menunjuk ku dengan tangan gemetar.
"Ohhhh.... Bagaimana ini??? Aku sebenarnya tak mau terkenal tapi kau malah memanggilku dengan sebutan itu. Baiklah akan kutunjukkan seberapa kejamnya diriku" kataku pelan mendekat kearahnya yang sudah ketakutan.
"Tunggu!!! Apa maumu???" tanyanya membuatku heran.
"Mauku cuma satu... Jawab pertanyaanku maka kau akan selamat!!! Siapa yang akan bertransaksi dengan kalian???" tanyaku berjongkok menodongkan pistol dikepalanya.
"Baiklah... aku akan menjawab jujur... tapi tolong lepaskan aku... jangan bunuh aku... dia Tuan Chen Shiao. Kami hanya membantunya membuat pangkalan militer rahasia di setiap negara yang ingin dikuasainya" jawabnya ketakutan.
"Baiklah... Terima kasih infonya. Kalau begitu selamat tinggal...." kataku menarik pelatuk pistol bius pelumpuh syaraf.
Plushhhhhh.... Fuhhhhh....
"Ternyata Chen Shiao. Baiklah mari kita lihat apa kau bisa mengacau dinegaraku???" kataku tersenyum sinis mengucapkan namanya.
"Nona semua beres" Vanya memberitahu lewat smartwatch.
"Baiklah aku akan kesana!!" kataku meninggalkan para manusia jahat yang sudah tak berdaya.
Di dalam Bilik
"Nona kau tak apa??" tanya Vanya khawatir.
"Aku tak apa. Untuk sementara kita tinggal disini. Besok pagi baru kita ke titik kedua" kataku sedikit lelah duduk dipojok ruangan.
"Sayank kau merindukanku??? Aku tak menyangka kau akan menjemputku" kata kak Rey tak tau malu.
"Tutup mulutmu!!! Bersihkan dulu lukamu" kataku ketus.
"Mong kau marah padaku??? Mong Mong..." katanya bersikap manja.
"Kau ini tentara bukan sih??? kelakuanmu seperti anak Mama yang manja??" tanyaku heran.
"Aku hanya bersikap manja padamu sayank. Terima kasih karena sudah datang menyelamatkan pangeranmu" kata kak Rey memegang tanganku.
"Menyelamatkan apa menghancurkan rencanamu???" ejekku kesal.
__ADS_1
"Dua duanya" jawabnya tanpa difilter.
"Pantas saja Mama menyuruhku menyusulnya ternyata naluri ibu mertua lebih tajam. Baru saja ditinggal sehari sudah masuk ke perangkap rubah betina. Hampir diperkosa lagi heh heh" kataku tersenyum mengejek.
"Jadi kau cemburu???" kata kak Rey mengejek.
"Entahlah"
"Senangnya Mong Mong cemburu padaku..."
"Tutup mulutmu jangan berteriak"
"Jangan begitu sayank..."
"Lepaskan aku... Jangan pegang-pegang"
"Ahhhh... Mong Mong..."
"Kak Rey... Bisa jauh jauh nggak??
"Nggak... seperti ini. Nyamannya"
"Minggir..."
"Nggak mau. Aku hanya mau rubah betina yang ini"
"Aku bukan rubah betinamu sana..."
"Tidak akan..."
"Om Tejo...."
"Apa sayank??"
"Arghhhhhh... Minggir!!! Kakiku kram..."
"Alasan..."
"Arghhhh...."
"Arghhhhh juga..."
"Perselisihan pasangan muda. Tutup matamu jangan melihatnya. Kau masih dibawah umur" ejek Rendy menutup mata Vanya.
Dua jam sebelumnya
"Ini sangat berbahaya, kita bisa saja mati terbunuh sebelum mendapat informasinya" jelasku pada mereka.
"Kita harus memastikannya kalau ini ulah Chen Shiao maka kita harus masuk ke perangkapnya" jelas ketua tim dari Polandia.
"Biarkan timnya yang bertugas, bukankah mereka dari negara ini. Jadi mereka tahu seluk beluk hutan ini" ketua tim Belanda.
"Tenang semua. Sudah diputuskan. Jika tim dari Indo yang akan menjadi umpannya" keputusan komandan tak dapat diganggu gugat.
"Tapi komandan??" cegah Rendy aku berusaha menenangkannya.
"Baiklah kami yang pergi" jawabku tegas.
"Ikut aku" perintahku membawa tim ke tempat lain meninggalkan mereka yang tersenyum puas.
"Tapi panda ini tak sesuai rencana, mereka sengaja menyingkirkan kita" teriak monyet begitu marah.
"Tenanglah!!! Lihat saja siapa yang akan tersingkir!!!" kataku yakin.
"Apa rencanamu???" tanya gajah serius.
"Menyergap komplotan mereka ditengah jalan bersama Rendy. Menurut informasi wanita yang bernama Morin ini akan memimpin ke markas sementara dan besok pagi akan langsung ke pusat militer rahasia milik Chen Shiao. Jadi kita harus mengambil resiko ini. Kudengar penjagaan di pusat militer rahasianya sangat ketat dan berlapis-lapis. Bagaimana Rusa apa kau siap???"
"Siap Panda mari lakukan!!!" jawab tegas Rendy.
"Maaf Mong aku harus masuk ke perangkap rubah betina" batinku menyesal.
"Ular, macan, kijang dan jerapah kalian berjaga jaga. Jika alarm di tangan kalian menyala maka datanglah dan hancurkan mereka. Kalian mengerti!!!" kataku tegas.
"Siap laksanakan" jawab mereka kompak.
Kembali ke gubuk derita
"Ahhh pelan pelan sayank, ini sakit..."
"Bisa diam tidak??? Kupukul lagi mau??"
"Jangan galak galak... Aku takut..."
"Kak Rey.... Jangan manja!!"
"Mong Mong aku merindukanmu..."
"Jangan jadi orang tak tau malu... Kau tak memandang mereka??"
"Tak apa, kau kan tunanganku. Kalau mau Rendy juga bisa bertunangan dengan Vanya" terjadi saling tatap diantara kami.
PLAKKK....
"Awwwww sakit sayank. Kenapa kau memukulku??"
"Kurasa kepalanya ada yang tak beres gara-gara dipukul tadi dah"
"Aku baik baik saja sayank. Kakak begitu merindukanmu permaisuriku"
"Arghhhhhh..... Calon suamiku menjadi gila"
"Tidak aku tidak gila..."
"Lepaskan aku... Kau menyakitiku..."
"Aku terlalu imut jika kau sebut menyakitimu"
"Kakak...."
"Iya...."
"Astaga....."
"Astaga juga...."
"......................Krik krik.................." Suasana menjadi hening dan canggung.
"Mong Mong...."
"Suttttttttt.... Diamlah!!!"
"Mijah......"
"Hisshhhhhh...."
"Vanya kurasa kita harus menjauh" kata Rendy lesu.
"Iya Tuan. Nonaku benar-benar tak berperasaan kepada jomblo seperti kita" jawab Vanya lebih lesu.
__ADS_1